Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

GANGGUAN GASTROINTESTINAL PADA LANSIA

Oleh:
Vitro Septrian
Ignasius Hans
Roberto Alexi
Ratu Hendriani
Clara Teny
Intan Wardani Nur Ali
Ayu Saraswati
Dhiya Lathifa

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT GERIATRI


PANTI WERDHA HANA
PERIODE 02 MARET 2020 – 05 APRIL 2020
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia atau lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. 1
Pertambahan jumlah lanjut usia akan menimbulkan berbagai permasalahan kompleks bagi
lansia, meliputi aspek fisik, biologis, mental, maupun sosial ekonomi. Menurut data Susenas
tahun 2012 menjelaskan bahwa angka kesakitan pada lansia tahun 2012 di perkotaan adalah
24,77% artinya dari setiap 100 orang lansia di daerah perkotaan 24 orang mengalami sakit. Di
pedesaan didapatkan 28,62% artinya setiap 100 orang lansia di pedesaan, 28 orang
mengalami sakit.1 Masalah kesehatan terbanyak yang dialami lansia adalah penyakit
degeneratif atau tidak menular yang terjadi akibat gaya hidup yang tidak sehat.

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013), 1,53% lansia di Indonesia mengalami


masalah pada sistem eliminasi (misalnya konstipasi) yang berkaitan dengan gangguan pada
sistem pencernaan. Masalah pada sistem pencernaan yang terjadi pada lansia dapat
diakibatkan oleh perubahan secara fisiologis ataupun patologis. Seiring dengan permasalahan
tersebut, akan mempengaruhi aktivitas fisik dan asupan makanan yang pada akhirnya dapat
berpengaruh terhadap kesejahteraannya. Oleh karena itu dengan mengetahui sistem
pencernaan pada lansia dapat mengetahui kondisi fisiologis dan gambaran patologis sistem
pencernaan pada lansia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perubahan-Perubahan pada Sistem Pencernaan Lansia


Penuaan yang dialami oleh lansia memungkinkan terjadinya fungsi anatomis maupun
fisiologis diberbagai sistem tubuh, salah satunya adalah sistem Gastrointestinal (GI). Sistem
Gastrointestinal (GI) adalah jalur pemasokan nutrisi untuk pertumbuhan dan perbaikan sel
dengan melalui proses ingestion, secretion, mixing and propulsion, digestion, dan absorption
terhadap makanan yang masuk.2
Pada lansia terdapat penurunan indra perasa atau sense of taste khususnya manis dan
asin serta penurunan sense of smell.3 Seseorang dapat merasakan makan dimulut karena
memiliki taste bund dan pada lansia taste bund mengalami penurunan jumlah dan mengalami
atropi.4 Sehingga lansia mengalami perubahan rasa (disgeusia), kemampuan untuk merasakan
menurun (hypogeusia) dan tidak dapat merasakan beberapa rasa (ageusia). Mukosa mulut
juga mengalami perubahan berupa kehilangan elastisitas, atrofi sel epitel, dan suplai darah
berkurang ke jaringan ikat.5 Hal ini menjadi penting karena kehilangan atau penurunan indra
perasa dapat mengakibatkan penurunan nafsu makan dari lansia itu sendiri.
Pada lansia, mulut yang berfungsi mencerna makanan menjadi bolus juga mengalami
perubahan fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut seperti enamel gigi menjadi lebih keras
dan rapuh, dentin menjadi lebih berserabut, dan ruang saraf menjadi pendek dan sempit
menyebabkan gigi menjadi mudah tanggal.5 Tanggalnya gigi disebabkan juga karena
kerusakan jaringan disekitar gigi, dan resorpsi dan deposisi tulang yang terjadi secara
bersamaan.4 Pada lansia juga mengalami penurunan sekresi saliva. Saliva berfungsi
mensekresikan enzim percernaan, mengatur flora mulut, remineralisasi gigi, meningkatkan
nafsu makan, sebagai pelumas jaringan lunak dan membantu mencerna makanan. Namun,
biasanya penurunan sekresi saliva lebih banyak terjadi akibat kondisi patologis dan efek dari
penggunaan obat seperti analgesik dan antikolinergik.5 Di dalam rongga mulut lansia juga
mengalami perubahan neuromuskular yaitu adanya penurunan kemampuan mengunyah dan
menelan yang berkaitan dengan kekuatan otot berkurang dan mengurangi tekanan lidah.5

