Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

REPRODUKSI SEL MEIOSIS

SPERMATOGENESIS

Oleh :

HESSTY ROCHENDAH ONJIAH

6130014017

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA

2014

1
KATA PENGANTAR

           Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-
Nyalah laporan praktikum ini dapat saya selesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan. Dalam laporan praktikum ini, saya membahas topik mengenai “Reproduksi sel
Meiosis Spermatogenesis “ dalam tugas mata kuliah Biomedis.
Dalam proses penyusunan karya Ilmiah ini, tentunya saya mendapatkan bimbingan,
arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu saya ucapkan rasa terima kasih banyak kepada dosen
pembimbing dan teman-teman yang sudah membantu saya menyelesaikan laporan praktikum
ini.

Saya menyadari bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan
sehingga hanya yang demikian sajalah yang dapat saya berikan. Saya juga sangat
mengharapkan kritikan dan saran dari teman-teman sehingga saya dapat memperbaiki
kesalahan-kesalahan dalam penyusunan laporan praktikum selanjutnya. Demikian laporan
praktikum ini saya tujukan, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Surabaya, 3 November 2014

2
DAFTAR ISI

Kata pengantar ..................................................................................2


Daftar isi ..................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................5
1.3 Tujuan ..................................................................................5
1.4 Manfaat ..................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Reproduksi sel ......................................................................7


2.2 Cara sel dalam reproduksi meiosis ......................................................................8
2.3 Tahap- tahap spermatogenesis ......................................................................9

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan ............................................................................................11


3.2 Cara Kerja ............................................................................................11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan ................................................................................12


4.2 Pembahasan ................................................................................15

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................17
5.2 Saran ................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................18

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada zaman era globalisasi


in, maka ilmupengetahuan saat ini sudah sangat mudah untuk dipelajari dan dikaji,
khususnya ilmu biologi yang merupakan ilmu tentangmateri dan energi yang
berhubungan dengan makhluk hidup dan sekitarnya, serta proses- proses kehidupan
yang terjadi di dalamnya. Dimana pada ilmu biologi itu terdapat suatu materi yang
mengkaji tentang genetika. Dimana pada genetika itu mengkaji tentang pewarisan
sifat atau penurunan sifat dari organisme ke organisme yang lain. Pada praktikum kali
ini, yang akan dilakukan adalah mengenai meiosis spermatogenesis pada testis tikus.

Kemampuan organisme untuk memproduksi jenisnya merupakan salah satu


karakteristik yang paling bisa membedakan antara makhluk hidup dan makhluk mati.
Kemampuan yang unik untuk menghasilkan keturunan ini, seperti semua fungsi
biologis memiliki dasar seluler (Campbell,1999).
Pada makhluk hidup tingkat tinggi, sel somatik (sel tubuh), kecuali sel
kelamin mengandung satu sel kromosom yang berasal dari induk betina bentuknya
serupa dengan yang berasal dari induk betina. Maka sepasang kromosom tersebut
disebut dengan kromosom homolog. Oleh karena itu jumlah kromosom dalam sel
tubuh dinamakan diploid (2n). Sel kelamin (gamet) hanya mengandung separuh dari
jumlah kromosom yang terdapat dalam sel somatik, karena itu jumlah kromosom
dalam gamet dinamakan haploid (n). Satu sel kromosom haploid dari satu spesies
dinamakan genom (Suryo,1996).
Setiap makhluk hidup terjadi mulai dari sebuah sel tunggal yang disebut zigot,
akan tetapi perbesaran dan perbanyakan dari sel tunggal itu sangat diperlukan agar
makhluk itu mencapai ukuran yang semestinya. Pembelahan sel lengkap dibedakan
atas dua proses yaitu: pembelahan inti sel (kariokinesis) dan pembelahan sitoplasma
(sitokinesis). Makhluk yang membiak secara seksual mengenal dua macam
pembelahan inti, yaitu pembelahan biasa (mitosis) dan pembelahan reduksi (meiosis)
(Suryo,2001).
Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet atau sel kelamin. Sel gamet
terdiri dari gamet jantan (spermatozoa) yang dihasilkan di testis dan gamet betina
(ovum) yang dihasilkan di ovarium(Suryo,2001).

