Anda di halaman 1dari 21

“Critical Book Report”

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA


Judul buku :
HUKUM LAUT BAGI INDONESIA
Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H

Dosen Pengampu :
Drs. Muhammad Arif, M.Pd

Disusun oleh:

AZZAHRA PUTRI (3173331005)

A 2017

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
a. Informasi Bibliografi........................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN BUKU SECARA UMUM................................................2

BAB III PEMBAHASAN CRITICAL BOOK


a. Latar belakang masalah....................................................................................15
b. Analisis critical book report..............................................................................16

BAB IV PENUTUP
a. Kesimpulan.......................................................................................................17
b. Saran.................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................18

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa  yang
telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan Critical Book Report ini. Critical Book ini disusun untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Geografi Regional Indonesia, dalam Critical
Book ini penulis menganalisis kelemahan dan kelebihan mengenai buku yang
berjudul “HUKUM LAUT BAGI INDONESIA”. Dengan Critical Book
Report ini penyusun mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran
serta memberikan informasi yang bermanfaat.
Namun penulis menyadari bahwa Critical Book ini belum dapat
dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan.
Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran.

Medan, Oktober 2018

Penyusun

ii
BAB I
PENDAHULUAN

a. Informasi Bibliografi Buku Utama.


Judul : HUKUM LAUT BAGI INDONESIA
Penulis : Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H
ISBN : -
Penerbit : SUMUR BANDUNG
Tahun Terbit : 1991
Urutan Cetakan : Cetakan Kesembilan
Dimensi Buku : -
Tebal Buku : VIII + 201 halaman

1
BAB II
PEMBAHASAN BUKU SECARA UMUM

Pada zaman modern ini dengan dikeluarkannya berbagai peraturan tentang


kelautan untuk mengukur jarak laut dari wilayah darat yang diberlakukan secara
universal, secara yuridis telah memberikan kepastian hukum yang dianut oleh
hukum internasional dan secara faktual dapat merupakan perluasan wilayah
kekuasaannya. Apabila dikaji lebih jauh, pada saat ini kesempatan untuk
memperluas wilayah kekuasaan tidaklah seperti pada zaman sebelumnya yang
masih memungkinkan untuk mengadu kekuatan guna pemekaran wilayahnya.
Tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan
pernyataan yang dikenal dengan “Deklarasi H. Djuanda” : “Bahwa segala perairan
di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagaian pulau-
pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia dengan idak memandang
luas atau lebarnya adalah bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara
Republik Indonesia dan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional
yang berada di bawah kedaulatan mutlak dari negara Republik Indonesia”.

C. Kekayaan Laut dan Pengelolaannya


Semakin disadari bahwa laut selain berfungsi sebagai penhubung wilayah
satu dan lainnya dalam memperlancar hubungan transportasi, juga kekayaan yang
terkandung di dalamnya sangat menopang hidup dan kehidupan rakyat banyak.
Namun dengan potensi kekayaan yang ada dapat menimbulkan bencana apabila
dalam pengelolaannya tanpa memperhatikan batas kemampuan alam.
Kerusakan lingkungan laut sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan
tanpa memperhatikan lingkungannya, meskipun akibat tersebut belum dirasakan
saat ini dan baru terasa setelah regenerasi nanti. Undang-undang Nomor 9 tahun
1985 dan diterapkan oleh menteri yang berwewenang, yaitu mengenai:
1) Alat penangkapan ikan yang diizinkan
2) Syarat-syarat teknis perikanan yang harus dipenuhi oleh kapal perikanan
3) Jumlah yang boleh ditangkap dan jenis serta ukuran ikan yang tidak boleh
ditangkap