3
Pada esophagus terdapat gelombang peristaltik yang berfungsi memasukkan makanan ke
dalam lambung. Lansia mengalami penurunan gelombang peristaltik dan adanya peregangan
pada esophagus.5 Selain itu, lansia juga mengalami presbyphagia yaitu melambatnya
menelan atau bahkan disphagia yaitu susah menelan, Lower esophageal sphingter mengalami
penurunan untuk relaksasi sehingga lansia rentan mengalami refluks makanan. Hal ini
menyebabkan risiko tinggi terjadi aspirasi pada lansia yang dapat menyebabkan lansia rentan
mengalami penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia.3,6
Setelah makanan sampai di lambung, makanan akan mengalami pencernaan lebih
kompleks seperti motilitas, sekresi dan digesti. Lambung pada lansia banyak mengalami
perubahan fisiologis berupa penurunan motalitas, volume dan penurunan sekresi bikarbonat
serta mukus lambung.3 Perubahan ini disebabkan karena atropi lambung dan Hypochlorydria
atau ketidakcukupan HCL. Penurunan motilitas lambung menyebabkan makanan menjadi
lama dicerna dilambung sehingga terjadi peningkatan waktu pengosongan lambung dan
lansia menjadi jarang makan.
Di usus halus, makanan telah berbentuk kimus yang siap dicerna menggunakan enzim-
enzim pencernaan dari usus kecil, hati, dan pankreas. Penuaan yang terjadi pada lansia
berpengaruh pada kekuatan otot di usus dalam gerakan peristaltik. Selain itu, mukosa yang
bertugas melicinkan permukaan juga mengalami penurunan jumlah. Perubahan lain yang
terjadi adalah adanya atrofi otot, pengurangan jumlah folikel limfatik, pengurangan berat
usus kecil, serta memendek dan melebarnya vili.5 Perubahan struktur ini memang tidak
berdampak signifikan pada motilitas, permeabilitas, atau waktu pencernaan. Tetapi yang
perlu diwaspadai adalah perubahan ini dapat berdampak pada fungsi sistem imun dan
absorpsi nutrien, seperti folat, kalsium, vitamin B12 dan D.3 Penuaan dapat mengakibatkan
turunnya jumlah enzim laktase. Hal ini mengakibatkan penguraian nutrien makanan pun lebih
lama. Selain itu, lansia juga berpotensi mudah kembung karena lebih mudah mengalami
peningkatan jumlah bakteri. Hal ini memungkinkan adanya sakit perut, perut terlihat besar
karena kembung. Bakteri dapat berbahaya jika berkembang terus-menerus karena akan
mengurangi absorpsi nutrisi tertentu seperti vitamin B12, zat besi, dan kalsium.3
Hati berperan dalam metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, membunuh zat toksik,
dan mensekresi empedu. Hati dan kandung empedu sebagai organ aksesori sistem
Gastrointestinal juga mengalami perubahan seperti hati menjadi lebih kecil, berserat,
terakumulasi lipofuscin (pigmen coklat), dan menurunnya aliran darah.5 Hal ini menyebabkan
makanan yang masuk tidak di metabolisme dengan sempurna untuk menghasilkan ATP untuk
kerja sel tubuh serta zat toksik tidak dibunuh dengan optimal sehingga lansia rentan terhadap
4
penyakit. Kandung empedu mensekresikan empedu setelah dirangsang oleh hati yang
berfungsi untuk mencerna lemak dalam tubuh. Namun semakin bertambahkan usia terjadi
penurunan jumlah sekresi empedu, pelebaran saluran empedu, peningkatan sekresi
cholecystokinin.5 Hal tersebut mengakitbatkan lemak tidak dimetabolisme dengan sempurna,
meningkatnya risiko terjadi batu empedu, dan menurunnya nafsu makan.5
Pankreas memiliki fungsi yang sangat esensial bagi pencernaan. Sebagai kelenjar yang
multifungsi, pankreas banyak memproduksi enzim-enzim yang berperan dalam penetralan
keasaman di kimus, pemecahan lemak, protein, dan karbohidrat di usus halus. Peran yang tak
kalah pentingnya yaitu fungsi pankreas dalam pengaturan gula darah. 5 Pankreas
memproduksi hormon insulin dan glikogen yang berfungsi sebagai pengatur kadar gula
darah.2 Penuaan berpengaruh pada pengurangan berat pankreas, hiperplasia kelenjar, fibrosis,
dan pengurangan kecepatan respon sel B dalam pengaturan glukosa. Perubahan ini tidak
berdampak langsung dalam fungsi pencernaan. Namun yang cukup berbahaya adalah
penurunan kemampuan pengaturan metabolisme glukosa. Hal ini mengakibatkan lebih
rentannya lansia untuk terkena diabetes tipe 2.5 Penambahan umur juga mempengaruhi
sekresi eksokrin dari pankreas yang dapat mengakibatkan menurunnya aliran enzim dan
pengurangan produksi bikarbonat dan enzim.
Setelah semua nutrien di absorpsi di usus halus, kimus akan memasuki usus besar atau
kolon. Pada usus besar terjadilah proses absorpsi air dan elektrolit, serta pembuangan zat sisa
atau sampah metabolisme pencernaan. Proses penuaan pada lansia berpengaruh pada
beberapa hal, seperti pengurangan sekresi mukus, pengurangan elastisitas dinding rektum,
dan pengurangan kemampuan mempersepsikan distensi dinding rektum. Hal ini lah yang
menjadi faktor predisposisi lansia mengalami konstipasi.5

2.2 Perubahan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi pada Lansia


Terdapat sebuah standar untuk menentukan jumlah nutrisi untuk dikonsumsi. Standar
tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi orang dewasa dengan kelompok usia
tertentu (usia 51-70 tahun dan lebih dari 70 tahun) yang dinamakan Dietary Reference
Intakes (DRIs).5 Metode ini cocok digunakan sebagai bagian dari promosi kesehatan karena
di dalamnya terdapat indikator pencegahan penyakit kronik dan sisi positif serta negatif yang
didapat dari mengonsumsi sebuah nutrisi. DRIs berfokus pada variasi, keseimbangan, dan
moderasi dalam memberikan asupan gizi yang memadai. Terdapat Food Guide Pyramid yang
cocok untuk DRIs dalam melengkapi kebutuhan nutrisi lansia.7

5
Tabolski, Patricia A. (2014). Gerontological Nursing 3rd Edition. New Jersey: Pearson.

Gambar di atas merupakan salah satu Food Guide Pyramid yang diberi nama My
Plate for Older Adults.7 Pada gambar tersebut dijelaskan bagaimana komposisi yang sesuai
untuk memenuhi kebutuhan gizi lansia. Umumnya terdapat beberapa jenis nutrisi yang
berubah jumlahnya untuk dapat dikonsumsi oleh lansia, dan juga perlu diperhatikan karena
jika jumlahnya tidak sesuai dapat memberikan masalah bagi lansia itu sendiri misalnya
seperti penyakit pencernaan konstipasi.

Kementerian Kesehatan RI. (2014).