4
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel spermatozoa (tunggal :
spermatozoon) yang terjadi di organ kelamin (gonad) jantan yaitu testis tepatnya di
tubulus seminiferus. Spermatogenesis berasal dari kata sperma dan genesis yang
berarti pembelahan. Spermatogenesis merupakan tahap atau fase- fase pendewasaan
sperma di epididimis yang mana setiap spermatogonium akan menghasilkan empat
sperma batangan(Kimbal, Jhon.2010).
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam ovarium.
Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogonia
(tunggal: oogonium). Merupakan proses dari bentuk betina gametogenesis yang setara
dengan jantan yakni spermatogenesis. Oogenesis berlangsung melibatkan
pengembangan berbagai tahap reproduksi telur sel betina yang belum matang(Pratiwi,
D.A. 2004).
Karena pengamatan saat ini mengenai meiosis spermatogenesis, dan agar
pengetahuan kita mengenai organ reproduksi jantan menjadi lebih jelas maka dalam
percobaan kali ini kita melakukan pengamatan langsung pada preparat testis tikus.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang kamu ketahui tentang dengan reproduksi sel ?
2. Bagaimana cara sel dalam reproduksi meiosis?
3. Bagaimana tahap- tahap perkembangan spermatogenenesis?

1.3 Tujuan
Agar kita mengetahui tahapan- tahapan pada proses spermatogenesis.

1.4 Manfaat

1. Mengembangkan wawasan kita betapa besarnya kekuasaan Tuhan YME akan


ciptaanya
2. Memperluas wawasan kita akan faham reproduksi pada sel
3. Menambah pengetahuan kita akan macam- macam bentuk reproduksi sel
4. Memperdalam pengetahuan kita akan tahap- tahap yang terjadi pada reproduksi
sel mitosis
5. Sebagai bukti referensi akan bentuk, reproduksi sel mi

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian reproduksi sel

Reproduksi sel adalah proses memperbanyak jumlah sel dengan cara membelah diri,
baik pada organisme uniseluler maupun multiseluler. Pembelahan sel pada organisme
uniseluler merupakan suatu cara bagi organisme tersebut untuk melestarikan jenisnya.
Sedangkan, bagi organisme multiseluler, pembelahan sel menyebabkan pertumbuhan dan
perkembangan organisme. Misalnya, pada manusia, sel-sel memperbanyak diri sehingga
tubuh manusia tersebut menjadi besar dan tinggi. Selain itu, reproduksi sel pada organisme
multiseluler juga menghasilkan sel-sel gamet yang berguna pada saat perbanyakan secara
generatif (reproduksi organisme melalui proses perkawinan). Reproduksi sel merupakan
proses penggandaan materi genetik (DNA) yang terdapat di dalam nukleus. Sehingga,
menghasilkan sel-sel anakan yang memiliki materi genetik yang sama(Robert.S Hine, ed.
2008).

1.2 Cara sel dalam reproduksi meiosis

Pembelahan meiosis disebut juga pembelahan reduksi , yaitu pe-ngurangan jumlah


kromosom pada sel-sel kelamin (sel gamet jantan dan sel gamet betina). Sel gamet jantan
pada hewan (mamalia) diben-tuk di dalam testis dan gamet betinanya dibentuk di dalam
ovarium. Gamet jantan pada tumbuhan dibentuk di dalam organ reproduktif berupa benang
sari, sedangkan gamet betinanya dibentuk di dalam pu-tik. Sel kelamin betina pada hewan
berupa sel telur, sedangkan pada tumbuhan berupa putik. Pada dasarnya, tahap pembelahan
meiosis serupa dengan pembelahan mitosis. Hanya saja, pada meiosis terjadi dua kali
pembelahan, yaitu meiosis I dan meiosis II. Masing-masing pembelahan meiosis terdiri
dari tahap-tahap yang sama, yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase (Fried, H.
George dkk.2005)..

