Anda di halaman 1dari 23

Bab 2

Komponen Sosial-Ekonomi-Budaya dan Kesehatan Masyarakat

Komponen Sosial-Ekonomi-Budaya dan Kesehatan Masyarakat yang akan


ditelaah adalah :
1. Demografi
2. Sosial Budaya
• Pranata sosial,
• Adat Istiadat dan pola kesiasaan yang berlaku,
• Pendidikan dan sarana pendidikan,
• Agama dan sarana peribadatan,
• Sikap dan persepsi masyarakat.
3. Perekonomian Wilayah dan Masyarakat
• Pendapatan dan pola nafkah ganda,
• Kesempatan kerja,
• Pola pemilikan dan penggunaan lahan,
• Prasarana dan perekonomian,
• Pola pemanfaatan sumber daya alam,
• Distribusi pendapatan dan efek ganda.

Bab 3
Komponen Sosial-Ekonomi-Budaya dan Kesehatan Masyarakat
A. Komponen Sosial-Ekonomi-Budaya Masyarakat
 Pengumpuan data sosekbud
Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat meliputi data primer dan data
sekunder yang diperoleh melalui :
1. Penelitian literatur, yaitu dengan mempelajari dokumen-
dokumen pemerintah dan swasta dan atau penelitian terdahulu yang
berkaitan dengan obyek penelitian,
2. Observasi, yaitu mengadakan pengamatan dan pencatatan
terhadap fakta dan gejala obyek penelitian,
3. Wawancara berpedoman dengan responden hasil dari proses
pemercontohan acak sederhana melalui :
• Komunikasi langsung kepada setiap responden dengan
menggunakan daftar pertayaan,
• Partisipasi melalui kelompok diskusi terarah, dalam hal ini
fasilitator menentukan topik tertentu
4. Untuk mengurangi kelemahan masing-masing teknik
pengumpulan data, maka digunakan teknik triangulasi.
Obyek penelitian sosial ekonomi dan budaya masyarakat dipusatkan di
lokasi-lokasi atau desa-desa yang diperkirakan terkena dampak oleh
kegiatan pertambangan batubara. Komponen data sosial ekonomi dan
budaya masyarakat yang dikumpulkan terdiri dari :
− Data demografi,
− Profil kesehatan,
− Pengelolaan kesehatan,
− Data sosial budaya masyarakat,
− Data perekonomian wilayah dan masyarakat,
− Produk kebijakan kewilayahan dan nasional,
−Profil dan penelitian kelayakan perusahaan pertambangan.
 Penentuan Sampel Penelitian
Penentuan sampel terhadap populasi di pemukiman menggunakan
pemercontohan acak sederhana (simple random sampling). Hal-hal yang
diperhatikan dalam kaitan tersebut adalah sebagai berikut :
− Sebaran dan jumlah responden berkenaan dengan tingkat gradasi
pengaruh adanya kegiatan pembangunan,
− Keterwakilan strata sosial responden
−Aparat dan non aparat
 Metode Analisis Data
Materi pokok kajian dalam komponen sosial ekonomi dan budaya masyarakat
adalah :
− Analisis kebijakan sektor pertambangan dan sektor terkaitnya,
− Analisis kependudukan,
− Analisis potensi ekonomi wilayah,
− Analisis pemanfaatan lahan sekitar wilayah pertambangan,
− Analisis prasarana dan sarana wilayah,
−Analisis fenomena sosial budaya masyarakat seitar pertambangan dan
perkiraan fenomena sosial budaya karyawan perusahaan
pertambangan.
Mengingat data yang diperoleh bervariasi dan saling berkorelasi, maka
digunakan :
− Anaisis kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif
− Analisis kuantitatif dengan menggunakan :
− Analisis multivariate yakni multidementional scalling,
− Analisis manfaat dan biaya,
− Economic multiplier effect analisys.
Rangkuman metode pengambilan data untuk komponen sosekbud dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel
Metode Pengumpulan Data Sosekbud Masyarakat
No. Parameter Metode/Peralatan
1. Kependudukan (demografi) : Data sekunder :
Jumlah kepadatan, tingkat − Data kependudukan Desa,
pertumbuhan, struktur dan tingkat Kecamatan dan Kabupaten atau
perbandingan penduduk data sekunder lainnya
2. Sosial Ekonomi : Data sekunder :
a. Pola pemilikan dan penguasaan − Data potensi Desa,
sumber daya, prasarana dan Kecamatan dan Kabupaten
sarana perekonomian lokal serta − Perencanaan
mata pencaharian pembanguna kewilayahan
b. Peluang kerja dan kesempatan Data sekunder :
berusaha, pendapatan penduduk − Penelitian literatur
sertapola pemanfaatan sumber Data primer
daya alam
− Observasi
− Wawanacara
3. Sosial Budaya : Data sekunder :
a. Pranata sosial, adat istiadat, − Penelitian literatur
proses sosial, akulturasi budaya, (literatur sosial budaya setempat
kelompok masyarakat, pelapisan dan agama, dokumentasi
sosial masyarakat, perubahan daerah, dan lainnya yang
sosial, pemukiman, tingkat sejenis)
pendidikan dan agama yang Data primer
dianut.
− Observasi
− Wawanacara
b. Persepsi masyarakat terhadap Data sekunder :
rencana proyek, terhadap − Penelitian literatur
peluang kerja dan terhadap (hasil penelitian kemasyarakatan
kaum pendatang yang terkait)
Data primer
Wawanacara dengan kuisioner dan
kelompok diskusi terarah terhadap
responden
c. Kamtibmas Data sekunder :
− Penelitian literatur
dan analisis data demografi dan
kesehatan masyarakat
Data primer
− Observasi
− Wawanacara dengan kelompok
diskusi masyarakat sekitar
d. Adaptasi ekologi dan Data sekunder :
ketergantungan ekonomi − Penelitian literatur
(data statistik desa, hasil
penelitian mengenai keadaan
masyarakat)
Data primer
− Observasi
− Wawanacara