6
Pedoman pemenuhan nutrisi bagi lansia tercangkup dalam “Prinsip Gizi Seimbang”.8
Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 pilar yang merupakan sebuah rangkaian guna
menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor
berat badan secara teratur. Empat pilar tersebut antara lain mengonsumsi makanan beragam,
membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, dan mempertahankan dan
memantau berat badan (BB) normal. Berikut merupakan beberapa jenis nutrisi yang
mengalami perubahan jumlah dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi lansia:
1. Protein
Pada lansia terdapat penurunan jumlah albumin dalam tubuh akibat penurunan massa
tubuh dan jaringan otot. Sehingga diperlukan peningkatan jumlah protein untuk
dikonsumsi sekitar 1-1,2 g/kg protein untuk mengoptimalkan otot dan kesehatan
tulang.5 Sumber protein yang dapat dikonsumsi adalah protein nabati seperti kacang-
kacangan, tahu, dan tempe.
2. Kalori
Pada umumnya lansia mengalami penurunan aktivitas yang menyebabkan penurunan
massa otot. Hal tersebut menyebabkan tingkat metabolisme lansia menurun dan
terjadi penurunan kebutuhan kalori. Jumlah kalori yang sesuai untuk lansia adalah
sekitar 1600 cal. Sumber kalori seperti nasi dan roti.7
3. Serat
Lansia dianjurkan untuk mengonsumsi serat dengan jumlah 10-15 gram, sedangkan
untuk orang dewasa sekitar 25-38 g/hari. Selain itu, lansia juga dianjurkan untuk
mengonsumsi 5 sampai 9 jenis buah dan sayur dengan jumlah minimal 55% dari total
konsumsi kalori. Diet serat ini berfungsi untuk pencegahan dan treatment lansia
dengan obesitas, diabetes, cardiovascular disease, dan kanker kolorektal.5
4. Kalsium
Kalsium berguna untuk menjaga kesehatan mineral tulang dan tingkat kalsium
plasma. Lansia dianjurkan mengonsumsi kalsium dengan jumlah lebih dari 1200
mg/hari. Konsumsi kalsium yang tidak adekuat dapat menyebabkan osteoporosis dan
risiko periodontal disease. Sumber kalsium seperti susu sapi, susu keledai, margarin,
dan yogurt dengan rendah lemak.7
5. Air
Mengonsumsi cairan sangat penting bagi tubuh untuk pengaturan regulasi dan
membantu dalam proses metabolisme. Lansia mudah mengalami dehidrasi akibat rasa
haus yang mudah muncul, respon hormon yang berubah, dan penurunan total air
7
tubuh. Jumlah cairan yang dianjurkan untuk lansia perempuan sekitar 2,7 L atau 9
gelas dan 3,7 L atau 13 gelas untuk laki-laki.7 Biasanya 80% total air berasal dari oral
intake, sedangkan 20% berasal dari makanan.9
6. Lemak
Lemak berfungsi untuk pengaturan regulasi dan sebagai cadangan energi bagi tubuh.
Namun, karena lemak memiliki banyak dampak buruk seperti hyperlipidemia, jumlah
yang dianjurkan untuk lansia sekitar 10%-30% dari intake kalori per hari. 5 Sumber
lemak nabati lebih baik daripada hewani, misalnya alpukat.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Sistem Pencernaan Pada Lanjut Usia
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sistem pencernaan pada lansia antara lain:
1. Kesehatan Oral
Komponen gigi pada lansia lebih keras dan mudah rapuh, serta ruang saraf
yang lebih pendek dan sempit menyebabkan penurunan sensitivitas terhadap
rangsangan yang dapat mengganggu proses mengunyah.5 Penurunan produksi saliva
berkurang sehingga mulut kering atau disebut juga dengan xerostomia, saliva
berfungsi sebagai peningkat nafsu makan. 10 Kemampuan untuk merasakan makanan
berada pada permukaan lidah. Kemampuan untuk mendeteksi rasa manis tetap sama,
namun rasa asin, asam, dan pahit menurun. Kesulitan untuk merasakan makanan
dipengaruhi juga oleh sensitivitas olfactory dan sekresi saliva.3
2. Masalah fungsional
Masalah fungsional seperti mobilitas atau gangguan pengelihatan dapat
berdampak pada kemampuan untuk mendapatkan dan menyiapkan makanan. Disfagia
mempengaruhi proses mengunyah, menelan, dan pemenuhan nutrisi.5
3. Obat-obatan
Konsumsi obat-obatan dapat memberikan efek samping terhadap pencernaan,
pola makan, dan pemanfaatan nutrisi. Contohnya seperti antibiotik spektrum luas
dapat mempengaruhi flora usus dan sintesis nutrisi.5
4. Kebiasaan atau gaya hidup
Kebiasaan merokok atau minum alkohol dapat mempengaruhi fungsi sistem
pencernaan pada lansia. Merokok dapat menggangu sistem sensori pembau dan
perasa, dan mempengaruhi kemampuan mengabsorbsi vitamin C dan asam folat.
Kebiasaan minum alkohol menggangu penyerapan vitamin B-kompleks dan vitamin
C.5

8
5. Faktor psikososial
Perubahan jadwal makan dan partisipasi pasangan dapat mempengaruhi nafsu
makan. Lansia akan sulit untuk menyiapkan makanan sehari-hari untuk keluarga dan
pasangannya setelah kehilangan pasangan atau salah satu anggota keluarga.5
6. Masalah Kongnitif
Dementia dapat mempengaruhi kemampuan lansia untuk menyiapkan
makanan, mengingat waktu makan, mengunyah dan menelan makanan.5 Keadaan ini
dapat menyebabkan kehilangan berat badan dan ketidakadekuatan nutrisi.3
7. Faktor budaya, lingkungan, dan sosio-ekonomi
Latar belakang budaya, etnis, agama, dan sosial ekonomi mempengaruhi cara
dalam memilih, menyiapkan makanan. Lansia dengan kondisi medis tertentu
memerlukan nutrisi yang spesifik, bila kelompok tidak memenuhi kebutuhan lansia
dengan tepat maka dapat memperburuk kondisi dan menghambat penyembuhan.
Lansia yang berasal dari sosial ekonomi rendah biasanya memiliki kendala dalam
pemenuhan nutrisi.5
8. Penyakit kronis
Penyakit kronis dapat mempengaruhi kemampuan lansia untuk berbelanja,
memasak, dan makan secara mandiri. Penyakit Parkinson dan Arthritis dapat
menggangu kemampuan makan, kanker juga dapat mengganggu nafsu makan dan
kemampuan untuk mengkonsumsi nutrisi yang memadai.3

