Anda di halaman 1dari 95

KEEFEKTIFAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE CIRC (COOPERATIFE INTEGRATED READING

AND COMPOSITION) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN

MASALAH PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT SISWA KELAS

VII SMP NEGERI 13 SEMARANG TAHUN AJARAN 2006/2007

KELAS VII SMP NEGERI 13 SEMARA NG TAHUN AJARAN 2006/2007 SKRIPSI Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi

SKRIPSI

Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Nama

: Nurul Inayah

NIM

: 4101403032

Jurusan : Matematika

Prodi

: Pendidikan Matematika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2007

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi masih rendahnya kemampuan siswa dalam aspek pemecahan masalah yang diakibatkan karena belum aktifnya siswa di dalam kegiatan pembelajaran dimana pembelajaran masih didominasi oleh guru. Salah satu yang ditempuh dengan mengupayakan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan siswa pada aspek pemecahan masalah yaitu dengan pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Dengan pembelajaran kooperatif tipe CIRC, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat bagi siswa kelas VII SMP N 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) terhadap kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat bagi siswa kelas VII SMP N 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP N 13 Semarang. Teknik pengambilan sampel digunakan teknik random sampling, karena populasi homogen. Terpilih siswa kelas VII E sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VII F sebagai kelas kontrol. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, metode observasi dan metode tes. Berdasarkan perhitungan uji t diperoleh t hitung = 2,0447 dan t tabel = 1,98 untuk α = 5% dan dk = 86. jadi t hitung > t tabel . Dengan demikian H 0 ditolak. Ini berarti rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah siswa yang pembelajarannya dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih baik dari pada rata-rata siswa yang pembelajarannya dengan metode ekspositori pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP N 13 Semarang tahun ajaran 2006/2007. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih efektif untuk meningkatkan aspek kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP N 13 Semarang tahun ajaran 2006/2007 dibanding dengan pembelajaran dengan metode ekspositori. Disarankan dapat dimanfaatkan sebagai masukan atau bahan pertimbangan bagi guru khususnya pada mata pelajaran matematika bahwa pembelajaran kooperatif tipe CIRC perlu dikembengkan dan diterapkan karena pembelajaran tersebut dapat meningkatkan aspek kemampuan pemecahan masalah.

ii

PENGESAHAN

Skripsi

Keefektifan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Pokok Bahasan Segiempat Siswa Kelas VII SMP Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”. Telah dipertahankan dihadapan sidang panitia ujian skripsi jurusan matematika Fakultas Mmatematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada:

Hari:

Tanggal:

Panitia ujian skripsi

Ketua

Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S., M.S.

Drs. Supriyono, M.Si

NIP. 130781011

NIP.130815345

Pembimbing Utama

Ketua Penguji

Drs. Sugiarto

NIP. 130686732

Dra. Nurkaromah D., M.Si NIP. 131876228

Pembimbing Pendamping

Anggota Penguji I

Drs. Sugiarto

Drs. Arief Agoestanto, M.Si NIP. 132046855

NIP. 130686732

Anggota Penguji II

Drs. Arief Agoestanto, M.Si NIP. 132046855

iii

KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi dengan judul ” Keefektifan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Pokok Bahasan Segiempat Siswa Kelas VII SMP Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”, dapat diselesaikan dengan baik. penulisan skripsi ini

merupakn salah satu syarat untuk menyelesaikan studi strata I guna memperoleh gelar sarjana pendidikan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmojo, M.Si, Rektor UNNES

2. Drs. Kasmadi Imam S., M.S., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang yang telah memberi izin penelitian

3. Drs. Supriyono, M.Si, Ketua Jurusan Matematika yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penulisan skripsi ini

4. Drs. H. Sugiarto, Pembimbing I atas bimbingan, arahan, serta motivasi dalam penyusunan skripsi ini

5. Drs. Arief Agoestanto, M.Si, Pembimbing II atas bimbingan, arahan, serta motivasi dalam penyusunan skripsi ini

6. Tim penguji skripsi Jurusan Matematika, F.MIPA, UNNES

7. Agus Setyono D., S.Pd, M.M, Kepala SMP N 13 Semarang atas izin dan bantuan dalam penelitian ini

8. Kuswanti, S.Pd, Guru mata pelajaran matematika SMP N 13 Semarang yang telah berkenan memberikan bantuan, informasi, motivasi dan kesempatan untuk penelitian

9. Siswa kelas VII SMP N 13 Semarang tahun pelajaran 2006/2007 atas partisipasinya dalam penelitian ini

10. Teman-teman mahasiswa pendidikan matematika angkatan 2003 yang masih seperjuangan atas semangat dan dukungan selama ini

iv

11. serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan bantuan dan dukungan demi terselesaikannya skripsi ini Harapan dari penulis adalah semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Kritik dan saran yang bersifat membangun atas segala kekurangan dalam skripsi ini sangat penulis harapkan.

v

Semarang,

Agustus 2007

Penulis

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:

Hiasan dunia adalah ibadah dan belajar, maka hiasilah hidupmu dengan ibadah dan belajar. (Hadist) belajar. (Hadist)

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). (Q.S. An-Nashr: 6-7) selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). (Q.S. An-Nashr: 6-7)

Pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta, dan ilmu dan agama adalah wajah yang cantik dan tampan. (Albert Einstein) buta, dan ilmu dan agama adalah wajah yang cantik dan tampan. (Albert Einstein)

Kegagalan biasanya merupakan langkah awal menuju sukses, tetapi sukses itu sendiri sesungguhnya baru merupakan jalan tak berketentuan menuju puncak sukses. (Lambert Jeffries) sendiri sesungguhnya baru merupakan jalan tak berketentuan menuju puncak sukses. (Lambert Jeffries)

Jenius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat. Tidak ada yang menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu eringat. Tidak ada yang menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. (Thomas Alfa Edision)

Persembahan:

Dengan segala kerendahan hati terucap syukur alhamdulillah untuk segala nikmat yang telah diberikan Robb sang pencipta alam semesta, sehingga dengan ridlo-Nya skripsi ini bisa terselesaikan. Tulisan ini kupersembahkan teruntuk:

Ibunda dan bapak untuk setiap kasih saying yang tulus dan doa yang mereka panjatkan untuk kebahagiaan dan kesuksesanku. dan doa yang mereka panjatkan untuk kebahagiaan dan kesuksesanku.

