Anda di halaman 1dari 30

Pendahuluan

Pandemi obesitas dan diabetes mellitus (DM), khususnya DM tipe 2 (DMT2) kini
menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Di tahun 2003, World Health
Organization (WHO) memperkirakan 194 juta atau 5,1% dari 3,8 milyar penduduk dunia usia
20-79 tahun menderita DM dan di tahun 2025 meningkat menjadi 333 juta jiwa. Di tahun yang
sama, International Diabetes Foundation (IDF) menyebutkan bahwa prevalensi DM dunia adalah
1,9% dan telah menjadikan DM sebagai penyebab kematian urutan ke-7 dunia. Proyeksi
prevalensi diabetes tahun 1994 sampai 2010 diperkirakan 215,6 juta jiwa, namun evaluasi tahun
2007 jumlah penderita diabetes sudah mencapai 246 juta jiwa bahkan tahun 2025 dikhawatirkan
jumlah tersebut akan meningkat sampai lebih dari 300 juta jiwa.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilaporkan oleh Departemen


Kesehatan pada tahun 2008, menunjukan prevalesnsi DM di Indonesia saat itu sebesar 5,7%.
Menurut WHO pasien diabetes di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada
tahun 2000 dan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tingginya angka kesakitan
tersebut menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia setelah China, India, dan
Amerika Serikat. Tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif prevalensi
tersebut akan terus meningkat.

Pasien DM berpotensi menderita berbagai kompilkasi, meliputi penyakit makrovaskuler


(penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah tepi) dan penyakit mikrovaskuler
(retinopati, neuropati dan nefropati).

Komplikasi DM sudah dimulai sejak dini sebelum diagnosa DM ditegakan. Sekitar 50%
pasien ketika di diagnosis telah menyandang satu komplikasi kronik, 21% diantaranya
mengalami retinopati, 18% dengan gambaran elektrokardiogram (EKG) yang abnormal, dan
14% dengan gangguan aliran darah ke tungkai sehingga denyut nadi tungkai tidak teraba atau
timbul kaki yang iskemik. Berbagai komplikasi diabetes tersebut menyebabkan penurunan
modifikasi hidup dan amgka harapan hidup pada individu dengan DM. Angka harapan hidup
berkurang sekitar 15 tahun, 75% di antaranya meninggal karena kompilkasi makrovaskular.
Glukosa darah merupakan rentang yang berkelanjutan (continuous spectrum). Batas
kadar glukosa darah normal, prediabetes dan diabetes ditetapkan berdasar kesepakatan
(arbitrary). Saat ini, diagnosis diabetes ditetapkan berdasar puasa ≥126 mg/dl atau 2 jam paska
pembebanan glukosa ≥ 200mg/dl. Pada tes toleransi glukosa oral (TTGO), penetapan tersebut
berdasar kadar glukosa darah yang terkait dengan timbulnya komplikasi mikroangiopati yang
khas untuk diabetes, khususnya retinopati. Prediabetes adalah kadar glukosa darah diatas normal
tetapi masih dibawah kadar glukosa darah puasa 100-125mg/dl (glukosa darah puasa terganggu=
GDPT) atau 2 jam paska pembebanan 140-199 mg/dl (toleransi glukosa terganggu= TGT), atau
keduanya (homeostasis glukosa terganggu=HGT).

Dari pengamatan, individu dengan prediabetes dalam perkembangannya mempunyai 3


kemungkinan : sekitar 1/3 kasus akan menjadi DM tipe 2, 1/3 berikutnya akan tetap menjadi
prediabetes, dan 1/3 sisanya akan dapat kembali menjadi normoglikemi. Prediabetes
meningkatkan resiko absolute menjadi DM sebesar 2-10 kali lipat, bahkan pada beberapa
populasi peningkatan resiko tersebut lebih tinggi lagi. Resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler
pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Berbagai keadaan tersebut lebih menyakinkan
bahwa tindakan-tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan, antara lain
penanganan prediabetes. Identifikasi dan pelaksanaan awal bagi pasien prediabetes yang dapat
menurunkan insiden DM serta komplikasinya akan sangat bermanfaat tidak hanya bagi pasien
namun juga bagi keluarga maupun pemerintah.

Perbedaan data epidemiolgi dari TGT dan GDPT menunjukan adanya mekanisme
patofisiologi yang berbeda dari kedua kondisi tersebut. Meskipun TGT maupun GDPT didasari
oleh resistensi insulin, tetapi keduanya menunjukan perbedaan tempat dimana resistensi insulin
tersebut terjadi. Resistensi insulin pada penderita GDPT terutama dijaringan hati, sedangkan
sensitifitas insulin pada jaringan otot masih tetap normal. Pada TGT, sensitifitas insulin
dijaringan hati tetap normal atau sedikit menurun sedangkan pada jaringan otor telah terjadi
resistensi insulin. Pola sekresi insulin pada kedua keadaan tersebut juga berbeda. Pada GDPT
terjadi penurunan sekresi insulin fase satu (10menit pertama) setelah pemberian glukosa
intravena dan terjadi penurunan respon sekresi insulin fase awal (30 menit pertama) setelah
pemberian glukosa oral. Sedangkan sekresi insulin fase lambat (60-120 menit) selama TTGO
tetap normal. Pada TGT juga terjadi gangguan sekresi insulin fase awal setelah pemberian
glukosa oral yang disertai penurunan yang bermakna dari sekresi insulin fase akhir.
BAB I

Diabetes Mellitus

I. Definisi

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolisme kronis


yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa
hilangnya toleransi tubuh terhadap glukosa. Menurut ADA (American Diabetes
Assosiation), DM adalah suatu kumpulan penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia, yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja
insulin, ataupun keduanya. Sedangkan menurut WHO, DM secara umum adalah
suatu kumpulan masalah anatomik dan kimiawi akibat dari adanya defisiensi
insulin absolute ataupun relative dan adanya gangguan fungsi insulin.

