Anda di halaman 1dari 36

5.

Gambaran radiografi toraks pada :

a. Pneumonia
Gambaran Radiologis pada foto thorax pada penyakit pneumonia antara lain:

 Perselubungan homogen atau inhomogen sesuai dengan lobus atau segment paru
secara anantomis.
 Batasnya tegas, walaupun pada mulanya kurang jelas.
 Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana paru mengecil. Tidak
tampak deviasi trachea/septum/fissure/ seperti pada atelektasis.
 Silhouette sign (+) : bermanfaat untuk menentukan letak lesi paru ; batas lesi
dengan jantung hilang, berarti lesi tersebut berdampingan dengan jantung atau di
lobus medius kanan.
 Seringkali terjadi komplikasi efusi pleura.
 Bila terjadinya pada lobus inferior, maka sinus phrenicocostalis yang paling akhir
terkena.
 Pada permulaan sering masih terlihat vaskuler.
 Pada masa resolusi sering tampak Air Bronchogram Sign (terperangkapnya udara
pada bronkus karena tiadanya pertukaran udara pada alveolus).

Foto thorax saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia,
hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis etiologi, misalnya penyebab pneumonia
lobaris tersering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, Pseudomonas
aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia
sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukan konsolidasi yang terjadi pada
lobus atas kanan meskipun dapat mengenai beberapa lobus.
1.Pneumonia Lobaris
Foto Thorax

Tampak gambaran gabungan konsolidasi berdensitas tinggi pada satu segmen/lobus (lobus
kanan bawah PA maupun lateral)) atau bercak yang mengikutsertakan alveoli yang
tersebar. Air bronchogram biasanya ditemukan pada pneumonia jenis ini.
CT Scan

Hasil CT dada ini menampilkan gambaran hiperdens di lobus atas kiri sampai ke perifer.

2. Bronchopneumonia (Pneumonia Lobularis)


Foto Thorax
Merupakan Pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkiolus yang dapat tersumbat oleh
eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus. Pada gambar diatas
tampak konsolidasi tidak homogen di lobus atas kiri dan lobus bawah kiri.

CT Scan

Tampak gambaran opak/hiperdens pada lobus tengah kanan, namun tidak menjalar
sampai perifer.
3. Pneumonia Interstisial
Foto Thorax
Terjadi edema dinding bronkioli dan juga edema jaringan interstitial prebronkial.
Radiologis berupa bayangan udara pada alveolus masih terlihat, diliputi oleh
perselubungan yang tidak merata.

CT Scan

 Gambaran CT Scan pneumonia interstitial pada seorang pria berusia 19 tahun. (A)
Menunjukan area konsolidasi di percabangan peribronkovaskuler yang irreguler. (B)
CT Scan pada hasil follow up selama 2 tahun menunjukan area konsolidasi yang
irreguler tersebut berkembang menjadi bronkiektasis atau bronkiolektasis (tanda
panah)

b. TB primer, TB post primer, TB aktif, TB non aktif, TB milier

Tanda tuberculosis primer:

 Daerah konsolidasi pneumonik perifer (fokus ghon) dengan pembesaran kelenjar


hilus mediastinum (kompleks primer). Keadaan ini biasanya dapat sembuh
dengan gambaran kalsifikasi.
 Daerah konsolidasi yang dapat berukuran kecil, lobaris atau lebih luas hingga
seluruh lapangan paru.
Gambar. konsolidasi kavitasi pada lobus atas kiri: tuberculosis aktif.
Tanda tuberculosis post primer atau tuberculosis reaktif:

 Konsolidasi bercak terutama pada lobus superior atau daerah apikal pada lobus

inferior yang sering disertai kavitasi.

 Efusi pleura, empiema, atau penebalan pleura.

 Tuberkulosis milier yaitu nodul-nodul diskret berukuran 1-2 mm yang dapat

terdistribusi di seluruh lapangan paru akibat penyebaran hematogen.

 Limfadenopati mediastinum atau hilus, bukan gambaran tuberculosis kecuali pada

pasien AIDS

Gambar. Kalsifikasi yang sudah lama sembuh pada fokus tuberkulosis


Tanda tuberculosis milier :

 Foto toraks menunjukkan gambaran klasik pola milier


 Lesi paru berupa gambaran retikulonodular difus bilateral di belakang bayangan
milier yang dapat dilihat pada foto toraks

Gambar. Tuberculosis milier.


