Anda di halaman 1dari 32

3.

Pemeriksaan radiologi yang dipilih pada kasus emergensi serta jelaskan apa
gambarannya!
a. Stroke hemoragik dan stroke non hemoragik

stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah
otak. pemeriksaan radiologi yang dipilih adalah CT-scan kepala umutuk mengetahui
lokasi dan luasnya perdarahan dan juga untuk memperlihatkan adanya edema hematoma,
iskemia, dan adanya infark.

 Gambaran CT-scan pada pasien stroke hemoragik

Gambar 1.Gambaran hiperdens pada ruang subarachnoid dengan edema cerebri

Gambar 2. Perdarahan cerebellum kiri

Stroke non hemoragik (iskemik) adalah sindrom yang disebabkan oleh gangguan
peredaran darah otak. Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat
emo=bolidan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat. Pemeriksaan
radiologi yang dipilih biasanya CT-Scan karena dengan CT-Scan dapat memperlihatkan
secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau
iskemia, dan posisinya secara pasti.

 Gambaran CT-Scan pada pasien stroke non hemoragik

Gambar 3. Gambaran lesi hipodens bebentuk baji luas pada hemisfer dekstra sesuai
dengan area A.cerebri media disertai midline shift, sesuai gambaran stroke onfark
emboli

b. Trauma tumpul toraks (pneumotoraks, pneumomediastinum, emfisema


subkutis, fraktur tulang dinding dada)

Gambaran Pneumotoraks
Untuk mendiagnosis pneumotoraks pada foto thoraks dapat ditegakkan dengan
melihat tanda-tanda sebagai berikut :
- Adanya gambaran hiperlusen avaskular pada hemitoraks yang mengalami
pneumotoraks. Hiperlusen avaskular menunjukkan paru yang mengalami
pneumothoraks dengan paru yang kolaps memberikan gambaran radioopak.
Bagian paru yang kolaps dan yang mengalami pneumotoraks dipisahkan oleh
batas paru kolaps berupa garis radioopak tipis yang berasal dari pleura
visceralis, yang biasa dikenal sebagai pleural white line.
-
Gambar 1. Tanda panah menunjukkan pneumothorax line.

Gambar 2. Foto Rö pneumotoraks (PA), bagian yang ditunjukkan dengan anak


panah merupakan bagian paru yang kolaps.
- Untuk mendeteksi pneumotoraks pada foto dada posisi supine orang dewasa maka
(11)
tanda yang dicari adalah adanya deep sulcus sign. Normalnya, sudut
kostofrenikus berbentuk lancip dan rongga pleura menembus lebih jauh ke bawah
hingga daerah lateral dari hepar dan lien. Jika terdapat udara pada rongga pleura,
maka sudut kostofrenikus menjadi lebih dalam daripada biasanya. Oleh karena itu,
seorang klinisi harus lebih berhati-hati saat menemukan sudut kostofrenikus yang
lebih dalam daripada biasanya atau jika menemukan sudut kostofrenikus menjadi
semakin dalam dan lancip pada foto dada serial. Jika hal ini terjadi maka pasien
sebaiknya difoto ulang dengan posisi tegak. Selain deep sulcus sign, terdapat
tanda lain pneumotoraks berupa tepi jantung yang terlihat lebih tajam. Keadaan ini
biasanya terjadi pada posisi supine di mana udara berkumpul di daerah anterior
tubuh utamanya daerah medial.