2.4 Masalah Patologis pada Sistem Gastrointestinal Lansia


Seperti yang sudah dipelajari sebelumnya, kita tahu bahwa lansia mengalami berbagai
macam perubahan baik dari segi psikososial maupun fisik. Perubahan fisik itu sendiri terdiri
dari berbagai sistem mulai dari sistem kardiovaskuler, respirasi, integumen, termoregulasi,
khususnya pencernaan atau gastrointestinal. Perubahan-perubahan pada sistem tubuh tersebut
juga dapat menimbulkan gangguan patologis jika tidak ditangani dengan baik. Gangguan-
gangguan tersebut salah satunya meliputi GERD atau gastroesophageal reflux disease,
kolelitiasis, konstipasi, dan malnutrisi.

1. GERD

Dimulai dari organ pencernaan atas yaitu esophagus. GERD adalah salah satu keluhan
pada esophagus yang sering terjadi pada lansia. 11 GERD adalah refluks atau kembalinya isi

9
lambung ke dalam esophagus.7 Angka kejadian GERD pada lansia kurang lebih sebesar
20%.11 GERD disebabkan olehrelaksasi sphincter esophagus sementara yang tidak
seharusnya dan akhirnya menyebabkan asam naik kembali ke esophagus). 11 Gejala GERD
adalah heartburn, indigesti, sendawa, cegukan, dan regurgitasi isi lambung ke dalam mulut. 7
Dampak psikososial dari GERD adalah lansia dapat merasa takut untuk makan atau datan ke
acarasocial karena stress dan makanan tertentu dapat memicu gejala. 7 Komplikasi dari GERD
yang tidak ditangani adalah esophagitis, perdarahan, dan penyempitan bentuk. 7 Lansia lebih
berisiko terhadap komplikasi GERD karena paparan asam esophagus yang berkepanjangan
selama bertahun-tahun ditambah frekuensi hiatal hernia yang lebih tinggi dan penggunaan
obat yang berdampak pada penurunan fungsi sphincter serta meningkatkan keparahan GERD
pada lansia.7 Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah gaya hidup
yaitu melakukan elevasi tempat tidur, minum air putih yang banyak, serta kurangi makanan
yang menyebabkan peningkatan asam seperti cokelat, bawang putih, bawang Bombay, tomat,
dan cuka. Medikasi yang dapat diberikan adalah proton pump inhibitor dan histamine 2
agonist yang dapat menekan produksi asam.7

1. Kolelitiasis

Gangguan yang sering terjadi pada kantung empedu yaitu kolelitiasis atau pembentukan
batu empedu karena perubahan fisiologi dengan penuaan termasuk penurunan produksi asam
empedu, peningkatan saturasi kolesterol empedu, berkurangnya kontraksi kantung empedu,
dan penurunan respon pada kolesistokinin. 11 Angka kejadian kolelitiasis pada lansia sejumlah
14% - 27%.11 Gejala yang dapat dirasakan adalah nyeri akut pada kuadran atas atau
epigastrik.11 Nyeri dapat menjalar ke tulang belikat sehingga menyebabkan mual dan muntah,
namun seringnya penderita kolelitiasis tidak menunjukkan gejala. Komplikasi yang dapat
terjadi pada lansia adalah akut kolesistitis, kolangitis asenden, atau kerusakan jaundice.
Pemeriksaan diagnostik yang biasanya dilakukan adalah ultrasound. CT scan abdomen dapat
dilakukan jika batu empedu yang umum atau obstruksi saluran empedu diduga ada.
Penatalaksanaan untuk kolelitiasis yang menunjukkan gejala adalah laparoskopi
koleksistektomi.11

2. Konstipasi

Konstipasi merupakan penurunan frekuensi defekasi yang normal pada klien, diikuti
dengan kesulitan evakuasi feses yang keras dan kering, serta sensasi tidak lampias yang klien
rasakan. Angka kejadian konstipasi meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih sering

10
ditemukan pada pria.12 Pada sebuah penelitian ditemukan 26% wanita dan 16% lansia usia
65-83 tahun mengatakan bahwa mereka mengalami konstipasi.12 Penyebab dari konstipasi
pada lansia yaitu gangguan fungsional, kondisi patologis, efek pengobatan yang tidak
diinginkan, dan kebiasaan diet yang buruk.5 Gejalanya adalah frekuensi defekasi dari semula
3x sehari jd 1-2x per minggu serta rasa tidak lampias saat defekasi. 5 Angka kekambuhan
konstipasi yang tinggi tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas hidup, tetapi juga dapat
menyebabkan komplikasi seperti impaksi fekal.12 Penatalaksanaan yang dapat dilakukan ada
secara farmakologi dan non farmakologi. Penatalaksanaan farmakologi yang biasa dilakukan
adalah dengan memberikan obat-obatan laksatif. Selain itu, penatalaksanaan non farmakologi
juga dapat dilakukan dengan memberikan suplemen serat, hidrasi adekuat, serta peningkatan
mobilitas.5

