Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Industri Farmasi

2.1.1

Pengertian Industri Farmasi

Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari

industri obat jadi dan

industri bahan baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang memproduksi

suatu produk obat yang telah melalui seluruh tahap proses pembuatan, dimana

obat jadi tersebut dapat berupa sediaan atau bahan-bahan yang sering digunakan

untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologis atau keadaan patologi

dalam

rangka

penetapan

diagnosis,

pencegahan,

penyembuhan,

pemulihan,

peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Industri bahan baku adalah industri yang

memproduksi bahan baku dimana bahan baku tersebut adalah seluruh bahan, baik

berkhasiat ataupun tidak berkhasiat yang digunakan dalam proses pengolahan

obat.

2.1.2

Persyaratan Industri Farmasi

Perusahaan industri farmasi wajib memperoleh izin usaha industri farmasi,

karena itu industri tersebut wajib memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan

oleh Menteri Kesehatan. Persyaratan industri farmasi tercantum dalam Surat

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245//Menkes/SK/V/1990 adalah sebagai

berikut :

Industri

farmasi

merupakan

suatu

perusahaan

berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi.

umum,

badan

hukum

Universitas Sumatera Utara

Memiliki rencana investasi.

 

Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

 

Industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib memenuhi persyaratan

CPOB

sesuai

dengan

ketentuan

SK

Menteri

Kesehatan

No.

43/Menkes/SK/II/1988.

 

Industri farmasi obat jadi dan bahan baku, wajib mempekerjakan secara

tetap sekurang-kurangnya dua orang apoteker warga Negara Indonesia,

masing-masing

sebagai

penanggung

jawab

produksi

dan

penanggung

jawab pengawasan mutu sesuai dengan persyaratan CPOB.

Obat jadi yang diproduksi oleh industri farmasi hanya dapat diedarkan

setelah

memperoleh

izin

edar

sesuai

dengan

ketentuan

perundang-

undangan yang berlaku.

 

2.1.3

Izin usaha industri farmasi

Izin

usaha

industri

farmasi

diberikan

oleh

Menteri

Kesehatan

dan

wewenang pemberian izin dilimpahkan kepada Badan Pengawasan Obat dan

Makanan

(BPOM).

Izin

ini

berlaku

seterusnya

selama

industri

tersebut

berproduksi dengan perpanjangan izin setiap 5 tahun, sedangkan untuk industri

farmasi

Penanaman

Modal

Asing

(PMA)

masa

berlakunya

sesuai

dengan

ketentuan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal

Asing dan pelaksanaannya.

2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

CPOB

merupakan

pedoman

yang

harus

diterapkan

dalam

seluruh

rangkaian proses di industri farmasi dalam pembuatan obat jadi, sesuai dengan

keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

No.

43/Menkes/SK/II/1988

tentang

Cara

Universitas Sumatera Utara

Pembuatan Obat yang Baik. Pedoman CPOB bertujuan untuk menghasilkan

produk obat yang senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan

sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Obat yang berkualitas adalah obat jadi yang benar-benar dijamin bahwa

obat tersebut :

- Mempunyai potensi atau kekuatan untuk dapat digunakan sesuai tujuannya.

- Memenuhi persyaratan keseragaman, baik isi maupun bobot.

- Memenuhi syarat kemurnian.

- Memiliki identitas dan penandaan yang jelas dan benar.

- Dikemas dalam kemasan yang sesuai dan terlindung dari kerusakan dan

kontaminasi.

- Penampilan baik, bebas dari cacat atau rusak.

Perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi farmasi menyebabkan

perubahan-perubahan yang sangat cepat pula dalam konsep serta persyaratan

CPOB. Konsep CPOB yang bersifat dinamis yang memerlukan penyesuaian dari

waktu ke waktu mengikuti perkembangan teknologi di bidang farmasi Aspek-

aspek yang merupakan cakupan CPOB tahun 2006 meliputi 12 aspek yang

dibicarakan, yaitu :

2.2.1 Manajemen Mutu

Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan

tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen

izin

edar

(registrasi)

dan

tidak

menimbulkan

resiko

yang

membahayakan

penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen

bertanggung jawab untuk mencapai tujuan ini melalui suatu “kebijakan mutu”

Universitas Sumatera Utara

yang

memerlukan

partisipasi

dan

komitmen

dari

semua

jajaran

di

semua

departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor. Untuk

mencapai

tujuan

mutu

secara

konsisten

dan

dapat

diandalkan,

diperlukan

manjemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar.

