Anda di halaman 1dari 31

Pengertian Accounting Rate of

Return (ARR) dan Cara


Menghitungnya
September 12, 2018 Budi Kho Manajemen Keuangan 0

Pengertian Accounting Rate of Return (ARR) dan Cara Menghitung


ARR – Accounting Rate of Return atau sering disingkat dengan ARR adalah suatu
metode analisis yang mengukur besarnya tingkat keuntungan dari suatu
investasi. Metode Analisis yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Tingkat
Pengembalian Akuntansi ini pada dasarnya adalah mengukur pendapatan atau
laba tahunan yang diharapkan dari hasil suatu investasi. Dengan kata lain, ARR
ini menghitung berapa banyak uang yang akan dikembalikan ke investor dari
suatu investasi.

Dengan perhitungan Accounting Rate of Return atau ARR ini, investor dapat


menganalisis risiko yang terlibat dalam membuat keputusan investasi dan
memutuskan apakah penghasilannya cukup tinggi untuk menerima tingkat risiko
yang akan terjadi.
Baca juga : Pengertian Return on Investment (ROI) dan Cara Menghitungnya.

Rumus ARR (Accounting Rate of Return)


Rumus ARR (Accounting Rate of Return) atau Tingkat Pengembalian Akuntansi ini
dihitung dengan membagi pendapatan dari Investasi dengan biaya Investasi.
Pada umumnya, kedua angka ini adalah angka tahunan atau rata-rata angka
tahunan. Namun kita dapat juga menggunakan angka mingguan atau bulanan
tergantung pada kebutuhan kita. Hasil dari perhitungan ARR ini biasanya
ditampilkan dalam bentuk persentase (%).

ARR = Pendapatan Bersih dari Investasi / Biaya Investasi

atau

ARR = Rata-rata Pendapatan Bersih dari Investasi / Rata-rata Biaya Investasi

Contoh Perhitungan ARR (Accounting Rate of


Return)
Perusahaan PT. AHINGGAZ mendapatkan sebuah proyek yang memerlukan Initial
investment atau biaya investasi sebesar Rp. 500 juta. Proyek ini dapat
menghasilkan Cash Inflow (arus kas masuk) sebesar Rp. 100 juta per tahun
dengan usia ekonomis 10 tahun tanpa nilai residu. Berapakah Accounting Rate of
Return (ARR) proyek tersebut?

Diketahui :

Biaya Investasi : Rp. Rp. 500 Juta


Usia Ekonomis : 10 tahun
Cash Inflow per tahun : Rp. 100 Juta
Depresiasi per tahun : Rp. Rp. 50 Juta (Rp. 500 Juta / 10 Tahun)

Penyelesaian :

ARR = Pendapatan Investasi / Biaya Investasi


ARR = (Rp. 100 Juta – Rp. 50 Juta) / Rp. 500 Juta
ARR = Rp. 50 Juta / Rp. 500 Juta
ARR = 0,1 atau 10%

Jadi Tingkat Pengembalian Akuntansi atau Accounting Rate of Return (ARR) pada


proyek tersebut adalah 10%.

Analisis dan Penilaian ARR (Accounting Rate of


Return)
Pengusaha atau Investor dapat menilai apakah akan melanjutkan investasi atau
membatalkannya dengan keuntungan sebesar 10% tersebut. Pada umumnya,
Pengusaha atau investor dapat membandingkan faktor bunga yang berlaku untuk
mengambil keputusan. Bila dianggap menguntungkan, maka investasi pada
proyek yang bersangkutan akan dilanjutkan. Namun apabila merugikan, maka
rencana investasi tersebut akan dibatalkan.

Selain itu, Pengusaha atau investor juga dapat membandingkan dua atau lebih
proyek dan menilai proyek mana yang paling menguntungkan sehingga dapat
memberikan masukan untuk pemilihan proyek. Dapat dikatakan bahwa semakin
tinggi nilai ARR-nya semakin tinggi pula pengembaliannya (semakin
menguntungkan).
Average Rate of Return (ARR)
Definisi
Tingkat pengembalian investasi yang dihitung dengan mengambil arus kas masuk total
selama kehidupan investasi dan membaginya dengan jumlah tahun dalam
kehidupan investasi. Tingkat pengembalian rata-rata tidak menjamin bahwa arus kas
masuk adalah sama pada tahun tertentu; itu hanya jaminan yang kembali rata-rata
untuk tingkat rata-rata kembali.

average rate of return dapat dihitung dengan


Keuntungan neto tahunan / nilai investasi awal = nett income / initial
investment

Penilaian investasi dengan metode Average Rate of Return didasarkan pada


jumlah keuntungan bersih sesudah pajak.

Fungsi/Rumus AVERAGE RATE OF RETURN ( ARR )   :


           Average Earning After Tax
ARR = ———————————————
     Metode Average Rate of Return

Metode Average Rate of Return


-Metode Payback
-Metode Net Present Value
-Metode Internal Rate of Return
-Metode Profitability Index

-  Metode masa pengembalian investasi


merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu pengembalian investasi
suatu proyek atau usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan kas
bersih yang diperoleh setiap tahun. Nilai kas bersih merupakan
penjumlahan laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan.

-   Metode net present value


NPV adalah selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang dari
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang.
Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan.
 Menghitung selisih nilai sekarang antara kas keluar (investasi) dengan kas
masuk (pendapatan) per tahun.
  
o NPV = -Investasi+ Kas thn1 + Kas thn.2 +… Kas thn. n (1+ i ) 1 (1+ i ) 2
(1+ i ) n
o dimana i adalah suku bunga bank.
o Proyek dinilai layak jika NPV=positif.
o
-  Metode profitability index
PI adalah nilai tunai semua kas masuk yang diterima sesudah investasi
awal dibagi dengan investasi awal.
Nilai tunai penerimaan sesudah investasi awal
PI = Investasi awal

-  Metode internal rate of return


MIRR adalah suatu tingkat diskonto yang menyebabkan persent value
biaya sama dengan present value nilai terminal, dimana nilai terminal
adalah future value dari kas masuk yang digandakan dengan biaya modal.

