Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN

MATA KULIAH DENTISTRY UPDATE


RESTORASI ESTETIS PADA ANAK

Kelompok G
Anggota:
Ahmad Alan Suhaimi (171610101077)
Afifah Firda Amalia (171610101078)
Yuriza Adelita Yolanda (171610101079)
Nabela Dhea Ulhaq (171610101080)
Usykuri Naila Iflachiana (171610101081)
Farah Rachmah Aulia Wardani (171610101082)
Rahmat Agung (171610101083)
Riris Aria Dewanti (171610101084)
Zhafirah Alifia Putri (171610101085)
Johan Al Falah (171610101086)
Nadira Safira (171610101087)
Hafizhun Dinmas Fakhriy (171610101088)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan nikmat rahmat-
Nya, laporan ini dapat kami selesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulisan laporan “Restorasi Estetis pada Anak” ini bertujuan untuk
memenuhi tugas pada Mata kuliah Dentistry Update di semester 6 tahun ajaran
2019/2020. Disamping itu, tujuan kami menulis laporan ini adalah untuk lebih
memahami dan mengkaji mengenai implan di bidang kedokteran gigi.
Tim penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing serta
teman-teman dan pihak terkait yang membantu tersusunnya laporan ini. Penulis
menyadari, bahwa kami merasa kurang dalam menyusun dan menghimpun informasi
sehingga laporan ini masih memiliki banyak kekurangan, maka dari itu diharapkan
adanya kritik dan saran agar laporan ini menjadi lebih baik.
Kami harap laporan “Restorasi Estetis pada Anak” ini dapat memberikan
informasi yang berguna bagi banyak orang sehingga mampu dimanfaatkan sebaik
mungkin. Semoga informasi dalam laporan ini mampu menyumbangkan pengetahuan
yang bermanfaat.

Jember, 7 Maret 2020

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL .
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR TABEL iv
ABSTRAK 1
PENDAHULUAN 2
PEMBAHASAN 3
1. Jenis Perawatan Restoratif Estetik pada Gigi Anak 3
2. Metode Perawatan Restoratif Gigi Sulung Masa Kini 14
3. Perawatan Rehabilitatif Prostetik pada Kasus Kehilangan Gigi Sulung 21
4. Cara Alternatif Meningkatkan Estetika pada Gigi Anak 25
KESIMPULAN 25
DAFTAR PUSTAKA 25

ii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Karies Botol 2
Gambar 2. Polycarbonate Crown 10
Gambar 3. Strip Crown 11
Gambar 4. Pedo-jacket Crown 11
Gambar 5. Artglass Crown 12
Gambar 6. Open Faced Stainless Steel Crown 12
Gambar 7. Zirconia Crown 12
Gambar 8. Cerec Crown (All ceramic crown) 13
Gambar 9. Metode Perekatan Fragmen Gigi Sulung 14
Gambar 10. Natural Tooth Pontic 14
Gambar 11. Contoh Kasus 17
Gambar 12. Post Space Preparation 51 dan 61 17
Gambar 13. Gamma loop pasca sementasi 18
Gambar 14. A) Penempatan Ribbon Post, B) Ribbon setelah kuring 18
Gambar 15. Penempatan Ribbon 19
Gambar 16. Posting Ribbon sembuh 19
Gambar 17. Tampilan frontal pasca operasi 20
Gambar 18. Modified Hawley’s Appliance 22
Gambar 19. Modified Nance Palatal Arch 22
Gambar 20. Glass Fiber-Reinforced Composite Resin Space Maintainer 23
Gambar 21. Removable Partial Denture (RPD) 24
Gambar 22. Complete Denture 24

iii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki GIC 5
Tabel 2. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki RMGIC 6
Tabel 3. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki Kompomer 8
Tabel 4. Composite Free-hand Layering Technique 16

iv
RESTORASI ESTETIS PADA ANAK

Abstrak
Sejumlah kondisi dapat menyebabkan gigi-geligi anak menjadi
tidak estetis dan sehat, seperti karies gigi, perubahan warna, trauma,
kehilangan gigi prematur, misalignment dan segala bentuk dan ukuran
yang tidak normal. Perawatan kedokteran gigi secara estetis memainkan
peran penting tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga pada anak.
Mempertahankan gigi sulung sampai waktu tanggal alami adalah hal
penting. Oleh karena itu, berkembanglah beberapa macam perawatan
berupa perawatan restorasi menggunakan bahan seperti GIC, RMGIC,
Kompomer, Komposit beserta berbagai turunannya, dan berbagai jenis
Crown dan juga teknik tertentu seperti penggunaan pasak Gamma Loop,
Ribbond Polyethylene Fibre Post dan Free Hand Komposit, yang
diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengembalikan fungsi dan
estetika pada gigi sulung untuk anak usia dini, pengembangan bicara, dan
membangun individu yang percaya diri. Selain prosedur restorasi, di
masa kini juga telah dikembangkan berbagai metode perawatan
rehabilitatif prostetik pada kasus kehilangan gigi sulung dan juga
prosedur pengembangan estetik bagi gigi anak. Berbagai prosedur di atas
merupakan referensi dalam meningkatkan estetika serta mempertahankan
fungsi gigi pada anak. Maka dari itu, review ini menyoroti berbagai
kemajuan terkini dalam bidang kedokteran gigi estetika untuk anak
beserta indikasi, kelebihan, dan kekurangannya.
Kata Kunci: Restorasi estetis, komposit, gamma loop, polyethylene fibre

v
PENDAHULUAN
Di zaman sekarang, ada banyak pilihan yang tersedia untuk pengobatan
kondisi permasalahan gigi seperti karies botol, enamel hipoplasia, perubahan warna
gigi, gigi retak, dan bruxism yang dapat menyebabkan gangguan estetika pada anak-
anak. Yang mana pengobatan untuk kondisi-kondisi di atas mengarah pada
permintaan bahan yang lebih baik dan unggul sehingga dapat mengkompensasi
masalah yang ada.

