Anda di halaman 1dari 24

JUAL BELI DALAM PANDANGAN ISLAM

Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin
dewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi.
Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat
bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam
merupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.

Dalam Al-Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 275, Allah menegaskan bahwa: “...Allah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”. Hal yang menarik dari ayat tersebut
adalah adanya pelarangan riba yang didahului oleh penghalalan jual beli. Jual beli (trade)
adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia. Kita mengetahui bahwa pasar tercipta
oleh adanya transaksi dari jual beli. Pasar dapat timbul manakala terdapat penjual yang
menawarkan barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli. Dari konsep sederhana
tersebut lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang menjadi suatu
sistem perekonomian.

Pertanyaannya kini adalah, seperti apakah konsep jual beli tersebut yang dibolehkan dan
sesuai dengan pandangan Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu
melihat batasan-batasan dalam melakukan aktivitas jual beli. Al-Omar dan Abdel-Haq
(1996) menjelaskan perlu adanya kejelasan dari obyek yang akan dijualbelikan. Kejelasan
tersebut paling tidak harus memenuhi empat hal. Pertama, mereka menjelaskan tentang
lawfulness. Artinya, barang tersebut dibolehkan oleh syariah Islam. Barang tersebut harus
benar-benar halal dan jauh dari unsur-unsur yang diharamkan oleh Allah. Tidak boleh
menjual barang atau jasa yang haram dan merusak. Kedua, masalah existence. Obyek dari
barang tersebut harus benar-benar nyata dan bukan tipuan. Barang tersebut memang benar-
benar bermanfaat dengan wujud yang tetap. Ketiga, delivery. Artinya harus ada kepastian
pengiriman dan distribusi yang tepat. Ketepatan waktu menjadi hal yang penting disini.
Keempat, adalah precise determination. Kualitas dan nilai yang dijual itu harus sesuai dan
melekat dengan barang yang akan diperjualbelikan. Tidak diperbolehkan menjual barang
yang tidak sesuai dengan apa yang diinformasikan pada saat promosi dan iklan.

Dari keempat batasan obyek barang tersebut kemudian kita perlu melihat bagaimanakah
konsep kepemilikan suatu produk dalam Islam. Al-Omar dan Abdel-Haq (1996) juga
menjelaskan bahwa konsep kepemilikan barang itu adalah mutlak milik Allah (QS 24:33
dan 57:7). Semua yang ada di darat, laut, udara, dan seluruh alam semesta adalah
kepunyaan Allah. Manusia ditugaskan oleh Allah sebagai khalifah untuk mengelola seluruh
harta milik Allah tersebut dan kepemilikan barang-barang yang menyangkut hajat hidup
harus dikelola secara kolektif dengan penuh kejujuran dan keadilan.

Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin
dewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi.
Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat
bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam
merupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.
Abdurrahman bin Auf adalah salah satu contoh sahabat nabi yang lahir sebagai seorang
mukmin yang tangguh berkat hasil pendidikan di pasar. Beliau menjadi salah satu orang
kaya yang amanah dan juga memiliki kepribadian ihsan.

Lalu bagaimana menciptakan sistem jual beli yang dapat melahirkan khalifah-khalifah yang
tangguh? Ada beberapa langkah yang bisa kita praktekkan sedini mungkin. Langkah
tersebut antara lain dengan melatih kejujuran diri kita. Latihlah menjadi orang jujur dari
hal-hal yang kecil. Rasulullah selalu mempraktekkan kejujuran, termasuk ketika melakukan
aktivitas jual beli. Beliau selalu menjelaskan kualitas yang sebenarnya dari barang yang
dijual dan tidak pernah memainkan takaran timbangan. Selain melatih kejujuran, kita juga
harus mampu memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Tidak menjadi orang yang latah
melihat kesuksesan dari bisnis pihak lain. Kita harus mampu sabar dan tawakkal dengan
disertai ikhtiar yang optimal dalam melihat peluang yang tepat dalam melakukan aktivitas
bisnis. Langkah lainnya adalah dengan menciptakan distribusi yang tepat melalui zakat,
infak, dan shadaqah. Aktivitas jual beli harus mampu melatih kita untuk menjadi orang
yang pemurah dan senantiasa berbagi dengan sesama. Zakat, infak, dan shadaqah adalah
media yang tepat untuk membangun hal tersebut.