3. Malnutrisi

Selain ketiga masalah diatas yang terjadi pada organ gastrointestinal tertentu, terdapat
pula masalah yang sering terjadi pada lansia terkait sistem gastrointestinal yaitu malnutrisi.
Malnutrisi pada lansia terbagi menjadi dua yaitu undernutrition dan overnutrition. Pada
populasi lansia, malnutrisi paling banyak terjadi yaitu kekurangan gizi karena faktor risiko
yang dapat mempengaruhi sistem pencernaan, pola makan dan pemasukan nutrisi.5
undernutrition merupakan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan lansia untuk perbaikan
jaringan.7 Kondisi malnutrisi yang lain adalah overnutrition yang identik dengan kejadian
obesitas. Depresi sering menjadi penyebab umum kehilangan berat badan. Malnutrisi dapat
berdampak serius seperti infeksi, peptik ulser, anemia, hipotensi, gangguan kognitif, dan
peningkatan mortalitas serta morbiditas.13 Protein-energy malnutrition (PEM) adalah bentuk
malnutrisi yang paling sering terjadi pada lansia. PEM dikarakteristikkan dengan adanya
tanda-tanda klinis (lemah otot dan BMI rendah) dan indikator biochemical (albumin,
kolesterol, atau perubahan protein lainnya). Skrining dan pengkajian nutrisi komprehensif
sangat penting untuk mengidentifikasi lansia mengalami malnutrisi.13

2.5 Pengkajian Sistem Pencernaan pada Lansia


Pengkajian adalah suatu pengumpulan informasi pasien secara sengaja dan sistematis
untuk menentukan status kesehatan, fungsional, dan pola koping pasien tersebut saat ini dan
di masa lalu. Informasi dapat berasal dari laporan, anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik,
rekam medik, dan dari literatur ilmiah yang berhubungan dengan keluhan pasien, kemudian

11
dianalisis dan dikategorikan berdasarkan sistem tubuh untuk menentukan masalah apa yang
terjadi, dimana, dan mengapa.14
Pengkajian pada lansia perlu disertai pertimbangan khusus, seperti ruangan yang cukup
hangat dan dengan pencahayaan yang cukup, jauh dari distraksi, posisi pemeriksa harus
berhadapan dengan lansia, serta kursi dan meja yang empuk dan dengan tinggi yang tepat.
Lansia memerlukan lebih banyak waktu untuk menjelaskan dan terkadang dapat berbicara di
luar topik, karena itu perawat perlu memberikan waktu yang cukup untuk mendengarkan
lansia secara aktif dan dapat mengembalikan pembicaraan ke topik semula tanpa membuat
lansia tersinggung atau merasa terancam.

2.5.1 Anamnesis Sistem Pencernaan pada Lansia


Anamnesis terkait sistem pencernaan pada lansia mencakup pola makan dan asupan
nutrisi sehari-hari, perilaku yang mempengaruhi kesehatan mulut, perubahan yang
mempengaruhi kebutuhan gizi atau proses pencernaan, faktor-faktor yang mempengaruhi
asupan makanan, serta tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya masalah pada sistem
pencernaan. Anamnesis pola makan dan asupan nutrisi lansia sehari-hari dapat dilakukan
dengan penggambaran langsung asupan sehari-hari lansia oleh lansia tersebut dan keluarga,
seperti food record dan food recall.5 Setelah itu, perawat dapat melanjutkan pertanyaan pada
daftar berikut.

Tabel 2.1 Tabel Daftar Pertanyaan Pengkajian terkait Sistem Pencernaan Lansia

Komponen yang Dikaji Pertanyaan

Kenyamanan oral dan · Apakah Anda memiliki kesulitan yang disertai rasa
kemampuan mengunyah sakit atau pendarahan di mulut?
· Apakah Anda memiliki gigi yang sakit, longgar, atau
sensitif terhadap suhu panas atau dingin?
· Apakah gusi Anda berdarah?
· Apakah Anda memiliki masalah mengunyah atau
menelan makanan atau cairan? Jika iya, apa jenis
makanan atau cairan yang menyebabkan masalah?
· Apakah ada makanan yang Anda hindari karena
masalah mengunyah atau menelan?
· Apakah mulut atau lidah Anda terasa kering?

12
Kebiasaan dan sikap · Seberapa sering Anda ke dokter gigi?
terhadap perawatan gigi · Kapan terakhir kali Anda ke dokter gigi?
· Dokter gigi mana yang anda kunjungi untuk
perawatan gigi?
· Jika orang tersebut tidak ke dokter gigi minimal
setahun sekali: Apa yang mencegah Andapergi ke
dokter gigi?
· Bagaimana Anda melakukan perawatan gigi?
· Apakah Anda menggunakan dental floss?
̶ Jika iya: seberapa sering?
̶ Jika tidak: apakah Anda pernah diajarkan untuk
menggunakan dental floss?

Kebutuhan nutrisi · Apakah Anda memiliki diabetes, penyakit jantung,


atau kondisi lain yang memerlukan modifikasi diet?
· Apakah Anda memiliki alergi makanan?
· Medikasi apa yang Anda konsumsi?
· Apa pola aktivitas harian Anda biasanya?

Pola memperoleh · Bagaimana Andamelalukan belanja bahan makanan?


makanan · Apakah Anda memiliki bantuan untuk pergi ke toko
bahan makanan?
· Dimana dan seberapa sering Anda berbelanja bahan
makanan?
· Berapa anggaran makanan Anda biasanya?
· Apakah Anda memiliki kesulitan mendapatkan
makanan karena masalah penglihatan, berjalan, atau
transportasi?

13
Pola penyiapan dan · Di mana Anda memakan makanan Anda?
konsumsi makanan · Dengan siapa Anda makan?
· Apakah Anda memakai gigi palsu saat makan? Jika
tidak, mengapa tidak?
· Apakah ada makanan atau minuman selingan di
antara pola makan Anda?
· Apakah minuman nonkafein yang nikmat tersedia
untuk konsumsi selingan?
· Apakah ada yang membantu Anda menyiapkan
makanan Anda?
· Apakah Anda mengalami kesulitan dalam
menyiapkan makanan Anda (mis. kesulitan
membuka wadah)?
· Apakah Anda memiliki kesulitan dalam berkeliling
dapur Anda, menggunakan peralatan, atau mencapai
lemari?
· Apakah ada perubahan pola makan dan penyiapan
makanan Anda yang baru-baru ini terjadi (mis.
kehilangan teman makan atau perubahan situasi
pengasuh)?
· Adakah budaya yang mempengaruhi preferensi dan
persiapan makanan Anda?

