Anda di halaman 1dari 8

110

BAB 2
KALIMAT

4.1 Kalimat Bahasa Indonesia


4.1.1 Hakikat dan Pengertian Kalimat
Hakikat Kalimat
 Kalimat mengungkapkan suatu pikiran yang
lengkap.
 Kalimat merupakan bagian terkecil dari sebuah
ujaran atau wacana (teks).
 Kalimat mengungkapkan satu pikiran yang utuh.
 Kalimat terdiri atas klausa atau susunan klausa.
 Kalimat relatif dapat berdiri sendiri.
DISESKRIPSIKAN!

Pengertian Kalimat
(a) Kalimat ialah satuan bentuk bahasa yang terkecil
yang mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap
(Alisjahbana, 1969).
(b) Kalimat didefinisikan sebagai satuan bahasa yang
mengandung gagasan yang lengkap (Lapoliwa,
1994).
(c) Kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks
yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara
ketatabahasaan (Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia, 1988).
(d) Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari
klausa atau susunan klausa yang mempunyai pola
intonasi akhir dan yang secara relatif dapat berdiri
sendiri (Cook, 1971).
(e) Kalimat adalah rangkaian kata yang dapat
mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan
(Wagiati, 2006).
(f) Kalimat efektif adalah kalimat yang bisa
menyampaikan pesan akurat atau tepat (Jauhari,
2008).
111

(g) Kalimat hemat adalah kalimat yang dibangun oleh


sejumlah kata yang minimal, tetapi dapat
menyampaikan pesan secara tepat. Sebaliknya,
kalimat tidak hemat adalah kalimat yang
menggunakan kata maksimal namun tidak dapat
menyampaikan pesan dengan tepat.
(h) Kalimat rancu adalah kalimat yang strukturnya
kacau dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia. Kalimat rancu tidak akan bisa
menyampaikan pesan secara akurat.
(i) Kalimat yang benar adalah kalimat yang sesuai
dengan aturan atau kaidah yang berlaku baik yang
berkaitan dengan kaidah tata bunyi (fonologi), tata
bahasa, kosakata, maupun ejaan.
(j) Kalimat yang baik adalah kalimat yang efektif yaitu
kalimat yang dapat menyampaikan pesan atau
informasi secara tepat.

4.1.2 Jenis Kalimat


1. Berdasarkan jumlah inti pembentuknya, terdiri dari:
a. Kalimat minor ialah kalimat yang hanya
mengandung satu unsur inti atau pusat. Contoh:
Yudi.
Damai?
Mustahil!
b. Kalimat mayor ialah kalimat yang sekurang-
kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh: Upaya ke arah perdamaian kerap sulit
diwujudkan.
Keributan bahkan peperangan sering terjadi
di beberapa tempat.
2. Berdasarkan jumlah kontur (perhentian dalam
intonasi ucapan), terdiri dari:
a. Kalimat minim ialah kalimat yang hanya
mengandung satu unsur kontur.
Contoh: /Damai?/
/Mustahil!/
/Mana mungkin./
112

b. Kalimat panjang ialah kalimat yang mengandung


lebih dari satu unsur kontur. Contoh: /Upaya ke
arah perdamaian/ kerap sulit diwujudkan./
/Keributan/ bahkan peperangan/ sering
terjadi di beberapa tempat./
3. Berdasarkan jumlah inti dan urutan subjek-predikat,
terdiri dari:
a. Kalimat inti ialah kalimat yang terdiri dari dua
kata dan keduanya merupakan inti, sedangkan
urutan fungsi diawali subjek, diakhiri predikat,
dan intonasi netral atau berita.
Contoh: Adik bernyanyi.
Kemauannya kurang.
b. Kalimat luas ialah kalimat yang terdiri lebih dari
dua kata atau lebih yang merupakan inti,
sedangkan urutan fungsinya diawali subjek dan
diakhiri predikat.
Contoh: Marisa tidak akan pergi.
Akhirnya, usahanya gagal total.
c. Kalimat transformasi ialah kalimat kalimat inti
yang sudah mengalami perubahan, baik jumlah
kata atau inti, ataupun urutan subjek-predikat.
Contoh: Adik saya sedang bernyanyi di sebuah
panggung hiburan.
Kemauanya sangat kurang sehingga dia
tidak berhasil.
4. Berdasarkan jumlah pola kalimat, terdiri dari:
a. Kalimat tunggal ialah kalimat yang terdiri atas
satu pola kalimat.
Contoh: Pak tani memberantas hama padi. (S-P-O)
Hari ini, Bapak Camat menghadiri dua sejuta
umat. (K-S-P)
Kebersamaan sangat penting bagi rakyat
Indonesia. (S-P-Pel)
b. Kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri atas
lebih dari satu pola kalimat. Dibagi menjadi:
1) Kalimat majemuk bertingkat yaitu kalimat
tunggal yang bagian-bagiannya diperluas
sehingga perluasan itu membentuk satu atau
113

