Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Polimer konduktif merupakan material yang memiliki konduktivitas listrik seperti logam dan sifat mekanik seperti polimer dengan struktur kimia yang bervariasi, murah, mudah untuk fabrikasi (Paschen, 1996). Polimer konduktif organik adalah polimer yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi pada rantai polimernya. Ikatan π terkonjugasi sepanjang rantai polimer menyebabkan elektronnya terdelokalisasi. Struktur ikatan tunggal dan rangkap yang berselang-seling dilengkapi dengan tumpang tindih orbital p menyebabkan polimer menjadi konduktif terhadap listrik serta memudahkan transfer muatan pembawa dengan oksidasi parsial rantai polimer dengan aseptor elektron atau reduksi parsial dengan donor elektron (Limin, 2001).

Salah satu contoh polimer konduktif adalah polipirol yang memiliki keelektroaktifan, konduktivitas dan kestabilan kimia yang baik. Polipirol merupakan polimer konduktif yang banyak dipelajari karena metode sintesis yang jelas, polipirol stabil di udara, menunjukkan konduktivitas dan stabilitas termal yang tinggi, di samping itu polipirol mudah dipersiapkan secara kimia dan elektrokimia. Polipirol mempunyai interval konduktivitas yang luas tergantung pada monomer dan kemurnian ion dopan. Berdasarkan sifat kimia dan sifat fisika polipirol tersebut menyebabkan polipirol banyak dimanfaatkan untuk membuat sensor (Bosnar, 1997).

Di samping polipirol, polimer heteroatom dengan nilai konduktivitas yang tinggi lainnya adalah politiofena, polianilin serta turunannya yang banyak digunakan untuk aplikasi elektronik dan kimia.

1

Polimer konduktif yang digunakan sebagai bahan sensor gas menunjukkan sensitivitas yang baik, sehingga banyak digunakan untuk senyawa polar. Terdapat kelemahan dalam penggunaannya contohnya pada temperatur yang rendah, sensor kimia tersebut akan menyerap kelembaban sehingga akan berpengaruh terhadap sensitivitasnya. Di samping itu, oksidasi polimer menyebabkan waktu pakai sensor kimia pendek. Perubahan resistansi yang terukur sebagai sensitivitas sensor kimia dapat rusak akibat keberadaan bahan kimia yang berbeda yang meningkatkan resistansi antara polimer dan elektroda (Schaller, 1998).

Sensor gas merupakan sensor kimia yang digunakan untuk mengukur atau mendeteksi bahan kimia, dalam hal ini gas atau uap senyawa organik, dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Instrumen seperti kromatografi gas dan kromatografi gas- spektrometer massa telah secara luas digunakan sebagai instrumen untuk pengukuran gas, alat ini lebih sensitif dan nilai keakurasianya lebih bagus terutama apabila dibandingkan dengan sensor gas sederhana. Namun demikian, instrumen-instrumen tersebut memerlukan investasi dan biaya operasi yang mahal disamping metode analisisnya lebih rumit dibanding penggunaan sensor gas (Fraden, 2003). Di samping itu, instrumen yang biasa digunakan berukuran besar sehingga sulit untuk dilakukan analisis insitu dan analisis real time (Suprapto, 2007) Sensor kimia mampu merespon ransangan yang berasal dari berbagai senyawa kimia atau reaksi kimia. Sensor kimia dapat digunakan dalam beberapa bidang seperti monitoring emisi polutan atau ledakan. Sensor ini juga digunakan untuk mengkarakterisasi sampel gas dari percobaan di laboratorium dan untuk mengetahui pergerakan senyawa kimia berbahaya dalam tanah. Dalam industri kimia, sensor digunakan untuk proses dan kontrol kualitas selama produksi plastik dan produksi pengecoran logam dimana sejumlah gas yang berdifusi mempengaruhi karakteristik logam misalnya kerapuhan. Sensor kimia juga dapat digunakan monitoring lingkungan untuk mengontrol ambang batas

