Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PARASITOLOGI

“CACING TAENIA SOLIUM”

DOSEN PENGAJAR :

Dr. Dra. Tjipto Rini, M Kes /Tjipto

DISUSUN OLEH:

Cindy Fadhilah Muryanto (P21345119017)

1D3A Kesehatan Lingkungan

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II

Jln. Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru Jakarta 12120


Telp. 021.7397641, 7397643 Fax. 021.7397769
E-mail : info@poltekkesjkt2.ac.id
DAFTAR ISI

Daftar isi 1

Bab II Pembahasan 2

2.1 Nama Penyakit Cacing Taenia Solium 2

2.2 Hospes Cacing Taenia Solium 3

2.3 Penyebaran Cacing Taenia Solium 3

2.4 Habitat Cacing Taenia Solium 4

2.5 Diagnosa Cacing Taenia Solium 4

2.6 Gejala Klinis Cacing Taenia Saginata 5

2.7 Cara Infeksi Cacing Taenia Solium 5

2.8 Epidemiologi Cacing Taenia Solium 6

2.9 Cara Pemberantasan Cacing Taenia Solium 7

2.10 Morfologi Cacing Taenia Solium 7

2.11 Siklus Hidup Cacing Taenia Solium 8

2.12 Gambaran Umum Cacing Taenia Solium 9


Daftar Pustaka 10
BAB II PEMBAHSAN

2.1 Nama Penyakit Cacing Taenia Solium

Nama Penyakit :Taeniasis Solium (dewasa, Sistiserkosis (larva)

2.2 Hospes Cacing Taenia Solium

Hospes Definitif : Manusia

Hospes Perantara : Manusia dan hewan Babi

2.3 Penyebaran Cacing Taenia solium

Penyakit ini bersifat kosmopolit ditemukan juga di Negara Indonesia terutamakan


di daerah yang penduduknya non-muslim dan yang terdapat di Negara-negara yang
konsumen babi sepertyi di Negara Amerika Serikat, Kanada, dan di Inggris. (Rosdliana
Safar: 2009).

Penyebaran Taenia solium berhubungan dengan erat dari kebiasaan


menghindarkan makanan, dan berkaitan dengan keagamaan yang berhubungan dengan
daging babi. Penduduknya yang telah menganut agama islam yang mengaramkan
dengan daging babi dapat terhindarkan dari infeksi taeriasis solium ini. Frekuensi
parasite pada daging babi, yang ada beberapa di Negara mencapai 25% adalah paling
tinggi, di tempat-tempat lainnya yang di mana sanitasi buruk, untuk pembuangan tinja
di sembarangan. Karena itu frekuensi taeniasis solium ini terdapat berbeda-beda di
dunia.

Disebabkan oleh Taenia solium (Linneus, 1758), parasit ini yang terdapat
kosmopolit, juga ditemukan di Negara Inodensia (mungkin endemic di Irian Jaya).
Penderit Taeniasis solium ini, terutamakan di dapat nya daerah yang masih banyak

2
makan daging babi, ataupun di daerah lainnya yang terdapat pertenakan hewan babi
dengan sanitasi kurang baik. (Koes Irianto: 2003).

2.4 Habitat Cacing Taenia Solium

Habitat : Usus halus (dewasa), jari subkutis, mata, otak, hati, paru-paru,

otot jatung, organ perut.

2.5 Diagnosa Cacing Taenia Solium

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan ditemukannya cacing di dalam tinja.


Sepotong selotip ditempelkan di sekeliling lubang dubur, lalu dilepas dan ditempelkan
pada sebuah kaca obyek dan diperiksa dibawah mikroskop untuk melihat adanya telur
parasit. Melalui mikroskop memeriksa sample tinja apakah ada telur cacing parasit,
ookista protozoa dan takizoit.

Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan


laboratorium. Anamnesis: penderita pernah mengeluarkan benda pipih berwarna putih
seperti “ampas nangka” bersama tinja atau keluar sendiri dan bergerak-gerak. Benda itu
tiada lain adalah potongan cacing pita (proglotid). Cara keluarnya proglotid Taenia
solium berbeda dengan Taenia saginata. Proglotid Taenia solium biasanya keluar
bersama tinja dalam bentuk rangkaian 5–6 segmen. Sedangkan Taenia saginata,
proglotidnya keluar satu-satu bersama tinja dan bahkan dapat bergerak sendiri secara
aktif hingga keluar secara spontan.
 Dengan menemukan telur dan proglotid
 Dengan sistiserkosis dapat dilakukan dengan:
a. Ekstirpasi benjolan.
b. Radiologi dengan CTscan.
c. Deteksi antibody

Pada infeksi cacing dewasa, telur bisa ditemukan disekeliling dubur atau di
dalam tinja. Proglotid atau kepala cacing harus ditemukan di dalam tinja dan diperiksa
dengan mikroskop untuk membedakannya dari cacing pita lainnya. Kista hidup di
dalam jaringan (misalnya di otak) dan bisa dilihat dengan CT atau MRI. Kadang-

2
kadang kista bisa ditemukan pada pemeriksaan laboratorium dari jaringan yang
diambil dari bintil di kulit. Juga bisa dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap parasit.

2.6 Gejala Klinis Cacing Taenia Solium

Infeksi oleh cacing ini tersebut taeniasis solium atau disebut penayakit cacing pita
pada hewan babi. Cacing dewasa menimbulkan sedikit iritasi mukosa pada tempat
melekatnya ataupun menimbulkan obstruksi usus. Biasanya tanpa gejala klinis, tapi
kadang-kadang bias menimbulkan dari gangguan pada bagian perut berupa perasaan
tidak nyaman yang melalui penyakit diare dan sembelit. Dapat menimbulkan anoreksi
sehingga penderita akan merasakan lemah. Terjadi eosinofili ringan (lebih 13%).
Terjadi migrasi proglotid pada bagian anus.

Cysticercus cellulosae. Jika ada manusia yang telah menelan progotid, atau telur
T. solium Larva Cysticercus cellulose yang dapat tumbuh di dalam tubuh hospes
tersebut, menimbulkan penyakit yang disebut Cysticercus recemosus. Merupakan
bentuk proliferasi dari cysticersus.

Cacing dewasa yang berjumlah seekor tidak menyebabkan gejala klinis. Bila ada,
dapat berupa nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala.

Gejala klinis yang sering diderita, disebabkanoleh larva (sistiserkosis), infeksi


ringan tidak menunjukkan gejala, kecuali yang dihinggapi merupakan alat tubuh yang
penting. Pada manusia, sistiserkus sering menghinggapi subkuti, mata, jar otak, otot,
otot jantung, hati, paru dan rongga perut.

a. Pada jaringan otak atau medula spinalis, larva jarang mengalami kalsifikasi,
sehingga menimbulkan reaksi jaringan dan dapat menyebabkan epilepsi,
meningo-ensefalitis gejala yang disebabkan oleh tekanan intrakranial yang
tinggi seperti nyeri kepala dan kelainan jiwa. Hidrosefalus internus dapat
terjadi bila timbul sumbatan aliran cairan serebrospinal.
b. Telur taenia solium (cacing pita babi) bisa menetas di usus halus, lalu
memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit
Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit
dan otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata ; tetapi kalau infeksi cacing
pita Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan
menimbulkan efek lanjutan yang parah. Infeksi oleh cacing pita genus Taenia

2
di dalam usus biasanya disebut Taeniasis. Ada dua spesies yang sering
sebagai penyebab-nya, yaitu Taenia solium dan Taenia saginata. Menurut
penelitian di beberapa desa di Indonesia, angka infeksi taenia tercatat 0,8–
23%., frekuensinya tidak begitu tinggi. Namun demikian, cara penanganannya
perlu mendapat perhatian, terutama k asus-kasus taeniasis Taenia solium yang
sering menyebabkan komplikasi sistiserkosis. Cara infeksinya melalui oral
karena memakan daging babi atau sapi yang mentah atau setengah matang
dan me-ngandung larva cysticercus. Di dalam usus halus, larva itu menjadi
dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal seperti rasa mual,
nyeri di daerah epigastrium, napsu makan menurun atau meningkat, diare atau
kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa menjadi buruk se-
hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan
eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar kasus
taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).

2.7 Cara Infeksi Cacing Taenia Solium

Infeksi cacing pita tidak hanya terjadi pada usus. Larva cacing pita dapat
berpindah atau migrasi ke organ lain seperti hati, otak, dan paru-paru yang dapat
menyebabkan organ-organ tersebut mengalami gangguan fungsi organ.