Jika telah berkembang secara klinis, maka DM akan ditandai dengan


hiperglikemia puasa dan postprandial yang dapat berakhir pada kerusakan atau
penyakit pada organ tubuh lain seperti penyakit vaskular berupa makroangiopati
dan mikroangiopati, dan neuropati. Pasien-pasien dengan gangguan toleransi
glukosa ringan, seperi pada peningkatan glukosa puasa dan toleransi glukosa
darah terganggu tetap akan memiliki resiko untuk mengalami komplikasi
metabolik diabetes mellitus.

II. Klasifikasi

Berikut adalah klasifikasi DM menurut ADA tahun 2005 :

1. Diabetes Mellitus tipe 1; terjadi destruksi sel beta pankreas yang umumnya menjurus
kearah defisiensi insulin absolut.
a. Melalui proses imunlogik
b. idiopatik
2. Diabetes Mellitus tipe 2; bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin disertai
defisiensi insulin relatif, sampai yang predominan sekresi insulin bersama dengan
resistensi insulin.
3. Diabetes Mellitus tipe lain
a. Defek genetik fungsi sel beta pancreas:
- Kromosom 12 – HNF-1α(dahulu MODY 3)
- Kromosom 7 – glukosinase (dahulu MODY 2)
- Kromososm 20 – HNF-4α (dahulu MODY 1)
- Kromosom 13 – IPF 1 (dahulu MODY 4)
- Kromosom 17 – HNF 1β (dahulu MODY 5)
- Kromosom 2 – neuro D1 (dahulu MODY 6)
- DNA mitochondria
- Lain-lain
b. Defek genetik kerja insulin: resistensi insulin tipe A, leprechaunism, sindrom
robson mendenhall, diabetes lipoatrofik, lainnya.
c. Penyakit eksokrin pankreas: pankreatitis, trauma pankreas, pankreatektomi,
neoplasma, fibrosis kistik, hemokromatosis, pankreatopati fibro-kalkulus, lainnya.
d. Endokrinopati: akromegali, sindrom cushing, feokromositoma,
hipertiroidisme, somatostatinoma, aldosteronoma, lainnya.
e. Pengaruh obat atau zat kimia: vacor, pentamidin, asam nicotinat,
glukokortikoid, hormon tiroid, diazoxid, agonis beta adrenergik, tiazid, dilantin,
interferon alfa, lainnya.
f. Infeksi: rubela kongenital, CMV, lainnya.
g. Sebab imunologi yang jarang: sindrom ’stiff-man’, antibodi-antireseptor
insulin, lainnya.
h. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM: sindrom down, sindrom
klinefelter, sindrom turner, sindrom wolfram’s, ataksia fredreich’s chorea
huntington,sindrom lawrence-moon-biedl, distrofi miotonik, porfiria, sindron prader
willi, lainnya.
II. Diabetes Melitus pada kehamilan (gestasional).
III. Diagnosis

Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis tidak
dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan diagnosis DM, pemeriksaan
glukosa darah yang dianjurkan ialah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah
plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena atau kapiler tetap dapat
digunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai
pembakuan WHO. Untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat digunakan dengan
pemeriksaan darah kapiler.

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya DM perlu
dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti berikut::

• Keluhan klasik DM: Poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan sebabnya.
• Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada pria serta
pruritus vulvae pada wanita.

Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara berikut:

• Dengan pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥ 200mg/dL sudah cukup untuk menegakkan
diagnosis DM, kalau ditemukan keluhan klasik DM.
• Dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa yang lebih mudah dilakukan, lebih mudah
diterima pasien, dan lebih murah. Cara ini dianjurkan untuk diagnosis DM.
• Dengan TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sebsitif dan spesifik
dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun memiliki keterbatasan sendiri
TTGO sulit dilakukan berulang-ulang dan dalam praktik sangat jarang dilakukan.
Kriteria diagnosis DM untuk dewasa tidak hamil dikemukakan pada Tabel 2. Kalau hasil
pemeriksaan normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT
bergantung pada hasil yang diperoleh.

• TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa plasma
2 jam setelah beban antara 140-199mg/dL(7.8-11.0 mmol/L).
• GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa
didapatkan antara 100-125mg/dL(5.6-6.9mmol/L).