Lingkungan saat makan · Apakah Anda lebih menikmati makan bersama orang
lain atau tanpa kehadiran orang lain?
· Apakah kondisi lingkungan atau sosial tertentu
mempengaruhi secara negatif kenikmatan Anda saat
makan (mis. ruang makan yang bising atau teman
makan yang mengganggu)?

Pola eliminasi fekal · Seberapa sering Anda buang air besar?


· Pernahkah Anda melihat adanya perubahan pola
BAB Anda baru-baru ini?
· Apakah Anda mengalami kesulitan dengan buang air
besar? (mis. apakah Anda mengejan saat BAB? atau
apakah tinja keras, kering, atau sulit dikeluarkan?)
· Apakah Anda pernah mengalami tinja longgar atau
diare?
· Apakah Anda mengkonsumsi obat pencahar atau
produk lain untuk membantu Anda BAB?
· Apakah Anda pernah merasa sakit atau berdarah saat
BAB?

Daftar tersebut berisikan rincian pertanyaan mengenai sistem pencernaan pada lansia

14
yangdimulai dari pertanyaan seputar kondisi rongga mulut hingga tentang eliminasi fekal.

2.5.2 Pemeriksaan Fisik terkait Sistem Pencernaan pada Lansia


Pemeriksaan fisik pada lansia yang berkaitan dengan sistem percernaan dapat memakai
pemeriksaan IAPP (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi). Inspeksi dilakukan dengan
memperhatikan dan membau saat berinteraksi dengan pasien dan mencakup pengamatan
ekspresi nonverbal dari status emosi dan mental. Palpasi menggunakan teknik menyentuh
atau menekan secara halus. Perkusi melibatkan penyentuhan kulit dengan ujung jari untuk
membentuk getaran dan menghasilkan karakter suara pada jaringan di bawahnya. Auskultasi
melibatkan teknik mendengarkan suara pada tubuh dengan dan tanpa menggunakan alat
bantu (mis. stetoskop).14 Rincian pemeriksaan fisik terkait sistem pencernaan pada lansia
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.2 Rincian Pemeriksaan Fisik Terkait Sistem Pencernaan Lansia

Jenis
Organ Hasil Normal Hasil Abnormal
Pemeriksaan

Inspeksi Rambut Bersih, tebal, lebat Kusam, tipis, atau jarang


menunjukkan malnutrisi

Mata Segar, tidak kering, tidak Kering atau kusam


kusam menunjukkan malnutrisi

Kulit Tidak ada ruam dan jamur Terdapat ruam dan jamur pada
pada lipatan lipatan menunjukkan adanya
bakteri

15
Rongga mulut · Bibir: pink, lembab, · Bibir: kering, retak, pecah
simetris di sudut menunjukkan
· Gigi: utuh, tanpa lubang kurangnya konsumsi cairan
atau karang gigi · Gigi: busuk atau hilang
· Gusi: pink, tidak berdarah mengindikasikan
periodontal, infeksi gigi,
· Membran mukosa: merah atau retensi partikel
muda, lembab makanan pada gigi
· Lidah: pink, lembab, · Gusi: merah, bengkak,
adanya banyak urat pada tersembunyi, kenyal atau
permukaan bawah rawan berdarah
menunjukkan adanya
peradangan pada gusi
· Membran mukosa: kering,
ulserasi, radang,
perdarahan, bercak putih
menandakan adanya
peradangan yang dapat
berasal dari infeksi jamur
· Lidah: kering, bengkak,
memerah, atau sangat halus
menandakan adanya
peradangan

Abdomen dan · Abdomen: simetris, tidak · Abdomen: membengkak


rectum ada lesi dan bergerak dan tidak simetris dapat
mengikuti respirasi menunjukkan adanya asites,
· Rektum: kulit di sekitar adanya lesi menunjukkan
halus; tidak ada wasir, terjadi infeksi
fisura, radang, atau · Rektum: terdapat wasir,
prolaps fisura, radang, atau prolaps
· Feses: lunak, berwarna menandakan adanya
coklat, dan negatif pada obstruksi pada rektum
uji keberadaan darah · Feses: keras menunjukkan
kekurangan cairan,
konstipasi, atau impaksi
fekal, dan positif pada uji
keberadaan darah
menunjukkan kanker kolon
atau rectal

Ekstremitas Tidak ada edema Edema mengindikasikan


malnutrisi

Otot Ukuran dan kekuatan tetap Ukuran dan kekuatan


berkurang menunjukkan

16
malnutrisi

Auskultasi Abdomen · Bising usus: terdengar · Bising usus: tidak terdengar


pada interval tidak teratur menunjukkan obstruksi
(5-15 detik), penurunan usus, konstipasi,
bising usus biasa terjadi pneumonia, atau radang
pada lansia akibat adanya usus buntu
penurunan motilitas · Bising usus: cepat
lambung mengindikasikan diare
· Tidak ada friction rubs · Frictionrubs
mengindikasikan tumor
hepatik atau infark limfa

Palpasi Rambut Lembab dan kuat Kering dan rapuh


mengindikasikan kekurangan
nutrisi

Kulit Halus, lemak subkutan Kasar, jaringan tipis


kurang mengindikasikan kekurangan
nutrisi

Leher Tidak ada pembesaran Pembesaran kelenjar getah


kelenjar getah bening bening di fosa supraklavikula
kiri menandakan adanya
karsinoma gastrointestinal
metastatik.