Bagaimanakah ciri-ciri setiap tahap pembelahan meiosis tersebut? Kalian akan


mengetahuinya setelah mempelajari uraian berikut.

1. Tahap Meiosis I
Seperti halnya pembelahan mitosis, sebelum mengalami pembe-lahan meiosis, sel kelamin
perlu mempersiapkan diri. Fase persiapan ini disebut tahap interfase . Pada tahap ini, sel

6
melakukan persiapan berupa penggandaan DNA dari satu salinan menjadi dua salinan
(seperti interfase pada mitosis). Tingkah laku kromosom masih belum jelas terlihat karena
masih berbentuk benang-benang halus (kro-matin) sebagaimana interfase pada mitosis.
Selain itu, sentrosom juga bereplikasi menjadi dua (masing-masing dengan 2 sentriol),
seperti tampak pada gambar di samping. Sentriol berperan dalam menentu-kan arah
pembelahan sel.

Setelah terbentuk salinan DNA, barulah sel mengalami tahap pembelahan meiosis I yang
diikuti tahap meiosis II. Tahap meiosis I ter-diri atas profase I, metafase I, anafase I, dan
telofase I, serta sitokinesis I. Bagaimanakah ciri-ciri setiap fase pembelahan tersebut?
Berikut akan dibahas fase-fase meiosis I pada sel hewan dengan 4 kromosom diploid (2n =
2) (Larson, A. 1998).

Untuk lebih jelasnya, lihatlah penjelasan di bawah ini :

a. Profase I
Pada tahap meiosis I, profase I merupakan fase terpanjang atau terlama dibandingkan fase
lainnya bahkan lebih lama daripada tahap profase pada pembelahan mitosis. Profase I
dapat berlangsung dalam beberapa hari. Biasanya, profase I membutuhkan waktu sekitar
90% dari keseluruhan waktu yang dibutuhkan dalam pembelahan meiosis. Tahapan ini
terdiri dari lima subfase, yaitu leptoten, zigoten, pakiten, iploten, dan diakinesis.
1) Leptoten
Subfase leptoten ditandai adanya benang-benang kromatin yang memendek dan menebal.
Pada subfase ini mulai terbentuk sebagai kromosom homolog. Kalian perlu membedakan
kromosom homolog dengan kromatid saudara. Gambar 4.13 memperlihatkan perbedaan
pasangan kromosom homolog dengan kromatid saudara.

2) Zigoten
Kromosom homolog saling berdekatan atau berpasangan menurut panjangnya. Peristiwa
ini disebut sinapsis. Kromosom
homolog yang berpasangan ini disebut bivalen (terdiri dari 2 kro-mosom homolog). Amati
kembali Gambar 4.13.
3) Pakiten
Kromatid antara kromosom homolog satu dengan kromosom homolog yang lain disebut
sebagai kromatid bukan saudara ( non
sister chromatids ). Dengan demikian, pada setiap kelompok sinap-sis terdapat 4 kromatid
(1 pasang kromatid saudara dan 1 pasang kromatid bukan saudara). Empat kromatid yang
membentuk pa-sangan sinapsis ini disebut tetrad (Gambar 4.14).
4) Diploten
Setiap bivalen me ngandung empat kromatid yang tetap berkaitan atau berpasangan di

7
suatu titik yang disebut kiasma
(tunggal). Apabila titik-titik perlekatan tersebut lebih dari satu disebut kiasmata. Proses
perlekatan atau persilangan kromatid-kromatid disebut pindah silang ( crossing over ).
Pada proses pin-dah silang, dimungkinkan terjadinya pertukaran materi genetik
(DNA) dari homolog satu ke homolog lainnya. Pindah silang ini-lah yang memengaruhi
variasi genetik sel anakan.

5) Diakinesis
Pada subfase ini terbentuk benang-benang spindel pembela-han (gelendong mikrotubulus).
Sementara itu, membran inti sel
atau karioteka dan nukleolus mulai lenyap.Profase I diakhiri dengan terbentuknya tetrad
yang mem-bentuk dua pasang kromosom homolog. Perhatikan lagi  Setelah profase I
berakhir, kromosom mulai bergerak ke bi-dang metafase.

b. Metafase I
Pada metafase I, kromatid hasil duplikasi kromosom homolog berjajar berhadap-hadapan
di sepanjang daerah ekuatorial inti (bidang metafase I). Membran inti mulai menghilang.
Mikrotubulus kinetokor dari salah satu kutub melekat pada satu kromosom di setiap
pasangan. Sementara mikrotubulus dari kutub berlawanan melekat pada pasang-an
homolognya. Dalam hal ini, kromosom masih bersifat diploid.

c. Anafase I
Setelah tahap metafase I selesai, gelendong mikrotubulus mulai menarik kromosom
homolog sehingga pasangan kromosom homolog terpisah dan masing-masing menuju ke
kutub yang berlawanan Gambar 4.16). Peristiwa ini mengawali tahap anafase I. Namun,
kromatid saudara masih terikat pada sentromernya dan bergerak sebagai satu unit tunggal.
Inilah perbedaan antara anafase pada mitosis dan meiosis. Pada mitosis, mikrotubulus
memisahkan kromatid yang bergerak ke arah berlawanan. Coba pelajari lagi tahap anafase
pada mitosis.

d. Telofase I
Pada telofase, setiap kromosom homolog telah mencapai kutub-kutub yang berlawanan. Ini
berarti setiap kutub mempunyai satu set kromosom haploid. Akan tetapi, setiap kromosom
tetap mempunyai dua kromatid kembar. Pada fase ini, membran inti muncul kembali.
Peristiwa ini kemudian diikuti tahap selanjutnya, yaitu sitokinesis.

e. Sitokinesis
Kalian masih ingat pengertian sitokinesis pada sel hewan mau-pun tumbuhan bukan? Ya,
sitokinesis merupakan proses pembelahan sitoplasma. Tahap sitokinesis terjadi secara

8
simultan dengan telofase. Artinya, terjadi secara bersama-sama. Tahap ini merupakan
tahap di antara dua pembelahan meiosis. Alur pembelahan atau pelat sel mulai terbentuk
(Gambar 4.17). Pada tahap ini tidak terjadi perbanyakan (replikasi) DNA.  Hasil
pembelahan meiosis I menghasilkan dua sel haploid yang
mengandung setengah jumlah kromosom homolog. Meskipun demiki-an, kromosom
tersebut masih berupa kromatid saudara (kandungan DNA-nya masih rangkap). Untuk
menghasilkan sel anakan yang mem-punyai kromosom haploid diperlukan proses
pembelahan selanjutnya, yaitu meiosis II. Jarak waktu antara meiosis I dengan meiosis II
disebut
dengan interkinesis .

Jadi, tujuan meiosis II adalah membagi kedua salinan DNA pada sel anakan yang baru
hasil dari meiosis I. Meiosis II terjadi pada ta-hap-tahap yang serupa seperti meiosis I.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tahap meiosis II, perhatikan uraian selanjutnya.

2. Tahap Meiosis II
Tahap meiosis II juga terdiri dari profase, metafase, anafase, dan telo-fase. Tahap ini
merupakan kelanjutan dari tahap meiosis I. Masing-masing sel anakan hasil pembelahan
meiosis I akan membelah lagi menjadi dua. Sehingga, ketika pembelahan meiosis telah
sempurna, dihasilkan empat sel anakan. Hal yang perlu diingat adalah bahwa jumlah
kromo-som keempat sel anakan ini tidak lagi diploid (2n) tetapi sudah haploid
(n). Proses pengurangan jumlah kromosom ini terjadi pada tahap meio-sis II.
Bagaimanakah proses pengurangan jumlah kromosom ini terjadi? ( Margono, H. 1973).

