Anda di halaman 1dari 35

PENDIDIKAN INKLUSI

Makalah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Anak


Berkebutuhan Khusus yang Dibimbing oleh Tety Nur Cholifah, M.Pd

Disusun oleh kelompok 2 Semester 4A :

1. Ardita Rahma Putri (1886206002)


2. Fikri Mardiansah (1886206005)
3. Sukhufus Suaidah (1886206007)
4. Nia Erlinda Fatmawati (1886206042)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RADEN RAHMAT
2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas limpahan


rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyajikan makalah yang berjudul
Pendidikan Inklusi. Penyusun menulis makalah ini untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang Dibimbing oleh
Tety Nur Cholifah, M.Pd

Sangat disadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki


penulis, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti, tapi
masih dirasakan banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran
yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Malang, 23 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................i

KATA PENGANTAR....................................................................................ii

DAFTAR ISI...................................................................................................iii

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................1
1.3 Tujuan Masalah.....................................................................................2
2. PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Historis Pendidikan Inklusi.........................................3
2.2 Konsep Pendidikan Inklusi...................................................................5
2.3 Makna Pendidikan Inklusi....................................................................7
2.4 Tujuan Pendidikan Inklusi....................................................................
2.5 Pengelolaan Kelas dalam Setting Menuju Pendidikan Inklusi.............
2.6 Implikasi Diberlakukannya Pendidikan Inklusi....................................
2.7 Dasar Hukum yang Mengayomi Pendidikan Inklusi............................
3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan...........................................................................................
3.2 Saran.....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan
dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti
pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-
sama dengan peserta didik pada umumnya. Tujuan dari pendidikan inklusif
adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta
didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau
memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya; serta
untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai
keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.
(Kemdikbud, 2011).
Perkembangan sejarah pendidikan inklusif di Indonesia dimulai tahun
1980 yang dinamakan program terpadu sebagai pendidikan untuk semua,
akan tetapi dalam menjalankan program terpadu mempunyai masih banyak
kekurangan dalam implementasinya sehingga program tidak dikembangkan
lebih lanjut. Dengan adanya perkembangan dalam dunia pendidikan maka
pada tahun 2004 diselenggarakan konvensi nasional yang menghasilkan
Deklarasi Bandung dengan komitmen 'Indonesia menuju pendidikan inklusif'.
Penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang telah memenuhi
beberapa persyaratan yang telah ditentukan. Ada beberapa persyaratanyang
dimaksud diantaranya mempunyai siswa berkebutuhan khusus, mempunyai
komitmen terhadap pendidikan inklusif, penuntasan wajib belajarmaupun
terhadap komite sekolah, menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga
terkait, dan mempunyai fasilitas serta sarana pembelajaran yang mudah
diakses oleh semua anak. Penyelenggara juga harus mengembangkan
program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak berkebutuhan
khusus,dan menyiapkan guru pendamping khusus yang didatangkan dari

1
sekolah luar biasa (SLB) ataupun guru di sekolah umum yang telah
memperoleh pelatihan khusus. Pada tahun 2008, ada 925 sekolah inklusif di
Indonesia yang terdiri dari 790 sekolah mengakui siswa dengan kebutuhan
khusus dan 135 sekolah dengan dipercepat program untuk berbakat dari TK
hingga sekolah dengan tingkat tertinggi.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana latar belakang historis pendidikan inklusi ?
b. Bagaimana konsep pendidikan inklusi ?
c. Bagaimana makna pendidikan inklusi ?
d. Apa saja tujuan pendidikan inklusi ?
e. Bagaimana pengelolaan kelas dalam setting menuju pendidikan inklusi ?
f. Bagaimana implikasi diberlakukannya pendidikan inklusi ?
g. Apa saja dasar hukum yang mengayomi pendidikan inklusi ?
1.3 Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui latar belakang historis pendidikan inklusi.
b. Untuk mengetahui konsep pendidikan inklusi.
c. Untuk mengetahui makna pendidikan inklusi.
d. Untuk mengetahui tujuan pendidikan inklusi.
e. Untuk mengetahui pengelolaan kelas dalam setting menuju pendidikan
inklusi.
f. Untuk mengetahui implikasi diberlakukannya pendidikan inklusi.
g. Untuk mengetahui dasar hukum yang mengayomi pendidikan inklusi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Historis Pendidikan Inklusi


Sejarah perkembangan inklusif di dunia pada mulanya diprakarsai dan
diawali dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia). Di
Amerika Serikat pada tahun 1960-an oleh Presiden Kennedy mengirimkan
pakar-pakar Pendidikan Luar biasa ke Scandinavia untuk mempelajari
mainstreaming dan Least restrictive environment, yang ternyata cocok untuk
diterapkan di Amerika Serikat. Selanjutnya di Inggris dalam Ed.Act. 1991
mulai memperkenalkan adanya konsep pendidikan inklusif dengan ditandai
adanya pergeseran model pendidikan untuk anak kebutuhan khusus dari
segregatif ke intergratif. Tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif di
dunia semakin nyata terutama sejak diadakannya konvensi dunia tentang hak
anak pada tahun 1989 dan konferensi dunia tentang pendidikan tahun 1991 di
Bangkok yang menghasilkan deklarasi ‘Education for All.’ Implikasi dari
statement ini mengikat bagi semua anggota konferensi agar semua anak tanpa
kecuali (termasuk anak berkebutuhan khusus ) mendapatkan layanan
pendidikan secara memadai.
Sebagai tindak lanjut deklarasi Bangkok, pada tahun 1994
diselenggarakan konvensi pendidikan di Salamanca Spanyol yang
mencetuskan perlunya pendidikan inklusif yang selanjutnya dikenal dengan
“the Salamanca statement on inclusive education.” Sejalan dengan
kecenderungan tuntutan perkembangan dunia tentang pendidikan inklusif,
Indonesia pada tahun 2004 menyelenggarakan konvensi nasional dengan
menghasilkan Deklarasi Bandung dengan komitmen Indonesia menuju
pendidikan inklusif. Untuk memperjuangkan hak-hak anak dengan hambatan
belajar, pada tahun 2005 diadakan simposium internasional di Bukittinggi
dengan menghasilkan Rekomendasi Bukittinggi yang isinya antara lain
menekankan perlunya terus dikembangkan program pendidikan inklusif
sebagai salah satu cara menjamin bahwa semua anak benar-benar
memperoleh pendidikan dan pemeliharaan yang berkualitas dan layak.