Tabel 2 Kriteria Diagnosis DM

1. Gejala klasik DM

Glukosa plasma sewaktu ≥ 200mg/dL(11.1 mmol/L)

Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat

Pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu maka terakhir, atau

2. Gejala klasik DM

Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126mg/dL (7.0 mmol/L)

Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam atau

3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada TTGO≥ 200mg/dL(11.1 mmol/L). TTGO


dilaku-kan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara
dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.

Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1984)

• Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehar-hari (dengan karbohidrat
yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa.
• Berpuasa paling sekit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan minum air putih tanpa
gula tetap diperbolehkan.
• Diperiksa kadar glukosa darah puasa.
• Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan
dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit.
• Berpuasa kembali sampai pengembilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum
larutan glukosa selesai.
• Diperiksa kadar gula darah 2 jam sesudah beban glukosa.
• Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

3.2 Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring ditujukan pada mereka yang mempunyai risiko DM namun tidak
menunjukkan adanya gejala DM.

Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan DM, baik TGT
maupun GDPT, sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. Pasien dengan TGT dan
GDPT, juga disebut sebagai intoleransi glukosa, merupakan tahapan sementara menuju DM.
Kedua tahapan tersebut merupakan factor risiko untuk terjadinya DM dan penyakit
kardiovaskular di kemudian hari. Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok yang
memiliki faktor risiko DM.

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa sewaktu atau
kadar glukosa darah puasa. Apabila pada pemeriksaan penyaring ditemukan hasil positif, perlu
dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa atau dengan tes toleransi
glukosa oral (TTGO) standar.

Pemeriksaan penyaring untuk tujuan penjaringan massal tidak dianjurkan mengingat biaya yang
mahal, serta pada umumnya tidak diikuti dengan rencana tindak lanjut bagi mereka yang
ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan penyaring juga dianjurkan dikerjakan pada saat
pemeriksaan untuk penyakit lain atau general check-up.
Tabel 3. Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa sebagai Patokan Penyaring dan
Diagnosis DM (mg/dL)

Bukan DM Belum Pasti DM

Plasma Vena <100 100-199 ≥ 200


Kadar glukosa darah sewaktu (mg/dL)
Darah kapiler <90 90-199 ≥ 200

Kadar glukosa darah puasa (mg/dL) Plasma Vena <100 100-125 ≥ 126

Darah kapiler <90 90-99 ≥ 100

Catatan: untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil, dilakukan
ulangan tiap tahun. Untuk mereka yang berusia >45 tahun tanpa factor risiko lain, pemeriksaan
penya-ring dapat dilakukan setiap 3 tahun.

BAB II

Pengelolaan dan Pencegahan

Prediabetik
I. Diagnosis Prediabetik

Diagnosis prediabetes (GPT dan atau TGT) ditegakan sesuai dengan rekomendasi WHO.
Diagnosis GPT ditegakan bila kadar glukosa darah setelah puasa sekitar 8 – 10 jam adalah 100-125
mg/dl. Diagnosis TGT ditegakkan bila kadar glukosa darah 2 jam paska beban glukosa 75 gram, diantara
140-199 mg/dl.

Persiapan dan pelaksanaan tes toleransi glukosa oral (TTGO) menurut WHO (lampiran).

Persiapan

Beberapa hari sebelumnya pasien mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang cukup.

Pada hari pemeriksaan dilaksanakan, pasien tidak boleh melakukan aktifitas jasmani berlebihan atau
mengkonsumsi kafein atau obat-obatan yang mungkin mempengaruhi kadar glukosa darah.

Pelaksanaan

- Pasien berpuasa sedikitnya 8 jam


- Diambil darah pertama untuk pemeriksaan glukosa darah puasa
- Setelah itu subjek diberi minum larutan 75 gram glukosa dalam 300 cc air
- 2 jam sesudah beban glukosa, darah diambil untuk pemeriksaan glukosa 2 jam paska beban

tabel 1. Criteria diagnosis prediabetes

glukosa puasa terganggu (GPT) apabila :

- kadar glukosa puasa 100 – 125 mg/dl (5,6 – 6,9 mmol/l)


- kadar glukosa darah 2 jam setelah beban < 140 mg/dl
toleransi glukosa terganggu (TGT) apabila :

- kadar glukosa puasa normal < 100mg/dl


- kadar glukosa 2 jam paska beban glukosa 75 gram, 140 – 199 mg/dl, 7,8 – 11 mmol/l) sindroma
metabolic (kriteri IDF)
catatan: prediabetes, jika terdapat GPT dan atau TGT

berbagai studi epidemiologis belum semuanya menggunakan glukosa darah 2 jam paska beban
untuk menegakkan diagnosis prediabetes dan hanya menggunakan hasil glukosa darah puasa. Hal ini
dapat menimbulkan hasi negatif palsu, mengingat TGT tidak akan terdeteksi. Individu dengan kadar
glukosa darah puasa normal mungkin termasuk dalam TGT bila dilakukan TTGO. Deteksi adanya TGT
perlu dilakukan mengingat kecenderungan menjadi DMT2 dan resiko terjadinya komplikasi
kardiovaskular lebih tinggi pada subjek dengan TGT disbanding pada individu dengan GPT.