Sedangkan analisis data tersebut di atas menggunakan rumus statistik


sebagai berikut :
a. Angka Pertumbuhan Penduduk
dimana :
r : Angka pertumbuhan penduduk (%)
Pt : Jumlah penduduk pada tahun ke-t (jiwa)
P0 : Jumlah penduduk pada tahun ke-0 (jiwa)
T : Lamanya waktu (interval waktu) antara P0 dan Pt
b. Kepadatan Penduduk

Keterangan :
D = Kepadata Penduduk (jiwa/Km2)
c. Rasio Jenis Kelamin

dimana :
SR : Rasio jenis kelamin
L : Banyaknya penduduk Laki-laki (jiwa)
P : Banyaknya penduduk perempuan (jiwa)
K : Konstanta (100)
d. Ketergantungan Ekonomi (Angka Beban Tanggungan)

dimana :
DR : Angka beban tanggungan (Dependency Ratio)
0-14
P : Jumlah penduduk usia 0 – 14 tahun
P60 : Jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas
P15-59 : Jumlah penduduk 15 – 59 tahun
K : Konstanta (100)
e. Multi Dimenstional Scalling
Multi dimentional scalling adalah suatu metode dalam mendeskripsikan
pendekatan antara n dari obyek ke dalam plot sebanyak r dimensi
(pengelompokan dari variabel yang ada kesamaan/kemiripan) dengan
menggunakan ukuran kemiripan atau ketidakmiripan yang diketahui
antar obyek-obyeknya.
Dimana :
Y : Dampak
a : Konstanta
bx1, cx2, dx3 dst : Variabel
f. Economic multiplier Effect
Economic multiplier effect adalah pengaruh ganda ekonomi akibat adanya
investasi yang mempengaruhi penambahan pendapatan.

dimana :
K : Angka penggandaan
C : Besarnya persentase pengeluaran dari pendapatan

Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya


A. Kependudukan
Gambaran kependudukan daerah penelitian dideskripsikan dari
struktur penduduk yang meliputi kepadatan penduduk, pertumbuhan
penduduk, komposisi penduduk, tekanan penduduk dan mobilitas penduduk.
Dari sembilan desa yang menjadi daerah kajian dari penelitian ini, yaitu :
Desa Margomulyo, Karya Merdeka, Argosari, Bukit Raya, Beringin Agung,
Tani Bhakti, Sei Seluang, Salok Api Darat dan Ambarawang Darat.
Data kependuduk sembilan desa pada tahun 2008 diketahui ada 4.556
KK, total penduduk berjumlah 15.156 jiwa dengan kepadatan 56,33
jiwa/Km2.. Jumlah penduduk laki-laki berjumlah 8.306 jiwa dan penduduk
perempuan berjumlah 7.250 jiwa dengan angka sex ratio 114,57%, artinya
setiap 100 jiwa penduduk perempuan ada 114 jiwa penduduk laki-laki. Dari
kesembilan desa tersebut, desa dengan jumlah penduduk tertinggi dan luas
wilayah terluas adalah desa Karya Merdeka sejumlah 4.443 jiwa dengan
kepadatan 45.82 jiwa/Km2. Desa dengan jumlah penduduk terendah adalah
Desa Argosari sejumlah 623 jiwa dengan kepadatan 103.83, desa dengan
luas wilayah paling sempit adalah desa Tani Bakti yaitu 3 Km2 sehingga
memiliki tingkat kepadatan penduduk paling tinggi yaitu 405,67 jiwa/Km2,
sedang persentase sex ratio penduduk laki-laki dan perempuan dari semua
desa diatas 100%, daam arti bahwa setiap desa di daerah penelitian dari 100
jiwa penduduk perempuan ada 100 lebih jiwa penduduk laki-laki atau jumlah
penduduk laki-laki di setiap desa lebih banyak dibandingkan dengan
penduduk perempuan. Rincian gambaran kependudukan tersebut, dapat
dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1
Luas Desa, jumlah penduduk, sex ratio dan kepadatan penduduk
daerah penelitian.
Penduduk (Jiwa) Kepad
Luas Sex atan
Jumlah
No. Desa/Kelurahan Wilayah Ratio Pend.
2 KK L P Jumlah
(Km ) (%) (jiwa
/Km2)
1. Margomulyo 18,51 289 518 470 988 110,21 53,38
1.01
Karya Merdeka 96,97 2.438 2.005 4.443 121,60 45,82
2. 3
3. Argosari 6 415 336 287 623 117,07 103,83
4. Bukit Raya 20 304 644 572 1.216 112,59 60,80
5. Beringin Agung 25 304 608 522 1.130 116,48 45,20
6. Tani Bakti 3 390 644 573 1.217 112,39 405,67
7. Sei Seluang 41,14 1.009 1.409 1.311 2.720 107,48 66,12
8. Salok Api Darat 15,87 444 797 707 1.504 112,73 94,77
9. Ambarawang Darat 40,18 388 912 803 1.715 113,57 42,68
Jumlah 266,67 4.556 8.306 7.250 15.556 114,57 58,33
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2008 (diolah lagi)
Pertumbuhan penduduk sembilan desa di daerah penelitian selama
tujuh tahunan (dari tahun 2001 sampai dengan 2008) diketahui cukup
variatif, dimana ada dua desa memiliki pertumbuhan negatif sedang tujuh
desa lainnya memiliki pertumbuhan positif. Dari perhitungan komulatif
pertumbuhan penduduk dengan interval tujuh tahun diketahui desa dengan
pertumbuhan terendah atau pertumbuhan negatif adalah desa Argosari yaitu
-1,08% sedang desa dengan pertumbuhan penduduk tertinggi adalah desa
Ambarawang Darat yaitu sebesar 4,80%. Bila dilihat secara keseluruan
diketahui pertumbuhan penduduk adalah sebesar 1,77%. Rincian
pertumbuhan penduduk di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 2
berikut.
Tabel 2
Pertumbuhan Penduduk di Daerah Penelitian (tahun 2001 s.d 2008)
Jumlah Penduduk (t)
(r)
(jiwa) Interval
No. Desa/Kelurahan Pertumbuhan
waktu
2001 (P0) 2008 (Pt) (%)
(tahun)
1. Margomulyo 823 988 7 2,64
2. Karya Merdeka 3.989 4.443 7 1,55
3. Argosari 672 623 7 -1,08
4. Bukit Raya 1170 1.216 7 0,55
5. Beringin Agung 1050 1.130 7 1,05
6. Tani Bakti 1265 1.217 7 -0,55
7. Sei Seluang 2.140 2.720 7 3,49
8. Salok Api Darat 1415 1.504 7 0,88
9. Ambarawang Darat 1235 1.715 7 4,80
Jumlah 13.759 15.556 7 1,77
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2008 (diolah lagi)
Komposisi penduduk menurut kelompok umur di daerah penelitian
dengan pengkatagorian usia produktif dan usia non-produktif guna
menghitung tingkat beban tanggungan atau dependency ratio, secara
keseluruan dari sembilan desa diketahui sebesar 57,51% dalam arti ada
57,51 jiwa penduduk non produktif menjadi tanggungan 100 jiwa penduduk
produktif. Rincian tingkat beban tanggungan atau dependency ratio
penduduk di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 3
Jumlah Penduduk, Jumlah Penduduk Usia Produktif-Non produktif dan
Tingkat Beban Tanggungan (dependency ratio) Penduduk di Daerah Penelitian
Penduduk usia (tahun) Dependency
No Desa/Kelurahan Jumlah
0-4 15 - 64 > 65 Ratio (%)
1 Margomulyo 988 289 602 97 64,12
2 Karya Merdeka 4.443 1.253 2.892 298 53,63
3 Argosari 623 193 307 123 102,93
4 Bukit Raya 1216 502 618 96 96,76
5 Beringin Agung 1130 359 685 86 64,96
6 Tani Bakti 1217 315 826 76 47,34
7 Sei Seluang 2.720 653 1.899 168 43,23
8 Salok Api Darat 1504 422 984 98 52,85
9 Ambarawang Darat 1715 536 1.063 116 61,34
Jumlah 15.556 4.522 9.876 1.158 57,51
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2008 (diolah lagi)
Desa dengan tingkat beban tanggungan tertinggi adalalah desa
Argosari yaitu sebesar 102,93% dalam arti dari 100 jiwa penduduk produktif
memiliki beban tanggungan 102,93 jiwa penduduk non-produktif. Sedang
desa dengan tingkat beban tanggungan terendah adalah desa Sei seluang
yaitu sebesar 43,23% dalam arti dari 100 jiwa penduduk produktif
menanggung 43,23 jiwa penduduk non-produktif atau 1 jiwa penduduk non-
produktif menjadi tanggungan 2 jiwa penduduk produktif. Rincian tingkat
beban tanggungan masing-masing desa di daerah penelitian dapat dilihat
pada gambar 1 berikut.
Gambar 1
Tingkat Beban Tanggungan (dependency ratio) Penduduk di Daerah Penelitian
3500

