Anda di halaman 1dari 6

Pasal 1

SEGI LINGKUP PEKERJAAN

Uraian dalam rencana kerja dan syarat–syarat ini menyangkut segi lingkup
pekerjaan Semenisasi Jalan Lingkungan RT 027 Desa Batu Kajang Kec. Batu
Sopang yang berlokasi di Kecamatan Batu Sopang Kab. Paser

Pasal 2
JENIS DAN MUTU BAHAN

2.1. Jenis dan mutu bahan yang akan dilaksanakan harus diutamakan bahan–
bahan produksi dalam negeri sesuai dengan Surat Keputusan Bersama
Menteri Penertiban Aparatur Negara, Menteri Perdagangan dan Menteri
Perindustrian tanggal 23 Desember 1980, atau dapat lain sesuai dengan
petunjuk Direksi atau Konsultan Perencana.

2.2. Bila bahan–bahan bangunan yang telah memenuhi spesifikasi teknik


terdapat beberapa / bermacam jenis (merk) diharuskan memakai jenis
dan mutu bahan satu jenis saja.

2.3. Contoh–contoh yang dikehendaki oleh pemberi tugas harus disediakan


tanpa kelambatan atas biaya pemborong dan harus sesuai dengan
standard.
Contoh–contoh tersebut disimpan sebagai dasar penolakan bila ternyata
bahan atau cara mengajukan yang dipakai tidak sesuai dengan contoh
baik kwalitas maupun sifat–sifatnya.

Pasal 3
URAIAN PEKERJAAN

3.1. Pemborong harus menyediakan segala yang diperlukan untuk


melaksanakan pekejaan secara dan effesien dengan urutan teratur
termasuk semua alat–alat pembantu yang diperlukan seperti alat–alat
pengangkat, alat–alat penarik dan sebagainya yang diperlukan oleh
rekanan dan untuk semua pekerjaan.

3.2. Kekeliruan dalam uraian pekerjaan atau kwalitas atau penguraian bagian-
bagian dalam gambar dan RKS yang tidak merusak (membatalkan)
kontrak, akan tetapi hendaknya diperbaiki dan dianggap suatu perubahan
yang wajar.

Pasal 4
GAMBAR - GAMBAR PEKERJAAN

4.1. Gambar–gambar rencana pekerjaan yang terdiri dari gambar bestek,


gambar detail kontruksi, gambar situasi dan sebagainya yang telah
dilakukan konsultan perencana telah disampaikan kepada rekanan
berserta dokumen yang lain. Rekanan tidak boleh mengubah atau
menambah tanpa mendapat persetujuan tertulis dari Pimpinan
Proyek/Direksi. Gambar-gambar tersebut tidak boleh diberikan kepada
pihak lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan pemborong
ini atau dipergunakan untuk maksud lain.

4.2. Bila Direksi menganggap perlu maka pemborong harus membuat

RKS & Spesifikasi Teknis


1
tambahan gambar detail yang diperiksa dan disyahkan oleh Direksi,
gambar–gambar tersebut milik Direksi.

4.3. Rekanan harus menyimpan ditempat pekerjaan serta rangkap gambar


kontrak lengkap termasuk RKS, Berita Aanwijzing, Time Schedulle (Curva -
S) dalam keadaan baik dan dapat dibaca dengan jelas termasuk
perubahan-perubahan terakhir dalam masa pelaksanaan pekerjaan agar
selalu tersedia jika Pemimpin Proyek / Direksi sewaktu- waktu
memerlukan.
Pasal 5
PERATURAN TEKNIK YANG DIPERGUNAKAN

Berlaku dan mengingat dalam rencana kerja dan syarat–syarat ini adalah :

a. Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 80 tahun 2003


Tentang Tata Cara Pengadaan Barang dan jasa Instansi Pemerintah serta
perubahannya.

b. Lampiran I dan II dari Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres)


No. 80 tahun 2003 Tentang Tata Cara Pengadaan Barang dan jasa Instansi
Pemerintah serta perubahannya.

c. Undang–undang Perburuhan No.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.

d. Peraturan Pembangunan Daerah setempat.

e. Petunjuk–petunjuk dan peringatan–peringatan tertulis yang diberikan


Direksi Pekerjaan termasuk dalam Pasal 3 Perjanjian ini untuk mencapai
tujuan Perjanjian.

f. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung SK SNI – T –


15 1991 – 03 serta perubahannya.