3
Berdasarkan perkembangan sejarah pendidikan inklusif dunia tersebut, maka
Pemerintah Republik Indonesia sejak awal tahun 2000 mengembangkan
program pendidikan inklusif. Program ini merupakan kelanjutan program
pendidikan terpadu yang sesungguhnya pernah diluncurkan di Indonesia pada
tahun 1980-an, tetapi kemudian kurang berkembang, dan baru mulai tahun
2000 dimunculkan kembali dengan mengikuti kecenderungan dunia,
menggunakan konsep pendidikan inklusif.

2.2 Konsep Pendidikan Inklusi


Pendidikan Inklusif adalah suatu sistem pendidikan yang diciptakan
untuk mewujudkan konsep pendidikan untuk semua dengan cara
menggabungkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam lingkungan belajar
bersama anak-anak normal. Dalam Permendiknas No. 70 tahun 2009
pendidikan inklusif didefinisikan sebagai suatu sistem penyelenggaraan
pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang
memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa
untuk mengikuti pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik
lainnya.
Konsep penyelenggaraan pendidikan inklusif ini tidak hanya
bermanfaat bagi peserta didik berkebutuhan khusus, namun juga memberikan
kontribusi positif bagi pengembangan karakter peserta didik yang tidak
memiliki kebutuhan khusus (reguler). Mereka bisa belajar berempati dan
bertoleransi sekaligus menghargai adanya perbedaan yang ada di dunia ini.
Ada beberapa hal penting yang perlu diingat dalam penerapan
pendidikan inklusif di sekolah, yaitu:
a. Pada dasarnya setiap anak berbeda (memiliki perbedaan kemampuan,
minat, bakat, latar belakang etnik, dan sebagainya)
b. Pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan untuk belajar
c. Sistem penyelenggaraan pendidikan di sekolah perlu diubah agar dapat
mengakomodir kebutuhan semua anak (termasuk di dalamnya anak
berkebutuhan khusus).

4
Anak-anak Berkebutuhan Khusus kondisinya beragam, baik kondisi
fisik, emosi, mental, dan sosial, maupun prilakunya. Keberagaman kondisi
Anak Berkebutuhan Khusus ini membawa konsekwensi, baik kepada
kurikulum, silabus, pembelajaran, penilaian maupun pada implementasinya.
Kondisi keberagaman peserta didik ini, kadang menjadi hambatan bagi guru
dalam merancang pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual di
tengahtengah layanan secara klasikal, bahkan dalam hal-hal tertentu
keberagaman peserta didik tidak mungkin dapat dilakukan melalui proses
pembelajaran dan penilaian secara klasikal dalam jumlah besar. Pelaksanaan
pendidikan idealnya merupakan suatu proses belajar yang bermakna dan
bermanfaat, dan pendidikan adalah bukan hanya mengejar nilai atau angka
belaka, termasuk ketika menjalankan konsep pendidikan inklusif. Ketika anak
berkebutuhan khusus (ABK) belajar di kelas reguler penting bagi ABK untuk
berpartisipasi secara bermakna dalam melakukan proses pembelajaran di
kelas regular.
Konsep penyelenggaraan inklusif memberikan kesempatan bagi ABK
untuk mendapatkan kesempatan yang sama mengenyam pendidikan bersama
dengan peserta didik lainnya yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Namun,
kita juga perlu mengingat kembali hakekat pendidikan yang sebenarnya.
Bahwa pendidikan dan proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus
memiliki makna baginya dan idealnya dapat disesuaikan dengan kemampuan
dan kebutuhannya. Contohnya adalah sebagai berikut: seorang ABK dengan
gangguan perkembangan yang cukup berat (misalnya di usia 10 tahun ABK
masih belum bisa mengenali dirinya sendiri atau masih memiliki kosa kata
setara anak 5 tahun) belajar di sekolah yang menyelenggarakan pendidikan
inklusif. Jika sekolah hanya memahami pendidikan inklusif sebagai suatu
sistem pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua
peserta didik (tak terkecuali yang berkebutuhan khusus) untuk belajar di kelas
reguler saja, maka sekolah (hanya) akan menempatkan ABK di kelas
(reguler) saja tanpa ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan. Padahal
dengan usianya yang sudah 10 tahun dan keterbatasan kemampuan yang
dimiliki oleh ABK tersebut, pastinya ia membutuhkan intervensi, bantuan,

5
dan dukungan lebih lanjut agar proses pembelajaran yang akan dijalani setiap
harinya dapat bermakna dan tidak dipaksakan.
Karena sama belum tentu adil dan adil tidak berarti sama. Jadi
kesempatan belajar di kelas reguler bagi ABK saja tidak cukup. Perlu
diperhatikan lebih lanjut apakah ABK tersebut membutuhkan hal lain (yang
mungkin tidak dibutuhkan oleh siswa reguler) sehingga pembelajaran yang
dilakukannya bisa sesuai dengan profil kemampuannya, bermakna dan
merespon pembelajaran yang dibutuhkan olehnya.

2.3 Makna Pendidikan Inklusi


Pendidikan Inklusi dapat dipandang sebagai suatu proses untuk
menjawab dan merespon keragaman di antara semua individu melalui
peningkatan partisipasi dalam belajar, budaya dan masyarakat, dan
mengurangi eksklusi baik dalam maupun dari kegiatan pendidikan. Inklusi
melibatkan perubahan dan modifikasi isi, pendekatan, struktur dan strategi,
dengan suatu visi bersama yang meliput semua anak yang berada pada
rentangan usia yang sama dan suatu keyakinan bahwa inklusi adalah
tanggung jawab sistem regular yang mendidik semua anak  (UNESCO,
1994).
Pendidikan inklusif berkenaan dengan memberikan respon yang sesuai
kepada spektrum yang luas dari kebutuhan belajar baik
dalam setting pendidikan formal maupun nonformal. Pendidikan inklusi
merupakan pendekatan yang memperhatikan bagaimana mentransformasikan
sistem pendidikan sehingga mampu merespon keragaman siswa. Pendidikan
inklusif bertujuan dapat memungkinkan guru dan siswa untuk merasa nyaman
dengan keragaman dan memilhatnya lebih sebagai suatu tantangan dan
pengayaan dalam lingkungan belajar, daripada suatu problem.
Sekolah inklusif menilai siswa, staf, guru, dan orangtua sebagai suatu
komunitas pembelajar. Suatu sekolah inklusif memandang setiap anak
adalah gifted. Sekolah inklusif menghargai semua jenis keragaman sebagai
suatu kesempatan untuk belajar tentang apa yang membuat kita sebagai
manusia. Inklusi menfokuskan pada bagaimana mendukung keberbakatan

6
dan  kebutuhan tertentu dari setiap anak di dalam komunitas sekolah untuk
merasa tersambut dan aman serta menjadi sukses.
Asumsi lain yang mendasari sekolah inklusif adalah, bahwa mengajar
yang baik adalah mengajar yang baik, yang setiap anak dapat belajar,
diberikan lingkungan yang sesuai, dorongan, dan aktivitas yang  bermakna.
Sekolah inklusif mendasarkan kurikulum dan aktivitas belajar harian pada
sesuatu yang dikenal dengan mengajar dan belajar yang baik.
Akhirnya dapat dirumuskan bahwa pendidikan inklusif adalah suatu
proses pendidikan yang memungkinkan semua anak berkesempatan untuk
berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan kelas regular, tanpa memandang
kelainan, ras, atau karakteristik lainnya.
Pendidikan inklusif memberikan berbagai kegiatan dan pengalaman,
sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dan berhasil dalam kelas reguler
yang ada di sekolah tetangga atau sekolah terdekat. Dengan demikian
kehadiran pendidikan inklusif berpotensi mampu memberikan kontribusi
yang berarti bagi setiap anak dengan segala keragamannya, terutama anak
berkebutuhan khusus. Yang pada gilirannya bahwa pendidikan inklusif
merupakan strategi yang efektif bagi pensuksesan wajib belajar pendidikan
dasar sembilan tahun.

2.4 Tujuan Pendidikan Inklusi


Secara umum pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi pribadinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq
mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara ( UU No 20 tahun 2003, Pasal 1 ayat 1). Oleh sebab itu inti dari
pendidikan inklusi adalah hak azasi manusia atas pendidikan. Suatu
konsekuensi logis dari hak ini adalah semua anak mempunyai hak untuk
menerima pendidikan yang tidak mendiskriminasikan dengan kecacatan,
etnis, agama, bahasa, jenis kelamin, kemampuan dan lain-lain. Tujuan praktis

7
yang ingin dicapai dalam pendidikan inklusi meliputi tujuan langsung oleh
anak, oleh guru, oleh orang tua dan oleh masyarakat.
a. Tujuan yang ingin dicapai oleh anak dalam mengikuti kegiatan
belajar dalam inklusi antara lain adalah:
1) berkembangnya kepercayaan pada diri anak, merasa bangga pada diri
sendiri atas prestasi yang diperolehnya.
2) anak dapat belajar secara mandiri, dengan mencoba memahami dan
menerapkan pelajaran yang diperolehnya di sekolah ke dalam
kehidupan sehari-hari.
3) anak mampu berinteraksi secara aktif bersama teman-temannya, guru,
sekolah dan masyarakat.
4) anak dapat belajar untuk menerima adanya perbedaan, dan mampu
beradaptasi dalam mengatasi perbedaan tersebut.
b. Tujuan yang ingin dicapai oleh guru-guru dalam pelaksanaan
pendidikan inklusi antara lain adalah:
1) guru akan memperoleh kesempatan belajar dari cara mengajar dengan
setting inklusi.
2) terampil dalam melakukan pembelajaran kepada peserta didik yang
memiliki latar belakang beragam.
3) mampu mengatasi berbagai tantangan dalam memberikan layanan
kepada semua anak.
4) bersikap positif terhadap orang tua, masyarakat, dan anak dalam
situasi beragam.
5) mempunyai peluang untuk menggali dan mengembangkan serta
mengaplikasikan berbagai gagasan baru melalui komunikasi dengan
anak di lingkungan sekolah dan masyarakat.
c. Tujuan yang akan dicapai bagi orang tua antara lain adalah:
1) para orang tua dapat belajar lebih banyak tentang bagaimana cara
mendidik dan membimbing anaknya lebih baik di rumah, dengan
menggunakan teknik yang digunakan guru di sekolah.
2) mereka secara pribadi terlibat, dan akan merasakan keberadaanya
menjadi lebih penting dalam membantu anak untuk belajar.

8
3) orang tua akan merasa dihargai, merasa dirinya sebagai mitra sejajar
dalam memberikan kesempatan belajar yang berkualitas kepada
anaknya.
4) orang tua mengetahui bahwa anaknya dan semua anak yang di
sekolah, menerima pendidikan yang berkualitas sesuai dengan
kemampuan masing-masing individu anak.
d. Tujuan yang diharapkan dapat dicapai oleh masyarakat dalam
pelaksanaan pendidikan inklusif antara lain adalah:
1) masyarakat akan merasakan suatu kebanggaan karena lebih banyak
anak mengikuti pendidikan di sekolah yang ada di lingkungannya.
2) semua anak yang ada di masyarakat akan terangkat dan menjadi
sumber daya yang potensial, yang akan lebih penting adalah bahwa
masyarakat akan lebih terlibat di sekolah dalam rangka menciptakan
hubungan yang lebih baik antara sekolah dan masyarakat
( Tarmansyah, 2007:112-113).

Selanjutnya tujuan pendidikan inklusi menurut Raschake dan Bronson


(Lay Kekeh Marthan, 2007: 189-190), terbagi menjadi 3 yakni bagi anak
berkebutuhan khusus, bagi pihak sekolah, bagi guru, dan bagi masyarakat,
lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
a. Bagi anak berkebutuhan khusus
1) anak akan merasa menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya.
2) anak akan memperoleh bermacam-macam sumber untuk belajar dan
bertumbuh.
3) meningkatkan harga diri anak.
4) anak memperoleh kesempatan untuk belajar dan menjalin
persahabatan bersama teman yang sebaya.
b. Bagi pihak sekolah
1) memperoleh pengalaman untuk mengelola berbagai perbedaan dalam
satu kelas.
2) mengembangkan apresiasi bahwa setiap orang memiliki keunikan dan
kemampuan yang berbeda satu dengan lainnya.

9
3) meningkatkan kepekaan terhadap keterbatasan orang lain dan rasa
empati pada keterbatasan anak.
4) meningkatkan kemempuan untuk menolong dan mengajar semua anak
dalam kelas
c. Bagi guru
1) membantu guru untuk menghargai perbedaan pada setiap anak dan
mengakui bahwa anak berkebutuhan khusus juga memiliki
kemampuan.
2) menciptakan kepedulian bagi setiap guru terhadap pentingnya
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
3) guru akan merasa tertantang untuk menciptakan metode-metode baru
dalam pembelajaran dan mengembangkan kerjasama dalam
memecahkan masalah.
4) meredam kejenuhan guru dalam mengajar.
d. Bagi masyarakat
1) meningkatkan kesetaraan sosial dan kedamaian dalam masyarakat.
2) mengajarkan kerjasama dalam masyarakat dan mengajarkan setiap
anggota masyarakat tentang proses demokrasi.
3) membangun rasa saling mendukung dan saling membutuhkan antar
anggota masyarakat.

Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan


inklusi yang ingin dicapai adalah tujuan bagi anak berkebutuhan khusus, bagi
pihak sekolah, bagi guru, bagi orang tua dan bagi masyarakat.

2.5 Pengelolaan Kelas dalam Setting Menuju Pendidikan Inklusi


Berikut ini manajemen pembelajaran inklusi bagi anak berkebutuhan
khusus yang meliputi:
1) Perencanaan Pembelajaran Inklusi
Perencanaan Pembelajaran merupakan proses penetapan dan
pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat

10
menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan
secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi: menganalisis hasil
assessment untuk kemudian dideskripsikan, ditentukan penempatan untuk
selanjutnya, dibuatkan program pembelajaran berdasarkan hasil
assessment.
Dalam konteks perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai
proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran,
penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, dan penilaian dalam
suatu lokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk
mencapai tujuan yang ditentukan. Perencanaan pembelajaran yang
merupakan antisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan
dalam pembelajaran sehingga tercipta suatu situasi yang memungkinkan
terjadinya proses belajar yang dapat mengantarkan peserta didik mencapai
tujuan yang diharapkan. Apabila perencanaan pembelajaran disusun
dengan baik, maka akan menjadikan tujuan pembelajaran dapat dicapai
secara efektif dan efisien.
Peran yang dilakukan oleh guru dalam perencanaan pembelajaran
adalah dengan membuat perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran
merupakan beberapa persiapan yang disusun oleh guru agar pelaksanaan
dan evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara sistematis dan
memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Perangkat pembelajaran
tersebut minimal terdiri dari analisis pekan efektif, program tahunan,
program semesteran, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
2) Pelaksanaan Pembelajaran Inklusi
Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta
pengorganisasian siswa berkelainan di kelas reguler sesuai dengan
rancangan yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan
melalui individualisasi pengajaran artinya; anak belajar pada topik yang
sama, waktu dan ruang yang sama, namun dengan materi yang berbeda-
beda. Cara lain proses pembelajaran dilakukan secara individual artinya

11
anak diberi layanan secara individual dengan bantuan guru khusus. Proses
ini dapat dilakukan jika dianggap memiliki rentang materi/keterampilan
yang sifatnya mendasar (prerequisit). Proses layanan ini dapat dilakukan
secara terpisah atau masih di kelas tersebut sepanjang tidak mengganggu
situasi belajar secara keseluruhan.
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP.
Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti
dan kegiatan penutup.
a) Kegiatan pendahuluan, dalam kegiatan pendahuluan, guru:
i. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti
proses pembelajaran.
ii. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan
pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
iii. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang
akan dicapai.
iv. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan
sesuai silabus.
b) Kegiatan inti.
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk
mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi
proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c) Kegiatan penutup, dalam kegiatan penutup, guru:
i. Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat
rangkuman/simpulan pelajaran;
ii. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

12
iii. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
iv. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran
remidi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau
memberikan tugas, baik tugas individual maupun kelompok
sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
v. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan
berikutnya.
3) Evaluasi Pembelajaran Inklusi
Evaluasi merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran pada
khususnya, dan sistem pendidikan pada umumnya. Artinya, evaluasi
merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin dielakkan dalam suatu
proses pembelajaran. Dengan kata lain, kegiatan evaluasi, baik evaluasi
hasil belajar maupun evaluasi pembelajaran, merupakan bagian integral
yang tidak terpisahkan dari kegiatan pendidikan. Dengan demikian
evaluasi berarti penentuan nilai suatu program dan penentuan keberhasilan
tujuan pembelajaran suatu program.
Dalam evaluasi hendaknya mempertimbangkan sekurang-kurangnya
3 aspek yaitu siswa, program pembelajaran dan bagaimana
pengadministrasian evaluasi itu sendiri. Evaluasi yang digunakan pada
sekolah inklusi hendaknya menggunakan:
a) Untuk mereka yang berkebutuhan khusus maka evaluasi berdasarkan
program pembelajaran individual.
b) Laporan hasil kemajuan atau perkembangan siswa hendaknya
dilengkapi dengan laporan berbentuk penjelasan atau informasi secara
narasi.
c) Dalam mengevaluasi perlu mempertimbangkan kondisi atau jenis anak
berkebutuhan khusus.
d) Untuk kondisi tertentu kemungkinan juga evaluasi menggunakan media
gambar misalnya bagi mereka yang mengalami gangguan membaca.

13
Kemudian untuk evaluasi dalam program pembelajaran inklusi bagi
Anak Berkebutuhan Khusus berupa:
a) Penilaian selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, baik secara
lisan, tertulis, maupun melalui pengamatan.
b) Melakukan tindak lanjut atas hasil penilaian yang telah dilakukan
selama kegiatan belajar mengajar.

Menurut Masnur Muslich (2007:72), secara teknis pelaksanaan kegiatan


pembelajaran atau KBM menampakkan pada beberapa hal, yaitu pengelolaan
tembat belajar/ruang kelas, pengelolaan bahan pelajaran, pengelolaan
kegiatan dan waktu, pengelolaan siswa, pengelolaan sumber belajar dan
pengelolaan perilaku mengajar.
a. Pengelolaan tempat belajar/ruang kelas
Tempat belajar seperti ruang kelas yang menarik merupakan hal yang
sangat disarankan dalam PAKEM (pendekatan pembelajaran yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan). Pengelolaan tempat belajar meliputi
pengelolaan beberapa benda/objek yang ada dalam ruang belajar seperti meja,
kursi, pajangan sebagai hasil karya siswa, perabot sekolah, atau sumber
belajar yang ada si kelas.
Ruang belajar hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga memenuhi kriteria
berikut:
1) menarik bagi siswa
2) memudahkan mobilitas guru dan siswa
3) memudahkan interaksi guru dan siswa atau siswa-siswa
4) memudahkan akses ke sumber lain/alat bantu belajar.
5) memudahkan kegiatan bervariasi.
b. Pengelolaan bahan belajar
Dalam mengelola bahan pelajaran, guru perlu merencanakan tugas dan
alat belajar yang menantang, pemberian umpan balik, dan penyedia program
penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu unjuk
kemampuan/mendemonstrasikan kinerja sebagai hasil belajar. Dalam
pengelolaan bahan pelajaran guru perlu memiliki kemampuan merancang

14
pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga
memungkinkan semua siswa terlibat, baik secara mental maupun fisik.
Menurut Masnur Muslich (2007:57) ada beberapa strategi yang perlu dikuasai
guru dalam pengelolaan bahan pelajaran, yaitu sebagai berikut:
1) menyediakan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir dan
berproduksi.
Salah satu tujuan menagajar adalah mengembangkan potensi siswa
untuk berpikir, maka tujuan mengajar hendaknya adalah mengembangkan
potensi siswa untuk berpikir, maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada
merangsang siswa berpikir. Merangsang siswa berpikir dalam arti
merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya, bukan
mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru. Pertanyaan hendaknya
dirumuskan sedemikian rupa sehingga siswa melakukan kegiatan meramal
(prediksi), mengamati (observasi), menilai diri/karya sendiri (intropeksi), atau
menemukan pola/hubungan.
2) penyediaan umpan balik bermakna
Umpan balik yang bermakna adalah respon atau rekasi guru terhadap
perilaku, proses atau hasil kerja siswa. Umpan balik yang bersifat memvonis
menjadikan siswa tergantung pada guru, sehingga mereka tidak dapat atau
tidak berani memutuskan /menilai sendiri apa yang dilakukannya. Sedangkan
umpan balik yang tidak memvonis siswa, siswa merasa dihargai, dapat
berpikir, dan bertanggungjawab untuk menilai mutu gagasan sendiri.
3) penyediaan program penilaian yang mendorong semua siswa
melakukan unjuk kerja.
Menilai adalah mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar
siswa, tentang apa yang dikuasai dan belum dikuasai siswa. Informasi
tersebut diperlukan agar guru dapat menentukan tugas/kegiatan atau bantuan
apa yang perlu diberikan berikutnya kepada siswa agar pengetahuan,
kemampuan, dan sikap mereka lebih berkembang lagi.
c. Pengelolaan kegiatan dan waktu
Kegiatan pembelajaran yang diterapkan guru perlu disiasati sedemikian

15
rupa sehingga sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Menurut Masnur
Muslich (2007:74) idealnya, kegiatan pembelajaran untuk siswa pandai harus
berbeda dengan siswa yang memiliki kemampuan sedang atau kurang,
walaupun untuk memahami satu jenis konsep yang sama. Dalam pengelolaan
kegiatan pembelajaran, teknik bertanya, penyediaan umpan balik yang
bermakna, penilaian yang mendorong siswa berkinerja juga menentukan
keberhasilan pembelajaran.
Waktu pembelajaran juga perlu dikelola, karena menurut Masnur
Muslich (2007:61) pada rata-rata 10 menit pertama (waktu prima-1) siswa
cenderung dapat mengingat informasi yang diterima. Demikian juga
informasi yang diterima pada rata-rata 10 menit terakhir dari suatu episode
belajar (waktu prima-2), sedangkan informasi diantara itu cenderung
terlupakan. Oleh karena itu, pada menit ditengah siswa harus melakukan
kegiatan langsung.
d. Pengelolaan siswa
Menurut Masnur Muslich (2007:61-62) dalam rangka mengembangkan
kemampuan individual dan sosial, pengaturan siswa dalam belajar hendaknya
berganti-ganti antara belajar secara perorangan, berpasangan dan
berkelompok. Pengaturan ini tenti disesuaikan dengan karakteristik bahan ajar
yang akan dipelajari. Oleh karena itu mereka belajar secara berpasangan
terutama berkelompok, guru harus mendorong tiap siswa untuk berperan serta
dalam kelompok tersebut. Meminta siswa yang tidak aktif untuk memberikan
pendapat terhadap pendapat siswa lain atau melaporkan hasil kerja kelompok,
merupakan contoh cara mendorong siswa tersebut.
e. Pengelolaan sumber belajar
Menurut Masnur Muslich (2007:62) dalam mengelola sumber belajar
sebaiknya guru mempertimbangkan sumber daya yang ada di sekolah dan
melibatkan orang-orang yang ada di dalam system sekolah tersebut.
Pemanfaatan sumber dari lingkungan sekitar diperlukan dalam upaya
menjadikan sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat setempat.
Lingkungan tidak hanya berperan sebagai media belajar, tetapi juga
sebagai objek kajian (sumber belajar) penggunaan lingkungan sebagai sumber

16
belajar akan membuat anak merasa senang dalam belajar. Pemanfaatan
lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati
(dengan seluruh indra), mencatat, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat
tulisan, dan membuat gambar/diagram.
f. Pengelolaan perilaku mengajar
Perasaan tersinggung, terhina, terancam merasa disepelekan,
merupakan contoh perasaan yang akan mengganggu otak siswa. Menurut
Masnur Muslich (2007:63) mengungkapkan hasil penelitian internasional
yang menyatakan bahawa kebutuhan anak mencakup 5 hal, yaitu dipahami,
dihargai, dicintai, merasa bernilai, merasa aman. Sejalan dengan kelima hal
tersebut, Masnur Muslich (2007:63) juga mengungkap beberapa perilaku
guru diantaranya adalah mendengarkan siswa, menghargai siswa,
mengembangkan rasa percaya diri siswa, memberi tantangan, dan
menciptakan suasana tidak takut salah/gagal pada diri siswa.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa dalam melakukan kegiatan
pembelajaran guru harus melakukan kegiatan pengelolaan pembelajaran agar
kegiatan pembelajaran di dalam kelas berjalan dengan baik. Pengelolaan yang
dilakukan guru dalam kegiatan pembelajarannya diantaranya adalah kegiatan
pengelolaan tempat belajar/ruang kelas, pengelolaan bahan pelajaran,
pengelolaan kegiatan dan waktu, pengelolaan siswa, pengelolaan sumber
belajar dan pengelolaan perilaku mengajar.

