Anda di halaman 1dari 28

Makalah Pendahuluan Fisika Zat Padat

DINAMIKA ELEKTRON BEBAS

KELOMPOK 1
RIZKI AMELIA (4172121031)
SARI SITI WAHYUNI (4171121033)
SRI WAHYUNI BR GINTING (4171121034)
STEVEN A. S. TELAUMBANUA (4173321053)
YUNI S. P SIMBOLON (4171121038)
YANA NOVITA BERUTU (4173321060)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Pendahuluan Fisika Zat Padat
Yang Diampu Oleh :
Prof. Dr.Makmur Sirait, M.Si

PROGRAM STUDI FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan yang maha kuasa karena berkat rahhmat-Nya
kami diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah yang
diberikan kepada kami pada Mata Kuliah Pendahuluan Fisika Zat Padat.
Dalam penyusunan tugas makalah ini kami banyak mendapat dukungan,
bimbingan, serta semangat dari banyak pihak sehingga kami bisa
menyelesaikannya tepat waktu. Untuk itulah dengan penuh rasa hormat kami
ucapkan terima kasih.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna
dan masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan agar nantinya dapat
diperoleh hasil yang lebih maksimal dan demi kesempurnaan tugas berikutnya.
Dalam kesempatan ini kami juga mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak
berkenan dalam makalah ini dan proses yang dilalui dalam penyusunannya.
Akhir kata, kami ucapkan terimakasih kepada semua yang berpartisipasi
demi terselesaikannya tugas ini dan semoga kita terus dalam lindungan Tuhan
Yang Maha Esa.

Medan, 18 Maret 2020


Penulis

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI .............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

A. Latar Belakang.................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah............................................................................... 2

C. Tujuan ............................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................. 3

A. Elektron Bebas ................................................................................... 3

B. Model Elektron Bebas Klasik.............................................................. 4

C. Model Elektron Bebas Terkuantisasi ................................................... 6

D. Sumbangan Elektron Bebas Pada Harga Cv ........................................ 9

E. Kapasitas Panas Dari Elektron Konduksi .......................................... 10

F. Konduktivitas Listrik Dalam Logam ................................................. 15

G. Perilaku Elektron Dalam Logam ....................................................... 18

BAB III PENUTUP .................................................................................... 23

A. Kesimpulan ...................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 24

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Elektron adalah partikel subatom yang bermuatan negatif dan umumnya
ditulis sebagai 𝑒 − . Elektron tidak memiliki komponen dasar ataupun substruktur
apapun yang diketahui, sehingga ia dipercayai sebagai partikel elementer.
Elektron memiliki massa sekitar 1/1836 massa proton. Momentum sudut (spin)
instrinsik elektron adalah setengah nilai integer dalam satuan ħ, yang berarti
bahwa ia termasuk fermion. Antipartikel elektron disebut sebagai positron, yang
identik dengan elektron, tapi bermuatan positif.
Ketika sebuah elektron bertumbukan dengan positron, keduanya kemungkinan
dapat saling berhambur ataupun musnah total, menghasilan sepasang (atau lebih)
foton sinar gama. Elektron, yang termasuk ke dalam generasi keluarga partikel
lepton pertama, berpartisipasi dalam interaksi gravitasi, interaksi elektromagnetik
dan interaksi lemah. Sama seperti semua materi, elektron memiliki sifat bak
partikel maupun bak gelombang (dualitas gelombang-partikel), sehingga ia dapat
bertumbukan dengan partikel lain dan berdifraksi seperti cahaya. Oleh karena
elektron termasuk fermion, dua elektron berbeda tidak dapat menduduki keadaan
kuantum yang sama sesuai dengan asas pengecualian Pauli.
Konsep muatan listrik yang tidak dapat dibagi-bagi lagi diteorikan untuk
menjelaskan sifat-sifat kimiawi atom oleh filsuf alam Richard Laming pada awal
tahun 1838; nama electron diperkenalkan untuk menamakan muatan ini pada
tahun 1894 oleh fisikawan Irlandia George Johnstone Stoney. Elektron berhasil
diidentifikasikan sebagai partikel pada tahun 1897 oleh J. J. Thomson. Dalam
banyak fenomena fisika, seperti listrik, magnetisme dan konduktivitas termal,
elektron memainkan peran yang sangat penting. Suatu elektron yang bergerak
relatif terhadap pengamat akan menghasilkan medan magnetik dan lintasan
elektron tersebut juga akan dilengkungkan oleh medan magnetik eksternal.
Ketika sebuah elektron dipercepat, ia dapat menyerap ataupun memancarkan
energi dalam bentuk foton. Elektron bersama-sama dengan inti atom yang terdiri
dari proton dan neutron, membentuk atom. Elektron memiliki banyak kegunaan
dalam teknologi modern, misalnya dalam mikroskop elektron, terapi radiasi, dan