Unsur dasar manajemen mutu adalah :

1. Suatu

infrastruktur

atau

sistem

mutu

yang

tepat

mencakup

struktur

organisasi, prosedur, proses dan sumber daya; dan

2. Tindakan sistematis diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan

tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau jasa pelayanan)

yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Keseluruhan tindakan tersebut disebut Pemastian Mutu.

Semua

bagian

sistem

pemastian

mutu

hendaklah

didukung

dengan

tersedianya personil yang kompeten, bangunan dan sarana serta peralatan yang

cukup dan memadai. Tambahan tanggung jawab hukum hendaklah diberikan

kepada kepala bagian manajemen mutu (Pemastian Mutu).

Pemastian Mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup semua hal baik

secara tersendiri, maupun secara kolektif yang akan mempengaruhi mutu dari obat

yang dihasilkan. Pemastian Mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat

dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai

dengan tujuan pemakaiannya.

2.2.2 Personalia

Jumlah

personil

di

semua

tingkat

harus

memadai

serta

memiliki

pengetahuan,

keterampilan

dan

kemampuan

yang

sesuai

dengan

tanggung

jawabnya. Kesehatan mental dan fisik yang baik harus dimiliki personil agar

Universitas Sumatera Utara

mampu

melaksanakan

tugas

secara

profesional.

Selain

itu,

para

personil

hendaklah memiliki sikap dan kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB. Hal-

hal yang harus diperhatikan dalam aspek personalia adalah :

1. Organisasi, kualifikasi, dan tanggung jawab

a. Struktur organisasi perusahaan bagian produksi dan pengawasan mutu harus

dipimpin oleh apoteker yang berbeda, yang tidak saling bertanggung jawab

satu dengan yang lain. Keduanya tidak boleh mempunyai kepentingan di

luar

organisasi

perusahaan,

tanggung jawabnya.

yang

dapat

menghambat

atau

membatasi

b. Manajer produksi hendaklah seorang apoteker yang terlatih serta memiliki

pengalaman yang memadai, diberikan wewenang dan tanggung jawab penuh

untuk mengelola produksi obat.

c. Manajer pengawasan mutu hendaklah seorang apoteker yang handal, terlatih

dan memiliki pengalaman praktis yang memadai, memiliki wewenang dan

tanggung

jawab

penuh

dalam

penyusunan,

seluruh prosedur pengawasan mutu.

verifikasi

dan

pelaksanaan

d. Manajer produksi dan pengawasan mutu bersama-sama bertanggung jawab

dalam penyusunan dan pengesahan prosedur-prosedur tertulis, pemantauan

dan pengawasan lingkungan pembuatan obat, kebersihan pabrik dan validasi

proses

produksi,

kalibrasi

alat-alat

pengukur,

pelatihan

personalia,

pemberian

persetujuan

terhadap

pemasok

bahan

dan

kontraktor,

pengamanan produk dan bahan terhadap kerusakan serta kemunduran mutu

dan dalam penyimpanan dokumen.

Universitas Sumatera Utara

e. Tersedianya

tenaga

yang

terampil

dalam

jumlah

memadai

untuk

melaksanakan supervisi langsung di bagian produksi dan pengawasan mutu

obat.

Setiap

supervisor

tersebut

hendaklah

terlatih

dan

memiliki

keterampilan teknis, pengalaman dan bertanggung jawab kepada manajer

produksi dan pengawasan mutu.

f. Tersedianya tenaga yang terlatih secara teknis dalam jumlah memadai untuk

melaksanakan kegiatan produksi dan pengawasan mutu sesuai prosedur dan

spesifikasi yang telah ditentukan.

g. Tanggung jawab yang diberikan pada setiap personil hendaklah tidak terlalu

berlebihan yang dapat menimbulkan resiko terhadap mutu obat.

h. Tugas dan tanggung jawab hendaklah diberikan dengan jelas serta dapat

dipahami dengan baik oleh setiap personil.