2.892
Usia 0 - 14 tahun Usia 15 - 64 Usia > 65 tahun
3000

2500

1.899
2000

1.253
1500

1.063
984
826
1000

685

653
618
602

536
502

422
359

315
307
298
289

500

193

168
123

116
97

98
96

86

76
0

 BERINGIN

 SEI SELUANG
 MARGOMULYO

MERDEKA

 ARGOSARI

 TANI BAKTI
 BUKIT RAYA

 SALOK API

 AMBARAWANG
AGUNG
 KARYA

DARAT

DARAT
120
Dependency ratio
100
80
60
102,93

96,76

40
64,96
64,12

61,34
53,63

52,85
47,34

43,23

20
0
 BERINGIN
 MARGOMULYO

 SEI SELUANG
MERDEKA

 ARGOSARI

 TANI BAKTI
 BUKIT RAYA

 SALOK API

 AMBARAWANG
AGUNG
 KARYA

DARAT

DARAT

Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2008 (diolah lagi)


A.1 Komposisi penduduk menurut mata pencaharian
Dari data sekunder di ketahui komposisi penduduk berdasarkan mata
pencaharian dengan jumlah terbanyak adalah bekerja sebagai buruh. Ini
menunjukkan usia produktif penduduk lebih banyak aktivitasnya pada jasa
kekuatan tenaga fisik (kekuatan otot) dalam mencari rejeki untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut, menunjukkan adanya
ketergantungan masyarakat akan adanya pihak luar (investor) yang sangat
tinggi. Meskipun potensi sumber daya alam sekitar yang sangat besar namun
belum memiliki kemampuan memanfaatkannya. Rincian komposisi penduduk
berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel 4 berikut.
Tabel 4
Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian
di Daerah Penelitian
No Mata Pencaharian Jumlah
1 Nelayan 2.304
2 PNS/ABRI 443
3 Petani 1.731
4 Swasta 1.454
5 Buruh 5.779
6 Sektor lainnya 1.578
Total 13.289
Sumber : Kecamatan Samboja dalam Angka Dalam Angka, 2006 (diolah lagi)
A.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Dampak suatu proyek pembangunan sangat berpengaruh pada jumlah
dan aktivitas tenaga kerja, untuk itu perlu dihitung partisipasi angkatan kerja
berdasarkan tingkat pendidikan pada suatu kawasan. Dari data yang ada
tingkat partisipasi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan di daerah
penelitian, yang terbanyak adalah angkatan kerja dengan pendidikan SLTA.
Rincian tingkat partisipasi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan di
daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 5 berikut.
Tabel 5
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut Tingkat Pendidikan
di Daerah Penelitian
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 SD 29
2 SLTP 9
3 SLTA 135
4 D-1/D-3 18
5 S-1 21
Jumlah 212
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2006 (diolah lagi)
Perentase tertinggi dari tingkat partisipasi angkatan kerja di daerah
penelitian adalah jenjang pendidikan STLA yaitu sebesar 63,68% dari
keseluruan jenjang pendidikan yang ada. Selanjutnya berturut-turut
berpendidikah SD sebesar 13,68%, S-1 sebesar 9.91%, D-1/D-3 sebesar
8,49% dan terakhir adalah berpendidikan SLTP sebesar 4,25%. Rincian
persentase tingkat partisipasi angkatan kerja di daerah penelitian berdasar
jenjang pendidikan dapat dilihat pada gambar 2 berikut.
Gambar 2
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Berdasar Jenjang Pendidikan
di daerah Penelitian
SLTA D-1/D-3
63,68% 8,49%