Nilai terminal S CIFt (1 + k ) n-t


PV Biaya = (1 + MIRR )n (1 + MIRR )n
dimana:          
CIF t : aliran kas masuk pada periode t
MIRR : modified IRR
n : usia proyek
k : biaya modal proyek/tingkat keuntungan diinginkan

Nilai terminal : future value dari aliran kas masuk yang digandakan dengan
biaya modal/return diinginkan.

Kelemahan metode rata-rata kembalian investasi:


1.     Belum memperhitungkan nilai waktu uang.
2.     Menitik beratkan maslah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data
aliran kas dari investasi
3.  Merupakan pendekatan jangka pendek.
ARR yang paling sering digunakan secara internal ketika
memilih proyek.Hal ini juga dapat digunakan untuk mengukur
kinerja proyek dan anak perusahaan dalam sebuah
organisasi.Hal ini jarang digunakan oleh investor,dan tidak
boleh digunakan sama sekali,karena:

1.     Arus kas lebih penting untuk investor,dan ARR didasarkan pada angka-


angka  yang termasuk non-tunai item
2.     ARR tidak memperhitungakan nilai waktu dari uang-nilai arus kas tidak
berkurang dengan waktu sperti halnya NPV dan IRR
3.     Ini tidak menyesuaikan resiko lebih besar untuk perkiraan jangka panjang
4.     Ada alternative yang lebih baik yang tidak signifikan lebih sulit untuk
menghitung
Pengertian Payback Period dan Cara Menghitungnya – Payback Period adalah
periode atau jumlah tahun yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi
yang telah dikeluarkan. Payback Period dalam bahasa Indonesia dapat disebut
juga dengan Periode Pengembalian Modal. Para Investor atau Pengusaha sering
menggunakan Payback Period (PP) atau Periode Pengembalian Modal ini sebagai
penentu dalam mengambil keputusan Investasi yaitu keputusan yang
menentukan apakah akan menginvestasikan modalnya ke suatu proyek atau
tidak. Suatu proyek yang periode pengembaliannya sangat lama tentunya kurang
menarik bagi sebagian besar investor.
Baca juga : Pengertian Time Value of Money (Nilai Waktu Uang).

Pengertian Payback Period menurut para Ahli


Pengertian Payback Period menurut Dian Wijayanto (2012:247) adalah periode
yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash
investment). Berdasarkan definisi dari Abdul Choliq dkk (2004), Payback
Period adalah jangka waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan,
melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu proyek yang telah direncanakan.
Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2004) Payback period adalah suatu
periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi
dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows).
Cara Menghitung Payback Period
Payback Period atau Periode Pengembalian Modal dapat dihitung dengan cara
membagikan nilai investasi (cost of invesment) dengan aliran kas bersih yang
masuk per tahun (annual net cash flow).
Rumus Payback Period
Berikut ini adalah rumus Payback Period (PP) :
Payback Period = Nilai Investasi / Kas Masuk Bersih

Catatan : Rumus ini mengasumsikan bahwa besarnya kas masuk bersih adalah
sama pada setiap periode atau sama pada setiap tahunnya.

Contoh kasus perhitungan Payback Period


Manajemen PT. AAYY sedang mempertimbangkan pembelian mesin produksi
komponen elektronika. Dengan membeli Mesin produksi yang berharga Rp. 250
juta ini, keuntungan atau pendapatan bersih didapat dari penambahan mesin
tersebut adalah sebesar Rp. 70 juta pertahun. Berapakah Payback Period untuk
Mesin Produksi ini?

Penyelesaian

Diketahui :

Nilai Investasi = Rp. 250.000.000,-


Kas Masuk Bersih = Rp. 70.000.000,-
Payback Period = ?
Payback Period = Nilai Investasi / Kas Masuk Bersih
Payback Period = Rp. 250.000.000,-/ Rp. 70.000.000,-
Payback Period = 3,57

Jadi Periode pengembalian modal atau payback period untuk mesin produksi
tersebut adalah selama 3,57 tahun.

(PBP) adalah metode evaluasi kelayakan suatu investasi dengan mencari periode yang


diperlukan untuk mengembalikan jumlah investasi yang telah dikeluarkan berdasarkan arus
kas yang diharapkan dari investasi yang didanai.

Metode ini menghitung net cash flow dari operasi pada suatu periode sehingga diketahui berapa
lama waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dibelanjakan dalam
mendanai suatu proyek investasi.

Langkah-langkah untuk menghitung PBP diuraikan sebagai berikut: (James C. Van Horne, 2007)

1. Akumulasikan arus kas yang terjadi setelah pengeluaran awal dalam kolom “arus masuk
komulatif”
2. Lihatlah kolom “arus masuk komulatif” sampai dengan nilai yang tidak melebihi
pengeluaran awal.
3. Hitunglah proporsional arus kas masuk berikutnya sehingga jumlah komulatif arus masuk
kas sama dengan nilai pengeluaran awal.
4. Menghitung jumlah tahun yang dibutuhkan untuk pengembalian pengeluaran awal
dengan metode interpolasi.
Untuk memperjelas perhatikanlah ilustrasi pada contoh berikut, menghitung PBP untuk data-data
sebagaimana pada tabel berikut ini:

Pada tabel diketahui bahwa jumlah biaya investasi adalah sebesar Rp. 70.000.000,- pada tahun
pertama operasional menghasilkan net cashflow sebesar Rp.15.000.000,- demikian seterusnya
pada tahun kedua Rp. 20.000.000,- tahun ketiga Rp. 30.000.000 tahun keempat Rp. 35.000.000,-
dan tahun kelima Rp. 45.000.000,-. metode PBP menghitung kapankah biaya investasi dapat
dikembalikan dari net cash flow. Dari tabel diatas perhatikan kolom komulatif, pada tahun ketiga
=Rp. - 5.000.000,- dan tahun keempat sebesar Rp. 30.000.000,- berarti PBP berada diantara
tahun ketiga dan tahun keempat, tapi pada bulan keberapa?.

