Anda di halaman 1dari 27

PRINSIP PERKEMBANGAN KARIR BIDAN

DAN KONSEP DASAR PERUBAHAN


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Konsep Kebidanan

Dosen Pengampu : Retno D, M.keb

Disusun oleh: Kelompok 11

Latifah Indah Rahma P17324417020

Ratna juwita P17324417031

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK


INDONESIA BANDUNG

PRODI KEBIDANAN KARAWANG 2017


Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
kasih karunia-Nya makalah ini dapat diselesaikan dengan lancar untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah konsep kebidanan. Makalah ini membahas mengenai
“Prinsip Perkembangan Karir Bidan dan Konsep Dasar Perubahan”.

Kami mengucapkan terimakasih kepada ibu Retno D,M.Keb selaku dosen


pengampu,mata kuliah ats segala bimbingan, saran dan kritik yang membangun
selama ini. kami pun mengucapkan terimakasih bagi kedua orang tua yang selalu
mendukung dalam setiap hal positif dan bagi semua pihak yang telah turut terlibat
hingga terselesainya makalah ini.

Kami menyadari masih begitu banyak kekurangan dalam makalah ini.


segala kritik dan saran yang membangun selalu penulis harapkan dengan tangan
terbuka demi perbaikan selanjutnya.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat di gunakan sebagaimana mestinya


dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Karawang, 07 September 2017

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 LatarBelakang...........................................................................................1
Rumusan Masalah................................................................................................2
Tujuan Pembahasan..............................................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
PEMBAHASAN......................................................................................................3
2.1 Pengembangan Karir Bidan............................................................................3
2.2 Konsep Dasar Perubahan..............................................................................13
BAB III..................................................................................................................25
PENUTUP..............................................................................................................25
Simpulan.............................................................................................................25
Saran...................................................................................................................25
Daftar Pustaka........................................................................................................26

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Seiring perubahan dan perkembangan zaman yang terus menuntut adanya
pelayanan kesehatan yang semakin maju dan penemuan-penemuan baru yang
sangat mempengaruhi pola pikir manusia yang ingin terus mengembangkan dan
memajukan kualitas pelayanan kesehatan. Tuntutan itulah yang menjadi suatu
pemicu untuk lebih mengembangkan karir seorang bidan dalam memberikan
asuhan. Hal ini sangat berguna untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak,
serta dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) yang tinggi masih menjadi salah satu masalah yang
serius di Indonesia.

Bidan sebagai subsistem Sumber Daya Manusia menjadi salah satu ujung
tombak yang berperan langsung pada penurunan AKI/AKB. Untuk memenuhi hal
tersebut diperlukan bidan yang menguasai kompetensi. Sementara itu kebanyakan
bidan masih belum memenuhi syarat tersebut karena latar belakang tingkat
pendidikan yang berbeda-beda, kualitas lulusan yang minimal, dan sikap
profesionalisme yang kurang. Untuk memenuhi standar kompetensi itu maka
diperlukan lulusan bidan yang berkualitas dan memiliki sikap profesionalisme
yang tinggi. Selain itu dalam menghadapi era globalisasi ini, bidan juga dituntut
untuk selalu memperbaharui pengetahunnya melalui jalur pengembangan karir
bidan. Pengembangan karir bidan ini dapat ditempuh melalui jalur pendidikan
formal maupun dengan mengikuti seminar dan lokakarya. Pengembangan karir ini
sangat penting mengingat masih banyaknya keterbatasan yang dimiliki bidan,
seperti keterbatasan komunikasi, penguasan bahasa asing, dan penguasaan IPTEK.

Pemenuhan tanggung jawab seorang bidan yaitu sesuai Standar Pelayanan


Kebidanan (SPK) dan kewenangan bidan pada Kepmenkes 900/2002 yang disertai
tingkat pendidikan bidan yang lebih tinggi untuk meningkatkan mutu pelayanan
dan kualitas bidan tersebut.

1
Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Pengembangan Karir bidan berdasarkan dengan
sejarah perkembangan pelayanan kebidanan, pendidikan, dan
pengembangan jabatan profesional bidan.

1.2.2 Apa itu konsep berubah, dan strategi prinsip berubah.

Tujuan Pembahasan
1.2.3 Menjelaskan Pengembangan Karir bidan berdasarkan
dengan sejarah perkembangan pelayanan kebidanan,
pendidikan, dan pengembangan jabatan profesional bidan.
1.2.4 Mampu menjelaskan konsep berubah, dan strategi prinsip
berubah.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengembangan Karir Bidan

2.1.1 Deskripsi Singkat


Pengembangan karir bidan adalah perjalanan pekerjaan seseorang dalam
organisasi sejak di terima dan berkahir pada saat tidak lagi bekerja di organisasi
tersebut.