Gambar 3. Deep sulcus sign (kiri) dan tension pneumotoraks kiri disertai deviasi
mediastinum kanan dan deep sulcus sign (kanan).
(dikutip dari kepustakaan 7)
- Jika pneumotoraks luas maka akan menekan jaringan paru ke arah hilus atau paru
menjadi kolaps di daerah hilus dan mendorong mediastinum ke arah kontralateral.
Jika pneumotoraks semakin memberat, akan mendorong jantung yang dapat
menyebabkan gagal sirkulasi. Jika keadaan ini terlambat ditangani akan
menyebabkan kematian pada penderita pneumotoraks tersebut. Selain itu, sela iga
menjadi lebih lebar.
Gambar 4. Pneumotoraks kanan (kiri) dan tension pneumotoraks (kanan).
- Besarnya kolaps paru bergantung pada banyaknya udara yang dapat masuk ke
dalam rongga pleura. Pada pasien dengan adhesif pleura (menempelnya pleura
parietalis dan pleura viseralis) akibat adanya reaksi inflamasi sebelumnya maka
kolaps paru komplit tidak dapat terjadi. Hal yang sama juga terjadi pada pasien
dengan penyakit paru difus di mana paru menjadi kaku sehingga tidak
memungkinkan kolaps paru komplit. Pada kedua pasien ini perlu diwaspadai
terjadinya loculated pneumothorax atau encysted pneumothorax. Keadaan ini
terjadi karena udara tidak dapat bergerak bebas akibat adanya adhesif pleura.
Tanda terjadinya loculated pneumothorax adalah adanya daerah hiperlusen di
daerah tepi paru yang berbentuk seperti cangkang telur.
Foto dada pada pasien pneumotoraks sebaiknya diambil dalam posisi tegak
sebab sulitnya mengidentifikasi pneumotoraks dalam posisi supinasi. Selain itu, foto
dada juga diambil dalam keadaan ekspirasi penuh.
Gambar 5. Pneumotoraks kanan yang berukuran kecil dalam keadaan inspirasi (kanan)
dan dalam keadaan ekspirasi (kiri).
Ekspirasi penuh menyebabkan volume paru berkurang dan relatif menjadi
lebih padat sementara udara dalam rongga pleura tetap konstan sehingga lebih mudah
untuk mendeteksi adanya pneumotoraks utamanya yang berukuran lebih kecil. Perlu
diingat, pneumotoraks yang terdeteksi pada keadaan ekspirasi penuh akan terlihat
lebih besar daripada ukuran sebenarnya.

Gambaran Pneumomediastinum
Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi jantung, mulai
dari basis sampai ke apeks. Hal ini terjadi apabila pecahnya fistel mengarah
mendekati hilus, sehingga udara yang dihasilkan akan terjebak di mediastinum.
 Garis tipis radiolusen menunjukkan adanya gas bebas, yang mungkin dapat
terlihat vertikal ( sepanjang sisi kiri jantung), retrosternal prekardial atau mengelilingi
trakea. Gambaran khas pneumomediastinum yang dapat terlihat dari pemeriksaan
radiografi dada tersebut, yaitu garis udara sepanjang struktur anatomis sepanjang
mediastinum termasuk “thymic sail sign”, “tanda cincin yang mengitari
arteri”, tubular artery sign, double bronchial sign, diafragma yang menyambung dan
tanda ekstrapleural (gambar 6).
Gambar 6. Pneumomediastinum
- Pada gambar 6, radiograf dada yang menunjukkan pneumomediastinum seperti
subkutan emfisema pada seorang wanita yang diintubasi karena gagal nafas.
- Cincin yang mengelilingi arteri (artery tubular), sebuah area radiolusen yang dapat
terlihat mengelilingi arteri pulmonalis kanan pada radiograf dada lateral.
- Thymic sail (spinnaker) sign, pada bayi dengan pneumomediastinum, lobus thymic
terangkat ke atas membentuk spinnaker yang penuh. Udara dalam mediastinum yang
cukup banyak dapat membuat timus dapat terangkat dan menghasilkan thymic sail’s
sign.

Gambar 7. Thymic sail’s sign pada foto thorax bayi dengan respiratory distress
syndrome, memperlihatkan lobus thymus yang terangkat.
Untuk melihat perluasan udara ke perikardium (pneumoprecardium)
dibutuhkan foto thorax lateral.

Gambar 8. Gambaran pneumopericardium pada foto thorax pasien post-tonsilektomi,


yang memperlihatkan pita radiolusen yang memisahkan bagian anterior pericardium
dari sternum
Gambaran Emfisema subkutan
Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam dibawah kulit. Hal
ini biasanya merupakan kelanjutan dari pneumomediastinum. Udara yang tadinya
terjebak di mediastinum lambat laun akan bergerak menuju daerah yang lebih tinggi,
yaitu daerah leher. Disekitar leher terdapat banyak jaringan ikat yang mudah ditembus
oleh udara, sehingga bila jumlah udara yang terjebak cukup banyak maka dapat
mendesak jaringan ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada depan dan belakang.

Gambar 9. Emfisema subkutan.


Gambaran fraktur tulang dinding dada
Fraktur iga sering sekali tidak terdeteksi pada rontgen thoraks disebabkan fraktur
“undisplaced “ atau fraktur dengan “displaced “ yang minimal.

Gambar 10. Fraktur costae bagian atas

Pada gambar 10 Foto thoraks PA tegak tampak fraktur multiple pada costa bagian
atas dan efusi pleura kanan bawah tampak juga pneumothoraks kanan yang telah di
tindaklanjuti dengan pemasangan “chest tube thoracostomy” (ctt).

Gambar 11. Fraktur costae bagian atas


Pada gambar 10 Ro thoraks AP menunjukan multiple fraktur costa bagian
bawah dan emphysema subcutis sepanjang dinding lateral bawah thoraks kiri
hemidiaphragma kiri tidak tampak disebabkan efusi pleura dan atelektasis lobus
bawah paru kiri.
c. Trauma tumpul abdomen
Gambaran pneumoperitoneum
Teknik radiografi yang optimal penting pada kecurigaan preforasi abdomen.
Paling tidak diambil 2 foto , meliputi foto abdomen posisi supine dan foto Thorax
posisi erect atau left lateral dekubitus. Udara bebas walaupun dalam jumlah yang
sedikit dapat terdeteksi pada foto polos. Pasien tetap berada pada posisi tersebut
selama 5-10 menit sebelum foto diambil.

Gambar. Foto abdomen posisi supine, foto dada posisi erect dan left lateral dekubitus (LLD)

Pada foto polos abdomen atau foto Thorax posisi erect, terdapat gambaran
udara (radiolusen) berupa daerah berbentuk bulan sabit (Semilunar Shadow)
diantara diafragma kanan dan hepar atau diafragma kiri dan lien. Juga bisa tampak
area lusen bentuk oval (perihepatik) di anterior hepar. Pada posisi lateral dekubitus
kiri, didapatkan radiolusen antara batas lateral kanan dari hepar dan permukaan
peritoneum. Pada posisi lateral dekubitus kanan, tampak Triangular Sign seperti
segitiga yang kecil-kecil dan berjumlah banyak karena pada posisi miring udara
cenderung bergerak ke atas sehingga udara mengisi ruang-ruang di antara incisura
dan dinding abdomen lateral. Pada proyeksi abdomen supine, berbagai gambaran
radiologi dapat terlihat yang meliputi Falciform Ligament Sign dan Rigler`S Sign.
Proyeksi yang paling baik adalah lateral dekubitus kiri,rujuk gambar 3,
dimana udara bebas dapat terlihat antara batas lateral kanan dari hepar dan
permukaan peritoneum. Posisi ini dapat digunakan untuk setiap pasien yang sangat
kesakitan. 

Posisi Lateral dekunitus kiri. Terdapat udara bebas diantara dinding abdomen dengan hepar (panah putih). Ada
cairan bebas di rongga peritoneum (panah hitam).

Gambaran linier (anterior subhepatic space air )


Foto posterior subhepatic space air (Morrison’s pouch, gambaran triangular )

Foto anterior ke permukaan ventral dari hepar

Tanda peritoneum pada foto polos diklasifikasikan menjadi pneumoperitoneum


dalam jumlah kecil dan pneumoperitoneum dalam  jumlah besar yang dengan >1000
mL udara bebas. Gambaran pneumoperitoneum dengan udara dalam jumlah besar
antara lain:
1) Football Sign, rujuk gambar 7, yang biasanya menggambarkan pengumpulan
udara di dalam kantung dalam jumlah besar sehingga udara tampak
membungkus seluruh kavum abdomen, mengelilingi ligamen falsiformis
sehingga memberi jejak seperti gambaran bola kaki.