Untuk menghitung PBP digunakan metode interpolasi, persamaan peruntuk menghitung


interpolasi adalah sebagai berikut:

PBP = a + (b/c )

dimana, a = 3, b= 10 c=40t
maka , PBP = 3 + (10/40) = 3,25 tahun atau 3 tahun dan 3 bulan

Metode kedua yang dapat digunakan untuk menghitung PBP adalah sebagai berikut:
Digunakan tabel sebagai pembantu :

Persamaan interpolasi untuk menghitung PBP adalah sebagai berikut:

PBP = a + (b-c)/d

dimana a = 3, b = 70 , c=60 dan d = 40

maka :
PBP = a + (b-c)/d
= 3 + (70-60)/40
= 3 + 10/40
= 3 + 0,25
= 3,25
sehingga PBP = 3,25 tahun atau 3 tahun dan 3 bulan

Keputusan Kelayakan PBP


PBP dari investasi pada kasus ini adalah selama 3 tahun dan 3 bulan atau selama 39 bulan, jika
perusahaan menentukan batas waktu pengembalian investasi lebih dari 39 bulan maka investasi
tersebut adalah layak untuk diterima tetapi jika batas waktu pengembalian investasi kurang dari
39 bulan maka investasi tersebut adalah tidak layak untuk diterima

Pengertian Payback Period


Paycback Period menurut Para Pakar Ekonomi adalah Pengembalian pada sebuah
modal investasi yang telah dikeluarkan melalui keuntungan pada jangka waktu tertentu,
yang diperoleh pada suatu proyek yang telah dibuat.

Ada juga seberapa bagian mengartikan payback period merupakan, suatu periode yang
diperlukan untuk menutupi kembalinya modal pengeluaran yang dilakukan pada sebuah
investasi dengan menggunakan Proceeds atau Aliran Kas Netto.
Pengertian Payback Period Menurut Pakar Ekonomi
1. Pengertian Payback Period menurut Abdul Choliq (2004) adalah Cara untuk
mengembalikan suatu modal yang telah dikluarkan pada sebuah perusahaan dalam
jangka waktu tertentu, dan dilakukan melalui keuntungan yang diperoleh pada proyek
yang telah direncanakan.

2. Pengertian Payback Period menurut Bambang Riyanto (2004) adalah Menutupi


kembali pengeluaran modal pada sebuah investasi pada suatu periode tertentu
menggunakan Proceeds atau Aliran Kas Netto (Net Cash Flows).

3. Pengertian Payback Period menurut Djarwanto Ps (2003) menyatakan bahwa


Payback Period digunakan dalam jangka lama waktu yang diperlukan untuk menutupi
kembali pengeluaran modal pada sebuah investasi (Original Cash Outlay).

Cara Menghitung & Rumus Payback Period


Berikut adalah cara menghitung Payback Period beserta dengan Rumus cara
berhitungnya :

Cara Menghitung Payback Period


Payback Period (Periode Pengembalian Modal) dapat dihitung melalui dengan cara
membagikan nilai investasi (Cost Of Invesment) dengan aliran kas netto yang masuk
per tahun (Annual Net Cash Flow).

Rumus Payback Period


Pada sebuah rumus payback period dibagi menjadi 2 macam, berikut adalah
penjelasannya :

1. Rumus pengembalian aliran kas per tahun jumlahnya tidak sama.

Payback Period = n + (a-b) /(c-b) x 1 Tahun

n : Tahun terakhir jumlah arus kas belum bisa menutupi modal investasi awal.
a : Jumlah investasi awal.
b : Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n
c : Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1

2. Rumus pengembalian aliran kas per tahun jumlahnya sama.

Payback Peiod = (investasi awal) /(arus kas) x 1 tahun

• Periode pengembalian lebih cepat : layak


• Periode pengembalian lebih lama  : tidak layak
• Bila usulan proyek investasi lebih dari satu, maka periode pengembalian yang lebih
cepat akan dipilih.
Contoh Soal Payback Period
Setelah kita membahas rumus-rumus pada paybcak period, berikutnya merupakan
contoh-contoh soal yang bisa kita pelajari sebagai berikut :

Didalam suatu usulan proyek investasi senilai Rp. 600 juta dengan umur ekonomis 5
tahun, dengan syarat periode pengembalian 2 tahun, tingkat bunga 12% per tahun, &
arus kas pertahun adalah :

 Tahun 1 : RP. 300 juta


 Tahun 2 : Rp. 250 juta
 Tahun 3 : Rp. 200 juta
 Tahun 4 : Rp. 150 juta
 Tahun 5 : Rp. 100 juta

Arus kas & arus kas kumulatif :

Penyelesaian :

 
 

Jawaban :

2,25 tahun atau 2 tahun 3 bulan

Jadi jika kesimpulann periode pengembalian tidak sesuai yang disyaratkan oleh
perusahaan, maka usulan proyek investasi ini ditolak.

Contoh Kasus Lainnya :

Suatu usulan sebuah proyek investasi dengan dana Rp. 500 juta (initial investment) &
ditargetkan penerimaan dana investasi (cash flow) berbeda setiap tahun.

Pada tahun ke 1 cash flownya Rp. 250 juta, tahun ke 2 Rp. 200 juta, lalu tahun ke 3 Rp.
150 juta, & tahun ke 4 Rp. 100 juta.

Dimana syarat periode pengembalian investasi 4 tahun, berapakah payback


periodnya ?

Jawaban

Payback Periodnya yaitu :

= 1 + (500jt-250jt) / (450jt-250jt)
= 2,33 juta

atau juga bisa dihitung dengan cara:

Pada tabel tersebut, investasi Rp. 600 juta terletak di cumulative cash flow ke-3.