Gambar 1. Karies Botol


Karies botol adalah suatu karies yang terjadi pada bayi dan anak yang usianya
masih sangat muda, dimana ditandai dengan pola tersendiri atau pola yang khas
berupa karies yang hebat dan parah pada gigi sulung yang disebabkan pemberian
makanan/susu/ASI yang tidak tepat.
National Institute of Dental and Craniofacial Research (NIDCR)
mengeluarkan definisi Early Childhood Caries (ECC) yaitu adanya satu atau lebih
karies pada permukaan gigi sulung/desidui. ECC merupakan bagian dari karies gigi
yang progresif terjadi setelah gigi anak erupsi, prosesnya sangat cepat berkaitan
dengan infeksi yang menyeluruh dan berhubungan dengan diet serta mungkin saja
berdampak buruk pada pertumbuhan anak.
Meskipun pengenalan metodologi terbaru untuk restorasi kondisi gigi yang
rusak telah menjadi suatu anugerah pada bidang kedokteran gigi, tetapi tetap saja sulit
bagi dokter gigi untuk menyenangkan pasien-pasien yang menginginkan estetika
dengan level superior. Dengan munculnya globalisasi yang sangat pesat, kedokteran
gigi memasuki bidang kesadaran baru di mata masyarakat luas dimana populasi anak
dengan usia kurang dari 3 tahun menginginkan kondisi rongga mulutnya terlihat lebih
baik, dan sekarang masyarakat sadar bahwa dokter spesialis Pedodontist (Kedokteran

vi
Gigi Anak) dapat membantu mereka dengan memberikan solusi yang terbaik untuk
masalah-masalah yang kompleks, seperti manajemen ruang, gigi anterior yang
terkena karies, gigi patah, dll. yang mana masalah-masalah tersebut dianggap sangat
menantang untuk para klinisi dokter gigi .
Menurut Chaudhary et al. (2015), menyatakan bahwa kurang lebih
seperempat dari anak-anak di bawah usia 8 tahun menderita cedera pada gigi anterior
mereka. Dengan demikian, masalah trauma pada gigi anterior anak-anak adalah
cedera yang paling umum terjadi di dunia saat ini.
Restorasi gigi anterior yang mengalami trauma cenderung dianggap sulit
untuk dikerjakan, karena dalam hal ini gigi sulung berukuran sangat kecil, memiliki
lapisan enamel penutup yang lebih tipis untuk etsa dan bonding sehingga pulpa lebih
mudah terpapar, selain itu posisi tanduk pulpa gigi sulung juga lebih tinggi dan
lapisan permukaan dentin lebih tipis daripada gigi permanen. Sehingga hal tersebut
membuat waktu perawatan pada anak bertambah lama yang mana juga dapat
membuat anak mengalami peningkatan kecemasan.

PEMBAHASAN

Jenis Perawatan Restoratif Estetik pada Gigi Anak


Restorasi gigi adalah perbaikan gigi yang berlubang atau rusak, untuk
mengembalikannya kepada fungsi bentuk, dan penampilan normalnya. Dalam
perencanaan pemilihan restorasi harus dilakukan dengan beberapa pertimbangan
seperti :
a. Banyaknya jaringan gigi yang tersisa
b. Fungsi gigi
c. Posisi atau lokasi gigi
d. Morfologi atau anatomi saluran akar
Semakin sedikit sisa dari struktur gigi dan semakin besar fungsi gigi dalam
lengkung rahang, pemilihan restorasi harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Gigi
dengan sisa struktur gigi yang sedikit dan beban kunyah yang besar memiliki risiko
fraktur yang lebih tinggi, sehingga perencanaan harus dilakukan dengan lebih baik

vii
(Ford, 2004). Secara umum menurut posisi atau lokasi restorasi gigi dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu :
a. Restorasi gigi anterior
Gigi anterior yang telah dirawat dan memiliki struktur jaringan gigi yang
sehat masih banyak, serta retensi yang cukup, dapat diindikasikan restorasi
secara langsung dengan komposit resin atau semen glass ionomer, sedangkan
gigi anterior dengan sisa jaringan keras gigi sedikit, retensi dari jaringan gigi
yang tersisa tidak adekuat, dan tidak dapat digunakan restorasi lain, maka
diindikasikan menggunakan pasak dan inti. Mahkota pasak diindikasikan
menjadi restorasi setelah perawatan endodontik pada gigi anterior jika jaringan
keras gigi yang tersisa tidak memiliki bentuk retensi yang adekuat. Mahkota
pasak menjadi kontraindikasi pada keadaan seperti terdapat tanda kegagalan
perawatan endodontik, retensi, dan resistensi cukup untuk direstorasi
menggunakan bahan plastis, serta jika terdapat lateral stress akibat bruxism atau
heavy incisal stress. Restorasi komposit menjadi kontraindikasi jika sisa jaringan
kurang dari sepertiga koronal. Gigi anterior juga kontraindikasi dengan bahan
amalgam karena amalgam tidak memiliki nilai estetika.
b. Restorasi gigi posterior
Gigi posterior menerima beban kunyah lebih besar dibandingkan dengan
gigi anterior, karena itu pertimbangan dalam pemilihan restorasi juga berbeda.
Faktor yang paling utama dalam menentukan restorasi adalah banyaknya jaringan
gigi sehat yang tersisa. Gigi posterior secara umum tidak menggunakan mahkota
pasak sebagai restorasi, tetapi jika bahan restorasi yang lain tidak memiliki
retensi yang cukup untuk menggantikan struktur gigi yang hilang maka mahkota
pasak menjadi pilihan. Gigi posterior tidak membutuhkan restorasi dengan nilai
estetika yang tinggi, namun jika pasien mengiginkan restorasi yang estetis maka
bahan porselen menjadi pilihan.