Adik-adik yang telah memberikan semangat.yang mereka panjatkan untuk kebahagiaan dan kesuksesanku. Mufi, Afid dan Yayu for carring me and support

Mufi, Afid dan Yayu for carring me and support me with u’r own way. This great friendship, I never forget.dan kesuksesanku. Adik-adik yang telah memberikan semangat. Teman-teman seperjuangan P. Mat ’03 untuk masa- masa indah

Teman-teman seperjuangan P. Mat ’03 untuk masa- masa indah selama 4 tahun yang tak terlupakan.with u’r own way. This great friendship, I never forget. Teman-teman di kost Puripuspita yang manis-manis

Teman-teman di kost Puripuspita yang manis-manis untuk kebersamaannya.I never forget. Teman-teman seperjuangan P. Mat ’03 untuk masa- masa indah selama 4 tahun yang

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………….i

ABSTRAK ……………………………………………………………………

ii

HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………

iii

KATA PENGANTAR

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

vi

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….vii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………….ix DAFTAR TABEL……………………………………………………………….xi BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah…………………………………………….1

B. Rumusan Masalah………………………………………………… 5

C. Penegasan Istilah……………………………………………………6

D. Tujuan Penelitian……………………………………………………8

E. Manfaat Penelitian………………………………………………… 9

F. Sistematika Penulisan Skripsi……………………………………….9

BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan teori……………………………………………………….12

1. Matematika dan matematika sekolah……………………………12

2. Ranah penilaian matematika di SMP……………………………13

3. Model-model pembelajaran……………………………………

15

4. Pembelajaran kooperatif…………………………………………16

5. Pemecahan masalah……………………………………………

21

6. Model pembelajaran koopertif tipe CIRC……………………

23

7. Metode ekspositori………………………………………………27

8. Soal cerita……………………………………………………….27

9. Kajian materi pelajaran…………………………………………29

B. Kerangka Berfikir………………………………………………… 51

C. Hipotesis……………………………………………………………53

vii

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel……………………………………………… 54

B. Variabel Penelitian………………………………………………… 55

C. Desain Penelitian……………………………………………………55

D. Teknik Pengumpulan Data………………………………………….56

E. Instrumen Penelitian……………………………………………… 58

F. Analisis Instrumentasi………………………………………………60

G. Metode Analisis Data……………………………………………….64

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian…………………………………………………… 70

B. Pembahasan………………………………………………………….76

BAB V. PENUTUP

A. Simpulan…………………………………………………………… 81

B. Saran…………………………………………………………………82

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 83

LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………………85

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

halaman

1. Daftar nilai ulangan harian……………………………………………….82

2. Uji normalitas data kelas VII E

88

3. Uji normalitas data kelas VII F

90

4. Uji homogenitas

92

5. Uji kesamaan rata-rata populasi

94

6. Rencana pembelajaran eksperimen 01

96

7. LKS 01

100

8. Kartu masalah 1.1 dan 1.2

105

9. Jawaban kartu masalah 1.1 dan 1.2

106

10. Kuis 1 dan PR 1

108

11. Jawaban kuis 1 dan PR 1

109

12. Rencana pembelajaran eksperimen 02

112

13. LKS 02

117

14. Kartu masalah2.1 dan 2.2

121

15. Jawaban kartu masalah 2.1 dan 2.2

122

16. Kuis 2 dan PR 2

124

17. Jawaban kuis 2 dan PR 2

125

18. Rencana pembelajaran eksperimen 03

129

19. LKS 03

134

20. Kartu masalah 3.1 dan 3.2

138

21. Jawaban kartu masalah 3.1 dan 3.2

139

22. Kuis 3 dan PR 3

140

23. Jawaban kuis 3 dan PR 3

141

24. Rencana pembelajaran eksperimen 04

144

25. LKS 04

148

26. Kartu masalah 4.1 dan 4.2

152

27. Jawaban kartu masalah 4.1 dan 4.2

153

28. Kuis 4 dan PR 4

154

ix

29.

Jawaban kuis 4 dan PR 4

155

30. Lembar pengamatan pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk guru

157

31. Lembar aktivitas siswa

169

32. Rencana pembelajaran kontrol 01

179

33. Rencana pembelajaran kontrol 02

187

34. Rencana pembelajaran kontrol 03

196

35. Rencana pembelajaran kontrol 04

203

36. Kisi-kisi soal uji coba

209

37. Soal uji coba

212

38. Kunci jawaban soal uji coba

215

39. Daftar nama siswa kelas uji coba

221

40. Data uji coba

222

41. Hasil analisis uji coba soal

223

42. Perhitungan reliabilitas instrumen

225

43. Perhitungan validitas butir

226

44. Perhitungan daya beda soal

228

45. Perhitungan tingkat kesukaran

229

46. Kisi-kisi tes kemampuan pemecahan masalah

230

47. Soal tes kemampuan pemecahan masalah

232

48. Kunci jawaban tes

234

49. Data hasil tes kemampuan pemecahan masalah

238

50. Uji normalitas data kemampuan pemecahan masalah

239

51. Uji normalitas data kemampuan pemecahan masalah kontrol

240

52. Uji kesamaan dua varians data kemampuan pemecahan masalah

241

53. Uji perbedaan dua rata-rata kemampuan pemecahan masalah

243

54. Estimasi rata-rata kemampuan pemecahan masalah eksperimen

245

55. Estimasi rata-rata kemampuan pemecahan masalah kontrol

246

56. Uji ketuntasan kemampuan pemecahan masalah kelompok eksperimen

247

57. Uji ketuntasan kemampuan pemecahan masalah kelompok kontrol

248

58. Daftar nama kelompok eksperimen

249

59. Daftar nama kelompok kontrol

250

x

Tabel

DAFTAR TABEL

halaman

1. Tabel nilai chi kuadrat

251

2. Daftar kritik uji F α = 25%

252

3. Daftar kritik uji t

253

4. Daftar kritik Z dari 0 ke z

254

5. Daftar kritik r product moment

255

xi

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses terus menerus

manusia

untuk

menanggulangi

masalah-masalah

yang

dihadapi

sepanjang

hayat karena itu siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berpikir secara

mandiri. Matematika merupakan pengetahuan yang mempunyai peran sangat

besar baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu

pengetahuan lain. Dengan adanya pendidikan matematika disekolah dapat

mempersiapkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional

dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan lain.

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan mencapai sumber daya

manusia yang berkualitas sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan

secara nasional, perlu dilaksanakan sistem penilaian hasil belajar yang baik dan

terencana. Sistem penilaian tersebut tidak saja dilaksanakan di tingkat nasional,

provinsi maupun kabupaten, namun juga di tingkat sekolah perlu diperhatikan

dan dilaksanakan dengan baik. Adapun untuk mata pelajaran matematika,

penilaian

diarahkan

untuk

mengukur

kemampuan,

diantaranya:

(1).

Pemahaman konsep. Siswa mampu mendefinisikan konsep, mengidentifikasi

dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep; (2). Prosedur. Siswa

mampu mengenali prosedur atau proses menghitung yang benar dan tidak

benar; (3). Komunikasi. Siswa mampu menyatakan dan menafsirkan gagasan

2

matematika secara lisan, tertulis atau mendemonstrasikan; (4). Penalaran.

Siswa

mampu

memberikan

alasan

induktif

dan

deduktif

sederhana;

(5).