Payback periodnya yaitu :

= 2 + Rp. 500 juta – Rp. 450 juta / Rp.600 juta – Rp. 450 juta x 1 tahun
= 2,33 tahun atau 2 tahun 4 bulan

Pada soal diatas, pada Payback periodnya kurang dari syarat periode pengembalian
perusahaan, sehingga usulan proyek investasinya diterima.
NPV
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

NPV (Net Present Value) merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah
didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor, atau dengan
kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskonkan
pada saat ini. Untuk menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya
operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan.

Rumus yang digunakan[sunting | sunting sumber]


Arus kas masuk dan keluar yang didiskonkan pada saat ini (present value (PV)). yang dijumlahkan
selama masa hidup dari proyek tersebut dihitung dengan rumus:
dimana:
t - waktu arus kas
i - adalah suku bunga diskonto yang digunakan
 - arus kas bersih (the net cash flow) dalam waktu t
Suku bunga yang dipakai harus sejalan (satuan yang sama) dengan waktu arus
kas. Bila waktu arus kas dalam satuan tahun, maka suku bunga juga dalam periode
satu tahun, demikian pula bila waktunya dalam satuan bulan.

Arti perhitungan NPV[sunting | sunting sumber]


Pada tabel berikut ditunjukkan arti dari perhitungan NPV terhadap
keputusan investasi yang akan dilakukan.

Bila... Berarti... Maka...

investasi yang dilakukan


NPV >
memberikan manfaat bagi proyek bisa dijalankan
0
perusahaan

investasi yang dilakukan akan


NPV <
mengakibatkan kerugian bagi proyek ditolak
0
perusahaan

Kalau proyek dilaksanakan atau tidak dilaksanakan tidak


investasi yang dilakukan tidak
NPV = berpengaruh pada keuangan perusahaan. Keputusan harus
mengakibatkan perusahaan
0 ditetapkan dengan menggunakan kriteria lain misalnya dampak
untung ataupun merugi
investasi terhadap positioning perusahaan.

Lihat pula
Pengertian NPV dan Rumus NPV
(Net Present Value)
April 23, 2018 Budi Kho Manajemen Keuangan 0

Pengertian NPV dan Rumus NPV (Net Present Value) – Net Present Value atau
sering disingkat dengan NPV adalah selisih antara nilai sekarang dari arus kas
yang masuk dengan nilai sekarang dari arus kas yang keluar pada periode waktu
tertentu. NPV atau Net Present Value ini mengestimasikan nilai sekarang pada
suatu proyek, aset ataupun investasi berdasarkan arus kas masuk yang
diharapkan pada masa depan dan arus kas keluar yang disesuaikan dengan suku
bunga dan harga pembelian awal. Net Pressent Value menggunakan harga
pembelian awal dan nilai waktu uang (time value of money) untuk menghitung
nilai suatu aset. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa NPV adalah Nilai
Sekarang dari Aset yang dikurangi dengan harga pembelian awal.
Baca juga : Pengertian Time Value of Money (Nilai Waktu Uang) dan Cara
Menghitungnya.
NPV atau Net Present Value ini banyak digunakan dalam penganggaran modal
untuk menganalisa profitabilitas dari sebuah proyek ataupun proyeksi investasi.
Para pemilik modal ataupun manajemen perusahaan dapat menggunakan
perhitungan NPV ini untuk mengevaluasi apakah akan berinvestasi atau tidak
berinvestasi pada suatu proyek baru ataupun investasi pada pembelian aset
baru. Dalam bahasa Indonesia, Net Present Value atau NPV ini disebut juga
dengan “Nilai Bersih Sekarang” atau “Nilai Bersih Saat Ini”.

Pengertian NPV (Net Present Value) menurut


para Ahli
Berikut ini adalah beberapa definisi dan pengertian NPV menurut para ahli :

Pengertian NPV (Net Present Value) menurut Dr. Sobarsa Kosasih dalam buku


Manajemen Operasi (2009:99), NPV adalah Kelebihan Present Value (PV) dari cash
inflow yang dihasilkan oleh suatu proyek atas sejumlah investasi awal.
Pengertian NPV (Net Present Value) menurut Dian Wijayanto dalam buku
Pengantar Manajemen (2012:246),  Net Present Value (NPV) merupakan kombinasi
antara present value penerimaan dan present value pengeluaran.
Pengertian NPV (Net Present Value) menurut R. Agus Sartono (2010:195), Net
Present Value adalah Selisih antara present value aliran kas bersih atau sering disebut
juga dengan procceed dengan present value Investasi.
Pengertian NPV (Net Present Value) menurut Syafaruddin Alwi (2001,163), Net
Present Value merupakan model yang memperhitungkan pola cash flows keseluruhan
dari suatu investasi, dalam kaitannya dengan waktu, berdasarkan Discount Rate
tertentu.

Cara Menghitung NPV (Net Present Value)


Net Present Value adalah rumus yang digunakan untuk menentukan nilai
sekarang dari investasi dengan jumlah diskon dari semua arus kas yang diterima
dari proyek. Berikut ini adalah Rumus NPV dan juga contoh kasusnya.