Bahan restorasi di bidang kedokteran gigi memiliki banyak macam jenisnya,


dan masing-masing bahan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

viii
Berikut adalah bahan-bahan restorasi estetik yang bisa diaplikasikan pada gigi anak
sebagai perawatan estetis pada klinik pedodonsia:
1. Glass Ionomer Cement (GIC)
Glass Ionomer Cement (GIC) merupakan bahan tambal sewarna gigi yang
komponen utamanya terdiri dari likuid yang merupakan gabungan air dengan
polyacid (Asam poliakrilat, maleat, itakonat, tartrat) dan bubuk berupa
fluoroaluminosilicate glass (Anang, Mariati.2015). Bahan ini bersifat anti kariogenik
oleh karena mampu melepaskan flourida, mempunyai thermal compatibility dengan
enamel gigi, serta mempunyai biokompatibilitas yang baik (Jurnal PDGI.2012).
Berikut merupakan perbandingan keunggulan serta kekurangan yang dimiliki
Glass Ionomer Cement (GIC) :
Keunggulan Kekurangan

• Kuat (memiliki compressive • Fase pada saat setting time :


strength), fase pertama mudah terpengaruh oleh
• Memiliki daya lekat yang kuat air, sedangkan pada fase kedua justru
terhadap dentin dan email serta mudah terjadi dehidrasi,
logam, • Kurang kuat melekat pada
• Mempunyai kemampuan aliran porselein dan emas murni,
yang tinggi • Manipulasi dan teknik
• Non atau sedikit iritatif, memasukkan ke dalam kavitas cukup
• Secara biologis dapat diterima sulit,
jaringan keras gigi, pulpa, dan • Perbandingan ukuran bubuk dan
gingiva, cairan kurang tepat,
• Melepas fluor, dan mencegah • Warna kurang stabil atau tidak
karies, persis sama dengan gigi,
• Tidak pelu etsa. • Mudah berubah bentuk.
Tabel 1. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki GIC

2. Resin Modified Glass Ionomer Cement

ix
Resin Modified Glass Ionomer Cement merupakan material restorasi yang
dihasilkan dari penggabungan sifat glass ionomer cement konvensional dengan resin
komposit. Perbedaan komposisi dijumpai pada liquid (cairan) dimana terdapat
penambahan HEMA (2-hydoxyethylmethacrylate) selain mengandung asam
polikarboksilat dan air. Pengerasan pada resin modified glass ionomer cement terjadi
dalam 2 tahapan yaitu reaksi asam basa dan polimerisasi.
Berikut merupakan perbandingan keunggulan serta kekurangan yang dimiliki
Resin Modified Glass Ionomer Cement :
Keunggulan Kekurangan
• HEMA (sebagai wetting agent • Jumlah ion fluor yang
) untuk mengurangi kerentanan dilepaskan glass ionomer cement
ionomer cement terhadap air sedikit lebih kecil/sama dengan GIC
sehingga meningkatkan adhesi dan (Attar, 2003; Seixas, 2004
sifat mekanik RMGIC Tyas,2008)
• Estetik lebih baik dari GIC
• Sifat brittle minim
• Untuk restorasi klas I dan klas
II gigi sulung yang diketahui
memiliki beban kerja yang lebih bes
dibandingkan restorasi klas III, IV,
dan V
• Sifat mekanik tinggi-shelf life
tinggi
• Setting time cepat
• Jarak resin tag yang pendek
diasumsikan cukup memadai untuk
digunakan sebagai bahan tumpatan
gigi sulung
Tabel 2. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki RMGIC

3. Komposit

x
Bahan restorasi resin komposit di bidang kedokteran gigi sekarang ini
semakin banyak digunakan. Keadaan ini disebabkan oleh kemajuan teknologi dalam
bidang material kedokteran gigi. Para peneliti telah membuktikan bahwa resin
komposit mempunyai sifat fisik dan mekanik resin dan menyebabkan perubahan sifat
mekanis resin yang lebih baik jika dibandingkan dengan bahan tumpatan lain yang
diketemukan sebelumnya, misalnya silikat ataupun resin akrilik. Kelebihan resin
komposit yang lain yaitu pada waktu tahap preparasi tidak mernbuang jaringan dari
gigi terlalu banyak, perlekatannya secara adesif dan mempunyai nilai estetik yang
baik.
A. Kompomer
Kompomer/ Dyract/ Dentsply merupakan salah satu material restorasi
sewarna gigi yang didesain untuk menggabungkan sifat positif glass ionomer
cement (GIC) dengan resin komposit. Kompomer didefinisikan sebagai Polyacid-
Modified Resin. Kompomer pada dasarnya lebih mendekati resin komposit, yaitu
mengeras dengan penyinaran, dengan penambahn komponen esensial dari GIS
yaitu ion releasing fluorosilicate glass particles yang dapat melepas fluor. Beda
dari kompomer dan komposit adalah bahwa monomer kompomer berisi grup
fungsional asam yang dapat berperan dalam reaksi asam basa mengikuti
polimerisasi molekul resin. Bagaimana pun juga, kompomer tetap bukan Glass
Ionomer. GI yang sejati harus terdiri dari dua komponen sistem yang
menggunakan reaksi asam-basa yang dapat terjadi segera. GI konvensional harus
diaduk sebelum penggunaan. Dengan kompomer ada satu sistem tunggal yang
tidak boleh terkena air untuk mencegah reaksi prematur GI.
Polimerisasi resin terjadi terhadap kompomer setelah bahan diletakkan.
Reaksi GI dapat terjadi jika terdapat air. Air adalah medium yang penting dalam
reaksi asam-basa. Dengan adanya air dalam rongga mulut, grup fungsional Asam
yang terikat dengan unit monomer yang sekarang menjadi bagian bahan yang
berpolimerisasi dapat bereaksi dengan Basa (Glass) untuk menstimulasi reaksi GI.
Sebagai hasil dari reaksi ini, fluorida dilepaskan. Kadar pelepasan fluorida dari
kompomer secara signifikan lebih rendah daripada GI atau RMGI.

xi
Berikut merupakan perbandingan keunggulan serta kekurangan yang
dimiliki Kompomer/ Dyract/ Dentsply:

Keunggulan Kekurangan
• Mampu melepas ion fluor • Meskipun kompomer ini dapat
merupakan salah satu keunggulan diterima oleh pulpa, namun untuk
kompomer dibandingkan dengan resin karies yang dalam perlu bahan
komposit konvensional pelindung pulpa
• Mampu menetralisir kondisi • Aplikasi pada gigi permanen
asam (buffering capability), terbatas dan disarankan untuk kavitas
• Aplikasi yang relaif mudah Klas III dan Klas V (Boberick et al,
karena dikemas dalam bentuk 2002)
compule yang tidak membutuhkan
pengadukan seperti halnya RMGIC,
dan
• Memiliki adhesi yang cukup
baik ke jaringan keras gigi tanpa
pengetsaan
• Dapat dipakai sebagai bahan
tumpat Klas I sampai Klas V Black,
juga bisa untuk membentuk cor, dan
mahkota tiruan gigi sulung
Tabel 3. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki Kompomer