2. Pelatihan

a. Seluruh personil yang terlibat dalam kegiatan pembuatan obat, hendaklah

dilatih mengenai kegiatan yang sesuai dengan tugasnya maupun mengenai

prinsip CPOB.

b. Pelatihan hendaklah diberikan oleh orang yang ahli. Perhatian khusus

diberikan bagi mereka yang bekerja di daerah steril dan daerah bersih atau

yang bekerja dengan bahan yang beresiko tinggi atau yang menimbulkan

sensitifitas.

c. Pelatihan mengenai CPOB dilakukan secara berkesinambungan dengan

frekuensi yang memadai untuk menjamin agar personil terbiasa dengan

persyaratan CPOB.

Universitas Sumatera Utara

d.

Pelatihan CPOB dilaksanakan menurut program tertulis yang disetujui oleh

manajer produksi dan pengawasan mutu.

e. Catatan pelatihan mengenai CPOB kepada personil hendaklah disimpan dan

efektivitas program pelatihan dan prestasi personil hendaklah dinilai secara

berkala untuk menentukan apakah mereka telah memiliki kualifikasi yang

memadai untuk melaksanakan tugas yang diberikan.

2.2.3 Bangunan dan Fasilitas

Bangunan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki ukuran, rancangan,

konstruksi

serta

letak

yang

memadai

agar

memudahkan

pelaksanaan

kerja,

pembersihan dan pemeliharaan, tiap sarana kerja hendaklah memadai, sehingga

setiap resiko terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan berbagai kesalahan lain

yang dapat menurunkan mutu obat dapat dihindarkan. Hal hal yang perlu

diperhatikan antara lain:

1. Lokasi bangunan hendaklah dapat mencegah terjadinya pencemaran dari

lingkungan sekelilingnya. Seperti pencemaran udara, tanah dan air maupun

kegiatan di sekitarnya.

2. Bangunan dirancang dengan baik sehingga dapat terpelihara dan berfungsi

sebagaimana mestinya :

a.

Permukaan

bagian

dalam haruslah

licin,

bebas

dari

keretakan

dan

sambungan terbuka serta mudah dibersihkan dan didesinfeksi. Lantai

terbuat dari bahan kedap air, permukaan rata yang memudahkan proses

pembersihan secara cepat dan efisien. Dinding kedap air dan mudah

dicuci. Sudut sudut dinding hendaklah berbentuk lengkungan.

Universitas Sumatera Utara

b. Bangunan

hendaklah

mendapatkan

penerangan

mempunyai ventilasi yang sesuai.

yang

efektif

dan

c. Penataan ruangan disesuaikan dengan tujuan penggunaan, seperti ruang

untuk steril dipisahkan dari ruang produksi lain serta dirancang secara

khusus. Ruangan ruangan khusus diperlukan bagi kegiatan kegiatan

pembukaan kemasan, pencucian, pengolahan dan penutupan wadah,

ruangan penyangga udara dan pergantian pakaian steril.

d. Pemisahan produksi obat Betalaktam dengan non Betalaktam dilakukan

dengan isolasi yang efektif terhadap kegiatan dalam satu gedung melalui

sistem

pengolahan

udara

yang

terpisah.

Adanya

perbedaan

kelas

pemisahan ruang di dalam bangunan produksi, misalnya ruang untuk

bahan baku, kamar ganti pakaian dan pengolahan produksi.

e. Tersedianya sarana penyimpanan dengan kondisi khusus, misalnya:

suhu,

kelembaban

dan

keamanan

tertentu.