Rumus NPV (Net Present Value)

Rumus NPV ini cukup rumit karena menambahkan semua arus kas masa depan
dari investasi, mendiskon arus kas tersebut dengan tingkat diskonto dan
menguranginya dengan Investasi awal. Persamaan dan Rumus Net Present Value
(NPV) ini dapat dilihat dibawah ini :

NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + … + (Ct/(1+r)t) – C0


atau

Dimana :

NPV = Net Present Value (dalam Rupiah)


Ct = Arus Kas per Tahun pada Periode t
C0 = Nilai Investasi awal pada tahun ke 0 (dalam Rupiah)
r = Suku Bunga atau discount Rate (dalam %)

Selain rumus NPV diatas, kita juga dapat menggunakan tabel PVIFA (Present
Value Interest Factor for an Annuity) kemudian masukan hasilnya ke persamaan
atau rumus NPV dibawah ini :
NPV = (Ct x PVIFA(r)(t)) – C0

Tabel FVIFA dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Contoh Kasus Perhitungan NPV (Net Present Value)

Manjemen Perusahaan AAZZ ingin membeli mesin produksi untuk meningkatkan


jumlah produksi produknya. Harga Mesin produksi yang baru tersebut adalah
sebesar Rp. 150 juta dengan suku bunga pinjaman sebesar 12% per tahun. Arus
Kas yang masuk diestimasikan sekitar Rp. 50 juta per tahun selama 5 tahun.
Apakah rencana investasi pembelian mesin produksi ini dapat dilanjutkan?

Penyelesaiannya :
Diketahui :

Ct = Rp. 50 juta
C0 = Rp. 150 juta
r = 12% (0,12)

Jawaban :
NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + (C3/(1+r)4) + (Ct/(1+r)t) – C0
NPV = ((50/1+0,12) + (50/1+0,12)2 + (50/1+0,12)3 + (50/1+0,12)4 + (50/1+0,12)5) –
150
NPV = (44,64 + 39,86 + 35,59 + 31,78 + 28,37) – 150
NPV = 180,24 – 150
NPV = 30,24
Jadi nilai NPV-nya adalah sebesar Rp. 30,24 juta.
Menggunakan Tabel PVIFA

Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa NPV juga dapat dihitung dengan
mengggunakan tabel PVIFA. Jika kita memiliki tabel PVIFA ini, perhitungan NPV
menjadi lebih mudah dan cepat.

Berdasarkan tabel PVIFA, angka yang didapat dari suku bunga 12% (r) dan
periode 5 tahun (t) adalah sebesar 3.6048. Angka tersebut dimasukan ke rumus
NPV dibawah ini :

NPV = (Ct x PVIFA(r)(t)) – C0


NPV = (50 x PVIFA(12%)(5)) – C0
NPV = (50 x 3,6048) – 150
NPV = 180,24 – 150
NPV = 30,24
Hasilnya juga sama dengan nilai NPV yang didapat dari rumus NPV pertama yaitu
se30,24 atau Rp. 30,24 juta.

Analisis dan Penilaian NPV (Net Present Value)


Dari hasil perhitungan contoh soal kita diatas, nilai bersih saat ini atau nilai Net
Present Value (NPV) adalah Positif dengan nilai sebesar Rp. 30,24 juta. Ini berarti
Mesin Produksi yang bersangkutan dapat menghasilkan sekitar Rp. 30,24 juta
setelah melunasi biaya pembelian mesin dan juga biaya bunga. Sesuai dengan
perhitungan tersebut, maka dapat diputuskan bahwa rencana investasi
pembelian mesin produksi baru dapat dilanjutkan.

Nilai NPV yang positif (NPV > 0) menunjukan bahwa penerimaan lebih besar
dibandingkan dengan nilai yang diinvestasikan sedangkan nilai NPV negatif (NPV
< 0) menandakan penerimaan lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran atau
akan mengalami kerugian pada investasinya setelah mempertimbangkan Nilai
Waktu Uang (Time Value of Money). Namun apabila hasil perhitungan NPV adalah
Nol (NPV = 0), maka artinya investasi atau pembelian tersebut hanya balik modal
(tidak untung dan tidak rugi).

Dan tentunya, Semakin besar angka positifnya, semakin besar pula penerimaan
yang bisa didapatkannya. Oleh karena itu, perhitungan NPV ini tidak saja
digunakan untuk mengevaluasi layak atau tidaknya untuk berinvestasi, namun
juga digunakan untuk membandingkan investasi mana yang lebih baik jika
terdapat dua pilihan investasi atau lebih.

Perlu diketahui juga, meskipun perhitungan NPV ini merupakan alat yang sangat
bagus untuk membuat keputusan dalam berinvestasi, namun tidak selalu akurat.
Hal ini dikarenakan persamaannya bergantung pada banyak perkiraan dan
asumsi yang sangat sulit untuk benar-benar akurat. Seperti pada contoh kasus
diatas, manajemen perusahaan AAZZ tidak tahu dengan pasti apakah mesin
tersebut akan menghasilkan Rp. 50 juta per tahunnya (karena hanya perkiraan
atau asumsi) dan mungkin juga tingkat bunga akan berubah seiring dengan
perkembangan pasar, terkecuali terdapat perjanjian yang pasti dengan pihak
kreditur. Satu-satunya yang diketahui oleh manajemen perusahaan adalah biaya
yang dikeluarkan untuk membeli mesin produksi tersebut pada saat ini.
IRR berasal dari bahasa Inggris Internal Rate of Return disingkat IRR yang merupakan indikator
tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila laju
pengembaliannya (rate of return) lebih besar daripada laju pengembalian apabila melakukan
investasi di tempat lain (bunga deposito bank, reksadana dan lain-lain).

Daftar isi

 1Penggunaan

 2Cara perhitungan IRR

o 2.1Contoh

o 2.2Perhitungan IRR praktis

 3Lihat pula

 4Referensi

Penggunaan[sunting | sunting sumber]
IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak, untuk itu biasanya
digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari Minimum acceptable rate
of return atau Minimum atractive rate of return. Minimum acceptable rate of return adalah laju
pengembalian minimum dari suatu investasi yang berani dilakukan oleh seorang investor.