S-1
9,91%

SD
SLTP
13,68%
4,25%

Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2006 (diolah lagi)


Dari data di atas, diketahui bahwa persentase angkatan kerja
berdasarkan jenjang pendidikan yang ada dapat dikatakan tidak berimbang
antar jenjang pendidikan. Kondisi tersebut, dapat dijelaskan dari observasi di
lapangan sebagaian penduduk adalah penduduk transmigrasi, sehingga
cukup berkorelasi bila melihat jumlah penduduk dengan jenjang penddidkan
SLTA dengan jenjang lainnya tidak berimbang.
A.3 Mobilitas Penduduk
Desa-desa daerah penelitian umumnya berada jauh dari ibukota
kabupaten, namun dengan ibukota provinsi Balikpapan dan Samarinda lebih
dekat. Sehingga untuk sarana dan prasarana transportasi, khususnya
transportasi darat telah memadai. Kondisi yang demikian menjadikan
mobilitas penduduk menjadi mudah dalam melakukan aktivitasnya. Dari hasil
penelitian lapangan diketahui tingkat mobilitas penduduk dari kesembilan
desa adalah merata, sebagian besar penduduk berpergian lebih dari 2 kali
dalam sebulan. Untuk melihat frekwensi berpergian penduduk di daerah
penelitian dapat dilihat pada gambar 3 berikut :
Gambar 3
Frekwensi Berpergian Penduduk di daerah Penelitian
100
80,00
66,67

66,67

80
58,33
55,56

53,85
50,00

50,00

60
41,67
33,33
33,33
33,33

33,33

33,33

33,33

30,77

40
22,22

22,22
16,67

16,67

15,38
11,11

11,11

11,11

20
8,33

8,33
3,33

0
Tani Bhakti
Merdeka

Bukit Raya

Sei Seluang

Ambarawang
Margomulyo

Beringin
Argosari

Selok Api
Agung
Karya

Darat

Darat

Lebih 2 kali perbulan satu kali sebulan satu kali setahun

Sumber : Data primer (diolah)


Untuk tujuan berpergian penduduk dari masing-masing desa, dari
jawaban kuisioner diketahui cukup bervariasi. Penduduk desa Margomulyo,
Karya Merdeka, Argosari, Bukit Raya dan Ambarawang Darat tujuan
terbanyak adalah ke kota kabupaten/kotamadya, sedang penduduk desa
Tani Bhakti, Sei Seduang dan Selok Api Darat terbanyak berpergian ke kota
kecamatan dan hanya desa Beringin Agung terbanyak adalah pergi ke kota
provinsi. Rincian tujuan berpergian penduduk di daerah penelitian dapat
dilihat pada tabel 4 berikut.
Gambar 4
Tujuan Berpergian Penduduk di daerah Penelitian
100
66,67

80

55,56
50,00

46,15
60
44,44

44,44

43,33
41,67

41,67
33,33

33,33

33,33

33,33
33,33

30,77
30,00
26,67

26,67
40
25,00

25,00

25,00

25,00
23,08
22,22

22,22
11,11

20
6,67

Tani Bhakti
Merdeka

Bukit Raya

Beringin

Sei Seluang

Ambarawang
Margomulyo

Selok Api
Argosari

Agung
Karya

Darat

Darat
Kecamatan Kabupaten/Kotamadya Keluar provinsi

Sumber : Data primer (diolah)


Adapun alasan atau motivasi berpergian penduduk di daerah penelitian
dari jawaban kuisioner, 28,68% responden adalah silaturahmi/bertemu
keluarga, 22,87% menjawab jalan-jalan, 17,79 mencari kebutuhan pokok
dan jawaban yang terendah adalah alasan dinas. Rincian alasan berpergian
penduduk di daerah penelitian dapat di lihat pada gambar 5 berikut.
Gambar 5
Alasan/Keperluan Berpergian Penduduk di daerah Penelitian
 Menjual
hasil/dagangan  Mencari
13,16%  kebutuhan
Jalan-jalan
pokok
22,87%
17,79%

 Mencari
 kebutuhan
 Menemui sandang
keluarga 14,56%
Dinas
28,68% 2,94%

Sumber : Data primer (diolah)


Dari data di atas, dapat dikatakan bahwa mobilitas masyarakat lebih
banyak digerakkan oleh kepentingan non-produktif, seperti silaturahmi,
jalan-jalan dan belanja kebutuhan pokok. Sedang mobitas yang bersifat
produktif, seperti dinas dan berdagang (bisnis) masih minim.
B. Perekonomian
B.1 Mata Pencaharian Penduduk
Dari data sekunder diketahui mata pencaharian penduduk di daerah
penelitian yang terbanyak yaitu sekitar 43,49% adalah profesi buruh, profesi
terbanyak selanjutnya adalah nelayan ada 17,34%, petani ada 13,03% dan
profesi terendah adalah PNS/ABRI hanya 3.33% dari keseluruan jumlah
penduduk yang ada di daerah penelitian. Rincian mata pencaharian
penduduk di daerah penelitian dapat di lihat pada gambar 6 berikut.
Gambar 6
Alasan/Keperluan Berpergian Penduduk di daerah Penelitian

Nelayan
17,34%
Buruh
43,49%

Petani
13,03%
PNS/ABRI
 Sektor
3,33%
lainnya Swasta
11,87% 10,94%

Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2006 (diolah lagi)