Beberapa faktor resiko penyakit kardiovaskular dan diabetes sering dijumpai dalam satu individu.
Berbagai faktor resiko tersebut adalah : obesitas, hipertensi, kadar kolestero high density lipoprotein
(HDL) yang rendah, kadar trigliserida yang meningkat, dan gangguan metabolisme glukosa, yang dikenal
sebagai sindroma metabolic. Sindroma metabolic dianggap setara dengan prediabetes. Sekitar 50% pasien
dengan TGT memenuhi kriteria diagnosis sindrom metabolik menurut National Cholesterol Education
Program-Adult Treatment Panel III (NCEP-ATP III).

II. Pengelolaan Prediabetik

Tujuan penatalaksanaan secara umum ialah untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang DM.

4.1 Tujuan Penatalaksanaan

• Jangka pendek: untuk menghilangkan keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman
dan mencapai taget pengendalian glukosa darah.
• Jangka panjang untuk mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati,
makroangiopati, dan neuropati. Tujuan akhir pengelolaan ialah turunnya orbiditas dan
mortalitas DM.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat
badan dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara holistic dengan mengajarkan perawatan
mandiri dan perubahan perilaku.
4.2 Langkah-langkah Penatalaksanaan Penyandang DM

4.2.1 Evaluasi Medis Lengkap pada Pertemuan Pertama

Riwayat penyakit

• Gejala yang timbul, hasil pemeriksaan laboratorium terdahulu termasuk A1C, dan hasl
pemeriksaan khusus yang telah ada tekait DM.
• Pola makan, status nutrisi, riwayat peruban berat badan.
• Riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda.
• Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara lengkap, termasuk terapi gizi medis
dan penyuluhan yang telah diperoleh tentang perawatan DM secara mandiri, serta
kepercayaan yang diikuti dalam bidang terapi kesehatan.
• Pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yangdigunakan, perencanaan makan dan
program pelatihan jasmani.
• Riwayat komplikasi akut (KAD, hiperosmolar hipoglikemia).
• Riwayat infeksi sebelumnya, terutama infeksi kulit, gigi dan traktus urogenitalis.
• Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik (komplikasi pada ginjal, mata saluran cerna
dan lain-lain.
• Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa darah.
• Faktor risiko, sperti merokok, hipertensi, riwayat oenyakit jantung koroner, obesitas, dan
riwayat penyakit keluarga (termasuk penyakit DM dan endo krin lain).
• Riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM. Pola hidup, budaya, psikososial, pendidikan
dan status ekonomi.
• Kehidupan seksual, penggunaan kontrasepsi dan kehamilan.
Pemeriksaan fisik

• Pengukuran tinggi dan berat badan.


• Pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan darah dalam posisi berdiri untuk
mencari kemungkinan adanya hipotensi ortostatik.
• Pemeriksaan funduskopi.
• Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid.
• Pemeriksaan jantung.
• Evaluasi nadi, baik secara palpasi meupun dengan stetoskop.
• Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari.
• Pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat penyuntikan insulin) dan pemeriksaan
neurologis.
• Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe lain.
Evaluasi Laboratotis/Penunjang Lain

• Glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial.


• A1C.
• Profil lipid pada keadaan puasa (kolesterol total, HDL, LDL, triliserida).
• Kreatinin serum.
• Albuminuria.
• Keton, sedimen dan protein dalam urin.
• Elektokardiogram.
• Foto sinar x dada.
Tindakan Rujukan

• Ke bagian mata bia diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.


• Konsultasi keluarga berencana untuk wanita usia produktif.
• Konsultasi terapi gizi medis sesuai indikasi.
• Konsultasi dengan edukator diabetes.
• Konsultasi dengan spesialis kaki (podiatrist), spesialis perilaku (psikolog) atau spesialis lain
sesuai indikasi.

4.2.2 Evaluasi Medis Secara Berkala


• Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan sesuai dengan
kebutuhan.
• Pemeriksaan A1C dilakukan setiap (3-6) bulan.
• Setiap 1 tahun dilakukan pemeriksaan:
– Jasmani lengkap.
– Mikroalbuminuria.
– Kreatinin.
– Albumin/globulin dan ALT.
– KKolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan trigliserida.
– EKG.
– Foto sinar x dada.
– Funduskopi.

4.3 Pilar Penatalaksanaan DM

Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (2-4 minggu) . Apabila
kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat
hipolikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera
diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi
metabolic berat, misalnya ketoasidosis, stress berat, berat badan menurun dengan cepat, adanya
ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan
gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien, sedangkan
pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri setelah mendapat pelatihan
khusus. Dengan demikian pilar penetalaksanaan DM harus lengkap meliputi edukasi, terap gizi
medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis.

4.3.1 Edukasi

Diabetes Tipe 2 umunya terjadi ada saat gaya hidup dan perilaku telah erbentuk dengan mapan.
Pemberdayaan penyandang DM memerlkan partsipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat.
Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Untuk mencapai
keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan
motivasi.

4.3.2 Terapi Gizi Medis

• Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total.
Kunci keberhasilan TGM ialah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli
gizi, petugas kesehatan yang dan pasien itu sendiri).
• Setiappenyandang DM sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna
mencapai sasaran terapi.
• Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM hamper sama dengan anjuran makan untuk
masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan zat gizi
masing-masing individual. Pada penyandang DM erlu ditekankan pentingnya keteraturan
makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang
menggunakan obat penurunan glukosa darah atau insulin.

