Anda di halaman 1dari 9

Nama : Kiki Alfiatur Rohmaniah

NIM : 17.1333.S (3C)

Tugas : Kep. Komunitas

Masalah Kesehatan Pada Remaja

Herpes Zoster

A. Definisi
Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan
vesikel unilateral, sesuai dengan dermatomanya (persyarafannya). Infeksi ini dialami
oleh seseorang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap varicella (misalnya
seseorang yang sebelumnya tidak terinfeksi oleh varicella dalam bentuk cacar air).
(Smeitzer, Suzanne C.2001)
B. Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster . virus varicella zoster
terdiri dari kapsid berbentuk ikosahedral dengan diameter 100 nm. Kapsid tersusun
atas 162 sub unit protein–virion yang lengkap dengan diameternya 150–200 nm, dan
hanya virion yang terselubung yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini dengan
cepat dihancurkan oleh bahan organic, deterjen, enzim proteolitik, panas dan suasana
Ph yang tinggi. Masa inkubasinya 14–21 hari.
C. Manisfestasi klinis
Penyakit ini dapat dideteksi dari gelaja gejala yang terjadi diantaranya:
 Terasa deman, pilek, cepat merasa lelah.
 Terasa nyeri sendi, sakit kepala dan pusing.
 Rasa sakit seperti terbakar.
 Kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu
 Timbul bintik kecil kemerahan pada kulit.
D. Pencegahan
Untuk mencegah herper zoster, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah
pemberian vaksinasi. Vaksin berfungsi untuk meningkatkan respon spesifik limfosit
sitotoksik terhadap virus tersebut pada pasien seropositif usia lanjut. Vaksin herpes
zoster dapat berupa virus herpes zoster yang telah dilemahkan atau komponen selular
virus tersebut yang berperan sebagai antigen. Penggunaan virus yang telah
dilemahkan telah terbukti dapat mencegah atau mengurangi risiko terkena penyakit
tersebut pada pasien yang rentan, yaitu orang lanjut usia dan penderita
imunokompeten, serta imunosupresi.
E. Alat Pelindung diri
Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak
langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar
(chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan
sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah. Jadi alat pelindung diri yang bisa
digunakan adalah masker.
F. Fokus pengkajian di komunitas
G. Daftar pustaka
Djuanda, Adhi, dkk. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ke Dua. Jakarta :
FKUI.
Harahap, Marwali.2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta.
Nama : Kiki Alfiatur Rohmaniah

NIM : 17.1333.S (3C)

Tugas : Kep. Komunitas

Masalah Kesehatan Kerja Pada Lingkungan Kerja


Hemoroid
A. Definisi
Hemoroid atau wasir adalah pembengkakan dan peradangan pembuluh
daradangan pembuluh darah disekitar anus dan bagian rektum bawah. Dimana bibir
anus mengalami pembengkakan yang kadang disertai perdarahan.
Ada 2 jenis hemoroid :
1. Hemoroid internal
2. Hemoroid eksternal
Hemoroid internal umumnya tidak menimbulkan luka tetapi akan terasa sakit
di sekitar anus seperti muncul pendarahan sebagai salah satu gejala awalnya.
Hemoroid eksternal berada di bawah kulit di sekitar anus, di mana ada lebih banyak
rasa sakit, sehingga cenderung sakit dan berdarah. Terkadang wasir akan
menimbulkan benjolan yang akan semakin sehingga anus akan kelihatan merah dan
tentunya akan semakun sakit atau sulit saat buang air besar (BAB).
B. Etiologi
 Berusaha untuk buang air besar karena sembelit/feses keras.
 Sering mengalami diare.
 Duduk terlalu lama.
 Kurang serat.
 Kurang minum.
 Sering angkat beban berat.
 Tekanan dari janin pada wanita hamil.
C. Manifestasi klinis
 Terdapat darah pada saat BAB.
 Muncul benjolan disekitar anus.
 Timbul rasa nyeri saat BAB.
 Susah duduk.
D. Pencegahan
 Konsumsi lebih banyak makanan berserat.
 Minum air putih yang cukup.
 Olahraga yang teratur.
 Jangan duduk di toilet dalam waktu yang lama.
 Hindari mengangkat beban yang berat.
 Turunkan berat badan.
 Jika pekerjaan utama duduk, berdiri/ berjalan pada waktu istirahat.
 Jangan mengejan bila tinja masih belum mau keluar.
 Latihan otot-otot pantat.
 Jaga kebersihan daerah skekitar anus dengan membilasnya menggunakan air
yang bersih saat selesai buang air bersih.
E. Alat Pelindung Diri
Berhubung penyakit hemoroid ini merupakan penyakit tidak menular, jadi tidak ada
alat pelindung diri yang harus digunakan.
F. Fokus pengkajian di komunitas
G. Daftar pustaka
Muttaqin, Arif Dan Kumala Sari. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika, 2011.
Sjamsuhidajat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC, 2010.
Nama : Kiki Alfiatur Rohmaniah