2.6 Implikasi Diberlakukannya Pendidikan Inklusi


Beberapa implikasi dengan diberlakukannya pendidikan inklusif di
Indonesia saat ini, adalah sebagai berikut.
1. Bagi sekolah luar biasa (SLB) yang telah lama ada di Indonesia,
hendaknya tetap dapat dipertahankan dan dialih fungsikan sebagai
a) Sekolah pusat sumber pengembang pendidikan inklusif. Sekolah ini
dapat berfungsi menjadi sekolah pusat pelatihan dan pusat sumber
tenaga terampil bagi sekolah?sekolah umum dan sebagai penyedia
dukungan profesional bagi sekolah?sekolah umum dalam memenuhi
kebutuhan pendidikan khusus,

17
b) Menjadi sekolah yang menangani peserta didik dengan karakteristik
spesifik dengan memperhatikan metode dan program pembelajaran
individu sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik melalui
pendekatan inklusif.
2. Bagi lembaga-lembaga pemerintah yang memberikan dukungan pelayanan
dalam pendidikan inklusif (seperti Departemen Pendidikan Nasional, dan
Pemerintah Daerah) seyogyanya mampu mengeluarkan kebijakan-
kebijakan sosial seperti meningkatkan integrasi dan partisipasi serta
memerangi eksklusif (keterpisahan). Lebih lanjut diperhatikan tinjauan
khusus untuk merombak bentuk-bentuk lembaga yang khusus dan struktur
administrasi yang dapat memberikan pelayanan langsung berkaitan dengan
pendidikan inklusif.
3. Bagi guru pendidikan luar biasa atau guru khusus dan guru kunjung
hendaknya dapat memfungsikan dirinya sebagai guru sumber, dan guru
metode pembelajaran inklusif. Pada pelaksanaannya guru ini dapat
berkolaborasi dengan guru kelas umum yang bertanggung jawab untuk
membina guru kelas umum dalam upaya meningkatkan strategi dan
kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung pendidikan inklusi bagi anak
berkebutuhan khusus di kelas umum. Guru semacam ini harus mampu
menciptakan berbagai kegiatan yang merupakan upaya membantu guru
kelas dalam memecahkan permasalahan dan mampu bekerja semaksimal
mungkin melakukan kegiatan layanan pembelajaran.
Fungsi guru sumber dan guru metode pembelajaran inklusif antara lain
sebagai:
1) Pengembang perencanaan pembelajaran.
2) Pengembang implementasi.
3) Mitra kerja guru kelas umum yang mampu melakukan assesment dalam
upaya mendeteksi dini saat menentukan kemampuan dan kelemahan
peserta didik serta memberikan layanan perspektif terhadap peserta
didiknya.
4) Tenaga pendidik yang mampu melakukan monitoring program.

18
5) Orang yang mampu melalaikan komunikasi dan hubungan dengan
pihak-pihak lain.
6) Pendidik yang mampu mengajar secara langsung.

2.7 Dasar Hukum yang Mengayomi Pendidikan Inklusi


1. Landasan Spiritual
a. Surat An Nisa ayat 9 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang
yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang
lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Maka
hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar”.
b. Surat Az Zuhruf ayat 32 “Allah telah menentukan diantara manusia
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Allah telah
meninggikan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain beberapa
derajat agar sebagian mereka dapat saling mengambil
manfaat(membutuhkan)”.
c. Surat Abassa ayat 1-6 “Dia (Muhammad) bermuka masam dan
berpaling, Karena Telah datang seorang buta kepadanya, Tahukah
kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), Atau dia
(ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat
kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka
kamu melayaninya.
2. Landasan Yuridis
a. Pernyataan Salamanca tentang pendidikan Inklusi tahun 1994 yang
berbunyi:
1. Kami, para delegasi Konferensi Dunia tentang Pendidikan
Kebutuhan Khusus yang mewakili sembilan puluh dua pemerintah
dan dua puluh lima organisasi internasional, yang berkumpul di sini
Salamanca, Spanyol, dari tanggal 7-10 Juni 1994, dengan ini
menegaskan kembali komitmen kami terhadap Pendidikan Untuk
Semua, mengakui perlunya dan mendesaknya memberikan
pendidikan bagi anak, remaja dan orang dewasa penyandang

19
kebutuhan pendidikan khusus di dalam sistem pendidikan reguler,
dan selanjutnya dengan ini menyetujui Kerangka Aksi mengenai
Pendidikan Kebutuhan Khusus, dengan semangatnya bahwa
ketetapan-ketetapan serta rekomendasi-rekomendasinya diharapkan
akan dijadikan pedoman oleh pemerintah-pemerintah serta
organisasi-organisasi.
2. Kami meyakini dan menyatakan bahwa:
 Setiap anak mempunyai hak mendasar untuk memperoleh
pendidikan, dan harus diberi kesempatan untuk mencapai serta
mempertahankan tingkat pengetahuan yang wajar.
 Setiap anak mempunyai karakteristik, minat, kemampuan dan
kebutuhan belajar yang berbeda-beda Sistem pendidikan
seyogyanya dirancang dan program pendidikan dilaksanakan
dengan memperhatikan keanekaragaman karakteristik dan
kebutuhan tersebut
 Mereka yang menyandang kebutuhan pendidikan khusus harus
memperoleh akses ke sekolah reguler yang harus
mengakomodasi mereka dalam rangka pedagogi yang berpusat
pada diri anak yang dapat memenuhi kebutuhankebutuhan
tersebut
 Sekolah reguler dengan orientasi inklusif tersebut merupakan
alat yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminasi,
menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat
yang inklusif dan mencapai Pendidikan bagi Semua; lebih
jauh, sekolah semacam ini akan memberikan pendidikan yang
lebih efektif kepada mayoritas anak dan meningkatkan
efisiensi dan pada akhirnya akan menurunkan biaya bagi
seluruh sistem pendidikan
3. Kami meminta perhatian semua pemerintah dan mendesak mereka
untuk:
 Memberi prioritas tertinggi pada pengambilan kebijakan dan
penetapan anggaran untuk meningkatkan sistem pendidikannya

20
agar dapat menginklusikan semua anak tanpa memandang
perbedaan-perbedaan ataupun kesulitankesulitan individual
mereka
 Menetapkan prinsip pendidikan inklusif sebagai undangundang
atau kebijakan, sehingga semua anak ditempatkan di sekolah
reguler kecuali bila terdapat alasan yang sangat kuat untuk
melakukan lain
 Mengembangkan proyek percontohan dan mendorong
pertukaran pengalaman dengan negara-negara yang telah
berpengalaman dalam menyelenggarakan sekolah inklusif
 Menetapkan mekanisme partisipasi yang terdesentralisasi
untuk membuat perencanaan, memantau dan mengevaluasi
kondisi pendidikan bagi anak serta orang dewasa penyandang
kebutuhan pendidikan khusus
 Mendorong dan memfasilitasi partisipasi orang tua,
masyarakat dan organisasi para penyandang cacat dalam
perencanaan dan proses pembuatan keputusan yang
menyangkut masalah pendidikan kebutuhan khusus
 Melakukan upaya yang lebih besar dalam merumuskan dan
melaksanakan strategi identifikasi dan penanggulangan dini,
maupun dalam aspek-aspek vokasional dari pendidikan
inklusif
 Demi berlangsungnya perubahan sistemik, menjamin agar
program pendidikan guru, baik pendidikan pradinas maupun
dalam dinas, membahas masalah pendidikan kebutuhan khusus
di sekolah inklusif
4. Kami juga meminta perhatian masyarakat internasional; secara
khusus kami meminta perhatian:
a. Pemerintah-pemerintah yang mempunyai program kerjasama
internasional dan lembaga-lembaga pendanaan internasional,
terutama para sponsor Konferensi Dunia tentang Pendidikan
untuk Semua, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan

21
Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Dana
Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEP), Program
Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dan Bank
Dunia:
- agar mendukung pendekatan pendidikan inklusif serta
mendukung pengembangan pendidikan kebutuhan khusus
sebagai bagian yang integral dari semua program pendidikan;
- Perserikatan Bangsa-Bangsa beserta lembaga-lembaga
Spesialisasinya, terutama Organisasi Buruh Internasional
(ILO), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNESCO dan
UNICEP;
- agar memperkuat masukan-masukannya bagi terjalinnya
kerjasama teknis, serta memperkuat kerjasama dan jaringan
kerjanya agar tercipta dukungan yang lebih efiisien terhadap
penyelenggaraan pendidikan kebutuhan khusus yang lebih luas
dan lebih terintegrasi;
 Organisasi-organisasi non-pemerintah yang terlibat dalam
perencanaan nasional dan penyaluran pelayanan:
- agar memperkuat kerjasamanya dengan badan-badan nasional
pemerintah dan agar mengintensifkan keterlibatannya dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap
penyelenggaraan pendidikan kebutuhan khusus secara inklusif;
 UNESCO, sebagai lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang
menangani pendidikan:
- agar menjamin bahwa pendidikan kebutuhan khusus selalu
merupakan bagian dari setiap diskusi mengenai Pendidikan
untuk Semua dalam berbagai forum
- agar memobilisasi dukungan dari organisasi-organisasi profesi
keguruan dalam hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan
pendidikan guru mengenai penyelenggaraan pendidikan
kebutuhan khusus agar menstimulasi masyarakat akademis
untuk meningkatkan kegiatan penelitian dan jaringan kerja

22
serta membentuk pusat-pusat informasi dan dokumentasi
regional; juga agar berfungsi sebagai pusat penerangan bagi
kegiatan-kegiatan tersebut dan agar menyebarluaskan hasil-
hasil serta kemajuan yang telah dicapai pada tingkat negara
dalam upaya mengimplementasikan deklarasi ini;
- agar memobilisasi dana melalui perluasan program
penyelenggaraan sekolah-sekolah inklusif dan program
dukungan masyarakat dalam rencaana jangka menengah
(1996-2002), yang akan memungkinkan diluncurkannya
proyek perintis guna mempertunjukkan
pendekatanpendekatanbaru dalam upaya penyebarluasan
informasi, serta untuk mengembangkan indikator-indikator
mengenai perlunya pendidikan kebutuhan khusus dan
penyelenggaraannya. (Ditetapkan secara aklamasi, di kota
Salamanca, Spanyol pada tanggal 10 Juni 1994)
b. Menurut UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 pasal 32 tentang
Pendidikan Khusus dan pelayanan khusus, ayat 1 memberikan
batasan bahwa Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi
peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti
proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,mental,
sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa. Teknis layanan pendidikan jenis Pendidikan Khusus
untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang
memiliki kecerdasan luar biasa dapat diselenggarakan secara
inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat
pendidikan dasar dan menengah. Jadi Pendidikan Khusus
hanya ada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Untuk jenjang pendidikan tinggi secara khusus belum tersedia.
c. PP No. 17 Tahun 2010 Pasal 129 ayat (3) menetapkan bahwa
Peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang: a.
tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e.
tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban

23
belajar; i. autis; j. memiliki gangguan motorik; k. menjadi
korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat
adiktif lain; dan l. memiliki kelainan lain.
d. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) setian warga negara
memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu dan ayat (4) menyatakan bahwa warga Negara yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak berhak
memperoleh pendidikan khusu.Layanan ini diberikan agar
potensi yang dimiliki peserta didik tersebut dapat berkembang
seacara optimal dan pada gilirannya dapat memberiakn
kontribusi optimal dalam upayapembangunan bangsa
Indonesia.
e. Menurut pasal 130 (1) PP No. 17 Tahun 2010 Pendidikan
khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan
pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus
dapat dilakukan melalui satuan pendidikan khusus, satuan
pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau
satuan pendidikan keagamaan. Pasal 133 ayat (4)menetapkan
bahwa Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat
dilaksanakan secara terintegrasi antarjenjang pendidikan
dan/atau antarjenis kelainan
f. Permendiknas No 70 tahun 2009
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2009
TENTANG PENDIDIKAN INKLUSIF (PENSIF) BAGI
PESERTA DIDIK YANG
MEMILIKI KELAINAN DAN MEMILIKI POTENSI
KECERDASAN DAN/ATAU
BAKAT ISTIMEWA

24
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Menimbang :
a. Bahwa peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional,
mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa perlu mendapatkan layanan pendidikan yang
sesuai dengan kebutuhan dan hak asasinya;
b. Bahwa pendidikan khusus untuk peserta didik yang memiliki
kelainan dan/atau peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan
secara inklusif;
c. Bahwa berdasarkan prtimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional tentang Pendidikan Inklusif bagi
peserta didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi
Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa;
Mengingat:
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4301);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4496):
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
pembagian urusanPemerintahan antara Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
4. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja
Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah

25
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2008;
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun
2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun
2007;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2009
TENTANG PENDIDIKAN INKLUSIF (Pensif)
BAGI PESERTA DIDIK YANG
MEMILIKI KELAINAN DAN MEMILIKI
POTENSI KECERDASAN DAN/ATAU BAKAT ISTIMEWA
Pasal 1
Dalam Peraturan ini, yang dimaksud dengan pendidikan inklusif
adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan
kesempatan kepada semua pesertadidik yang memiliki kelainan dan
memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk
mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan
pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada
umumnya.
Pasal 2
Pendidikan inklusif bertujuan :
1) memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua
peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuannya;

26
2) mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai
keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta
didik sebagaimana yang dimaksud pada huruf a.

