Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

“SISTEM ENDOKRIN”

GOLONGAN : W

Disusun oleh :

1. Catharina Emilia Uriata Lajar NRP 2443018232


2. Nur Dhita Fatmawati NRP 2443018242
3. Gloria Silvia Jamlean NRP 2443018246
4. Nida Shabirah Wadini NRP 2443018347

Asisten : Ida Ayu A. P., M.Farm., Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

2018
BAB 1
TUJUAN PRAKTIKUM

1. Memahami metabolisme dan hormon tiroid.


2. Memahami glukosa darah, insulin, dan diabetes mellitus.
3. Memahami terapi sulih hormon.
4. Memahami pengukuran kortisol dan hormon adrenokortikotropik.
BAB 2
LANDASAN TEORI

Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang nengirimkan hasil sekresinya


langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati
duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormon.
Secara umum sistem endokrin adalah sistem yang berfungsi untuk
memproduksi hormon yang mengatur aktivitas tubuh. Terdiri atas kelenjar tiroid,
kelenjar hipofisa/pituitari, kelenjar pankreas, kelenjar kelamin,kelenjar paratiroid
dan kelenjar buntu. Beberapa dari organ endokrin ada yang menghasilkan satu
macam hormon (hormon tunggal) disamping itu juga ada yang menghasilkan
lebih dari satu macam hormon atau hormon ganda misalnya kelenjar hipofise
sebagai pengatur kelenjar yang lain.
Susunan Kimia Hormon
1. Amina: hormon sederhana ini merupakan variasi susunan asam amino
tirosin. Kelompok ini meliputi tiroksin dari kelenjar tiroid, epinefrin dan
norepinefrin dari medula adrenal
2. Protein: hormon ini merupakan rantai asam amino.Insulin dari pankreas,
hormon pertumbuhan dari kelenjar hipofisis anterior, kalsitonin dari kelenjar
tiroid semuanya merupakan protein.Rantai pendek asam amino disebut
peptida. Hormon antidiuretik dan oksitosin yang disintesis oleh hipotalamus,
merupakan hormon peptida. Steroid
3. Steroid : kolesterol merupakan prekursor hormon steroid, yang meliputi
kortisol dan aldosteron dari korteks adrenal, estrogen dan progesteron dari
ovarium, dan testosteron dari testis.
Fungsi sistem endokrin antara lain:
1. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang
berkembang
2. Menstimulasi urutan perkembangan
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif
4.  Memelihara lingkungan internal optimal
Hormon berbeda dengan enzim dalam beberapa hal:
1. Hormon dihasilkan dalam organ yang lain daripada organ dimana hormon
akhirnya melakukan fungsinya.
2. Hormon disekresi ke dalam darah sebelum dipergunakan. Jadi, kadarnya
dalam
sirkulasi dapat memberikan beberapa indikasi mengenai aktivitas kelenjar
endokrin dan kontak dengan organ target. Karena kadar jumlah hormon yang
diperlukan sangat kecil.
3.  Secara struktural, hormon tidak selalu merupakan protein.
Terdapat tiga golongan umum hormon, yaitu:
1.  Protein dan polipeptida
Mencakup hormon-hormon yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior

dan posterior, pankreas, kelenjar paratiroid, dan banyak hormon lainnya.


2.  Steroid
Disekresikan korteks adrenal, ovarium, testis, dan plasenta.
3.  Turunan asam amino tirosin
Disekresikan oleh kelenjar tiroid dan medula adrenal. (Guyton, 2007)

Hormon yang dihasilkan sistem endokrin


Setiap hormon dihasilkan oleh kelenjar yang berbeda:
1.  Kelenjar hipofisis (Kelenjar Pituitari)
Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar kecil yang terletak di sela tursika,
rongga tulang pada basis otak, dan dihubungkan dengan hipotalamus oleh tangkai
pituitari. Secara fisiologis, kelenjar hipofisis dibagi menjadi dua bagian:
- Hipofisis anterior (adenohipofisis)
Berasal dari kantong Rathke yang merupakan invaginasi epitel faring
sewaktu pembentukan embrio. Hormon yang disekresi oleh hipofisis
anterior adalah hormon pertumbuhan, selain dari efek umum dalam
menyebabkan pertumbuhan, juga mempunyai berbagai efek metabolik
yang spesifik, meliputi:
a. Meningkatkan kecepatan sintesis protein di sebagian besar sel tubuh
b. Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan lemak,
meningkatkan
asam lemak bebas dalam darah, dan meningkatkan penggunaan asam
lemak untuk energi
c. Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa di seluruh tubuh.  
Adrenokortikotropik, mengatur sekresi beberapa hormon
adrenokortikal,
mempengaruhi metabolisme glukosa, protein, dan lemak

 Tirotropin (TSH/thyroid-stimulating hormone), mengatur kecepatan


sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid serta mengatur
kecepatan sebagian besar reaksi kimia dalam tubuh.
 Prolaktin, meningkatkan pertumbuhan kelenjar payudara dan produksi air susu.
 Dua hormon gonadotropin, follicle-stimulating hormone dan luteinizing
hormone, mengatur pertumbuhan ovarium dan testis serta aktivitas hormonal
dan reproduksinya (Guyton.2007)

- Hipofisis posterior (neurohipofisis)


Terdiri dari sel-sel seperti glia yang disebut pituisit. Bagian ujung ini
terletak pada permukaan kapiler, tempat granula sekretorik menyekresikan
dua hormon hipofisis posterior, (Guyton, 2007) yaitu:
1. Hormon antidiuretik (ADH) atau vasopresin. Pembebasan vasopresin
ke dalam aliran darah mengakibatkan otot polos pada dinding arteri
kecil dan arteriol berkontraksi. Kontraksi ini mengakibatkan lumen
menyampit dan menaikkan tekanan darah. Namun,fungsi utama
vasopresin adalah meningkatkan permeabilitas air pada tubuli
kontortus distal dan duktus koligens ginjal.  
2. Oksitosin. Selama kelahiran, oksitosin dibebaskan dari neurohipofisis;
hormon ini menginduksi kontraksi kuat otot polos uterus yang
mengakibatkan kelahiran bayi. Saat menyusui, tindakan mengisap
puting susu oleh bayi memicu refleks ejeksi susu pada kelenjar
mammae
laktans. Tindakan ini membebaskan oksitosin yang merangsang sel
mioepitel yang mengelilingi alveoli dan duktus kelenjar mammae agar
berkontraksi. Hal ini mengakibatkan pengeluaran susu ke dalam duktus
ekskretorius kelenjar mammae dan puting susu. 