Pasal 6
UMUM

6.1 Papan nama proyek disediakan sebelum pekerjaan dimulai.


6.2 Pembersihan lokasi, dikupas atau dipenebasan rumput liar serta bekas-
bekas kayu, pohon yang terkena jalur.
6.3 Pengukuran/stake out, penggunaan manual meteran/ thedolit (jika
diperlukan) dalam penyesuaian hasil gambar rencana dengan kondisi
lapangan.
6.4 HASIL UJI LABORATORIUM dan JOB MIX BETON, dimaksudkan untuk
mendapatkan hasil beton dengan kekuatan daya tekan beton maksimal
yang didapat berdasarkan material (lokal) yang digunakan.

Pasal 7
PEKERJAAN BETON DAN PEMBESIAN
7.1.1 AIR
Air untuk adukan beton dan perawatannya harus air bersih, bebas dari
bahan-bahan yang merusak beton dan baja tulangan dan bercampur
dengan bahan yang mempengaruhi daya lekat semen

7.1.2 PASIR, KERIKIL ATAU BATU PECAH


Pasir, kerikil dan batu pecah harus bersifat kekal, bersih serta tidak
mengandung bahan-bahan yang mempengaruhi kekuatan atau
kekekalan konstruksi beton pada setiap umur termasuk daya tahannya
terhadap karat baja tulangan beton.

RKS & Spesifikasi Teknis


2
7.1.3 SEMEN
Semen yang digunakan harus disetujui dan disahkan yang berwenang dan
memenuhi syarat PBI 1971 Pengangkutan harus terhindar dari air/hujan
dan bebas dari kelembaban. Semen harus diletakkan pada ketinggian 30
cm dari permukaan lantai/Tanah, pemupukan tidak lebih dari 20 meter,
dalam pengirimannya yang baru harus dipisahkan dengan yang lama,
sehingga pemakaian semen sesuai dengan urutan pengiriman.
7.1.4 1. BESI BETON
a. Untuk tulangan Besi beton harus dari besi baja U 24 dengan tegangan
leleh 2400 kg/cm2 dan tegangan-tegangan yang diijinkan 1400
kg/cm2 dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan PBI 1971
b. Kawat pengikat harus dari baja lunak dengan diameter minimun 1 mm
serta tidak bersepuh seng dan yang telah dipijarkan terlebih dahulu.
c. Penyimpanan harus tidak menyentuh Tanah dan tidak boleh disimpan
di udara terbuka terlalu lama. Sebelum dicor semua besi harus bebas
dari minyak, kotoran, cat, karat dan dipasang pada posisi yang tepat
hingga tidak dapat berubah atau bergeser sewaktu adukan digetarkan
atau dipadatkan.
d. Pembesian beton dan diameter besi beton yang dipakai harus sesuai
dengan gambar rencana. Bilamana sesuai dengan
pengalaman/pendapat pemborong ditemui kekeliruan atau perlu
penyempurnaan pembesian pada gambar kerja, maka pemborong
brhak mengusulkan gambar penyempurnaan yang dimaksud kepada
pemberi tugas untuk persetujuan atau pengecekan kembali.

2. BESI WIREMESH

a. Wiremesh yang digunakan harus berkualitas baik dan tidak berkarat.


b. Wiremesh yang digunakan adalah tipe M-6.
c. Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak
disepuh sen, diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40
mm. Kawat pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syarat-syarat
yang ditentukan dalam NI - 2 ( PBI tahun 1971 ).

7.1.5 CETAKAN DAN ACUAN


a. Cetakan harus dibuat dari papan kayu bermutu baik dengan ketebalan
bergantung dari kualitas dan jarak penguat cetakan tersebut.
b. Cetakan dirakit dan diberi penguat serta disangga sedemikian rupa,
sehingga tidak ada perubahan bentuk akibat getaran atau lengkungan
dikarenakan tekanan adukan beton yang cair/padat. Pada cetakan
kolom dan dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk
membersihkan kotoran dan keperluan pengecoran.
c. Cetakan beton harus bersih dan dibasahi sebelum pengecoran dan
dicegah penggenangan air pada bagian bawah cetakan.
7.1.6 ADUKAN BETON
a. Semua pekerjaan konstruksi beton dibuat dengan memakai campuran
mutu fc.14.5 Mpa .
b. Adukan beton harus dikerjakan dengan beton molen (concrete mixer).
c. Sebelum pasir dan kerikil diaduk, semua harus dibersihkan dari segala
kotoran dan Lumpur.
d. Bahan-bahan yang digunakan sesuai dengan peraturan dan spesifikasi
bahan bangunan :
 Semen Portland yang memenuhi SNI 15-2049-1994 atau yang
setara.
 Kerikil / batu pecah yang berkualitas baik, bersih, keras,
berat dan padat dengan gradasi 10 – 30 mm
 Pasir dari lokal/ sekitarnya