Dari gambar di atas diketahui lebih dari 50% atau setengah dari
jumlah penduduk di daerah penelitian adalah bermatapencaharian sebagai
buruh. Namun dari observasi di lapangan diketahui selain berprofesi buruh,
umumnya juga memiliki usaha sampingan, seperti bertani, tukang ojek dan
membuka warung serta bidang usaha lainnya.
B.2 Tingkat Pendapatan
Untuk menghitung tingkat pendapatan penduduk dapat dilihat dari
nilai Standar Kebutuhan Minimun (KHM) untuk per-cacah orang di daerah
penelitian. Rincian nilai Standar Kebutuhan Minimun (KHM) di daerah
penelitian dapat dilihat pada tabel 6 berikut.
Tabel 6
Nilai Standar Kebutuhan Minimun (KHM) di Daerah Penelitian
Volume Nilai
Harga Satuan
No. Kebutuhan Pokok (Kg/Ltr/Btg/ Kebutuhan
(Rp)
Lbr/M) (Rp)
1. Beras 145 Kg 4.500 652.000
2. Ikan asin 15 Kg 16.000 240.000
3. Gula 6 Kg 7.500 45.000
4. Garam 10 Kg 800 8000
5. Minyak goreng 6 Ltr 4.400 26.400
6. Minyak Tanah 65 Ltr 3.500 227.500
7. Sabun 20 Btg 2.200 44.000
8. Tekstil kasar 4M 25.000 100.000
9. Batik kasar 2 Lbr 50.000 100.000
Jumlah 1.443.400
Sumber : Analisis Kebutuhan Pokok Propinsi Kaltim
Dari data tabel di atas, diketahui nilai kebutuhan minimum untuk
setiap kapita di daerah penelitian adalah Rp. 1.443.400,- perkapita pertahun.
Dari nilai tersebut dapat dibuat kategori nilai tingkat kemiskinan penduduk,
sebagai berikut.
a) Miskin sekali, bila pendapatan perkapita < 75% dari Rp. 1.443.400,-
atau lebih kecil dari Rp. 1.082.550,-
b) Miskin, bila pendapatan perkapita antara 75% sampai dengan 125%
dari Rp. 1.443.400,- atau Rp. 1.082.550,- sampai dengan Rp.
1.804.250,-
c) Hampir miskin, bila pendapatan perkapita > 125% sampai dengan
200% dari Rp. 1.443.400,- atau Rp. 1.804.250,- sampai dengan Rp.
2.886.800,-
d) Tidak miskin, bila pendapatan perkapita > 200% dari Rp. 1.443.400,-
atau lebih besar dari Rp.2.886.800,-
Dari hasil wawancara responden di daerah penelitian, keadaan tingkat
pendapatan peduduk pada semua strata terwakili, tingkat pendapatan
penduduk di daerah penelitian yang masuk kategori cukup atau tidak miskin
ada 18.38%, sedang yang hampir miskin ada 33.09%, miskin 45.59% dan
miskin sekali 2.94%. Rincian tingkat pendapatan penduduk di daerah
penelitian dapat dilihat pada gambar 7 berukut.
Gambar 7
Tingkat Pendapatan Penduduk di daerah Penelitian
50% 45,59%

40%
33,09%

30%
18,38%
20%

10%
2,94%

0%
< Rp. 1,082,550,- Rp. 1,082,550,- s/d > Rp. 1,804,250,- s/d > Rp. 2,886,800,-
Rp. 1,804,250,- Rp. 2,886,800,-

Sumber : Data primer (diolah)


B.3 Pola Pemilikan Lahan dan Penguasaan Sumber Daya Alam
Pola pemilikand dan penguasaan sumber daya alam di daerah
penelitian beragam mulai dari perorangan, Badan Usaha Swasta dan Negara.
Konsep pemiikan lahan mengacu pada penguasaan resmi yang dikuasai oleh
lembaga resmi (pemerintah desa) serta diakuai oleh penduduk lain.
Kepemilikan lahan biasanya dilegalisasi dengan sertifikat, tercatat di
administrasi desa. Atas kepemilikan tersebut, penduduk dapat mengubah
lahan sendiri, meminjamkan, mengeluarkan atau bahkan menjual kepada
orang lain. Konsep penguasaan lahan adalah penguasaan faktual seseorang
terhadap lahan, namun secara legal, orang tersebut tidak memilikinya,
umpamanya lahan dikuasai atas status pinjaman, menyewa atau menggarap
milik orang lain.
Berdasarkan konsep-konsep tersebut, maka diketahui pola
kepemilikan dan penguasaan lahan milik penduduk yang terluas adalah lahan
pertanian yaitu kebun/ladang dan sawah. Dari observasi lapangan diketahui
keberadaan kebun/ladang dan sawah sebagian besar merupakan hasil
membuka lahan sendiri dari area hutan dan berikutnya adalah hasil membeli
dari orang lain. Rincian pola pemilikan dan penguasaan lahan dapat dilihat
dari gambar 8 berikut.
Gambar 8
Pola Pemilikan Dan Penguasaan Lahan Penduduk
di daerah Penelitian
 Membeli dari
 Membuka orang lain
lahan sendiri 27,21%
43,38%

 Pembagian
 Desa/Tanah
Adat
 Warisan  Pinjam (Hak 5,88%
orang tua  Pembagian (pakai
13,24% Transmigrasi 1,47%
8,82%

Sumber : Data primer (diolah)