4.3.2.1 Komposisi Makanan yang Dianjurkan

Komposisi makanan yang dianjurkan bagi penyandang DM terdiri atas:

Karbohirat

• Karbohidrat yang dianjurkan sebsar 45-65% total asupan energy.


• Pembatasan karbohidrat total <130g/hari tidak dianjurkan.

• Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi.


• Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang DM dapat makan sama dengan
makanan keluarga sendiri.
• Sukrosa tidak lebih dari 5% total asupan energy.
• Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi batas aman
konsumsi harian (accepted daily intake).
• Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asuan karbohidrat dalam sehari. Kalau
diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dai
kebutuhan kalori sehari.

Lemak

• Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Tidak diperkenankan melebihi
30% total asupan energi.
• Lemak jenuh <7% kebutuhan kalori.

• Lemak tidak jenuh <10%, selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.
• Bahan makanan yang perlu dibatasi ialah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak
trans, antara lain, daging berlemak dan susu penuh (whole milk).

Protein

• Dibutuhkan sebesar 10-20% total asupan energy.


• Sumber protein yang baik ialah seafood (ikan, udang, cumi, dan lain-lain), daging tanpa
lemak, aya tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.
• Pada pasien dengn netropati perlu penurunan asupan protein menjadi o.8g/kg BB per hari atau
10% dari kebutuhan energy dan 65% hendaknya bernilai biologis tinggi.
Natrium

• Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan anjuran untuk masyarakat
umum, yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1 sendok the) garam dapur.
• Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampa 2400 mg garam dapur.
• Sumber natrium, antara lain, ialah garam dapur, vetsin, soda, dan baha pengawet serti natrium
benzoate dan natrium nitrit.

Serat
• Seperti halnya masyarakat umum, penyandang DM dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari
kacang-kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena
mengandung vitamin, mineral, serat dan bahan lain yang baik untuk kesehatan.
• Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/1000kkal/hari.

Pemanis Alternatif

• Pemanis dikelompokka menjadi pemanis bergizi dan pemanis tidak bergizi. Termasuk
pemanis bergizi adalah gula alcohol dan fruktosa.
• Gula alcohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol, dan xylitol.
• Dalam penggunaannya, pemanis bergizi perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai
bagian dari kebutuhan kalori sehari.
• Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena efek samping pada lemak
darah.
• Pemanis tidak bergizi termasuk aspartame, sakarin, acessulfame, potassium, sukralose,
neotame.
• Pemanis ama digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (accepted daily intake).

4.3.2.2 Kebutuhan Kalori

Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang DM. Di
antaranya ialah dengan menghitung kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB
ideal., ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa factor, yaitu jenis kelamin, umur,
aktivitas, berat badan dan lain-lain.

Perhitungan berat badang ideal (BBI) dengan rumus Brocca yangdimodifikasi ialah sebagai
berikut:

• Berat badan ideal = (TB dalam – 100cm) × 1 kg

Berat badan normal: BB ideal ± 10%


Kurus: <BBI –10%

Gemuk: >BBI + 10%.

Perhitungan BBI menurut indeks massa tubuh (IMT). Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan
rumus IMT = BB (kg)/TB(m2).

Klasifikasi IMT*

• BB kurang : <18.5

• BB normal : 18.5-22.9

• BB lebih : ≥ 23.0

• Dengan : 23.0-24.9

• Obes I : 25.0-29.9

• Obes II : ≥ 30

*WHO WPR/IAO/IOTF dalam The Asia-Pasific Perperspective: Redifining Obesit and its
Treatment.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori, antara lain:

• Jenis kelamin
– kKebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori wanita sebesar
25 kal/kgBB dan untuk pria sebesar 30 kal/kgBB
• Umur
– Untuk psien di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk decade antara 40 dan
59 tahun, dikurangi 10% untuk usia 60 s/d 69 tahun dan dikurangi 20% di atas 70 tahun.

• Aktivitas Fisik atau Pekerjaan

– Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan insensitas aktivitas fisik.


– Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada keadaan istirahat, 20%
pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas sedang dan 50% dengan
aktivitas sangat berat.

• Berat Badan
– Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat kegemukan.
– Untuk tujuan penurunan berat badanjumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200
kkal per hari untuk wanita dan 1200-1600 kkal untuk pria.

Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam tiga porsi
besar: untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-
15%) di antaranya. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien, sejauh mungkin perubahan
dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk penyandang DM yang mengidap penyakit lain,
polapengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya.

4.3.2.3 Pilihan Makanan

Pilihan makanan untuk penyandang DM dapat dijelaskan melalui piramida makanan untuk
penyandang DM (Lamiran 1).
Tabel 4 Aktivitas Fisik Sehari-hari

Kurangi Aktivitas: hindari aktivitas Misalnya menonton televise, menggunakan


sedenter. internet, main game komputer.

Persering Akrivitas: mengikuti olah Misalnya jalan cepat, golf, olah otot, bersepeda,
raga rekreasi dan beraktivitas fisik tinggi sepak bola.
pada waktu liburan.