RKS & Spesifikasi Teknis


3
 Air harus jernih dan tidak mengandung bahan-bahan
kimia/limbah
e. Komposisi bahan harus ditakar dengan seksama, volume atau
beratnya. Bilamana campuran yang telah ditentukan itu tidak ditepati,
maka konstruksi beton yang telah dicor itu akan diperintahkan
dibongkar atas tanggungan pemborong.
f. Bahan campuran tambahan dibolehkan jika disetujui oleh pemberi
tugas atau apabila ada ketentuan lain.
g. Adukan beton sudah harus digunakan dalam waktu 1 jam setelah
pengadukan dengan air dikerjakan.
h. Adukan beton harus diangkut sedemikian rupa sehingga dapat dicegah
terjadinya pemisahan unsure-unsur bahan, dan tidak boleh dijatuhkan
lebih dari 2 jam.

7.1.7 PENGECORAN BETON


a. Pengecoran ke dalam cetakan harus selesai sebelum adukan mulai
mengental, yang dalam keadaan normal biasanya dalam waktu 30
menit.
b. Pengecoran pada suatu bagian dari pekerjaan harus dilakukan tanpa
berhenti dan tidak boleh terputus tanpa adanya persetujuan dari
pemberi ugas, tidak mengecor pada waktu hujan, kecuali jika
pemborong mengambil tindakan pencegahan kerusakan yang dapat
disetujui pemberi tugas.
c. Sebelum melaksanakan pengecoran pada bagian-bagian utama dari
pekerjaan, maka pemborong harus memberitahu kepada pemberi
tugas untuk mendapat persetujuan.

7.1.8 PERAWATAN BETON


a. Selama beton dalam proses mengeras, maka diadakan perawatan dan
perlindungan terhadap sinar matahari, angin hingga tidak terjadi
penguapan yang cepat.
b. Setelah pengecoran, beton harus dibasahi terus (disiram) terus
sekurang-kurangnya 5 hari.
c. Pada lantai beton, jika menurut pemberi tugas belum cukup umur,
tidak diperkenankan untuk menaruh bahan-bahan atau sebagai jalan
guna pengangkutan bahan.

7.1.9 PEMBONGKARAN CETAKAN


a. Cetakan tidak diperkenankan dibuka/dibongkar sebelum beton
mencapai kekuatan / silender kubus yang cukup untuk memikul 2x
beban sendiri dan kurun waktu 1x24 jam (penyesuaian berdasarkan
jenis konstruksi, contoh semenisasi jalan lingkungan).
b. Penyedia harus memberitahu kepada Direksi jika akan membongkar
cetakan, terutama pada bagian konstruksi utama dan meminta
persetujuan dari Direksi. Perlu ditekankan bahwa Penyedia
bertanggung jawab penuh atas keamanan konstruksi, walaupun adanya
persetujuan pemberi tugas, tidak lepas dari tanggung jawab.
c. Semua prosedur pembongkaran cetakan harus memperhatikan
ketentuan-ketentuan dalam PBI 1971.
d. Pembongkaran cetakan harus hati-hati tidak boleh rusak, karena
digunakan kembali maksimal 3 kali pakai.