2.1.2 Pengembangan Karir Bidan


Dalam mengantisipasi tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin
bermutu terhadap pelayanan kebidanan, perubahan-perubahan yang cepat dalam
pemerintahan maupun dalam masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) serta persaingan yang ketat di era global ini di perlukan
tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan yang berkualitas, baik di tingkat
pengetahuan, keterampilan,dan sikap profesionalismenya.

Ikatan bidan Indonesia (IBI) sebagai satu-satunya wadah bagi bidan telah
mencoba berbuat untuk mempersiapkan perangkat lunak melalui kegiatan-
kegiatan dalam lingkup profesi yang berkaitan denga tugas bidan dalam melayani
masyarakat di berbagai tingkat kehidupan. IBI bertanggung jawab untuk
mendorong tumbuhnya sikap profesionalisme bidan melalui kerja sama yang
harmonis dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah. Keberadaan IBI di
tengah-tengah anak bangsa merupakan pengabdian profesi dan juga kehidupan
bidan itu sendiri.

Pendidikan formal yang telah dirancang dan diselenggarakan oleh


pemerintah dan swasta dengan dukungan IBI adalah program D-3 dan D-4
kebidanan. Pemerintah telah berupaya menyediakan dana bagi bidan di sektor

3
pemerintahan melalui pengiriman tugas belajar keluar negeri, khususnya jangka
pendek. Selain itu IBI tetap mendorong anggotanya untuk meningkatkan
pendidikan melalui kerja sama dengan universitas di dalam negeri.

Sedangkan pendidikan non formal telah dilaksanakan melalui program


pelatihan, magang, seminar, lokakarya. Dengan kerjasama antara IBI dan lembaga
internasional telah pula dilaksanakan berbagai program non-formal di beberapa
provinsi. Semua upaya tersebut bertujuan meningkatkan kinerja bidan dalam
memberikan pelayanan kebidanan yang berkualitas. IBI juga telah
mengembangkan program mentorsinp yaitu, bidan senior membimbing bidan
junior dalam konteks profesionalisme kebidanan.

Sumber : Gambar I.I Skema pola pengembangan pendidikan kebidanan

Dalam hal ini kementrian kesehatan, kesejateraan sosial, dan pendidikan


mencoba untuk mencari jalan keluar untuk sistem pendidikan yang mengakui
berbagai bidan dalam melayani masyarakat. Pengakuan/penghargaan terhadap

4
pengalaman bidan di harapkan dapat lebih mempercepat upaya peningkatan
kualitas bidan melalui pendidikan formal tanpa mengabaikan apa yang telah di
miliki oleh para bidan. Di harapkan dalam waktu tidak terlalu lama pelaksanaan
sistem pendidikan ini telah selesai dan dapat di terapkan di Indonesia. Pola
pendidikan berkelanjutan telah di kembangkan/di rumuskan sesuai dengan
kebutuhan. Pengembagan pendidikan berkelanjutan bidan mengacu pada
peningkatan kualitas bidan sesuai dengan kebutuhan pelayana.mentri pendidikan
berkelanjutan meliputi aspek klinik dan non klinik.

2.1.3 Pola Pengembangan Karier Bidan

Pengembangan karier bidan meliputi karier fungsional dan


karier struktural. Pada saat ini pengembangan karier bidan secara fungsional telah
di persiapkan untuk jabatan fungsional bagi bidan, serta melalui pendidikan
berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan
meningkatkan kemampuan professional bidan dalam melaksanakan fungsinya.
Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti,
bidan koordinator dan bidan penyelia. Sedangkan karir bidan dalam jabatan
struktural bergantung pada tempat bidan bertugas, apakah rumah sakit,
puskesmas, bidan di desa, atau bidan di institusi swasta. Karier tersebut dapat di
capai oleh bidan di setiap tatanan perinstitusian swasta. Karier tersebut dapat di
capai oleh bidan di setiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan sesuai dengan
tingkat kemanpuan, kesempatan, dan kebijakan yang ada. Dalam hal ini penataan
atau perencanaan tenaga bidan, IBI bersama kementrian kesehatan telah
merencanakan kebutuhan tenaga bidan untuk tiap tatanan pelayanan dan
organisasi lain yang memungkinkan di perlukannya keberadaan bidan dalam
sistem pelayanan kebidanan khusus nya dan sistem pelayanan kesehatan
umumnya.