Dalam

penyimpanan

hendaklah dihindari terjadinya pencampuran.

f. Kondisi bangunan diperiksa secara teratur dan dilakukan perbaikan bila

diperlukan.

g. Lubang

pemasukan

dan

pengeluaran

udara

serta

pipa

dipasang

sedemikian rupa untuk mencegah timbulnya pencemaran produk.

3. Saluran air limbah hendaklah cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta

ventilasi yang baik.

4. Tenaga listrik, suhu, kelembaban dan ventilasi harus tepat supaya tidak

mengakibatkan dampak yang merugikan baik secara langsung ataupun tidak

langsung terhadap produk selama proses pembuatan dan penyimpanan.

Universitas Sumatera Utara

2.2.4

Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah memiliki

rancangan bangunan dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta

ditempatkan dengan tepat sehingga mutu setiap produk obat terjamin secara

seragam

dari

bets

ke

bets

serta

untuk

memudahkan

pembersihan

dan

perawatannya

 

1. Rancang Bangun dan Konstruksi

a. Peralatan

yang

digunakan

tidak

bereaksi

terhadap bahan yang diolah.

atau

menimbulkan

akibat

b. Peralatan hendaklah mudah dibersihkan baik bagian dalam maupun

bagian luarnya.

c. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji dan

mencatat hendaklah diperiksa ketelitiannya secara teratur serta ditara

menurut program dan prosedur yang tepat, hasil pemeriksaannya dicatat

dan disimpan dengan baik.

d. Penyaring untuk cairan tidak boleh melepaskan serat ke dalam produk

dan tidak boleh mengandung asbes.

2. Pemasangan dan Penempatan

a. Peralatan

hendaklah

ditempatkan

pada

posisi

yang

tepat

untuk

memperkecil pencemaran silang antar bahan.

 

b. Peralatan

ditempatkan

dengan

jarak

yang

cukup

renggang

untuk

memberikan keleluasaan kerja.

Universitas Sumatera Utara

c. Peralatan

utama

diberi

nomor

pengenal

yang

dipakai

pada

semua

perintah dan catatan pembuatan bets untuk menunjukkan unit atau alat

tertentu.

d. pipa,

Semua

tangki,

selubung

hendaknya

diberikan

pelekat

untuk

memperkecil kehilangan energi.

e. Saluran pipa yang menggunakan uap bertekanan hendaknya dilengkapi

dengan peralatan uap dan saluran pembuangan yang berfungsi dengan

baik.

f. Sistem penunjang hendaknya divalidasi untuk memastikan fungsinya

sesuai tujuannya.

3.

Pemeliharaan

a. Peralatan hendaknya dirawat sesuai jadwal yang tepat agar berfungsi

dengan baik dan mencegah pencemaran.

b. Prosedur prosedur tertulis untuk peralatan dibuat dan dipatuhi.

c. Catatan

pelaksanaan pemeliharaan pemakaian

peralatan

utama

hendaklah dicatat dalam buku harian dan catatan untuk peralatan yang

digunakan khusus untuk satu produk saja dapat dimasukkan ke catatan

produksi bets produk tertentu.

2.2.5 Sanitasi dan Higiene

Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap

aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personalia,

bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya dan setiap

hal yang merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran hendaknya

Universitas Sumatera Utara

dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan

terpadu.

2.2.6

Produksi

Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah

ditetapkan;

dan

memenuhi

ketentuan

CPOB

yang

menjamin

senantiasa

menghasilkan

produk

yang

memenuhi

persyaratan

mutu

serta

memenuhi

ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi).

Produksi baiknya dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten.

Mutu suatu obat tidak hanya ditentukan oleh hasil analisa terhadap produk akhir,

melainkan juga oleh mutu yang dibangun selama tahapan proses produksi sejak

pemilihan bahan awal, penimbangan, proses produksi, personalia, bangunan,

peralatan, kebersihan dan higiene sampai dengan pengemasan.

Prinsip utama produksi adalah :

Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets.

Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk

yang seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang

sudah diproduksi maupun yang akan diproduksi.