Pasal 3
1) Setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional,
mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif
pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuannya.
2) Peserta didik yang memiliki kelainan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (10terdiri atas :
a. tunanetra;
b. tunarungu;
c. tunawicara;
d. tunagrahita;
e. tunadaksa;
f. tunalaras;
g. berkesulitan belajar;
h. lamban belajar;
i. autis;
j. memiliki gangguan motorik;
k. menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang,
dan zat adiktif lainnya;
l. memiliki kelainan lainnya;
m. tunaganda
Pasal 4
1) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk paling sedikit 1 (satu)
sekolah asar, dan 1 (satu) sekolah menengah pertama pada
setiap kecamatandan 1 (satu) satuan pendidikan menengah
untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib

27
menerima peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (1).
2) Satuan pendidikan selain yang ditunjuk oleh kabupaten/kota
dapat menerima peserta didik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (1).
Pasal 5
1) Penerimaan peserta didik berkelainan dan/atau peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa
pada satuan pendidikan mempertimbangkan sumber daya yang
dimiliki sekolah.
2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1) mengalokasikan
3) kursi peserta didik yang memiliki kelainan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat
a. Paling sedikit 1 (satu) peserta didik dalam 1 (satu)
rombongan belajar yang akan diterima.
b. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan, alokasi peserta
didik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat
terpenuhi, satuan pendidikan dapat menerima peserta didik
normal.
Pasal 6
1) Pemerintah kabupaten/kota menjamin terselenggaranya
pendidikan inklusif sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
2) Pemerintah kabupaten/kota menjamin tersedianya sumber daya
pendidikan inklusif pada satuan pendidikan yang ditunjuk.
3) Pemerintah dan pemerintah provinsi membantu tersedianya
sumber daya pendidikan inklusif.
Pasal 7
Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang
mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai
dengan bakat, minat, dan minatnya.

28
Pasal 8
Pembelajaran pada pendidikan inklusif mempertimbangkan
prinsip-prinsip pembelajaran yang disesuikan dengan karakteristik
belajar peserta didik.

Pasal 9
1) Penilaian hasil belajar bagi peserta didik pendidikan inklusif
mengacu pada jenis kurikulum tingkat satuan pendidikan yang
bersangkutan.
2) Peserta didik yang mengikuti pembelajaran berasarkan
kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan standar nasional
pendidikan atau di atas standar nasional pendidikan wajib
mengikuti ujian nasional.
3) Peserta didik yang memiliki kelainan dan mengikuti
pembelajaran berdasarkan kurikulum yang dikembangkan di
bawah standar pendidikan mengikuti ujian yang
diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
4) Peserta didik yang menyelesaikan dan lulus ujian sesuai
dengan standar nasional pendidikan mendapatkan ijazah yang
blankonya dikeluarkan oleh Pemerintah.
5) Peserta didik yang memiliki kelainan yang menyelesaikan
pendidikan berasarkan kurikulum yang dikembangkan oleh
satuan pendidikan di bawah standar nasional pendidikan
mendapatkan surat tanda tamat belajar yang blankonya
dikeluarkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
6) Peserta didik yang memperoleh surat tanda tamat belajar dapat
melanjutkan pendidikan pada tingkat atau jenjang yang lebih
tinggi pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan
pendidikan inklusif atau satuan pendidikan khusus.
Pasal 10

29
1) Pemerintah kabupaten/kota wajib menyediakan paling sedikit 1
(satu) orang guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan
yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.
2) Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang
tidak ditunjuk oleh pemerintah kabupaten/kota wajib
menyediakan paling sedikit 1 (satu) orang guru pembimbing
khusus.
3) Pemerintah kabupaten/kota wajib meningkatkan kompetensi
di bidang pendidikan khusus bagi pendidik dan tenaga
kependidikan pada satuan pendidikan penyelenggara
pendidikan inklusif.
4) Pemerintah dan pemerintah provinsi membantu dan
menyediakan tenagapembimbing khusus bagi satuan
pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang
memerlukan sesuai dengan kewenangannya.
5) Pemerintah dan pemerintah provinsi membantu meningkatkan
kompetensi dibidang pendidikan khusus bagi pendidik dan
tenaga kependidikan pada satuan pendidikan penyelenggara
pendidikan inklusif.
6) Peningkatan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dan ayat (5) dapat dilakukan melalui:
a. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan (P4TK);
b. Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP);
c. Perguruan tinggi (PT)
d. Lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya di lingkungan
pemerintah daerah,Departemen Pendidikan Nasional
dan/atau Departemen agama;
e. Kelompok Kerja Guru/Kepala Sekolah (KKG, KKS),
Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), MGMP,
MKS, MPS dan sejenisnya.
Pasal 11

30
1) Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif berhak
memperolah bantuan profesional sesuai dengan kebutuhan dari
pemerintah kabupaten/kota.
2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat dapat
memberikan bantuan profesional kepada satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusif.
3) Bantuan profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dapat dilakukan melalui kelompok kerja pendidikan inklusif,
kelompok kerja organisasi profesi, lembaga swadaya
masyarakat, dan lembaga mitra terkait, baik dari dalam negeri
maupun luar negeri.
4) Jenis dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat
berupa:
a. bantuan profesional perencanaan, pelaksanaan, monitoring,
dan evaluasi;
b. bantuan profesional dalam penerimaan, identifikasi dan
asesmen, prevensi, intervensi, kompensatoris dan layanan
advokasi peserta didik.
c. bantuan profesional dalam melakukan modifikasi
kurikulum, program pendidikan individual, pembelajaran,
penilaian, media, dan sumber belajar serta sarana dan
prasarana yang asesibel.
5) Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif dapat
bekerjasama dan membangun jaringan dengan satuan
pendidikan khusus, perguruan tinggi, organisasi profesi,
lembaga rehabilitasi, rumahsakit dan pusat kesehatan
masyarakat, klinik terapi, dunia usaha, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), dan masyarakat.
Pasal 12
Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota
melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan inklusif sesuai
dengan kewenangannya.

31
Pasal 13
Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik dan tenaga
kependidikan pada satuan pendidikan penyelenggara pendidikan
inklusif, satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif,
dan/atau pemerintah daerah yang secara nyata
memiliki komitmen tinggi dan berprestasi dalam penyelenggaraan
pendidikan inklusif.
Pasal 14
Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang terbukti
melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
ini diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan
perundang-undangan.

g. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang standar penilaian


pendidikan. Pasal 1 ayat (1) Penilaian hasil belajar peserta
didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang
berlaku secara nasional. Ayat (2) Standar penilaian pendidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
Lampiran Peraturan Menteri ini. Pasal 2 Peraturan Menteri ini
mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

32