17
Abdomen · Kulit lembut · Dinding abdomen aku
· Tidak ada nyeri mengindikasikan obstruksi
usus atau iritasi peritoneal
· Tidak teraba masa
· Nyeri di kuadran kanan
· Prosesus xifoideus tidak bawah menunjukkan radang
lunak usus buntu
· Tidak ada pembesaran hati · Nyeri di kuadran kiri bawah
· Shifting dullness tidak menunjukkan divertikulitis
bergelombang · Teraba massa dapat
mengindikasikan
divertikulitis, konstipasi,
impaksi fekal, trombosis
mesenterika, atau kanker
· Prosesus xifoideus yang
lunak mengindikasikan
sakit perut, hernia hiatal,
atau nyeri dari aorta
· Adanya pembesaran hati
menunjukkan inkontinensia
urin atau retensi urin dari
hipertrofi prostat
· Shifting dullness jika
terdapat gelombang
menunjukkan asites

Perkusi Abdomen · Timpani pada sebagian · Suara hipertimpani dapat


besar abdomen menunjukkan gas pada
· Sonor pada kandung abdomen atau adanya
kemih obstruksi usus
· Suara dullness pada
sebagian besar abdomen
menunjukkan asites
· Suara dullness pada
kandung kemih menujukkan
adanya distensi kandung
kemih yang berhubungan
dengan inkontinensia urin
atau retensi urin dari
hipertrofi prostat

sumber tabel: Miller, 2012; Anderson, 2007; Gallo, et al., 2006

18
2.5.3Pemeriksaan Diagnostik terkait Sistem Pencernaan pada Lansia
Tes diagnostik juga digunakan untuk melengkapi keakuratan screening yang
dilakukan. Selain itu tes diagnostic dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih
jelas terkait kondisi tubuh lansia. Berikut ini merupakan beberapa tes diagnostic terkait
pemeriksaan gastrointestinal pada lansia.

◻ Endoskopi
Endoskopi merupakan cara untuk melihat visual secara langsung pada sistem
gastrointestinal dengan meggunanakan sebuah selang yang bersifat fleksibel dengan
kamera kecil. Pada lansia endoskopi memiliki beberapa pertimbangan. Pemberian
sedasi untuk endoskopi pada lansia dapat memberikan beberapa efek yaitu hipotensi,
hipoksia, aritmia, dan aspirasi ketika dilakukan prosedur. 15 Hal tersebut dapat
menimbulkan efek yang buruk untuk lansia tersebut. Untuk itu lansia perlu diberikan
sedasi dalam jumlah dosis yang rendah untuk mencegah terjadinya kondisi tersebut.
Terdapat beberapa jenis endoskopi, namun dari beberapa jenis tersebut, rata-rata
komplikasi prosedur kolonoskopi meningkat seiring dengan meningkatnya usia
khususnya komplikasi perfosrasi.15
◻ X-Ray

X-ray merupakan prosedur diagnostic dengan menggunakan x-ray untuk


mendapatkan gambaran kondisi organ abdomen. X-ray digunakan untuk
mengidentifikasi tumor, obstruksi, iskemi usus, kalsifikasi pankreas, penumpukan gas
abnormal (yang menandakan obstruksi usus), dan penyempitan.

◻ MRI/CT-scan

CT-Scan dilakukan untuk mendapatkan gambaran tubuh dan organnya secara


horizontal. CT-Scan digunakan untuk mengkaji divertikulitis akut dan pembentukan
abses, mendiagnosis kanker kolorektal dan stadium tumor rektal.

19
2.5.4 Pemeriksaan Laboratorium terkait Sistem Pencernaan pada Lansia
◻ Tes laboratium
1. Urinalisis
Urinalisis dilakukan untuk dapat
menunjukkan status hidrasi
lansia. Lansia dinyatakan
mengalami dehidrasi jiika
konsentrasi urin tinggi (specific
gravity mencapai diatas 1.030).5
2. Pengecekan nilai darah.
Sumber: Miller, 2012
Nilai darah ini berfungsi untuk melihat
status nutrisi, namun selain itu juga dapat menunjukkan status hidrasi lansia dari
sodium, hematokrit, hemoglobin, kreatinin, osmolalitas, dan nitrogen urea darah.
Semua nilai tersebut jika mengalami peningkatan berarti menunjukkan lansia dalam
kondisi dehidrasi.
Berikut ini merupakan gambar terkait indikator yang digunakan untuk status nutrisi
normal.5

Hasil Tes Laboratorium


Indikator Nilai Normal
Kolesterol < 200mg/dL
HDL Perempuan  35-85mg/dL; Laki-laki  35-65
LDL mg/dL
Glukosa Puasa < 130mg/dL
Kalium 60-110 mg/dL
Natrium 3,5-5,0 mEq/dL
135-145 mEq/dL

Penanda Nutrisi (Foreman, Millisen, & Fulmer, 2010)


Serum Albumin 3,5 -5,4 g/dL
Prealbumin 15-35 mg/dL
Transferin >200mg/dL
Total Lymphocyte >1500mm3
Penanda Hidrasi (Foreman, Millisen, & Fulmer, 2010)

20
BUN/Rasio < 20
Creatinin
Serum Osmolaritas 280-300mmol/kg
Berat jenis urin 1,005 -1,030
Volume Urin >1200 cc/day atau 50 cc/jam

2.6 Perhitungan Indeks Massa Tubuh pada Lansia


Selain itu, status nutrisi dan cairan pada lansia dapat dikaji dengan menggunakan
perhitungan indeks massa tubuh (IMT). Perhitungan IMT dapat menunjukkan kategori berat
badan saat ini dan berat badan yang ideal dengan menggunakan data berat badan dan tinggi
badan.5
Untuk menentukan kategori IMT lansia, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.3 Kategori IMT pada Pasien Lansia

Kategori Besar IMT (kg/m2)


Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4
Normal Berat badan cukup 18,5 – 25,0
Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 – 27,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0
(Sumber: Depkes, 2011)

Pada tabel tersebut dapat dilihat angka acuan pada kategori kurus, normal, dan gemuk.
Lansia dengan IMT di bawah 18,5 kg/m2 kemungkinan mengalami kekurangan gizi dan IMT
di atas 25,0 kg/m2 kemungkinan mengalami kelebihan gizi. Lansia yang dengan IMT pada
kategori kelebihan berat badan memiliki risiko tinggi terhadap kematian akibat kelebihan
berat badan dan risiko akan menurun setelah berusia 65 tahun hingga sedikit atau tidak ada
hubungan sama sekali antara IMT dan kematian setelah berusia 75 tahun.7