1
pemercepat partikel. Struktur ikatan pada bahan loham memungkinkan zat padat
jenis ini mengandung elektron bebas. Sedangkan bahan bukan logam lainnya,
yaitu bahan-bahan yang mempunyai ikatan ionik atau kovalen, tidak memiliki
elektron bebas. Dengan adanya elektron bebas ini logam mempunyai sifat-sifat
yang khas, antara lain merupakan penghantar listrik dan penghantar panas yang
baik serta permukaannya mengkilat (sifat pantulnya baik).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu elektron bebas?
2. Bagaimana model elektron bebas klasik?
3. Apa itu elektron bebas terkuantisasi?
4. Apa itu sumbangan elektron bebas pada harga cv?
5. Bagaimana kapasitas panas dari elektron konduksi?
6. Bagaimana konduktivitas listrik dalam logam?
7. Bagaimana elektron dalam logam?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu elektron bebeas.
2. Mengetahui bagaimana model elektron bebas klasik.
3. Mengetahui elektron bebas terkuantisasi .
4. Mengetahui sumbangan elektron bebas pada harga cv
5. Mengetahui kapasitas panas dari elektron konduksi
6. Mengetahui konduktivitas listrik dalam logam
7. Mengetahui elektron dalam logam

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Elektron Bebas
Sifat elektrik dan sifat magnetik zat padat ditentukan terutama oleh sifat-
sifat elektron di dalam bahan tersebut. Secara keseluruhan, level energi elektron
menjadi penentu sifat bahan padat. Untuk menentukan level energi elektron
dalam zat padat dapat mengambil banyak model-model yang lebih sederhana,
yang secara matematik dapat diselesaikan, dan berharap bahwa penyelesaian akan
masuk akal. Di mulai mencari model sederhana dengan mengambil sepotong
logam dan memperhatikan fakta empiris, (yang benar pada temperatur ruang),
bahwa tidak ada elektron diluar batas logam.
Dengan demikian ada mekanisme yang mempertahankan elektron tetap di
dalam. Apakah itu? Itu mungkin adalah potensial barrier tak berhingga pada
perbatasan. Dan apa yang terjadi di dalam? Bagaimana energi potensial elektron
berubah dengan adanya jumlah inti dan elektron lain yang sangat banyak?
Misalkan kita menganggapnya merata. Kita mungkin menganggapnya ini suatu
asumsi (dan tentu saja kita benar mutlak), tetapi itu adalah pekerjaan. Hal ini telah
dikemukakan oleh Sommerfeld pada tahun 1928 dan yang telah dikenal sebagai
”Model elektron bebas” dari suatu logam. Kita mungkin mengakui bahwa model
ini bukanlah apa-apa tetapi suatu sumur potensial yang telah ditemukan
sebelumnya. Disana ditemukan penyelesaian untuk kasus satu-dimensi dalam
bentuk berikut :
ℎ2 𝑘 2
E= 2𝑚
ℎ2 𝑛2
= 8𝑚 8𝑚 (1.1)

Jika kita membayangkan kubus dengan sisi L yang mengandung elektron,


maka kita memperoleh energi dengan cara yang sama

(1.2)

3
dimana 𝑛𝑥 , 𝑛𝑦 , 𝑛𝑧 adalah integer.
B. Model Elektron Bebas Klasik
Drude (1900) mengandaikan bahwa dalam logam terdapat elektron bebas,
yang membentuk sistem gas elektron klasik, yang bergerak acak dalam kristal
dengan kecepatan random v0 karena energi termal dan berubah arah geraknya
setelah bertumbukan dengan ion logam. Karena massanya yang jauh lebih besar,
maka ion logam tidak terpengaruh dalam tumbukan ini.
Kehadiran medan listrik ε dalam logam hanya mempengaruhi gerak
keseluruhan electron karena ion-ion tertata berjajar dan bervibrasi di sekitar titik
kisi sehingga tidak memiliki neto gerak translasi. Misalnya, terdapat medan listrik
ε dalam arah sumbu-X. Percepatan elektron yang timbul
𝑒ε
𝑎𝑥 = (2.1)
𝑚∗

dengan e dan m*, masing-masing adalah muatan dan massa efektif elektron. Jika
waktu rata-rata antara dua tumbukan elektron dan ion adalah 𝜏, maka kecepatan
hanyut dalam selang waktu tersebut

(2.2)
Oleh karena itu rapat arus yang terjadi

(2.3)
dimana penjumlahan dilakukan terhadap semua elektron bebas setiap satuan
volume. Elektron bergerak secara acak, sehingga ∑vo=0. Oleh sebab itu menjadi

(2.5)
Karena hubungan Jx=σε, maka konduktivitas listrik menjadi

(2.6)
Pengukuran menunjukkan bahwa nilai rata-rata σ logam sekitar
5.107(Ωm)-1 dengan menganggap masa efektif m* sama dengan massa bebas
mo=9,1.10-31kg, maka didapatkan nilai 𝜏 berorde 10-14 s. Contoh analisa lain
adalah konduktivitas termal. Misalnya, sepanjang sumbu- X terdapat gradien suhu

4
∂T/∂x, maka akan terjadi aliran energi persatuan luas perdetik (arus kalor) Qe.
Berdasarkan eksperimen arus kalor Qe tersebut sebanding dengan gradien suhu
∂T/∂x
Qe = -K ∂T/∂x (2.7)
dengan K adalah konduktivitas termal. Dalam isolator, panas dialirkan
sepenuhnya oleh fonon. Sedangkan dalam logam dialirkan oleh fonon dan
elektron. Tetapi karena konsentrasi elektron dalam logam sangat besar, maka
konduktivitas termal fonon jauh lebih kecil daripada elektron, yakni Kfonon≅10-
2
K elektron, sehingga konduktivitas fonon diabaikan.
Dari pendekatan teori kinetik gas diperoleh ungkapan konduktivitas termal