NIM : 17.1333.S (3C)

Tugas : Kep. Komunitas

Masalah Kesehatan Pada Dewasa


Strabismus
A. Definisi
Strabismus atau mata juling adalah suatu kondisi dimana kedua mata tampak
tidak searah atau memandang pada dua titik yang berbeda. Dalam keadaan normal,
kedua mata kita bekerja sama dalam memandang suatu obyek. Otak akan memadukan
kedua gambar yang dilihat oleh kedua mata tersebut menjadi satu gambaran tiga
dimensi yang memberikan persepsi jarak, ukuran dan kedalaman (depth perception).
Ada beberapa jenis strabismus yang bisa kita amati langsung dengan meminta pasien
memandang lurus ke depan. Ketika satu mata memandang lurus ke depan maka mata
sebelahnya dapat saja memandang ke dalam (esotropia), ke luar (exotropia), ke bawah
(hipotropia) atau ke atas (hipertropia).
B. Etiologi
1. Faktor Keturunan
“ Genetik Pattern ” nya belum diketahui dengan pasti, tetapi akibatnya sudah
jelas. Bila orang tua yang menderita strabismus dengan operasi berhasil baik,
maka bila anaknya menderita strabismus dan operasi akan berhasil baik pula.
2. Kelainan Anatomi
Kelainan otot ekstraokuler
a. Over development
b. Under development
c. Kelainan letak insertio otot
3. Gangguan pada saraf kranial III, IV Troklearis, atau VI (abdunces)
4. Kelainan dari tulang-tulang orbital
a. Kelainan pembentukan tulang orbita menyebabkan bentuk dan orbital
abnormal, sehingga menimbulkan penyimpangan bola mata.
b. Kelainan pada saraf pusat yang tidak bisa mensintesa rangsangan.
c. Fovea tidak dapat menangkap bayangan.
d. Kelainan kwantitas stimulus pada otot bola mata.
e. Kelainan Sensoris
C. Manifestasi klinis
1. Sebuah tanda nyata adanya strabismus adalah sebelah mata tidak lurus atau
tidak terlihat memandang ke arah yang sama seperti mata sebelahnya.
Kadang-kadang anak-anak akan memicingkan/menutup sebelah matanya saat
terkena sinar matahari yang terang atau memiringkan kepala mereka agar
dapat menggunakan kedua matanya sekaligus.
2. Anak-anak yang menderita strabismus sejak lahir atau segera sesudahnya,
tidak banyak mengeluhkan adanya pandangan ganda. Tetapi anak-anak yang
mengeluhkan adanya pandangan ganda harus diperiksa dokter spesialis mata
anak dengan seksama. Semua anak seharusnya diperiksa oleh dokter spesialis
mata anak sejak dini terutama bila dalam keluarganya ada yang menderita
strabismus atau ambliopia.
D. Pencegahan
1. Orthoptic
a. Oklusi
b. Mata yang sehat ditutup dan diharuskan melihat dengan mata yang ambliop.
Oklusi sebagian juga harus bisa dilakukan dengan membrane plastik, pita,
lensa, atau mata ditutup dengan berbagai cara.
c. Pleotic
d. Obat-obatan
e. Latihan dengan synoptophone
2. Memanipulasi akomodasi
a. Lensa plus / dengan miotik
Menurunkan beban akomodasi dan konvergensi yang menyertai
b. Lensa minus dan tetes siklopegik
Merangsang akomodasi pada anak-anak
3. Penutup Mata
Jika anak menderita strabismus dengan ambliopia, dokter akan
merekomendasikan untuk melatih mata yang lemah dengan cara menutup mata
yang normal dengan plester mata khusus (eye patch). Penggunaan plester mata
harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti petunjuk dokter. Sesudah berusia
8 tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan yang terbaik
berkembang sebelum usia 8 tahunPrisma
4. Suntikan toksin botulin
E. Alat Pelindung Diri
Berhubung penyakit ini merupakan penyakit tidak menular, jadi tidak ada alat
pelindung diri yang harus digunakan.