2
4) Memperhatikan daerah, jalur dan waktu atau musim penangkapan
5) Pencegahan pencemaran dan kerusakan, rehabilitasi dan peningkatan
sumber daya ikan serta lingkungannya
6) Penebaran ikan jenis baru
7) Pembudidayaan ikan dan perlindungannya
8) Pencegahan dan pemberantasan hama serta penyakit ikan.
Diperairan laut Indonesia terdapat bermacam-macam jenis ikan termasuk
biota perairan lainnya, yang meliputi (penjelasan pasal 1 ayat 2 UU perikanan) :
1) Pisces (ikan bersirip)
2) Crustacea (udang, rajungan, kepiting)
3) Mollusca (kerang, tiran, cumi-cumi, gurita, siput)
4) Coelenterata (ubur-ubur)
5) Echinodermata (tripang, bulu babi)
6) Amphibia (kodok)
7) Reptilia (buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air)
8) Mamalia (paus, lumba-lumba, pesut, duyung)
9) Algae (rumput laut, tumbuh-tumbuhan lain yang hidup di air)
Setiap kegiatan harus perlu diperhatikan, antara lain :
1) Keamanan alur pelayaran
2) Dicegah terjadi pengkaratan (krosi) dan erosi terhadap pipa penyalur
3) Tidak menimbulkan kerusakan terhadap kabel-kabel atau instalasi yang
telah ada
4) Tidak menimbulkan pencemaran lingkungan

NEGARA KEPULAUAN
A. Kelautan Negara
Kedaulatan atau dalam bahasa asingnya souberaignity bermakna kekuasaan
tertinggi dalam suatu negara yang di dalam negara tersebut tidak dihinggapi
adanya kekuasaan lain. Jean Bodin mengungkapkan kedaulatan merupakan
kekuasaan tertinggi dalam suatu negara untuuk menentukan hukum dalam negara
tersebut dan sifatnya: tunggal, asli, abadi serta tidak dapat dibagi-bagi.
Ditilik dari sejarahnya adanya negara itu karena perkembangan kebutuhan
manusia yang ingin hidup dalam keteraturan dengan koordinsi mapan. Sesuai

3
dengan kemampuan dan kecakapan yang dimilikinya maka mereka mempunyai
tugas sendiri-sendiri dan bekerja sama untuk memenuhi kepentingan mereka
bersama.
1. Kebiasaan Internasional
Kebiasaan di sini merupakan suatu pola tindak dari serangkaian tindakan
mengenai suatu hal dan dilakukan secara berulang-ulang, hal ini tergantung dari
situasi dan kondisi setempat serta kebutuhannya.
2. Perjanjian Internasional
Perjanjian diadakan oleh bangsa sebagai subyek hukum internasional,
bertujuan untuk menggariskan hak dan kewajiban yang ditimbulkan serta akibat
lainnya yang berpengaruh bagi para pihak pembuat perjanjian. Para pihak terikat
dan tunduk pada perjanjian sesuai dengan ketentuan yang menjadi kesepakatan
atau lebih (multilateral).
B. Kewenangan dalam Wilayah Lautan
Laut sebagai wilayah teritorial, merupakan daerah yang menjadi tanggung
jawab sepenuhnya negara yang bersangkutan dengan penerapan hukum yang
berlaku di wilayahnya yaitu hukum nasional negara yang bersangkutan. Lautan
yang membentang luas dengan posisi untuk menghubungkan wilayah daratan satu
dengan yang lain dan kemungkinan berlaku hukum yang berbeda, didasari atau
tidak pada dasarnya setiap insan manusia mempunyai hak untk menikmati
kekayaan yang terkandung di dalamnya.
Setiap negara, baik negara pantai maupun negara tidak berpantai
mempunyai kebebasan untk melakukan kegiatan-kegiatannya dengan tetap
memperhatikan ketentuan yang telah disyaratkan oleh hukum internasional, yang
merupakan kesepakatan bersama antara lain kebebasan tersebut meliputi :
-          Kebebasan melakukan navigasi
-          Kebebasan penangkapan ikan
-          Kebebasan memasang kabel dan pipa saluran di bawah permukaan air laut
-          Kebebasan melakukan penerbangan di atas laut lepas
C.    Lintasan Damai Kendaraan Asing
Menurut ketentuan hukum internasional, pada umumnya laut merupakan
wilayah lintas damai bagi kendaraan asing, sehingga tidak menunjukkan adanya