Infeksi cacing pita disebabkan oleh menelan makanan atau air yang
terkontaminasi telur atau larva cacing pita. Jika seseorang menelan telur cacing pita
maka dapat berpindah keluar usus dan membentuk kista larva dalam jaringan dan organ
tubuh dan larva cacing pita dapat berkembang menjadi dewasa didalam usus.

Cacing pita dewasa akan melekatkan kepalanya pada dinding usus dan dapat
hidup sampai 30 tahun pada tubuh manusia. Infeksi cacing pita pada umumnya adalah
infeksi ringan, tetapi infeksi larva yang invasif dapat menyebabkan komplikasi yang
serius.

Mengkonsumsi daging yang mentah dari hewan yang terinfeksi merupakan


penyebab utama infeksi cacing pita pada manusia. Infeksi cacing pita pada manusia
umumnya menyebabkan gejala ringan dan mudah untuk diobati. Namun terkadang
dapat menyebabkan masalah serius yang dapat mengancam jiwa.

2.8 Epidemiologi Cacing Taenia Solium

2
Kasus taeniasis di Indonesia pertama kali dilaporkan berasal dari Irian Jaya tahun
1970, dimana ditemukan 9% fases dari 170 pasien RS Enarotali menggandung telur
Taenia spp. Seluruh pasien kemungkinan terinfeksi Taenia solium dikarenakan semua
pasien memiliki hewan ternak babi sedangkan hewan ternak sapi hanya sedikit dan
hanya dimiliki oleh para pendatang (21).

Survey di Desa Obano dekat Enarotali pada pemeriksaan 350 sampel tinja
ditemukan sebanyak 2% positif telur Taenia spp(22) . Pada saat tersebut ditemukan
outbreak banyak masyarakat yang mengalami luka bakar akibat terjatuh di perapian
akibat kejang-kejang (epilepsi) (23). Pada tahun 1978 Subianto dkk. melaporkan kasus
luka bakar yang disebabkan oleh gejala kejang-kejang (epilepsy). Jumlah kasus luka
bakar di RS Enarotali tahun 1973 sangat sedikit, namun priode 1973-1976 terjadi
peningkatan kasus 275 orang.

Pada kelompok umur 11 tahun keatas ditemukan 88 kasus gejala kejangkejang,


adanya nodul subkutan (benjolan kecil di bawah kulit) 33,1% dan pemeriksaan fases
ditemukan proglotid dan telur Taenia spp 16,6%(24) . Tahun 1991 dilaporkan terdapat
95 kasus serangan kejang-kejang di distrik Jayawijaya (sekarang Kab. Jayawijaya)
bagian timur Distrik Paniai (sekarang Kab. Paniai) yang mirip kasusnya seperti di Desa
Obano.

Tahun 1994-1995 terdapat 638 kasus dan 945 kasus baru yang dilaporkan oleh 20
unit pelayanan kesehatan (Puskesmas). Angka kematian dalam dua tahun terakhir
tersebut yaitu 6-8 orang(24) . Penyebaran ini terjadi karena masyarakat umumnya
berjalan kaki bersama hewan ternak babi untuk tujuan berdagang ke Distrik Jayawijaya,
sehingga babi yang terinfeksi larva Taenia solium dan orang yang menjadi carriers
taeniasis juga beremigrasi menyebarkan penyakit taeniasis, sistiserkosis dan
neurosistiserkosis. Penelitian seroepidemiologi yang dilakukan Subahar (2001)
menggunakan metode immonoblot menyebutkan dari 160 sampel dari 18 kampung di
Distrik Jayawijaya ditemukan 81 positif (50,6%).

2.9 Cara Pemberantasan Cacing Taenia Solium


a. Cara pencegahan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui penyuluhan kesehatan untuk
mencegah terjadinya pencemaran/ kontaminasi tinja terhadap tanah, air makanan dan