Football sign
2) Gas-Relief Sign, Rigler Sign, dan Double Wall Sign yang memvisualisasikan
dinding terluar lingkaran usus disebabkan udara di luar lingkaran usus dan
udara normal intralumen.

Rigler Sign
3) Urachus merupakan refleksi peritoneal vestigial yang biasanya tidak terlihat
pada foto polos abdomen. Urachus memiliki opasitas yang sama dengan
struktur jaringan lunak intraabdomen lainnya, tapi ketika terjadi
pneumoperitoneum, udara tampak melapisi urachus. Urachus tampak seperti
garis tipis linier di tengah bagian bawah abdomen yang berjalan dari kubah
vesika urinaria ke arah kepala. Dasar urachus tampak sedikit lebih tebal
daripada apeks.

Gambaran urachus

4) Ligamen umbilical lateral yang mengandung pembuluh darah epigastrik


inferior dapat terlihat sebagai huruf ‘V’ terbalik di daerah pelvis sebagai
akibat pneumoperitoneum dalam jumlah banyak.

5) Telltale Triangle Sign menggambarkan daerah segitiga udara diantara 2


lingkaran usus dengan dinding abdomen.
Telltale triangle sign

6) Udara skrotal dapat terlihat akibat ekstensi intraskrotal peritoneal (melalui


prosesus vaginalis yang paten).
7) Cupola Sign mengacu pada akumulasi udara di bawah tendon sentral
diafragma

Gambar 11. The Sign Cupola


8) Udara di dalam sakus kecil dapat terlihat, terutama jika perforasi dinding
posterior abdomen.

cupola sign (panah putih) dan lesser sac gas sign (panah hitam).

9) Tanda obstruksi usus besar parsial dengan perforasi divertikulum sigmoid


dapat terjadi yang berkaitan dengan tanda pneumoperitoneum

Udara bebas intraperitoneal tidak terlihat pada sekitar 20-30% yang lebih
disebabkan karena standardisasi yang rendah dan teknik yang tidak adekuat. Foto
polos abdomen menjadi pencitraan utama pada akut abdomen, termasuk pada
perforasi viskus abdomen.
Tidak jarang pasien dengan akut abdomen dan dicurigai mengalami perforasi
tidak menunjukkan udara bebas pada foto polos abdomen. Diagnosis banding
biasanya meliputi kolesistitis akut, pankreatitis, dan perforasi ulkus. Sebagai
tambahan pemeriksaan untuk mengopasitaskan saluran cerna, sekitar 50mL kontras
terlarut air diberikan secara oral atau lewat NGT pada pasien dengan posisi
berbaring miring ke kanan.
Gambaran Hematoperitonium

Ultrasound
Ultrasound memegang peranan penting sebagai modalitas diagnostic dan
resusitasi untuk pasien dengan trauma atau yang kerap dikenal sebagai FAST
(Focused Assessment with Sonography in Trauma). Evaluasi ultrasound terhadap
pasien dengan trauma sangatlah menguntungkan karena dapat dilakukan dengan
cepat secara bedside, akurat untuk memastikan adanya penumpukan cairan pada
rongga abdomen, tidak invasive, dan tidak membutuhkan radiasi pengion ataupun
kontras untuk melakukannya.
Penumpukan cairan pada rongga abdomen akan memberikan gambaran echoic
yang echogenisitasnya beragam tergantung jenis cairannya sehingga dapat
diamati fluid-fluid level bila beberapa cairan mengisi rongga abdomen.

a. b.
a) panah putih menunjukkan liver, panah hitam menunjukkan ginjal kanan,
panah abu-abu menunjukkan morison pouch, panah putus-putus menunjukkan
diafragma. b) positif cairan bebas di hepalateral space. Panah putih menunjukkan
cairan di morison’s pouch

Gambaran laserasi organ padat

Salah satu laserasi organ padat adalah rupture ginjal. Tingkat keparahan pada
trauma ginjal sangat beraneka ragam, oleh karena itu terdapat kemungkinan terdeteksi
dengan USG. Ada keadaan dimana ruptur ginjal disebabkan oleh trauma langsung,
sehingga akan didapatkan darah dan/atau urin yang mengalami ekstravasasi ke
perinephric space. Cairan-cairan tersebutlah yang akan diidentifikasi oleh ultrasound.
Jika terdapat urin maupun hematoma yang banyak dapat dilakukan drainase secara
percutaneus.