Prosedur

produksi

dibuat

oleh

penanggung

jawab

produksi

bersama

dengan penanggung jawab pengawasan mutu yang dapat menjamin obat yang

dihasilkan memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan. Pada proses produksi, mutu

produk yang dihasilkan sangat ditentukan oleh bahan awal, proses produksi,

personil, dan sistem tervalidasi.

Universitas Sumatera Utara

Penyimpanan tergantung dari kestabilan bahan awal. Untuk penyimpanan

hendaklah

tersedia

ruangan

dengan

suhu

yang

berbeda-beda.

CPOB

mempersyaratkan klasifikasi ruangan berdasarkan suhu menjadi 5 jenis, yaitu :

Suhu ruangan : 15-30 o C

Suhu ruangan yang dikendalikan : 25 o C

Sejuk : 8-15 o C

Dingin : 2-8 o C

Beku : dibawah 0 o C

Ruangan steril, ruangan penyangga, ruangan ganti pakaian steril dan

ruangan ganti pakaian biasa atau ruangan produksi lain hendaklah memiliki

perbedaan tekanan udara 10-15 Pa. tekanan udara dalam ruangan yang memiliki

resiko yang lebih tinggi terhadap suatu produk hendaklah selalu lebih tinggi

daripada ruangan lain. Bila suatu pintu dibuka, tekanan atau hembusan udara dari

arah ruangan yang beresiko tinggi hendaklah cukup mampu untuk menciptakan

arus udara ke arah ruang yang beresiko lebih rendah untuk menghindarkan

pencemaran balik ke ruang steril.

2.2.7 Pengawasan Mutu

Pengawasan mutu merupakan bagian yang esensial dari cara pembuatan

obat yang baik untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten

mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.

Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analitis yang

dilakukan

di

laboratorium,

termasuk

pengambilan

sampel,

pemeriksaan

dan

pengujian bahan awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi. Kegiatan ini

juga mencakup juga uji stabilitas, program pemantauan lingkungan, pengujian

Universitas Sumatera Utara

yang dilakukan dalam rangka validasi, penanganan sampel pertinggal, menyusun

dan memperbaharui spesifikasi bahan, produk serta metode pengujiaannya.

Bagian pengawasan mutu dalam suatu pabrik obat bertanggung jawab

untuk memastikan bahwa :

Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan

untuk identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanannya;

Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ditetapkan

dan telah divalidasi sebelumnya antara lain melalui evaluasi, dokumentasi,

produksi terlebih dahulu;

Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap

suatu bets obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi

yang ditetapkan sebelum didistribusikan;

Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran

yang ditetapkan.

Laboratorium pengawasan mutu hendaklah terpisah secara fisik dari ruang

produksi. Selain itu bagi suatu laboratorium untuk pengawasan selama proses

mungkin lebih memudahkan apabila letaknya di daerah tempat pemprosesan atau

pengemasan dimana dilakukan pengujian fisik seperti penimbangan, dan uji

monitoring lainnya secara periodik.

Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian pengawasan

mutu hendaklah menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilakukan

sebelum

bahan

digunakan

dalam

produksi

dan

produk

disetujui

sebelum

didistribusikan. Personil pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area

produksi untuk melakukan pengambilan sampel dan investigasi bila diperlukan.

Universitas Sumatera Utara

2.2.8 Inspeksi Diri dan Audit Mutu

2.2.8.1 Inspeksi Diri

Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek

produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB.

Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam

pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan.

Inspeksi diri dilakukan secara indepeden dan rinci oleh petugas yang kompeten

dari perusahaan. Inspeksi diri dilakukan secara rutin dan disamping itu, pada

situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau terjadi

penolakan

yang

berulang.

Prosedur

dan

catatan

inspeksi

diri

hendaklah

didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif.

Inspeksi meliputi personil, bangunan, penyimpanan, bahan awal, obat jadi,

produksi,

pengawasan

mutu,

dokumentasi

dan

pemeliharaan

gedung

serta

peralatan.

Universitas Sumatera Utara

dokter,

paramedik,

klinik,

rumah

sakit,

apotek,

distributor

dan

Otoritas

Pengawasan Obat (OPO).