B.4 Pola Adaptasi Ekologis
Sumber daya alam yang ada di masing-masing desa daerah penelitian
pada dasarnya adalah hampir sama, seperti komoditi karet, madu, aren,
kebun buah, padi dan batubara serta komoditi lainnya. Komoditi tersebut,
sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat dan dieksploitasi oleh
pengusaha. Bagi para petani pola adaptasi pertanian yang dilakukan secara
rinci dapat dilihat pada tabel berikut.
Sedangkan pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat yang dilakukan
seperti mencari binatang buruan, madu, hasil pohon aren, memancing ikan
dan mencari kayu bakar telah banyak ditinggalkan. Sedangkan air sungai
yang digunakan masyarakat hanyalah sebagai transportasi air, MCK, mencari
ikan dan pengairan sawah serta air minum
Dari hasil observasi pemanfaatan hasil hutan yang masih
dipertahankan oleh masyarakat adalah pemanfaatan kayu api meskipun telah
mengalami penurunan yang drastis.
B.5 Peluang dan Kesempatan Kerja
Kegiatan PT. Singlurus Pratama akan dapat menciptakan sejumlah
kesempatan kerja dan lapangan usaha, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Kesempatan kerja tersebut diindikasikan dengan jumlah orang
yang bekerja diharapkan dari tahun ke tahun meningkat. Dari hasil data
sekunder diperkirakan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh PT. Singlurus
Pratama berdasarkan struktur organisasi dapat dilihat pada tabel 7 berikut.
Tabel 7
Tenaga Kerja Yang Dibutuhkan Oleh PT. Singlurus Pratama
Berdasarkan Struktur Organisasi
No. Formasi Jumlah
1. Manager Direktur 1
2. General Manager 5
3. Manager 21
4. Suoervisor 55
5. Staf Administrasi 70
6. Operator Peralatan Utama 252
7. Operator Peralatan Pendukung 40
8. Staf, Teknisi dan Bantuan Pendukung 200
Jumlah Keseluruan Karyawan 644
Sumber : PT Singlurus Pratama
Berdasarkan data diatas nampak penyerapan tenaga kerja bagi
masyarakat cukup banyak yaitu sekitar 644 tenaga kerja dan diharapkan dari
keseuruhan jumlah tersebut 75% akan menyerap tenaga kerja lokal atau
sekitar 483 orang.
Selain adanya kesempatan kerja seperti tersebut diatas, juga akan
terbukanya peluang berusaha bagi masyarakat seperti berdirinya warung,
toko, penyedia jada angkutan, penginapan dan sebagainya
B.6 Kontribusi PT. Singlurus Pratama Terhadap Pemerintah Daerah
Keberadaan suatu proyek diharapkan akan dapat memberikan
kontribusi bagi pemerintah daerah seperti pajak, sebagai dampak positif dari
kehadiran suatu proyek di suatu daerah. Adapun dari proyek eksploitasi
tambang batubara tersebut, PT. Singlurus Pratama telah memprediksikan
besaran kontribusi/pendapatan yang didapat daerah dimana PT Singlurus
Pratama beroperasi. Rincian kontribusi yang diprediksikan menjadi
pendapatan daerah dapat dilihat pada table 8 berikut.
Tabel 8
Kontribusi yang Diprediksikan menjadi Pendapatan Daerah
No Uraian Jumah (Rp)
1. Royalty (13,5 x produksi (3juta ton) x 29 $/tahun $ 10.530.000,-
2. Pajak Penghasilan 30% $ 5.500.000,-
3. PBB Rp. 100.000.000,-
4. Iuran Tetap Rp. 120.000.000,-
5. Pendapatan penduduk sekitar (650 pekerja x 75%) x
Rp. 4.000.000.000,-
1.000.000
Sumber : PT Singlurus Pratama
Dari tabel diatas terlihat jumlah kontribusi PT. Singlurus Pratama
secara riil terhadap pendapatan daerah dan masyarakat cukup besar. Selain
itu, adanya program comdev sebagai bentuk tanggung jawab sosial
masyarakat sekitar PT. Singlurus Pratama diharapakan dapat meningkatkan
kesejahteraan penduduk sekitar lokasi kegiatan.
B.7 Pusat Pertumbuhan
Untuk mengetahui tingkat petumbuhan ekonomi di desa, digunakan
beberapa parameter yang relevan dengan hal tersebut, salah satu parameter
tingkat pertumbuhan dari daerah adalah sarana dan prasarana penunjang
perekonomian masyarakat yang ada di suatu wilayah. Adapaun sarana dan
prasarana perekonomian di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 9
berikut.
Tabel 9
Sarana dan Prasarana Perekonomian di Daerah Penelitian
No. Jenis Jumlah
1. Koperasi 2
2. Pasar Umum 4
3. Pasar semi permanen/musiman 2
4. Pasar Ikan 1
5. Bank 1
6. Hotel 3
7. Warung/Rumah Makan 12
8. Restoran 12
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2005
Dari tabel diatas, berdasarkan parameter pokok tersebut maka pada
daerah penelitian fasilitas-fasilitas ekonomi yang ada masih minim. Hal itu
menunjukkan juga daerah penelitian kurang memiliki potensi yang cukup ba
ntuk berkembang.
B.8 Fasilitas Perhubungan dan Komunikasi
Untuk mencapai desa-desa daerah penelitian ada dua jalur yang bisa
tempuh, pertama melalui jalan darat dan jalan air. Alat transportasi yang
menghubungkan antar desa dan kota kecamatan, kabupaten dan ibukota
provinsi teah cukup memadai. Rincian fasilitas jalan dan jembatan di daerah
penelitian dapat dilihat pada tabel 10 berikut.
Tabel 10
Fasilitas Jalan dan Jembatan di Daerah Penelitian
No. Jenis Kuantitas
I. Jalan
1. Jalan Negara 33 km
2. Jalan Provinsi 39 km
3. Jalan Kabupaten/Kotamadya 20 km
4. Jalan Desa 47 km
II. Jembatan
1. Jembatan beton 17 buah
2. Jembatan besi 7 buah
3. Jembatan kayu 50 buah
4. Jembatan Lain-lain 80 buah
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2005
Adapun gambaran sarana transportasi dan komunikasi yang tersedia
di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 11 berikut:
Tabel 11
Sarana Transportasi dan Komunikasi di Daerah Penelitian
No. Jenis Alat Jumlah
1. Bus Umum 2
2. Mobi Dinas 6
3. Telepon Ada
4. Kantor Pos 1
5. Orari 1
6. Pemancar Radio 1
7. Chanel TV Ada
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2005
Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa sarana dan prasarana
perhubungan di daerah penelitian telah memadai, khususnya untuk alat
transportasi penduduk masyarakat. Dimana telah tersedia bis umum dan
taksi sehingga cukup memudahkan aktifitas masyarakat.
C. Sosial Budaya
C.1 Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang tersedia di kawasan ini pada umumnya
Sekolah Dasar yang terbanyak sedangkan untuk jenjang Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) masih
minim. Rincian fasilitas pendidikan formal di daerah penelitian dapat dilihat
pada tabel 12 berikut.
Tabel 12
Fasilitas Pendidikan Formal di Daerah Penelitian
No Jenjang Pendidikan Jumlah
1. Taman Kanak-kanak (TK) 4
2. Sekolah Dasar (SD) 40
3. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3
4. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 11
5. Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1
6. Sekoah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 6
Total 67
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2006
Sedangkan tingkat pendidikan penduduk di daerah penelitian dapat dilihat
pada tabel 13 berikut.
Tabel 13
Tingkat Pendidikan Penduduk di Daerah Penelitian
No Jenjang Pendidikan Jumlah
1. Tidak sekolah / tidak tamat SD 34
2. Sekolah Dasar (SD) 29
3. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 9
4. Sekoah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 135
5. Program Diploma (D-1 s/d D-III) 18
6. Sarjana (S-1) 21
Total 246
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2006
Prasarana Sosial
Prasarana yang ada di daerah penelitian merupakan gambaran dari
semangat dan kebersamaan masyarakatnya dalam rangka membangun
desanya. Rincian sarana dan prasarana yang ada dapat dilihat pada tabel 14
berikut.
Tabel 14
Sarana dan Prasarana di Daerah Penelitian
No Jenjang Pendidikan Jumlah
1. Masjid 58
2. Langgar 69
3. Gereja 18
4. Balai Desa 18
5. Lapangan Olah Raga 23
6. Karang Taruna 3
Total 189
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2006
C.2 Nilai-nilai Budaya
Nilai budaya masyarakat berkembang sesuai dengan keadaan aam
dimana mereka berada, selai adanya nilai budaya yang dianggap leluhur
berasal dari kelompok etnis masig-masing. Nilai budaya yang berkembang di
daerah penelitian juga erat kaitannya dengan asal daerah dan juga dominasi
kelompok/suku yang ada di daerah tersebut.
Dari observasi lapangan menunjukkan pada desa-desa penelitian
suku-suku yang ada terdiri dari Bugis, Banjar, Jawa, Sunda, Kutai dan Tator.
Dengan semakin maju transportai dan komunikasi ditambah ada program
transmigrasi menyebabkan telah terjadi proses asimilasi antara penduduk
pendatang oleh karena itu seni budaya yang dikembangkan sering terjadi
pembauran nilai-nilai budaya atar suku, khususnya dengan budaya jawa
karena sebagian besar transmigran adalah dari suku jawa.
Perkembangan nilai-nilai budaya di daerah penelitian tidak terlepas
dari masuknya nilai-nilai modern sehingga telah terjadi akulturasi anatara
nilai-nilai tradisional dengan modern terutama dalam acara perkawinan.
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari nampak nilai budaya gotong-
royong yang dilakukan masih tampak baik berupa kerja bakti kebersihan
gorong-gorong, pemeliharaan sarana ibadah dan olah raga dan lainya.
Gotong royong dilaksanakan dengan semangat sukarela, namun juga ada
sanksi sosial yang melekat pada budaya tersebut. Makna dari budaya
tersebut, adalah sebagai bentuk dari kebersamaan dan kepedulian terhadap
lingkungan, baik ingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.
Dari hasil wawancara dengan responden diketahui beberapa nilai
budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat dan cukup memberi
warna keseharian masyarakat di daerah penelitian. Beberapa nilai budaya
yang masih dipertahankan masyarakat dapat dilihat pada tabel 15 berikut.
Tabel 15
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut Tingkat Pendidikan
di Daerah Penelitian
No. Nilai Budaya Uraian
1. Perbedaan Laki-laki & wanita Laki-laki sebagai pemimpin ……. dll
2. Hubungan Laki-laki & Wanita Wanita harus menjaga kehormatannya … dll
3. Warisan Laki-laki dapat lebih banyak …. dll
4. Penghormatan terhadap Orang tua Menerima nasehat dari yang lebih tua …dll
Berbicara dengan sopan kepda bangsawan 
5. Penghormatan terhadap Bangsawan ..dll
6. Gotong royong Kerja bakti, buwuhan ….dll
7. Acara setelah panen Sedekah desa, kirin sajen  ….. dll
8. Acara nikah, melahirkan Buwuhan …..dll
9. mulai tanam selamatan Kirim sajen, selamatan musim tanam ... dll
Sumber : Data Primer
Adapun fasilitas milik bersama atau umum yang biasa digunakan
sebagai arena aktualisasi dan sosialisasi kerukunan antar penduduk sehingga
dapat melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai budaya di daerah
penelitian dapat dilihat pada tabel 16 berikut.
Tabel 16
Fasilitas Umum yang Ada di Daerah Penelitian
No. Fasilitas Umum Jumlah
1. Tempat Rekreasi 2
2. Taman 1
3. Pantai 1
4. Hutan lindung 1
5. Tempat Pertunjukan 3
6. Tempat Rekreasi Lain (Sejarah,Alam) 1
7. Bioskop 3
Sumber : Kecamatan Samboja Dalam Angka 2005
C.3 Kelembagaan
Secara administratif dan formal, lembaga yang berfungsi di daerah ini
adaah RW (Rukun Penduduk) dan RT (Rukun Tetangga), sedangkan lembaga
adat di daerah ini tidak ada.
Ketua RT dan Kepala Desa si daerah ini umumnya dipilih secara
langsung oleh masyarakatnya, yang dipilih dari anggota masyarakat yang
dianggap mempunyai pendididkan relatif lebih baik dan menpunyai
kewibawaan untuk dapat menggerakkan dan memimpin daerahnya. Dengan
demikian, ketua RT dan atau Kepala Desa selain harus mampu sebagai
organisatoris untuk menggerakkan masyarakat dalam rangka pembangunan
juga adalah orang yang disegani.
Dari wawancara dengan beberapa responden diketahui beberapa
kelebihan seseorang, sehingga dia dapat dianggap pantas untuk dipilih
menjadi pemimpin atau tokoh yang disegani. Rincian
Lembaga lain yang berperan di daerah penelitan adalah LMD yang
mempunyai fungsi strategis sebagai cerminan aspirasi dan demokratisasi di
pedesaan. Lembaga ini selain berpera sebagai badan perencanaan di desa
juga berusaha menggalang dan meningkatkan kegotongroyongan
masyarakat sekitar.
C.4 Proses Sosial
Salah satu indikasi adanya kohesi sosial dapat dilihat dari proses sosial
yanga terjadi dari daerah yang diteliti.
Dengan semakin banykanya para pendatang yang membawa niai
budayanya, kemungkinan dapat merupakan potesi konflik. Namun demikian
diharapkan potensi konflik tersebut dapat ditekan dengan pola-pola
penyelesaian masalah dengan bijaksana. Dari data lapangan diketahui
adanya peristiwa konflik yang terekam dalam ingatan penduduk dengan
frekwensi tertinggi adalah di desa Karya Merdeka dan Bukit Raya, sedang di
desa-desa lainnya responden menjawab kadang-kadang dan tidak pernah.
Rincian frekwensi terjadi konflik di daerah penelitian dapat dilihat pada
gambar 10 berikut.
Gambar 10
Frekwensi Terjadi Konflik di daerah Penelitian
100
80
60
40
20
0