5
2.1.4 Pendidikan Berkelanjutan
Pendidikan berkelanjutan adalah suatu usaha untuk meningkatkan
kemanpuan teknis, hubungan antara manusia, dan moral bidan sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan atau pelayanan dan standar yang telah di tentukan oleh
konsil pendidikan formal dan non formal. Pengembangan adalah suatu usaha
untuk meningkatkan kemanpuan konseptual, teoritis, moral dan hubungan antara
manusia untuk kebutuhan jabatan. Pelatihan adalah suatu proses pendidikan
jangka pendek dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisis,
yang bidan belajar pengetahuan teknis pekerjaan dan latihan tertentu.

Visi dari pendidikan bidan berkelanjutan adalah pada tahun 2010 seluruh
bidan telah menerapkan pelayanan sesuai standar praktik bidan internasional dan
dasar pendidikan minimal D-3 kebidanan. Sedangkan misi pendidikan bidan
berkelanjutan adalah :

1. Mengembangkan pendidikan berkelanjutan berbentuk “system”


2. Menbentuk unit pendidikan berkelanjutan bidan di tingkat pusat,
provinsi/daerah, dan kabupaten/cabang.
3. Membentuk tim pelaksanaan pendidikan berkelanjutan
4. Mengadakan jaringan atau kerja sama dengan pihak terkait.

Pendidikan berkelanjutan betujuan dan bermanfaat untuk institusi pelayanan,


bidan itu sendiri, konsumen atau masyarakat yang menerima jasa yang di berikan
oleh bidan atau institusi pelayanan, bidan itu sendiri, konsumen atau institusi
pelayanan. Pendidikan berkelanjutan di laksanankan untuk pemenuhan standar
performa bidan yang telah ditentukan.

6
Dengan demikian tujuan pendidikan berkelanjutan adalah

1. Pemenuhan standar. Dalam hal ini adalah standar kemanpuan yang telah


di tentukan oleh konsil kebidanan untuk di dilakukan registrasi atau
heregistrasiuntuk mendapatkan praktik bidan
2. Meningkatkan produktivitas kerja. Produktivitas kerja bidan akan
meningkatkan,kualitas dan kuantitasnya akan semakin baik.karena
keterampilan teknis bidan akan meningkat.
3. Meningkatkan pemahaman terhadap etika profesi.dengan meningkatkan
pemahaman terhadap etika profesi bidanakan memberikan pelayanan sesuai
dengan keahlian dan keterampilannya.
4. Meningkatkan karier. Peningkatan karier akan semakin besar,karena
keahlian keterampilan dan prestasi kerjanya semakin meningkat.
5. Meningkatkan kepemimpinan. Kepemimpinan bidan sebagai manajer akan
lebih baik, melalui peningkatan hubungan antara manusia dengan manusia,
motivasi kearah kerja samaa vertikal dan horizontal serta semakin cakap
dalam pengambilan keputusan.
6. Meningkatkan kepuasan konsumen. Dengan lebih baiknya mutu pelayanan
bidan, kepuasan konsumen akan meningkat.
7. Meningkatkan kemampuan konseptual. Kemampuan intelektual dan
konseptual bidan dalam menangani kasus pasien akan terasa sehingga bidan
dapat memberi asuhan kebidanan dengan tepat.
8. Meningkatkan keterampilan, kepemimpinan (leadership). Bidan akan
memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik.sebagai seorang manajer,
bidan dibekali keterampilan untuk dapat berhubungan dengan orang lain
(human relation) dan bekerja sama dengan sejawat serta multidisiplin
lainnya guna memberi pelayanan yang berkualitas sebagai klien.
9. Imbalan (konvensasi). Asuhan bidan yang berkualitas akan menarik
konsumen dan meningkatkan penghargaan atas pelayanan yang diberikan.
10. Meningkatkan kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen akan meningkat
seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan bidan.

7
Pendidikan berkelanjutan merupakan bagian dari berbagai sitem lain dan juga
berkaitan dengan sistem pendidikan formal dasar. Program ini tersusun atas
berbagai komponen yang saling terkait, tiap individu, kebijakan, perencanaan,
fungsi, institusi, dan sarana.