Aktivitas Harian: kebiasaan bergaya Misalnya berjalan kaki ke pasar (tidak menggu-
hi-dup sehat. nakan mobil), menggunakan tanga (tidak
menggunakan lift), menmui rekan kerja (tidak
hanya melalui telepn internal), jalan dari tempat
parkir.

4.3.3 Latihan Jasmani

Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih
30 menit), merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM Tipe 2. Kegiatan sehari-hari
seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga dan berkebun harus tetap dilakukan (lihat
Tabel 4). Latihan jasmani, selain untuk menjaga kebugaran, juga dapat menurunkan berat badan
dan memperbaiki sensivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan
jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki,
bersepeda santai, jogging dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur
dan status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, insensitas latihan jasmani bias
ditingkatkan, sedangkan yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan
kebiasaan hidup yang kuran gerak atau bermalas-malasan.

4.3.4 Intervensi Farmakologis

Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan
pengaturan makanan dan latihan jasmani.

III. Pencegahaan Prediabetik

1. Pencegahan Primer
1.1 Sasaran pencegahan primer :
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor resiko,
yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapatkan DM dan kelompok
intoleransi glukosa.

1.1.1 Faktor resiko diabetes


faktor resiko diabetes sama dengan faktor resiko untuk intoleransi glukosa yaitu :
- Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi :
a. Ras dan etnik
b. Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes)
c. Umur, resiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring dengan meningkatnya
usia. usia > 45 tahun harus dillakukan pemeriksaan DM.
d. Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau riwayat pernah menderita
DM gestasional (DMG).
e. Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. bayi yang lahir dengan BB
rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.
- Faktor resiko yang bisa dimodifikasi:
a. Berat badan lebih (IMT>23 kg/m2)
b. Kurangnya aktifitas fisik.
c. Hipertensi (> 140/90 mmHg)
d. Dislipidemia (HDL<35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL)
e. Diet tak sehat (unhealthy diet). diet dengan tinggi gula dan rendah serat akan meningkatkan
resiko menderita prediabetes dan DM tipe-2.
- Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes :
a. Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang terkait dengan
resistensi insulin.
b. Penderita sindrom metabolik memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau
glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya. memiliki riwayat penyakit kardiovaskular,
seperti stroke, PJK, PAD (Peripheral Arterial Disease).

1.1.2. Intoleransi Glukosa


- Intoleransi glukosa merupakan suatu keadaan yang mendahului timbulnya diabetes. Angka
kejadian intoleransi glukosa dilaporkan terus mengalami peningkatan.
- istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Department of Health and Human
Services (DHHS) dan The American Diabetes Association (ADA). Sebelumnya istilah untuk
menggambarkan keadaan intoleransi glukosa adalah TGT dan GDPT. Setiap tahun 4-9 % orang
dengan intoleransi glukosa akan menjadi diabetes.
- intoleransi glukosa mempunyai risiko timbulnya gangguan kardiovaskular sebesar satu
setengah kali lebih tinggi dibandingkan orang normal.
- diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan dengan pemeriksaan TTGO setelah puasa 8 jam.
Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan apabila hasil tes glukosa darah menunjukan salah satu
dari tersebut dibawah ini :
a. glukosa darah puasa antara 100-125 mg/dL
b. glukosa darah 2 jam setelah muatan glukosa (TTGO) antara 140-199 mg/dL.
- pada pasien dengan intoleransi glukosa anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan
ditujukan untuk mencari faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

1.2 Materi Pencegahan Primer


1.2.1. Penyuluhan ditujukan kepada :
A. Kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan intoleransi glukosa materi
penyuluhan meliputi antara lain :
1. Program penurunan berat badan. Pada seseorang yang memounyai risiko diabetes dan
mempunyai berat badan lebih, penurunan berat badan merupakan cara utama untuk menurunkan
risiko terkena DM tipe-2 atau intoleransi glukosa. Beberapa penelitian menunjukan penurunan
berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM tipe-2.
2. Diet sehat
- dianjurkan diberikan pada setiap orang yang mempunyai resiko.
- jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.
- karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang sehingga
tidak menimbulkan puncak (peak) glukosa darah yang tinggi setelah makan.
- mengandung sedikit lemak jenuh, dan tinggi serat larut.
3. Latihan jasmani
- latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa darah, mempertahankan atau
menurunkan berat badan serta dapat meningkatkan kadar kolesterol – HDL.
- latihan jasmani yang dianjurkan : dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan
latihan aerobik sedang (mencapai 50-70% denyut jantung maksimal), atau 90 menit/minggu
dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung > 70% maksimal). Latihan jasmani
dibagi menjadi 3-4 x aktivitas/minggu.
4. Menghentikan kebiasaan merokok. Merokok merupakan salah satu risiko timbulnya gangguan
kardiovaskular. Meski merokok tidak berkaitan langsung dengan timbulnya intoleransi glukosa
tetapi merokok dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM
tipe-2.
B. Perencanaan kebijakan kesehatan agar memahami dampak sosio-ekonomi penyakit ini dan
pentingnya penyediaan fasilitas yang memadai dalam upaya pencegahan primer.
1.2.2. Pengelolaan yang ditujukan untuk :
- Kelompok intoleransi glukosa
- Kelompok dengan resiko (obesitas, hipertensi, displidemia, dll.)
1. Pengelolaan Intoleransi glukosa :
- Intoleransi glukosa sering berkaitan dengan sindrom metabolic yang ditandai dengan adanya
obesitas sentral, dislipidemia (trigliserida yang tinggi dan atau kolesterol HDL rendah), dan
hipertensi.
- Sebagian besar penderita intoleransi glukosa dapat diperbaiki dengan perubahan gaya hidup,
menurunkan berat badan, mengomsumsi diet sehat serta melakukan latihan jasmani yang cukup
dan teratur.
- Hasil penelitian Diabetes Prevention Program menunjukan bahwa perubahan gaya hidup lebih
efektif untuk mencegah munculnya DM tipe-2 dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan.
- Penurunan berat badan sebesar 5 – 10 % disertai dengan latihan jasmani teratur mampu
mengurangi resiko timbulnya DM tipe-2 sebesar 58%. Sedangkan penggunaan obat (seperti
metformin, tiazolidindion, acarbose) hanya mampu menurunkan resiko sebesar 31% dan
penggunaan berbagai obat tersebut untuk penanganan intoleransi glukosa masih menjadi
kontroversi.
- Bila disertai dengan obesitas, hipertensi dan dislipidemia, dilakukan pengendalian berat badan,
tekanan darah dan profil lemak sehingga tercapai sasaran yang ditetapkan.