4
monopoli bagi negara hukum dalam memanfaatkan sarana laut sebagi lintas
transportasi air. Pelayaran selama tidak bertentangan dengan kemanana, ketertiban
umum serta kepentingan lainnya yang tidak mengganggu kepentingan dan
perdamaian negara republik Indonesia. Dan maksud dari pelayaran adalah untuk
melintasi laut wilayah dan perairan pedalaman Indonesia dengan lintasan :
a.       Dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya
b.      Dari laut bebas ke laut bebas pasal 12 ayat (1)
Maksud dikeluarkannya peraturan pemerintah yang mengatur masalah lintas
damai ini, adalah :
1.      Mendukung dalam menjamin kelancaran pelayaran internasional, sehingga
pelayaran dengan maksud damai dapat terpenuhi kepentingannya, dengan
mengindahkan segala ketentuan yang telah digarikan oleh pemerintah Indonesia.
2.      Dilindungi dan dipenuhinya hak serta kewajiban di perairan Indonesia, sehingga
secara jelas dan tegas di dalam pelaksanaannya tidak akan menimbulkan
kebabaran yang mengakibatkan kesalahpahaman sehingga tidak mendukung
petsetujuan internasional.
3.      Menghilangkan atau mengurangi penyelewangan di laut yang dilakkan oleh
kendaraan asing dalam operasinya melintasi wilayah perairan Indonesia.
Mengingat kekayaan Indonesia maka Indonesia diakuinya secara resmi Indonesia
sebagai negara kepulauan (konvensi hukum laut III/1982) maka dalam wilaya
lautannya dikenal adanaya perairan kepulauan.
D.    Perlindungan dan Pemeliharaan Lingkungan Laut
Kemajuan teknologi dewasa ini telah berkembang jenis alat penangkapan ikan
yang dimaksudkan untuk mempermudah cara penangkapan dan menghasilkan
yang semaksimal mungkin, kondiri yang demikian itu apabila tanpa
memperhatikan ekologinya akan berakibat :
-          Kepunahan jenis ikan tertentu
-          Kemunduran bagi perusahaan yang operasionalnya tergantung dari penangkapan
jenis ikan tertentu yang bersangkutan
-          Fungsi kemajuan teknologi di bidang perikanan berangsur-angsur akan
mengalami kepunahan
E.     Pengaruh Konferensi Hukum Laut bagi Negara Kepulauan

5
Masalah kelautan timbul adanya keperluan berbagai pihak yang ingin
memangaatkan segala fasilitas laut. Tumbuh berkembangnya hukum laut selain
karena adanya kepeningan dengan alasan milik bersama, juga perlu dijaga :
-          Kepentingan yang berkaitan dengan keamanaan dan stabilitas negara
-          Terbatasnya sumber daya, apabila tanpa memperhatikan kemampuan laut
-          Pembagian kepentingan
-          Menjaga dan menuju pelestarian lingkungan laut dengan segala ekosistemnya
            Secara rinci pengaruh konferensi hukum laut tersebut di atas bagi negara
pantai maupun negara lainnya sebagai berikut :
1.      Dapat membentuk negara kepulauan, menjamin kepentingan negara tersebut
2.      Memberikan kesempatan negara pantai untukk memperlakukan perluasan wilayah
laut
3.      Memperluas tanggung jawab negara pantai terhadap lautan
4.      Berkurangnya wilayah laut bebas menjadi laut territorial
5.      Mendukung pelestarian lingkungan laut yang harus di jaga oleh hukum nasional
suatu negara
6.      Mengurangi kebebasan yang semula ada bagi para pengelolaan lautan
            Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau dan
bagian pulau-pulau dengan 2/3 wilayahnya merupakan wilayah lautan. Dalam
sejarah negara Infonesia di mana wilayah lautnya dlam jarakn 3-6 mil laut diubah
menjadi 12 mil laut sebagai perkembangan diundangkannya UU No. 17 tahun
1985 yang meratifikasi konvensi hukum laut tersebut, lebih jauh akan menyatukan
dan mewujudkan cita-cita bangsa sebagai negara kepulauan.
Negara kepulauan yang diakui secara resmi melalui konvensi hukum laut II
tersebut mempunyai kewajiban :
1.      Menghormati perjanjian internasional yang sudah ada
2.      Menhormati kegiatan-kegiatan lain yang sah dari negara tetangga yang langsung
berdampingan
3.      Menghormati hak-hak tradisional penangkapan ikan
4.      Menghormati dan memperhatikan kabel laut yang ada di bagian tertentu perairan
pedalaman yang dahulu merupakan laut bebas.