(2.8)
dimana CV, v dan masing-masing adalah kapasitas panas elektron persatuan
volume, kecepatan partikel rata-rata dan lintas bebas rata-rata partikel. Karena CV
=(3/2)nk, (1/2)mv2 = (3/2)kT dan 𝑙=v𝜏, maka konduktivitas menjadi

(2.9)
Perbandingan konduktivitas termal dan listrik adalah

(2.10)
Hal ini sesuai dengan penemuan empirik oleh Wiedemann-Frans (1853).
Kadangkadang perbandingan di atas dinyatakan sebagai bilangan Lorentz

(2.11)
Ternyata, hukum Wiedemann-Frans sesuai dengan pengamatan untuk suhu
tinggi (termasuk suhu kamar) dan suhu sangat rendah (beberapa K). Tetapi, untuk
suhu “intermediate”, K/σT bergantung pada suhu.
Dalam teori drude, lintas bebas rata-rata elektron bebas, 𝑙=𝜏vo, tidak
bergantung suhu. Namun, karena vo~T1/2, maka keadaan mengharuskan

(2.12)
Hal ini didukung fakta eksperimen bahwa σ~T-1, sehingga dari ungkapan
konduktivitas listrik didapatkan

5
(2.13)
Ungkapan terakhir ini menunjukkan bahwa bila T naik, maka n menurun.
Hal ini tidak sesuai dengan fakta, dan menyebabkan teori Drude tidak memadai.
Model elektron bebas klasik tentang logam mengambil andaian berikut.
a. Kristal digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion positip (yang
membentuk kisi kristal) dan elektron yang bebas bergerak dalam volume
kristal.
b. Elektron bebas tersebut diperlakukan sebagai gas, yang masing-
masing bergerak secara acak dengan kecepatan termal (seperti molekul
dalam gas ideal – tidak ada tumbukan, kecuali terhadap permukaan batas).
c. Pengaruh medan potensial ion diabaikan, karena energi kinetik elektron
bebas sangat besar.
d. Elektron hanya bergerak dalam kristal karena adanya penghalang potensial
di permukaan batas.

C. Model Elektron Bebas Terkuantisasi


Untuk memperbaiki kegagalan model elektron bebas klasik dalam
menelaah sifat listrik dan magnet bahan, ditawarkan model elektron bebas yang
terkuantisasi. Model ini menggunakan prinsip kuantisasi energi elektron dan
prinsip eksklusi Pauli untuk elektron yang melibatkan distribusi Fermi-Dirac.
Model elektron bebas, dimana pengaruh dari semua elektron bebas yang lain dan
semua ion positip direpresentasikan oleh potensial V sama dengan nol sehingga
gaya yang bekerja pada elektron juga sama dengan nol, secara kuantum
mengambil persamaan Schrodinger.

(3.1)
dengan solusi fungsi elektron

(3.2)
dan energi elektron

(3.3)

6
Harga k tidak dibatasi sehingga energi elektron tidak terkuantisasi. Tetapi bila
elektron bebas tersebut bergerak dalam suatu kubus dengan rusuk L, maka
haruslah dipenuhi

(3.4)
Dalam ruang k, setiap keadaan elektron direpresentasikan oleh volume
sebesar (2π/L)3, yaitu masing-masing untuk Δnx=Δny=Δnz=1. Semua keadaan
elektron yang berenergi

(3.5)
terletak pada permukaan bola berkari-jari k yang memenuhi

(3.6)
Sedangkan semua keadaan elektron yang berenergi antara E dan E+dE terletak
dalam kulit bola dengan jari-jari antara k dan k+dk dan volume 4πk2dk. Dengan
demikian, jumlah keadaan elektron

(3.7)
Apabila diperhitungkan dua spin elektron, maka jumlah tersebut menjadi

(3.8)
Mengingat ungkapan E=ћ2k2/2mo, maka jumlah keadaan elektron persatuan
volume yang berenergi antara E dan E+dE adalah

(3.9)
Prinsip Pauli menyatakan bahwa dalam satu sistem fisis tidak boleh
terdapat dua elektron atau lebih yang mempunyai perangkat bilangan kuantum
yang tepat sama. Prinsip larangan ini dipenuhi oleh elektron yang mengikuti
fungsi distribusi

7
Fermi-Dirac

(3.10)
Pada suhu T=0 K, energi Fermi diungkapkan dalam bentuk EF(0); dan fungsi
distribusi Fermi-Dirac

untuk (3.11)

untuk (3.12)
Dengan kata lain, pada suhu T=0 K semua tingkat energi E<EF(0) terisi penuh
elektron dan E>EF(0) kosong. Sedangkan pada suhu T>0 K berlaku
untuk E < EF → f(E) < 1
untuk E = EF → f(E) = 1/2
untuk E > EF → f(E) > 0
Hal ini berarti pada T>0 K tingkat energi di atas EF sudah terisi sebagian
dan dibawah EF menjadi kosong sebagian.
Model elektron bebas terkuantisasi mengambil andaian sebagai berikut.
a. Kristal logam digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion
positip (yang membentuk kisi kristal) dan elektron bebas yang bergerak
dalam volume kristal.
b. Elektron bebas tersebut memenuhi kaidah fisika kuantum, yaitu
mempunyai energi terkuantisasi dan mematuhi larangan Pauli, yang secara
menyatu dirangkum dalam ungkapan rapat elektron
dn = n(E) dE = f(E) g(E) dE
Dengan mensubstitusikan (38) dan (37) diperoleh ungkapan rapat elektron
sebagai fungsi dari energi elektron dan suhu sistem

(3.13)
c. Pengaruh medan ion positip dapat diabaikan karena energi kinetik elektron
bebas sangat besar.
d. Pada permukaan batas antara logam dan vakum yang mengelilinginya
terdapat suatu potensial penghalang φ yang harus diloncati oleh elektron

8
bebas paling energetik pada suhu T=0 K (energi EF) untuk dapat
meninggalkan permukaan batas logam.

D. Sumbangan Elektron Bebas pada Harga CV


Rapat elektron pada suhu T=0 K

(4.1)
dan rapat energi pada suhu T=0 K

(4.2)
Bila dinyatakan dalam rapat elektron (42) di atas, maka

(4.3)
Sedangkan rapat energi elektron pada suhu T>0 K

(4.4)
Untuk menyelesaikan integral dalam (44) digunakan bentuk integral

(4.5)
yang mempunyai bentuk asymtotik untuk yo besar dan berharga positip

(4.6)
Diketahui bahwa ungkapan energi Fermi sebagai fungsi suhu adalah

(4.7)
Karena bentuk [(π kT )2 /EF 2
(0)] sangat kecil dibandingkan dengan satu, maka
EF selalu dapat diganti dengan EF(0). Dengan memakai bentuk (4.6), (4.7) dan

9
deret binomial (1+x)p, serta memperhatikan ungkapan (4.1) dan (4.2), maka rapat
energi (4.3) di atas dapat dihitung dan hasilnya adalah

(4.8)
sehingga kapasitas panas elektron bebas

(4.9)
Apabila kapasitas panas elektron bebas model klasik (Cv )el' maka
ungkapan (49) untuk satu mol zat menjadi

(4.10)
Tampak bahwa sumbangan elektron bebas pada harga CV untuk kristal
diperkecil dengan faktor [π2kT/3EF] dari harga klasiknya. Dapatlah disimpulkan
bahwa sumbangan elektron bebas pada harga CV suatu logam sangatlah kecil,
terutama pada suhu yang sangat tinggi. Tetapi sumbangan tersebut akan dominan
pada suhu yang cukup rendah.
Pada suhu jauh di bawah suhu Debye θD dan suhu Fermi TF, kapasitas
panas suatu logam dapat ditulis sebagai jumlah sumbangan elektron bebas dan
fonon, yakni

(4.11)
dimana γ dan A merupakan konstanta karakteristik bahan. Secara eksperimen
dapat dibuat grafik CV/T terhadap T2 sehingga γ dan A bisa ditentukan.

E. Kapasitas Panas Dari Elektron Konduksi


Dalam model elektron bebas elektron konduksi diperlakukan sebagai
partikel bebas yang mematuhi hukum mekanika klasik, elektromagnetik, dan
mekanika statistik. Kita telah memberi tahu kesukaran dalam memperlakukan
tumbukan dalam model ini, dan juga bagaimana kita harus mempertimbangkan
konsep kuantum dengan tujuan untuk menyelamatkan model. Kesukaran lainnya
muncul dalam hubungan dengan kapasitas panas elektron konduksi.

10
Perhitungkan kapasitas panas per mol untuk elektron konduksi pada dasar
dari model Drude-Lorentz. Hal ini telah diketahui dari teori kinetik dari gas bahwa
partikel bebas dalam kesetimbangan pada temperatur T memiliki energi rata-rata
3
dari 2 𝑘𝑇. Oleh karena itu energi rata-rata per mol adalah
3 3
〈Ē〉 = 𝑁𝐴 ( 𝑘𝑇) = 𝑅𝑇,
2 2

(5.1)
dimana 𝑁𝐴 adalah bilangan Avogadro dan 𝑁𝐴 𝐾. Kapasitas panas elektron 𝐶𝑒 =
[Ē]
𝛿 𝛿𝑇 . Oleh karena itu
3
𝐶𝑒 = 𝑅 ≅ 3 cal/moloK
2

(5.2)
Kapasitas total panas dalam logam, termasuk fonon, seharusnya menjadi
𝐶𝑒 = 𝐶𝜌ℎ + 𝐶𝑒 ,
(5.3)
dimana, pada temperatur tinggi, memiliki nilai
3
𝐶 = 3𝑅 + 𝑅 = 4.5𝑅 ≅ 9 cal/mol oK
2

(5.4)
Percobaan dalam kapasitas panas dalam logam diperlihatkan,
bagaimanapun, bahwa C sanga dekat sebanding dengan 3R pada T tinggi,
sebagaimana kasus dalam insulator. Perhitungan akurat dalam kontribusi elektron
pada kapasitas total panas terisolasi memperlihatkan pada 𝐶𝑒 lebih kecil
3
dibandingkan nilai klasik 2 𝑅 oleh sebuah faktor sekitar 10-2. Untuk menjelaskan

keganjilan ini, kita harus sekali lagi kembali ke konsep kuantum.


Energi dari elektron dalam sebuah logam terkuantisasi menurut mekanika
kuantum. Gambar 5.4 (a) memperlihatkan tingkat energi kuantum. Elektron dalam
logam menduduki tingkat ini. Dalam melakukan hal ini, mereka mengikuti sebuah
asas kuantum yang sangat penting, prinsip larangan Pauli, menurut pada tingkat
energi dapat mengakomodasi pada kebanyakan dua elektron, satu dengan spin up,
dan lainnya dengan spin down. Demikian dalam mengisi tingkat energi, dua
elektron menduduki tingkat terendah, dua tingkat lanjut, dan seterusnya, hingga
kesemua elektron dalam logam terakomodasi, seperti diperlihatkan dalam Gambar

11
5.4(a). Energi yang menduduki tingkat tertinggi disebut tingkat energi Fermi (atau
lebih sederhananya Fermi). Kita akan mengevaluasi tingkat Fermi dalam bagian
4.7. Sebuah nilai tipikal untuk energi Fermi dalam logam adalah sekitar 5 eV.

Gambar 5.4 (a) Kedudukan tingkat energi menurut asas larangan Pauli. (b) Fungsi
distribusi f(E) terhadap E, pada T = 0oK dan T > 0oK.
Keadaan ini mendeskripsikan pengambilan dalam logam saat T = 0oK.
Bahkan pada temperatur terendah yang mungkin, sistem elektron memiliki sebuah
jumlah energi yang berarti, dengan kebaikan asas larangan. Jika itu bukanlah
untuk asas ini, kesemua elektron akan jatuh kedalam tingkat terendah, dan energi
total sistem akan tak berarti. Kecocokan ini pada tuntutan, biasanya dibuat dalam
mekanika klasik, sebagaimana T → 0oK kesemua pergerakan berhenti, dan energi
hilang. Tuntutan ini sangatlah jelas tidak berlaku pada elektron konduksi.
Distribusi elektron diantara tingkat biasanya terdeskripsi oleh fungsi
distribusi, f (E), yang terdefinisi sebagai probabilitas bahwa tingkat E terduduki
oleh sebuah elektron. Oleh sebab itu jika tingkatan tersebut kosong, kemudian f
(E) = 0, sedangkan jika penuh, maka f (E) = 1. Secara umum, f (E) memiliki nilai
antara nol dan satu.
Hal ini menuruti dari diskusi terdahulu bahwa fungsi distribusi untuk
elektron pada T = 0oK memiliki bentuk
1, 𝐸 < 𝐸𝐹
f (E) = { 𝐸𝐹 < 𝐸
0
(5.5)

Bahwa, kesemua tingkat dibawah 𝐸𝐹 terisi sempurna, dan kesemua diatas


𝐸𝐹 kosong sama sekali. Fungsi ini terplot dalam Gambar 5.4(b), yang
memperlihatkan diskontinuitas pada energi Fermi.

12
Kita memiliki pembatasan perlakuan pada temperatur yang absolut nol.
Ketika sistem terpanasi (T > 0oK), energi termal membangkitkan elektron. Namun
energi ini tidak dibagi secara sama oleh kesemua elektron, sebagaimana akan
menjadi kasus dalam perlakuan klasik, karena elektron terletak dengan baik
dibawah tingkat Fermi tingkat 𝐸𝐹 tidak dapat menyerap energi. Jika mereka
melakukannya, mereka akan berpindah pada tingkat yang lebih tinggi, yang telah
terduduki, dan oleh sebab itu asa larangan akan terganggu.
Panggil kembali konteks ini bahwa energi pada sebuah elektron dapat
menyerap secara termal menurut orde kT ( = 0.025 eV pada temperatur ruangan),
yang akan lebih kecil daripada 𝐸𝐹 , hal ini menjadi orde dari 5 eV. Oleh karena
hanya terdapat elektron dekat dengan tingkat Fermi dapat tereksitasi, karena
tingkatan diatas 𝐸𝐹 kosong dan karena ketika elektron tersebut berpindah ke
tingkat yang lebih tinggi, tidak akan ada gangguan atas asas larangan. Demikian,
hanya elektron ini yang merupakan friksi kecil dari bilangan total yang
memungkinkan tereksitasi secara termal, dan hal ini menjelaskan panas rendah
elektronik spesifik (atau kapasitas panas).
Fungsi distribusi f (E) pada temperatur T ≠ 0oK diberikan oleh

1
f (E) = 𝑒 (𝐸−𝐸𝐹 )/𝑘𝑇+1

(5.6)
Hal ini dikenal sebagai distribusi Fermi-Dirac.1 Fungsi ini juga diplot
dalam gambar 4.6(b), yang memperlihatkan bahwa hal ini secara substansial sama
dengan distribusi pada T = 0oK, kecuali sangatlah dekat dengan tingat Fermi,
dimana beberapa elektron tereksitasi dari bawah 𝐸𝐹 ke atasnya. Hal ini, tentu saja,
diekpektasikan, dalam pandangan diskusi diatas.
Gunakan fungsi distribusi (5.6) untuk mengevaluasi energi termal dan oleh
sebab itu kapasitas panas elektron, namun hal ini pengambilalihan wajar yang
membosankan, sehingga segera kita akan berusaha untuk memperoleh sebuah
perkiraan yang baik dengan sebuah minimum usaha matematis. Karena hanya
elektron didalam jangkauan kT dari tingkat Fermi tereksitasi, kita menyimpulkan
bahwa hanya sebuah fraksi kT/𝐸𝐹 dari elektron terbuat. Oleh karena itu jumlah

13
elektron tereksitasi per mol sekitar NA(kT/𝐸𝐹 ), dan karena setiap elektron
menyerap sebuah energi kT, dalam rata-rata, sehingga energi termal per mol
diberikan kira-kira oleh
𝑁𝐴 (𝑘𝑇)2
𝐸̅ = ,
𝐸𝐹

dan panas spesifik 𝐶𝑒 = 𝜕𝐸̅ /𝜕𝑡 adalah


𝑘𝑇
𝐶𝑒 = 2R𝐸
𝐹

(5.7)
Kita lihat bahwa panas spesifik elektron tereduksi dari nilai klasiknya, dimana
orde R, dengan faktor 𝑘𝑇/𝐸𝐹 . Untuk 𝐸𝐹 = 5 Ev dan T = 300oK, faktor ini sama
dengan 1/200. Reduksi besar ini merupakan sebuah kesesuaian dengan percobaan,
sebagaimana diutarakan sebelumnya.
Sehingga disebut temperatur Fermi TF, yang biasanya dipakai dalam
konteks ini, terdefinisi sebagai EF =kTF, dan panas spesifik dapat dituliskan
sebagai
𝑇
𝐶𝑒 = 2R𝑇
𝐹

Nilai tipikal untuk TF berdasarkan 𝐸𝐹 = 5 eV, adalah 60,000oK. Oleh karena


itu untuk panas spesifik dari elektron dalam zat padat untuk mencapai nilai
klasiknya, zat padat harus dipanaskan pada temperatur yang dibandingkan dengan
TF. Namun hal ini tidak mungkin, tentu saja, sebagaimana zat padat akan bertahan
karena telah meleleh dan terevaporasi! Kesemua temperatur percobaan, oleh
karena itu, panas spesifik elektron sangatlah jauh dibawah nilai klasiknya.
Kesimpulan menarik lainnya dari (4.32) adalah bahwa kapasitas panas
𝐶𝑒 dari elektron merupakan sebuah fungsi linier temperatur. Hal ini tidak seperti
panas kapasitas kisi-kisi 𝐶𝐿 , dimana konstan pada temperatur tinggi, dan
proporsional pada T3 pada temperatur rendah.
Evaluasi pasti dari kapasitas panas elektronik memberikan
𝜋2 𝑘𝑇
𝐶𝑒 = R𝐸
2 𝐹

(5.8)
yang sangat jelas berorde sama dengan magnitudo pernyataan perkiraan (4.31).

14
F. Konduktivitas Listrik dalam Logam
Elektron yang mempunyai mobilitas besar untuk pindah ke keadaan
elektron yang lain adalah elektron yang berenergi E sedemikian sehingga f(E)<1.
Hal ini terjadi di daerah E∼EF. Elektron yang demikian akan mengalir bila
dikenai medan listrik. Hubungan rapat arus J dan medan listrik ε dinyatakan oleh
hukum Ohm

(6.1)
dimana σ adalah konduktivitas listrik. Bila rapat elektron n dan kecepatan hanyut
elektron vd, maka rapat arus dapat juga diungkapkan dalam bentuk

(6.2)
Dalam kesetimbangan termal, distribusi elektron berada dalam keadaan
mapan (steady state) no (v) , yang tidak bergantung waktu. Dalam ruang
kecepatan, distribusi no (v) mempunyai simetri bola, dan dinamakan bola Fermi
(dengan radius laju Fermi vF), serta permukaannya disebut permukaan Fermi.
Kecepatan elektron bersifat acak, dan berkaitan dengan energi melalui ungkapan
E = ½ m v2
direpresentasikan oleh semua titik dalam bola. Arus total nol karena setiap
elektron yang berkecepatan v selalu berpasangan dengan yang berkecepatan –v.
Kecepatan elektron sangat besar di permukaan Fermi. Permukaan Fermi tidak
begitu dipengaruhi oleh suhu. Bila suhu naik, hanya sedikit elektron yang
melintasinya.
Perlu diketahui bahwa pengukuran eksperimen menunjukkan bahwa
permukaan Fermi berbentuk bola terdistorsi, sebagai akibat dilibatkannya
interaksi elektron dan kisi. Hal ini akan dijelaskan dalam bab selanjutnya. Bila
terdapat medan listrik, misalnya, εX searah sumbu-X, maka distribusi elektron
berubah menjadi n(v) . Perubahan ini mempunyai komponen posisi dan waktu.
Dalam hal ini bola Fermi bergeser ke arah (-X), seperti ditunjukkan oleh gambar 1
berikut.

15
Gambar 1 a. Bola Fermi saat setimbang
b. Pergeseran bola Fermi saat dikenakan medan

Diambil asumsi bahwa kecepatan pergeseran titik pusat oleh kehadiran


medan luar ini sangat kecil bila dibandingkan dengan vrms. Bila ε homogen
(besar dan arahnya), maka perubahan distribusi elektron hanya dipengaruhi oleh
komponen waktu. Proses yang terjadi adalah adanya perubahan distribusi elektron
karena pengaruh medan luar ε dan adanya proses hamburan yang ingin
memulihkannya ke keadaan semula. Penggabungan kedua proses ini
menghasilkan persamaan kontinuitas

(6.3)
dengan τ adalah waktu relaksasi. Ungkapan ini sering disebut persamaan transport
Boltzmann. Dalam keadaan mapan ( ∂n(v) / ∂t = 0 ) persamaan (6.3) menjadi

(6.4)

Dalam kasus di atas diambil sehingga persamaan (6.4) menjadi

(6.5)
Rapat arus listrik yang terjadi

16
(6.6)
Integral suku pertama persamaan (6.6) menghasilkan nol karena kecepatan rata-
rata

dalam no(v). Dengan demikian rapat arus (6.6) menjadi

(6.7)
Mengingat bahwa
a. τ=l/v, dimana l adalah lintas bebas rata-rata antara dua tumbukan,

b. , dan

c. gerak elektron secara acak sehingga


maka ungkapan rapat arus 3.48) berubah menjadi

(6.8)
Dari rapat elektron ,setelah mengganti variabel E menjadi v , diperoleh distribusi
elektron n o (v) tidak lain adalah

(6.9)
Substitusi persamaan (6.8) dan setelah diadakan perubahan variabel v menjadi E,
maka rapat arus (3.49) menjadi

(610)
Dengan demikian, mengingat hubungan (6.10) diperoleh konduktivitas listrik

(6.11)

17
Untuk suhu T=0 K, harga (-∂f(E)/∂E) berupa fungsi delta Dirac δ sehingga
integral dalam (6.11)

(6.12)
dan dengan menggunakan ungkapan rapat elektron, maka ungkapan konduktivitas
listrik (6.12) di atas menjadi

(6.13)
dimana τF adalah waktu relaksasi sebuah elektron pada bola Fermi. Ungkapan
konduktivitas listrik di atas, ternyata, bentuknya sama dengan hasil teori Drude
yang lalu baik teori Drude maupun model elektron bebas terkuantisasi
mengemukakan bahwa konduktivitas listrik hanya berbanding lurus dengan
konsentrasi elektron. Namun beberapa logam dengan konsentrasi elektron lebih
tinggi, justru menunjukkan nilai konduktivitas lebih rendah. Disamping itu,
sebenarnya fakta menunjukkan nahwa konduktivitas listrik bergantung pada suhu,
dan juga arah.

G. Perilaku Elektron Dalam Logam


7.1 Hukum Matthiessen
Konduktivitas listrik logam bergantung pada suhu biasanya dibahas dalam
bentuk perilaku resistivitas ρ terhadap suhu T. diketahui bahwa ρ=σ--1 sehingga
berdasarkan konduktivitas (6.13), maka resistivitas dapat ditulis

(7.1)
Elektron mengalami suatu tumbukan hanya karena ketidaksempurnaan
keteraturan kisi. Ketidaksempurnaan tersebut dapat berupa
a. Vibrasi kisi (fonon) dari ion di sekitar titik setimbang karena eksitasi
termalnya
b. Semua ketidaksempurnaan statik, seperti ketidakmurnian atau cacat
kristal.

18
Jika mekanisme keduanya dianggap saling bebas satu sama lain, maka dapatlah
diungkapkan

(7.2)
dimana suku pertama ruas kanan disebabkan oleh fonon dan suku kedua oleh
ketakmurnian. Dengan demikian menghasilkan ungkapan resistivitas

(7.3)
Ungkapan ini disebut hukum Matthiessen. Tampak bahwa ρ terdiri dari dua
bentuk, yaitu
a. Resistivitas ideal ρf(T) karena hamburan elektron oleh fonon, sehingga
bergantung pada suhu, dan
b. Resistivitas residual ρi karena hamburan elektron oleh ketakmurnian (yang
tidak bergantung pada suhu).
Pada suhu sangat rendah, hamburan oleh fonon dapat diabaikan karena
amplitudo sangat kecil; dalam hal ini τf→∞ dan ρf=0 sehingga ρ(T)=ρi berharga
konstan dan nilainya sebanding dengan konsentrasi ketidakmurnian. Pada suhu
yang cukup besar, hamburan oleh fonon menjadi dominan sehingga ρ(T)≅ρf(T).
Pada suhu tinggi (termasuk suhu ruang), ρf(T) naik secara linier terhadap
T sampai logam mencapai titik leleh. Tetapi, pada suhu rendah resistivitasnya
sebanding dengan T5. Gejala penyimpangan terhadap hukum Matthiessen disebut
efek Kondo. Misalnya, ρ memiliki harga minimum pada suhu rendah pada
sejumlah ketidakmurnian Fe yang dilarutkan dalam Cu. Sifat anomali ini terjadi
karena hamburan tambahan elektron oleh momen magnet dari pusat
ketidakmurnian.
7.2 Efek Hall
Efek Hall dapat dibahas dengan pendekatan model elektron bebas klasik.
Perhatikanlah gambar 2 berikut. Pada suatu balok logam bekerja dua medan yang
saling tegak lurus, yaitu medan listrik εX dan medan magnet BZ. Arus IX
mengalir searah εX. akibat pengaruh medan BZ, lintasan elektron membelok ke
bawah, sehingga terkumpul banyak elektron di bagian bawah logam. Dalam
waktu bersamaan, terjadi muatan positip di bagian atas karena kekurangan

19
elektron. Dengan demikian terjadilah medan listrik Hall εY. apabila keadaan
sudah stasioner, maka εY konstan dan elektron bergerak dalam arah vX.

Gambar 2. Efek Hall

Dalam keadaan setimbang resultan gaya yang bekerja pada elektron (gaya
Coulomb dan Lorentz) sama dengan nol

(7.4)
rapat arus dalam arah εX

(7.5)
sehingga diperoleh harga konstanta Hall

(7.6)
Dengan mengukur εY, JX dan BZ, maka rapat elektron konduksi n dapat
ditentukan.
Efek Hall dapat dipergunakan untuk menentukan
a. Macam rapat pembawa muatan (positip atau negatip), dan
b. Rapat elektron konduksi yang berperan dalam proses penghantaran
muatan.
Ungkapan koefisien Hall di atas menunjukkan nahwa RH berharga negatip
dan hanya bergantung pada rapat elektron. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
pada suhu kamar logam-logam Li, Na, Cu, Ag, dan Au berturut-turut memiliki
konstanta Hall –1,7.10-10, –2,5.10-10, –0,55.10-10, –0,84.10-10, dan –0,72.10-10
volt.m3/A. Tetapi fakta lain menunjukkan bahwa terdapat beberapa logam
mempunyai RH positip, dan bahwa RH, umumnya, bergantung pada suhu, waktu
relaksasi dan besar medan magnet. Misalnya, logam Zn, dan Cd, masing-masing

20
memiliki konstanta Hall sebesar +0,3.10-10, dan +0,6.10-10 volt.m3/A. Hal ini
menunjukkan bahwa pembawa muatan dalam keduanya adalah lubang (hole).
Mobilitas elektron μ didefinisikan sebagai besarnya kecepatan rambat elektron
persatuan medan listrik μ=v/ε. Dari rapat arus J=nev=neμε sehingga dapat
dibentuk hubungan

(7.7)
Jadi secara eksperimen dengan mengukur konduktivitas listrik σ dan koefisien
Hall
7.3 Resonansi Siklotron
Perhatikanlah Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Gerakan siklotron


Medan magnet menyebabkan elektron bergerak melingkar berlawanan
arah jarum jam dalam bidang normal medan. Frekuensi gerak siklotron yang
terjadi

(7.8)
Jika sinyal elektromagnet diarahkan tegak lurus B, maka elektron menyerap
energinya. Kecepatan absorbsi terbesar terjadi saat frekuensi sinyal benar-benar
sama dengan frekuensi siklotron
ω = ωC
Masing-masing elektron bergerak sempurna sepanjang lingkaran sehingga
absorbsi terjadi secara kontinu sepanjang lintasan. Kondisi ini disebut resonansi
siklotron. Jika ω ≠ ωC, maka absorbsi sinyal hanya terjadi pada sebagian gerak
elektron. Agar gerakan elektron tetap melingkar, maka elektron harus

21
mengembalikan energi yang telah diserapnya. Bentuk kurva absorbsi ditunjukkan
dalam gambar 4 berikut.

Gambar 4. Sketsa koefisien absorbsi terhadap frekuensi


Dari kurva absorbsi dapat diperoleh frekuensi siklotron ωC. Dengan demikian
massa elektron m* dapat diukur.

Contoh soal :
1. Jika N/L = 2 elektron/Å = 2 x 108 elektron/cm, tentukanlah energi Fermi
untuk sistem ini!
Jawab:
Gunakan persamaan

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Drude (1900) mengandaikan bahwa dalam logam terdapat elektron bebas,
yang membentuk sistem gas elektron klasik, yang bergerak acak dalam kristal
dengan kecepatan random v0 karena energi termal dan berubah arah geraknya
setelah bertumbukan dengan ion logam. Karena massanya yang jauh lebih besar,
maka ion logam tidak terpengaruh dalam tumbukan ini.

Energi yang menduduki tingkat tertinggi disebut tingkat energi Fermi (atau lebih
sederhananya Fermi).

23
DAFTAR PUSTAKA

F. J. Blatt, 1968, Physics of Electron Conduction in Solids, New York : McGraw-

Hill

Parno.2006.”Fisika Zat Padat”.Malang : Departemen Pendidikan Nasional

Universitas Negeri Malang.

24