B. Komposit Packable (Komposit Kondensasi)


Sejalan dengan penggantian amalgam, ditemukan keterbatasan bahan
komposit di pasaran termasuk ketahanan terhadap penggunaan, fraktur dari badan
dan tepi tambalan dan kebocoran tepi karena pengerutan selama polimerisasi dan
teknik yang sensitif untuk mencapai kontak proksimal yang adekuat dalam
tambalan akhir. Komposit Packable atau komposit yang dapat dikondensasi baru-
baru ini dikenalkan sebagai pengganti amalgam. Bahan ini mengandung filler yang

xii
lebih banyak dan tersebar. Sebagai hasilnya konsistensinya lebih keras daripada
komposit hibrid. Keuntungan bahan ini adalah memudahkan kontak interproksimal
dalam restorasi kelas II.
C. Ceromer
Istilah Ceromer diambil untuk Ceramic Optimized Polymer dan dikenalkan
oleh Ivoclar untuk menggambarkan kompositnya Tetric Ceram. Material ini berisi
pasta Barium Glass (<1m), spheroidal mixed oxide, ytterbium trifluorid dan
silikon dioksid (57% volume) dalam monomer dimetakrilat (Bis-GMA) dan uretan
dimetakrilat. Mengeras dengan polimerisasi C=C dari metakrilat. Bahan ini harus
berikatan dengan struktur gigi. Bahan dalam kompomer identik dengan komposit
dan bahan ini mengeluarkan fluorida lebih rendah daripada GI atau Kompomer.
D. Ormocer
Ormocer merupakan akronim dari Organically Modified Ceramic (Keramik
Organik Modifikasi). Bahan ini merupakan gabungan dari inorganik-organik ko-
polimer dalam formulanya. Ko-polimer organik ini disintesa dari multifungsional
uretan dan tioeter (met)akrilat aloksilen seperti sol-gel.
Grup alkoksilil dari silane membuat formasi dari jaringan inorganik Si-O-Si
mengalami hidrolisis dan mengalami reaksi polikondensasi. Grup metakrilat bisa
untuk polimerisasi fotokemikal/dengan penyinaran. Partikel filler sebesar 1-1,5
m dan material berisi 77% berat filler dan 61% volume filler.
E. ‘Smart’ Komposit
Komposit ini diperkenalkan sebagai produk Ariston pHc di tahun 1998.
Ariston pHc merupakan bahan komposit yang melepaskan ion, yakni ion fluorida,
hidroksil dan ion kalsium pada saat pH turun di tempat yang berdekatan dengan
bahan tambal. Turunnya nilai pH adalah karena plak yang aktif sehingga
meningkatkan pelepasan ion. Smart Komposit bekerja berdasarkan pengembangan
terbaru filler glass alkalin yang mengurangi pembentukan karies sekunder di tepi
tambalan dengan mencegah perkembangan bakteri. Sebagai hasilnya dapat
mengurangi demineralisasi dan sebagai buffer terhadap asam yang dibentuk
mikroorganisme.

xiii
Pasta berisi Ba, Al, and F filler glass silikat (1 µm) with ytterbium trifluorid,
silikon dioksid dan alkalin Ca glass silikat (1.6 µm) dalam monomer dimetakrilat:
ini berisi 80% berat dan 60% volume. Penggunaan bahan adhesif terhadap gigi
tidak perlu. Namun dentin harus ditutup untuk mengurangi sensitifitas. Fluorida
yang dilepaskan dari bahan lebih rendah dari GI konvensional namun lebih tinggi
dari kompomer.
F. Resin Komposit Nanofil
Resin komposit nanofil mempunyai ukuran partikel filler yang sangat kecil
yaitu sekitar 0,005-0,01 µm sehingga kekuatan dan ketahanan hasil poles yang
dihasilkan sangat baik3 . Partikel nano yang kecil menjadikan resin komposit
nanofil dapat mengurangi polymerization shrinkage dan mengurangi adanya
microfissure pada tepi email yang berperan pada marginal leakage, dan perubahan
warna.

4. Crown
Tujuan utama pemasangan crown ini adalah untuk mendapatkan fungsi estetis
yang baik. Perubahan yang luar biasa terlihat pada citra diri pasien setelah koreksi
tekstur, shade, bentuk, dan fungsi fisiologis yang baik. (Mittal et al: 2016)
Klasifikasi:
a. Polycarbonate Crown
Terbuat dari resin polikarbonat yang menggabungkan serat mikro-kaca
(microglass fibers) yang dapat digunakan pada gigi sulung anterior yang
kemudian akan dilepas di masa mendatang.

Gambar 2. Polycarbonate Crown


b. Strip Crown

xiv
Strip crown adalah cetakan plastik yang digunakan untuk restorasi pada gigi
anterior, juga disebut mahkota seluloid. Umumnya diisi dengan komposit & di
bonding pada gigi. Metode ini mudah dipasang,dilepas, dan mudah diperbaiki.

Gambar 3. Strip Crown


c. Pedo-jacket Crown
Terdiri dari bahan poliester yang sewarna dengan gigi dan diisi dengan
bahan resin. Penempatan mahkota ini dapat diselesaikan dalam sekali pertemuan
dan dapat dilepas dengan gunting. Hanya tersedia dalam satu warna sehingga
pemilihan warna tidak dimungkinkan.

Gambar 4. Pedo-jacket Crown

d. Artglass Crown
Artglass umumnya disebut sebagai "mahkota organik". Terdiri dari 55%
mikroglass dan 20% silika. Merupakan metakrilat baru multifungsi dengan
kemampuan membentuk struktur molekul tiga dimensi yang saling berhubungan.

xv
Gambar 5. Artglass Crown
e. Open Faced Stainless Steel Crown
Hartmann pada tahun 1983 memperkenalkan stainless steel crown yang
tahan lama, hemat biaya, dan dapat digunakan untuk restorasi gigi insisivus sulung
yang patah. Mahkota ini memiliki estetika yang unggul daripada SSC
konvensional.