Pengelolaan berbagai faktor resiko (lihat bagian tentang masalah khusus)


a. Obesitas
b. Hipertensi
c. Dislipidemia
skema tentang alur pencegahan primer dapat dilihat pada bagan 4.

2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien
yang telah menderita DM. Dilakukan dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan
deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. dalam upaya pencegahan sekunder
program penyuluhan memegang peranan penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam
menjalani program pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat.

Penyuluhan untuk pencegahan sekunder ditujukan terutama pada pasien baru. Penyuluhan
dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada setiap kesempatan pertemuan
berikutnya. Materi penyuluhan pada tingkat pertama dan lanjutan dapat dilihat pada materi
edukasi dan materi tentang edukasi tingkat lanjut.

Salah satu penyulit DM yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular, yang merupakan
penyebab utama kematian pada penyandang diabetes. Selain pengobatan terhadap tingginya
kadar glukosa darah, pengendalian berat badan, tekanan darah, profil lipid dalam darah serta
pemberian antiplatelet dapat menurunkan resiko timbulnya kelainan kardiovaskuler pada
penyandang diabetes.

Dislipidemia pada Diabetes


- Dislipidemia pada penyandang diabetes lebih meningkatkan resiko timbulnya penyakit
kardiovaskular.
- Perlu pemeriksaan profil lipid pada saat diagnosis diabetes ditegakan. Pada pasien dewasa
pemeriksaan profil lipid sedikitnya dilakukan setahun sekali dan bila dianggap perlu dapat
dilakukan lebih sering. Sedangkan pada pasien yang pemeriksaan profil lipidnya menunjukan
hasil yang baik (LDL<100mg/dL;HDL>50 mg/dL (laki-laki>40 mg/dL, wanita 50
mg/dL);trigliserid<150 mg/dL), pemeriksaan profil lipid dapat dilakukan 2 tahun sekali.
- Gambaran dislipidemia yang sering didapatkan pada penyandang diabetes adalah
peningkatan kadar trigliserida, dan penurunan kadar kolesterol HDL, sedangkan kadar
kolesterol LDL normal atau sedikit meningkat.
- Perubahan perilaku yang tertuju pada pengurangan asupan kolesterol dan penggunaan
lemak jenuh serta peningkatan aktifitas fisik terbukti dapat memperbaiki profil lemak dalam
darah.
- Dipertimbangkan untuk memberikan terapi farmakologis sedini mungkin bagi
penyandang diabetes yang disertai dislipidemia.
- Target terapi :
a. pada pasien DM, target utamanya adalah penurunan LDL
- pada penyandang diabetes tanpa disertai penyakit kardiovaskular :
- LDL < 100 mg/dL (2,6 mmol/L)
- Pasien dengan usia > 40 tahun, dianjurkan diberi terapi statin untuk menurunkan LDL
sebesar 30-40% dari kadar awal.
- Pasien dengan usia <40 tahun dengan resiko penyakit kardiovaskular yang gagal dengan
perubahan gaya hidup, dapat diberikan terapi farmakologis.
- Pada pasien DM dengan penyakit Acute Coronary Syndrome (ACS) :
- LDL < 70 mg/dL (1.8 mmol/L)
- Semua pasien diberikan terapi statin untuk menurunkan LDL sebesar 30-40%
- Trigliserida < 150 mg/dL (1.7 mmol/L)
- HDL > 40 mg/dL (1.15 mmol/L) untuk pria dan > 50 mg/dL untuk wanita.
b. setelah target LDL terpenuhi, jika trigliserida ≥ 150 mg/dL (1.7 mmol/L) atau
HDL ≤ 40 mg/dL (1.15 mmol/L) dapat diberikan niasin atau fibrat.
c. Apabila trigliserida ≥ 400 mg/dL (4.51 mmol/L) perlu segera diturunkan dengan
terapi farmakologis untuk mencegah timbulnya pankreatitis.
d. Terapi kombinasi statin dengan obat pengendali lemak yang lain mungkin
diperlukan untuk mencapai target terapi, dengan memperhatikan peningkatan resiko timbulnya
efek samping.
e. Niasin merupakan obat yang efektif untuk meningkatkan HDL, namun pada dosis
besar dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
f. Pada wanita hamil penggunaan statin merupakan kontra indikasi
g. Selanjutnya dapat dilihat pada konsensus pengelolaan Dislipidemia pada DM.