Kelompok sasaran yang di tuju dalam Pendidikan Berkelanjutan Bidan (PBB),


secara berturut-turut sesuai dengan prioritas adalah pasca bidan PTT (pegawai
tidak tetap), bidan praktik swasta, dan bidan berstatus pegawai negeri/swasta.
Jenis dan jumlah peserta pendidikan berkelanjutan :
1. Seminar atau lokakarya : 100-200 orang
2. Magang 1- 3 orang
3. Pengembangan (manajemen,hubungan
interpersonal,komunikasi) 15 -20 orang
4. Keterampilan tekhnis untuk pelayanan 8-10 orang
5. Administrasi 20- 30 orang
6. Pendidikan formal D-3 atau D-4 dari jalur khusus

 Pendidikan berkelanjutan Sebagai Suatu Sistem


Pendidikan berkelanjutaan bidan sebagai sistem perlu memenuhi berbagai
karakteristik sebagai berikut:

1. Sistem pendidikan berkelanjutan harus dapat mencakup seluruh anggota


profesi kebidanan.
2. Berdasarkan analisis kebutuhan. Sistem pendidikan berkelanjutan
menyelenggarakan pendidikan yang berhubungan dengan tugas (job-related)
dan relevan dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan.
3. Sistem pendidikan berkelanjutan menyelenggarakan pendidikan yang
bersifat berkesinambungandan progresif.
4. Terkoordinasi secara internal.sistem pendidikan berkelanjutan kerja sama
dengan institusi pendidikan dalam hal ini pemanfaatan berbagain sumber
daya dan dlam mengelola berbagai program perndidikan berkelanjutan.

8
5. Berkaitan dengan sistem-sistem lain. Sistem pendidikan berkelanjutan
memiliki 3 aspek sub-sistem yang merupakan bagian dari sistem-sistem lain
dari luar system pendidikan berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut adalah
perencanaan tenaga kesehatan (health manpower planning), produksi tenaga
kesehatan (health manpower production). Dan manajemen tenaga kesehatan
(health manpower management). Perencanaan tenaga kesehatan dan
manajemen tenaga kesehatan merupakan bagian sistem kesehatan,
sedangkan produksi tenaga kesehatan adalah bagian dari sistem pendidikan.

 Pelaksanaan pendidikan berkelanjutan


Beberapa prinsip yang perlu di terapkan dalam penyelenggaraan
pendidikan berkelanjutan adalah :

1. Prinsip-prinsip pendidikan (termasuk penilaian).


2. Penjamin mutu (quality assurance).
3. Melanjutkan representasi (memperlihatkan kesehatan beberapa lingkup
atau jenis metode pendidikan berkelanjutan).
4. Membentuk lembaga pendidikan berkelanjutan.
5. Menentukan kebijakan.
6. Penyusunan program.
7. Implementasi program.
8. Akreditasi/penelitian.

 Sumber daya pendidikan berkelanjutan


Berikut adalah sumber daya yang di perlukan dalam penyelengaran
pendidikan berkelanjutan bidan :

1. Kurikulum
2. Bahan ajar
3. Sarana dan prasarana

9
 Tenaga pendidik berkelanjutan yang di perlukan meliputi :
1. Tenaga pengelola pendidik berkelanjutan IBI (diklat IBI) adalah seorang
bidan yang di tunjuk untuk ketua PP-IBI/PD-IBI/PC-IBI. Tugas utama
sebagai diklat IBI.
2. Tenaga pengembangan materi adalah seorang bidan berpengalaman
di bidangnya. Tugas utamanya mengembangkan materi belajar.
3. Tenaga pengembangan teknologi pendidikan adalah seorang dan
berpengalaman di bidangnya. Tugas utama nya adalah mengembangkan
media dan desain bahan ajar.
4. Tenaga pelatih/fasilisator adalah seorang yang ahli di dalam bidan nya
yang tugas nya melatih atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran.

Biaya penyelengaraan penddikan berkelanjutan didapat dari swadana,


kementrian kesehatan, BKKBN, donor (bantuan luar negeri), dan lain-lain

 Tenaga kerja organisasi pendidikan berkelanjutan


Perencanaan atau program diklat IBI di laksanakan secara bottom-up dan
top-down sesuai dengan tingkatan kebutuhan pelayanan dan program serta unit
terkait. Masing-masing diklat cabang melaksanakan identifikasi kebutuhan
melalui masalah pelayanan yang nyata, peer review, traning need assessment dan
indicator outcome (TFK,MMR,IMR,dst)
Diklat cabang membuat kerangka acuan kebutuhan pelatihan yang
selanjutnya di kirim ke diklat daerah dengan tembusan ke diklat pusat. Diklat
daerah membuat kerangka acuan seluruh wilayah kerja (seluruh diklat cabang
yang ada di provinsi) kemudian mengirim ke diklat pusat. Diklat pusat mengolah
kerangka acuan dari diklat daerah untuk selanjutnya di buat kerangka acuan ysng
sifatnya nasional dan didistribusikan ke seluruh diklat provinsi dan diklat cabang
serta organisasi terkait.