Gambar 6. Open Faced Stainless Steel Crown


f. Zirconia Crown
Mahkota zirkonia dikembangkan oleh John P Hansen & Jeffery P Fisher
(2010). Zirkonia adalah bentuk zirkonium dioksida yang memiliki estetika baik
dan kekuatan. Mahkota zirkonia adalah bahan terkuat yang digunakan dalam
kedokteran gigi dan dapat digunakan untuk gigi desidui maupun gigi permanen.

Gambar 7. Zirconia Crown

xvi
xvii
g. Cerec Crown (All ceramic crown)
Pembuatan mahkota Cerec didasarkan pada teknologi CAD / CAM.
Mahkota ini tidak memiliki logam di dalamnya sehingga estetika cukup baik dan
tersedia dalam berbagai warna.

Gambar 8. Cerec Crown (All ceramic crown)

5. Restorasi Biologis
Restorasi biologis didefinisikan sebagai rekonstruksi yang tepat untuk gigi
yang rusak secara ekstensif melalui fragmen (Correa et al: 2010). Restorasi biologis
tidak mempertahankan struktur gigi tetapi juga memberikan warna alami dan bentuk
anatomi (Indira et al: 2014). Teknik ini membutuhkan keahlian profesional untuk
mempersiapkan dan menyesuaikan mahkota alami secara memadai.
a. Perekatan Fragmen
Perekatan fragmen adalah pilihan paling konservatif yang membentuk
harmoni fungsional dan estetika. Perekatan fragmen gigi adalah pendekatan
konservatif yang memungkinkan restorasi gigi dengan minimal kehilangan sisa
struktur gigi.

xviii
Gambar 9. Metode Perekatan Fragmen Gigi Sulung
b. Natural Tooth Pontic
Natural tooth pontic bisa menjadi teknik alternatif karena memberikan
manfaat dengan ukuran, bentuk, warna yang tepat, dan layak secara ekonomi (Jain
et al: 2015). Dapat dengan mudah dimodifikasi untuk penggantian tetap sementara
yang mengurangi dampak psikologis pada pasien.

Gambar 10. Natural Tooth Pontic

Metode Perawatan Restoratif Gigi Sulung Masa Kini


1. Retainer Intrakanal (Pasak) untuk Gigi Sulung
Diperlukan adanya pasak sebagai retensi tambahan pada kasus tertentu.
Terdapat berbagai macam variasi pasak dari pasak cor konvensional yang dibuat
sesuai keinginan sampai pasak buatan pabrik (Musani I., dkk., 2011).

xix
Indikasi pemakaian pasak pada gigi sulung
• 2/3 struktur gigi tersisa tidak diindikasikan
• ½ struktur mahkota hilang
• Minimal tersisa 1 mm struktur gigi pada supragingiva
• Alasan utama menggunakan pasak adalah memberikan dukungan untuk
restorasi, meningkatkan resistensi gigi yang direstorasi pada beban
mekanis.
Macam-macam pasak yang dapat digunakan pada gigi sulung ada beberapa
jenis, dan digunakan berdasarkan beberapa indikasi, yaitu sebagai berikut:
A. Pasak Gamma Loop
Pasak gamma loop diperkenalkan oleh Mortada dan King. Pasak omega
loop dibuat dari kawat ortodonti dengan diameter 0,7mm. Gamma loops
menggunakan bahan stainless steel yang dibentuk seperti omega pada jalan masuk saluran
akar untuk merestorasi mahkota dengan materi kompomer (Kumar R. dan Sinha A.,
2014).
Indikasi penggunaan pasak gamma loop adalah:
•Perawatan gigi yang harus dilakukan dengan cepat,
•Gigi dengan beban kunyah minimal,
•Pasien harus dilakukan perawatan endodontic terlebih dahulu.
B. Polyethylene fibers (ribbond)
Merupakan suatu bahan yang berbentuk seperti pita yang berupa anyaman
yang sangat tahan lama, memiliki anyaman terpola (locked-stitched threads) yang
secara efektif dapat menyalurkan tekanan tanpa menyalurkan kembali tekanan ke
resin. Polyethylenen fiber tersedia dalam berbagai ukuran lebar (1mm, 2mm, dan 3mm,
sesuai lebar saluran akar). Polyethylene fiber memiliki 3 jenis spectra yaitu spectra
900,1000,dan 2000. Ketiganya memiliki spesifikasi yang berbeda.
Indikasi penggunaan pasak fiber polietilen (ribbond) adalah:
•Gigi dengan akar yang sempit, sehingga cocok untuk digunakan pada gigi
sulung
•Gigi dengan beban kunyah rendah

xx
•Pasien harus dilakukan perawatan endodontic terlebih dahulu
•Gigi yang memerlukan tingkat aestetik yang tinggi
•Digunakan pada gigi sulung, karena tidak mengganggu resorpsi akar
fisiologis
Fiber Polietilen yang dikombinasikan dengan Resin Komposit memiliki
banyak keuntungan, diantaranya:
1. Estetis baik
2. Cukup kuat
3. Resin komposit mampu beradaptasi baik dengan Fiber Polietilen
4. Penggunaan Fiber polietilen dengan resin komposit memberikan hasil
yang lebih baik dari fiber post dengan RMGIC dalam laporan kasus