Tani Bhakti
Bukit Raya

Beringin
Margomulyo

Merdeka

Sei Seluang

Ambarawang
Argosari

Selok Api
Agung
Karya

Darat

Darat
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah

Sumber : Data primer (diolah)


Secara umum dapat dikatakan konflik yang terjadi selama ini, bila
meihat jawaban responden dapat dikatakan jarang sekali walaupun ada.
Adapun latar belakang atau penyebab timbulnya konflik yang terjadi adalah
disebabkan kasus lahan/tanah dan hubungan muda mudi. Rincian latar
belakang terjadinya konflik di daerah penelitian dapat dilihat pada gambar 11
berikut.

Gambar 11
Latar Belakang Terjadinya Konflik di daerah Penelitian

 Perebutan
Obat-obatan Lahan/tanah
2,21% 41,18%
Minuman Keras
6,62%  Pencemaran
Limbah
Pencurian 6,62%
3,68%

Kebisingan
-Hubungan muda 2,94%
mudi
19,85% Polusi Udara
2,94%
 Pelanggaran
Nilai Budaya Perebutan SDA
8,09%  Kecemburuan 3,68%
Agama
Sosial
0,00%
2,21%

Sumber : Data primer (diolah)

Upaya guna penyelesaian konflik tersebut, selalu mengedepankan


musyawarah mufakat antar yang bermasalah dengan ketua RT, Kepala Desa
dan tokoh-tokoh masyarakat sebagai mediator. Mereka merupakan tokoh
yang disegani sehingga dapat dijadikan panutan sebagai inisiator dalam
menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan yang terkait
kepentingan desa lainnya. Namun bila peyelesaian melalui
musyawarah mufakat dengan semangat kekeluargaan menemui jalan buntu
atau tidak berhasil diambil keputusan penyelesaian maka upaya penyeesaian
dilakukan melalui hukum positif. Rincian proses penyelesaian konflik di
daerah penelitian dapat dilihat pada gambar 12 berikut,
Gambar 12
Proses Penyelesaian Konflik di daerah Penelitian

 Musyawarah
kekeluargaan
72,06%

 Rapat di
Kantor desa
8,82%

 Rapat di
Lapor ke Polisi Kecamatan
11,03% 8,09%

Sumber : Data primer (diolah)


D Persepsi dan Sikap dengan Keberadaan PT. Singurus Pratama
Persepsi dan sikap positif dari masyarakat terhadap keberadaan
perusahaan akan mengkondisikan iklim yang baik untuk oprasional
perusahaan. Artinya dalam kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan
lancar untuk mencapai tujuannya. Dari jawaban responden atas pentanyaan
yang ada di kuisioner diperoleh gambaran persepsi dan sikap masyarakat
yang menyatakan setuju dengan keberadaan proyek PT. Singlurus Pratama.
Rincian gambaran persepsi dan sikap masyarakat terhadap proyek PT.
Singlurus Pratama dai daerah penelitian dapat dilihat pada gambar 13
berikut,
Gambar 13
Gambaran Persepsi dan Sikap Masyarakat terhadap Proyek
PT. Singlurus Pratama
100

80

60

40

20

Tani Bhakti
Margomulyo

Merdeka

Bukit Raya

Selok Api
Beringin

Sei Seluang
Argosari

Ambarawang
Agung
Karya

Darat

Darat
Setuju Tidak Setuju Tidak ada pendapat

Sumber : Data primer (diolah)


Beberapa alasan yang melatarbelakangi sikap setuju masyarakat
dengan keberadaan proyek PT. Singlurus Pratama terekam dalam jawaban
responden, pertama ada 30,15% responden menjawab adanya pembebasan
lahan dengan mendapatkan ganti rugi, 19,85% responden menjawab adanya
kesempatan kerja, sedang pilihan jawaban terendah 2,94% responden
adalah adanya bantuan listrik. Rincian alasan masyarakat menerima
keberadaan proyek PT. Singlurus Pratama dapat dilihat pada gambar 14
beriku.
Gambar 14
Alasan Masyarakat menerima Keberadaan Proyek
PT. Singlurus Pratama
 Meningkatkan
 Pendapatan Harga lahan naik
daerah 8,09%
4,41%
Kesempatan kerja
19,85%
Pembebasan/Gant
i rugi lahan
30,15%

 Kesempatan
berusaha
4,41%
 Bantuan
kesehatan
4,41%
 Memberi bantuan
 sarana dan  Perkembangan Bantuan listrik
prasarana desa  dan terbukanya 2,94%
9,56% daerah
16,18%

Sumber : Data primer (diolah)