Pemecahan masalah. Siswa mampu memahami masalah, memilih strategi

penyelesaian dan menyelesaikan masalah. Pada penelitian ini penilaian lebih

ditekankan hanya untuk mengukur kemampuan pemcahan masalah. Indikasi

pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika adalah agar siswa mampu

memecahkan

masalah

yang

dihadapi

dalam

kehidupannya.

Dengan

mempelajari matematika siswa selalu dihadapkan kepada masalah matematika

yang terstruktur, sistematis dan logis yang dapat membiasakan siswa untuk

mengatasi masalah yang timbul secara mandiri dalam kehidupannya tanpa

harus selalu meminta bantuan kepada orang lain.

Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat diketahui

melalui soal-soal yang berbentuk uraian, karena pada soal yang berbentuk

uraian

kita

dapat

melihat

langkah-langkah

yang

dilakukan

siswa

dalam

menyelesaikan

suatu

permasalahan,

sehingga

pemahaman

siswa

dalam

pemecahan masalah dapat terukur. Bentuk lain soal pemecahan masalah yang

difokuskan pada penelitian ini adalah soal cerita.

penunjang

pelajaran

matematika

yang

mengacu

Berdasarkan buku-buku

pada

kurikulum,

banyak

dijumpai soal-soal yang berbentuk soal cerita hampir pada setiap materi pokok.

Menurut Suyitno (2005:1) soal cerita merupakan soal yang dikaitkan dalam

kehidupan sehari-hari (Contextual Problem). Soal cerita dalam kehidupan

sehari-hari lebih ditekankan kepada penajaman intelektual anak sesuai dengan

kenyataan yang mereka hadapi. Namun kenyataannya banyak siswa yang

3

mengalami kesulitan dalam memahami arti kalimat-kalimat dalam soal cerita,

kurang mampu memisalkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan,

kurang bisa menghubungkan secara fungsional unsur-unsur yang diketahui

untuk menyelesaikan masalahnya, dan unsur mana yang harus dimisalkan

dengan suatu variabel.

Berdasarkan hasil penelitian dari Istiqomah (2004) bahwa hasil belajar

matematika siswa SMP N 13 Semarang belum seperti yang diharapkan. Seperti

yang terlihat pada hasil ulangan harian pokok bahasan geometri memiliki rata-

rata dibawah 6,5. selain itu salah satu guru pengajar matematika kelas VII

menyatakan bahwa materi geometri khususnya pada aspek pemecahan masalah

untuk

tahun

2006

masih

belum

mencapai

nilai

ketuntasannya.

Hal

ini

dikarenakan minat dan motivasi siswa untuk belajar rendah. Mereka terlebih

dahulu merasa takut dengan pelajaran matematika karena matematika dianggap

sulit. Selain itu juga, proses belajar mengajar siswa cenderung pasif.

Salah

satu model pembelajaran matematika yang digunakan oleh guru saat mengajar

diantaranya

metode

ekspositori.

Disini

aktivitas

siswa

selama

proses

pembelajaran belum memuaskan karena pembelajaran masih didominasi oleh

guru. Oleh karena itu, guru harus mampu mengejawantahkan potensi diri dan

bakat

peserta

didik

sehingga

mampu

mencari

dan

menemukan

ilmu

pengetahuannya sendiri serta terlatih dalam mengembangkan ide-idenya di

dalam memecahkan masalah. Tugas guru bukan mencurahkan dan menyuapi

peserta didik dengan ilmu pengetahuan, tetapi mereka hanya sebagai motivator,

mediator dan fasilitator pendidikan. Guru harus mampu menyusun suatu

4

rencana pembelajaran yang tidak saja baik tetapi juga mampu memberikan

kesempatan

kepada

peserta

didik

untuk

mencari,

membangun

serta

mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupannya.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat,

menarik

dan

harus

efektif

sehingga

siswa

dapat

aktif

dalam

kegiatan

pembelajaran dan dapat menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah

proses

pembelajaran

berlangsung.

Ciri-ciri

pembelajaran

efektif

menurut

Suyitno (2005:2) antara lain: (1). Penekanan pada belajar melalui berbuat; (2).

Guru dapat memanfaatkan alat bantu mengajar secara optimal sesuai dengan

kebutuhan siswa; (3). Mengatur kelas menjadi kondusif secara optimal; (4).

Guru menerapkan pola kooperatif, interaktif, termasuk cara belajar kelompok,

dan (5). Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri. Dalam

pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok

kecil yang bekerja untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu

tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu

pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa mamahami konsep-konsep

yang sulit serta menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis dan

mengembangkan sikap sosial siswa. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak

yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena siswa yang

rendah

hasil

belajarnya

dapat

meningkatkan

motivasi,

hasil

belajar

dan

penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama. Oleh karena itu, diperlukanlah

model pembelajaran kooperatif yang dapat membantu siswa meningkatkan

sikap

positif

diantaranya

membangun

kepercayaan

diri

terhadap

5

kemampuannya untuk menyelesaikan masalah matematika, dan terjadinya

interaksi dalam kelompok yang dapat melatih siswa untuk menerima siswa lain

yang

berkemampuan

dan

berlatar

belakang

berbeda.

Ada

banyak

model

pembelajaran

cooperative

learning

dalam

pembelajaran

matematika

yang

memenuhi ciri pembelajaran efektif diantaranya model koperatif tipe CIRC

yang dapat membantu siswa untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah

dalam

menyelesaikan

soal

cerita.

Sehingga

dengan

model

pembelajaran

tersebut siswa mampu dan terampil menyelesaikan masalah dalam soal cerita

dengan langkah-langkah yang tepat.

Materi segiempat dipilih, karena dalam kehidupan siswa sehari-hari sering

dijumpai kejadian yang berhubungan dengan materi tersebut, misalnya untuk

menentukan luas atau keliling suatu tanah dan bangunan, menghitung besarnya

uang yang dikeluarkan

untuk membeli suatu tanah dan lain-lain. Pelaksanaan

pembelajaran matematika di SMP Negeri 13 Semarang untuk materi pokok

geometri

selama

ini

siswa

masih

kesulitan

di

dalam

memahami

dan

memecahkan masalah soal-soal yang memunculkan suatu persoalan yang

kontekstual. Oleh sebab itu, peneliti memandang perlu melakukan penelitian

tentang “Keefektifan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

(Cooperative Integrated Reading and Composition) Terhadap Kemampuan

Pemecahan Masalah Pada Pokok Bahasan Segiempat Siswa Kelas VII SMP

Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”.

6

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and

Composition) efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah pada pokok

bahasan segiempat bagi siswa kelas VII SMP N 13 Semarang Tahun Ajaran

2006/2007?”.

C. Penegasan Istilah

Agar diperoleh pengertian yang sama tentang istilah dalam penelitian ini

dan tidak menimbulkan intepretasi yang berbeda dari pembaca maka perlu

adanya

penegasan

istilah

dalam

penelitian

ini.

Penegasam

istilah

juga

dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup permasalahan sesuai dengan

tujuan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1. Keefektifan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, efektif berarti baik hasilnya,

dapat membawa hasil, berhsil guna (Tim penyusun KBBI, 1998:219).

Adapun yang dimaksud dengan keefektifan dalam penelitian ini adalah

keberhasilan atau ketepatgunaan penerapan model pembelajaran kooperatif

tipe

CIRC

terhadap

kemampuan

pemecahan

masalah

siswa

yang

pembelajarannya dengan model pembelajaran kooperatif CIRC lebih baik

dibanding dengan model pembelajaran yang sering dilakukan di sekolah

(metode ekspositori).

7

2. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran

kooperatif

mencakup

kelompok

kecil

siswa

yang

bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, tugas atau

mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam menyelesaikan

tugas kelompok setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk

memahami suatu bahan pelajaran.

3. Pembelajarn Kooperatif Tipe CIRC

CIRC singkatan dari Coopertive Integrated Reading and Composition.

Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah

meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: (1). Salah satu

anggota atau beberapa kelompok membaca soal, (2). Membuat prediksi atau

menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang

diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan

suatu variabel, (3). Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal

pemecahan masalah, (4). Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah

secara urut, dan (5). Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian

(Suyitno, 2005:4).

4. Keefektifan Model Pembelajaran

Model pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam penggunaan

model pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang diterapkan pada pokok

bahasan segiempat kelas VII SMP Negeri 13 Semarang hasil belajarnya

pada aspek pemecahan masalah dapat lebih meningkat.

8

5. Kemampuan Pemecahan Masalah

Kemampuan

berasal

dari

kata

mampu

yang

berarti

kuasa

(bisa,

sanggup) melakukan sesuatu, dengan imbuhan ke-an kata mampu menjadi

kemampuan

yaitu

kesanggupan

atau

kecakapan.

Adapun

kemampuan

pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan

masalah dalam pokok bahasan segiempat yang meliputi: kemampuan siswa

dalam memahami masalah; mengorganisasi data dan memilih informasi

yang relevan; menyajikan masalah matematika dalam berbagai bentuk;

mengembangkan

strategi

pemecahan

masalah;

serta

membuat

dan

menafsirkan model matematika dari suatu masalah.

6. Segiempat

Segiempat merupakan salah satu materi mata pelajaran matematika

yang diajarkan di SMP. Pokok bahasan segiempat dalam penelitian ini

meliputi: persegi panjang, jajargenjang, belah ketupat, dan persegi.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keefektifan

penerapan

model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading

and Composition) terhadap kemampuan pemecahan masalah pada pokok

bahasan segiempat bagi siswa kelas VII SMP N 13 Semarang Tahun Ajaran

2006/2007.

9

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi siswa, yaitu:

a. Dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat

mengasah

dan

mengembangkan

kemampuan

berfikir

kritis

siswa

dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.

 

b. Pelaksanaan

pembelajaran

kooperatif

diharapkan

dapat

mengembangkan rasa kebersamaan dan kerjasama siswa dengan siswa

lain.

c. Siswa lebih tertantang pada persoalan-persoalan matematika.

2. Manfaat bagi peneliti, yaitu:

a. Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi

pembelajaran bervariasi yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran

sehingga memberikan layanan terbaik bagi siswa.

 

b. Guru

semakin

mantap

dalam

mempersiapkan

diri

dalam

proses

pembelajaran.

3.

Manfaat bagi peneliti, yaitu:

 

Menambah

pengalaman

bagi

peneliti

mengenai

pengembangan

pembelajaran tersebut.

F. Sistematika Penulisan Skripsi

Skripsi ini terdiri atas beberapa bagian yang masing-masing diuraikan,

sebagai berikut:

10

1. Bagian Awal

Pada bagian awal skripsi ini berisi: halaman judul, abstrak, halaman

pengesahan, kata pengantar, motto dan persembahan, daftar isi dan daftar

lampiran.

2. Bagian isi merupakan bagian pokok dalam skripsi yang terdiri dari 5 bab,

yaitu:

Bab I

:

Pendahuluan

berisi

latarbelakang,

permasalahan,

penegasan

istilah, tujuan penelitian, manfaat dan sistematika skripsi.

Bab II : Landasan teori dan hipotesis berisi tentang teori-teori yang

membahas dan melandasi permasalahan skripsi serta penjelasan

yang merupakan landasan teoritis yang diterapkan dalam skripsi,

pokok bahasan yang terkait dengan pelaksanaan penelitian,

kerangka berpikir dan hipotesis yang dirumuskan.

Bab III : Metode penelitian berisi tentang populasi dan sampel, variabel

penelitian, desain penelitian, teknik pengumpulan data dan hasil

analisis data.

Bab IV: Laporan hasil penelitian berisi tentang hasil penelitian dan

Bab V

pembahasannya.

: Penutup berisi simpulan hasil penelitian dan saran-saran peneliti.

11

3. Bagian Akhir

Bagian akhir skripsi merupakan bagian yang terdiri dari daftar pustaka

yang digunakan sebagai acuan, lampiran-lampiran yang melengkapi uraian

pada bagian isi dan tabel-tabel yang digunakan.

12

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Matematika dan matematika sekolah

Pengertian/definisi/batasan tentang matematika amat banyak dan

beragam.

Walaupun

amat

banyak

batasan

tentang

terdapat 4 ciri khas matematika, yaitu:

matematika,

tetapi

a. Matematika memiliki objek kajian yang abstrak

b. Matematika mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan

c. Sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif

d. Struktur kajian dijiwai oleh kebenaran konsistensi (kebenaran yang

didahului oleh kebenaran-kebenaran sebelumnya)

Menurut

Ebbut

dan

Strakker

dalam

Suyitno

(2007:24),

yaitu

matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah memiliki ciri-ciri sebagai

berikut:

a. Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan. Implikasinya, siswa perlu dilatih melakukan kegiatan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan, percobaan, membandingkan, juga siswa perlu dibantu dalam menemukan hubungan antara pengertian yang satu dengan yang lainnya.

b. Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan. Implikasinya, siswa perlu didorong inisiatifnya dan diberi kesempatan untuk berpikir beda.

c. Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah. Implikasinya, guru perlu menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika, membantu siswa memecahkan persoalan matematika dengan caranya sendiri, dan membantu siswa mengembangkan kompetensi dan keterampilannya untuk memecahkan masalah.

13

d. Matematika sebagai alat komunikasi. Implikasinya, guru perlu mendorong siswanya agar mengenal sifat matematika, membaca dan menulis matematika, dan mendorong siswa pula agar menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.

Keempat ciri pelajaran matematika tersebut di atas, akan dipakai

sebagai

dasar

untuk

mengevaluasi

hasil

belajar

matematika, khususnya di tingkat SMP.

2. Ranah penilaian matematika di SMP

siswa

pada

pelajaran

Aspek yang dinilai dalam matematika dibagi menjadi tiga yaitu

pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta pemecahan masalah.

Adapun kriteria dari ketiga aspek tersebut menurut Zulaihah (2006:19),

adalah:

a. Pemahaman konsep

Menilai ranah pemahaman konsep, berarti menilai kompetensi

dalam memahami konsep, melakukan algoritma rutin yang tepat dan

efisien.

Indikatornya:

menyatakan

ulang

sebuah

konsep;

mengklarifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu; memberi

contoh dan non contoh dari konsep; menyajikan konsep dalam berbagai

bentuk

representasi

matematis;

mengembangkan

syarat

perlu

atau

syarat cukup suatu konsep; menggunakan, memanfaatkan, dan memilih

prosedur atau operasi tertentu; mengaplikasikan konsep atau algoritma

pemecahan masalah.

14

b. Penalaran dan Komunikasi

Menilai

ranah

penalaran

kompetensi

dalam

melakukan

dan

komunikasi,

berarti

menilai

penalaran

dan

mengkomunikasikan

gagasan matematika (sifatnya rutin maupun non rutin). Indikatornya:

menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan

diagram;

mengajukan

dugaan;

melakukan

manipulasi

matematika;

menari kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti

terhadap

kebenaran

solusi;

menarik

kesimpulan

dari

pernyataan;

memeriksa kesahihan suatu argumen; menemukan pola atau sifat dari

gejala matematis untuk membuat generalisasi.

c. Pemecahan Masalah

Menilai ranah pemecahan masalah, berarti menilai kompetensi

dalam memahami, memilih pendekatan dan strategi pemecahan, serta

menyelesaikan

masalah.

Indikatornya:

menunjukkan

pemahaman

masalah; mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan

dalam pemecahan masalah; menyajikan masalah secara matematik

dalam berbagai bentuk; memilih pendekatan dan metode pemecahan

masalah secara tepat; mengembangkan strategi pemecahan masalah;

membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah;

menyelesaikan masalah yang tidak rutin.

15

3. Model-model Pembelajaran

Pembelajaran

adalah

upaya

untuk

membelajarkan

siswa,

secara

implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode

untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan (Uno, 2006:2).

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan

prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar

untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman

bagipara

perancang

pembelajaran

dan

bagi

para

pengajar

dalam

merencanakan

dan

melaksanakan

aktifitas

belajar

mengajar

(Sugandi,

2004:85).

Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi

dalam

pembelajaran.

Strategi

pembelajaran

adalah

perencanaan

dan

tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar

kompetensi

dasar

dan

indikator

pembelajarannya

dapat

tercapai.

Pada

prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan

metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi

bahan

ajar

kepada

para

siswanya.

Model

pembelajaran

yang

dapat

diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model-model pembelajaran yang

digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar tersebut menurut

Amin Suyitno (2004:31) antara lain:

a. Model pembelajaran pengajuan soal (Problem Possing)

b. Model

pembelajaran

dengan

pendekatan

Teaching and Learning-CTL)

kontekstual

(Contextual

16

c. Model pembelajaran PAKEM

d. Model pembelajaran Quantum (Quantum Teaching)

e. Model pembelajaran berbalik (Resiprocal Teaching)

f. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil

g. Model pembelajaran Problem Solving

h. Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)

Ragam model pembelajaran cooperative learning cukup banyak

seperti

STAD

(Student

Team

Achievement

Division),

TGT

(Team

Games Tournament), TAI (Team Assisted Individualization), Jigsaw,

Jigsaw II, CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition),

dan sebagainya.

i. Model pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)

4. Pembelajaran kooperatif

a. Pengertian

Pembelajaran kooperatif mencakup kelompok kecil siswa yang

bekerja

sebagai

sebuah

tim

untuk

menyelesaikan

suatu

masalah,

menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai

suatu tujuan bersama lainnya (Suherman, 2003:260).

b. Tujuan

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai

tiga tujuan pembelajaran yang penting (Ibrahim, 200:7), yaitu:

17

1).

Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja

siswa

dalam

tugas-tugas

akademik.

Banyak

ahli

berpendapat

bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep

yang sulit.

2).

Penerimaan terhadap perbedaan individu

Efek penting yang kedua ialah penerimaan yang luas terhadap

orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan

maupun ketidakmampuan.

3).

Pengembangan keterampilan sosial

Model

pembelajaran

kooperatif

bertujuan

untuk

mengajarkan

kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.

c. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Terdapat enam fase atau langkah utama dalam pembelajaran

kooperatif

menurut

Ibrahim

(2000:10).

Keenam

fase

pembelajaran

kooperatif dirangkum pada tabel.1 berikut ini.

18

Tabel.1

Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

 

FASE

KEGIATAN GURU

Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2 Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks.

Fase 3

Belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien.

Mengorganisasikan siswa

ke

dalan

kelompok-

kelompok.

 

Fase 4 Membantu kerja kelompok dalam belajar

Guru membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.

Fase 5 Mengetes materi.

 

Guru mengetes materi pelajaran atau kelompok menyajikan hasil-hasil pekerjaan mereka.

Fase 6 Memberikan penghargaan.

Guru memberikan cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi

saja, tetapi siswa juga dapat mempelajari keterampilan khusus yang

disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi

untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja

dapat

dibangun

dengan

membagi

tugas

anggota

kelompok

selama

kegiatan.

Keterampilan-keterampilan

kooperatif

tersebut

menurut

Lundgren dalam Perdy Karuru antara lain:

1). Keterampilan Tingkat Awal

(a). Menggunakan kesepakatan yaitu menyamakan pendapat yang

berguna untuk meningkatkan kerja dalam kelompok.

19

(b). Menghargai kontribusi berarti memperhatikan atau mengenal

apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan oarang lain.

(c). Mengambil giliran dan berbagi tugas berarti bahwa setiap

anggota

kelompok

bersedia

menggantikan

dan

bersedia

mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

(d). Berada dalam kelompok artinya setiap anggota tetap dalam

kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.

(e). Berada dalam tugas artinya meneruskan tugas yang menjadi

tanggung jawabnya agar selesai tepat waktu.

(f). Mendorong

partisipasi

artinya

mendorong

semua

anggota

kelompok

untuk

memberikan

kontribusi

terhadap

tugas

kelompok.

(g). Menyelesaikan tugas pada waktunya.

(h). Menghormati perbedaan individu.

2). Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi mengungkapkan

ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan

aktif, bertanya, membuat rangkuman, menafsirkan, mengatur dan

mengorganisir serta mengurangi ketegangan.

3). Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan

tingkat

mahir

meliputi

mengelaborasi,

memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan

tujuan dan berkompromi.

20

Dari penjelasan mengenai pembelajaran kooperatif di atas dapat

disimpulkan

bahwa

dengan

pembelajaran

kooperatif

dapat

melatih

siswa untuk saling bekerjasama dan saling bertukar pengetahuan yang

dimiliki

dalam

menyelesaikan

masalah.