Tanda tubercolosis aktif :
 Tampak bercak berawan disesrtai kavitas pada kedua lapangan paru
 Cor : bentuk dan ukuran dalam batas normal
 Kedua sinus dan diafragma baik
 Tulang-tulang yang tervisualisasi infark

Gambar. Tubercolosis aktif


Tanda tubercolosis non aktif :
 Tampak beracak berawan pada lapangan paru kanan atas disertai cavitas, bintik
kalsifikasi, serta garis fibrosis yang menyebabkan retraksi hilus keatas

c. Efusi Pleura

Pada pemeriksaan foto toraks rutin tegak, cairan pleura tampak berupa
perselubungan homogen menutupi struktur paru bawah yang biasanya radioopak
dengan permukaan atas cekung, berjalan dari lateral atas ke arah medial bawah.
Karena cairan mengisi ruang hemithoraks sehingga jaringan paru akan terdorong
ke arah sentral / hilus, dan kadang – kadang mendorong mediastinum ke arah
kontralateral. Jumlah cairan minimal yang dapat terlihat pada foto thoraks tegak
adalah 250 – 300 ml.
Pemeriksaan radiografi paling sensitif mengidentifikasi cairan pleura
yaitu dengan posisi lateral dekubitus, yang mampu mendeteksi cairan pleura
kurang dari 5 ml dengan arah sinar horisontal di mana cairan akan berkumpul di
sisi samping bawah. Apabila pengambilan X-foto toraks pasien dilakukan dalam
keadaan berbaring (AP), maka penilaian efusi dapat dilihat dari adanya gambaran
apical cup sign. Gambaran radiologis tidak dapat membedakan jenis cairan
mungkin dengan tambahan keterangan klinis atau kelainan lain yang ikut serta
terlihat sehingga dapat diperkirakan jenis cairan tersebut.

Cairan bebas akan membentuk dua bentuk dasar, dan biasanya terlihat
dalam kombinasi dengan lainnya:
1. Biasanya cairan mengelilingi paru, lebih tinggi di lateral dari pada yang di
medial dan juga berjalan ke dalam fissura, terutama ke ujung bawah fisura
obliqua. Efusi sangat besar ke atas puncak paru. Tepi yang halus antara paru
dan cairan (Meniskus sign) dapat dikenal pada film penetrasi yang adekuat,
asalkan paru yang mendasarinya teraerasi. Tepi halus ini selalu harus di cari,
karena bersifat diagnostik bagi patologi pleura.

2. Kadang-kadang, sedikit cairan yang berjalan menaiki dinding dada, kemudian


cairan ini dikenal sebagai “efusi subpulmonalis”. Batas atas cairan ini sangat
menyerupai bentuk diaphragma normal dan karena bayangan diaphragma sejati
dikabur oleh cairan, maka sangat sulit atau bahkan tak mungkin mengatakan
pada film berdiri standart (PA) apakah itu cairan. Untuk membedakan bayangan
basal paru yang disebabkan oleh efusi pleura atau kolaps atau pemandatan paru
maka dapat dibuat film frontal pada pasien berbaring pada satu sisi (Dekubitus
lateralis). Jika cairan akan bergerak bebas, kemudian akan terletak sepanjang
dinding dada lateral yang rendah. Teknik ini sangat bermanfaat bila efusi
terutama atau seluruhnya subpulmonalis. Jumlah cairan minimal yang dapat
terlihat pada foto thoraks tegak adalah 250-300 ml. Bila cairan kurang dari 250
ml (100-200 ml), dapat ditemukan pengisian cairan di sinus costofrenicus
posterior pada foto thoraks lateral tegak.

Cairan yang kurang dari 100 ml (50-100 ml), dapat diperlihatkan dengan posisi
dekubitus dan arah sinar horisontal di mana cairan akan berkumpul di sisi
samping bawah.
A. Posisi tegak posteroanterior (PA)
Pada tahap awal dengan pasien posisi tegak lurus, cairan akan
cenderung untuk terakumulasi pada posisi infrapulmonary jika rongga pleura
tidak terdapat adhesi dan paru-parunya sehat, sehingga membentuk efusi
subpulmonary. Pada umumnya, gravitasi mungkin merupakan faktor utama
yang menentukan lokasi cairan. Hampir bersamaan dengan akumulasi dari
infrapulmonary, cairan pleura akan terlihat pada sulcus costophrenic dan
dapat terlihat pada awalnya sebagai perubahan letak medial dari sudut
costophrenic dan kemudian terlihat gambaran diafragma yang tumpul.