Pasal 8
PENGUJIAN ATAS MUTU PEKERJAAN

8.1 Umum
Penyedia harus bertanggung jawab penuh untuk menjamin bahwa
kualitas beton memenuhi spesifikasi dan tanggung jawab ini tidak

RKS & Spesifikasi Teknis


4
dapat dihilangkan dengan pengujian yang telah dilaksanakan dan
disetujui Direksi Pekerjaan.
8.2 Pembiayaan
Semua biaya-biaya menyangkut pekerjaan beton mulai dari JMF dan
pengujian mutu beton menjadi tanggung jawab Penyedia.
8.3 Pengujian Kekuatan
Penyedia melaksanakan pengujian kekuatan beton yang dicor
menggunakan uji selinder minimal diambil 2 sampel khusus jalan
lingkungan/ semenisasi.
Untuk keperluan pengujian kuat tekan beton, Penyedia Jasa
harus menyediakan benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150
mm dan tinggi 300 mm , dan harus dirawat sesuai dengan SNI 03-4810-
1998. Benda uji tersebut harus dicetak bersamaan dan diambil dari beton
yang akan dicorkan, dan kemudian dirawat sesuai dengan perawatan yang
dilakukan di laboratorium.
Setiap pengujian harus termasuk pembuatan dua contoh sampel yang
identik untuk diuji pada umur 3 (tiga) hari, 7 (tujuh) hari, 14 (empat belas)
hari atau 28 (dua puluh delapan) hari
8.4 Alat Uji Beton
Digunakan mesin uji kuat tekan beton.
8.5 Tempat pengujian beton
Pengujian beton dilakukan pada laboratorium yang sudah memiliki
sertifikasi.
8.6 Untuk keperluan evaluasi mutu beton sebagai dasar pembayaran
harus menggunakan data hasil uji kuat tekan beton sesuai dengan umur
yang ditetapkan dalam Kontrak. Hasil-hasil pengujian pada umur yang
selain dari yang ditetapkan dalam Kontrak hanya boleh digunakan
untuk keperluan selain dari tujuan evaluasi mutu beton sebagai dasar
pembayaran. Nilai-nilai perbandingan kekuatan yang digunakan untuk
keperluan ini harus disesuaikan dengan grafik perkembangan kuat tekan
campuran sebagai fungsi waktu.

Tabel 7.1 Ketentuan Kuat Tekan

Mutu Beton Kuat Tekan Karakteristik (kg/cm2)


fc’ ’bk Benda Uji Silinder Benda Uji Kubus
(Mpa) (kg/ cm2) 150mm – 300mm 150x150x150mm
50 K600 500 600
45 K500 450 500
40 K450 400 450
35 K400 350 400
30 K350 300 350
25 K300 250 300
20 K250 200 250
15 K175 150 175
10 K125 100 125

Pasal 9

RKS & Spesifikasi Teknis


5
PEKERJAAN JALAN BETON

9.1 Perataan dan penggalian tanah diperlukan pada tanah yang konturnya
bergelombang untuk mendapatkan elevasi jalan dan ketebalan cor yang
sesuai dengan gambar rencana.
9.2 Pemasangan bekisting menggunakan papan dengan kayu penguat
balok/kayu gelam.
9.3 Penghamparan Plastik cor diletakkan diatasnya , dan dihampar selebar
jalan yang akan dicor.
9.5 Cor beton adalah mutu fc.14.5 Mpa (semen: pasir :koral/kerikil) dengan
tebal 20 cm. Penggunaan molen dan alat bantu mutlak ada dilapangan.
9.6 Sebelum cor beton mengering dilapisan atasnya diberi finishing.

Pasal 10
PERATURAN PENUTUP

10.1 Meskipun dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini pada uraian
pekerjaan dan uraian bahan-bahan tidak dinyatakan bahan-bahan yang
harus disediakan, dipasang atau dibuat oleh pemborong, tetapi menjadi
bagian dari pekerjaan pembangunan, kalimat-kalimat tersebut tetap
dianggap ada dan dimuat dalam RKS ini.

10.2 Pekerjaan yang nyata-nyata menjadi bagian dari pekerjaan pembangunan


yang tidak diuraikan, dimuat tapi diselenggarakan / dikerjakan oleh
pemborong, hal tersebut harus dianggap ada, seakan-akan dimuat kata
demi kata dalam RKS ini, untuk menuju penyerahan yang lengkap dan
sempurna, sesuai pertimbangan Direksi.

Pasal 11
LAIN – LAIN

11.1. Hal – hal yang tidak tercantum dalam peraturan ini akan ditentukan lebih
lanjut oleh pihak Direksi / Pemimpin Proyek, bilamana diperlukan dalam
peraturan ini.

PT. BIjak Indonesia Konsultan

Yuliyanto, ST
Kepala Cabang

RKS & Spesifikasi Teknis


6