2. Kelenjar tiroid
Terdiri atas dua lobus kanan dan kiri yang dihubungkan oleh isthmus yang
sempit. Kelenjar ini merupakan urgan vascular yang dibungkus oleh selubung
yang berasal dari lamina pretrachealis fasciae profundae. Selubung ini melekatkan
glandula pada larynx dan trachea. Setiap lobus berbentuk seperti buah alpukat,
dengan apexnya menghadap ke atas sampai linea oblique cartilago thyroideae;
basisnya terletak di bawah setinggi cincin trachea keempat/kelima. Efek yang
umum dari hormon tiroid adalah untuk mengaktifkan transkripsi inti sejumlah
besar gen. Selain itu hormon tiroid meningkatkan aktivitas metabolisme hampir
seluruh jaringan tubuh. ( Guyton, 2007)
Fungsi tiroid antara lain:
1. Maturasi sel.
2. Mengganggu proses pertumbuhan myelin dan akson.
3. Perkembangan otak.
4. Mengatur kecepatan metabolik.
5. Menambah sintesis RNA.
6. Keseimbangan nitrogen negatif dan sintesis protein menurun.
7. Menambah produksi panas dan menyimpan energi.
8. Absorbsi intestinal terhadap glukosa
Hormon tiroid terdapat dalam 2 bentuk:
a. Tiroksin (T4), merupakan bentuk yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, hanya
memiliki efek yang ringan terhadap kecepatan metabolisme tubuh.
b. Tiroksin dirubah di dalam hati dan organ lainnya ke dalam bentuk aktif, yaitu
tri-iodo-tironin (T3). Perubahan ini menghasilkan sekitar 80% bentuk hormon
aktif, sedangkan 20% sisanya dihasilkan oleh kelenjar tiroid sendiri.

Proses pembentukan T3 dan T4 yaitu sel folikel membentuk molekul


glikoprotein yang mengalami penguraian menjadi monoiodotironin (MIT) dan
diiodotironin (DIT). Kemudian bergabung menjadi triiodotironin, DIT
membentuk tetra-iodotironin/tiroksin (T4).

3. Kelenjar thymus
Kelenjar thymus terletak di dalam torax, kira-kira pada ketinggian
bifurkais trakhea. Warnanya kemerah-merahan dan terdiri atas dua lobus. Pada
bayi baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gr atau lebih. Ukurannya
bertambah dan pada masa remaja beratnya dari 30-40 gr dan kemudian mengerut
lagi. (Evelyn, 1993). Merupakan penimbun hormon somatotrop atau hormon
pertumbuhan. Hormon ini berfungsi hanya pada waktu pertumbuhan, setelah
dewasa tidak berfungsi lagi.

4. Kelenjar anak gondok (paratiroid)


Mengeluarkan hormon paratiroid (parathiroid hormone, PTH) yang
bersama-sama dengan Vit D3 (1.25-dthydroxycholccalciferal), dan kalsitonin
mengatur kadar kalsium dalam darah. Sintesis PTH dikendalikan oleh kadar
kalsium plasma, yaitu dihambat sintesisnyabila kadar kalsium tinggi dan
dirangsang bila kadar kalsium rendah. PTH akan merangsang reabsorbsi kalsium
pada tubulus ginjal, meningkatkan absorbsi kalsium pada usus halus, sebaliknya
menghambat reabsorbsi fosfat dan melepaskan kalsium dari tulang. Jadi PTH
akan aktif bekerja pada tiga titik sasaran utama dalam mengendalikan homeostasis
kalsium yaitu di ginjal, tulang dan usus.

5. Kelenjar anak ginjal (adrenal)


Bagian kortek menghasilkan hormon kortison (kortison dan
deoksikortison) yang berfungsi untuk mencegah penyakit kortison (kulit menjadi
merah) yang selalu menyebabkan kematian. Kelenjar anak ginjal bagian medula
menghasilkan hormon adrenalin yang bekerja antagonis dengan hormon insulin di
hati. Dalam hal ini hormon adrenalin berfungsi untuk menimbulkan semangat,
menaikkan tekanan darah, mempercepat denyut jantung. Sehingga dinamakan
juga hormon kerja atau hormon semangat.

6. Kelenjar-kelenjar usus dan lambung (gastrointestinal mucosa)


Menghasilkan:
a. Hormon gastrin yang berfungsi merangsang sekresi getah lambung.
b. Hormon sekretin yang merangsang sekresi dari getah pankreas dan empedu.
c. Hormon kolesitokinin, yang mempengaruhi kontraksi dan mengosongkan
kantung empedu

7. Pulau-pulau langerhans (di pankreas)


Menghasilkan hormon insulin yang bekerja antagonis dengan hormon
adrenalin di hati. Dalam hal ini hormon insulin bekerja mengatur kadar gula
dalam darah 0,1%. Bila kekurangan insulin maka kadar glukosa dalam darah akan
tinggi sehingga menyebabkan penyakit diabetes mellitus.

8. Organ reproduksi
a. Pada pria
Hormon-hormon dalam reproduksi diantaranya sebagai berikut.
- Testosteron, disekresi oleh sel-sel Leydig, penting bagi pertumbuhan dan
pembelahan sel-sel germinal testis.
- Luteinizing hormon, disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior, merangsang

sel-sel Leydig untuk menyekresi testosteron.