Gambar 3. Efusi pleura : tanda meniscus (tanda panah) paru kanan pada foto tegak
PA

Gambar 4. A. Foto toraks PA menunjukkan elevasi dari hemidiafragma kanan


B. Meningkatnya opasitas pada bagian hemitoraks kanan akibat dari adanya cairan
pleura
B. Foto lateral tegak
Teknik Foto Lateral tegak adalah tempatkan bagian dada pasien sejajar
dengan garis tengah kaset. Tempatkan tangan ke atas dengan elbow fleksi
serta kedua antebrachi bersilang diletakkan di belakang kepala seperti
bantalan dengan kedua tangan memegang elbow. Usahakan pasien bernapas
dan ekspirasi penuh untuk memaksimalkan area

Gambar 5. A. Foto toraks AP, menunjukkan sudut costophrenicus kanan tumpul (tanda panah);
B. Foto toraks lateral menunjukkan sudut costophrenicus posterior tumpul (tanda
panah) (Collins,Janette et all. Chest radiology 2nd edition)

C. Posisi Lateral Decubitus


Radiografi dada lateral decubitus digunakan selama bertahun-tahun
untuk mendiagnosis efusi pleura yang sedikit. Posisi ini pertama
dikemukakan pada hasil karya Rigler. Posisi pasien selama pemeriksaan
pada X-ray dada dengan posisi lateral dekubitus kiri. Setelah bersandar
selama 5 menit pada pinggang dalam posisi trendellenburg, maka sinar X-
ray yang sentral diarahkan pada dinding thorax lateral.
Pada contoh di Gambar 6, cara mengukur Pleural Effusion Index ialah a/b
x 100

Gambar 6. Tanda panah A menunjukkan cairan dari efusi pleurapada cavum pleura kanan.

Tanda panah B besarnya cavum thoraks yang ditarik dari garis median tubuh
ke lateral dari kavum thoraks
Gambar 7. Efusi pleura. Posisi RLD menunjukkan efusi pleura menempati bagian paling
dasar dengan densitas yang sama dengan jaringan lunak sepanjang dinding dada.

d. Edema paru:

Gambaran radiologi dari edema paru adalah

1. Pelebaran atau penebalan hilus (dilatasi vaskular di hilus)


2. Corakan paru meningkat (lebih dari 1/3 lateral)
3. Kranialisasi vaskuler
4. Hilus suram (batas tidak jelas)
5. Interstitial fibrosis (gambaran seperti granuloma-granuloma kecil atau nodul
milier)

o Kongestif vena pulmonal: cephalisasi.


o Edema paru interstitial: penebalan interlobular septa (Kerley B line, Kerley
A line), peribronchial cuffi ng, cairan di fissure, efusi pleura.

o Edema paru alveolar: opasitas pada kedua paru yang tebal di bagian sentral
dan menipis di bagian tepi (bat-wing appearance).

Kasus lainnya :

Edema berupa bercak-bercak pada kedua paru. Bilateral, tetapi distribusinya tidak merata.
Bentuk densitas berbeda-beda dan batasnya tidak jelas. Terlihat cairan pada sinus
costophrenicus kiri. Sering juga terlihat efusi yang bilateral
a. b.

c.
a) edema paru berat karena pemberian cairan IV yang berlebihan. Bias juga terjadi sebagai
akibat kegagalan jantung atau ginjal, obat-obatan dan malaria. b) penderita yang sama
pada hari berikutnya setelah diberi diuretic dan dilakukan pembatasan cairan. c)
penderita yang sama satu minggu kemudian. Adanya perubahan yang cepat dan respon
yang segera terhadap pengobatan merupakan ciri khas edema. Pada infeksi tidak terjadi
perubahan yang cepat seperti ini.*foto dibuat dengan posis duduk

e. Massa Paru
A. Paru-Paru
1. Infiltrat :

- Bercak opaque
- Batas tak teratur
2. Konsolidasi :
- Lebih besar dari infiltrat
- Tumor / pemadatan jaringan / suatu massa
- Istilah ini lebih dihindari
3. Kesuraman / opacity
- Infiltrat banyak dan padat
- Gambaran homogen tidak merata / tidak homogen
4. Perselubungan :