Kita akan mengetahuinya setelah mempelajari uraian di bawah ini.


a. Profase II
Fase pertama pada tahap pembelahan meiosis II adalah profase II (Gambar 4.18a). Pada
fase ini, kromatid saudara pada setiap sel anakan masih melekat pada sentromer
kromosom. Sementara itu, benang mi-krotubulus mulai terbentuk dan kromosom mulai
bergerak ke arah bidang metafase. Tahap ini terjadi dalam waktu yang singkat karena
diikuti tahap berikutnya.
b. Metafase II
Pada metafase II, setiap kromosom yang berisi dua kromatid, me-rentang atau berjajar
pada bidang metafase II (Gambar 4.18b). Pada tahap ini, benang-benang spindel (benang
mikrotubulus) melekat pada kinetokor masing-masing kromatid.
c. Anafase II
Fase ini mudah dikenali karena benang spindel mulai menarik kromatid menuju ke kutub
pembelahan yang berlawanan. Akibatnya, kromosom memisahkan kedua kromatidnya
untuk bergerak menuju kutub yang berbeda (Gambar 4.18c). Kromatid yang terpisah ini

9
se-lanjutnya berfungsi sebagai kromosom individual.
d. Telofase II
Pada telofase II, kromatid yang telah menjadi kromosom menca-pai kutub pembelahan.
Hasil akhir telofase II adalah terbentuknya 4 sel haploid, lengkap dengan satu salinan DNA
pada inti selnya (nuklei).
e. Sitokinesis II
Selama telofase II, terjadi pula sitokinesis II, ditandai adanya sekat sel yang memisahkan
tiap inti sel. Akhirnya terbentuk 4 sel kembar yang haploid. Berdasarkan uraian di depan,
sel-sel anakan sebagai hasil pembelahan meiosis mempunyai sifat genetis yang bervariasi
satu sama lain. Variasi genetis yang dibawa sel kelamin orang tua menyebabkan
munculnya keturunan yang bervariasi juga.

1.3 Proses tahap perkembangan spermatogenesis

Spermatogenesis berasal dari kata sperma dan genesis (pembelahan). Pada


spermatogenesis terjadi pembelahan secara mitosis dan meiosis,Spermatogenesis
merupakan tahap atau fase- fase pendewasaan sperma di epididimis. Setiap satu
spermatogonium akan menghasilkan empat sperma matang.

1. Spermatogonium
Merupakan tahap pertama pada spermatogenesis yang dihasilkan oleh testis.
Spermatogonium terbentuk dari 46 kromosom dan 2N kromatid.
2. Spermatosit Primer
Spermatosit Primer merupakan mitosis dari spermatogonium. Pada tahap ini terjadi
pembelahan secara meiosis. Spermatosit primer terbentuk 46 kromosom dan 4N
kromatid (Margono, H. 1973).
3. Spermtosit Sekunder
Spermatosit Sekunder merupakan meiosis dari spermatosit primer. Pada tahap ini
terjadi pembelahan secara meiosis yang kedua. Spermatid terbentuk dari 23
kromosom dan 2N kromatid (Yatim, Wildan. 1987).
4. Spermatid
Spermatid merupakan meiosis dari spermatid sekunder. Pada tahap ini terjadi
pembelahan secara meiosis yang kedua. Spermatid terbentuk dari 23 kromosom dan 1
N kromatid ( Larson, A.1998)..
5. Sperma
Sperma merupakan diferensiasi atau pematangan dari spermatid. Pada tahp ini terjadi
diferensiasi. Sperma terbentuk dari 23 kromosom dan 1N kromatid dan merupakan
tahap sperma yang telah matang dan siap dikeluarkan (Pollar & Thomas, 2002)

10
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dantempat

Praktikumdilaksanakanpadatanggal 30 Oktober 2014 jam 07.30 – 10.30 di


laboratorium fakultas kedokteran Universitas Nahdlatululama Surabaya.