2
pakan ternak dengan cara mencegah penggunaan air limbah untuk irigasi, anjurkan
untuk memasak daging sapi atau daging babi secara sempurna.
Lakukan diagnose dini dan pengobatan terhadap penderita. Lakukan kewaspdaan
enteric pada institusi dimana penghuninya diketahui ada menderita infeksi T. solium
untuk mencegah terjadinya dan dapat cysticercosis. Telur Taenia solium sudah
infektif segera setelah dikeluar melalui tinja penderita dan dapat menyebabkan
penyakit yang berat pada manusia. Perlu dilakukan tindakan tepat untuk mencegah
infeksi dan untuk mencegah penularan kepada kontak.
Daging sapi atau daging babi yang dibekukan pada suhu yang dibawah nya 5oC
(23oF) selama lebih dari 4 hari yang dapat membunuh cysticerci. Radiasi dengan
kekuatannya 1kGy sangat efektif.
Pengawasan terhadap bangkai hewan sapi atau bangkai hewan babi yang hanya
dapat mendeteksi untuk sebagian dari bangkai hewan yang terkena infeksi, untuk
mencegahan penuluran harus dilakukan tindakan secara tegas untuk membuang
bangkai hewan tersebut dengan cara yang aman, melakukan iradiasi atau di
proseskan pengolahaan daging tersebut untuk dijadikan produk yang masak.Jauhkan
dari ternak hewan babi kontak dengan jamban dan kontoran manusia.
b. Pengawasan terhadap penderita, kontak dan ligkungan di sekitarnya.
 Laoran ke dinas kesehatan setempatnya, dilaporankan secara selektif, kelas 3C
(dilihat tentang laporan penyakit menulur tersebut).
 Isolasi, tidak dianjurkan. Kotoran pada manusai yang terkena infeksi Taenia
solium yang tidak diobati dengan secara baik yang dapat menular kan.
 Disinfeksi serentak, Buanglah kotoran manusia pada di jamban saniter, di
budayakan perilaku hidup bersih dan sehat secara ketat seperti membiasakan
mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar khususnya untuk
mencegah terkena infeksi cacing Taenia solium.
 Karantina, Tidak dapat dilakukan.
 Immunisasi terhadap kontak, Tidak ada
 Lakukan investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi, untuk melakukan
evaluasi terhadao kontak yang menunjukan gejala.
 Pengobatan spesifik, Praziquantel (Biltricide) efektif untuk pengobatan T.
saginata dan Taenia solium. Niclosamide (Niclocide, Yomesan). Saat ini sebagai
obat udah di pilihan ke dua kurang cukup tersedia secara luas dipasaran. Untuk

2
cysticercosis tindakan operasi (bedah) dapat menghilangkan sebagian dari gejala
penyakit tersebut. Pasien dengan cysticercosis SSP harus diobati dengan
praziquantel atau dengan albendazole di rumah sakit dengan pengawasan ketat.
Biasanya diberikan kortikosteroid untuk mencegah oedema otak pada penderita
cysticerci.
2.10 Morfologi Cacing Taenia Solium

Taenia solium merupakan Cacing pita babi pada manusia. Cacing dewasa
terdapat pada usus halus mannusia, dan dapat mencapai 2 sampai 7 m dan dapat
bertahan hidup selama 25 tahun atau lebih. Secara umum, cacing yang diklasifikasikan
kedalam kelas cescota ini memiiki ciri-ciri umum sebagai berikut (Ika, 2015):

a. Tubuh cacing ini pipih (Platy) seperti pita yang terdiri atas tiga bagian yaitu
skoleks, leher, dan strobili. struktur tubuh cacing ini terdiri atas kepala (skoles)
dan rangkaian segmen yang masing-masing disebut proglotid. Pada bagian
kepala terdapat 4 alat isap (Rostrum) dan alat kait (Rostellum) yang dapat
melukai dinding usus. Organ pelekat atau skoleks, mempunyai empat batil
isap yang besar serta rostelum yang bundar dengan dua baris kait berjumlah
22-32 kait. Kait besar (dalam satu baris) mempunyai panjang 140 – 180
mikron dan bagian yang kecil (dalam baris yang lain) panjangnya 110-140
mikron. Disebelah belakang skoleks terdapat leher/daerah perpanjangan
(strobilus). Bagian lehernya pendek dan kira – kira setengah dari lebar
skoleks.

b. Strobila Taenia solium tersusun atas 800 sampai 1000 segmen (proglotida).
proglotid imatur bentuknya lebih melebar daripada memanjang, yang matur
berbentuk mirip segi empat dengan lubang kelamin terletak di bagian lateral
secara berselang seling di bagian kiri dan kanan proglotid berikutnya, sedang
segmen gravid bentuknya lebih memanjang daripada melebar. Proglotid
gravid panjangnya 10-12 x 5-6 mm, dan uterus mempunyai cabang pada
masing – masing sisi sebanyak 7 – 12 pasang. Segmen yang gravid biasanya
dilepas secara berkelompok 5-6 segmen tetapi tidak aktif keluar dari anus.
Proglotid gravid dapat mengeluarkan telur 30.000 – 50.000 butir telur.

2
c. Cacing ini tergolong sebagai hemaprodit yaitu individu yang berkelamin
ganda (jantan dan betina) dimana kedua organ kelaminnya berada pada setiap
segmen. artinya menghasilkan ovum dan sperma dalam satu proglotid.

d. Taenia solium tidak memiliki organ pencernaan sehingga untuk memperoleh


nutrisi yang dibutuhkannya cacing ini mengambil dari inangnya dengan
menggunakan bagian tubuhnya yang bernama tugumen.

e. Sistem ekskresinya menggunakan terdiri dari collecting canal dan flame cell.
f. Nama larva cacing Taeinia solium disebut Cysticercus cellulosae.
g. Sistiserkosis dan taeniasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi
Taenia solium.
h. Telurnya berbentuk bulat atau sedikit oval (31 -43 mikro meter), mempunyai
dinding yang tebal, bergaris garis, dan berisi embrio heksakan berkait enam
atau onkosfer. Telur – telur ini dapat tetap bertahan hidup di dalam tanah
untuk
berminggu –minggu.

Gambar D.1 Morfologi cacing Taenia Solium dan Morfologi telur Taenia Solium (Ika, 2015).

2
Gambar D.2 Cacing Taenia Solium (Alvyanto, 2010).

Gambar D.3 Cacing Taenia Solium A. Scolex B. Kait-kait pada Scolex C. Proglotid (Natadiasastra
dan Ridad, 2009).

 Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phlum : Platyhelmintes

Kelas : Cestoda

Ordo : Cyclophellidea

Family : Taeniidae

Genus : Taenia

Spesies : Taenia solium


2.11 Siklus Hidup Cacing Taenia Solium

2
Adapun siklus hidup Taenia Solium mulai dari telur sampai pada hospes
definitifnya (manusia) adalah sebagai berikut (Ika, 2015) :
Taenia solium yang berparasit di bagian proksimal jejunum dapat bertahan hidup
selama 25 sampai 30 tahun dalam usus halus manusia. Cacing ini mendapatkan
nutrisinya dengan menyerap isi usus. Cacing pita dewasa akan mulai mengeluarkan
telurnya dalam tinja penderita taeniasis antara 8 -12 minggu setelah orang yang
bersangkutan terinfeksi (Chin dan Kandun 2000) Sewaktu - waktu proglotida gravid
berisi telur akan dilepaskan dari ujung strobila cacing dewasa dalam kelompok –
kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 segmen. Prolotida gravid keluar bersama tinja
penderita. Telur dapat pula keluar dari proglotida pada waktu berada di dalam usus
manusia. Di luar tubuh telur akan menyebar ke tanah lingkungan sekitar dimana telur
tersebut mampu bertahan hidup selama 5-9 bulan.
Infeksi akan terjadi apabila telur berembrio tertelan oleh babi. Di dalam lumen
usus halus telur akan menetas dan mengeluarkan embrio (onkosfer). Selanjutnya
onkosfer tersebut menembus dinding usus, masuk ke pembuluh limfe atau aliran darah,
dibawa ke seluruh bagian tubuh dan akhirnya mencapai organ – organ yang seperti otot
jantung, otot lidah, otot daerah pipi, otot antar tulang rusuk, otot paha, paru-paru, ginjal,
hati. Kista mudah terlihat pada tempat predileksi tadi antara 6 hingga 12 hari setelah
infeksi. Sistiserkus kemudian terbentuk pada organ-organ tersebut dan dikenal dengan
Cysticercus Cellulosae. Bila daging babi yang mengandung parasit ini dimakan oleh
manusia, kista akan tercerna oleh enzim pencernaan sehingga calon skoleks
(protoskoleks) akan menonjol keluar. Selanjutnya protoskoleks tersebut akan menempel
pada mukosa jejunum dan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam waktu bebrapa bulan.
Cysticercus cellulosae juga dapat dijumpai pada manusia, yaitu di jaringan sub
kutan, mata, jantung dan otak. Kejadian ini disebabkan tertelannya makanan atau
minuman yang terkontaminasi oleh telur parasit tersebut. Sumber kontaminasi parasit
ini berupa tinja manusia yang mengandung parasit, dan tangan manusia yang kotor
yang terkontaminasi telur Taenia solium. Apabila manusia memekan daging babi yang
mengandung Cysticercus ini maka Cysticercus akan tumbuh menjadi cacing pita
dewasa dalam usus manusia. Kemudian daur hidup cacing ini akan terulang kembali.
Secara singkat daur hidup dari Taenia Solium adalah: Telur → termakan oleh
hospes → embrio keluar dr telur → menembus dinding usus → saluran getah
bening/darah →tersangkut diotot hospes → larva sistiserkus → daging hospes dimakan

2
manusia (dinding kista dicerna) → skoleks mengalami eviginasi → melekat pd dinding
usus halus → dewasa (3 bulan) → melepas proglotid dengan telur (Alvyanto, 2010).

2.12 Gambaran Umum Cacing Taenia Solium


Taenia solium merupakan cacing pita yang menginfeksi babi. Organ pelekat atau
skolek, mempunyai empat batil isap yang besar serta rostelum yang bundar dengan dua
baris kait berjumlah 22-32 kait. Kait besar (dalam satu baris) mempunyai panjang 140–
180 mikron dan bagian yang kecil (dalam baris yang lain) panjangnya 110–140 mikron.
Bagian lehernya pendek dan kira-kira setengah dari lebar skoleks. Jumlah keseluruhan
dari proglotid kurang dari 1000, proglotid imatur bentuknya lebih melebar daripada
memanjang, yang matur berbentuk mirip segi empat dengan lubang kelamin terletak di
bagian lateral secara berselang seling di bagian kiri dan kanan proglotid berikutnya,
sedang segmen gravid bentuknya lebih memanjang daripada melebar. Proglotid gravid
panjangnya 10-12 x 5-6 mm, dan uterus mempunyai cabang pada masing–masing sisi
sebanyak 7–12 pasang. Segmen yang gravid biasanya dilepas secara berkelompok 5-6
segmen tetapi tidak aktif keluar dari anus. Proglotid gravid dapat mengeluarkan telur
30.000-50.000 butir telur. Telurnya berbentuk bulat atau sedikit oval (31-43 mikro
meter), mempunyai dinding yang tebal, bergaris garis, dan berisi embrio berkait enam
atau onkosfer. Telur-telur ini dapat tetap bertahan hidup di dalam tanah untuk
berminggu–minggu (Wikipedia. 2012).

2
DAFTAR PUSTAKA

Irianto, K. 2013. Parasitologi Medis. Alfabetha. Bandung.

Sandy, S. 2014. Kajian Aspek Epidemiologi Taeniasis dan Sisterskosis di Papua. Jurnal
Penyakit Bersumber dari Binatang, Vol. 2 (1): 1.

Goodman, L. S. and Gilman, A. 1960. The Pharmacological Basis of Therapeutics. New


York: MacMillan Company. 1831 p.

2
Gross. J. 1987. Pigments in Fruits. Academic Press: London.

file:///C:/Users/user/Downloads/7cfe4b61288c3d86f36c58fee8d6147c.pdf

Garcı´a-Noval, J, Allan, J.C, Fletes, C, Moreno, E, DeMata, F, TorresA´ lvarez, R, Soto de Alfaro, H,
Yurrita, P, Higueros-Morales, H, Mencos, F, Craig, P.S.

Epidemiology of Taenia solium Taeniasis And Cysticercosis In Two Rural Guatemalan Communities.

Am. J. Trop. Med. Hyg. 1996, 55 (3); 282-289.

Cook, G.C. Neurocysticercosis: Parasitology, Clinical Presentation, Diagnosis And Recent Advances In
Management, Q. J. Med. 1988, 68; 575-583.

Wandra, T, Sri S Margono, S.S, Gafar, M.S, Saragih, J.M, Sutisna, P, Nyoman, S, Dharmawan, N.S. et
al. Taeniasis/Cysticercosis in Indonesia 1996-2006.

http://www.tm.mahidol.ac.th/seameo/2007-38-suppl-1/38suppl1-140.pdf diakses tanggal 19


Februari2014.