- Opaque semua
- Lebih homogen
Kelainan-kelainan tadi dilihat pada : apex, hilus, kedua apex
patokan costae 1-2 (dewasa) di Indonesia kalau ada gambaran
tersebut (infiltrat, konsolidasi, perselubungan) biasa disebabkan oleh
proses spesifik, daerah perihiler, daerah peracardial, pleural line,
diafragma, sinus.
Kondisi foto yang baik adalah apabila columna vertebra thoralis
bisa terlihat sampai Th.IV
Kelainan-kelainan di paru hemithorax, putih semua, maka :
Contoh kasus
di mediastinum.
- Mediastinum anterior : tidak diisi apa-apa kecuali perlekatan jantung
- Mediastinum medius : terdapat jantung, A&V pulmonalis, kelenjar
limfe
- Mediastinum posterior : esofagus, aorta desc, aorta thoracalis,
kelenjar limfe paravertebra
Pada mediastinum superior dan inferior Gambaran konsolidasi
pada : Tiroid, Timus, Teratoma, Limfoma. Perselubungan homogen
hemithorax dextra misalnya : deviasi ke kontralateral, trakea deviasi
ke kontralateral, maka kesannya : efusi pleura, tumor. Namun bila iga
melebar pada sisi lesi
 Efusi pleura
 Eksudat : Pus – pyothorax, Darah – hemothorax, Cairan limfe –
chylothorax
 Transudat – pleural effusion
Efusi pleura dapat disebabkan oleh :
1. Infeksi paru oleh bakteri, virus, jamur
2. Tumor paru
3. Tumor mediatinum
4. Metastasis
5. Kelainan sistemik
6. Hambatan aliran kgb
7. Hipoproteinemia ginjal/hati
8. Kegagalan jantung
9. Trauma kecelakaan/tindakan pembedahan
10. Efusi pleura
B. Abses
Dinding tebal dari bleb, di dalamnya ada air fluid level dinding
tebal, lebih besar dari abses, ditengah kosong.
Lebih besar : bleb dinding tipis tapi besar, di tengah kosong,
alveolus pada pecah. Lebih besar lagi : bulla kelainan congenital ;
sering menyebabkan pneumothorax spontan, bleb dan bulla.
C. Multiple Kistik Lesion
- Ukuran lebih besar dari honey comb appearance
- Bila terdapat multiple kistik lesion tapi tidak ada air fluid level =
Honey Comb Appearance / Bronchiectasis (dinding2 tebal)

D. Infected Bronchiectasis
Multiple kistik lesion dengan air fluid level DD/ Bronchiectasis :
- Kistik lung disease – dinding tipis, gambaran spt busa-busa
- Wagener Granuloma – Dinding Tipis
- Polikistik Pulmonum – bawaan lahir curiga suatu keganasan. Kalau
terdapat suatu konsolidasi / tumor pada 40 – 50 tahun belum tentu
merupakan suatu keganasanTapi bila di bawah 40 tahun

E. Coin Lesion
- Bila terdapat coin lesion – harus dinilai tulang-tulangnya
- DD/ : tuberculoma, artefak, limfoma
- Usul : bila mungkin, foto lateral thorax
- Pemeriksaan anjuran : CT-scan Thorax

F. Infiltrat
- Titik kecil, batas tidak jelas, tidak ada hubungan dengan vaskuler
- Berisi cairan / darah / nanah yang mengisi parenkim paru

G. Cotton Ball Appearance


- Gambaran lebih besar dari infiltrat. Berupa infiltrat kasar. Dimana
Daerah sekitarnya bersih.

H. Konsolidasi
- Pemadatan, batas bisa jelas, bisa juga tidak
- Kesan : suatu tumor
- DD/ neurofibromatosis. Lihat daerah soft tissue, jika terjadi
pembengkakan juga curiga Lipoma. Namun jika hanya ada di
lapangan paru saja DD/ dengan coin lesion, Lipoma memiliki batas
semakin tidak jelas. Suatu tumor bila makin ganas, maka
- Gambaran metastase pada paru :
- BP
- Efusi Pleura
- Milier
- Gambaran infiltrat di seluruh lapang paru sampai ke tepi ; ada
jaringan fibrotik / tuberculoma

f. massa mediastinum

 Tumor Mediastinum Anterior


Mediastinum anterior terdiri dari struktur berikut ini: thymus, lymph nodes, aorta
ascending, arteri pulmonalis, phrenic nerve, dan tiroid. Dikenal 4 T yang menjadi
mnemonic dari massa di mediastinal anterior:
 Thymus
 Teratoma
 Thyroid
 Terrible Lymphoma
Pada foto konvensional, kita mencari beberapa tanda sebagai berikut:
 Sudut kardiofrenik yang menghilang
 Zona bersih di retrosternal yang menghilang
 Adanya hilum overlay sign
 Adanya pendataran aorta ascending
o Obliterated retrosternal clear space
Di masa sekarang ini, penemuan zona retrosternal bersih yang terganggu (berkabut)
tidak terlalu bermanfaat lagi karena banyaknya pasien yang obese sehinggi dapat saja
tampak gambaran lemak.
(A) (B)
Gambar. Foto x-ray thoraks PA menunjukkan pelebaran mediastinum di paratracheal dan
pada foto lateral menunjukkan zona retrosternal yang harusnya bersih tampak gambaran
opak. Klinis: pasien dengan lymphoma

o Hilum Overlay Sign


Suatu keadaan di mana pada gambaran foto thoraks konvensional dapat terlihat
hillus yang melewati atau melintasi massa, dari sini kita dapat mengetahui bahwa
massa tidak berasal dari hillus tersebut karena massa di anterior mediastinum
terletak di anterior dari arteri pulmonalis, sehingga hilus ini akan terlihat melalui
massa tersebut.