Pelaksanaan pendidikan berkelanjutan dapat dilaksanakan oleh diklat pusat


atau diklat daerah atau diklat cabang atau bergantung pada keberadaan sumber

10
daya dan sumber dana yang tersedia. Suvervisi/penilaian sistem diklat
dilaksanakan secara bertahap. Bila pelaksanaan pelatihan di lakukan di diklat
daerah supervise di laksanakan oleh diklat pusat. Bila pelaksananaan di adakan di
diklat cabang laporan pelatihan dikirim ke diklat daerah tembusan ke diklat pusat.
Bila pelaksanaan pelatihan didiklat daerah laporan pelatihan dikirim ke diklat
pusat.

2.1.5 Jabatan fungsional


Kelompok jabatan fungsional adalah kelompok jabatan yang langsung
memproses sumber daya menjadi satuan hasil yang di tetapkan oleh organisasi
dengan memperhatikan nilai strategis dari pemegang jabatan fungsional di dalam
perannya untuk menangani tugas umum pemerintah dan pembagunan, upaya
pembinaan jabatan fungsional mutlak harus di laksanakan secara lebih
konsepsional dan harus di tuangkan dalam wadah peraturan perundang-undangan
yang dapat menjamin kelangsungan sistem pembinaan jabatan fungsional. Salah
satu muatan di dalam undang-undang nomor 8 tahun 1974 yang selanjutnya di
jabarkan dalam peraturan pemerintah no 3 tahun 1980 menyatakan bahwa dalam
rangka usaha pembinaan karier dan peningkatan mutu profesionalisme,di atur
tentang kemungkinan bagi pegawai negri sipil untuk menduduki jabatan
fungsional.

 Pembinaan karir melalui jabaatan fungsional bidan


Pada saat ini di susun konsep pembinaan karier bidan melalui jabatan
fungsional. Dengan di susunnya rumusan pembinaan jabatan fungsional bidan
berarti bidan merupakan jabatan tersendiri lepas dari lingkup jabatan perawat.
Dalam konsep jabatan fungsional bidan di nyatakan, antara lain :

1. Bidan adalah pegawai negri sipil (pns) yang di beri tugas, wewenang dan
tanggung jawab secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk pelayanan
kebidanan.

11
2. Pelayanan kebidanan adalah pelayanan professional yang merupakan
bagian integral dari pelyanan kesehatan, yang di berikan kepada ibu dalam
masa produksi bayi baru lahir, bayi, dan balita.
3. Pembinaan karier bidan yang antara lain tentang pengangkatan, kenaikan
pangkat, dan kenaikan jabatan di dasarkan atas penelitian prestasi melalui
angka kredit.
 Kegiatan pokok bidan meliputi :
1. Melaksanakan penkajian pada klien
2. Melakukan pengambilan bahan laboratorium.
3. Melaksanakan pemeriksaan labortorium
4. Menegagkan diagnosis kebidanan.
5. Melaksanakan persiapan alat dan obat.
6. Melaksanakan aasuhan kebidanan
7. Melaksanakan KIE
8. Melaksanakan kalaborasi
9. Melaksanakan rujukan
10. Melaksanakan evaluasi kebidanan
11. Melaksanakan dokumentasi.
12. Melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat.

Dalam rangka menetapkan bidan sebagai profesi tersendiri perlu di kaji


secermat mungkin agar lingkup tugas bidan tidak tumpah tindih dengan tugas
perawat serta mempunyai kejelasan wewenang agar tidak melampaui tugas dokter
spesialis kebidanan.

12
2.2 Konsep Dasar Perubahan

2.2.1 Pengertian Perubahan

Perubahan merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau


perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis, artinya
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Hal yang penting dalam
perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena
perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan
sebagai penunjang program-program kesehatan lainnya.

Pengertian Menurut Para ahli

1. Potter dan perry (1993) : perubahan adalah suatu proses dinamik ketika
perubahan terjadi pada tingkah laku dan fungsi seseorang, keluarga,
kelompok, atau komunitas.
2. Taylor, et al (1997) : suatu proses transformasi, mengubah, dan
memodifikasi sesuatu.
3. Gillies (1994) : perubahan merupakan proses pergerakan dari suatu system
ke system lain.