2.7 Mini Nutritional Assessment pada Lansia


The Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan alat yang sering digunakan untuk
mengkaji status nutrisi lansia karena dapat dilakukan secara cepat dan mudah. Penilaian
MNA terdiri dari 2 bagian yaitu 6 skrining dan 12 pertanyaan dan sekitar 15 menit untuk

Sumber: DiMAria-Ghalili & Amella, 2012 21


dapat menyelesaikannya.5 Pada bagian pertama pada MNA ialah enam pertanyaan awal yang
disebut sebagai fase skrining meliputi perubahan dalam mengkonsumi makanan, penurunan
berat badan, penurunan mobilitas, kehadiran stress psikologis dan penyakit akut, kehadiran
masalah neuropsikologi dan IMT. Pada fase ini, akan diketahui mengenai lansia mempunyai
status nutrisi yang baik atau kemungkinan malnutrisi. Jika hasil yang didapatkan
menunjukkan berisiko dan atau malnutrisi, evaluasi lebih lanjut harus dilakukan dengan
mengajukan 12 pertanyaan.5

Pada bagian kedua MNA ialah melakukan pengkajian yang meliputi tempat tinggal
lansia, jumlah obat-obatan yang dikonsumsi, cedera luka (ulkus decubitus), apakah kebiasaan
makan mandiri, persepsi mengenai kesehatan mereka, dan pengukuran lingkar lengan atas
(LLA) dan pengukuran lingkar betis. Setelah kedua belas pertanyaan sudah selesai diajukan,
skor yang sudah didapat dijumlahkan. Langkah terakhir ialah menjumlahkan hasil dari skor
skrining dan skor pengkajian untuk menentukan status gizi lansia yang meliputi nutrisi baik,
berisiko malnutrisi, dan malnutrisi.5

22
23
24
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perubahan fisiologis pada lansia yang berupa penuaan pada tiap sistem tubuh,
termasuk sistem Gastrointestinal (GI), baik dari segi fungsi anatomis maupun fisiologis
adalah hal yang normal.Sistem Gastrointestinal (GI) sendiri adalah suatu jalur pemasokan
nutrisi untuk menunjang pertumbuhan dan perbaikan sel melalui proses ingestion, secretion,
mixing and propulsion, digestion, dan absorption.2 Untuk menyesuaikan dengan perubahan
fisiologis tersebut, lansia perlu memodifikasi pemenuhan nutrisi agar terhindar dari berbagai
penyakit-penyakit terkait GI yang mungkin timbul.5
Pengkajian terkait sistem GI lansia perlu dilakukan untuk mengetahui masalah
mungkin timbul pada sistem tubuh tersebut. Pengkajian pada lansia perlu diiringi dengan
pertimbangan khusus agar informasi dapat terkumpul secara maksimal. Pengkajian terkait
sistem GI lansia dapat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan diagnostik, serta melalui beberapa indikator untuk menentukan status
nutrisi lansia seperti perhitungan indeks massa tubuh (IMT) dan Mini Nutritional Assessment
(MNA).

3.2 Saran
Perawat perlu mengetahui perubahan pada sistem tubuh lansia serta faktor-faktor yang
mempengaruhi, termasuk sistem GI yang normal dan tidak normal. Perawat juga perlu
mengetahui pengkajian yang harus dilakukan terkait sistem GI lansia serta teknik pengkajian
yang dilakukan agar terciptanya BHSP yang dapat mendukung keterbukaan lansia pada
perawat akan hal-hal yang dirasakan. Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui masalah-
masalah yang mungkin timbul dan segera bertindak sebelum masalah tersebut semakin parah
dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

25
Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan RI. (2017). Analisa Lansia di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan
Informasi.

2. Derrickson & Tortora. (2015). Principle of Anatomy & Phisiology 13th Ed. US : John
Wiley & Sons, Inc
3. Ebersole, P., Hess, P., Touhy, T., & Jett, K. (2014) Gerontological nursing & health
aging. St. Louis, Missouri: Mosby, Inc
4. Meiner, S. E., & Lueckenotte, A. G. (2006). Gerontologic nursing. Philadelphia: Mosby
5. Miller, C.A. (2012). Nursing for Wellness in Older Adults: Theory and Practice (6th Ed.).
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkin.
6. Mitty, R. D. (2008). Gastrointestinal physiology (2nd Ed.). New York: Springer
Publishing Company.

7. Tabolski, Patricia A. (2014). Gerontological Nursing 3rd Edition. New Jersey: Pearson.
8. Kementerian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Gizi Seimbang.

9. Buyckx, M. E. (2009). Hydration and human health: Critical issues update. Nutrition
Today, 44(1), 6–7.
10. Kozier, B. B. (2008). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice 8th
Edition. USA: Pearson Education, Inc.

11. Reichel, W., Christine A., Jan B., Kenneth B., James G. O., & Mary H. P. (2009).
Reichel’s Care of The Elderly: Clinical Aspects of Aging 6th ed. UK: Cambridge
University.
12. Orozco, J. F. G., Amy E. F., Susan M. S., & Jean M. S. (2012). Chronic Constipation in
The Elderly. The American Journal of Gastroenterology /Volume 107.

13. Touhy, T.A., & Jett, K.F. (2014). Ebersole and Hess’ Gerontological Nursing & Healthy
Aging (4th Ed.). St Louis: Mosby Inc.
14. Potter, P.A. & Perry, A.G. (2013). Fundamentals of Nursing (8th Ed.). St Louis: Elsevier
Mosby.

26
15. Travis A.C., Pievsky D., & Saltzman J.R. (2012). Endoscopy in The Elderly. The
American Journal of Gastroenterology, 107, 1495-1501.

27