(A) (B)
Gambar. Pada foto konvensional di kiri tampak massa yang membentuk sudut tumpul dengan
mediastinum yang mengindikasikan bahwa massa tersebut berasal dari mediastinum, lalu tampak
hilus yang terlihat melalui massa tersebut, kemungkinan massa berasal dari anterior mediastinum.
Lalu letak massa ini dikonfirmasi melalui pemeriksaan CT-scan yaitu berada di anterior.
o Massa Cystic
Mediastinum anterior merupakan lokasi penting untuk massa kistik. Massa dapat
seluruhnya berupa kistik dan dapat juga memiliki komponen solid. Massa kistik
biasanya tampak bersepta, dalam hal ini kita harus memikirkan tumor germ cell

(A) (B)
Gambar. A. Pada gambar CT-scan di atas, tampak massa mediastinum anterior dengan densitas air,
yang mengindikasikan kista thymic. B. CT-scan thoraks potongan aksial di atas menunjukkan massa
di mediastinum anterior. Massa kistik ini tampak bersekat solid yang spesifik untuk tumor germ cell.

o Timoma

Timoma adalah tumor epitel yang bersifat jinak atau tumor dengan derajat keganasan
yang rendah dan ditemukan pada mediastinum anterior. Timoma merupakan tumor
yang paling sering muncul pada anterior mediastinum. Timoma termasuk jenis tumor
yang tumbuh lambat. Sering terjadi invasi local ke jaringan sekitar tetapi jarang
bermetastasis ke luar thoraks. Kebanyakan terjadi setelah usia lebih dari 40 tahun dan
jarang dijumpai pada anak dan dewasa muda.
Gambaran Radiologis:
1. Foto x-ray thoraks
Pada foto x-ray thymus terutama anak-anak, kita dapat melihat adanya :
 Sail sign adalah lobus kanan thymus yang berbentuk segitiga dan
sedikit bulat dengan dasar yang berbatas tegas dikarenakan fisura
minor.
 Thymic wave sign adalah indentasi dari thymus normal pada anak
kecil oleh tulang iga yang menyebabkan batas yang bergelombang.
 Thymic notch adalah indentasi pada batasan antara thymus dan
jantung.
 Loss of retrosternal clear space
 Selain itu, kita dapat melihat hilum overlay sign yang mana
vaskularisasi hilus di sekitar massa mediastinum masih tampak yang
berarti bahwa massa bukan berasal dari hilus
 Pada foto thoraks lateral akan tampak bagian retrosternal yang tidak
lagi bersih karena terdapat massa di anterior mediastinum dan anterior
junction line juga menjadi tidak jelas.

Gambar. Tampak posteroanterior. Pria dengan usia dengan hypogammaglobulinemia,dengan


gambaran large encapsulated thymoma yang dilihat dari mediatinum kanan. Yang mana terdapat
kesalahan untuk prominent kanan konturjantung.

Gambar. Laki-laki usia 51 tahun, dengan riwayat memiliki mystenia gravis. A. Gambaran posterior.
Thynoma dengan bentuk oval kecil di medial kanan hilus. B. Gambaran lateral. Tumor
Gambar. Wanita usia 65 tahun, dengan infasive 4.5 cm Thymoma kalsifikasi central. A. Gambaran
posteroanterior. Extra shadow sepanjang garis jantung kanan tidak menampilkan gambaran thymoma.
B. Posteroanterior 4 tahun kemudian. Tampak bayangan shadow prominent. C. Gambaran lateral.
Tampak densitas pada mediastinum anterior granuloma klasifikasi. D. Gambaran posteroanterior 1
tahun setelah gambaran B dan C. Thymoma semakin membesar dan sekarang berada diatas kanan
hilus. E. Gambaran lateral. Thymoma kalsifikasi central. F. Gambaran oblique kiri dikonfirmasi
dengan masa yang kalsifikasi. G. Radiografi specimen thymoma kalsifika

(A) (B)

Gambar .A. Foto x-ray thoraks posteroanterior menunjukkan massa di parahilar kanan (tanda panah).
B. Posisi lateral menunjukkan massa di bagian anterior dari rongga thoraks dan daerah retrostrernal
terganggu (tidak lagi bersih)
(A) (B)

Gambar A. Massa di mediastinal. Tampak lesi opak di parahilar kanan. B. Thymoma pada anak berusia 10
tahun. Tampak gambaran thymic wave sign (garis hijau).