Ada 4 perubahan, yaitu:

1. Perubahan tingkat pertama: perubahan pada pengetahuan target perubahan


(thinking).
2. Perubahan tingkat kedua : perubahan pada tingkah laku target perubahan
(feeling).
3. Perubahan tingkat ketiga : perubahan pada kebiasaan target perubahan
(acting).
4. Perubahan tingkat empat : kekuatan perubahan yang kompleks yang
memengaruhi seluruh sistem (interacting).

13
2.2.2 Alasan dan penyebab terjadinya perubahan

Menurut Lewin, alasan dan penyebab terjadi perubahan adalah :

1. Perubahan hanya boleh dilaksanakan untuk alasan yang baik.


2. Perubahan harus secara bertahap.
3. Semua perubahan harus direncanakan dan tidak secara derastis atau
mendadak.
4. Semua individu yang terkena perubahan harus dilibatkan dalam
perencanaan perubahan

Menurut Sullivan dan decker (1998), ada 3 alasan :

1. Perubahan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah


2. Perubahan untuk membuat prosedur kerja menjadi lebih efektif
3. Perubahan untuk mengurangi kerja yang tidak perlu

Menurut Thomas dan bennis (1972) :

1. Perubahan rencana (planned change) merupakan suatu desain yang di


sengaja dan implementasi sebuah inovasi secara struktural, kebijakan atau
tujuan baru atau sebuah perubahan yang jelas dalam melaksanakan
filosofi, suasana/iklim dan gaya. Perubahan terencana adalah suatu usaha
yang sistematik dan bertujuan untuk mengubah atau membawa perubahan
melalui sebuah intervensi dan change agent, perubahan terencana terjadi
pada sebuah urutan yang pasti, yang setiap tindakan merupakan persiapan
bagi tindakan selanjutnya, semua usaha di arahkan dan di targetkan untuk
menghasilkan perubahan
2. Perubahan tidak terencana (unplanned change) atau tidak di sengaja
(accidental change) merupakan perubahan yang terjadi sebagai hasil dari
ketidak seimbangan dalam sistem atau respons adiftif terhadap stimulus
pada keseimbangan antara sistem dan lingkungan. Perubahan ini terjadi

14
sebagai respons terhadap beberapa kejadian atau masalah yang meningkat
sehingga tidak ada kejadian tidak ada perubahan.

Perubahan perilaku dapat terjadi karena beberapa hal berikut :

1. Kekuatan pendorong meningkat. Ini karena adanya rangsangan yang


mendorong terjadinya perubahan perilaku. Rangsangan ini dapat berupa
penyuluhan/informasi tentang perilaku yang bersangkutan. Contoh :
seseorang yang belum ikut kb, mengetahui pentingnya kb, kekuatan
pendorong ditingkatkan dengan penyuluhan dan usaha-usaha lain
2. Kekuatan penahan menurun karena adanya rangsangan yang melemah.
Contoh: pada kasus diatas dengan member pengertian bahwa” banyak
anak banyak rezeki” adalah kepercayaan yang salah.
3. Kekuatan pendorong meningkat dan kekuatan penahan menurun. Keadaan
semacam ini akan terjadi perubahan perilaku. Contoh: penyuluhan kb yang
memberi pengertian terhadap orang tersebut tentang pentingnya ber-kb
dan tidak benarnya kepercayaan” banyak anak banyak rezeki” akan
meningkatkan kekuatan pendorong dan sekaligus menurunkan kekuatan
penahan.

 Beberapa tahap perubahan menurut para ahli :

1. Menurut Lewin ( 1951 ) teori perubahan “ Unfreezing to refreezing” yang


berlangsung dalam lima tahap berikut:

a. Fase Pencairan (the unfreezing phase) : Individu mulai


mempertimbangkan penerimaan terhadap perubahan. Dalam keadaan ini ia
siap menerima perubahan sikap dasar. Motivasi dan tingkah laku.Didalam

15
masyarakat pada fase ini, berada pada keadaan untuk mengubah kekuatan
yang mempengaruhi proses perumusan kebijaksanaan, partisipasi
masyarakat, dll
b. Fase Diagnosa masalah (problem diagnosis phase) : Individu mulai
mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, baik yang mendukung perlunya
perubahan maupun menetang perubahan itu serta menganalisa kekuatan
itu.
c. Fase penentuan tujuan (Goal Setting Phase) : Apabila masalahnya telah
dipahami, maka individu menentukan tujuannya sesuai dengan perubahan
yang diterimanya.
d. Fase Tingkah Laku baru (new behavior phase) : Pada fase ini individu
mulai mencobanya dan membandingkan dengan praktik – praktik yang
telah dilakukan dan diharapkan.
e. Fase pembekuan ulang (the refreezing phase) : Apabila dianggap berguna,
perubahan kemudian diasimilasikan menjadi pola tingkah laku yang

permanen, misalnya : arti kesehatan bagi kehidupan manusia dan cara-cara


pemeliharaan kesehatan.