Hipertensi pada Diabetes


- Indikasi pengobatan :
a.bila TD sistolik ≥ 130 mmHg dan atau TD diastolik ≥ 80 mmHg.
- sasaran (terget penurunan) tekanan darah :
a. tekanan darah < 130/80 mmHg
b. bila disertai proteinuria ≥ 1 g/24 jam : < 125/75 mmHg.
- pengelolaan :
a. non-farmakologis :
modifikasi gaya hidup, antara lain : menurunkan berat badan, meningkatkan aktifitas
fisik, menghentikan merokok dan alcohol, serta mengurangi konsumsi garam.
b. farmakologis :
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat anti-hipertensi (OAH) :
a. pengaruh OAH pada profil lipid
b. pengaruh OAH terhadap metabolisme glukosa
c. pengaruh OAH terhadap resistensi insulin
d. pengaruh OAH terhadap hipoglikemia terselubung.
Obat anti hipertensi yang dapat digunakan :
a. penghambat ACE
b. penyekat reseptor angiotensin II
c. penyekat reseptor beta selektif, dosis rendah
d. diuretic dosis rendah
e. penghambat reseptor alfa
f. antagonis kalsium.
- pada pasien dengan tekanan darah sistolik antara 130-139 mmHg atau tekanan diastolik
antara 80-89 mmHg diharuskan melakukan perubahan gaya hidup sampai 3 bulan. Bila gagal
mencapai target dapat ditambahkan terapi farmakologis.
- Pasien dengan tekanan darah sistolik > 140 atau tekanan diastolic > 90 mmHg, dapat
diberikan terapi farmakologis secara langsung.
- Diberikan terapi kombinasi apabila target terapi tidak dapat dicapai dengan monoterapi.
Catatan:
- penghambat ACE, penyekat reseptor angiotensin II (ARB= angiotensin II receptor
blocker) dan antagonis kalsium golongan non dihidropiridin dapat memperbaiki
mikroalbuminuria.
- Penghambat ACE dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular.
- Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang, tidak terbukti memperburuk toleransi
glukosa.
- Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah tercapai
- Bila tekanan darah terkendali, setelah satu tahun dapat dicoba menurunkan dosis secara
bertahap
- Pada orang tua, tekanan darah diturunkan secara bertahap.

Obesitas pada Diabetes


- Prevelensi obesitas pada DM cukup tinggi, demikian pula kejadian DM dan gangguan
toleransi glukosa pada obesitas cukup sering dijumpai
- obesitas , terutama obesitas sentral secara bermakna berhubungan dengan sindrom
dismetabolik (dislipidemia, hiperglikemia, hipertensi) yang didasari oleh resistensi insulin
- resistensi insulin pada diabetes dengan obesitas membutuhkan pendekatan khusus.
- Obesitas dan diabetes meningkatkan resiko kematian akibat PJK
- Penurunan 5-10% dari berat badan dapat memperbaiki sindrom dismetabolik dan
menurunkan risiko PJK secara bermakna
- Pengelolaan obesitas terutama ditujukan pada perubahan perilaku pola makan dan
peningkatan kegiatan jasmani. Apabila tidak cukup, maka pendekatan farmakoterapi (misalnya
sibutramin dan orlistat) atau terapi bedah, dapat merupakan pilihan.

Gangguan koagulasi pada Diabetes


- Terapi aspirin 75-160 mg/hari diberikan sebagai strategi pencegahan sekunder bagi
penyandang diabetes dengan riwayat pernah mengalami penyakit kardiovaskular, termasuk
pasien dengan usia >40 tahun yang memiliki riwayat keluarga penyakit kardiovaskular dan
kebiasaan merokok, menderita hipertensi, dislipidemia, atau albuminuria.
- Aspirin dianjurkan tidak diberikan pada pasien dengan usia dibawah 21 tahun, seiring
dengan peningkatan kejadian sindrom Reye.
- Terapi kombinasi aspirin dengan antiplatelet lain dapat dipertimbangkan pemberiannya
pada pasien yang memiliki resiko yang sangat tinggi
- Penggunaan obat antiplatelet selain aspirin dapat dipertimbangkan sebagai pengganti
aspirin pada pasien yang mempunyai kontra indikasi dan atau tidak tahan terhadap penggunaan
aspirin.
3. Pencegahan Tersier
- Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami
penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.
- Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap.
Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi
penyandang diabetes yang sudah mempunyai penyulit makroangiopati
- Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga.
Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas
hidup yang optimal.

Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan holistic dan terintegrasi antar disiplin yang
terkait, terutama dirumah sakit rujukan. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin
(jantung dan ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vascular, radiology, rehabilitasi medis, gizi,
podiatrist, dll) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier.