Anda di halaman 1dari 10

PENGAUDITAN INTERNAL

“ TEKNIK – TEKNIK AUDIT ”

Dosen : Ni Made Sunarsih, SE, M.Si

OLEH :

Kelompok 6

Nama Kelompok :

I Gede Krisna Cahya Pan Sopian 1702622010260 ( 07 )

I Made Alit Arya Wibawa 1702622010263 ( 10 )

Komang Ayu Desvira Permata Sari 1702622010268 ( 15 )

PRODI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

TAHUN 2019
7.1 Teknik-Teknik Audit

Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan,


menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada
beragam kondisi. Teknik-teknik tersebut digunakan sendiri-sendiri maupun gabungan,
kapanpun auditor melakukan pemeriksaan. Namun teknik-teknik ini diterapkan dalam
kerangka tertentu tergantung pada masalah yang menjadi subjek yang diaudit.

1. Audit Fungsional

Audit fungsional (functional audit) adalah audit yang mengikuti proses dari awal
hingga akhir,melintas lini organisasi. Audit fungsional cenderung lebih berkonsentrasi
pada operasi dan proses dibandingkan pada administrasi dan orang-orang yang ada
dalam organisasi. Audit ini bertujuan untuk menentukan seberapa baik fungsi-fungsi
dalam organisasi akan saling berinteraksi dan bekerjasama. Apakah fungsi tersebut
akan dilaksanakan secara efektif dan efisien? Audit fungsional yang bernilai bagi
sebuah organisasi mencakup audit atas :

 Pemesanan,penerimaan,dan pembayaran bahan baku dan pelengkapan.


 Pengiriman langsung perlengkapan atau jasa ke departemen pengguna.
 Penerapan perubahan pada produk.
 Pengumpulan, pemisahan, dan penjualan barang sisa.
 Pengendalian dan praktik keselamatan.
 Program untuk mendeteksi konflik kepentingan.
 Pengelolaan asset-aset modal.
 Formulasi anggaran.
 Fungsi-fungsi pemasaran.
Audit fungsional memiliki kesulitan khusus karena luas cakupannya. Auditor
perlu mendefinisikan parameter-parameter pekerjaan dan menjaganya tetap dalam
batas wajar, mencakuo semua aspek signifikan dari fungsi tersebut. Mereka harus
berhubungan dengan sejumlah bagian organisasi, masing-masing dengan tujuan yang
mungkin berbeda dari tujuan organisasi hilir,hulu, atau bagian lain.

1
2. Audit Organisasional (dan Evaluasi Produktivitas)

Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memperhatikan aktivias


yang dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan control administrative yang
digunakan untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut dilaksanakan. Oleh
karena itu auditor tertarik pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi tujuan
organisasi dengan sumber daya yang ada. Pendekatan organisasional yang tajam
sering kali bisa memberikan pandangan yang luas atas operasi melebihi yang
diperoleh hanya dari pengujian transaksi.

Khususnya dalam organisasi yang besar dengan berbagai operasi dan fungsi,
auditor sebaiknya disarankan untuk menentukan seberapa baik manajemen telah
melakukan pengelolaan, seberapa baik transaksi mengalir atau mengucur melalui
saluran pipa organisasi. Tolak ukur audit atau standar yang diterapkan pada operasi
organisasi dibangun dari elemen-elemen yang membentuk control administratif yang
dapat diterima.

Dalam evaluasi produktivitas setiap organisasi harus di telaah produktivitasnya


oleh auditor internal yaitu mengenai efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya
yang dipercayakan kepada manajer. Untuk menilai produktivitas, auditor internal
harus mempelajari tujuan produktivitas organisasi, semacam peningkatan
produktivitas yang diusahakan organisasi untuk dicapai. Apakah untuk mengurangi
pengerjaan ulang? Mengurangi waktu dibutuhkan untuk memproses penerimaan
barang-barang yang dibeli? Mengurangi piutang yang belum dibayar? Meningkatkan
keluaran dari kumpulan pemrosesan kata? Mengurangi Mengurangi waktu yang
dibutuhkan untuk memproses klaim? Meningkatkan penetrasi pasar?
Mengembangkan produk-produk baru? Meningkatkan volume penjualan?. Oleh
karena itu, tujuan produktivitas harus diidentifikasi.

7.2 Studi dan Konsultasi Manajemen

Audit fungsional dan organisasional membentuk kerangka kerja program audit jangka
panjang. Setiap jenis audit, yang umurnya diulang pada jangka waktu tertentu,
mencerminkan “santapan” yang harus dimakan seorang auditor. Audit diarahkan menuju
penyesuaian masalah bagi manajemen (biasanya bukan menyelesaikan masalah
manejemen). Setiap organisasi membutuhkan konsultan luar untuk melakukan studi

2
manajemen, membuat evaluasi, dan menawarkan rekomendasi untuk memperbaiki
masalah organisasi. Organisasi - organisasi ini telah mendapatkan manfaat dari
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki para konsultan. Organisasi - organisasi yang
lain munkin tidak merasakan hal yang sama. Kekecewaan ini bisa bersumber dari
berbagai penyebab. Beberapa diantaranya adalah:

 Para karyawan mungkin menganggap para konsultan tersebut sebagai orang asing
yang tidak terlibat dalam gaya hidup dan pergaulan organisasi.

 Konsultan telah mengikuti pelatihan dalam jangka waktu yang lama dan berbiaya
tinggi.

 Rekomendasi konsultan luar, yang biasanya dikomunikasikan dalam pertemuan


terakhir atau dalam laporan rinci, bisa memancing reaksi defensive dari klien.

 Konsultan luar biasanya mengenakan tarif yang sangat mahal, yang dalam banyak
kasus, akan melebihi biaya memberdayakan orang - orang berbakat yang telah
dimiliki organisasi.

Auditor harus menerapkan semua teknik mempengaruhi yang mereka miliki sejak
permulaan dan disepanjang penugasan. mereka harus membuat manajemen tetap
mengetahui informasi dan memperoleh rekomendasi pada tingkat akar rumput sebelum
menyajikannya ke manajemen. Setelah mengenali situasi tersebut internal auditor
membuat persentasi formal ke manajemen mengenai pandangan mereka terhadap masalah
tersebut dan memberikan usulan untuk mengatasinya. Studi ini dilaksanakan secara
mendalam, studi harus menghasilkan jawaban yang kuat atas pertanyaan relevan yang
diajukan manajemen dan bisa memberikan dukungan yang kuat atas rekomendasi yang
diajukan. Studi harus didasarkan pada pemahaman mendalam atas masalah – masalah
berikut, diantaranya :

 Apa saja masalah yang mendasar? (masalah apa yang sebenarnya).

 Apa saja fakta-fakta yang relevan? (data, proses, sistem, kebijakan, organisasi, orang-
orang yang ada, masa lalu, masa kini, kemungkinan di masa datang).

 Apa penyebabnya? (jumlah, variasi penyebab, akar masalah dan penyebab di


permukaan, kapan penyebab tersebut mulai mempengaruhi masalah).

3
 Apa solusi yang mungkin? (alternatif yang ada, biaya, jawaban atas masalah lokal
organisasi yang terpengaruh). Setiap bulan audit bisa memberikan laporan kemajuan
ke manajemen eksekutif mengenai status studi tersebut. Laporan tersebut bisa berisi:

 Identifikasi studi manajemen utama yang sedang dilakukan.

 Ringkasan sejumlah memorandum studi manajemen yang dikeluarkan dan statusnya.

 Identifikasi masalah-masalah yang penting yang telah diselesaikan maupun yang


belum terpecahkan.

 Diskusi secara umum mengenai kemajuan pekerjaan.

 Estimasi waktu yang di butuhkan untuk meyelesaikan studi. Tunjukkan jumlah orang,
baik auditor maupun teknisi, yang terlibat dalam studi dan jumlah tim yang di
tugaskan (hanya jika diminta).

7.3 Sifat Bukti Audit

Bukti audit ( audit evidence ) adalah informasi yang diperoleh auditor internal melalui
pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus
mempunyai dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti audit
terdiri dari :

 Bukti fisik

Bukti fisik (physical evidence) diperoleh dengan mengamati orang, property, dan
kejadian. Bukti ini dapat berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat atau oleh
foto, bagan, peta, grafik (bukti grafik bersifat persuasive), atau gambar lainnya.

 Bukti Pengakuan

Bukti pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan sebagai


jawaban atas pertanyaan. Bukti ini tidak bersifat menyimpulkan, jika dimungkinkan
masih harus didukung oleh dokumentasi. Pernyataan klien bisa menjadi penuntun
penting yang tidak selalu bisa diperoleh dalam pengujian audit yang independen.

 Bukti Dokumen

4
Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit yang
paling biasa. Dokumen bisa eksternal (mencakup surat atau memorandum yang
diterima pleh klien, faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan) maupun internal
(dokumen yang dibuat dalam organisasi klien mencakup catatan akuntansi, salinan
korespondensi ke pihak luar, laporan penerimaan melalui email, dll). Sumber bukti
dokumen mempengaruhi keandalannya, sebuah dokumen eksternal yang diperoleh
langsung dari sumbernya lebih andal dibandingkan dokumen yang didapatdari klien.

 Bukti Analitis

Bukti analitis (analitycal evidence) berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber
bukti ini adalah perhitungan, perbandingan dengan standar yang ditetapkan, operasi
masa lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi, pertimbangan kewajaran,
dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil II. Standar-standar
Bukti Audit Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :

 Kecukupan Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai dan


meyakinkan sehingga bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati – hati untuk
mengambil kesimpulan yang sama dengan auditor.

 Kompetensi Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal, bukti tersebut haruslah
yang terbaik yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan
salinannya, pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dari
pernyataan biasa, bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.

 Relevansi Mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunaannya.


Fakta dan opini yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu
masalah harus memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

7.4 Standar-Standar Dan Penanganan Bukti Sensitif

5
Semua bukti audit harus memenuhi uji kecukupan, kompetensi dan relevansi.

 Kecukupan. Bukti dianggap memadai jika bersifat factual, memadai, dan meyakinkan
sehingga bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati-hati untuk mengambil
kesimpulan yang sama dengan auditor.

 Kompetensi. Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal. Bukti tersebut haruslah
yang terbaik yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan
pernyataan biasa. Bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.

 Relevansi. Relevansi mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunanya.


Fakta dan opini yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah
harus memiliki hubungan logika atau masuk akal dengan masalah tersebut.

Jika suatu bukti tidak memenuhi standar kecukupan, kompetensi, dan relevansi
pekerjaan auditor berarti belum selesai. Bukti tambahan atau yang mengatkan mungkin
dibutuhkan. Bila auditor internal menyatakan opini, maka harus didasarkan pada bukti
yang tidak dapat dibantah.

A. Penanganan Bukti yang Sensitif

Harus terdapat rencana yang dibuat untuk menangani dan mengamankan bahan-
bahan yang sensitif, rencana ini harus mencakup metode untuk menjaga integritas
dokumen yang harus dipisahkan dari dokumen kertas kerja biasa dan harus disimpan
dalama lemari terkunci atau kotak penympanan yang aman, penyimpanan juga dapat
dilakukan di lokasi luar. Selain itu perlu mengamankan informasi bukti
terkomputerisasi untuk menghindari akses ke bentuk aslinya. Metode penyajian
tambahan adalah mengembangkan dokumen-dokumen pendukung yang disimpan
pada lokasi selain lokasi penyimpanan catatan atau dokumen asli dan hal yang
diperlukan yaitu mrnjaga catatan untuk menunjukkan suatu rantai penjagaaan bukti
yang jelas untuk membuktikan bahwa bukti tersebut tidak dikompromikan. Juga,
dokumen-dokumen usang harus disobek atau dilenyapkan.

B. Kertas Kerja

6
Kertas kerja merupakan dasar pengembangan bukti. Ada beberapa jenis kertas
kerja yang semuanya penting, yaitu mencakup:

 Kutipan dari sumber berwenang tentang kriteria dan standar.

 Ringkasan wawancara, pertemuan, dan percakapan.

 Subtansi verifikasi dan pemeriksaan dokumen.

 Analisis temuan dari kertas kerja atau pengamatan lainnya.

 Perhitungan analitis terkait dengan audit.

Kertas kerja merupakan substansi audit yang harus diberikan pengawasan dan
pemeriksaan seksama untuk menentukan keabsahannya dan tidak meninggalkan
pertanyaan yang tersisa juga bahwa materi di beberapa kertas kerja tidak bertentangan
dengan yang terdapat dalam kertas kerja yang lain.

7.5 Pekerjaan Lapangan Dalam Lingkungan Berteknologi Tinggi

Karena sistem informasi terkait erat dngan pemrosesan tepat waktu, auditor
menghadapi komplikasi yang biasanya tidak ditemukan pada sistem yang lama.
Komplikasi ini makin luas bila perusahaan menerapkan system untuk perusahaan secara
keseluruhan (enterprise wide systems) yang memiliki potensi mengintegrasikan fungsi-
fungsi bisnis perusahaan mulai dari pemasaran hingga manufaktur dan logistik hingga ke
sumber daya dan pelaporan keuangan.

 Enterprise Wide Systems

Perusahaan yang berkembang menggunakan sistem ini, yang juga disebut sistem
perencanaan sumber daya perusahaan. Sistem ini memberikan kemungkinan besar
terciptanya operasi yang lebih efisien dan efektif bagi perusahaan dengan menggunakan
sistem standar yang cukup fleksible terhadap komponen-komponen usaha yang berbeda
di negara yang berbeda dan meghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk tingkat
manajemen yang sesuai. Sistem ini bisa menangani bisnis dan fungsi-fungsi dalam
kisaran yang luas termasuk yang tercakup dalam e-commerce yang substansial selain itu
sistem ini menjadi standar bagi perusahaan besar untuk memiliki bidang audit internal
sendiri.

7
 Audit Berkelanjutan

Sifat sistem yang ada di enterprise wide system memungkinkan dilakukannya audit
berkelanjutan. Ikatan akuntan kanada dan AICPA mendefinisikan audit berkelanjutan
(continuous auditing) sebagai “sebuah metodologi yang memungkinkan auditor
independen memberikan keyakinan tertulis mengenai suatu subjek masalah menggunakan
serangkaian laporan auditor yang dikeluarkan secara simultan dengan atau setelah suatu
periode yang pendek, terjadinya suatu kejadian yang melandasi masalah tersebut” Studi
penelitian menyimpulkan bahwa kondisi berikut memerlukan diselenggarakannya audit
berkelanjutan:

 Subjek masalah dengan karakteristik yang sesuai.

 Keandalan sistem yang melandasi subjek tersebut.

 Bukti audit yang diberikan oleh prosedur audit dengan tingkat otomatisasi yang
tinggi.

 Sarana yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil-hasil prosedur audit secara
tepat waktu.

 Tingkat keahlian auditor yang tinggi dalam teknologi informasi dan subjek masalah.
Berikut masalah yang menjadi perhatian utama yang berdampak pada pekerjaan
lapangan dan pelaporan auditor internal:

1. Keterlibatan auditor internal dengan subjek masalah.

2. Pengetahuan auditor internal mengenai keandalan subjek masalah.

3. Keterlibatan auditor internal dalam pelaporan dan evaluasi tanggapan manajemen


terhadap laporan.

4. Keahlian internal auditor dengan teknologi informasi dan masalah-masalah yang


sedang diaudit.

Salah satu komponen kunci dalam audit berkelanjutan adalah perancangan dan
implementasi kontrol otomatis dan pemicu tanda bahaya. Pemicu tanda bahaya
menjadi penanda bagi auditor internal dan manajemen akan :

8
 Kontrol berfungsi dan mereka telah mengidentifikasi sebuah kesalahan yang harus
diinvestigasi dan atau diperbaiki.

 Kontrol tidak berfungsi berdasarkan informasi yang diidentifikasi. Dalam


enterprise wide system, auditor internal harus memainkan peran kunci dalam
mengurangi risiko hingga ke tingkat yang dapat diterima.

 Masalah-masalah Audit Internal Terkait dengan Risiko

Perbedaan yang jelas harus dibuat antara apa yang dilaporkan ke manajemen pada
tingkat yang mana dan apa yang dilaporkan ke audit internal. Dalam lingkungan yang
mengumpulkan data penjualan, distribusi, manufaktur, dan kinerja keuangan auditor
internal dapat berada di posisi mnggunakan data kinerja ini untuk dibandingkan
dengan data keuangan tradisional guna mendeteksi kesalahan atau kecurangan
ataupun kelemahan kontrol.

Dalam enterprise wide systems, cenderung tersedia banyak data bagi auditor
internal yang memiliki pengetahuan memadai mengenai sistem tersebut. Karena
semua data disimpan dibasis data, auditor memiliki akses yang dapat digunakan untuk
perbandingan dalam beberapa periode waktu, selain itu auditor dapat menelaah
informasi dalam lingkungan tepat waktu sehingga kemunkinan perbedaan waktu yang
menyebabkan kesalahan atau kecurangan bisa dikurangi.

 Perdagangan Elektronik

Jika suatu entitas mengguanakan e-commerce untuk menjual produk ke pelanggan,


terdapat risiko yang perlu dipertimbangkan audior dalam merencanakan pekerjaan
lapangan. Risiko ini mencakup kemungkinan penjualan dan retur fiktif dan
kemungkinan pesaing dapat mengakses informasi penting dari perusahaan. Audit
berkelanjutan dapat membantu memberikan tanda bagi auditor akan adanya masalah
potensial dan bagaimana menemukannya.

Daftar Pustaka

Lawrence B Sawyer, Mortimer A. Dittenhofer, James H. Scheiner. 2005. Internal


Auditing : Buku 1. Salemba Empat. Jakarta.
9