2. Restorasi resin komposit free-hand layering technique


Resin komposit merupakan material yang sering di pilih untuk merestorasi
gigi anterior. Saat ini ilmu semakin berkembang, menjadi adanya konsep layering
(berlapis) dalam restorasi komposit. Pada prinsipnya, komposit diaplikasikan lapis
demi lapis sehingga mampu merefleksikan warna gigi secara alami.
Kelebihan Kekurangan
 Memberikan kesempatan kepada  Ketahanan fraktur
dokter gigi untuk menciptakan  Shear
restorasi yang lebih konservatif  Ketahanan tekan yang rendah
 Fungsional  Tidak cocok untuk gigi dengan
 Estetis tekanan kunyah besar yang
 Ekonomis ditemukan pada situasi klinis
 Tahan lama dengan waktu tertentu
pengerjaan yang singkat
Tabel 4. Composite Free-hand Layering Technique

xxi
3. Teknik Penggunaan Gamma Loop
Contoh Kasus
Seorang anak berusia 4,5 tahun datang bersama orang
tuanya dengan keluhan karies pada gigi anterior sejak
beberap bulan yang lalu. Pada pemeriksaan intraoral,
didapatkan beberapa lesi karies pada gigi 52, 51, 61,
62 (Figure 1 dan 2) dan 85. Dari pemeriksaan
radiografi, terlihat panjang akar gigi masih baik.
Sehingga, rencana perawatnnya adalah restorasi gigi
anterior maksila dengan pulpektomi dan pemasangan
pasak inti. Perawatan dilakukan atas persetujuan orang
tua pasien dengan mengisi inform consent.
Gambar 11. Contoh Kasus

Prosedur dalam pemasangan gamma loop dan perawatan restorasi sesuai


dengan kasus tersebut adalah sebagai berikut:
1. Insisivus sentral rahang atas dan insisivus lateral yang dilakukan perawatan
pulpektomi dan diobturasi dengan Vitapex (Neo dental Chemical Products Co Ltd)

Gambar 12. Post Space Preparation 51 dan 61


2. Membuat ruang pada intracanal dengan mengurangan Vitapex dari saluran akar (3-
4mm dari koronal) (dengan excavator kecil, dan lapisan tipis luting GIC (Semen
Luting dan Lining, GC Corporation, Tokyo, Jepang) diaplikasikan pada saluran
akar.

xxii
Gambar 13. Gamma loop pasca sementasi
3. Gamma loop posts (terbuat dari kawat stainless steel 0,6 mm) ditempatkan di 51
dan 61, pasak diikat dengan benang (dental floss) untuk mengantisipasi jika terjadi
aspirasi, ditunggu sampai luting setting (Figure 6 dan 7). Kemudian GIC dan
struktur koronal gigi dibersihkan dengan saline, dikeringkan, dietsa (eco-etch,
ivoclar vivadent), dicuci, dikeringkan, dan pengaplikasian bonding (adper ™
single bond 2, 3m, espe). lalu dilakukan penyinaran/curing.

A) B)

Gambar 14. A) Penempatan Ribbon Post, B) Ribbon setelah kuring


4. Penempatan core dan mahkota dengan cara free hand composite buildup.
5. Rencana perawatan untuk gigi 52 dan 62 menggunakan Ribbond post.
6. Vitapex pada saluran akar dikurangi 3mm dari bagian koronal, dapat diukur
menggunakan probe Williams.
7. Ribbond dipotong dengan ukuran dua kali lipat dari 3mm dan ditambah 2-3mm,
jadi ribbond yang digunakan 8-9mm. Proses yang dilakukan tidak boleh
mengkontaminasi ribbon yang akan digunakan.
8. Saluran akar siap untuk ditempati ribbond setelah dietsa selama 15 detik (Eco-
Etch, Ivoclar Vivadent), dibilas selama 30 detik, dan dikeringkan dengan udara.
Setelah itu bonding agent diaplikasikan (Adper Single Bond 2, 3M, ESPE) dan
dilakukan curing.

xxiii
9. Ribbond fibre diletakkan pada sebuah paper pad dan dilapisi dengan lapisan
unfilled resin (ClinproTM Sealant, 3M, ESPE). Kelebihan resin dihilangkan
dengan menekan Ribbond menggunakan pinset.

Gambar 15. Penempatan Ribbon


10. Setelah itu, fibre dilipat dan kemudian dimasukkan ke dalam kanal untuk
memaksimalkan penguatan kanal dengan fibre (Gambar 8).
11. Ribbond distabilkan dengan komposit flowable, yang kemudian di-curing.
Perawatan dilakukan untuk menjaga serat 2-3 mm di atas CEJ. Ujung ribbon strip
yang menonjol membantu memperkuat pembuatan inti pasak yang dilakukan
untuk menggantikan struktur korona gigi yang hilang. Pastikan resin mengisi
space antara ribbon strip yang diperpanjang agar tidak menimbulkan
terbentuknya rongga.

Gambar 16. Posting Ribbon sembuh


12. Free-hand composite build up dilakukan untuk mengembalikan struktur koronal.

xxiv
Gambar 17. Tampilan frontal pasca operasi
13. Kelebihan permukaan oklusal diperiksa dengan articulating paper, dan oklusi
yang telah direstorasi. Restorasi selesai dan dipoles. (Gambar10).
14. 54, 55, 64, 65, 74, dan 75 direstorasi dengan menggunakan semen ionomer kaca
(high-strength posterior restorative, GC Corporation, Tokyo, Jepang).
15. 85 dilakukan pulpektomi dan direstorasi dengan stainless steel crown (Hu-Friedy
Pedo Crowns).
Pentingnya mempertahankan gigi sulung, terkait peran dari gigi sulung dalam
mencegah maloklusi masa depan, dan konsekuensi dari hilangnya gigi sulung secara
prematur, jika dijelaskan kepada orang tua dengan baik, akan menyebabkan lebih
banyak jumlah gigi sulung yang direstorasi dibandingkan diekstraksi. Dalam kasus
ini juga, orang tua yakin untuk mempertahankan gigi sulung, meskipun gigi tersebut
telah mengalami kerusakan yang parah. Dalam rangka untuk berimprovisasi pada
retensi dan distribusi stres, pasak dan inti diperlukan sebagai koronal struktur gigi
yang dikompromiskan.
Untuk memperkuat intrakanal gigi anterior, seperti metal screw posts, Ni-Cr
coil spring posts, short composite posts, biological posts yang diperoleh dari tooth
bank, short wire posts (omega atau gamma loop) , pasak fiber glass siap pakai, dan
pasak fiber polietilen (ribbon posts). Struktur gigi koronal dapat dibentuk kembali
dengan direct incremental composite buildup, composite buildup dengan
menggunakan celluloid strip crowns, indiret composite buildup, dan biological shell
crowns. Pada pasien ini, menggunakan pasak gamma loop pada gigi insisiv sentral