6
WILAYAH DASAR LAUT

A.    Kawasan Dasar Laut


Lautan yang merupakan wilayah air pada dasarnya dapat dibagi dalam 3 bagian :
1.      Permukaan lautan
2.      Dalam lautan
3.      Dasar lautan
Sedangkan apabila wilayah perairan (laut) bukan merupakan teritorial suatu
negara, berarti hukum internasional yang berlaku dan menguasai wilayah tersebut,
bukan diperlakukan hukum nasional negara mana pun.
Pelayaran di laut lepas merupakan kebebasan dalam arti tidak ada keterikatan
dengan suatu kedaulatan maupun hukum nasional suatu negara, namun dalam
wilayah ini bukan berarti dalam melakukan apa saja melainkan harus tetap
memperhatikan konvensi hukum laut internasional yang mangatur masalah laut
lepas.
B.     Landas Kontinen
Dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 1961 khususnya tentang konvensi
mengenai dataran kontinental, pada penjelasan pasal 2-nya diungkapkan bahwa
negara pantai mempunyai kedaulatan atas kontinentalnya.
Pemerintah mengeluarkan pelanggaran yang telah dikeluarkan pemerintah
Indonesia akan mendapatkan ganjaran berupa :
-          Diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 tahun, atau
-          Denda setinggi-tingginya Rp. 1.000.000,00
Pelanggaran dengan ancaman tersebut di atas dikenakan terhadap :
1.      Pelanggaran atas ketentuan eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber kekayaan
alam
2.      Pelanggaran atas ketentuan penyelenggaraan penyelidikan ilmiah kekayaan alam
3.      Dalam melakukan eksplorasi, eksploitasi dan penyelidikanilmiah sumber
kekayaan alam di laut kontinen Indonesia, sehingga menimbulkan pencemaran
atas :
-          Air laut di landas kontinen Indonesia
-          Meluapnya pencemaran

7
Kemudahan yang diberikan dalam melaksanakan eksplorasi maupun eksploitasi
sumber-sumber kekayaan alam dapat diperoleh berupa :
-          Dapat dibangunnya instalasi-instalasi di landas kontinen
-          Dapat digunakannya kapal-kapal dan alat-alat lainnya untuk kepentingan
kegiatan
-          Dapat dilakukan kegiatan pemeliharaan instalasi-instalasi atau alat-alat yang ada
Dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalah tersebut diatas diberlakkan
segala peraturan perundangan yang ada dan relevan dengan masalahnya, tindakan
sepihak dari pemerintah Indonesia dapat dilakukan dengan mengambil langkah
kebihakan sebagai berikut:
-          Menghentikan sementara waktu kegiatannya
-          Mencabut izin usaha untk tidak melakukan usahanya di wilayah landas kontinen
Indonesia
C.    Kewenangan Negara Pantai
Istilah dataran kontingen yang dipergunakan untuk pengertian continental
shelf dan istilah landas kontinen, hal ini menurut Prof. Dr. Mochtar
Kusumaatmadja, SH diungkapkan bahwa : “untuk membedakan dua pengertian
yang berlainan isinya di dalam bahasa Indonesia digunakan dataran kontinen
untuk pengertian continental shelf  dalam arti geologis, sedangkan pengertian
hukum yang kemudian berkembang daripadanya dinamakan landas kontinen”.
Kewenangan yang dimiliki negara pantai berupa tindakan-tindakan untuk
mengambil kebijakan atas hak-haknya yang digunakan untuk membangun maupu 
memeliharan instalasi-instalasi, tidak akan mempengaruhi adanya :
1.      Luasnya lautan bebas yang sah pada perairan itu
2.      Territorial negara
3.      Pemasangan saluran pipa
4.      Melakukan usaha-usaha penyelidikan di dataran kontinental.
Dalam penyelidikan ini negara pantai mempunyai hak untuk :
a.       Ikut serta dalam penyelidikan, atau
b.      Keikutsertaannya dengan cara mewakilkan.
D.    Persetujuan Pemerintah Indonesia dengan Beberapa Negara dalam
Penetapan Garis Batas Landas Kontinen

8
Dalam usaha untuk mempererat ikatan tali persahabatan antar negara
tetangga khususnya antara pemerintah/negara Indonesia dengan beberapa negara
tetangga yang berbatasan, perlu dilakukan bentuk suatu persetujuan dalam
menciptakan kerjasama baik secara bilateral maupun multilateral.