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Mikroskop Cahaya
2. Preparat testis tikus

3.3 Cara kerja

1. Siapkan mikroskop cahaya dan preparat yang diperlukan dalam praktikum.


2. Amati masing- masing preparat dengan pembesaran lemah kemudian dengan
pembesaran kuat.
3. Gambar hasil pengamatan dengan representatif sebagai laporan sementara

11
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


N Nama Gambar Gambar Literatur
O Jaringan
1. Spermatogon
ium

2. Spermatosit
primer

12
3. Spermatosit
Sekunder

4. Spermatid

5. Sperma

13
6. Sel Sertoli

7. Sel Lydig

4.2 Pembahasan

1. Spermatogonium
Pada pengamatan kali ini dalam perbesaran mikroskop 100 x 1.25
spermatogonium tampak memiliki inti diploid, terletak pada pinggir tubulus
seminiferus, berbentuk bulat dan nampak jelas.

Spermatogonia adalah sel- sel perkursor yang besar dan selalu terletak
disepanjang membrane basal tubulus. Sel- sel besar yang terletak dekat dengan
membrane basal dan memiliki inti bulat adalah spermatogonium
.
2. Spermatosit Primer
Dalam perbesaran yang sama spermatosit primer memiliki inti diploid, teletak
dibawah spermatogonium ditengah- tengah tubulus seminiferus, san tampak
mulai agak tidak jelas atau buram.

14
Spermatosit primer memiliki ukuran paling besar (diantara sel- sel gamet)
dengan inti besar ditengahnya, inti heterochromatic, dan mereka terletak di
antara membrane basal dan lumen tubulus (Yatim, Wildan. 1987).

3. Spermatosit Sekunder
Lain halnya dengan Spermatosit Sekunder memiliki inti haploid, terletak
ditengah- tengah tubulus seminiferus, mulai mendekati lumen dan Berubah
bentuk menjadi bulat jugan nampak mulai memudar.

Spermatosit Sekunder merupakan meiosis dari spermatosit primer. Pada tahap


ini terjadi pembelahan secara meiosis yang kedua. Spermatid terbentuk dari 23
kromosom dan 2N kromatid.

4. Spermatid
Disini sudah mulai nampak perbedaan perkembangan meiosis
spermatogonium karena spermatid mulai memiliki ekor, memiliki inti haploid,
terletak di dekat lumen dan sudah agak berbentuk lonjong.

Spermatid merupakan meiosis dari spermatid sekunder. Pada tahap ini terjadi
pembelahan secara meiosis yang kedua. Spermatid terbentuk dari 23
kromosom dan 1 N kromatid ( Larson, A. 1998)..

5. Sperma
Inilah hasil cikal bakal yang sudah membentuk sperma, karena sudah memiliki
ekor yang sudah terbentuk dengan sempurna, memiliki inti haploid dan
terletak di lumen.

6. Sel Sertoli
Memiliki inti berbentuk segitiga, terletak dipinggir tubulus seminiferus.

Sel Sertoli menyelimuti sel- sel gamet selama proses maturasinya.


Sel sertoli dapat dibedakan karena mereka memiliki warna pucat dengan
nukleus berbentuk oval inti dan bentuk sel yang tidak beraturan, batas antar sel
tidak jelas. Inti sel sertoli memilik nucleus yang besar, relative pucat da tidak
teratur bentuknya (Fried, H. George dkk.2005).

7. Sel Leydig

Terletak dijaringan ikat antara tubulus seminiferus dan berbentuk bulat atau
lon

15
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

Reproduksi sel adalah proses memperbanyak jumlah sel dengan cara membelah diri,
baik pada organisme uniseluler maupun multiseluler.