xxv
dan ribbon posts pada insisiv lateral, dan bagian koronal digantikan dengan free-hand
direct composite buildup.
Pasak pra-pabrikasi tidak mengikuti kontur diskrit saluran akar, meskipun
cepat, murah, dan mudah digunakan. Meskipun pasak logam dapat digunakan untuk
gigi sulung, namun estetika warna menjadi pertimbangan. Kemudian , dapat
mempengaruhi resorpsi akar selama gigi tanggal alami. Pasak komposit memiliki
estetika yang bagus; Namun, penyusutan polimerisasi yang terkait dan inheren dapat
mengakibatkan retensi buruk. Aksesibilitas tooth bank merupakan prasyarat bagi
biological post yang juga masih menjadi subyek studi baru untuk kesimpulan masa
depan. Wire loops yang melengkung dan berubah bentuk menjadi alfa, gamma, dan
delta, telah lama digunakan oleh banyak dokter sebagai pasak untuk gigi sulung.
Kawat melengkung dalam bentuk alfa menimbulkan tekanan di dalam saluran akar,
dan ini dapat menyebabkan tekanan pada dentin. Meskipun dengan kawat
melengkung dalam bentuk gamma, tingkat keberhasilan 93% telah dilaporkan.

Perawatan Rehabilitatif Prostetik pada Kasus Kehilangan Gigi


Sulung
Prosthetic Rehabilitation dapat berperan penting dalam kasus gigi gagal untuk
berkembang. Edentulous memang memiliki banyak konsekuensi seperti, anak cacat,
deformasi kebiasaan lingual, dan gizi buruk, karena fakta bahwa pengunyahan sulit
atau tidak mungkin.
1. Modified Hawley’s Appliance- ini yang paling sering digunakan, dibuat pada
tahun 1920 yang merupakan sebuah alat removable aktif. Alat ini
menggabungkan clasp pada gigi molar dan karakteristik labial luar dengan
penyesuaian loop, mulai dari caninus ke caninus. Dalam kasus intrusi, luxasi,
atau avulsi, luas karies dan fraktur gigi pada anak-anak menyebabkan dampak
psikologis pada kedua orang tua dan anak terutama struktur gigi. Faktor-
faktor ini memerlukan penggantian gigi anterior menggunakan alat yang
memenuhi estetika dan kebutuhan fungsional. Dengan demikian, modifikasi
dari alat dilakukan dimana gigi akrilik yang tertanam ke akrilik dan stabil

xxvi
pada busur labial dari hawleys appliance untuk mengembalikan anterior
estetika dan fungsi.

Gambar 18. Modified Hawley’s Appliance


2. Modified Nance Palatal Arch- Ini pertama kali dijelaskan oleh Nance pada
tahun 1947, digunakan dalam kedokteran gigi anak bahkan sampai sekarang.
Lengkungan palatal melekat pada molar band, penempatan akrilik tertanam di
daerah rugae. Modified Nance Palatal Arch mudah untuk dibuat, mudah
mudah dirawat dan pilihan biaya-efektif, intermediet sebagai opsi gigi tiruan
pengganti. Dalam Modified Nance Palatal Arch, gigi akrilik ditempatkan di
anterior perpanjangan tombol akrilik.

Gambar 19. Modified Nance Palatal Arch


3. Glass Fiber-Reinforced Composite Resin Space Maintainer- Fiber yang
paling sering digunakan dalam praktik gigi. diperkuat dengan fiber polietilen
atau kaca, fiber dan dicekatkan ke gigi tetangga melalui bahan komposit.

xxvii
Gambar 20. Glass Fiber-Reinforced Composite Resin Space Maintainer
4. Removable Partial Denture (RPD): RPD didefinisikan sebagai prostesis gigi
yang mengembalikan satu atau lebih tetapi tidak semua gigi alami. Banyak
pasien memerlukan penggantian gigi yang hilang dan struktur terkait untuk
meningkatkan penampilan, meningkatkan efisiensi pengunyahan, dan untuk
meningkatkan estetika.
Keuntungan:
 dapat menggantikan banyak gigi
 biaya - murah jika dibandingkan dengan bridge atau implan
 cepat & mudah dibuat
Kekurangan:
 memuat potensi terbatas
 menyebabkan resorpsi tulang
 masalah retensi plak memperburuk
 miskin menggenggam & dukungan
 seumur hidup terbatas

xxviii
Gambar 21. Removable Partial Denture (RPD)
5. Complete Denture: Dalam kasus pasien muda edentulous, yang pertumbuhan
kraniofasial mereka belum sempurna, pengobatan dengan gigi tiruan lengkap
konvensional merupakan alternatif yang sesuai. Displasia ektodermal bukan
merupakan gangguan tunggal, tetapi sekelompok sindrom semua berasal dari
kelainan struktur ektodermal. Fitur khas, seperti frontal bossing, depressed
nasal bridge, protuberant lips, scarce hair, dan brittle nails, yang
divisualisasikan dalam pemeriksaan ekstraoral. Pemeriksaan intraoral dan
analisis radiografi dapat mengungkapkan oligodontia, malformasi gigi, dan
retensi gigi sulung yang berkepanjangan pada rahang atas dan edentulisme
total pada rahang bawah. Untuk mengobati kasus seperti itu, gigi tiruan
lengkap adalah pilihan yang layak dan dapat digunakan secara efektif untuk
pemulihan/recovery.

Gambar 22. Complete Denture

xxix
Cara Alternatif Meningkatkan Estetika pada Gigi Anak
1. Bleaching
Bleaching merupakan proses membuat warna gigi menjadi lebih cerah
melalui aplikasi agen kimiawi yang berguna untuk mengoksidasi pigmentasi organik
di dalam gigi (Sturdevent, 4th edition). Terdapat dua jenis bleaching, yaitu bleaching
vital dan bleaching non vital. Bleaching vital diindikasikan untuk stain yang terlihat
oleh karena penggunaan tetrasiklin yang berkepanjangan, fluorosis dan sklerosis
ruang pulpa. Sedangkan bleaching non vital diindikasikan untuk gigi non vital
dengan perawatan endodontik, selama pengisian saluran akar terkondensasi dengan
baik.
2. Veneer
Veneer adalah suatu lapisan bahan di permukaan gigi yang bertujuan untuk
meningkatkan estetika dan/atau melindungi permukaan gigi dari kerusakan. Terdapat
dua jenis veneer, yaitu veneer parsial dan full veneer. Veneer parsial lebih disukai
untuk pewarnaan intrinsik dan rekonstruksi defek lokal. Sedangkan full veneer
diindikasikan untuk pemulihan defek secara general atau pewarnaan intrinsik yang
melibatkan sebagian besar permukaan fasial gigi.
3. Laser Dalam Kedokteran Gigi Estetika
Laser adalah akronim dari "Light Amplification by Stimulated Emission of
Radiation" yang dinamai pada tahun 1957 oleh Gordon Gould. Terdapat dua jenis
laser dalam bidang estetika:
a. Laser Pediatric Crown
Jacboson (2003) menemukan sebuah teknik kontemporer untuk aplikasi laser
pada mahkota pediatrik. Teknik ini tidak membutuhkan anestesi lokal, sehingga
memberikan kenyamanan yang optimal pada pasien.
b. Laser Bleaching
Tujuan dari laser bleaching adalah untuk mencapai proses bleaching dengan
menggunakan sumber energi paling efisien, dengan menghindari efek buruk.
Aplikasi laser pada gigi mengaktifkan bahan kimia, sehingga cahayanya akan
mempercepat reaksi produk whitening dan perubahan warna akan dapat dicapai.

xxx
xxxi
4. Cosmetic Contouring
Cosmetic contouring adalah proses membentuk kembali gigi secara alami
untuk kepentingan estetika yang berfokus pada peningkatan estetika gigi dalam
warna, posisi, bentuk, ukuran dan penampilan senyum secara keseluruhan.

KESIMPULAN
Kedokteran gigi estetika memainkan peran penting tidak hanya pada orang
dewasa tetapi juga pada pasien anak. Dalam hal ini mempertahankan gigi sulung
sampai waktu tanggal alami tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu beberapa macam
perawatan yang telah disebutkan di atas menggunakan bahan seperti bahan restorasi
(GIC, RMGIC, Kompomer, Komposit, dan berbagai jenis Crown) dan juga teknik
tertentu seperti penggunaan pasak Gamma Loop, Ribbond Polyethylene Fibre Post
dan Free Hand Komposit diharapkan mampu menjadi rehabilitasi estetika pada gigi
sulung untuk anak usia dini yang bertujuan untuk mempertahankan estetika,
pengembangan bicara, dan membangun individu yang percaya diri. Selain prosedur
restorasi, di masa kini juga telah dikembangkan berbagai metode perawatan
rehabilitatif prostetik pada kasus kehilangan gigi sulung dan juga prosedur
pengembangan estetik bagi gigi anak. Berbagai prosedur di atas merupakan referensi
dalam meningkatkan estetika serta mempertahankan fungsi gigi pada anak.

DAFTAR PUSTAKA
Anang, D.Y., Mariati, N.W. & Mintjelungan, C.N., 2015. Penggunaan Bahan
Tumpatan Di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Pspdg Fakultas Kedokteran
Unsrat Pada Tahun 2014. J e-GiGi (eG); 3:3–6.
Chadha T., Yadav G., Tripathi A. M., Dhinsa K., Deval A.. 2017. Recent trends of
Esthetics in Pediatric Dentistry. International Journal of Oral Health and
Medical Research; 4(4): 70-75
Chaudhary N, Ahlawat B, Kumar A, Laxmi V, Bhardwaj V. 2015. Reattachment Of
Fractured Crown Fragment: A Conservative Approach. Indian Journal of
Scientific Research; 6(2): 163-170.

xxxii
Correa P, Alcantara CEPD, Caldas MV, Botelho AM, Tavano KTA. 2010. Biological
Restoration: Root Canal and Coronal Reconstruction. Journal Compilation;
22(3): 168-177.
Gaurav K. M., Aviral V., Hansika P., Shashank A., Himani T.. 2016. Esthetic Crowns
In Pediatric Dentistry: A review. International Journal of Contemporary
Medical Research; 3(5): 1280-1282.
Indira MD, Dhull KS, Nandlal B, Praveen Kumar PS, Dhull RS. 2014. Biological
Restoration in Pediatric Dentistry: A Brief Insight. International Journal of
Clinical Pediatric Dentistry; 7(3): 197-201.
Jain S, Kaur H, Chopra N. 2015. Immediate Natural Tooth Pontic: A New Aspect in
Periodontics. Universal Research Journal of Dentistry; 5(1): 42-44.
Javiandani, M. A., Munadziroh, E., Yogiartono, M.. 2012. Perbedaan kebocoran tepi
tumpatan semen ionomer kaca dengan pengadukan secara mekanik elektrik
dan manual (Microleakage differences between mechanical electrical and
manual mixing of glass ionomer cement filling). Jurnal PDGI, [S.l.]; 61(3):
81-87.
Kumar R, Sinha A. 2014. Restoration of primary anterior teeth affected by early
childhood caries using modified omega loops - A case report. Annals of
Dental; 2(4): 24-6.
Misani I., Goyal V., Singh A.. 2011. Complete Management of a Mutilated Young
Permanent Central Incisor. Internasional Journal of Clinical Pediatric
Dentistry; 4(1): 49-53.
Priyanka A., Rashmi N., Ghayathri E.. 2018. Case Report: A Predictable Aesthetic
Rehabilitation of Deciduous Anterior Teeth in Early Childhood Caries.
Hindawi–Case Reports in Dentistry; 2018: 1-5.

xxxiii
Kumar R, Sinha A.
Restoration of primary
anterior
teeth affected by early
childhood caries using
modified omega loops -
A case report. Annals of
Dental, 2014; 2(4): 24-6
Kumar R, Sinha A.
Restoration of primary
anterior
teeth affected by early
childhood caries using
modified omega loops -
A case report. Annals of
Dental, 2014; 2(4): 24-6

xxxiv