ZONA EKONOMI EKSKLUSIF (ZEE)


A.    Konvensi Hukum Laut Internasional
(UU No. 17 Tahun 1985)
            Pengaturan masalah kelautan semakin disadari keprluannya dalam
pelayaran internasional, dimaksudkan untuk memberikan kesatuan pandangan dan
penafsiran dalam memanfaatkan kepentingan laut.
Secara material konvensi hukum laut tahun 1982 dengan konvensi sebelumnya
ada beberapa perbedaan :
Pertama : Tentang landas kontinen
            Di mana pada konvensi hukum laut di Jenewa tahun 1958 dalam
penentuan landas kontinen adalah kedalaman air 200 M atau kemampuan dalam
melakukan ekpolari.
Kedua : Tentang laut teritorial
            Dalam konvensi hukum laut tahun 1958 dan tahun 1960 tidak dapat
memecahkan persoalan lebar laut teritorial yang dapat digunakan sebagai patokan
secara umum karena tidak ada keseragama penentuakn lebar laut tritorial dan
masing-masing negara memperhatikan kepentingannya sendiri.
Ketiga : Tentang laut lepas
            Dalam konvensi Jenewa tahun 1958 wilayah laut lepas dimulai dari batas
terluar laut teritorial, sedangkan dalam konvensi tahun 1982 bahwa laut lepas
tidak mencakup zona ekonomi eksklusif, laut teritorial perairan pedalamn dan
perairan kepulauan.
B.     Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia ( Z E E I )
Wilayah perekonomian yang merupakan zona laut dengan kewenangan
sebatas di bidang perekonomian saja masing-masing memberikan kemudahan lain
sepanjang berkaitan dengan lintas damai.

9
Ketentuan umum undang-undang tentang ZEEI ditegaskan, bahwa yang dimaksud
dengan sumber daya alam hayati adalah suma jenis binatang dan tumbuhan
termasuk bagian-bagiannya yang terdapat di dasar laut dan ruang air di zona
ekonomi eksklusif Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan sumber daya
alam non hayati adalah unsur alam di luar sumber daya alam hayati yang terdapat
di dasar laut dan tanah di bawahnya serta ruang air di zona ekonomi ekslusif
Indonesia.
C.    Hak dan Kewajiban di ZEEI
Suatu keadaan yang dimungkinkan terjadi dalam menentukan batas zona
ekonomi eksklusif antara negera Indonesia dengan negara lain bertetangga, pantai
saru dan lainnya berhadap-hadapan serta berbatasan, maka dalam penentuan
batasnya dilakukan dengan melalui pembicaraan atau perundingan, seperti pasal 3
UU No. 5/1983.
Dengan memperhatikan keadaan ersebut di atas pada Zona Ekonomi Ekslusif
Indonesia mempunyai dan melaksanakan :
1.      Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi pengelolaan dan
berupaya untuk melindungi
2.      Hak untuk melaksanakan penegakan hukum dilakukan oleh aparat yang
menangani secara langsung
3.      Hak untuk melaksanakan hot porsuit terhadap kapal-kapal asing yang melakukan
pelanggaran atas ketentuan ZEEI
4.      Hak ekslusif untuk membangun, mengizinkan dan mengatur pembangunan
5.      Hak untuk menentukan kegiata ilmiah berupa penelitian dengan diterima
permohonan yang diajukan pada pemerintah
D.    Penegakan Hukum di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia
Jarak 200 mil laut yang merupakan wilayah ekonomi dengan kedaulatan
yang melekat khususnya berkaitan dengan masalah ekonomi, mengandung arti
bahwa untuk hal yang tidak berkaitan dengan kegiatan ekonomi Indonesia tidak
mempunyai kekuasan untuk mengatur kecuali yang berakibat pencemaran laut.
Aparat penegak hukum ZEEI Indonesia dalam memelihara zona mengambil
langkah menurut peraturan perundangan UU No. 5 tahun 1983, KUHAP, KUHP
dan peraturan pelaksanaan lainnya.