F. Fokus pengkajian di komunitas


G. Daftar pustaka
Ns. Anas Tamsuri, S.Kep.2010.Klien Gangguan Mata dan Penglihatan Keperawatan
Medikal Bedah.Jakarta:EGC
Prof. Dr Sidarta Ilyas,dkk. 2002. Ilmu penyakit mata. Jakarta : CV. Sagung Seto.
Nama : Kiki Alfiatur Rohmaniah

NIM : 17.1333.S (3C)

Tugas : Kep. Komunitas

Masalah Kesehatan Pada Anak Sekolah


Stomatitis
A. Definisi
Stomatitis adalah kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan
pengiritasi seperti tembakau;defisiensi vitamin; infeksi oleh bakteri, virus atau
jamur;atau penggunaan obat kemoterapi (Potter & Perry,2005).
Stomatitis atau sariawan adalah radang yang terjadi pada mukosa mulut,
biasanya berupa bercak putih kekuningan. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal
maupun bergerombol. Sariawan dapat meyerang selaput lendir pipi bagian dalam,
bibir bagian dalam, lidah, gusi, maupun langit langit bagian dalam rongga mulut.
Meskipun stomatitis tidak tergolong dalam penyakit berbahaya, tetapi stomatitis
sangat mengganggu. Ada pula yang mengatakan bahwa stomatitis merupakan reaksi
imunologik abnormal pada bagian rongga mulut.
B. Etiologi
Sampai saat ini penyebab utama dari stomatitis sendiri belum diketahui,
namun para ahli menyampaikan banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya
stomatitis, diantaranya :
1. Kebersihan mulut yang kurang.
2. Letak susunan gigi.
3. Makanan/minuman yang panas dan pedas.
4. Pasta gigi yang tidak cocok.
5. Infeksi jamur.
6. Overhang tambalan atu karies, protesa (gigi tiruan).
7. Luka pada bibir akibat luka/benturan.
C. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis dari stomatitis secara umum yaitu:
a. Masa prodromal atau penyakit 1 – 24 jam
Hipersensitive dan perasaan seperti terbakar.
b. Stadium Pre Ulcerasi
Adanya udema / pembengkangkan setempat dengan terbentuknya makula
pavula serta terjadi peninggian 1- 3 hari.
c.   Stadium Ulcerasi
Pada stadium ini timbul rasa sakit terjadi nekrosis ditengah-tengahnya, batas
sisinya merah dan udema tonsilasi ini bertahan lama 1 – 16 hari. Masa
penyembuhan ini untuk tiap-tiap individu berbeda yaitu 1 – 5 minggu.
D. Pencegahan
Cara mencegah penyakit ini dengan mengetahui penyebabnya, apabila kita
mengetahui penyebabnya diharapkan kepada kita untuk menghindari timbulnya
sariawan ini diantaranya dengan :
1. Menjaga kebersihan mulut.
2. Mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12,
vitamin C dan zat besi.
3.  Menghadapi stress dengan efektif.
4. Menghindari luka pada mulut saat menggosok gigi atau saat menggigit
makananMenghindari makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
5. Menghindari makanan dan obat-obatan atau zat yang dapat menimbulkan reaksi
alergi pada rongga mulut.
E. Alat Pelindung Diri
Berhubung penyakit stomatitis ini merupakan penyakit tidak menular, jadi tidak ada
alat pelindung diri yang harus digunakan.
F. Fokus pengkajian di komunitas
G. Daftar pustaka
Inayah, Lin. 2004. Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Edisi 1. Salemba Medika :
Jakarta
Muttaqin dan Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Salemba Medika : Jakarta.