16
2. Menurut Everett Rogers (1962) :

a. Kesadaran (awareness) adalah timbulnya kesadaran adanya perubahan atau


sesuatu yang baru
b. Minat (interest) adalah munculnya minat akan hal-hal baru tersebut
c. Penilaian (evaluation) adalah melakukan penilaian atau mengadakan
pertimbangan terhadap hal-hal yang baru tersebut
d. Uji coba (trial) adalah mecoba tigkah laku yang baru.
e. Penerimaan (adoption). Setelah melakukan percobaan dan menerima yang
baru dikenalkan

3. Menurut Lippit, Watson dan westley (1958) :

a. Mendiagnosis masalah yang dihadapi dan kebutuhan untuk berubah


b. Mengadakan assestment terhadap kemampuan untuk berubah.
c. Mengadakan pengkajian tentang motivasi (dasar landasan) untuk
mengadakan perubahan dan kemampuan untuk melaksanakan perubahan
d. Mengadakan assestment motivasi “change agent” dan sumber-sumber.
e. Mengadakakan motivasi khusunya yang bermanfaat pada proses
perubahan
f. Menetapkan tujuan berubah
g. Menetapkan peran yang sesuai bagi change agent
h. Mempertahankan perubahan
i. Memperthankan perubahan pada tingkat yang dicapai
j. Mengakhiri bantuan yang diberikan. Segala bentuk bantuan secara
bertahap diakhiri/dihentikan.

 Faktor yang mempengaruhi perubahan:

1. Faktor pendukung:

17
a. Perubahan yang terlihat baik, sesuai dengan norma
b. Change agent terlihat percaya diri
c. Perubahan mudah dan nyata
d. Terdapat contoh perubahan di tempat lain dan berhasil
e. Perubahan dimulai dari skala keci
f. Pimpinan terlibat
g. Individu dilibatkan dalam perencanaan
h. Perubahan dapat melesaikan masalah

2. Faktor penghambat:

a. Kurangnya fasilitas
b. Kurangnya material/peralatan
c. Kurangnya dukungan social
d. Kurangnya pengetahuam
e. Kurangnya motivasi
f. Kurangnya keterampilan
g. Tidak menetapkan tujuan

2.2.3 Macam – Macam Teori Perubahan

1. Teori Stimulus Organisme ( S – O – R )

Didasarkan pada asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku


tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan
organis me.Artinya, kualitas dari sumber komunikasi, misalnya kredibilitas,
kepemimpinan, gaya berbicara, sangat menentukan keberhasilan perubahan
perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.

Hosland, et al ( 1953) mengatakan bahwa perubahan perilaku pada


hakikatnya adalah sama dengan proses belajar.

18
Teori ini mengatakan bahwa perilaku berubah hanya apabila stimulus
(rangsang) yang diberikan benar – benar melebihi dari rangsang semula.
Rangsang yang dapat melabihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan
harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini faktor
reinforcement memegang peranan penting.

2. Teori Festinger ( Dissonance Theory ) ( 1957 )

Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang).


Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan ketidak
seimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk
mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri
individu, maka berarti terjadi ketegangan diri lagi, dan keadaan ini disebut
consonance ( keseimbangan ).

Ketidakseimbangan terjadi karena dalam diri individu terdapat dua elemen


kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah
pengetahuan, pendapat dan keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu
stimulus atau objek, dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan
yang berbeda/bertentangan di dalam diri individu itu sendiri maka terjadilah
dissonance.
Keberhasilan yang ditunjukkan dengan tercapainya keseimbangan
menunjukkan adanya perubahan sikap dan akhirnya akan terjadi perubahan
perilaku.

3. Teori Fungsi

Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu


tergantung kepada kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat
mengakibatkan perubahan perilaku seseorang adalah stimulus yang dapat
dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.

19
Menurut Katz ( 1960 ) perilaku dilatarbelakagi oleh kebutuhan individu
yang bersangkutan :

1) Perilaku memeiliki fungsi instrumental. Artinya dapat berfungsi dan


memberikan pelayanan terhadap kebutuhan.
2) Perilaku berfungsi sebagai pertahanan diri dalam menghadapi
lingkungannya
3) Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan pemberi arti
4) Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam
menjawab suatu situasi.