10
Apabila berpegang pada teori yang biasanya ada 4 asas mengenai
berlakunya KUHP
1.      Asas territorial atau asas wilayah
2.      Asas nasional aktif atau personalitas
3.      Asas nasional pasif atau asas perlindungan
4.      Asas universalitas
E.     Pidana dan Jenis Tindak Pidana
Merupakan sanksi terhadap tindakan yang melanggar suatu ketentuan
tertentu sehingga dapat diancam pidana berupa :
a.       Hukuman pokok, yang meliputi :
1.      Hukuman mati
2.      Hukuman penjara
3.      Hukuman kurungan
4.      Hukuman denda
b.      Hukuman tambahan yaitu :
1.         Pencabutan beberapa hak-hak tertentu
2.         Perampasan barang tertentu
3.         Pengumuman putusan hakim
Dalam undang-undang No. 5 tahun 1983 mengatur tentang keadaan ZEEI
Indonesia terdiri dari 21 pasal dan hanya 2 pasal yang mengatur masalah pidana
yaitu pasal 16 dan pasal 17. Dengan tujuan yang terdapat dalam pasal 4 :
a.       Tercapainya keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan hidup untu
membangun Indonesia seutuhnya
b.      Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana
c.       Terwujudnya manusia Indonesia sebagai pembina lingkungan hidup.

PENELAAHAN KASUS
A.    Kapal Chyag Tai Nomor I dan Chyag Tai Nomor II
1.    Kasus Posisi
Pada hari Senin tanggal 1 Juni 1991, di perairan Laut China Selatan zona
ekonomi ekslusif Indonesia masuk dua kapal KM. Chyag Tai Nomor I dan KM.

11
Chyag Tai Nomor II berbendera Taiwan diduga menangkap ikan secara tidak sah.
Berjumlah 23 orang melawan hukum penangkapan ikan di ZEEI tanpa surat izin
penangkapan dari Pemerintah Indonesia, dibawa oleh KRINALA-363 ke wilayah
hukum Pengadilan Negeri Tanjung Pinang.
Pada waktu saksi melakukan penggeledahan ditemukan :
         Jaring dalam keadaan tidak terbungkus rapi
         Ada yang masih dalam keadaan terurai ke laut
         Jaring dalam keadaan basah dan di dalamnya terdapat beberapa ikan kecil yang
masih dalam keadaan segar
         Di dalam palka ditemukan jenis ikan dengan berat kurang lebih 15 ton
         Ditemukan berbagai ikan taksir berat kurang lebih 12 ton
2.    Tuntutan
Jaksa penuntut umum mengajukan tuntutannya sebagai berikut :
1)   Menyatakan para terdakwa bersalah melakukan tindakan pidana ini
2)   Menjatuhkan pidana
3)   Menyatakan barang bukti
4)   Membebankan biaya perkara Rp. 5.000,- secara tanggung renteng kepada para
terdakwa
3.    Putusan Hakim Pengadilan Negeri
Para terdakwa dibebaskan dan menyatakan surat dakwaan jaksa penuntut umum
batal demi hukum, serta membatalkan penyitaan terhadap barang bukti dan
mengembalikannya kepada para terdakwa, berupa :
1.      Dua buah kapal ikan dan perlengkapannya
2.      Uang hasil pelelangan ikan sebesar Rp. 8.924.000,-
3.      Uang sebesar $1.500.

4.      Upaya Hukum (Kasasi)


Keberatan diajukan oleh pemohon pada dasarnya sebagai berikut :
1)      Putusan pengadilan Negeri membebaskan para terdakwa adalah hak tidak murni
2)      Bahwa pengadilan Negeri salah menerapkanhukum atau tidak merupakakn
hukum sebagaimana mestinya
3)      Cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang

12
5.      Pertimbangan Mahkamah Agung
Mahkamah Agung berpendapat :
1)      Pengadilan Negeri dengan putusan “membebaskan terdakwa-terdakwa” adalah
membebaskan terdakwa-terdakwa dari segala tahanan dan bukan pembebasan
terdakwa-terdakwa dari segala dakwaan
2)      Keberatan dari jaksa penuntut umum dapat dibenarkan dengan alasan-alasan

6.      Putusan Mahkamah Agung


Menyatakan para terdakwa beserta hukuman:
1)   Terdakwa 1 dengan pidana denda sebesar Rp. 20.000.000,00
2)   Terdakwa 2 dengan pidana denda sebesar Rp. 15.000.000,00
3)   Terdakwa 3 dengan pidana denda sebesar Rp. 10.000.000,00
4)   Terdakwa 4 dengan pidana denda sebesar Rp. 10.000.000,00
Menyatakan barang bukti berupa :
1.      Kapal ikan KM. Chyag Tai No. I beserta peralatannya
2.      Kapal ikan KM. Chyag Tai No. II besrta peralatannya
3.      Uang hasil lelang ikan sebesar Rp. 8.924.000.00