Cara sel bereproduksi, amitosis adalah pembelahan langsung tanpa melalui tahap-
tahap pembelahan sel seperti pada prokariotik. Mitosis adalah dimana satu sel (haploid)
menjadi dua sel identik, hanya digunakan untuk pertumbuhan, perkembangan dan pebaikan,
melalui beberapa fase diantaranya, interfase →profase →metafase → anafase → telofase→
sitokinesis. Meiosis adalah dimana pembelahan yang terjadi pada sel gamet di dalam tubulus

16
seminiferus pada spermatogonium melalui tahap tertentu, yaitu tahap meiosis I : Interfase→
Profase I→ Metafase I→ Anafase I → Telofase I → Sitokinesis I. Kemudian tahap
Interkinesis dan Meiosis II yang terdiri : Profase II → Metafase II → Anafase II →
TelofaseII → Sitokinesis II

Spermatogenesis merupakan proses pembentukan spermatozoa dari spermatogonium


dalam tubulus seminiferus pada testis, berturut- turut dari tepi kea rah lumen ialah:
Spermatogonium (2n) → Spermatosit Primer (2n) → Spermatosit Sekunder (n) →
Spermatid(n) → Spermatozoa (n).

5.2 Saran

Harapan saya, percobaan atau praktek biologi semacam ini terus diadakan guna membantu
para mahassiswa semakin mengenal lebih dalam ilmu- ilmu yang telah dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA

Fried, H. George dkk.(2005). Schaum’s Outlines BIOLOGI edisi kedua. Jakarta:


ERLANGGA
Campbell,  dkk.(2004). Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga
Pratiwi, D.A. (1996). Biologi 2. Jakarta. Erlangga
Syahrum, H. M. (1994). Reproduksi dan Embriologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Pujiyanto, S. (2008). Biologi untuk SMA Kelas XI. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri 
Suryo. 2001. Genetika. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Stansfield, William dkk. 2006. Biologi molecular dan sel. Jakarta: Erlangga
nd Connections 3hd edition. new YorkVasoo S; Department of Laboratory Medicine and
Pathology, Division of Clinical

17
Foster, Bob. 2008. Koding IPA. Bandung : Ganesha Opertaion
Margono, H. 1973. Pengaruh Colchicine
terhadappertumbuhanMemanjangAkarBawangMerah (Aliumcepa). Skripsitidakditerbitkan.
Malang: IKIP.
Pratiwi, D.A. 2004. PenuntunBiologi. Jakarta: Erlangga
Setjo, S. 2004. AnatomiTumbuihan. Malang: JICA.
Microbiology, Mayo Clinic, 200 1st Street Southwest, Rochester, MN 55905, USA. Journal
Article; Review. Publisher: Elsevier Health Sciences Division Country of
Publication:  United States NLM ID: 8100174 Publication Model: Print Cited
Medium:Internet ISSN: 1557-9832 (Electronic) Linking ISSN: 02722712 NLM ISO
Abbreviation: Clin. Lab. Med. Subsets: MEDLINE. Date Created: 20130812 Date
Completed:  20140408

Yatim, Wildan. 1987. Biologi Modern- Biologi Sel. Bandung: Tarsito

Yosaphat Sumardi. 2012. Biofisika Modul 4: Mekanika dalam Tubuh. YoAgungpriyono S.


1997. Morphology of the gut endocrine cell in the Gastrointestinal Tract of The Lesser
Mouse Deer (Tragulus javanicus). Media Veteriner, 4(1) : 25-23 Yogyakarta: FMIPA UNY.

Hewitt, Paul G., Suzanne Lyons, John Suchoki, dan Jennifer Yeh. 2007. Conceptual
Integrated Science. San Francisco: Pearson Education Inc.

Pollard,Thomas  D.; Earnshaw,William  C. 2002, Cell Biology first edition, London

Kimball, John. 1990. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga


Rachmadiarti, Fida, dkk. 2007. Biologi Umum. Surabaya: Unesa University Press

Alberts B, Bray D, Lewis J, Raf,dan Hf M, Roberts K dan Watson JD, Molecular Biology of


the Cell. :, 1994
Hickman, C.P., Roberts, L.S., and Larson, A. (1998). Biology of Animals. 7th ed. New York:
McGraw Hill Company Inc.

18