- Hormon perangsang-folikel (FSH), yang juga disekresi oleh sel-sel
kelenjar
hipofisis anterior.
- Estrogen, dibentuk dari testosteron oleh sel-sel sertoli dirangsang oleh
FSH.
- Hormon pertumbuhan, diperlukan untuk mengatur latar belakang
metabolisme testis
b. Pada wanita
Sistem hormon pada wanita terdiri dari tiga hierarki hormon.
- Hormon yang dikeluarkan hipotalamus, hormon pelepas-gonadotropin
(GnRH).
- Hormon seks hipofisis anterior, hormon perangsang folikel (FSH) dan
hormon lutein (LH), keduanya disekresi sebagai respons terhadap
pelepasan GnRH dari hipotalamus.
- Hormon-hormon ovarium, estrogen dan progesteron, yang disekresi oleh
ovarium sebagai respon terhadap kedua hormon seks wanita dari kelenjar

hipofisis anterior.
BAB 3
ALAT DAN BAHAN

1. Laptop
2. PhysioEx
PROSEDUR KERJA

ACTIVITY 1

- TIKUS NORMAL
1. Tarik Tikus normal kedalam ruangan untuk menemukan tingkat metabolisme
basalnya
2. Klik Weigh untuk menetukan berat badan tikus
3. Klik Clamp pada tabung kiri (atas ruang) untuk menutupnya
4. Atur waktu 1 menit menggunakan tombol +/-
5. Klik Start untuk mengukur jumlah oksigen, perhatikan apa yang terjadi di
manometer seiring berjalannya waktu
6. Klik tombol T-connector untuk menghubungkan manometer dan spuit
7. Klik Clamp pada tabung untuk membukanya sehingga tikus dapat menghirup
udara luar
8. Klik tombol + disebelah kanan layar O2 ml hingga dan injeksikan , perhatikan
apa yang terjadi pada kedua lengan. Setarakan volume hingga muncul kata
LEVEL
9. Hitung konsumsi oksigen per jam pada tikus normal, masukkan pada kolom
kemudian klik Submit Data
10. Klik Palpate thyroid untuk memerika ukuran tiroid secara manual apakah ada
gondok. Klik Record Data untuk menampilkan hasil data
11. Tarik tikus untuk kembali ke dalam ruangannya dan kemudian klik Restore
dan Palpate thyroid

1. Tarik jarum suntik yang berisi Tyroxine ke bagian belakang tikus yang normal
2. Ikuti prosedur 1-3, tarik tikus dalam ruang, klik Weigh, kemudian klik Clamp
pada tabung kiri yang tertutup, atur waktu 1 menit, dan klik Start
3. Setelah penghitung waktu habis, klik tombol T-connector untuk
menghubungkan manometer dan spuit, klik Clamp ada tabung kiri terbuka,
dan klik tombol O2 + /- ml, kemudian klik Inject untuk menyamakan LEVEL
4. Hitung konsumsi oksigen per jam pada tikus normal, masukkan pada kolom
kemudian klik Submit Data
5. Klik Palpate thyroid untuk memerika ukuran tiroid secara manual apakah ada
gondok. Klik Record Data untuk menampilkan hasil data
6. Tarik tikus kembali pada ruangan nya dan kemudian klik Clean untuk
membersihkan tiroksin dari tikus
7. Ulangi prosedur diatas untuk mengerjakan obat TSH, Prophylthiouracil

- TIKUS THYROIDECTOMIZED (Tx)


1. Tarik Tikus Thyroidectomized (Tx) kedalam ruangan untuk menemukan
tingkat metabolisme basalnya.
2. Klik Weigh untuk menetukan berat badan tikus
3. Klik Clamp pada tabung kiri (atas ruang) untuk menutupnya
4. Atur waktu 1 menit menggunakan tombol +/-
5. Klik Start untuk mengukur jumlah oksigen, perhatikan apa yang terjadi di
manometer seiring berjalannya waktu
6. Klik tombol T-connector untuk menghubungkan manometer dan spuit
7. Klik Clamp pada tabung untuk membukanya sehingga tikus dapat menghirup
udara luar
8. Klik tombol + disebelah kanan layar O2 ml hingga dan injeksikan , perhatikan
apa yang terjadi pada kedua lengan. Setarakan volume hingga muncul kata
LEVEL
9. Hitung konsumsi oksigen per jam pada tikus normal, masukkan pada kolom
kemudian klik Submit Data
10. Klik Palpate thyroid untuk memerika ukuran tiroid secara manual apakah ada
gondok. Klik Record Data untuk menampilkan hasil data
11. Tarik tikus untuk kembali ke dalam ruangannya dan kemudian klik Restore
dan Palpate thyroid
12.
1. Tarik jarum suntik yang berisi Tyroxine ke bagian belakang tikus
Thyroidectomized (Tx)
2. Ikuti prosedur 1-3, tarik tikus dalam ruang, klik Weigh, kemudian klik Clamp
pada tabung kiri yang tertutup, atur waktu 1 menit, dan klik Start
3. Setelah penghitung waktu habis, klik tombol T-connector untuk
menghubungkan manometer dan spuit, klik Clamp ada tabung kiri terbuka,
dan klik tombol O2 + /- ml, kemudian klik Inject untuk menyamakan LEVEL
4. Hitung konsumsi oksigen per jam pada tikus normal, masukkan pada kolom
kemudian klik Submit Data
5. Klik Palpate thyroid untuk memerika ukuran tiroid secara manual apakah ada
gondok. Klik Record Data untuk menampilkan hasil data
6. Tarik tikus kembali pada ruangan nya dan kemudian klik Clean untuk
membersihkan tiroksin dari tikus
7. Ulangi prosedur diatas untuk mengerjakan obat TSH, Prophylthiouracil

- TIKUS HYPOPHYSECTOMIZED (Hypox)


1. Tarik Tikus Hypophysectomized (Hypox) kedalam ruangan untuk
menemukan tingkat metabolisme basalnya.
2. Klik Weigh untuk menetukan berat badan tikus
3. Klik Clamp pada tabung kiri (atas ruang) untuk menutupnya
4. Atur waktu 1 menit menggunakan tombol +/-
5. Klik Start untuk mengukur jumlah oksigen, perhatikan apa yang terjadi di
manometer seiring berjalannya waktu
6. Klik tombol T-connector untuk menghubungkan manometer dan spuit
7. Klik Clamp pada tabung untuk membukanya sehingga tikus dapat menghirup
udara luar
8. Klik tombol + disebelah kanan layar O2 ml hingga dan injeksikan , perhatikan
apa yang terjadi pada kedua lengan. Setarakan volume hingga muncul kata
LEVEL
9. Hitung konsumsi oksigen per jam pada tikus normal, masukkan pada kolom
kemudian klik Submit Data
10. Klik Palpate thyroid untuk memerika ukuran tiroid secara manual apakah ada
gondok. Klik Record Data untuk menampilkan hasil data
11. Tarik tikus untuk kembali ke dalam ruangannya dan kemudian klik Restore
dan Palpate thyroid

1. Tarik jarum suntik yang berisi Tyroxine ke bagian belakang tikus


Hypophysectomized (Hypox)
2. Ikuti prosedur 1-3, tarik tikus dalam ruang, klik Weigh, kemudian klik Clamp
pada tabung kiri yang tertutup, atur waktu 1 menit, dan klik Start
3. Setelah penghitung waktu habis, klik tombol T-connector untuk
menghubungkan manometer dan spuit, klik Clamp ada tabung kiri terbuka,
dan klik tombol O2 + /- ml, kemudian klik Inject untuk menyamakan LEVEL
4. Hitung konsumsi oksigen per jam pada tikus normal, masukkan pada kolom
kemudian klik Submit Data
5. Klik Palpate thyroid untuk memerika ukuran tiroid secara manual apakah ada
gondok. Klik Record Data untuk menampilkan hasil data
6. Tarik tikus kembali pada ruangan nya dan kemudian klik Clean untuk
membersihkan tiroksin dari tikus
7. Ulangi prosedur diatas untuk mengerjakan obat TSH, Prophylthiouracil

ACTIVITY 2

1. Tarik tabung uji ke pemegang pertama dalam inkubasi, ulangi sampai 5 kali
2. Tarik pipet Glucose standard pada tabung uji, teteskan beberapa kali sesuai
nomor tabung uji
3. Tambahkan Deionized Water, teteskan beberapa kali sesuai nomor tabung uji
4. Klik Mix, kemudian klik Centrifuge, setelah itu klik Remove Pellet
5. Tambahkan Enzym color reagent , teteskan beberapa kali sesuai nomor tabung
uji
6. Klik Incubate
7. Klik Set up,
8. Tarik tabung 1 ke spectrometer , kemudian klik analyze
9. Klik Record data
10. Ulangi prosedur nomor 8 -9 hingga tabung ke 5
11. Klik Graph Glucose Standard, untuk menghasilkan kurva standard
12. Tarik tabung uji ke pemegang pertama dalam inkubasi, ulangi sampai 5 kali
13. Tarik dan tambahkan 5 sample pada masing-masing tabung
14. Tambahkan Deionized Water, teteskan pada masing-masing tabung
15. Tambahkan Barium Hydroxide, teteskan pada masing-masing tabung
16. Tambahkan Heparin, teteskan pada masing-masing tabung
17. Klik Mix, kemudian klik Centrifuge, setelah itu klik Remove Pellet
18. Tambahkan Enzym color reagent , teteskan pada tabung uji
19. Ulangi prosedur nomor 6 sampai 11
20. Kemudian klik Submit

ACTIVITY 3

1. Tarik syringe kedalam Saline kemudian injeksikan pada bagian belakang Tikus
Control, klik Clean
2. Tarik syringe kedalam Estrogen kemudian injeksikan pada bagian belakang
Tikus Estrogen Treated, klik Clean
3. Tarik syringe kedalam Calcitonin kemudian injeksikan pada bagian belakang
tikus Calcitonin Treated, klik Clean
4. Klik tampilan jam untuk memutar waktu selama 24 jam
5. Lakukan selama 7 hari
6. Klik Anesthesia pada tikus control, kemudian tarik tikus control ke Exam
Table, klik Scan kemudian klik Record Data
7. Ulangi prosedur ke 6 pada Tikus Estrogen Treated dan Calcitonin Treated
8. Kemudian klik Submit

ACTIVITY 4

1. Klik Cortisol, tarik Syringe ke Patient Samples 1, kemudian tarik Syringe ke


HPLC injector
2. Klik Record Data
3. Klik Clean, kemudian klik Clean Column
4. Ulangi prosedur diatas untuk mengerjakan Patien Samples berikutnya
BAB 4
HASIL PRAKTIKUM

4.1 Metabolisme dan Homon Tiroid

Pada percobaan diatas dapat diketahui berat, ml O2/min, ml O2/hr, tingkat


Basal Metabolic Rate (BMR), dan rabaan pada tikus normal, tikus
thyroidectomized, dan tikus hypophysectomized yang disebabkan oleh baseline,
thyroxine, thyroid-stimulating hormone (TSH), serta propylthiouracil yang
disuntikkan.

4.2 Glukosa Plasma, Insulin, dan Diabetes Mellitus


Pada percobaan diatas dapat ditera bahwa hormon insulin sangat penting
untuk pengaturan kadar glukosa dalam plasma darah karena glukosa dari aliran
dapat menyerap, dari kelima tabung diatas dibedakan dengan dua kali part,yang
pertama part 1 optical density-nya semakin meningkat setelah diteteskan oleh
beberapa larutan diatas karena itu dapat berpengaruh pada titik peningkatan
glukosa dengan tabung tertentu ,sedangkan pada part 2 tabung 1-5 mengalami
peningkatan optical destinty-nya, hanya kecuali pada tabung ke-4 mengalami
penurunan dengan memiliki glukosa yang stabil

4.3 Terapi Penggantian Hormon

Pada percobaan diatas dilakukan x-ray pada tikus. Percobaan didapatkan


ada beberapa macam tikus yang terkontrol dan tikus yang telah disuntikan oleh
esterogen, kaltosinin, dan saline dengan masing masing sebanyak tujuh kali yang
mepunyai hasil yang berbeda – beda, dapat dijelaskan bahwa pada efek terapi kali
ini, tikus yang di injeksi oleh saline lebih tinggi high contro-nya dari pada tikus
yang diinjeksi oleh esterogen dan kalsotinin.

4.4 Mengukur Hormon Kortisol dan Adrenocorticotropic


1. Sindrom cushing (hiperkortisolisme primer) ; disebabkan oleh kadar hormon
kortisol yang terlalu tinggi dalam tubuh. Sedangkan beberapa orang mengalami
gangguan di kelenjar adrenal karena kadar ACTH yang rendah.
2. Sindrom iatrogenik cushing ; dapat terjadi ketika hormon glikokortikoid,
seperti prednison, diberikan untuk mengobati radang sendi, asma atau lupus.
3. Penyakit cushing (hiperkortisolisme sekunder) ; disebabkan oleh tumor
pituitari anterior. Orang dengan penyakit cushing menunjukkan peningkatan
kortisol dan kadar ACTH.
4. Penyakit addison (insufisiensi adrenal primer) ; kortisol rendah secara langsung
disebabkan oleh penghancuran bertahap dari korteks adrenal. Sedangkan kadar
ACTH biasanya meningkat sebagai efek kompensasi.

Insufisiensi adrenal sekunder (hipopituitarisme) ; tingkat kortisol yang rendah,


biasanya disebabkan oleh kerusakan pada hipofisis anterior. Oleh karena itu,
kadar ACTH juga rendah.
BAB 5
PEMBAHASAN

5.1 Metabolisme dan Hormon Tiroid

Metabolisme adalah berbagai reaksi biokimia yang terjadi di tubuh.


Anabolisme adalah pembentukan molekul kecil menjadi molekul yang lebih
besar dan lebih kompleks melalui reaksi enzimatik. Energi disimpan dalam ikatan
kimia yang terbentuk ketika molekul yang lebih besar dan kompleks terbentuk.
Katabolisme adalah pemecahan besar, molekul kompleks menjadi molekul yang
lebih kecil melalui reaksi enzimatik. Pemecahan ikatan kimia dalam katabolisme
melepaskan energi yang dapat digunakan sel untuk melakukan berbagai kegiatan,
seperti membentuk ATP. Sebagian besar energi dilepaskan sebagai panas untuk
mempertahankan suhu tubuh yang tetap, terutama pada manusia. Karena manusia
adalah organisme homeothermic yang perlu mempertahankan suhu tubuh yang
tetap untuk menjaga aktivitas berbagai jalur metabolisme dalam tubuh.

Hormon yang paling penting untuk menjaga metabolisme dan panas tubuh
adalah Tiroksin (hormon tiroid), juga dikenal sebagai tetraiodothyrorine atau
tiroksin. Tiroksin disekresikan oleh kelenjar tiroid, yang terletak di leher.
Produksi tiroksin dikendalikan oleh kelenjar pituitari, atau hipofisis, yang
mensekresikan Thyroid-Stimulating Hormone (TSH). Pembengkakan kelenjar
yang dihasilkan di leher disebut Gondok.

Hipotalamus di otak juga merupakan peserta penting dalam produksi


tiroksin dan TSH. itu adalah kelenjar endokrin primer yang mengeluarkan
beberapa hormon yang mempengaruhi kelenjar pituitari, atau hipofisis, yang juga
terletak di otak.

Thyrotrophyn-releasing hormone (TRH) secara langsung terkait dengan


sekresi tiroksin dan TSH. TRH dari hipotalamus menstimulasi hipofisis anterior
untuk menghasilkan TSH, yang kemudian menstimulasi tiroid untuk
menghasilkan tiroksin.
Peristiwa ini adalah bagian dari mechansim umpan balik negatif klasik.
Ketika tingkat sirkulasi tiroksin rendah, hipotalamus mengeluarkan lebih banyak
TRH untuk merangsang kelenjar pituitari untuk mensekresi TSH lebih banyak.
Peningkatan TSH lebih lanjut merangsang sekresi tiroksin kemudian akan
mempengaruhi hipotalamus untuk mengurangi produksi TRH.

TRH perjalanan dari hipotalamus ke kelenjar pituitari melalui Sistem


Portal Hipotalamus-Hipofisis. Pengaturan khusus pembuluh darah ini terdiri
dari vena portal tunggal yang menghubungkan dua tempat tidur kapiler. Sistem
portal hipotalamus-hipofisis mengangkut banyak hormon lain dari hipotalamus ke
kelenjar pituitari. Hipotalamus terutama mengeluarkan hormon tropik, yang
merangsang sekresi hormon-hormon lain. TRH adalah contoh hormon tropik
karena merangsang pelepasan TSH dari kelenjar pituitari. TSH sendiri juga
merupakan contoh hormon tropik karena merangsang produksi tiroksin.

5.2 Glukosa Plasma, Insulin, dan Diabetes Mellitus

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel beta dari bagian
endokrin pankreas. Hormon ini sangat penting untuk pengaturan kadar glukosa
plasma, atau "gula darah", karena hormon memungkinkan sel-sel kita untuk
menyerap glukosa dari aliran darah. Glukosa yang diserap dari darah baik
digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolisme atau disimpan sebagai
glikogen (juga dikenal sebagai pati hewan), yang paling menonjol di hati dan sel
otot. sekitar 75% dari glukosa dikonsumsi selama makanan disimpan sebagai
glikogen.

Tubuh harus mempertahankan kadar glukosa plasma tertentu untuk terus


melayani sel-sel saraf karena sel-sel jenis ini hanya menggunakan glukosa untuk
bahan bakar metabolik. ketika kadar glukosa dalam plasma turun di bawah nilai
tertentu, sel-sel alfa pankreas dirangsang untuk melepaskan hormon glukagon.
Glukagon menstimulasi pemecahan glikogen yang tersimpan menjadi glukosa,
yang kemudian dilepaskan kembali ke dalam darah.
Ketika pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup, hasil Diabetes
Mellitus Tipe 1. ketika pankreas memproduksi insulin yang cukup tetapi tubuh
gagal untuk meresponnya, hasil Diabetes Mellitus Tipe 2. dalam kedua kasus,
glukosa tetap dalam aliran darah, dan sel-sel tubuh tidak dapat mengambilnya
sebagai bahan bakar utama untuk metabolisme. ginjal kemudian menyaring
kelebihan glukosa melibatkan sejumlah transporter dalam sel tubulus ginjal,
beberapa kelebihan glukosa tidak diserap ke dalam sirkulasi. sebagai gantinya, ia
keluar dari tubuh dalam air kencing (maka urin manis, seperti namanya Diabetes
Mellitus). Ketidakmampuan sel tubuh untuk mengambil glukosa dari darah juga
menghasilkan sel-sel otot rangka menjalani katabolisme protein untuk
membebaskan asam amino untuk digunakan dalam membentuk glukosa di hati.

5.3 Terapi Penggantian Hormon

Follicle-stimulating hormone (FSH) adalah hormon peptida hipofisis


anterior yang merangsang pertumbuhan folikel ovarium. Mengembangkan folikel
ovarium kemudian memproduksi dan mengeluarkan hormon steroid yang disebut
Estrogen ke dalam plasma. Estrogen memiliki banyak efek pada tubuh wanita
dan homeostatis, termasuk stimulasi pertumbuhan tulang dan perlindungan
terhadap Osteoporosis (penurunan kuantitas tulang yang ditandai dengan
penurunan massa tulang dan meningkatkan kerentanan terhadap patah tulang).

Setelah menopause, indung telur berhenti memproduksi dan mengeluarkan


estrogen. Salah satu efek dan potensi masalah kesehatan dari moneopause adalah
hilangnya kepadatan tulang yang dapat mengakibatkan osteoporosis dan patah
tulang. untuk alasan ini, perawatan pascamenopause untuk mencegah osteoporosis
sering termasuk terapi penggantian hormon. Estrogen dapat diberikan untuk
meningkatkan kepadatan tulang. Kalsitonin (disekresikan oleh sel C di kelenjar
tiroid) adalah hormon peptida lain yang dapat diberikan untuk melawan
perkembangan osteoporosis. Kalsitonin menghambat aktivitas osteoklas dan
menstimulasi ambilan kalsium dan deposisi pada tulang panjang.
5.4 Mengukur Kortisol dan Hormon Adrenokortikotropik

Kortisol, hormon yang disekresikan oleh korteks adrenal, penting dalam


respons tubuh terhadap berbagai jenis stres. Pelepasan kortisol dirangsang oleh
hormon adrenokortikotropik (ACTH), hormon tropik yang dilepaskan oleh
hipofisis anterior. Hormon tropik menstimulasi sekresi hormon lain. Pelepasan
ACTH, pada gilirannya, dirangsang oleh corticotropin releasing hormone
(CRH), hormon tropik dari hipotalamus. Peningkatan kadar kortisol secara
negatif memberi makan kembali untuk menghambat pelepasan kedua ACTH dan
CRH.

Peningkatan kortisol dalam darah, atau hiperkortisolisme, disebut sebagai


sindrom cushing jika peningkatan ini disebabkan oleh tumor kelenjar adrenal.
Sindrom cushing juga bisa iatrogenik (yaitu, dokter diinduksi). Misalnya,
sindrom cushing yang diinduksi oleh dokter dapat terjadi ketika hormon
glukokortikoid, seperti prednison, diberikan untuk mengobati radang sendi, asma
atau lupus. Sindrom cushing sering disebut sebagai "penyakit steroid" karena
menyebabkan hiperglikemia. Sebaliknya, penyakit cushing adalah
hiperkortisolisme yang disebabkan oleh tumor pituitari anterior. Orang dengan
penyakit cushing menunjukkan peningkatan kadar ACTH dan kortisol.
Penurunan kortisol dalam darah atau hiperkortisolisme, dapat terjadi
karena insufisiensi adrenal. Pada insufisiensi adrenal primer, juga dikenal sebagai
penyakit Addison, kortisol rendah secara langsung disebabkan oleh
penghancuran bertahap dari korteks adrenal dan kadar ACTH biasanya meningkat
sebagai efek kompensasi. Insufisiensi adrenal sekunder juga menghasilkan tingkat
kortisol yang rendah, biasanya disebabkan oleh kerusakan pada hipofisis anterior.
Oleh karena itu, kadar ACTH juga rendah pada insufisiensi adrenal sekunder.
5.5 Pembahasan pertanyaan Buku Petunjuk Praktikum Activity 1
Part 1
5.5.1 Tikus mana yang memiliki laju metabolisme basal tercepat (BMR) ?
Jawab : Tikus normal memiliki tingkat metabolisme basal tercepat,
karena itu tidak hilang kelenjar pituitari atau kelenjar tiroidnya.
5.5.2 Mengapa tingkat metabolisme berbeda antara tikus normal dan tikus
yang mengalami pembedahan? Seberapa baik itu hasil dibandingkan
dengan prediksi Anda ?
Jawab : Tikus normal memiliki BMR tertinggi karena memiliki
kelenjar
diperlukan untuk merangsang dan mengatur pelepasan hormon tiroid.
5.5.3 Jika seekor hewan telah tiroidektomi, hormon apa yang akan hilang
dalam darahnya?
Jawab : Untuk tikus tiroidektomi yang hilang adalah hormon
triiodothyronine dan tiroksin.
5.5.4 Jika seekor hewan telah hypophysectomized, apa efek yang Anda
harapkan untuk melihat dalam kadar hormon di dalamnya tubuh?
Jawab : Untuk tikus hypophysectomized, TSH akan hilang karena
kelenjar pituitari yang hilang

Part 2
5.5.5 Apa efek dari suntikan tiroksin pada BMR tikus normal?
Jawab : Tingkatnya sedikit. Itu tikus normal hipertiroid karena
tiroksin
meningkatkan laju metabolik tetapi tidak berkembang gondok.
5.5.6 Apa efek dari suntikan tiroksin pada BMR tikus tiroidektomi?
Bagaimana BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus
normal? Apakah dosis tiroksin di suntikan terlalu besar, terlalu kecil,
atau benar?
Jawab : BMR meningkat untuk tikus tiroidektomi dengan suntikan
tiroksin. BMR itu masih sedikit di bawah BMR tikus normal dengan
tiroksin. Dosisnya terlalu rendah.
5.5.7 Apa efek dari suntikan tiroksin pada BMR tikus hypophysectomized?
Bagaimana BMR dalam kasus ini dibandingkan dengan BMR tikus
normal? Apakah dosis tiroksin di suntikan terlalu besar, terlalu kecil,
atau benar?
Jawab : BMR meningkat untuk tikus hypophysectomized dengan
suntikan tiroksin. BMR itu masih sedikit di bawah BMR tikus normal

dengan tiroksin. Dosisnya terlalu rendah.

Part 3
5.5.8 Apa efek suntikan hormon thyroid-stimulating (TSH) pada BMR
tikus
normal?
Jawab : Efeknya TSH adalah untuk meningkatkan BMR tikus normal.
5.5.9 Apa efek suntikan TSH pada BMR tikus tiroidektomi? Bagaimana
BMR
dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Mengapa
efek
ini diamati?
Jawab : Tidak ada efek pada BMR tikus tiroidektomi tikus dengan
injeksi TSH karena tidak ada kelenjar tiroid untuk merangsang.
5.5.10 Apa efek suntikan TSH pada BMR tikus hypophysectomized?
Bagaimana BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus
normal? Apakah dosis TSH dalam suntikan terlalu besar, terlalu
kecil,
atau adil kanan?
Jawab : BMR tikus hypophysectomized meningkat dengan TSH.
BMR
itu tepat di bawah tikus normal tetapi masih lebih rendah. jumlah
syringe sedikit terlalu rendah.

Part 4

5.5.11 Apa efek injeksi propylthiouracil (PTU) pada BMR tikus normal?
Kenapa tikus ini mengembangkan gondok yang teraba?
Jawab : Efek suntikan PTU pada tikus normal adalah menurunkan
BMR. Itu gondok teraba adalah karena penumpukan prekursor untuk
tiroksin.
5.5.12 Apa efek injeksi PTU pada BMR tikus tiroidektomi? Bagaimana
BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal?
Mengapa efek ini diamati?
Jawab : Efek suntikan PTU pada tikus tiroidektomi tidak terlihat
karena tidak ada kelenjar tiroid yang akan terpengaruh.
5.5.13 Apa efek injeksi PTU pada BMR tikus hypophysectomized?
Bagaimana BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus
normal? Mengapa efek ini diamati?
Jawab : Efek suntikan PTU pada tikus hypophysectomized tidak
terlihat karena tikus hilang kelenjar pituitari.

5.6 Pembahasan perrtanyaan PhysioEx


5.6.1 Pre-Lab Quiz Activity 1
1. Manakah dari pernyataan berikut tentang metabolisme yang salah?
Jawab : d. Semua energi dari metabolisme pada akhirnya disimpan
dalam ikatan kimia ATP.
2. Tiroksin adalah
Jawab : c. hormon paling penting untuk menjaga tingkat metabolisme
dan suhu tubuh.
3. Thyroid-stimulating hormone (TSH) adalah
Jawab : b. diproduksi di kelenjar pituitari.
4. Injeksi TSH ke hewan yang biasanya normal akan menyebabkan yang

mana dari berikut ini?


Jawab : d. pengembangan gondok
5. Thyrotropin-releasing hormone (TRH) adalah
Jawab : a. disekresikan oleh hipotalamus.
6. Manakah dari pernyataan berikut ini yang benar?
Jawab : b. Hipotalamus terutama mengeluarkan hormon tropik yang
merangsang sekresi lainnya hormon.

5.6.2 Post-Lab Quiz Activity 1


1. Bagaimana Anda memperlakukan hewan tiroidektomi sehingga
berfungsi seperti hewan "normal"?
Jawab : c. Berikan suplemen T4 pada hewan.
2. Sebagai akibat dari hormon yang hilang (s) pada tikus
hypophysectimized, apa yang akan menjadi beberapa gejala yang
diharapkan?
Jawab : d. penurunan tingkat metabolisme basal
3. Injeksi tiroksin ke tikus yang normal akan menyebabkan yang mana
dari yang berikut ini?
Jawab : b. Hipertiroidisme
4. Mengapa tidak ada tikus yang mengembangkan gondok setelah
injeksi
tiroksin?
Jawab : a. Dalam semua kasus, kadar TSH tidak meningkat akibat
injeksi tiroksin.
5. Mengapa tikus normal mengembangkan gondok yang teraba dengan
injeksi TSH?
Jawab : c. Reseptor TSH pada kelenjar tiroid dirangsang secara
berlebihan.
6. Injeksi propylthiouracil ke hewan yang biasanya normal akan
menyebabkan yang mana dari yang berikut ini?
Jawab : b. pengembangan gondok
7. Mengapa tikus normal mengembangkan gondok yang teraba dengan
injeksi propylthiouracil?
Jawab : d. Injeksi menurunkan mekanisme umpan balik negatif pada

TSH.

5.6.3 Pre-Lab Quiz Activity 2


1. Manakah dari pernyataan berikut yang salah?
Jawab : d. Insulin adalah hormon yang disekresikan ke lambung untuk
membantu pencernaan pati
2. Manakah dari pernyataan berikut ini yang benar?
Jawab : d. Semua pernyataan ini benar.
3. Diagnosis diabetes mellitus tipe 1 mengimplikasikan hal itu
Jawab : b. pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup.
4. Diagnosis diabetes mellitus tipe 2 mengimplikasikan hal itu
Jawab : c. sel-sel tubuh tidak responsif terhadap insulin yang
bersirkulasi.
5. Glukagon adalah hormon
Jawab : b. yang menentang aksi insulin.

5.6.4 Post-Lab quiz Activity 2


1. Seorang pasien laki-laki telah mengalami pembacaan glukosa plasma
puasa berturut-turut sebesar 115, 110, dan 122 mg / dl. Penyedia
layanan kesehatan akan memberitahunya itu
Jawab : c. ia tampaknya memiliki gangguan atau penurunan ambang
batas dari insulin-mediated glucose uptake oleh sel-selnya.
2. Untuk mendapatkan pengukuran spektrofotometri akurat dari
konsentrasi glukosa dalam sampel
Jawab : d. heparin ditambahkan untuk mencegah pembekuan darah.
3. Dalam uji spektrofotometri yang digunakan dalam percobaan ini,
_____ sebagai konsentrasi glukosa dalam sampel meningkat.
Jawab : b. densitas optik meningkat
4. Seorang pasien wanita memiliki pembacaan glukosa plasma puasa
berturut-turut sebesar 130, 140, dan 128 mg / dl. Perawatan kesehatan

penyedia akan memberi tahu dia itu


Jawab : a. dia telah mengembangkan diabetes.
5. Untuk mempertahankan homeostasis glukosa plasma
Jawab : d. transport glukosa yang dimediasi insulin ke dalam sel
bertindak sebagai umpan balik negatif ketika kadar glukosa plasma
naik.
6. Seorang teknisi laboratorium menarik sampel darah dari vena di lengan

atas Anda mengetahui hal itu


Jawab : b. konsentrasi glukosa plasma akan sama di kedua vena lengan

dan jari telunjuk.

5.6.5 Pre-Lab quiz Activity 3


1. Follicle-stimulating hormone (FSH) Jawaban Anda: a. adalah sekresi
hormon hipofisis posterior.
Jawab : d. merangsang perkembangan folikel ovarium.
2. Estrogen adalah
Jawab : d. diproduksi dengan mengembangkan folikel ovarium.
3. Kalsitonin adalah
Jawab : b. bekerja melawan perkembangan osteoporosis.
4. Manakah dari pernyataan berikut ini yang benar?
Jawab : c. Ovarium berhenti mengeluarkan estrogen setelah
menopause.
5.6.6 Post-Lab quiz Activity 3
1. Suntikan salin digunakan dalam percobaan ini untuk mengukur efek
Jawab : c. plasebo pada kepadatan tulang.
2. Pada tikus yang diovariektomi yang digunakan dalam percobaan ini
Jawab : d. osteoporosis terbukti sebelum suntikan estrogen.
3. Injeksi kalsitonin ke dalam kehendak tikus yang diovariektomi
Jawab : b. menghambat aktivitas osteoklas dan merangsang ambilan
kalsium dan deposisi pada tulang panjang.
4. Saat kepadatan tulang tikus meningkat
Jawab : a. Tes pemindaian X-ray melaporkan T-score yang kurang
negatif.

5.6.7 Pre-Lab quiz Activity 4


1. Kortisol
Jawab : d. adalah hormon penting dalam respons tubuh terhadap stres.
2. ACTH
Jawab : d. adalah hormon tropik yang merangsang pelepasan kortisol.
3. CRH
Jawab : b. memiliki efek tropik pada kelenjar pituitari anterior.
4. Sindrom Cushing mengacu pada
Jawab : c. hiperkortisolisme, yang bisa menjadi iatrogenik.
5. Kondisi hipokortisolisme
Jawab : d. mengacu pada kadar kortisol yang rendah dalam darah.

5.6.8 Post-Lab quiz Activity 4


1. Dalam kondisi normal, jika jumlah CRH yang disekresikan meningkat,
maka
Jawab : c. jumlah ACTH yang disekresikan akan meningkat.
2. Dalam kondisi normal, jika jumlah ACTH yang disekresikan
meningkat,
maka
Jawab : d. jumlah CRH yang disekresikan kemungkinan akan
berkurang.
3. Dalam kondisi normal, jika jumlah kortisol yang disekresikan
meningkat, maka
Jawab : b. jumlah ACTH yang disekresikan kemungkinan akan
berkurang.
4. Jika tumor hipofisis hipersekresi berkembang, maka hasil yang
diharapkan adalah
Jawab : a. diagnosis penyakit Cushing.
5. Jika tumor korteks adrenal hypersecreting berkembang, maka hasil
yag
diharapkan adalah
Jawab : b. tingkat CRH yang abnormal rendah karena umpan balik
negatif.
6. Bagan pasien daftar diagnosis penyakit Addison. Karena itu, Anda
harapkan
Jawab : b. tingkat ACTH yang sangat tinggi.
BAB 6
KESIMPULAN

1. Sistem endoktrin adalah system yang berfungsi untuk memproduksi hormone


yang mengatur aktifitas tubuh serta berperan penting dalam mempertahankan
hemeostatis.
2. TRH Dari hipotalamus menstimulasi hipotisis anterior untuk menghasilkan
TSH yang kemudian menstimulasi tiroid yang menghasilkan tiroksin.
3. Jika kadar TSH terlalu tinggi maka kelenjar tiroid besar.
4. Insulin adalah hormon yang di produksi oleh sel beta pada bagian pangkreas
dan sangat penting untuk mengatur kadar gula darah.
5. FSH merangsang pertumbuhan folikel ovarium yang memproduksi hormon
esterogen setelah masa menopause.
BAB 7

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.
GOLONGAN PRAKTIKUM W

HARI : KAMIS

JAM PRAKTIKUM : 10.30 – 12.30 WIB

KELOMPOK 4

PENANGGUNG JAWAB LAPORAN : NUR DHITA FATMAWATI

1. CATHARINA EMILIA U. L NRP 2443018232


2. NUR DHITA FATMAWATI NRP 2443018242
3. GLORIA SILVIA JAMLEAN NRP 2443018246
4. NIDA SHABIRAH WADINI NRP 2443018347