beberapa pola kalimat yang baru selain pola


yang sudah ada. Perluasannya dapat
menggunakan kata penghubung antarkalimat,
seperti: sebelum, sesudah, agar, supaya,
akibat, sebab, jika, kalau, walaupun, bahwa,
dsb.
Contoh: Pak tani memberantas hama padi
sebelum tanaman padi banyak
yang rusak. (S-P-O, S-P)
2) Kalimat majemuk setara yaitu kalimat majemuk
yang dibentuk dengan cara menggabungkan
beberapa kalimat tunggal. Kalimat-kalimat
tunggal tersebut bukan merupakan perluasan
dari salah satu fungsi kalimat lainnya, masing-
masing kalimat memiliki kedudukan yang sama.
Kata hubung yang digunakan adalah dan,
tetapi, melainkan, sedangkan, atau, padahal,
dan lalu.
Contoh: Ibu tersenyum dan ayah tertawa.
Orang tuanya berada tetapi anaknya
rendah hati.
5. Berdasarkan jenis dan bentuk kata kerja serta
subjek dan predikat, terdiri dari:
a. Kalimat aktif yaitu kalimat yang subjeknya
melakukan pekerjaan, sedangkan objek menjadi
sasaran dari objek, dan biasanya predikatnya
berawalan meN-. Contoh: Saya menulis surat.
Saya sudah mencuci mobil.
b. Kalimat pasif yaitu kalimat subjeknya menjadi
tujuan objek, sedangkan objeknya melakukan
pekerjaan, dan biasanya predikat berawalan
di-,ter-, atau tanpa awalan.
Contoh: Surat ditulis adik.
Ajing dipukul kakak.
6. Berdasarkan keberadaan objek, terdiri dari:
a. Kalimat transitif ialah kalimat yang tidak
memerlukan objek.
Contoh: Dia sedang tidur.
114

b. Kalimat intransitif ialah kalimat yang memerlukan


objek.
Contoh: Anak itu menangisi ibunya.

4.1.3 Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia


Ciri-ciri kalimat dasar:
1. Terdiri atas kalimat tunggal;
2. Unsur-unsurnya lengkap;
3. Urutan unsur-unsurnya umum;
4. Tidak mengandung pertanyaan dan pengingkaran.
(a) Kalimat dasar berpola S-P
Kalimat dasar berpola ini memiliki unsur subjek dan
predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini berupa kata
kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan.
Contoh:
(1) Mereka sedang berenang.
(2) Ayahnya guru SMA.
(3) Gambar itu bagus.
(4) Peserta penataran itu empat puluh orang.

(b) Kalimat dasar berpola S-P-O


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek,
predikat, dan objek. Contoh:
(5) Mereka sedang menyusun karangan ilmiah.

(c) Kalimat dasar berpola S-P-Pel


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek,
predikat, dan pelengkap. Contoh:
(6) Anaknya beternak ayam.

(d) Kalimat dasar berpola S-P-O-Pel


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek,
predikat, objek, dan pelengkap. Contoh:
(7) Dia mengirimi saya surat.

(e) Kalimat dasar berpola S-P-K


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek,
predikat, dan keterangan. Contoh:
115

(8) Mereka berasal dari Surabaya.

(f) Kalimat dasar berpola S-P-O-K


Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek,
predikat, objek, dan keterangan. Contoh:
(9) Kami memasukkan pakaian ke dalam
lemari.