Teori fungsi ini berkeyakinan bahwa perilaku mempunyai fungsi untuk


menghadapi dunia luar individu, dan senantiasa menyesuaikan diri dengan
lingkungannya menurut kebutuhannya. Oleh sebab itu di dalam kehidupan
manusia perilaku itu tampak terus – menerus dan berubah secara relatif.

4. Teori Kurt Lewin

Kurt Lewin ( 1970 ) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu


keadaan yang seimbang antara kekuatan – kekuatan pendorong dan kekuatan –
kekuatan penahan.Perilaku itu dapat berubah apabila terjadi ketidakseimabangan
antara kedua kekuatan tersebut di dalam diri seseorang sehingga ada tiga
kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang.

a. Kekuatan – kekuatan pendorong meningkat.


b. Kekuatan – kekuatan penahan menurun
c. Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun.

2.2.4 Bentuk – Bentuk Perubahan Perilaku.

1. Perubahan Alamiah ( Natural Change ) Perilaku manusia selalu berubah.


Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah.

20
2. Perbahan terencana ( Planned Change ) Perubahan perilaku ini terjadi
karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.
3. Kesediaan untuk berubah ( Readdiness to Change )

Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam


masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk
menerima inovasi atau perubahan tersebut, dan sebagian orang lagi sangat lambat
untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut.

2.2.5 Strategi perubahan perilaku.

Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku tersebut oleh WHO


dikelompokkan menjadi tiga

1. Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan. Misal : dengan


adanya peraturan – peraturan/ perundang – undangan yang harus
dipatuhi oleh anggota masyarakat. Dapat berlangsung cepat akan
tetapi belum tentu berlangsung lama karena perubahan perilaku
terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri.
2. Pemberian informasi. Dengan memberikan informasi-informasi
tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan
kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut
3. Diskusi partisipasi. Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang
kedua di atas yang dalam memberikan informasi-informasi tentang
kesehatan tidak bersifat searah saja tetapi dua arah.

Teori Berubah ( Menurut Roger dan Shoamaker )

1. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap kesadaran (awarness)


menyadarkan masyarakat dengan jalan memberikan penerangan yang
bersifat informatif dan edukatif.

21
2. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap minat ( interest )
masyarakat sudah mulai tertarik perhatiannya pada usaha
pembaharuan.kegiatan ditingkatkan memberikan penerangan melalui
poster, radio, tv pamflet dll.
3. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap evaluasi ( evaluation )
pendekatam secara individu.
4. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap percobaan (trial)
sudah mulai mencoba tingkah laku baru. Tugas penkes lebih menyakinkan
dan mengawasi agar tidak terjadi drop out.
5. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap adopsi ( adoption )
masyarakat telah bertingkah laku baru, sesuai
yang diharapkan.tugas penkes adalah memelihara dan mengontrol secara
terus menerus.

22
BAB III

PENUTUP

Simpulan
Pengembangan karir bidan adalah perjalanan pekejerjaan seseorang dalam
organisasi sejak di terima dan berkahir pada saat tidak lagi bekerja di organisasi
terebut.

Bidan harus mengerti tentang perubahan praktik kerjanya baik di perintah,


organisasi profesi maupun di lingkungan masyarakat. Ini semua untuk
mengantisipasi tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin bermutu di
masyarakat karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
pelayanan kebidanan dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.

Strategi dalam membuat perubahan adalah change agent harus memiliki


visi yang jelas, menciptakan iklim/budaya organisai yang kondusif,serta ada
keterlibatan orang yang tepat. Keberhasilan perubahan bergantung pada strategi
yang diterapkan oleh agent pembaharu. hal yang paling penting adalah harus “
mulai” ( mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari
sekarang, jangan menunggu-nunggu).

Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami tentang
defenisi dari prinsip pengembangan karir bidan dan konsep berubah serta
mengetahui apa saja yang menjadi motivasi serta faktor terjadinya perubahan.

23
Daftar Pustaka

Soepardan, Suryani. 2008. Konsep Kebidanan. Bandung : Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Salmiati, Juraida Roito, Fathunikmah, Yanti. Konsep


kebidanan manajemen dan standar pelayanan. Jakarta :
EGC. 2011. P. 33-8.

Safitri, Suci Rahmadani. Konsep Kebidanan, dalam


https://sucirahmadanisafitri.wordpress.com/2012/03/26/konsep-kebidanan/
diakses tanggal 18 September 2017

24

Anda mungkin juga menyukai