Penggunaan USG Doppler berwarna juga dapat sangat berguna untuk


mendiagnosis ruptur ginjal. Pada pemeriksaan USG Doppler, akan terlihat seperti
semburan (jet effect) pada bagian sisi ginjal yang ruptur ketika ada sedikit kompresi
oleh urinoma.

Penampakan ruptur ginjal spontan. (a,b) terlihat defek berdiameter 4.5 mm


pada pelvis renali. (c) penampakan USG Doppler berwarna, terlihat aliran warna pada
ginjal yang berhubungan dengan kompresi oleh urinoma

d. Appendisitis

Kriteria ultrasonografi pada kasus appendik acut adalah appendik tidak dapat
dikompresi sehingga diameter lebih dari 7 mm dengan tebal dinding lebih dari 2 mm, tipe eko
pada lumen adalah hypoechoid. Kemungkinan terdapatnya batu pada appendik, dan cairan
disekitar ujung appendik sehingga terjadi ruptur. Gambaran peristaltik dapat membedakan
antara secum dan ileum. Jika appendik terletak di retrosecal maka akan sangat sulit untuk
mengambil gambaran. Pada color doppler ultrasonografi, appendik normal tidak terlihat.
hanya sedikit sinyal color doppler yang terjadi,ini menandakan adanya kenaikan vaskularitas
pada dinding appendik atau fossa iliaca kanan pada appendik acut.

Dengan menggunakan frekuensi ultrasonografi resolusi tinggi diharapkan dapat


mengurangi angka appenditomi tanpa appendicitis dan juga perforasi. Untuk mendapatkan
keakuratan ultrasonografi yang baik maka harus memiliki banyak pengalaman dan juga
keterampilan. Pemeriksaan appendik dengan menggunakan ultrasonografi merupakan
pemeriksaan tanpa menggunakan radiasi, dan pemeriksaan ini sangat terjangkau bagi pasien
penderita appendik. Kelebihan lainnya adalah lebih mudah mendiagnosa dengan
menggunakan ultrasonografi dibandingkan plain foto abdomen. CT Scan dan MRI lebih
akurat dan sensitif daripada ultrasonografi, karena dapat memfokuskan area pada appendik
dan dapat mendeteksi perbedaan tissue yang sangat halus. Tetapi pemeriksaan ini
membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Lokasi appendik berada pada kuadrat bawah kanan. Dapat dilihat dengan
menggunakan teknik resolusi tnggi ( 5-7 mHz ) dan dengan mengkompresi abdomen kuadrat
bawah kanan. Dengan menggunakan USG, memungkinkan dapat menemukan lebih dari 70%
kasus pada appendik, biasanya colap,tubulus tidak terisi cairan dengan diameter kurang dari 6
mm dan tebal dinding kurang dari 2 mm. Kasus appendik acut lebih mudah dideteksi karena
appendik tidak dapat dikompresi dengan ciri-ciri diameter lebih dari 7 mm dan tebal dinding
lebih dari 2 mm. Dengan tipe echo adalah hypoechoid, tetapi apabila appendik terletak di
retrocecal maka sangat sulit untuk mendapatkan gambarannya.

e. Ileus obstruksi dan paralitik


Ileus obstruksi
1. Ileus obstruksi usus halus
a. usus halus terlihat berdilatasi di sentral (herring bone appearance)
b. terdapat gambaran step ladder appearance
c. pada foto tegak terdapat gambaran air fluid level multipel (>3 loop)
d. udara dalam kolon biasanya jarang atau tidak ada sama sekali
e. gambaran string of beads/ pearls
Tampak dilatasi loop : (pada panah)
loop usus halus dibagian sentral
abdomen dengan gambaran “hearing
bone apperance”

Tampak distensi loop : (pada panah)