Jadi,

dengan

adanya

pembelajaran kooperatif pada siswa dapat memunculkan rasa percaya

diri, berfikir kritis dan berani mengungkapkan pendapat.

e. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Unsur-unsur

berikut:

dasar

pembelajaran

kooperatif

adalah

sebagai

1). Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka

“sehidup sepenanggungan bersama.”

2). Siswa harus bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam

kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.

3). Siswa

haruslah

melihat

bahwa

semua

anggota

di

dalam

kelompoknya memiliki tujuan yang sama.

4). Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama

diantara anggota kelompoknya.

5). Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan

yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.

6). Siswa

berbagi

kepemimpinan

dan

mereka

membutuhkan

keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

7). Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual

materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

21

5. Pemecahan Masalah

Salah

satu

indikasi

adanya

transfer

belajar

adalah

kemampuan

menggunakan informasi dan keterampilan untuk memecahkan masalah-

masalah.

Memecahkan

manusia karena sebagian

masalah-masalah.

Suatu

suatu

masalah

merupakan

aktivitas

dasar

bagi

besar kehidupan kita adalah berhadapan dengan

masalah

biasanya

memuat

suatu

situasi

yang

mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara

langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Jika suatu

soal diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut langsung mengetahui

cara

menyelesaikannya

yang

benar,

dikatakan sebagai masalah.

maka

soal

tersebut

tidak

dapat

Suatu soal dipandang sebagai masalah merupakan hal yang sangat

relatif. Suatu soal yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, bagi

orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin. Dengan demikian guru

perlu teliti dalam menentukan soal yang akan disajikan sebagai pemecahan

masalah. Suatu soal/pertanyaan akan merupakan suatu masalah hanya jika

seseorang

tidak

mempunyai

aturan/hukum

tertentu

yang

segera

dapat

dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Menurut

Suyitno (2004:35) suatu soal dapat dikatakan sebagai problem bagi siswa

jika

dipenuhi

syarat-syarat

berikut:

(1).

Siswa

memiliki

pengetahuan

prasyarat untuk mengerjakan soal tersebut, (2). Diperkirakan, siswa mampu

mengerjakan

soal

tersebut,

(3).

Siswa

belum

tahu

algoritma/cara

22

menyelesaikan

soal

tersebut,

(5).

menyelesaikan soal tersebut.

Siswa

mau

dan

berkehendak

untuk

Penyelesaian masalah diartikan sebagai penggunaan matematika baik

untuk matematika itu sendiri maupun aplikasi matematika dalam kehidupan

sehari-hari

dan

ilmu

pengetahuan

yang

lain

secara

kreatif

untuk

menyelesaikan masalah-masalah yang belum diketahui penyelesaiannya

ataupun

masalah-masalah

yang

belum

kita

kenal

(Hudojo,

1997:195).

Menurut Polya, dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah

yang harus dilakukan yaitu: (1). Memahami masalah, (2). Merencanakan

pemecahannya, (3). Menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua,

dan (4). Memeriksa kembali hasil yang diperoleh (Suherman, 2003: 99).

Didalam merencanakan penyelesaian masalah seringkali diperlukan

kreativitas. Sejumlah strategi dapat membantu kita untuk merumuskan suatu

rencana penyelesaian suatu masalah. Wheeler dalam Hudojo (1997:196)

mengemukakan strategi penyelesaian masalah antara lain:

a. Membuat suatu tabel

b. Membuat suatu gambar

c. Menduga, mengetes dan memperbaiki

d. Mencari pola

e. Mengatakan kembali permasalahan

f. Menggunkan penalaran

g. Menggunakan variabel

h. Menggunakan persamaan

23

i. Mencoba menyederhanakan permasalahan

j. Menghilangkan situasi yang tidak mungkin

k. Bekerja mundur

l. Menyusun model

6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

CIRC

singkatan

dari

Cooperative

Integrated

Reading

and

Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning

yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan

menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program

komprehensif

atau

luas

dan

lengkap

untuk

pengajaran

membaca

dan

menulis

untuk

kelas-kelas

tinggi

sekolah

dasar.

Namun,

CIRC

telah

berkembang

bukan

hanya

dipakai

pada

pelajaran

bahasa

tetapi

juga

pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.

 

Dalam

model

pembelajaran

CIRC,

siswa

ditempatkan

dalam

kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.

Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau

tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa

yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok

satu sama lain. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa

dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa

sosial yang tinggi.

24

a. Komponen-komponen dalam pembelajaran CIRC

Model

pembelajaran

CIRC

menurut

Slavin

dalam

Suyitno

(2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut

antara lain: (1). Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang

terdiri atas 4 atau 5 siswa; (2). Placement test, misalnya diperoleh dari

rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor

agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang

tertentu;

(3).

Student

creative,

melaksanakan

tugas

dalam

suatu

kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu

ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya; (4). Team

study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh

kelompok

dan

guru

memberika

bantuan

kepada

kelompok

yang

membutuhkannya;

(5).

Team

scorer

and

team

recognition,

yaitu

pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria

penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan

kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas;

(6). Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru

menjelang pemberian tugas kelompok; (7). Facts test, yaitu pelaksanaan

test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa; (8). Whole-

class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu

pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

25

b. Kegiatan pokok pembelajaran CIRC

Kegiatan

pokok

dalam

CIRC

untuk

menyelesaikan

soal

pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik,

yaitu: (1). Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal,

(2). Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah,

termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan

memisalkan

yang

ditanyakan

dengan

suatu

variabel,

(3).

Saling

membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah, (4).

Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan (5).

Saling

merevisi

dan

mengedit

pekerjaan/penyelesaian

(Suyitno,

2005:4).

c. Penerapan model pembelajaran CIRC

Penerapan

model

pembelajaran

CIRC

untuk

meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:

1).

Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa,

pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan

diajarkan pada setiap pertemuan

 

2).

Guru memberikan latihan soal

 

3).

Guru

siap

melatih

siswa

untuk

meningkatkan

keterampilan

siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui

penerapan model CIRC

 

4).

Guru

membentuk

kelompok-kelompok

belajar

siswa

yang

heterogen

26

5).

Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu

masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok

 

6).

Guru

memberitahukan

agar

dalam

setiap

kelompok

terjadi

serangkaian kegiatan bersama yang spesifik

 

7).

Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru

mengawasi kerja kelompok

 

8).

Ketua

kelompok

melaporkan

keberhasilan

atau

hambatan

kelompoknya

 

9).

Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota

telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah

yang diberikan

10). Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan

temuannya

11). Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator

12). Guru memberikan tugas/PR secara individual

13). Guru membubarkan kelompok

duduknya

dan siswa kembali ke tempat

14). Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal

pemecahan masalah

15). Guru memberikan kuis

d. Kekuatan model pembelajaran CIRC

Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan

kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:

27

1).

CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam

menyelesaikan soal pemecahan masalah

2).

Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang

3).

Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam

kelompok

4).

Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek

pekerjaannya

5).

Membantu siswa yang lemah

6).

Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal

yang berbentuk pemecahan masalah

7. Metode Ekspositori

Metode ekspositori adalah cara penyampaian pelajaran dari seorang

guru kepada siswa di dalam kelas dengan berbicara diawal pelajaran,

menerangkan materi dan contoh soal serta disertai tanya jawab. Siswa tidak

hanya mendengar dan membuat catatan. Guru bersama siswa berlatih

menyelesaikan soal latihan dan siswa bertanya kalau belum mengerti. Guru

dapat memeriksa pekerjaan siswa sacara individual atau klasikal. Siswa

mengerjakan latihan sendiri atau dapat bertanya temannya, atau disuruh

guru mengerjakan di papan tulis (Suyitno, 2004:4).

8. Soal Cerita

Soal cerita dalam pengajaran matematika sangatlah penting, sebab

diperlukan dalam perkembangan proses berpikir siswa. Kemampuan siswa

yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal cerita tidak hanya kemampuan

28

skill, mungkin algoritma tertentu, tetapi dibutuhkan juga kemampuan yang

lain. Soal cerita adalah soal yang disajikan dalam bentuk cerita pendek

terdiri dari beberapa kalimat. Cerita yang disajikan dapat berupa masalah

dalam kehidupan sehari-hari atau yang lainnya. Panjang pendeknya kalimat

yang digunakan untuk membuat soal cerita biasanya berpengaruh terhadap

tingkat soal tertentu.

Menurut Suyitno (2005:1) soal cerita merupakan soal yang dikaitkan

dalam kehidupan sehari-hari (contextual problem). Menurut Hudojo (2003:

198),

langkah-langkah

yang

harus

menyelesaikan soal cerita yaitu:

dilakukan

agar

siswa

terampil

a. Sedapat mungkin siswa membaca soal cerita itu sendiri.

b. Tanyakan kepada siswa beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah

soal cerita itu sudah benar-benar dimengerti. Pertanyaan-pertanyaan itu

misalnya:

1) “Apa yang kau ketahui dari soal itu?”

2) “Apa saja dari soal itu yang kau peroleh?”

3) “Apa yang hendak kau cari?”

4) “Bagaimana kamu akan menyelesaikan soal itu?”

c. Meminta kepada siswa untuk memilih operasi dan jelaskan operasi atau

metode penyelesaian

yang dimaksud.

itu dapat dipergunakan untuk menyelesaikan soal

d. Menyelesaikan soal cerita.

e. Diskusikan jawaban yang diperoleh dan interpretasikan hasil tersebut.

29

Kebaikan-kebaikan soal berbentuk uraian menurut Arikunto (2002B:

163) antara lain:

a. Mudah disiapkan dan disusun

b. Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-

untungan

c. siswa

Mendorong

untuk

berani

mengemukakan

pendapat

serta

menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus

d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya

dengan gaya bahasa dan caranya sendiri

9. Kajian Materi Pelajaran

I. Mengenal Bangun Segiempat dan Sifat-sifatnya

Materi pelajaran yang akan dibahas adalah segiempat yang terdiri dari

jajar genjang, persegi panjang, belah ketupat, persegi, layang-layang dan

trapesium. Namun, pada penelitian ini hanya akan dibahas mengenai:

1. Jajargenjang

a. Pengertian jajargenjang

Jajargenjang

adalah

segiempat

dengan

setiap

pasang

sisi

yang

berhadapan sejajar dan sama panjang (Junaidi, 2004: 260). Jajargenjang

dapat dibentuk dari sebuah segitiga dan bayangannya yang diputar 180 0

berpusat pada titik tengah salah satu sisi segitiga.

C O o A B
C
O o
A
B
D C diputar 180 0 O o A B Gambar 1
D
C
diputar 180 0
O o
A
B
Gambar 1

30

Pada gambar 1, segitiga ABC diputar sejauh 180 0 (setengah putaran)

dengan pusat titik O. Titik O terletak di tengah-tengah sisi CB. Segitiga

ABC dan bayangannya membentuk suatu jajargenjang yaitu jajarsenjang

ABDC.

b. Sifat-sifat jajargenjang

1) Sifat I Kegiatan 1.a. D C O o A B
1)
Sifat I
Kegiatan 1.a.
D
C
O o
A
B
D C B A Titik O O o C D A B diputar 180 0
D
C
B
A
Titik O
O o
C
D
A
B
diputar 180 0

Gambar 2.a

AB menempati CD, ditulis AB CD , sehingga AB = CD.

Jelas AB dan CD terletak pada satu bidang datar. Apabila diukur

jarak

antara

AB

dan

CD

sama

sehingga

jika

AB

dan

CD

diperpanjang tidak akan berpotongan maka AB dan CD sejajar

ditulis AB // CD.

BC menempati DA, ditulis BC DA , sehingga BC = DA.

( berarti menempati). Kegiatan 1.b. H G D 1 C F 2 12 A B
(
berarti menempati).
Kegiatan 1.b.
H
G
D
1 C
F
2
12
A
B
E
Gambar 2.b

(1). Perhatikan gambar 2.b

Jajargenjang

ABCD

dihimpitkan

pada

BEFC,

diperoleh:

31

(2). Perhatikan gambar 2.b.

∠ =∠

B

B

B

2

1

1

A

+∠

+∠

B

A

2

= 180

= 180

0

0

Jadi, AD // BC.

Jajargenjang ABCD dihimpitkan pada DCGH, diperoleh:

D

D

A

1

1

=∠

+∠

A

D

+∠

D

2

2

= 180

= 180

0

0

Jadi, AB // DC.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa AB # DC dan BC # AD.

(#: sama dan sejajar)

Simpulan: Pada setiap jajargenjang, sisi yang berhadapan adalah

sama panjang dan sejajar.

2)

Sifat II

Perhatikan jajargenjang ABCD pada gambar 2.

ABC → ∠CDA sehingga ABC = ∠CDA .

BAD. → ∠DCB sehingga BAD = ∠DCB.

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan:

Simpulan: Pada setiap jajargenjang, sudut-sudut yang berhadapan

adalah sama besar.

32

3)

Sifat III

Perhatikan jajargenjang ABCD pada gambar 3 dimana AB // DC dan

AD // BC. Untuk selanjutnya penulisan sudut dapat diwakili oleh satu

huruf, misalnya ABC dapat ditulis dengan B.

D C A B
D
C
A
B

Gambar 3

AB // CD dan garis AD adalah garis transversal karena memotong

dua atau lebih garis lain yaitu memotong garis AB dan DC

berturut-turut di titik A dan D, maka

sudut dalam sepihak).

A + ∠D = 180

0 (pasangan

AB // CD dan garis BC adalah garis transversal karena memotong

dua atau lebih garis lain yaitu memotong garis AB dan DC

berturut-turut di titik B dan C, maka

sudut dalam sepihak).

B + ∠C = 180

0 (pasangan

AD // BC dan garis AB adalah garis transversal karena memotong

dua atau lebih garis lain yaitu memotong garis AD dan BC

berturut-turut di titik A dan B, maka

sudut dalam sepihak).