2. CT-SCAN

Pada CT-scan, thymoma biasanya bermanifestasi sebagai jaringan lunak di mediastinum


anterior, ukurannya bisa berbagai macam, dengan batas yang halus maupun tegas. Thymoma
dapat muncul di dekat great vessels dan pericardium dan yang lebih jarang di sudut
kardiofrenikus dan jarang di leher.

CT-Scan thoraks potongan sagittal menunjukkan lesi hiperdens pada anterior mediastinum yang
merupakan thymoma. B CT-Scan thoraks potongan aksial menunjukkan lesi hiperdens pada anterior
mediastinum berbatas tegas pada thymoma. C. CT-scan thoraks potongan aksial menunjukkan massa di
mediastinum anterior (tanda panah) pada kasus thymoma. D. CT-scan thoraks potongan aksial dengan
kontras pada pasien wanita 40 tahun dengan thymoma yang mengalami myasthenia gravis menunjukkan
gambaran massa mediastinal anterior yang berbatas tegas.
o Tumor Sel Germinal

Tumor sel germinal terdiri dari tumor seminima, teratoma, dan nonseminoma. Tumor
sel germinal di mediastinum lebih jarang ditemukan daripada timoma, lebih sering
pada laki – laki dan usia dewasa muda. Lokasi terbanyak di mediastinum anterior.
Secara histologist sama dengan tumor sel germinal di testis dan ovarium.

Gambar. Tumor mixed germ-cell. A. Radiografi dada. Massa besar mengandung sedikit kalsifikasi (panah)
sehingga mendorong jantung dan trachea terdorong ke hemithorax kanan. Multiple nodul pulmonary. Efusi
pleura kiri.

o Teratoma

Adalah tumor sel germinal yang paling sering ditemukan diikuti seminoma. Teratoma
adalah tumor yang terdiri dari jaringan yang asing bagi organ maupun daerah anatomi
tempat ia tumbuh. Teratoma mungkin berasal dari sel residual yang tertinggal ketika
gonads melewati mediastinum pada perkembangan embrionik atau dari sel yang
pluripotent dan berasal dari mediastinum "native".Tumor ini dapat berbentuk kista
atau padat atau campuran keduanya yang terdiri dari lapisan sel germinal yaitu
ektoderm, mesoderm, atau endoderm. Jaringan ectodermal seperti kulit, rambut,
kelenjar keringat, gigi lebih sering. Jaringan mesodermal seperti lemak, tulang rawa,
tulang, smooth muscle lebih jarang. Teratoma matur merupakan tumor sel germinal
mediastinum tersering dan biasanya jinak. Teratoma intrathoraks biasanya muncul
dalam rongga mediastinum dan sangat jarang di paru. Sebagian besar tumor tersebut
bersifat jinak walaupun ada yang bersifat ganas. Teratoma lebih banyak terdapat pada
anak-anak.
 Gambaran Radiologis
 Foto x-ray thoraks

Teratoma tampak bulat dan sering lobulated dan mengandung jaringan lunak dengan
elemen cairan dan lemak. Biasanya ukurannya besar. Sekitar 20% dari teratoma tampak
kalsifikasi karena mereka mengandung elemen seperti tulang dan gigi.

(A) (B)

Gambar A. Foto x-ray thoraks posteroanterior menunjukkan lesi opak dengan batas yang jelas di bagian bawah
mediastinum anterior. B. foto x-ray thoraks lateral menunjukkan massa yang mengokupasi anterior bawah
mediastinum yang berbatas jelas.

 CT-SCAN
CT-scan thoraks terkadang menunjukkan massa yang berisikan lemak dengan kalsifikasi.

(A) (B)
Gambar . A. CT-scan thoraks potongan aksial menunjukkan massa mediastinal kiri hipodens di anterior yang
berbatas tegas dengan kalsifikasi dan lemak di dalamnya. B. CT-scan thoraks potongan aksial menunjukkan
massa mediastinal anterior kiri bersepta yang mengandung elemen lemak dan tulang.

o Choriocarsinoma

Gambar Choriocarcinoma. A. Radiografi Thorax. Massa besar (panah) pada hilus kiri; nodul paru
bilateral; efusi pleura kiri. B. CT-Scan setelah pemberian kontras media. Inhomogen massa pada mediastinum
anterior hingga dinding dada anterior. Penurunan densitas pada daerah sentral dengan massa. Pembesaran
aortapulmonary. C. CT-Scan yang sama dengan gambar B setelah melakukan 5 kali kemoterapi. Massa pada
mediastinum (-). Necrotic post operasi. Massa hemoragic dengan tumor pada lobus kiri tymus.