2

terhadap kesehatan. Didunia obat-obatan sensor kimia digunakan untuk menentukan kesehatan pasien dengan monitoring oksigen dan kandungan gas dalam jantung dan darah. Sensor kimia memiliki dua karakteristik yang unik yaitu selektivitas yang berkaitan dengan target yang hanya diinginkan, dengan sedikit atau tidak ada campur tangan spesies lain yang bukan target. Sensitivitas berkaitan dengan minimal konsentrasi dan perubahan konsentrasi yang dapat dengan mudah ditangkap oleh peralatan (Fraden, 2003). Sensor kimia digunakan sebagai pengganti hidung manusia sebagai alat kontrol kualitas makanan, minuman, parfum dan produk-produk rumah tangga yang lain serta industri kimia. (Levi, 2002). Di samping itu emisi polutan gas seperti oksida belerang, oksida nitrogen, dan gas-gas beracun yang berasal dari industri menjadi permasalahan lingkungan yang serius. Sensor dibutuhkan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi polutan berupa gas. Pada kenyataanya, sensor gas menawarkan solusi yang murah untuk masalah tersebut. (Adhikari, 2004).

Dengan alasan di atas, sensor gas berbahan polimer konduktif dicoba untuk dibuat dengan metode polimerisasi elektrokimia. Dalam pembuatan polimer konduktif, pengaruh pelarut terhadap sifat dan daya adhesi polimer konduktif akan dipelajari dengan berbagai macam pelarut, contohnya asetonitril, diklorometana dan air. Pelarut dimungkinkan harus dapat melarutkan monomer dan ion bantu pada konsentrasi yang sesuai serta tidak terdekomposisi pada potensial yang digunakan. Interaksi antara elektroda, substrat, monomer serta ion bantu penting untuk diperhitungkan karena derajat adsorbsi monomer dan ion bantu tergantung pada pelarut(Wallace, 1997)

Sensor gas berbahan polimer konduktif dalam penelitian akan dicobakan untuk mendeteksi bahan-bahan turunan minyak bumi seperti bensin, solar, dan minyak tanah. Film polimer konduktif tersebut akan digunakan sebagai material sensor gas seperti resistor sensor dimana respon sensor diukur dari perubahan

3

resistansi ketika sensor dikenai bahan kimia yang diuji (Suprapto,

2007)

1.2 Permasalahan

Penelitian polimerisasi polimer konduktif dapat memberikan informasi dalam fabrikasi polimer konduktif untuk pengembangan teknologi alternatif dalam hal ini penggunaan polimer konduktif sebagai sensor gas. Permasalah yang akan dibahas dalam penilitian ini adalah :

1.

Bagaimana perbandingan fabrikasi polimer konduktif dengan menggunakan metode elektrokimia dalam berbagai pelarut dan metode polimerisasi secara oksidasi kimia

2.

Bagaimana keefektifan berbagai pelarut dalam fabrikasi polimer konduktif dan pengaruh terhadap resistansi yang dihasilkan

3.

Bagaimana respon sensor polimer konduktif terhadap senyawa turunan minyak bumi

1.3

Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada fabrikasi sensor gas berbahan polimer konduktif yang dibuat secara elektrokimia dalam pelarut asetonitril, diklorometana, air serta campuran asetonitril dan diklorometana dan polimer konduktif yang dibuat secara oksidasi kimia dengan oksidator besi (III) klorida. Sedangkan respon sensor di ukur dari perubahan reistansi ketika sensor dikenai bensin, bisolar dan minyak tanah.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui perbandingan fabrikasi polimer konduktif dengan menggunakan metode elektrokimia dalam berbagai pelarut dan metode polimerisasi secara oksidasi kimia

4

2. Mengetahui keefektifan berbagai pelarut dalam fabrikasi polimer konduktif dan pengaruh terhadap resistansi yang dihasilkan 3. Mengetahui respon sensor polimer konduktif terhadap senyawa turunan minyak bumi

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu acuan untuk mempelajari fabrikasi sensor gas berbahan polimer konduktif. Selain itu diharapkan dapat menambah data kepustakaan di bidang polimer konduktif.

5

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

6