Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

DEMAM THYPOID

Oleh:
Nur Santi
201970017

STIKES IMC BINTARO


PROFESI NERS
2020
A. Definisi
Demam typhoid atau sering disebut dengan tifus abdominalis adalah
penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan yang berpotensi menjadi
penyakit multi sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhi (Muttaqin, A &
Kumala, S. 2011)
Demam typhoid atau Typhoid Fever ialah suatu sindrom sistemik
terutama disebabkan oleh Salmonella typhi. Demam typhoid merupakan jenis
terbanyak dari salmonelosis.Jenis lain dari demam enterik adalah demam
paratifoid yang disebabkan oleh S. paratyphi A, S. schottmuelleri (semula S.
paratyphi B), dan S. hirschfeldii (semula S. paratyphi C).Demam Typhoid
memperlihatkan gejala lebih berat dibandingkan demam enterik yang lain
(Widagdo, 2011).

B. Etiologi
Menurut Widagdo (2011), penyebab dari demamtyphoid
adalah salmonella typhi, termasuk dalam genus salmonella yang tergolong
dalam famili enterobacteriaceae. Salmonela bersifat bergerak, berbentuk
batang, tidak membentuk spora, tidak berkapsul, gram (-).Tahan terhadap
berbagai bahan kimia, tahan beberapa hari/ minggu pada suhu kamar, bahan
limbah, bahan makanan kering, bahan farmasi dan tinja. Salmonela mati pada
suhu 54.4º C dalam 1 jam, atau 60º C dalam 15 menit. Salmonela mempunyai
antigen O (stomatik), adalah komponen dinding sel dari lipopolisakarida yang
stabil pada panas, dan anti gen H (flagelum) adalah protein yang labil terhadap
panas. Pada S. typhi, juga pada S. Dublin dan S. hirschfeldii terdapat anti gen Vi
yaitu poli sakarida kapsul.
Menurut Sodikin (2011), penyebab penyakit demamtyphoid adalah jenis
salmonella thyposha, kuman ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Hasil gram negatif yang bergerarak dengan bulu getar dan tidak berspora.
2. yang terdiri atas zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flagella), dan
antigen Vi. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratoriun pasien, biasanya
terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.
C. Tanda dan gejala
Masa inkubasi demam typhoid berlangsung antara 10-14 hari.
Gejala- gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai
dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas
disertai komplikasi hingga kematian
Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan
gejala serupa dengan penyakit infeksi akut lain yaitu demam, nyeri kepala,
pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan
tidak enak diperut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya
didapatkan suhu badan meningkat. Sifat demam adalah meningkat
perlahan – lahan terutama pada sore hari hingga malam hari. (Perhimpunan
Dokter Spesial Penyakit dalam Indonesia, 2014).
Masa tunas 7-14 hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal ( gejala
awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas ) yaitu:
1. Perasaan tidak enak badan
2. Nyeri kepala
3. Pusing
4. Diare
5. Anoreksia
6. Batuk
7. Nyeri otot
8. Muncul gejala klinis yang lain
Demam berlangsung 3 minggu. Minggu pertama: demam ritmen, biasanya
menurun pagi hari, dan meningkat pada sore dan malam hari. Minggu
kedua : demam terus. Minggu ketiga : demam mulai turun secara
berangsur-angsur, gangguan pada saluran pencernaan, lidah kotor yaitu
ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai
tremor, hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan, gangguan
pada kesadaran, kesadaran yaitu apatis-samnolen. Gejala lain ”RESEOLA”
( bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit ) ( Kapita
selekta, kedokteran, jilid 2 ).
D. Patofisiologi
Proses perjalanan penyakit kuman masuk ke dalam mulut melalui makanan

dan minuman yang tercemar oleh salmonella (biasanya ˃10.000 basil kuman).

Sebagian kuman dapat dimusnahkan oleh asam hcl lambung dan sebagian lagi

masuk ke usus halus. Jika respon imunitas humoral mukosa (igA) usus kurang

baik, maka basil salmonella akan menembus sel- sel epitel (sel m) dan

selanjutnya menuju lamina propia dan berkembang biak di jaringan limfoid

plak peyeri di ileum distal dan kelenjar getah bening mesenterika. (Lestari

Titik, 2016).

Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesenterika

mengalami hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran darah (bakterimia)

melalui duktus thoracicus dan menyebar ke seluruh organ retikulo endotalial

tubuh, terutama hati, sumsum tulang, dan limfa melalui sirkulasi portal dari

usus. (Lestari Titik, 2016).

Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltasi limfosit, zat plasma, dan sel

mononuclear. Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran limfa

(splenomegali). Di organ ini, kuman salmonella thhypi berkembang biak dan

masuk sirkulasi darah lagi, sehingga mengakibatkan bakterimia ke dua yang

disertai tanda dan gejala infeksi sistemik (demam, malaise, mialgia, sakit

kepala, sakit perut, instabilitas vaskuler dan gangguan mental koagulasi).

(Lestari Titik, 2016).

Perdarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah di sekitar

plak peyeriyang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia. Proses patologis

ini dapat berlangsung hingga ke lapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan

perforasi. Endotoksin basil menempel di reseptor sel endotel kapiler dan dapat
mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan neuropsikiatrik kardiovaskuler,

pernafasan, dan gangguan organ lainnya. Pada minggu pertama timbulnya

penyakit, terjadi hiperplasia plak peyeri, di susul kembali, terjadi nekrosis

pada minggu ke dua dan ulserasi plak peyeri pada mingu ke tiga. selanjutnya,

dalam minggu ke empat akan terjadi proses penyembuhan ulkus dengan

meninggalkan sikatriks (jaringan parut).

Sedangkan penularan salmonella thypi dapat di tularkan melalui berbagai

cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari

tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat) dan melalui Feses. (Lestari

Titik,2016).
Patwhay
Kuman salmonella
typhi

Masuk melalui makanan/


Minuman, jari tangan/kuku,
muntuhan, lalat dan feses

Masuk ke mulut

Menuju ke saluran
pencernaan

Kuman mati Lambung Kuman hidup

Lolos dari asam


lambung

Bakteri masuk ke
dalam usus halus

Peredaran darah dan masuk ke


retikulo endothelia terutama hati
dan limfa

Inflamasi pada hati Masuk kealiran darah


dan limfa

Endotoksi
Hematomegali Spenomegali

Nyeri tekan Penurunan mobilitas Mengakibatkan komplikasi seperti


usus neuropsikiatrik, kardiovaskuler,
Nyeri pernafasan, dll.
Penurunan peristaltik
usus Merangsang melepas sel
perogen

Konstipasi Peningkatan asam


lambung Mempengaruhi pusat
thermoregulerator di
Resiko kekurangan Anoreksia, mual hipotalamus
volume cairan dan muntah
Hipertermia
Defisit nutrisi
(Lestari Titik, 2016)

E. Pemeriksaan Penunjang.
Menurut Wibisono et al (2014), adapun pemeriksaan penunjang pada demam
typhoid antara lain sebagai berikut:
1.         Pemeriksaan darah perifer
Leucopenia/normal/leukositosis,anemiaringan,trombositopenia, peningkatan
laju endap darah, peningkatan SGOT/SGPT.
2.         Uji widal
Deteksi titer terhadap salmonella typhi dan salmonella paratyphi yakni
aglutinin O (dari tubuh kuman) dan agglutinin H (flagela kuman).
Pembentukan agglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam,
puncak pada minggu ke empat da tetap tinggi dalam beberapa minggu dengan
peningkatan agglutinin O terlebih dahulu baru diikuti aglutinin H. Aglutinin O
menetap 4-6 bulan sedangkan agglutinin H menetap 9-12 bulan. Titer antibodi
O >1:320 atau antibody H >1:640 menguatkan diagnosis pada gambaran klinis
yang khas.
3.         Uji TUBEX
Uji semikuantitatif kolometrik untuk deteksi antibodi anti salmonella typhi 0-9.
Hasil positif menunjukan salmonellae serogroup D dan tidak spesifik
salmonella typhi. Infeksi salmonella paratyphi menunjukan hasil negative.
Sensitivitas 75-80% dan spesifisitas 75-90%.
4.         Uji typhidot
Deteksi IgM dan IgG pada protein membran luar salmonella typhi. Hasil positif
diperoleh 2-3 hari setelah infeksi dan spesifik  mengidentifikasi IgM dan IgG
terhadap salmonella typhi. Sensitivitas 98% dan spesifisitas 76.6%.
5.         Uji IgM Dipstick
Deteksi khusus IgM spesifik salmonella typhi pada specimen serum atau darah
dengan menggunakan strip yang mengandung anti gen lipopolisakarida
salmonella typhi dan anti IgM sebagai kontrol sensitivitas 65-77% dan
spesifisitas 95-100%. Akurasi diperoleh bila pemeriksaan dilakukan 1 minggu
setelah timbul gejala.
6.         Kultur darah
Hasil positif memastikan demam typhoid namun hasil negatif tidak
menyingkirkan.
F. Komplikasi
Menurut sodikin (2011) komplikasi biasanya terjadi pada usus
halus,namun haal tersebut jarang terjadi. Apabila komplikasi ini terjadi
pada seorang anak, maka dapat berakibat fatal. Gangguan pada usus halus
dapat berupa :
a. Perdarahan usus
Apabila perdarahan terjadi dalam jumlah sedikit, perdarahan tersebut
hanya dapat ditemukan jika dilakukan pemeriksaan feses dengan
benzidin, jika perdarahan banyak maka dapat terjadi melena yang bisa
disertai nyeri perut dengan tanda- tanda renjatan. Perforasi usus
biasanya timbul pada minggu ketigaatau setelahnya dan terjadi pada
bagian usus distal ileum.
b. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila
terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan
terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen
yang dibuat dalam keadaan tegak.
c. Peritonitis
Peritonitis biasanya menyertai perforasi, namun dapat juga terjadi
tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut seperti nyeri
perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defebce musculair) dan
nyeri tekan.
d. Komplikasi diluar usus
Terjadi lokalisasi peradangan akibat sepsis (bacteremia), yaitu
meningitis, kolesistisis, ensefalopati, dan lain – lain. Komplikasi diluar
usus ini terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia.

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan demam tifoid ada tiga menurut (Widoyono, 2011), yaitu :
a. Pemberian antibiotik
Terapi ini dimaksudkan untuk membunuh kuman penyebab demam
tifoid. Obat yang sering dipergunakan adalah
1. Kloramfenikol 100mg/kg berat badan/hari/4 kali selama 14 hari
2. Amoksili 100 mg/kg berat badan/hari/4 kali.
3. Kotrimoksazol 480 mg, 2 x 2 tablet selama 14 hari.
4. Sefalosporin generasi II dan III (ciprofloxacin 2 x 500 mg selam 6 hari,
ofloxacin 600 mg/hari selama 7 hari; ceftriaxone 4 gram/hari selama 3
hari).
b. Istirahat dan perawatan
Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Penderita sebaiknya beristirahat total ditempat tidur selama 1 minggu
setelah bebas dari demam. Mobilisasi dilakukan secara bertahap, sesuai
dengan keadaan penderita. Mengingat mekanisme penularan penyakit ini,
kebersihan perorangan perlu dijaga karena ketidakberdayaan pasien untuk
buang air besar dan air kecil
c. Terapi penunjang dan Diet
Agar tidak memperberat kerja usus, pada tahap awal penderita diberi
makanan berupa bubur saring. Selanjutnya penderita dapat diberi makanan
yang lebih padat dan akhirnya nasi biasa, sesuai dengan kemampuan dan
kondisinya. Pemberian kadar gizi dan mineral perlu dipertimbangkan agar
dapat menunjang kesembuhan penderita.

H. Konsep Dasar Keperawatan


a. Pengkajian
Menurut wijaya tahun 2013 yang dialami pada pasien
demam thypoid adalah menigkatnya suhu, terutama pada
malam hari, nyeri kepala, tidak kotor, tidak nafsu makan,
epistaksis, penurunan kesadaran.
1) Data Biografi: nama,alamat, umur, status perkawinan,
tanggal MRS, diagnose medis, catatan kedatangan,
keluarga yang dapat dihubungi.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Mengapa pasien masuk rumah sakit dan apa keluhan
utama pasien, sehingga dapat ditegakkan prioitas masalah
kesehatan yang dapat muncul.
3) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah sudah pernah sakit dan dirawat dengan penyakit
yang sama.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada dalam keluarga pasien yang pernah sakit
seperti pasien.
5) Riwayat psikososial
Intrapersonal: Perasaan yang dirasakan klien
(cemas/sedih) Interpersonal: Hubungan dengan
orang lain.
6) Pola Fungsi kesehatan
a) Pola nutrisi dan metabolism:
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi
gangguan pada usus halus.
b) Pola istrahat dan tidur
Selama sakit pasien merasa tidak dapat istrahat karena
pasien merasakan sakit pada perutnya, mual, muntah,
kadang diare.
7) Pemeiksaan Fisik
a) Kesadaran dan keadaan umum pasien
Kesadaan pasien perlu dikaji dari sadar-tidak sadar
(composmentis – coma) untuk mengetahui berat
ringannya prognosis penyakit pasien.
b) Tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik kepala-kaki
TTD, nadi, respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur dari
keadaan umum pasien/kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan
dari kepala sampa kaki dengan menggunakan prinsip inspeksi,
auskultasi, palpasi, perkusi, disamping itu juga penimbangan BB
untuk mengetahui adanya penurunan BB karena peningkatan
gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan
nutrisi yang dibutuhkan (Wijaya dkk, 2013).
b. Diagnosis keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisa data subjektif dan

objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakkan

diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses

berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga,

rekam medis, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain. (Hutahaean

Serri, 2010) Berdasarkan SDKI 2017 diagnosa keperawatan yang

muncul yaitu :

1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit.

2. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan


mengabsorbsi nutrisi.
3. Intoleramsi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

I. Rencana keperawatan
No. Diagnosis (SDKI) Tujuan & Kriteria Intervensi (SIKI)
Hasil (SLKI)
1 D.0130 hipertermi L. 14134 Termogulasi MANAJEMEN HIPERTERMIA (I.15506)
berhubungan dengan Ekspektasi: membaik Observasi
proses penyakit Kriteria hasil: - Identifkasi penyebab hipertermi (mis. dehidrasi
Gejala dan tanda - Kulit terpapar lingkungan panas penggunaan
mayor Subjektif: memerah incubator)
(tidak tersedia) menurun - Monitor suhu tubuh
Objektif: - Kejang - Monitor kadar elektrolit
1. Suhu tubuh diatas menurun - Monitor haluaran urine
nilai normal - Pucat Terapeutik
Gejala dan tanda menurun - Sediakan lingkungan yang dingin
minor - Suhu tubuh - Longgarkan atau lepaskan pakaian
Subjektif: membaik - Basahi dan kipasi permukaan tubuh
(tidak tersedia) - Suhu kulit - Berikan cairan oral
Objektif: membaik - Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika
1. Kulit merah - Kadar glukosa mengalami hiperhidrosis (keringat berlebih)
2. Kejang dvrvh - Lakukan pendinginan eksternal (mis. selimut
3. Takikardi membaik hipotermia atau kompres dingin pada dahi,
4. Takipnea - Pengisian leher, dada, abdomen,aksila)
5. Kulit terasa kapiler - Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
hangat membaik - Batasi oksigen, jika perlu
- Ventilasi Edukasi
membaik - Anjurkan tirah baring
- Tekanan darah Kolaborasi
membaik - Kolaborasi cairan dan elektrolit intravena,
jika perlu
2 D.0019 Defisit I.03030 Status Nutrisi I.03119 Manajemen Nutrisi
nutrisi Ekspektasi: membaik Observasi
berhubungan Kriteria hasil: - Identifikasi status nutrisi
dengan ketidak - Porsi makanan yang - Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
mampuan dihabiskan - Identifikasi makanan yang disukai
mengabsorbsi meningkat - Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis
makanan - Kekuatan otot nutrient
Gejala dan tanda pengunyah - Monitor asupan makanan
mayor Subjektif: meningkat - Monitor berat badan
(tidak tersedia) - Kekuatan otot - Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Objektif: menelan meningkat Teraupetik
1. Berat badan - Serum albumin - Lakukaoral hygiene sebelum makan, jika
menurun meningkat perlu
minimal 10% - Verbalisasi - Fasilitasi menentukan pedooman diet (mis.
di bawah keinginan untuk Piramida makanan)
rentang ideal meningkatkan nutrisi - Sajikan makanan secara menarik dan suhu
meningkat yang sesuai

Gejala dan tanda - Nyeri abdomen - Berikan makanantinggi serat

minor menurun untuk mencegah konstipasi

Subjektif: - Berat badan - Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi

1. Cepat kenyang membaik protein

setelah makan - Frekuensi makan - Berikan makanan rendah protein

2. Kram/nyeri membaik Edukasi

abdomen - Nafsu makan - Anjurkan posisi dusuk, jika mampu

3. Nafsu makan membaik - Anjurkan diet yang diprogramkan

menurun - Bising usus Kolaborasi

Objektif: membaik - Kolaborasi pemberian medikasi sebelum

1. Bising usus - Membran mukosa makan (mis. Pereda nyeri, antiemetic), jika

hiperaktif membaik perlu

2. Otot - Kolaborasi dengan ahli gizi menentukan


jumlah kalori dan jenis nutrient yang
pengunyah dibutuhkan, jika perlu
lemah
3. Otot menelan
lemah
4. Membran
mukosa pucat
5. Sariawan
6. Serum albumin
turun
7. Rambut
rontok
berlebihan
8. Diare
3 D.0056 Intoleransi L.05047 Toleransi I.05178 Manajemen Energi
aktivitas Aktivitas Observasi
berhubungan Ekspektasi: meningkat - Identifikasi gangguan fungsi tubuh
dengan kelemahan Kriteria hasil: yang mengakibatkan kelelahan
- Frekuensi nadi - Monitor kelelahan fisik dan emosional
Gejala dan tanda meningkat - Monitor pola dan jam tidur
mayor Subjektif: - Saturasi oksigen - Monitor lokasi dan ketidaknyamanan
1. Mengeluh meningkat selama melakukan aktivitas
lelah - Kemudahan Terapeutik
Objektif: dalam melakukan - Sediakan lingkungan nyaman dan

1. Frekuensi aktivitas sehari- rendah stimulus (mis. cahaya, suara,

jantung hari meningkat kunjungan)

meningkat - Kecepatan - Lakukan latihan rentang gerak

>20% dari berjalan pasin dan/atau aktif

kondisi meningkat - Berikan aktivitas distraksi

istirahat - Jarak berjalan yang menenangkan


meningkat - Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur,

Gejala dan tanda - Kekuatan tubuh jika tidak dapat berpindah atau berjalan

minor bagian atas Edukasi

Subjektif: meningkat - Anjurkan tirah baring

1. Dispnea - Kekuatan tubuh - Anjurkan melakukkan aktivitas

saat/setelah bagian bawah secara bertahap

aktivitas meningkat - Anjurkan menghubungi perawat jika

2. Merasa tidak - Toleransi dalam tanda dan gejala kelelahan tidak

nyaman menaiki tangga berkurang

setelah meningkat - Ajarkan strategi koping untuk


- Keluhan lelah mengurangi kelelahan
beraktivitas - Dipsnea saat Kolaborasi
3. Merasa lemah aktivitas menurun - Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
Objektif: - Dipsnea setelah cara meningkatkan asupan makanan
1. Tekanan darah aktivitas menurun
berubah >20% - Perasaan lemah
dari kondisi menurun
istirahat - Aritmia saat
2. Gambaran beraktivitas
EKG menurun
menunjukkan - Aritmia setelah
aritmia beraktivitas
saat/setelah menurun
aktivitas - Tekanan darah
3. Gambaran membaik
EKG - Frekuensi napas
menunjukkan membaik
iskemia
4. Sianosis
Daftar Pustaka

Hutahaean Serri. (2010). Konsep dan Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta:


Tim.
Lestari Titik. (2016). Asuhan Keperawatan Anak. Yogjakarta: Nuha Medika.
Mutaqin, A. & Kumala, S. (2011). Gangguan gastrointestinal aplikasi asuhan
keperawatan medikal bedah. Jakarta : Salemba Medika.
Perhimpunan Dokter Spesial Penyakit Dalam Indonesia.(2014). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam.Editor : siti Setiawati, Idrus Alwi,dkk. Jilid 1.Edisi
6.Jakarta : Interna Publishing
Sodikin. (2011). Asuhan keperawatan anak gangguan sistem gastrointestinal dan
hepatobilier. Jakarta : Salemba Medika.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Widagdo. (2011) Masalah dan tatalaksana penyakit infeksi pada anak. Jakarta :
CV Sagung Seto.
Widoyono. Penyakit Tropis. Jakarta: Erlangga, 2011.
Wijayaningsih Kartika Sari. (2013). Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta: Tim.
FORMAT PENGKAJIAN PRAKTIK KLINIK
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES IMC BINTARO

A. DATA UMUM
DATA PASIEN DATA PENANGGUNG JAWAB
Nomor RM : Nama :yuliana
Nama :tn. p Usia :30
Tempat, Tanggal Lahir :11.10.1984 Pekerjaan :ibu rumah tangga
Jenis Kelamin :L Pendidikan :sm a
Alamat :rusunawa gebang Hubungan dengan pasien :istri
Suku :sunda Alamat :rusunawa gebang
Agama :islam Suku :sunda
Tanggal Masuk RS :15/02/20 Agama :isllam
Tanggal Pengkajian :17/02/20 Sumber Penghasila :suami
Diagnosa Medis :demam dengue +
thypoid

Bila ada stiker identitas, dapat ditempel Sumber Informasi


disini Nama :yuliana
Usia :30
Pendidikan :sma
Pekerjaan :ibu rumah tangga
Alamat :rusunawa gebang
Hubungan dengan pasien :istri

B. RIWAYAT KESEHATAN
I. Keluhan Utama
klien demam terus menerus dan suhunya tidak pernah turun
II. Riwayat Penyakit Sekarang
Panas terus menerus selama tiga hari di rumah terutama dimalam hari, sakit
kepala, mual. klien mengeluh mulut rasa pahit, bibir kering, nafsu makan kurang,
klien lemah , muka nampak meringis.

III. Riwayat Masa Lalu


1. Penyakit yang pernah dialami  Tidak  Ya……………………………
Penatalaksanaan yang …………………………………………….....
dilakukan
2. Riwayat hospitalisasi  Tidak  Ya, Jika ya:
Kapan………………………………………...
Dimana……………………………………….
Penyakit……………………………………...
3. Riwayat Operasi  Tidak  Ya, Jika ya:
Kapan………………………………………...
Dimana……………………………………….
Jenis Operasi…………………………………
4. Riwayat penggunaan obat  Tidak  Ya, Jika ya:
Jenis obat……………………………………..
Respon terhadap pengobatan…………………
5. Riwayat injury/kecelakaan  Tidak  Ya……………………………
6. Riwayat alergi  Tidak  Ya, Jika ya:
 Makanan  Obat  Udara  Debu
 Lainnya……………………………………
Riwayat Imunisasi
 BCG  DPT  Polio  Campak  Hepatitis B  PCV
 Varicela  Thypoid  Rotavirus  MMR  Influenza 
Pneumokokus  HPV  Tetanus  Zoster  Meningitis  Yellow
fever  Hepatitis  HIB

IV. Riwayat Kesehatan Keluarga


Riwayat Penyakit Keluarga
 Asma  Hipertensi  Penyakit jantung  Diabetes melitus  TBC
 Lainnya……………………………………………………………………….

Genogram

V. Riwayat Psikososial
1. Dukungan social  Suami  Orang tua  Mertua
 Keluarga lain……………………………..
2. Sumber keuangan  Suami-Istri  Orang tua/mertua
 Sumber lain……………………………..
3. Tanggapan Pasien Tentang Pasien ingin cepat sembuh dan bisa
Penyakitnya beraktivitas seperti biasa

VI. Pemeriksaan Fisik


Kesehatan Fisik dan Karakteristik Fisik
1. Kondisi Umum  Lemah  Sedang  Baik
2. Kesadaran (GCS) E: 4.M:6 V:5
3. Tanda-tanda vital Suhu:……….0C
Tekanan Darah:……….mmHg
Nadi:……….x/menit
Frekuensi Pernafasan:………x/menit
4. Pemeriksaan pertumbuhan BB:……………gram, TB:……………....cm
Status nutrisi:…………………………………….
…………………………………………………..
5. Pemeriksaan Nyeri Skala Nyeri :  2
6. Sistem Pernafasan
Hidung  Simetris  Tidak simetris  Secret
 Cuping Hidung  Polip
Leher Pembesaran Kelenjar  Tidak  Ya,
Lokasi………………………
Tumor  Tidak  Ya, Lokasi………………………
Dada Bentuk Dada  Normal  Barrel  Pigeon
Chest
Gerakan dada (kiri dan kanan) retraksi :
 Tidak  Ya
Suara Nafas  Trakea  Bronchial 
Bronchovesikuler
Suara tambahan :  Tidak  Ya
Clubbing Finger :  Tidak  Ya
7. Sistem Kardiovaskuler Conjunctiva  Anemis  Tidak Anemis
Bibir  Pucat  Cyanosis
Tekanan Vena Jugularis :  Tidak  Ya
Ukuran jantung : …………………………
Capillary retiling time : ………………….
8. Sistem Pencernaan Jelaskan :
Inspeksi
- Bibir pecah-pecah dan kering
- Pada bagian mulut tidak ada luka dan
peradangan.
- Tidak tampak pembesaran abdomen
Palpasi
- tonus otot baik.
- Nyeri jika ditekan
Perkusi
- tidak ada cairan, udara dan massa
- abdomen hypertimpani/ nyeri tekan
auskultasi
- Peristaltik usus +
- Bising usus tidak terdengar
9. Sistem Saraf Status mental : baik
GCS : 15
Berbicara :spontan
Fungsi Motorik : baik
Kekuatan Otot : baik
Fungsi Sensorik : baik
10. Sistem Integumen Rambut : Nampak berminyak
Kulit : bersih
Kuku : bersih

11. Genitalia  Perempuan  laki-laki


 Kelainan……………………………
12. Anus  Ada  Tidak

VII. Aktivitas Sehari-hari


Nutrisi
1. Selera makan  Tidak  Ya, Jika ya:
…………………………………………….
2. Menu makan dalam 24 Jam Nasi lauk, dan sayuran
3. Frekuensi makan dalam 24 3x1
Jam
4. Makanan yang disukai dan Nasi padang
makanan pantangan
5. Pembatasan Pola Makan Tidak ada
6. Cara Makan Oral
7. Ritual Sebelum makan Berdoa
Cairan
1. Jenis minuman yang Air putih
dikonsumsi dalam 24 jam
2. Frekuensi minum 6-8 gelas
Eliminasi (BAB & BAK)
1. Tempat pembuangan Toiet
2.Frekuensi 2x1
3.Kapan Tidak tentu
4.Terartur Iya
5.Konsistensi Tidak
6.Kesulitan eliminasi Tidak
7.Obat untu memperlancar Tidak
eliminasi
Istirahat Tidur
1. Apakah tidur cepat Tidur tepat waktu
2.Jam tidur siang dan malam Tidak tentu
3.Bila tidak dapat tidur apa yang Nonton tv
dilakukan
Olahraga
1.Program olahraga tertentu Tidak ada
2.Berapa lama olahraga dan Tidak ada
jenisnya
3.Perasaan setelah berolahraga Tidak ada
Rokok / Alkohol dan Obat-obatan
1. Apakah merokok? Jenis? Tidak ada
Berapa banyak ? Kapan mulai
merokok?
2. Apakah minum minuman Tidak ada
keras? Jenis minuman? Minum
banyak ketika stress? Apakah
mengganggu prestasi kerja?
3. Kecanduan kopi, teh, atau Kopi 2x sehari
minuman ringan lain ? berapa
banyak ?
4. Apakah mengkonsumsi Tidak ada
obat dari dokter?
Rekreasi
1. Bagaimana perasaan anda ………………………………………………..
saat bekerja? ………………………………………………..
2. Berapa banyak waktu ………………………………………………..
luang ?
3. Apakah puas setelah ………………………………………………..
rekreasi?
4. Apakah anda dan keluarga ………………………………………………..
menghabiskan waktu senggang ………………………………………………..
bersama? ……………………………………………

VIII. Terapi obat


Terpasang infus RL 30 tpm
Pct 3x1 oral
Ranitidine inj 2x1
Ceftriaxone 1x 2 gr
Pct drip 1 gr extra
Pct infus 1 gr extra

IX. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal Jenis Hasil Nilai normal Interpretasi


Pemeriksaa Pemeriksaan Pemeriksaan
n

15/02/20 Trombosit 121 150-450 10^3/ul

Leukosit 2680 4000-11000 Sel/ul

Pemeriksaan Diagnostik Lainnya


Analisa Data
Data Fokus Etiologi Masalah
DS : Kuman Salmonella thypii Hipertermi
 Klien mengatakan
Masuk tubuh melalui mulut
demam naik turun bersama makanan dan minuman

 Klien mengatakan Masuk sampai ke usus halus


lemas Bakteri mengadakan multiplikasi
di usus
 Klien mengatakan
masih merasakan Peredaran darah
pusing Demam
 Panas
DO:  Muka merah
 Keadaan umum :  Kulit terasa kering

sedang Hipertermi
 Kesadaran : cm
 TTV :
TD : 110/80 mmHg
S : 36,7
RR : 20
N : 79
 Tubuh klien teraba
hangat
 Klien nampak lemas
DS : Kuman Salmonella thypii Defisit nutrisi
 Klien mengatakan
Masuk tubuh melalui mulut
mulutnya masih terasa bersama makanan dan minuman
pahit Masuk sampai ke usus halus
 Klen mengatakan tidak Bakteri mengadakan multiplikasi
di usus
nafsu makan
DO: Gejala mual, muntah, nafsu
makan menurun
 Klien Nampak lemas
 Nampak makan tidak Suplai tidak adekuat
habis Deficit nutrisi
DS : Kuman Salmonella thypii Intoleransi Aktivitas
 Klien mengatakan
Masuk tubuh melalui mulut
tubuhnya masih lemas bersama makanan dan minuman
 Klien mengatakan Masuk sampai ke usus halus
masih merasakan
Bakteri mengadakan multiplikasi
pusing di usus

Gejala mual, muntah, nafsu


DO : makan menurun
 Skala nyeri 2
Suplai tidak adekuat
 Klien tampak meringis
Lemah, lesu, aktivitas dibantu
 Klien tampak lemas
 Aktivitas klien tampak Intoleransi aktivitas

dibantu oleh keluarga

Diagnosis Keperawatan
1. hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
2. deficit nutrisi berhubungan dengan ketidak mampuan mengabsorbsi makanan
3. intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

Intervensi
No Diagnosis Keperawatan SLKI SIKI
1. hipertermi berhubungan KH : Observasi :
dengan proses penyakit Setelah dilakukan 1. monitor ttv
tindakan keperawatan 2. monitor intake dan
selama 2x 24 jam, klien output cairan
dapat: 3. monitor komplikasi
1. ttv dalam batas normal akibat kejang
2. suhu tubuh membaik Trapeutik :
3. klien sudah merasa 4. Tutupi badan dengan
tidak lemas selimut/pakaian yang
tipis saat merasa panas
5. lakukan tepid sponge,
jika perlu
6. berikan oksigen jika
perlu
Edukasi :
7. anjurkan tirah baring
8. anjuran
memperbanyak minum
Kolaborasi :
9. kolaborasi pemberian
cairan dn elektrolit
intravena
10. kolaborasi pemberian
antipiretik, jika perlu
11. kolaborasi pemberian
antibiotik, jika perlu

2. defisit nutrisi KH : Observasi :


berhubungan dengan Setelah dilakukan 1. identifikasi status
ketidak mampuan tindakan keperawatan nutrisi
mengabsorbsi makanan selama 2x 24 jam, klien 2. identifikasi makanan
dapat: kesukaan
1. Klien sudah tidak 3. monitor asupan
nampak lemas makanan
2. nafsu makan membaik 4. monitor berat-badan
5. monitor hasil
pemeriksaan
laboratorium
Trapeutik :
6. lakukan oral hygiene
sebelum makan, jika
perlu
7. berikan makanan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
8. berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
Edukasi :
9. anjurkan posisi duduk
jika mampu
10. ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi :
11. kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
12. kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan, jika
perlu
3. intoleransi aktivitas KH : Observasi :
berhubungan dengan Setelah dilakukan 1. monitor pola dan jam
kelemahan tindakan keperawatan tidur
selama 2x 24 jam, klien 2. monitor kelelahan fisik
dapat: dan emosional
1. Skala nyeri 0 Trapeutik :
2. Klien sudah tidk 3. sediakan lingkungan
tampak meringis nyaman dan rendh
3. Klien tidak tampak stimulus
lemas 4. lakukan latihan rentan
4. Aktivitas klien sudah gerak pasif atau aktif
tidak dibantu oleh 5. berikan aktivitas
keluarga distraksi yang
menenangkan
6. fasilitasi duduk di sisi
tempat tidur, jika tidak
dapat berpindah atau
berjalan
Edukasi :
7. anjurkaan tirah baring
8. anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap
9. anjurkan menghubungi
perawat jika tanda dan
gejala kelelahan tidak
berkurang
10. ajarkan strategi
koping untuk mengurangi
kelelahan
Kolaborasi :
11. Kolaborasi dengan
ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan
makanan

Implementasi
No Tanggal Diagnosa Keperawatan SIKI Respon
1. 17/02/20 hipertermi berhubungan Observasi : Klien
dengan proses penyakit 1. memonitor ttv koperatif
2. memonitor intake dan output Klien
cairan menjawab
3. memonitor komplikasi akibat pertanyaan
kejang
Trapeutik :
4. menutupi badan dengan
selimut/pakaian yang tipis saat
merasa panas
5. melalakukan tepid sponge, jika
perlu
6. memberikan oksigen jika perlu
Edukasi :
7. menganjurkan tirah baring
8. menganjuran memperbanyak
minum
Kolaborasi :
9. berkolaborasi pemberian cairan dn
elektrolit intravena
10. berkolaborasi pemberian
antipiretik, jika perlu
11. berkolaborasi pemberian
antibiotik, jika perlu
2. 17/02/20 defisit nutrisi Observasi : Klien
berhubungan dengan 1.meng identifikasi status nutrisi koperatif
ketidak mampuan 2. mengidentifikasi makanan Klien
mengabsorbsi makanan kesukaan menjawab
3. memonitor asupan makanan pertayaan
4. memonitor berat-badan
5. memonitor hasil pemeriksaan
laboratorium
Trapeutik :
6. melakukan oral hygiene sebelum
makan, jika perlu
7. memberikan makanan tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
8. memberikan makanan tinggi kalori
dan tinggi protein
Edukasi :
9. menganjurkan posisi duduk jika
mampu
10. mengajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi :
11. berkolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
12. berkolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrient yang dibutuhkan, jika
perlu
3. 17/02/20 intoleransi aktivitas Observasi : Klien
berhubungan dengan 1. memonitor pola dan jam tidur koperatif
kelemahan 2. memonitor kelelahan fisik dan Klien
emosional menjawab
Trapeutik : pertanyaan
3. menyediakan lingkungan nyaman
dan rendh stimulus
4. melakukan latihan rentan gerak
pasif atau aktif
5. memberikan aktivitas distraksi
yang menenangkan
6. memfasilitasi duduk di sisi tempat
tidur, jika tidak dapat berpindah atau
berjalan
Edukasi :
7. menganjurkaan tirah baring
8. menganjurkan melakukan aktivitas
secara bertahap
9. menganjurkan menghubungi
perawat jika tanda dan gejala
kelelahan tidak berkurang
10. mengajarkan strategi koping
untuk mengurangi kelelahan
Kolaborasi :
11. berkolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan asupan
makanan

Evaluasi
No Tanggal/Jam Evaluasi Paraf
1 17/02/20 S:
 Klien mengatakan sudah tidak demam
 Klien mengatakan masih lemas
 Klien mengatakan masih merasakan
pusing
O:
 Klien masih Nampak lemas
 TTV:
TD : 110/70 mmHg
N : 80x/ menit
RR : 20x/menit
S : 36,5
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Obsevasi, trapeutik, edukasi, kolaborsi

2 17/02/20 S:
 Klien mengatakan mulutnya masih terasa
pahit
 Klen mengatakan masih tidak nafsu
makan
O:
 Klien masih Nampak lemas
 Nampak makan tidak habis
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Observasi, trapeutik, edukasi, kolaborasi
3 17/02/20 S:
 Klien mengatakan tubuhnya masih terasa
lemas
 Klien mengatakan masih merasakan
pusing
O:
 Skala nyeri 2
 Klien tampak masih lemas
 Aktivitas klien masih tampak dibantu
oleh keluarga
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Observas, trapeutik, edukasi, kolaborasi