B.     Kapal Hung Tung I


1.      Kasus Posisi
Pada tanggal 27 Oktober 1985 ketika kapal TNI-AL RI menginsidi sedang
melakukan patroli di wilayah perairan Republik Indonesia telah bertemu dengan
kapal berndera asing (Taiwan) di wilayah perairan propinsi Sulawesi Utara.
2.      Penyelidikan
Penyelidikan sesuai dengan pasal 14 undang-undang Nomor 5 tahun 1983,
penyidikan dilakukan terhadap tersangka sebanyak 16 orang, masing-masing
mereka mengakui bahwa :
-          Telah memasuki wilayah perairan Indonesia
-          Masing-masing mempunyai buku pelaut dan mengakui kapalnya tidak dilengkapi
izin untuk berlayar

13
-          Tersangka mengatakan bahwa sejak berangkat dari Taiwan tujuan mengangkap
ikan di perairan Australia
-          Tersangka tidak tahu kalau berlayar di Indonesia jaring penangkapan harus
terbungkus rapi dan tersimpan dalam paika
3.      Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Terdakwa telah melakukan percobaan usaha penangkapan ikan tanpa memiliki
izin usaha perikanan dari pemerintah RI. Bahkan keberadaan mereka terdakwa di
wilayah kedaulatan RI tanpa memiliki dokumen imigrasi yang sah.

4.      Putusan Pengadilan Negeri


Terdakwa 1, dengan denda Rp. 20.000.000,00 kalau tidak dibayar diganti dengan
kurungan 6 bulan
Terdakwa 2, 3, 4 dengan denda Rp. 10.000.000,00 kalau tidak dibayar diganti
dengan kurungan 5 bulan
Terdakwa 5, 6 dengan denda Rp. 150.000,00 kalau tidak dibayar diganti dengan
kurungan 1 bulan.
Selain daripada itu barang bukti berupa 1 kapal ikan Hung Tung I beserta
perlengkapannya dirampas untuk negara dan terdakwa 1 sampai 6 membayar
biaya perkara masing-masing Rp. 7.500,00,-
5.      Putusan Pengadilan Tinggi
Dalam pemeriksaan tingkat banding, putusan pengadilan negeri telah
diperbaiki oleh pengadilan tinggi Manado tanggal 24 Juni 1986 Nomor
54/Pid/1986/PT.mdo. dalam hal ini diubah mengenai pidananya dan barang bukti
6.      Putusan Mahkamah Agung
Ternyata Mahkamah Agung dengan putusan Nomor 1647 K/Pid/1987
tanggal 4 Pebruari 1987 menolak permohonan kasasi. Dengan putusan Mahkamah
Agung tersebut, maka putusan Pengadilan Tinggi Manado Nomor 54/Pid/1986
PT. Mdo telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

14
BAB III
PEMBAHASAN CRITICAL BOOK REPORT

a. Latar belakang masalah


Berangkat dari sejarah lahirnya konsep hukum wilayah laut dimana Pada
zaman Romawi , penguasaan laut belum menimbulkan persoalan perlintasan laut,
karena kekuatan Romawi sebagai kekuasaan kekaisaran (imperium) masih
menguasai Laut Tengah dan belum ada kerajaan-kerajaan yang mengimbangi
kekuatan kekaisaran Romawi pada waktu itu. Tujuan penguasaan laut oleh
kekaisaran Romawi adalah agar semua manusia dapat menfaatkan laut tanpa ada
ancaman dari bajak laut. Konsep ini disebut “Res Communis omnium” atau hak
bersama seluruh umat manusia. Kemudian konsep ini berkembang menjadi
anggapan, bahwa laut tidak ada yang memiliki atau dikenal dengan istilah “Res
Nullius”. Dari sinilah lahir istilah Laut bebas dari penguasaan negara.
Pada masa abad pertengahan imperium Romawi runtuh, maka
bermunculanlah negara-negara yang menuntut sebagian laut yang berbatasan
dengan pantainya, antara lain Venetia mengklaim Laut Adriatik, Genoa
mengklaim laut Liguria dan Pisa mengklaim laut Thyrrhenia. Klaim negara-
negara ini menimbulkan keadaan yang menyebabkan laut tidak lagi menjadi milik
bersama, sehingga diperlukan peraturan untuk menjelaskan kedudukan hak-hak
atas laut menurut hukum[1].
Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang kebanyakan wilayahnya
adalah laut maka akan sangat dirugikan jika tidak ada aturan yang mengatur
secara jelas mengenai hukum laut itu sendiri baik nasional maupun pengakuan
internasional, Indonesia yang juga anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
terus memperjuangkan hal tersebut sehingga pada Konferensi Hukum Laut pada
tanggal 3 April 1982 di New York telah menghasilkan Konvensi Hukum Laut III
yang kemudian ditandatangani pada 10 Desember 1982 di Montego Bay, Jamaica.
Konvensi ini merupakan sebuah master-piece di bidang hukum laut yang pernha
dihasilkan Komunitas Internasional diabad ke-20 yang lalu dan mulai berlaku 16
November 1994 setelah tercapainya ratifikasi atau aksesi ke-60.