 Tumor Mediastinum Medial

Mediastinum medial terdiri dari struktur sebagai berikut: lymph nodes, trakea,
esophagus, vena azygos, vena cava, jantung posterior and the aortic arch. Mayoritas
massa di mediastinal medial terdri dari duplikasi kista di foregut (contoh: duplikasi
oesophageal atau bronchogenic cysts) atau lymphadenopathy. Anomali pada aortic
arch dapat tampak sebagai massa di mediastinal medial.Lesi yang mengandung
cairan biasanya merupakan duplikasi kista atau nekrosis lymph nodes.

Pada foto konvensional massa di mediastinal medial kita mencari:


 Pelebaran dari paratrakeal.
 Garis pseudoparavertebra di sebelah kiri.
 Adanya displaced dari azygoesophageal line
 Massa pada posterior trakea.
 Lateral “doughnut”
(A) (B)
Gambar 26. A. Foto x-ray thoraks PA menunjukkan azygoesophageal recess normal. B.
Tampak pelebaran azygoesophageal recess di kanan dan pelebaran paravertebral
line di kiri. Pada foto x-ray thoraks lateral tampak massa di anterior dari tulang
belakang yang berarti massa terletak di mediastinal medial.
o Limfoma
Limfoma merupakan massa yang paling sering mengokupasi mediastinum di area
medial. Limfoma terdiri dari berbagai macam kelompok neoplasma yang berasal dari
proliferasi malignant limfosit di sistem limfoid.
Limfoma dapat terjadi akibat mutasi genetik maupun infeksi virus. Transfomasi
malignant menghasilkan sel dengan pertumbuhan tidak terkontrol dan berlebihan yang
berakumulasi di kelenjar getag benting sehingga membentuk massa. Limfoma biasanya mulai
di kelenjar getah bening maupun jaringan limfoid di lambung dan usus. 
Hodgkin Lymphoma merupakan lymphoma malignant yang terjadi dengan median
usia 38 tahun. Lebih banyak terjadi pada orang putih dibanding orang hitam. Karakteristiknya
adalah progresi dari satu kelompok lymph nodes ke tempat lainnya dan munculnya gejala
sistemik, serta adanya Reed Sternberg cells pada gambatan histopatologis. Terapinya adalah
kemoterapi, irradiation, dan transplan stem cell.
Non-Hodgkin Lymphoma termasuk dalam B-cell neoplasms. Median usia penderita
adalah 68 tahun. Limfadenopati dapat terjadi secara generalized maupun localized. Biopsy
adalah alat diagnosis utama.
Gambaran Radiologis
Foto x-ray Thoraks dan CT-Scan

Gambar . Klinis: Hodgkin’s disease pada laki-laki berusia 20 tahun dengan low grade fever. A. Foto x-ray
thoraks posteroanterior menunjukkan pelebaran mediastinum medial dan superior (tanda panah). B. Foto x-ray
thoraks lateral menunjukkan massa mediastinum di retrosternal space. C. CT-scan thoraks potongan aksial
dengan kontras menunjukkan vena brakiosefali (In V), aorta (Ao), dan trakea (T) yang dibungkus oleh massa
kelenjar getah bening. Pada gambaran CT-scan ini, tampak massa di kanan thoraks berada di anterior dan
medial mediastinum.
o Kista Duplikasi
Kista duplikasi Terserang yang perkembangan berasal dan diklasifikasikan sebagai kista
foregut yang baik bronkogenik atau neurenteric. Terserang kista duplikasi jarang terjadi.
Banyak asimtomatik, tetapi mereka dapat menyebabkan disfagia, nyeri, atau gejala lain
karena kompresi struktur yang berdekatan. Mayoritas terdeteksi
pada bayi atau anak-anak, biasanya berdekatan atau dalam dinding esofagus. lambung
ektopik mukosa dalam kista dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi
kista, atau infeksi. penampilan mereka di CT atau MRI adalah identik dengan
kista bronkogenik kecuali bahwa dinding lesi mungkin lebih tebal dan berhubungan
lebih intim dengan esofagus (Gambar 5). Hasil Pemeriksaan barium akan menunjukkan
ekstrinsik atau intramural kompresi karena untuk menutup kontak dengan esofagus.
Pemindaian radionuklida dengan penggunaan Tc-99m natrium pertechnetate mungkin
membantu pada pasien anak, di 50% di antaranya toraks kista duplikasi mengandung
mukosa lambung ektopik.