Cara perhitungan IRR[sunting | sunting sumber]

Posisi IRR ditunjukkan pada grafik  ( dengan label 'i' pada grafik)

IRR [1] merupakan suku bunga yang akan menyamakan jumlah nilai sekarang dari penerimaan yang
diharapkan diterima (present value of future proceed) dengan jumlah nilai sekarang dari
pengeluaran untuk investasi.
Besarnya nilai sekarang dihitung dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:
Contoh[sunting | sunting sumber]
Bila suatu investasi mempunyai arus kas sebagaimana
ditunjukkan dalam tabel berikut
Tahun () Arus kas ()
Kemudian IRR  dihitung dari
0 -4000 .
Dalam kasus ini hasilnya adalah 14.3%.
1 1200
Perhitungan IRR praktis[sunting | sunting
2 1410
sumber]
3 1875 Untuk mempermudah perhitungan IRR, yaitu dengan mencoba
suku bunga yang diperkirakan akan memberikan nilai NPV positif
4 1050 misalnya 10 % yang akan memberikan NPV sebesar 382 dan
dilanjutkan dengan perhitungan NPV yang negatif, Misalnya
pada 20 % akan memberikan NPV sebesar -429. Dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
atau disederhanakan
dari data di atas akan diperoleh IRR Sebesar 14,71 %, angka ini sedikit berbeda dari hasil hitungan
di atas karena merupakan perhitungan empiris, angka ini bisa diperbaiki kalau rentang bunga tinggi
dengan bunga rendah lebih kecil.

Internal Rate of Return (IRR)


Internal  Rate of  Return (IRR) adalah metode peerhitungan investasi dengan menghitung
tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang dari
penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa datang.

rumus:
IRR = lower discount rate + (NPV at lower % rate / distance between 2 NPV) * (Higher %
rate - Lower % rate)

Contoh 1:
Sebuah proyek ini diharapkan memiliki Net Present Value dari $ 865 pada tingkat
diskonto 20% dan NPV negatif dari $ 1.040 pada tingkat diskonto 22%. Hitung IRR.

Penyelesaian:
Jarak antara 2 NPV = 865 + 1040 = $ 1.905
IRR = + 20% (865 / 1905) * (22% - 20%) = 20,91%

Contoh 2:
Informasi berikut berhubungan dengan proyek investasi Venture Ltd:
Net Present Value (NPV) dengan biaya 25% dari modal: $ 1.714
NPV pada biaya 30% dari modal: ($ 2937)
Hitung Internal Rate of Return.

Penyelesaian:
Jarak antara 2 NPV = 1714 + 2937 = $ 4.651
IRR = + 25% (1714 / 4651) * (30% - 25%) = 26,84%

Jika IRR lebih besar dari biaya modal, terima proyek tersebut.


Jika IRR kurang dari biaya modal, tolak proyek tersebut.

Kelebihan :

·         Memperhatikan nilai waktu dari uang

·         Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan

·         Hasilnya dalam persentase, sehingga pengambilan keputusan dapat membuat perkiraan


bila r (discount rate) sulit diketahui.

      Kekurangan:

·         Perhitungan lebih sulit bila tidak menggunakan komputer, karena harus dicoba-coba (trial
and error).

·         Tidak membedakan proyek yang mempunyai perbedaan ukuran dan keadaan investasi.
Dapat menghasilkan IRR ganda atau  tidak menghasilkan IRR sama sekali.
Di dalam kehidupan kita, banyak hal yang memiliki dampak yang memberi manfaat sekaligus
dampak yang memerlukan pengorbanan, misalnya saja pembangunan Light Rapid Transit (LRT) di
Palembang.

Nilai benefit yang diperkirakan akan timbul setelah LRT selesai dibangun adalah, perjalanan di
Palembang jadi bebas macet, Palembang menjadi kota pertama yang memiliki LRT di Indonesia
selain Jakarta yang dapat menarik pihak luar untuk berinvestasi. Waktu tempuh dari tempat satu ke
tempat lainnya juga menjadi semakin singkat karena bebas dari persimpangan lampu merah, serta
benefit-benefit lainnya.

Namun di sisi yang lain, pembangunan LRT juga membutuhkan pengorbanan. Misalnya saja banjir
yang terjadi di jalan protokol karena sistem drainase yang terganggu oleh pembangunan, atau
pengorbanan pengendara jalan karena selama pembangunan LRT terjadi kemacetan di jalan-jalan
utama, dan terjadi kerugian seperti kendaraan yang terkena benda yang jatuh dari atas
pembangunan LRT dan lain sebagainya.

Lalu bila memiliki sejumlah dampak pengorbanan, mengapa LRT ini masih dibangun oleh
pemerintah?

Jawabannya tentu saja karena benefit adanya LRT dimasa yang akan datang diperkirakan akan
lebih banyak daripada kerugian yang muncul. Apakah bisa kita menyimpulkan hal semacam ini?
Tentu saja bisa, karena hal tersebut dapat dihitung secara ilmiah menggunakan salah satu alat
evaluasi kelayakan investasi yang bernama Benefit Cost Ratio.

Benefit Cost Ratio

Secara teoritis, benefit Cost Ratio merupakan sebuah perbandingan antara semua nilai benefit
terhadap semua nilai pengorbanan atau biaya. Secara matematis, dapat dituliskan melalui
persamaan sebagai berikut :

BCR = (Present Value dari Manfaat / Present Value dari Pengorbanan atau


biaya)

Nilai sekarang atau present value adalah berapa nilai uang saat ini untuk nilai tertentu di masa yang
akan datang. Sebagai gambaran adalah jika anda ingin memiliki uang sebesar 100 juta tiga tahun
mendatang dengan tingkat inflasi 7% per tahun, maka berapa uang yang harus anda persiapkan
dari sekarang?

Dengan menggunakan rumus present value, anda akan dapat menentukan berapa uang yang harus
anda tabung untuk mendapatkan uang sebesar Rp.100 juta tiga tahun ke depan.

Nilai present value ini dapat kita hitung menggunakan persamaan sebagai berikut :

PV = Fn/ ( 1 + r ) n
Dimana :

Fn = Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )


PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Jumlah Waktu ( tahun )

Sedangkan pengambilan keputusan terhadap kelayakan dapat dilihat dari nilai BCR yang ditentukan
sebagai berikut :

 Jika BCR ≥ 1, maka dikatakan bahwa benefit dari proyek tersebut lebih besar daripada
pengorbanan yang dikeluarkan. Sehingga proyek tersebut dapat diterima atau layak
(feasible).
 Sebaliknya jika BCR <1 maka dikatakan bahwa benefit dari proyek tersebut lebih kecil
daripada pengorbanannya atau proyek tersebut tidak layak (not feasible).

Contoh Kasus :

Sebuah klinik sedang mempertimbangkan untuk membeli beberapa peralatan medis baru dengan
harga Rp.25.000.000. Dengan adanya peralatan medis tersebut diperkirakan klinik tersebut dapat
melakukan penghematan sebesar Rp.500.000 per tahun dengan jangka waktu selama 5 tahun.
Pada akhir tahun ke 5 peralatan tersebut memiliki nilai jual sebesar 40.000.000. Dengan tingkat
pengembalian investasi sebesar 9% per tahun apakah pembelian peralatan medis akan
menguntungkan bagi klinik tersebut ataukah tidak?

Perhitungan :

Melalui persamaan berikut maka akan dapat kita input nilai-nilainya menjadi :

BCR = (Present Value dari Manfaat / Present Value dari Pengorbanan atau biaya)
= (500.000 (P/A, 9%,5) + 40.000.000 (P/F,9%,5) / 25.000.000
=((500.000(3,88966) + 40.000.000(0,64993))/25.000.000
BCR =1,17

Karena nilai BCR yang dihasilkan nilainya lebih dari 1 maka investasi pembelian peralatan medis
baru tersebut dianggap layak dan menguntungkan bagi klinik di masa yang akan datang. Jika
demikian, maka disimpulkan bahwa klinik dapat membeli peralatan medis tersebut.

Contoh lainnya :

Sebuah perusahaan ingin merenovasi bangunan apartemen yang mereka miliki dengan profit
tahunan yang mereka harapkan sebesar $100.000 selama tiga tahun ke depan. Saat ini mereka
mengeluarkan dana $50.000 untuk menyewa peralatan. Jika tingkat inflasi adalah 2% maka apakah
gedung tersebut layak untuk direnovasi?

Penyelesaian :
Pertama kita perhitungkan dulu nilai Present Value sebagai berikut :
= ($100,000 / (1 + 0.02)^1) + ($100,000 / (1 + 0.02)^2) + ($100,00 / (1 + 0.02)^3)
= $288,388
Sedangkan BCR = $288,388/$50,000
= 5,77

Karena nilai BCR memiliki angka 5,77 yang nilainya lebih besar dari 1 maka kegiatan perusahaan
untuk merenovasi apartemen dianggap dapat memberikan keuntungan di masa yang akan datang
sehingga proyek ini layak untuk dijalankan

BENEFIT COST RATIO


SEKILAS

Benefit Cost Ratio merupakan salah satu alat evaluasi kelayakan investasi. Pada
pokok bahasan ini akan dijelaskan cara perhitungan dan hasil akhirnya apakah
layak atau tidak.

PEMBAHASAN

Benefit Cost Ratio merupakan salah satu metode kelayakan investasi. Pada
dasarnya perhitungan metode kelayakan investasi ini lebih menekankan kepada
benefit (manfaat) dan perngorbanan (biaya/ cost) suatu invetasi, bisa berupa usaha,
atau proyek. Pada umumnya jenis invetasi yang sering digunakan adalah proyek-
proyek pemerintah dimana benefitnya jenis benefit langsung, manfaatnya akan
terasa langsung pada masyarakat banyak.

Sebagai contoh dari proyek pemerintah adalah proyek pembangunan jalan


tol Pasupati. Nilai benefit atau manfaat yang bisa didapatkan dari proyek tersebut
misalnya efisiensi waktu tempuh antara Jakarta-Bandung, kenyamanan berkendara
karena jalan yang dipakai dibuat senyaman mungkin dan peningkatan produktivitas
lahan tersebut. Namun tidak hanya mendatangkan manfaat saja, investasi juga
mendatangkan pengorbanan yang digolongkan kedalam cost. Jadi suatu invetasi
atau proyek tidak bisa terlepas dari benerfit dan cost.

Benefit cost ratio analysis secara matematis merupakan perbandingan nilai


ekuivalen semua benefit terhadap nilai ekuivalen semua biaya. Perhitungan
ekuivalensi bisa menggunakan salah satu dari beberapa analisis. Contohnya :

 B/C=  PWbenefit/(PW cost)=  FWbenefit/FWcost=AWbenefit/AWcost


Untuk kriteria pengambilan keputusan untuk alternatif tunggal adalah dengan cara
melihat nilai dari B/C apakah besar dari sama dengan satu atau kecil dari satu.

-Jika B/C ≥ 1 , maka alternatif investasi atau proyek layak (feasible), diterima

-Jika B/C < 1 , maka alternatif investasi atau proyek tidak layak (not feasible)

Contoh alternatif tunggal :

Sebuah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk membeli peralatan baru


seharga Rp.35.000.000. Dengan peralatan baru itu bisa dilakukan penghematan
sebesar Rp.500.000 per tahun selama 5 tahun. Pada akhir tahun ke 5 peralatan itu
memiliki nilai jual sebesar 40.000.000. apabila tingkat pengembalian 9% per tahun.
Apakah pembelian peralatan baru tersebut menguntungkan?

Penyelesaian :

Dengan menggunakan pendekatan present worth maka semua biaya dan benefit
ditarik ke present

  
B/C=  (500.000 (P/A,9%,5)+40.000.000 (P/F,9 %,5))/35.000.000

B/C=  (500.000 (3,88966)+40.000.000 (0,64993))/35.000.000

B/C= 0,79 

karena kurang dari 1 maka investasi pembelian peralatan baru tidak layak atau
tidak menguntungkan.

Alternatif Majemuk
Analisis Benefit Cost Ratio banyak  merupakan alternatif yang jumlahnya lebih dari
satu. Untuk menghitung analisis alternatif banyak maka harus dilakukan secara
inkremental seperti pada rate of return. Kriteria pengembalian keputusan
berdasarkan nilai B/C yang diperoleh. Jika dari 2 alternatif  yang dibandingkan
diperoleh nilai B/C ≥1 , maka alternatif dengan biaya yang lebih besarlah yang
dipilih. Namun jika dari dua alternatif yang dibandingkan diperoleh nilai B/C<1,
maka alternatif dengan biaya yang lebih kecil yang dipilih

Contoh :

Sebuah perusahaan akan membeli sebuah mesin untuk  meningkatkan


pendapatannya. Dual alternatif mesin dengan usia pakai masing-masing sama yaitu
10 tahun ditawarkan kepada perusahaan :

Mesin Harga beli Keuntungan  per Nilai sisa di akhir


tahun usia pakai (Rp)

X 3.000.000 700.000 1.000.000

Y 3.500.000 800.000 1.500.000

Dengan MARR 15% per tahun, tentukan mesin yang harus dibeli

Penyelesaian :
urutan alternatif : Do Nothing (DN), Mesin X, Mesin Y

membandingkan DN dengan mesin X

Tahun DN (1) Mesin X (2) Inkremental

(3)=(2) – (1)

0 0 -3.000.000 -3.000.000

1-9 0     700.000     700.000

10 0 1.700.000 1.700.000
 B/C=  (700.000 (P/A,15%,10)+1.000.000 (P/F,15%,10))/3.000.000

B/C=  (700.000 (5,01877)+1.000.000 (0,24718))/3.000.000

B/C= 1,25  , Nilai B/C ≥ 1, pembelian X layak dilakukan

Membandingkan mesin X dan mesin Y :

Tahun Mesin X (1) Mesin Y (2) Inkremental

(3)=(2) – (1)

0 -3.000.000 -3.500.000     500.000

1-9     700.000 800.000     100.000

10 1.700.000 2.300.000 600.000

*1,7 juta dan 2,3 juta merupakan penjumlahan annual benefit dengan salvage value

 B/C=  (100.000 (P/A,15%,10)+500.000 (P/F,15%,10))/500.000

B/C=  (100.000 (5,01877)+500.000 (0,24718))/500.000

B/C= 1,24  , 

  

Nilai B/C ≥ 1, pembelian Y layak dilakukan, namun sebelum itu, untuk kasus dengan
banyak alternatif  yang bertipikal mutually exclusive, maka jika 2 alternatif
menghasilkan Nilai B/C ≥ 1, maka lihat cost yang paling tinggi. Maka dengan
perhitungan B/C dan nilai cost yang tinggi, alternatif jatuh pada alternatif Y.
Contoh soal berbeda alternatif, dengan berbeda usia pakai.

Sebuah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengganti mesin lama


dengan mesin baru. Tiga buah alternatif tersedia dengan data sebagai berikut :

A B C

Investasi awal 6.000.000 12.000.000 15.000.000


(Rp.)

Keuntungan/tah     700.000 1.000.000     1.200.000


un

Usia pakai 10 20 20
(tahun)

Mesin baru yang akan dibeli direncanakan untuk digunakan selama 20 tahun. Oleh
karena usia pakai mesin A hanya 10 tahun, maka pada akhir tahun ke-10, mesin itu
dapat digunakan dengan mesin lain dengan konsekuensi ekonomi yang sama.
Setiap alternatif tidak memiliki nilai sisa. Tentukan mesin mana yang layak dibeli
jika menggunakan MARR 6%  per tahun

Penyelesaian

Urutan alternatif : DN,A,B,C

àmembandingkan DN dengan mesin A :

Tahun DN (1) Mesin A (2) Inkremental

(3)=(2) – (1)

0 0 -6.000.000     -6.000.000

1-9 0 700.000     700.000

10 0 -6.000.000 -6.000.000

0 700.000 700.000

11-20 0 700.000 700.000


B/C=  (700.000 (P/A,6%,20))/(6.000.000+6.000.000(P/F,6%,10))

B/C=  (700.000 (11,46992))/(6.000.000+6.000.000(0,55839))

B/C=  8.028.944/9.350.340=0,85 Nilai   B/C< 1,pembelian A tidak layak dilakukan. 

Sehingga perhitungan B/C yang dibandingkan adalah alternatif DN, dengan B

àmembandingkan DN dengan mesin B :

Tahun DN (1) Mesin B (2) Inkremental

(3)=(2) – (1)

0 0 -12.000.000    
-12.000.000

1-20 0 1.000.000     1.000.000

B/C=  (1.00.000 (P/A,6%,20))/12.000.000

B/C=  (1.000.000 (11,46992))/12.000.000

B/C=  11.469.920/12.000.000=0,95 Nilai   B/C< 1,pembelian B tidak layak dilakukan. 

Dari 2 perhitungan B/C diatas masing-masing menghasilkan nilai yang kurang dari
satu, maka apabila hal ini terjadi, lihat alternatif yang memiliki  cost terkecil.
Alternatif DN masing unggul, sehingga alternatif perhitungan selanjutnya adalah DN
dengan alternatif C.

àmembandingkan DN dengan mesin C :

Tahun DN (1) Mesin C (2) Inkremental

(3)=(2) – (1)

0 0 -15.000.000    
-15.000.000

1-20 0 1.200.000     1.200.000

B/C=  (1.20.000 (P/A,6%,20))/15.000.000

B/C=  (1.200.000 (11,46992))/15.000.000

B/C=  13.763.904/15.000.000=0,91 Nilai   B/C< 1,pembelian C tidak layak dilakukan.

Maka kesimpulanya, diantara 3 alternatif A,B,C tidak ada yang layak atau
menguntungkan, sehingga, dengan tidak mengambil ketiga alternatif tersebut
merupakan jalan yang terbaik (Do Nothing)

Anda mungkin juga menyukai