Loop usus halus dengan gambaran
“ step ladder apperance “

2. ileus obstruksi usus besar


a. usus besar terlihat berdilatasi di perifer
b. gambaran air fluid level sedikit
c. tidak terdapat gambaran udara di rektum bila obstruksi sudah
berlangsung lama
d. bila terdapat kecurigaan perforasi lakukan foto toraks tegak atau foto
lateral dekubitus
Gambar disamping menunjukan
dilatasi kolon hingga fissura
splenikus (tanda panah)

Ileus paralitik
 gambaran udara tampak pada seluruh usus baik usus halus maupun kolon
 lambung seringkal ikut distensi
 air fluid level lebih sedikit dibandingkan ileus obstruksi. Bila ada, biasanya
berbentuk memanjang.
 Gambaran udara di rektum/ kolon masih tetap ada.

f. Cedera Kepala Ringan (CKR), Cedera Kepala Sedang (CKS), Cedera Kepala Berat
(CKB)

Cedera kepala adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak, dan otak yang terjadi baik
secara langsung ataupun tidak langsung pada kepala yang dapat mengakibatkan terjadinya
penurunan kesadaran bahkan dapat menyebabkan kematiaan. Cedera kepala
dikelompokkan menjadi ringan, sedang dan berat berdasarkan tingkat kesadaran menurut
skor GCS, cedera kepala ringan (CKR) jika GCS 14–15, cedera kepala sedang (CKS) jika
GCS 9–13, dan cedera kepala berat (CKB) jika GCS 3–8. Pemeriksaan radiologi yang
dilakukan CT-Scan
 Gambaran CT-Scan pada pasien cedera kepala

Gambar. Perdarahan epidural yang terjadi pada lobus frontalis kanan

Perdarahan epidural secara primer (85%) berasal dari laserasi pembuluh arteri
terutama arteri meningeal media yang disebabkan oleh fraktur tengkorak

Gambar. Perdarahan subdural

Perdarahan subdural merupakan penumpukan darah di bawah lapisan


duramater tetapi masih diluar dari otak dan lapisan araknoid. Gambaran perdarahan
subdural pada CT Scan menyerupai bentuk bulan sabit / crescent. Selain itu, pada
perdarahan subdural, darah dapat melewati garis sutura.
Gambar. Perdarahan Subaraknoid

Perdarahan subaraknoid didefinisikan sebagai adanya darah pada ruang


subaraknoid yang normalnya berisi cairan serebrospinal. Gambaran hiperdens darah
pada CT Scan dapat terlihat dalam waktu beberapa menit setelah terjadi perdarahan.
Perdarahan subaraknoid paling sering disebabkan oleh rupturnya aneurisma otak dan
arteriovenous malformasi.

Gambar.Perdarahan Intraparenkim

Perdarahan dengan diameter 5mm dapat dideteksi pada pemeriksaan CT Scan


kepala. Perdarahan intraparenkim dapat diikuti dengan terjadinya edema yang
akhirnya menyebabkan terkompresinya jaringan otak di sekitarnya. Parenkim otak
yang bergeser ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial yang
berpotensial menyebabkan sindrom.

g. Tertelan benda asing


Foto rontgen toraks adalah pemeriksaan utama pada anak-anak
dengan gejala gangguan pernapasan yang persisten dan berat. Pada 30%
kasus aspirasi benda asing, pemeriksaan rontgen tidak memperlihatkan
adanya kelainan. Pada hasil foto rontgen yang positif terdapat gambaran
hiperlusen pada paru, atelektasis, kombinasi emfisema dan atelektasis
pada paru-paru, serta infiltrat paru. Gambaran hiperlusen (obstruktif
emfisema) paling sering ditemukan pada aspirasi benda asing. Gambaran
benda asing berupa radioopak pada foto rontgen ditemukan pada 1 dari 3
kasus. Pada anak-anak gambaran radiolusen unilateral sering ditemukan
dan merupakan akibat dari posisi pasien yang kurang tepat atau
nonkooperatif.
Pada 24 jam pertama sering pemeriksaan radiologi tidak
menunjukkan kelainan. Gambaran radiologi yang dijumpai dapat berupa
gambaran normal, air trapping, atelektasis, pneumonia, kolaps paru,
konsolidasi dan benda asing radioopak. Hasil Rontgen toraks pada aspirasi
benda asing didapatkan gambaran paru normal 32%, kolaps paru 32%,
pergeseran mediastinum 20%, konsolidasi 20%, empisema 16%, dan
benda asing radioopak 6%. Giannoni CM7 mendapatkan hasil Rontgen
toraks normal 10% - 20%, atelektasis 22%, pneumonia 20%, benda asing
radioopak 13%, pada kasus aspirasi benda asing. Pada kebanyakan kasus
aspirasi pada anak-anak, benda asing pada pemeriksaan radiologi bersifat
radiolusen dan hanya 7% yang bersifat radioopak. Oleh karena itu
pemeriksaan radiologi terutama berguna untuk mendeteksi gejala yang
ditimbulkan oleh benda asing tersebut.
CT scan adalah modalitas yang dapat digunakan dalam penegakan
diagnosis aspirasi benda asing. Benda asing ditunjukkan dengan adanya
gambaran hiperdens pada lumen saluran pernapasan. CT scan juga dapat
memperlihatkan perbedaan densitas dari benda asing. Penemuan berupa
post obstruktif emfisema, kolaps, konsolidasi dan bronkiektasis juga dapat
didemonstrasikan dengan baik melalui CT scan. Selain itu, pemeriksaan
berupa bronkoskopi virtual menggunakan Multidetector Computed Tomography (MDCT)-
scan merupakan metode efektif untuk mendiagnosis benda asing radiolusen berupa sayuran
pada saluran trakeobronkial. Multi-detektor Computed Tomography (MDCT)
telah memungkinkan untuk mendapatkan gambar isotropik resolusi tinggi
di setiap potongan yang diinginkan. Sehingga dapat memperlihatkan
kelainan yang minimal sekalipun . Rekonstruksi multiplanar, proyeksi
intensitas minimum dari saluran napas dan bronkoskopi dapat sangat
membantu ahli bedah untuk merencanakan endoskopi.
Walaupun jarang dilakukan, pemeriksaan MRI juga bermanfaat untuk mendeteksi
benda asing yang tidak ditemukan pada saat pemeriksaan endoskopik atau jika migrasi dari
saluran nafas atau esofagus dicurigai. Penggunaan MRI lebih sering ditujukan pada kasus
kronik dan disertai komplikasi. Benda asing ditunjukkan dengan gambaran hipointensitas
atau signal void pada pemeriksaan MRI. Jaringan lunak disekitar benda asing dapat bersifat
hipointensitas atau hiperintensitas tergantung onset. MRI memiliki keunggulan berupa
noninvasif dan minim radiasi, tetapi memerlukan waktu yang lama, lebih mahal dan
kontraindikasi terhadap pasien dengan alat pacu jantung buatan. Di samping itu, penggunaan
MRI pada kasus benda asing yang bersifat feromagnetik dapat berbahaya karena dapat
menyebabkan benda asing berpindah akibat tertarik medan magnet. Karena itu, modalitas lain
lebih sering dikerjakan dalam kasus benda asing dibandingkan dengan MRI.

Gambar .Gambaran radioopak dari kawat gigi (dental bridge) di bronkus utama kanan.11

Gambar. Seorang laki-laki, usia 78 tahun, dengan demam dan klinis pneumonia pada
lobus bawah kanan setelah pemasangan intubasi. Foto chest X-ray posisi supinasi
menunjukkan adanya fragmen gigi (tanda panah) di lobus kanan bawah disertai infiltrat
paru di basal lobus kanan.
Gambar. Seorang anak berusia 3 tahun dengan keluhan sulit menelan sebelumnya
keluhan ini timbul setelah pasien mengatakan tertelan kelereng ketika bermain.
Pemeriksaan penunjang rontgen toraks PA dan posisi lateral menunjukkan adanya
perselubungan opak yang membantu mengarahkan kepada diagnosis corpus alienum

Gambar . Hasil CT menunjukkan adanya mediastinitis pada pasien dengan abses


odontogen. Kalsifikasi opak pada lumen bronkus segmental lobus kanan bawah dicurigai
sebagai benda asing. Dari hasil bronkoskopi didapatkan fragmen gigi.