Gambar. Duplications cyst pada anak-anak perempuan dengan batuk. (a).Gambaran dada radiograpy yang
menunjukkan peningkatan bayangan opak disekitarnya pada azygoesophageal. (b).Kontras-enchanded CT scan
menunjukkan thin-walles water-attenuation cyst pada osophagus.

o Kista Pericardial
Perikardial (mesothelial) kista hasil dari penyimpangan dalam pembentukan selom
(somatik) rongga. Dinding kista terdiri dari ikat jaringan dan satu lapisan sel mesothelial
(Gambar. 6), dan mereka biasanya mengandung cairan bening. Perikardial kista yang
selalu terhubung ke perikardium, tetapi pada operasi, hanya beberapa kasus
menunjukkan terlihat komunikasi dengan kantong pericardial. Itu Mayoritas kista
perikardial muncul di anterior sudut cardiophrenic, lebih sering di sebelah kanan

Gambar. Kista pericardial pada laki-laki usia 37 tahun. (a). Gambaran radigrafi yang tajam pada are
yangmeningkat opacsitas pada sudut chardiophrenic kanan. (b). Gambaran US menunjukkan anechoic kista
yang berhubungan dengan pericardium. (c). kontras-enhanced CT scan menunjukkan thin-walled water-
attenuation kista. (d). Photomicrograms menunjukkan dinding kista menunjukkan lembaran yang panjang
berisikan jaringan fibrosa dengan sel mesotelial.
 Tumor Mediastinum Posterior

Pada mediastinum terdapat struktur yaitu ganglia simpatis, nodus limfe, duktus
thoraksikus, descending aorta thoraksikus, vertebra. Kebanyakan massa yang berlokasi di
mediastinum posterior yaitu mediasitnum posterior. Dapat muncul dari ganglia simpatis
(neuroblastoma) atau dari akar saraf (schwanoma).

Pada radiografi konvensional ditemukan ciri – ciri sebagai berikut yaitu:

 Cervicothoracic sign.

Mediastinum anterior akan terhenti pada level di atas dari klavikula superior. Jika, massa
tersebut meluas di atas dari klavikula superior, akan berlokasi di leher atau di mediastinum
posterior. Jika jaringan paru terletak di antara massa dan leher, kemungkinan massa berada
pada mediastinum posterior. Hal ini dikenal dengan cervicothoracic sign.

1. Neuroblastoma
Neuroblastoma adalah neoplasma yang berasal dari neural crest cell.
Neuroblastoma merupakan tumor extracranial yang paling sering terjadi pada
anak- anak, sekitar 95% terjadi pasien anak-anak <5 tahun. Neuroblastoma adalah
tumor yang agresif dan dengan cepat mengalami metastasis. Massa ini tidak
berkaspul dan biasa menunjukkan degenrasi kistik, perdarahan, dan nekrosis.
Gambaran Radiologis

Foto x-ray Thoraks

Tampak massa di dada, bisa juga terlihat kalsifikasi, dan erosi tulang.

(A) (B)

Gambar . A. Foto x-ray thoraks lateral menunjukkan massa di mediastinum posterior. B. Foto x-ray thoraks PA
menunjukkan massa di kanan atas rongga dada.

CT-Scan

Terlihat massa yang berbatas tegas, invasive, dapat terlihat gambaran nekrosis, kalsifikasi,
atau hemorrhage.
Gambar 40. Potongan aksial pada CT-scan thoraks A, B, C dan potongan coronal D menunjukkan massa yang
melewati beberapa interspaces. Tampak kalsifikasi massa di mediastinum posterior yang sudah menginvasi
kanal vertebrae.

2. Bronchogenic cyst

Gambar. Kista bronkogenik. (a) radiografi Posteroanterior dada menunjukkan subcarinal sebuah kelainan
dengan peningkatan opacity (*), splaying dari karina, dan konveksitas abnormal atas dan pertiga tengah
garis azygoesophageal (panah). (b) CT Scan korespondensi membantu mengkonfirmasi massa subcarinal
(panah), yang terbukti menjadi kista bronkogenik.

3. Paraspinal Absess
Gambar. Abses paraspinal. (a) radiografi Posteroanterior dada menunjukkan massa (panah) merendahkan
garis paraspinal kiri. Dinding lateral aorta turun dipandang sebagai entitas yang terpisah (panah). (b) CT
scan menunjukkan abses paraspinal (panah) menonjolkan garis paraspinal. ber The antarmuka jaringan
lunak antara paru-paru dan aorta tetap utuh (panah), sehingga melestarikan penampilan yang normal
radiografi dinding aorta lateral.

4. Aneurisma aorta descendens

Gambar. Descending aneurisma aorta. (a) radiografi Posteroanterior dada menunjukkan perpindahan
lateraldari margin lateral aorta toraks turun karena adanya aneurisma aorta (panah). (b) CT scan juga
menunjukkan aneurisma (panah)