Anda di halaman 1dari 4

Afra Hanifi Auly Avecenia

12.06.0048

TUGAS ESSAY PNEUMONIA PADA ANAK untuk dr Dian Saraswati Sp.A

Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran nafas bagian
bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan di praktek-praktek dokter atau rumah sakit
dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah yang
menyerang anak-anak dan balita hampir di seluruh dunia.

Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya


tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada dan
negara-negara Eropa.

. WHO memperkirakan angka kejadian (insidens) pneumonia di negara dengan angka


kematian bayi di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15% - 20% per tahun pada
golongan usia balita. Kejadian Pneumonia di Indonesia pada balita diperkirakan antara 10
% - 20% per tahun.

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dan bronkiolus
respiratorius, di alveoli serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan pertukaran gas
setempat
Mikroorganisme pneumonia bisa disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit.
Pada bayi dan anak anak penyebab yang paling sering adalah Respiratory Syncytial
Virus (RSV), adenovirus, virus parainfluenza, virus influenza, sedangkan pada anak umur
sekolah paling sering disebabkan bakteri Mycoplasma Pneumoniae. Bakteri penyebab
pneumonia yang paling sering adalah Streptococcus pneumoniae (pneumokokus),
Hemophilus influenza tipe b (Hib) dan Staphylococcus aureus.

Pneumonia berawal dari masuknya agen infeksius ke saluran pernapasan melalui


berbagai cara seperti inhalasi (melaui udara), hematogen (melaui darah), ataupun dengan
aspirasi langsung ke dalam saluran tracheobronchial Terdapatnya bakteri atau virus di
dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga
mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja
sebagai antimikroba yang non spesifik. Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka
mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang
pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Peradangan ini akan menyebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler paru yang mengakibatkan terjadinya perpindahan
eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema
antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan
jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini
dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen
hemoglobin.
Temuan pemeriksaan fisik dada pada pasien pneumonia tergantung dari luas lesi
paru. Pada inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas. Pada palpasi
didapatkan fermitus dapat mengeras. Pada perkusi didapatkan suara redup karena adanya
penumpukan cairan pada paru-paru. Pada Auskultasi terdapat suara napas bronkovaskuler
sampai ronkial yang mungkin disertai ronki basah halus yang menjadi ronki basah kasar
pada stadium resolusi.

Foto rontgen thoraks proyeksi posterior - anterior merupakan dasar diagnosis utama
pneumonia. Foto thoraks tidak dapat membedakan antara pneumonia bakteri dari
pneumonia virus. Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain
biasanya menunjukkan gambaran bilateral yang diffus, corakan peribronchial yang
bertambah, dan tampak infiltrat halus sampai ke perifer. Staphylococcus pneumonia
juga sering dihubungkan dengan pneumatocelle dan efusi pleural (empiema),
sedangkan Mycoplasma akan memberi gambaran berupa infiltrat retikular atau
retikulonodular yang terlokalisir di satu lobus.

Hasil pemeriksaan leukosit > 15.000/l dengan dominasi netrofil sering


didapatkan pada pneumonia bakteri, dapat pula karena penyebab non bakteri.

Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak
mau makan/minum, atau ada penyakit dasar yang dapat menyebabkan komplikasi dan
terutama mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan
klinis pneumonia harus dirawat inap.

Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan


antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi pemberian
cairan intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa,
elektrolit dan gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik.

Penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan.


Umumnya pemilihan antibiotik empiris berdasar pada kemungkinan etiologi penyebab
dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien serta faktor epidemiologis.

Pada neonatus dan bayi,terapi awal antibiotik intravena harus dimulai sesegera.
Antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik spektrum luas seperti kombinasi beta
laktam/klavulonat dengan aminoglikosid, atau sefalosporin generasi ketiga. Pada balita
dan anak lebih besar, antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik beta-
laktam/klavulanat.
Daftar Pustaka
Rahajoe N, Supriyanto B, Setyanto D. Respirologi Anak. Edisi Ke-1. Jakarta:
IDAI; 2013
Santoso M, Kurniadhi D, Tandean M, Oktavia E, Ciulianto R. Panduan
Kepanitraan Klinik Pendidikan Dokter. Jakarta: FK Ukrida; 2009
Meadow R, Newell S. Lecture Notes Pediatrika. Edisi Ke-7. Jakarta: Erlangga;
2005
Marcdante KJ, Kliegman RM, Jenson HB, Behrman RE. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak Esensial. Edisi Ke-6. Singapura: Elsevier; 2014