4.1.4 Kalimat yang Baik dan Benar


Berkaitan dengan karya ilmiah, kalimat-kalimat
yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah haruslah
kalimat yang baik dan benar. Artinya, kalimat-
kalimatnya harus disusun sesuai dengan kaidah yang
berlaku, serta harus dapat menyampaikan pesan atau
informasi secara tepat.
Ciri-ciri kalimat yang baik dan benar
 Kalimat memiliki subjek yang jelas;
 Kalimat memiliki predikat yang jelas;
 Bagian kalimat majemuk tidak dipenggal;
 Kalimat disusun secara padu;
 Kalimat memiliki bentuk-bentuk yang sejajar
(paralel);
 Susunan kalimat dengan kata-kata yang hemat,
yaitu:
(1) tidak mengulang subjek yang sama dalam
kalimat majemuk;
(2) tidak menjamakkan kata yang bermakna jamak;
(3) menghilangkan bentuk yang bersinonim;
(4) menghilangkan kata superordinat pada kata
yang merupakan hiponiminya;
(5) menghilangkan kata saling pada kata kerja
resiprokal.
 Susunan kalimat dengan ketunggalan arti (tidak
ambigu);
 Susunan kalimat harus logis.

4.1.5 Kalimat Efektif


Kalimat efektif merupakan bagian dari bahasa
ragam baku. Bahasa baku adalah bahasa yang memiliki
116

kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan


yang tetap; dan sifat Kecendekiaan yang diwujudkan
dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lainnya
yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau
pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Dengan
demikian, kemantapan dinamis dan Kecendekiaan
merupakan bagian dari kalimat efektif.

Ciri-ciri Kalimat Efektif


(a) Kepaduan
Kepaduan atau koherensi ditunjukkan pada unsur-
unsur kalimat, yaitu pada hubungan antara subjek,
predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kepaduan
kalimat biasanya dirusak oleh kesalahan penempatan
kata yang sesuai dengan struktur kalimat, kata yang
maknanya sama, kesalahan penempatan preposisi,
konjungsi, dan kata tugas. Contoh:
(1)Penghapusan PP No. 37 tentang pemberian
tunjangan komunikasi bagi anggota DPRD
keinginan dari pada masyarakat.
Seharusnya: Penghapusan PP No. 37 tentang
pemberian tunjangan komunikasi anggota DPRD
keinginan masyarakat.
(2)Agar supaya cepat selesai kuliah, kalian harus
rajin belajar dan menaati aturan yang berlaku
pada perguruan tinggi ini.
Seharusnya: Agar cepat selesai kuliah, kalian
harus rajin belajar dan menaati aturan yang
berlaku di perguruan tinggi ini.
(3)Saya belum makan nasi goreng buatan nenek.
Seharusnya: Saya belum memakan nasi goreng
buatan nenek./ Belum saya makan nasi goreng
buatan nenek.
(b) Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan jenis kata-kata yang
mempunyai gagasan dalam kalimat. Apabila gagasan
utama dalam kalimat itu terletak pada kata pertama
kata benda, gagasan kata keduanya juga kata benda.
Apabila gagasan utama kalimat tersebut pada kata
117

pertama kata kerja, gagasan kata keduanya juga harus


kata kerja, dan seterusnya. Contoh:
(4)Penyakit flu burung merupakan penyakit
berbahaya dan mengerikan sebab pencegahan
dan mengobatinya masih belum banyak yang
tahu.
Seharusnya: Penyakit flu burung merupakan
penyakit membahayakan dan mengerikan sebab
pencegahan dan pengobatannya masih belum
banyak yang tahu.
(c) Kelogisan
Benar dan salahnya sebuah kalimat bukan hanya
ditentukan oleh strukturnya, tetapi ada juga unsur lain
yang harus diperhatikan, yaitu kelogisan maknanya.
Kalimat yang maknanya tidak logis bukan hanya
membingungkan pendengar atau pembaca, tetapi juga
tidak bisa menyampaikan pesan secara akurat. Contoh:
(5)Toko itu menjual buku pelajaran bahasa
Indonesia.
(6)Polisi sibuk mengatur kemacetan lalulintas.

Kedua kalimat (5 dan 6) tersebut tidak logis.


Ketidaklogisannya terletak pada hubungan subjek dan
predikat. Kalimat (5) yang biasa menjual itu bukan
tokonya, melainkan pemilik toko, sedangkan kalimat
(6) bermakna polisi sengaja membuat lalulintas
menjadi macet. Seharusnya kelimat tersebut:
(5a) Di toko itu dijual buku pelajaran bahasa
Indonesia.
(6a) Polisi sibuk mengatur lalulintas.

CATATAN BUAT PENULIS


1. BUAT SOAL LATIHAN BERUPA
PERBAIKAN KALIMAT BESERTA
KOLOM JAWABAN!
2. SOAL SEBANYAK 15 KALIMAT
3. TAMBAHAN APABILA MATERI
KURANG