 

2.2.10

Dokumentasi

Dokumentasi

adalah

bagian

dari

sistem

informasi

manajemen

dan

dokumentasi yang baik yang merupakan bagian yang esensial dari pemastian

mutu.

Sistem

dokumentasi

yang

dirancang

atau

digunakan

hendaklah

mengutamakan tujuannya, yaitu menentukan, memantau dan mencatat seluruh

aspek produksi serta pengendalian dan pengawasan mutu. Dokumentasi sangat

penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat instruksi secara rinci

dan

jelas

mengenai

bidang

tugas

yang

harus

dilaksanakannya

sehingga

memperkecil

resiko

terjadinya

kekeliruan

yang

biasanya

timbul

karena

mengandalkan komunikasi lisan.

2.2.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak

Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar,

disetujui

dan

menyebabkan

dikendalikan

produk

atau

untuk

menghindari

kesalahpahaman

pekerjaan

dengan

mutu

yang

tidak

yang

dapat

memuaskan.

Kontrak tertulis antara Pemberi Kontrak dan Penerima Kontrak harus dibuat

secara jelas menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak.

Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk

diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian Manajemen Mutu

(Pemastian Mutu).

Universitas Sumatera Utara

2.2.12 Kualifikasi dan Validasi

2.2.12.1 Kualifikasi

Kualifikasi adalah “kegiatan pembuktian” bahwa perlengkapan, fasilitas

atau sistem yang digunakan dalam suatu proses/sistem akan selalu bekerja sesuai

dengan kriteria yang diinginkan dan konsisten.

Validasi/kualifikasi mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang terdiri

dari 4 tingkatan, yaitu :

a. Kualifikasi Rancangan (Design Qualification)

Kualifikasi rancangan adalah unsur pertama dalam melakukan validasi

terhadap fasilitas, sistem atau peralatan baru. Tujuannya adalah untuk menjamin

dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan atau bangunan yang akan

dipasang atau dibangun sesuai dengan ketentuan atau spesifikasi yang diatur

dalam

ketentuan

CPOB

yang

berlaku.

Kualifikasi

ini

dilakukan

sebelum

instalasi (pemasangan) alat/mesin/prasarana produksi.

b. Kualifikasi Instalasi (Installation Qualification)

Tujuannya adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem

atau peralatan yang diinstalasi sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada

dokumen

pembelian,

manual

alat

yang

bersangkutan

dan

pemasangannya

dilakukan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Kualifikasi instalasi

dilakukan pada waktu instalasi (pemasangan baru), modifikasi atau pemindahan

alat yang bersangkutan.

c. Kualifikasi Operasional (Operational Qualification)

Tujuannya adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem

atau

peralatan

yang

telah

diinstalasi

bekerja

(beroperasi)

sesuai

dengan

Universitas Sumatera Utara

spesifikasi

yang

diinginkan.

Kualifikasi

operasional

dilakukan

setelah

kualifikasi instalasi (pemasangan baru), modifikasi atau pemindahan alat yang

bersangkutan.

d. Kualifikasi Kinerja (Performance Qualification)

Tujuannya adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem

atau peralatan yang telah diinstalasi bekerja sesuai dengan spesifikasi yang

diinginkan dengan cara menjalankan sistem sesuai dengan tujuan penggunaan.

2.2.12.2 Validasi

CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang

perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan

yang dilakukan. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama

program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam

Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara.

Dokumen RIV memuat antara lain :

Kebijakan validasi.

Struktur organisasi kegiatan validasi (komite validasi).

Ringkasan fasilitas, sistem, peralatan, dan proses yang akan divalidasi.

Format dokumen: format protokol dan laporan validasi, perencanaan dan

jadwal pelaksanaan validasi.

Pengendalian perubahan.

Acuan dokumen yang digunakan.

Kegiatan validasi meliputi kualifikasi (personil, peralatan dan sistem),

kalibrasi (instrumen dan alat ukur) dan validasi (prosedur dan proses).