15
Indonesia telah meratifikasi konvensi ini pada tahun 1985 dan
menindaklanjutinya sebagai awal pengimplementasiannya dengan Undang-
undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang perairan Indonesia(Viii)[2]

b. Analisis critical book report

Buku yang disusun oleh Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H ini sangat
baik untuk dibaca, karena memiliki informasi mengenai hukum laut di Indonesia
baik dari aspek pembagian batas teritorial, pasal yang mengatur kelautan
Indonesia, serta pembahasan mengenai kedaulatan Indonesia atas laut di Indonesia
itu sendiri. Buku dinilai objektif dalam mengangkat sebuah masalah kelautan
seputar karena mengadopsi hukum dari deklarasi Djuanda yang dikeluarkan pada
13 Desember 1957. Regional Indonesia tentu memiliki peraturan perundang-
undangan mengenai laut Indonesia, dan juga dibahas di buku keluaran tahun 1991
ini. Selain menggunakan bahasa yang sederhana, pemilihan kata yang baik, serta
mengambil beberapa contoh kasus pelanggaran hukum laut di Indonesia dan
melengkapi buku dengan sumber hukum laut internasional telah menjadikan nilai
plus untuk buku ini.

Namun, manusia tidak luput dari kesalahan. Penyusun critical book report
ini menemukan beberapa kelemahan buku seperti, sampul buku yang kurang
menarik juga kurang terkait dengan hukum laut Indonesia (variatif sampul), tidak
ditemukan gambar pendukung penjelasan sehingga pembaca dituntut monoton
100% membaca, buku tidak memiliki identitas berupa ISBN serta tidak
mencantumkan sumber terkait penyusunan buku.

16
BAB IV
PENUTUP
a. Kesimpulan
Negara Republik Indonesia yang merupakan Negara Kepulauan atau negara
maritime dimana Segala perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan
pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yangtermasuk daratan Negara Republik
Indonesia, dengan tidak memperhitungkan luas atau lebarnyamerupakan bagian
integral dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia sehingga merupakan
bagian dariperairan Indonesia yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik
Indonesia.
Dengan bepijat dari penjelasan-penjelasan secara panjang lebar diatas  maka
sangatlah urgen memang untuk pemerintah menguatkan wilayah Indonesia demi
menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian
Undang-Undang  Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia yang berlaku
secara hukum positif diharapkan mampu memberikan peranan penting dalam
menguatkan wilayah Yuridiksi Indonesia sekarang dan dimasa yang akan datang.
b. Saran

Pemerintah harus benar-benar menjalankan aturan yang berlaku


dan  melakukan pengawasan yang ketat serta jangan sampai lengah agar kesalahan
pulau sipadan-Lingitan tidak terualang kembali demi keutuhan NKRI.

17
DAFTAR PUSTAKA

Kusumaatmadja. Mochtar. 2003. Konsepsi hukum Negara Nusantara


Pada Konferensi Hukum laut III. Bandung: P.T .Alumni.

Tadjuddin., Hukum Laut, http://tadjuddin.blogspot.com/2011/07/hukum-
laut.html, (diaksesSeptember      2017).https://www.google.com/search?
q=wilayah+perairan+indonesia&tbmHak Lintas, gambar.

HAK LINTAS DAMAI _ Hukum Laut.htm (diakses  25 September 2017 pukul 10.00
Wib).

18