Gambar. Seorang wanita, usia 69 tahun, dengan riwayat batuk 6 bulan sejak pasien
tersedak obat tablet. (2a) X-ray dada menunjukkan hiperlusen pada lapangan paru atas.
(2b) CT scan menunjukkan adanya air trapping pada bronkus utama kanan (tanda
panah).

h. Kolik renal dan kolik abdomen


USG merupakan teknik pencitraan yang akurat untuk diagnosis kolik renal dan
kolik abdomen.
Gambaran kolik renal
Diagnosis kolik renal ditandai dengan penemuan batu dan adanya tanda uropati
obstruktif berupa hidronefrosis, uterektasis, dan cairan perinefrik. Batu diidentifikasi
sebagai fokus hiperekogenik dengan adanya posterior shadow. Penemuan adanya
dilatasi traktus urinarius perlu dievaluasi lebih lanjut karena dilatasi tidak selalu
akibat obstruksi dan besarnya dilatasi tidak menunjukkan keparahan obstruksi.
Sensitivitas USG dalam mendiagnosis batu saluran kemih berkisar 24-57%
tergantung ukuran dan lokasi batu, sedangkan nilai spesifisitasnya mencapai 100%.
Fokus hiperekoik juga dapat akibat kalsifikasi vaskuler atau parenkim dan bekuan
pada arteri.Pemeriksaan USG harus mampu meliputi ureterovesical joint (UVJ) dan
ureter. Penemuan tidak langsung seperti edema UVJ dapat menjadi tanda adanya
evakuasi batu yang dapat mengkonfirmasi diagnosis kolik renal.
Gambaran ultrasonografi lain yang dapat membantu diagnosis adalah sebagai
berikut:
o Tidak ada, asimetri, atau penurunan ureteric jet dari muara ureter pada
pemeriksaan USG colour doppler. Namun, adanya ureteric jet positif tidak
menyingkirkan diagnosis batu ureter yang hanya menimbulkan obstruksi
parsial.
o Ditemukan twinkle artifact. Twinkle artifact merupakan suatu gambaran
sinyal multicolour di belakang batu pada teknik pemeriksaan USG
doppler.
o Peningkatan resistive index sebagai bukti obstruksi akut. Resistive index
merupakan perbandingan diameter ureter pada kondisi obstruksi dan non-
obstruksi yang ditandai dengan perbedaan sebesar 10% atau RI >0,70.
Gambar. Hidronefrosis ginjal kanan dengan dilatasi ureter

Gambar. Dilatasi ureter minimal akibat batu ureter 1/3 proksimal

Gambaran kolik abdomen

Salah satu diagnosis dari kolik abdomen adalah pankreatitis. Diagnosis


pankreatitis akut adalah apabila terjadi peningkatan volume regio pankreas,
perubahan struktural pada parenkim dan penurunan signifikan pada echo.
Peningkatan volume dinilai secara kualitatif dengan melihat adanya pergeseran dari
organ-organ abdomen (khususnya gaster dan colon transversus) dan secara
kuantitatif dengan mengukur diameter anteroposterior setinggi corpus pankreas.
Diameter yang lebih 24 mm dari normalnya pada lokasi ini merupakan tanda adanya
edema.

Adanya hipertropi, suatu tonjonlan dapat kita perhatikan pada dinding


abdomen. Gambaran parenkim dapat homogen maupun nonhomogen. Parenkim
yang non-homogen berhubungan dengan edema dan nekrosis, yang dapat
terlokalisasi atau konfluen. Pada edema yang baru terdapat tanda hipoechogenitas
dari regio pankreas.
Gambar. Pankreatitis Akut, Volume Pankreas secara umum bertambah. Diameter anteroposterior
membesar

Gambar. Cairan setinggi pelvis diantara ileal intestinal loop


Gambar. Kumpulan peripankreas.

Gambaran Ultasound wanita 74 tahun dengan pankreatitis akut ringan. Korpus dan kauda pankreas yang
hipoekoik karena edema pankreas anterior hingga duktus pankreatikus (panah).