Universitas Sumatera Utara

a. Validasi Metode Analisa

Tujuannya

adalah

untuk

membuktikan

bahwa

semua

metode

analisa

(cara/prosedur

pengujian)

yang

digunakan

dalam

pengujian

maupun

pengawasan mutu, senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara konsisten

(terus-menerus). Dalam validasi metode analisa yang diuji atau divalidasi

adalah

Protap

atau

Prosedur

Tetap

pengujian

yang

bersangkutan.

Protap

tersebut bisa dibuat oleh bagian pengawasan mutu. Apabila protap belum

tersedia maka harus dibuat terlebih dahulu, baru divalidasi.

Cakupan (ruang lingkup) :

Validasi metode analisa dilakukan untuk semua metoda analisa yang

digunakan untuk pengawasan kegiatan produksi.

Dilakukan dengan semua peralatan yang telah dikalibrasi dan diuji

kesesuaian sistemnya (alat atau sistem sudah dikualifikasi).

Menggunakan bahan baku pembanding yang sudah dibakukan atau

disimpan ditempat yang sesuai.

b. Validasi Proses Produksi

Tujuannya adalah:

Untuk

memberikan

dokumentasi

secara

tertulis

bahwa

prosedur

produksi yang berlaku dan digunakan dalam proses produksi rutin

(batch processing record), senantiasa mencapai hasil yang diinginkan

secara terus-menerus.

Mengidentifikasi dan mengurangi masalah yang terjadi selama proses

produksi dan memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang.

Meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses produksi.

Universitas Sumatera Utara

c.

Validasi Proses Pengemasan

Tujuannya adalah:

Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur pengemasan

yang berlaku dan digunakan dalam proses pengemasan rutin (batch

packaging record) sesuai dengan persyaratan rekonsiliasi yang telah

ditentukan, secara konsisten.

Operator

yang

melakukan

proses

pengemasan

kompeten

serta

mengikuti prosedur pengemasan yang telah ditentukan.

Proses pengemasan yang dilakukan, tidak terjadi peristiwa mix-up

(campur baur) antar produk maupun antar bets.

d. Validasi Pembersihan

Tujuannya adalah:

Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur pembersihan

yang berlaku dan digunakan sudah tepat dan dapat dilakukan berulang-

ulang (reliable and reproducible).

Peralatan/mesin yang dibersihkan tidak terdapat pengaruh yang negatif

karena efek pembersihan.

Operator yang melakukan pembersihan kompeten, mengikuti prosedur

pembersihan dan peralatan pembersihan yang telah ditentukan.

Cara

pembersihan

menghasilkan

tingkat

kebersihan

yang

telah

ditetapkan, misalnya sisa residu, kadar kontaminan, dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

2.2.8.2 Audit Mutu

Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri.

Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem

manajemen mutu dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan mutu.

Audit

mutu

umumnya

dilaksanakan

oleh

spesialis

dari

luar

atau

independen atau tim yang dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen

perusahaan. Audit mutu juga dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima

kontrak.

2.2.9 Penanganan Keluhan Terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk

dan Produk Kembalian

Penarikan kembali produk adalah suatu proses penarikan kembali dari satu

atau beberapa bets atau seluruh bets produk tertentu dari rantai distribusi karena

keputusan bahwa produk tidak layak lagi untuk diedarkan.

Produk kembalian adalah obat jadi yang telah keluar dari industri atau

beredar, yang kemudian dikembalikan ke industri karena kerusakan, daluwarsa,

atau alasan lain misalnya kondisi wadah atau kemasan yang dapat menimbulkan

keraguan akan identitas, mutu, keamanan obat serta kesalahan administratif yang

menyangkut jumlah dan jenis.

Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan

terjadi kerusakan obat, dapat bersumber dari dalam maupun dari luar industri, dan

memerlukan penanganan serta pengkajian secara teliti.

Keluhan atau informasi yang bersumber dari dalam industri antara lain

dapat dari bagian produksi, bagian pengawasan mutu, bagian gudang, dan bagian

pemasaran, sementara dari luar industri antara lain dapat berasal dari pasien,

Universitas Sumatera Utara