A + ∠B = 180

0 (pasangan

Ad // BC dan garis DC adalah garis transversal karena memotong

dua atau lebih garis lain yaitu memotong garis AD dan BC

33

berturut-turut di titik D dan C, maka

sudut dalam sepihak).

D + ∠C = 180

0 (pasangan

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan:

 

Simpulan:

Pada

setiap

jajargenjang,

jumlah

dua

sudut

yang

 

berdekatan adalah 180 0 .

 

4)

Sifat IV

Perhatikan jajargenjang ABCD, kemudian tarik garis AC seperti yang

terlihat pada gambar 4.

D C O o A B
D
C
O o
A
B

Gambar 4

1

OB OD sehingga OB = OD = BD .

2

1

OA OC sehingga OA = OC = AC .

2

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan:

Simpulan: Diagonal-diagonal suatu jajargenjang saling membagi

dua sama panjang.

34

2. Persegi Panjang

a. Pengertian Persegi panjang

1)

Persegi panjang adalah suatu segiempat yang mempunyai sepasang

sisi sejajar dan keempat sudutnya siku-siku. (Junaidi, 2004: 265).

Gambar 5 menunjukkan sebuah persegi panjang ABCD dengan

unsur-unsur sebagai berikut.

Unsur-unsur persegi panjang

Nama Unsur

Sisi Sudut siku-siku Diagonal Sisi panjang Ruas garis sebagai lebar

AB, BC, CD, AD

A, B, C,

dan D

AC dan BC AB dan CD AD dan BC

D A
D
A

Gambar 5

C

B

b. Sifat-sifat Persegi panjang

1)

Sifat I

Kegiatan 1.a.

Perhatikan gambar 6(a) diperoleh dengan membalik gambar 6(b)

menurut garis PQ, sehingga:

A menempati B dan B menempati A, ditulis A B ,

C menempati D dan D menempati C, ditulis C D ,

AD menempati BC dan BC menempati AD, ditulis

maka AD = BC.

AD BC

,

35

P D C A B Q Gambar 6a
P
D
C
A
B
Q
Gambar 6a
P D C A B Q Gambar 6a P D C D C B A A
P D C D C B A A B
P
D
C
D C
B
A
A B

6b

Perhatikan pula gambar 7(a) dan 7(b), jika gambar 7(a) dibalik

menurut garis RS akan diperoleh gambar 7(b). Hal ini jelas bahwa

A D, B C, dan AB DC , maka AB = DC.

Kegiatan 1.b

H G D 1 C F 2 1 2 A B E
H
G
D
1
C
F
2
1 2
A
B
E

Gambar 6.c

(2). Perhatikan gambar 2.b.

(1). Perhatikan gambar 6.c

Persegi

panjang

ABCD

dihimpitkan

pada

BEFC,

diperoleh:

∠ =∠

B

B

B

2

1

1

A

+∠

+∠

B

A

2

= 180

= 180

0

0

Jadi, AD // BC.

Persegi panjang ABCD dihimpitkan pada DCGH, diperoleh:

D

D

A

1

1

=∠

+∠

A

D

+∠

D

2

2

= 180

= 180

0

0

Jadi, AB // DC.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa AB # DC dan BC # AD.

36

(#: sama dan sejajar)

Simpulan: Pada suatu persegi panjang sisi-sisi yang berhadapan

sama panjang dan sejajar.

D C R S A B
D
C
R
S
A
B

Gambar 7a

D C R S A B Gambar 7a D C A B R S D C
D C A B R S D C A B
D
C
A B
R
S
D C
A
B

7b

2)

Sifat II

Perhatikan gambar 6(b).

A menempati B, B menempati A, ditulis A ↔ ∠B.

C menempati D, C menempati D, ditulis C ↔ ∠D.

Maka A = ∠B dan C = ∠D.

Perhatikan gambar 7(b).

A menempati D, D menempati A, ditulis A ↔ ∠D.

B menempati C, C menempati B, ditulis B ↔ ∠C.

Maka A = ∠D dan B = ∠C.

Karena A = ∠B, C = ∠D dan A = ∠D, B = ∠C , maka dapat

disimpulakan bahwa: Semua sudut persegi panjang sama besar.

Perhatikan

gambar

8.

Empat

persegi

panjang

yang

kongruen

diletakkan bersisian dan saling bertemu dititik O. Keempat sudut

persegi panjang itu membentuk sudut 360 0 (satu putaran penuh).

37

O

Gambar 8

Simpulan : Sudut-sudut suatu persegi panjang adalah sudut siku-

3)

Sifat III

siku.

Perhatikan gambar 9. Gambar 9(b) diperoleh dengan cara membalik

gambar

9(a)

menurut

A B, C D, AC BD , maka

garis

PQ,

AC = BD. Karena

sehingga

AC

= BD,

maka dapat disimpulkan bahwa: Diagonal-diagonal persegi panjang

sama panjang.

P D C A B Q
P
D
C
A
B
Q

Gambar 9a

P D C A B Q Gambar 9a P D C D C B A A
P D C D C B A A B
P
D
C
D C
B
A
A B

9b

Kemudian,

perhatikan

gambar

10.

Jika

gambar

10(a)

diputar

setengah putaran, maka akan kita peroleh gambar 10(b). Dapat kita

lihat bahwa:

O O, A C, OA OC, maka OA = OC

O O, B D,OB OD, maka OB = OD

Sehingga dapat disimpulkan:

38

Simpulan : Diagonal-diagonal persegi panjang saling membagi dua

sama panjang. Atau kedua diagonal persegi panjang

saling berpotongan ditengah-tengah.

D C O A B Gam bar 10a
D
C
O
A
B
Gam bar 10a
Titik O Diputar 180 0
Titik O
Diputar 180 0
D B A O C D A
D
B
A
O
C
D
A

10b

C

B

3. Belah Ketupat

a. Pengertian Belah Ketupat

Belah ketupat adalah segiempat dengan sisi yang berhadapan sejajar,

keempat sisinya sama panjang, dan diagonalnya saling tegak lurus dan

berpotongan di tengah-tengah atau jajargenjang yang dua sisinya yang

berurutan sama panjang (Junaidi, 2004: 269). Akibatnya:

1)

Belah ketupat keempat sisinya sama panjang

2)

Sifat-sifat jajargenjang berlaku untuk belah ketupat

Belah

ketupat

dapat

dibentuk

dari

segitiga

sama

kaki

dan

bayangannya oleh pencerminan alas segitiga sama kaki tersebut.

Segitiga ABC pada gambar 11 merupakan segitiga sama kaki dengan

unsur-unsur sebagai berikut.

Unsur-unsur

Belah Ketupat

Nama Unsur

C = = A D
C
=
=
A
D

B

39

Alas

AB

Puncak

C

Sudu-sudut alas

ABC = ∠CBA

Sumbu simetri

CD

Garis tinggi

CD