Konsep jual beli dalam Islam diharapkan menjadi cikal bakal dari sebuah sistem pasar yang
tepat dan sesuai dengan alam bisnis. Sistem pasar yang tepat akan menciptakan sistem
perekonomian yang tepat pula. Maka, jika kita ingin menciptakan suatu sistem
perekonomian yang tepat, kita harus membangun suatu sistem jual beli yang sesuai dengan
kaidah syariah Islam yang dapat melahirkan khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi
ini. Hal tersebut dapat tercipta dengan adanya kerjasama antara seluruh elemen yang ada di
pasar, yang disertai dengan kerja keras, kejujuran dan mampu melihat peluang yang tepat
dalam membangun bisnis yang dapat berkembang dengan pesat.

JUAL BELI KREDIT

Allah telah berfirman dalam Al-Quran,

َ
‫م الّرَبا‬ َ َ‫ه ال ْب َي ْعَ و‬
َ ‫حّر‬ ُ ّ ‫ل الل‬
ّ ‫ح‬
َ ‫وَأ‬
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah 2:275).

Firman tersebut menjadi dalil bagi kebolehan jual beli secara umum.

Selain itu, para ulama telah membolehkan jual beli secara kredit, di antaranya adalah Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qoyyim, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin
Sholih Al Utsaimin, Syaikh Al Jibrin dan lainnya. Namun kebolehan jual beli ini menurut para
ulama yang memperbolehkannya harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Mereka berhujjah
dengan beberapa dalil berikut yang bisa diklasifikasikan menjadi beberapa bagian;

1. Pertama, Dalil-dalil yang memperbolehkan jual beli dengan pembayaran tertunda.

Firman Allah Ta'ala

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya” (QS. Al Baqarah: 282).

Ibnu Abbas menjelaskan, "Ayat ini diturunkan berkaitan dengan jual beli As Salam saja."

Imam Al Qurthubi menerangkan,


“Artinya, kebiasaan masyarakat Madinah melakukan jual beli salam adalah penyebab
turunnya ayat ini, namun kemudian ayat ini berlaku untuk segala bentuk pinjam meminjam
berdasarkan ijma' ulama” (Tafsir Al Qurthubi 3/243).

Hadits Rasulullah

Dari Aisyah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah rnembeli makanan dari seorang Yahudi
dengan pembayaran tertunda. Beliau memberikan baju besi beliau kepada orang tersebut
sebagai gadai.” (HR. Bukhari 2068, Muslim 1603).

Hadits ini tegas bahwa Rasululah mendapatkan barang kontan namun pembayarannya
tertunda.

2. Kedua, Dalil-dalil yang menunjukkan dibolehkannya memberikan tambahan harga karena


penundaan pembayaran atau karena penyicilan.

Firman Allah Ta'ala

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling mernakan harta sesamamu dengan
jalan yang bathil, kecuali dengan jaian perniagaan yang berlaku dengan suka sarna suka
diantara kamu” (Q.S. An Nisa': 29).

Keumuman ayat ini mencakup jual beli kontan dan kredit, maka selagi jual beli kredit
dilakukan dengan suka sama suka maka masuk dalam apa yang diperbolehkan dalam ayat ini.

Hadits Rasulullah

Dari Abdullah bin Abbas berkata, Rasulullah datang ke kota Madinah, dan saat itu penduduk
Madinah melakukan jual beli buah-buahan dengan cara salam dalam jangka satu atau dua
tahun, maka beliau bersabda, "Barangsiapa yang jual beli salam maka hendaklah dalam
takaran yang jelas, timbangan yang jelas sampai waktu yang jelas" (HR. Bukhari 2241,
Muslim 1604).

Pengambilan dalil dari hadits ini, bahwa Rasulullah membolehkan jual beli salam asalkan
takaran dan timbangan serta waktu pembayarannya jelas, padahal biasanya dalam jual beli
salam uang untuk membeli itu lebih sedikit daripada kalau beli langsung ada barangnya.
Maka begitu pula dengan jual beli kredit yang merupakan kebalikannya yaitu barang dahulu
dan uang belakangan meskipun lebih banyak dari harga kontan..
Hadits Bariroh. Dari Aisyah berkata, Sesungguhnya Bariroh datang kepadanya minta tolong
untuk pelunasan tebusannya, sedangkan dia belum membayar sama sekali, maka Aisyah
berkata padanya, “Pulanglah ke keluargamu, kalau mereka ingin saya membayar tebusanmu
namun wala'mu menjadi milikku maka akan saya lakukan.'' Maka Bariroh menyebutkan hal
ini pada mereka, namun mereka enggan melakukannya, malah mereka berkata, ''Kalau
Aisyah berkehendak untuk membebaskanmu dengan hanya mengharapkan pahala saja, maka
bisa saja dia lakukan, namun wala'mu tetap pada kami.' Maka Aisyah pun menyebutkan hal
ini paa Rasulullah dan beliaupun bersabda,''Belilah dia dan merdekakanlah karena wala' itu
kepunyaan yang memerdekakan .''

Dalam sebuah riwayat yang lain “Bariroh berkata, ''Saya menebus diriku dengan membayar 9
Uqiyah, setiap tahun saya membayar satu uqiyah.'' (HR. Bukhari 2169, Muslim 1504).

Segi pengambilan dalil, dalam hadits ini jelas bahwa Bariroh membayarnya dengan
mengkredit karena dia membayar sembilan uqiyah yang dibayar selama sembilan tahun, satu
tahunnya sebanyak sebanyak satu uqiyah.

Dalil Ijma'

Sebagian ulama mengklaim bahwa dibolehkannya jual beli dengan kredit dengan perbedaan
harga adalah kesepakatan para ulama. Di antara mereka adalah :

1) Syaikh Bin Baaz


Saat menjawab pertanyaan tentang hukum menjual karung gula dan sejenisnya seharga
150 Real secara kredit, yang nilainya sama dengan 100 Real tunai, maka beliau
menjawab, "Transaksi seperti ini boleh-boleh saja karena jual beli kontan tidak sama
dengan jual beli berjangka. Kaum muslimin sudah terbiasa melakukannya sehingga
menjadi Ijma' dari mereka atas diperbolehkannya jual beli seperti itu. Sebagian ulama
memang berpendapat aneh dengan melarang penambahan harga karena pembayaran
berjangka, mereka mengira bahwa itu termasuk riba. Pendapat ini tidak ada dasarnya,
karena transaksi seperti itu tidak mengandung riba sedikitpun." (Ahkamul Fiqh,
Syaikh Abduloh Al Jarulloh, hal: 57- 58).

2) Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin.


Beliau berkata dalam Al Mudayanah hal. 4, "Macam- macam hutang piutang;

a. Seseorang membutuhkan untuk membeli barang namun dia tidak mempunyai


uang kontan, maka dia membelinya dengan pembayaran tertunda dalam tempo
tertentu namun dengan adanya tambahan harga dari harga kontan. Ini
diperbolehkan.
Misalnya : Seseorang membeli rumah untuk ditempati atau untuk disewakan
seharga 10.000 real sampai tahun depan, yang mana seandainya dijual kontan
akan seharga 9.000 real, atau seseorang .membeli mobil baik untuk dipakai
sendiri atau disewakan seharga 10.000 real sampai tahun depan, yang mana
harga kontannya adalah 9.000 real.

Masalah ini tercakup dalam firman Allah Ta'ala, “Wahai orang-orang yang beriman,
apabita kalian berhutang piutang sampai waktu tertentu, maka catatlah” (QS. Al
Baqarah: 282).
b. Seseorang membeli barang dengan pembayaran tertunda sampai waktu tertentu
dengan tujuan untuk memperdagangkannya. Misal seseorang membeli gandum
dengan pembayaran tertunda dan lebih banyak dari harga kontan untuk
menjualnya lagi ke luar negeri atau untuk menunggu naiknya harga atau lainnya,
maka ini diperbolehkan karena juga tercakup dalam ayat terdahulu. Dan telah
berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang dua bentuk ini adalah
diperbolehkan berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan kesepakatan ulama."
(Majmu' Fatawa 29/498-499).

Syaikh Utsaimin berkata selanjutnya, "Tidak dibedakan apakah pembayaran tertunda


ini dilakukan sekaligus ataukah dengan cara mengangsur. Semacam kalau penjual
berkata, "Saya jual barang ini kepadamu dan engkau bayar setiap bulan sekian …" (Al
Mudayanah hal: 5).

Dalil Qiyas

Sebagaimana yang telah lewat bahwasannya jual beli kredit ini dikiaskan dengan jual beli
salam yang dengan tegas diperbolehkan Rasululah karena ada persamaan, yaitu sama-sama
tertunda. Hanya saja jual beli salam barangnya yang tertunda, sedangkan kredit uangnya yang
tertunda. Juga dalam jual beli salam tidak sama dengan harga kontan seperti kredit juga
hanya bedanya salam lebih nurah sedangkan kredit lebih mahal.

Dalil Maslahat

Jual beli kedit ini mengandung maslahat baik bagi penjual maupun bagi pembeli. Karena
pembeli bisa mengambil keuntungan dengan ringannya pembayaran karena bisa diangsur
dalam jangka waktu tertentu dan penjual bisa mengambil keuntungan dengan naiknya harga,
dan ini tidak bertentangan dengan tujuan syariat yang memang didasarkan pada kemaslahatan
umat.

Berkata Syaikh Bin Baz disela-sela jawaban beliau mengenai jual beli kredit, "Karena
seorang pedagang yang menjual barangnya secara berjangka pembayarannya setuju dengan
cara tersebut sebab ia akan mendapatkan tambahan harga dengan penundaan tersebut.
Sementara pembeli senang karena pembayarannya diperlambat dan karena ia tidak mampu
mambayar kontan, sehingga keduanya mendapatkan keuntungan." (Ahkamul Ba'i, Syaikh
Jarulloh, hal. 58).

HUKUM JUAL BELI KREDIT

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata [dalam Fatawa Mu'ashirah, hal. 52-53,
dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin] :
“Menjual dengan kredit artinya bahwa seseorang menjual sesuatu (barang) dengan harga
tangguh yang dilunasi secara berjangka. Hukum asalnya adalah dibolehkan berdasarkan
firman Allah SWT “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak
secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” [Al-Baqarah :
282]
Demikian pula, karena Nabi SAW telah membolehkan jual beli As-Salam, yaitu membeli
secara kredit terhadap barang yang dijual. Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di
kalangan orang-orang saat ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba.
Teknisnya ada beberapa cara, di antaranya :

Pertama
Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak
memilikinya, sembari berkata, “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. Lantas si
pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga
yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan
tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan
membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan
keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba
(menambahkan bunga), padahal para ulama berkata, “Setiap pinjaman yang diembel-
embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba”. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan
adalah terletak pada tujuan-tujuannya.

Kedua
Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu
pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual
kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk
pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah
tersebut, andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga, dia tidak akan
membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya
dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.
Gambaran yang lebih jelek lagi dari itu, ada orang yang membeli rumah atau barang apa
saja dengan harga tertentu, kemudian dia memilih yang separuh harga, seperempat atau
kurang dari itu padahal dia tidak memiliki cukup uang untuk melunasinya, lalu dia datang
kepada si pedagang, sembari berkata, “Saya telah membeli barang anu dan telah membayar
seperempat harganya, lebih kurang atau lebih banyak dari itu sementara saya tidak
memiliki uang, untuk membayar sisanya”. Kemudian si pedagang berkata, “Saya akan
pergi ke pemilik barang yang menjualkannya kepada anda dan akan melunasi harganya
untuk anda, lalu saya mengkreditkannya kepada anda lebih besar dari harga itu. Dan
banyak lagi gambaran-gambaran yang lain.
Akan tetapi yang menjadi dhabit (ketentuan yang lebih khusus) adalah bahwa setiap hal
yang tujuannya untuk mendapatkan riba, maka ia adalah riba sekalipun dikemas dalam
bentuk akad yang halal, sebab tindakan pengelabuan tidak akan mempengaruhi segala
sesuatu. Mengelabui hal-hal yang diharamkan oleh Allah, hanya akan menambahnya
menjadi semakin lebih buruk karena mengandung dampak negatif Dari hal yang
diharamkan dan penipuan, padahal Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kamu
melakukan dosa sebagaimana dosa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga
(karenanya) kemu menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah (sekalipun)
dengan serendah-rendah (bentuk) pengelabuan (siasat licik)“. [Ibn Baththah dalam kitab
Ibthalil Hiyal hal. 24. Irwa'ul Ghalil 1535]

Mengenai penjualan kredit dengan penambahan harga, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani mengatakan [dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah V/419-427] :
”Barangsiapa menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan, maka baginya
(harga) yang paling sedikit atau (kalau tidak mau, maka harga yang lebih tinggi adalah)
riba” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam "Al-Mushannaf (VI/120/502)", Abu
Daud dari Ibnu Abi Syaibah (no. 3461), Ibnu Hibban di dalam "Shahihnya (1110)", Al-
Hakim (II/45), dan Al-Baihaqi (V/343) kesemuanya meriwayatkan bahwa telah becerita
kepada kami Ibnu Abi Zaidah dari Muhammad bin Amir dari Abu Salamah dari Abu
Hurairah secara marfu, sanadnya hasan, bahkan telah dishahihkan oleh Al-Hakim, dan
disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu Hazm di dalam "Al-Muhalla (IX/16). Juga
diriwayatkan oleh An-Nasa'i (VII/296, cetakan baru), At-Tirmidzi (I/232), dia
menshahihkannya, Ibnul Jarud (286), Ibnu Hibban (1109), Al-Baghawi di dalam "Syarh
As-Sunnah (VIII/142/211)", ia juga menshahihkannya, Ahmad (II/342, 375, 503) dan Al-
Baihaqi dari beberapa jalan dari Muhammad bin Amr dengan lafazh : "Beliau melarang dua
(harga) penjualan di dalam satu penjualan"]
Al-Baihaqi berkata : “Bahwa Abdul Wahhab (yakni Ibnu Atha’) berkata yaitu (si penjual)
berkata : “Itu (barang) untukmu apabila kontan Rp 10,- namun jika dengan penundaan
(seharga) Rp 20,-”
Imam Ibnu Qutaibah juga menerangkannya dengan (keterangan) ini, beliau berkata di
dalam “Gharib Al-Hadits (I/18) : “Diantara jual beli yang terlarang (ialah) dua syarat
(harga) dalam satu penjualan, yaitu (misalnya) seseorang membeli barang seharga dua
dinar jika temponya dua bulan, dan seharga tiga dinar jika temponya tiga bulan. Itulah
makna “dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan.”
Dan hadits itu dengan lafazh ini ["Dua syarat di dalam satu penjualan"] adalah ringkas dan
shahih. Hadits ini tersebut didalam hadits Ibnu Umar dan Ibnu Amr, keduanya telah
ditakhrij di dalam “Irwaa Al-Ghalil (V/150-151)”.
Dan semakna dengan hadits itu adalah ucapan Ibnu Mas’ud : “Satu akad jual beli di dalam
dua akad jual beli adalah riba” [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq di dalam Al-Mushannaf
(VIII/138-139), Ibnu Abi Syaibah (VI/199), Ibnu Hibban (163, 1111) dan Ath-Thabrani
(41/1), sanadnya shahih]
Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/393), dan ini juga merupakan riwayat Ibnu Hibban
(1112) (dari Ibnu Mas’ud) dengan lafazh : “Tidak patut dua akad jual-beli di dalam satu
akad jual-beli (menurut lafazh Ibnu Hibban : Tidak halal dua akad jual beli) dan
sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : “Allah melaknat pemakan (riba) Pemakan
riba adalah orang yang mengambilnya walaupun tidak makan, diungkapkan dengan makan
karena makan adalah kegunaan terbesar dari riba dan karena riba itu umumnya seputar
makanan. Pemberi makan riba adalah orang yang memberikan riba kepada orang yang
mengambilnya, walaupun yang mengambil tadi tidak memakannya. (Lihat Al-Fathur-
Rabbani Ma'a Syarhihi Bulughul -Amani (XV/68) oleh Ahmad Abdur Rahman Al-Banna,
Penerbit Dar Ihya At-Turots Al-Arabi, tanpa tahun], saksinya dan penulisnya“. Dan
sanadnya juga shahih
Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Nashr di dalam As-Sunnah (54), dia menambahkan
dalam satu riwayat “Yaitu seseorang berkata : “Jika kontan maka (harganya) sekian dan
sekian, dan jika tidak kontan maka (harganya) sekian dan sekian“.

Apalagi sekelompok ulama dan Fuqaha (para ahli fiqh) menyepakatinya atas hal itu.
Mereka adalah :
Ibnu Sirin Ayyub. Meriwayatkan darinya, bahwa Ibnu Sirin membenci seseorang berkata :
“Aku menjual (barang) kepadamu seharga 10 dinar secara kontan, atau 15 dinar secara
tempo” [Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq di dalam "Al-Mushannaf (VIII/138/14630)"
dengan sanad yang shahih darinya (Ibnu Sirin)].
Thawus. Dia berkata : “Apabila (penjual) mengatakan bahwa (barang) itu dengan (harga)
sekian dan sekian jika temponya sekian dan sekian, tetapi dengan (harga) sekian jika
temponya sekian dan sekian. Lalu terjadi jual beli atas (cara) ini, maka (penjual harus
mengambil) harga yang lebih rendah sampai tempo yang lebih lama. [Dikeluarkan oleh
Abdur Razzaq juga (14631) dengan sanad yang shahih juga. Abdur Razaq juga
meriwayatkan (pada no 14626), demikian pula Ibnu Abu Syaibah (VI/120) dari jalan Laits
dari Thawus dengannya (perkataan di atas) secara ringkas, tanpa perkataan : "Lalu terjadi
jual beli..." tetapi dengan tambahan (riwayat) : "Kemudian (jika penjualnya) menjual
dengan salah satu dari kedua harga itu sebelum (pembeli) berpisah dari (penjual), maka
tidak mengapa". Akan tetapi ini tidak shahih dari Thawus, karena :Laits -yaitu Ibnu Abu
Salim- telah berubah ingatan (karena tua)].
Sufyan Ats-Tsauri. Mengatakan bahwa, jika engkau berkata : “Aku menjual kepadamu
dengan kontan (seharga) sekian, dan dengan tidak kontan (seharga) sekian dan sekian”,
kemudian pembeli membawanya pergi, maka dia berhak memilih di antara dua (harga)
penjualan tadi, selama belum terjadi keputusan jual-beli atas salah satu harga. Dan jika
telah terjadi jual-beli seperti ini, maka itu adala dibenci.Itulah “dua penjualan di dalam satu
penjualan”, dan itu tertolak serta terlarang. Maka jika engkau mendapati barangmu masih
utuh, engkau dapat mengambil harga yang paling rendah dan waktu yang lebih lama.
[Diriwayatkan oleh Abdur Razaq (14632) dari Sufyan Ats-Tsauri].
Al-Auza’i. Riwayatnya secara ringkas senada dengan di atas. Dalam riwayat itu dikisahkan
bahwa Al-Auza’i ditanya : “Jika (pembeli) membawa pergi dagangan itu (berdasarkan jual-
beli dengan) dua syarat tadi?” Dia (Al-Auza’i) menjawab : “Harga barang itu dengan harga
yang terendah dengan tempo yang lebih lama“. Al-Khaththabi menyebutkannya (riwayat
ini, pent) di dalam “Ma’alimus Sunnah (V/99)”. Kemudian para imam hadits dan lughoh
(bahasa Arab) berjalan mengikuti sunnah mereka, diantaranya :
Imam An-Nasa’i. Beliau berkata dibawah bab : Dua penjualan di dalam satu penjualan:
“yaitu seseorang berkata : Aku menjual kepadamu barang ini seharga 100 dirham secara
kontan, dan seharga 200 dirham secara tidak kontan”.Demikian juga An-Nasa’i
menerangkan seperti itu pada hadits Ibnu Amr “Tidak halal dua persyaratan di dalam satu
penjualan“. [Hadits ini ini telah ditakhrih didalam "Al-Irwaa (1305) dan lihatlah "Shahihul
Jaami (7520)".
Ibnu Hibban. Beliau berkata di dalam "Shahihnya (VII/225-Al-Ihsan)" : "Telah disebutkan
larangan tentang menjual sesuatu dengan harga 100 dinar secara kredit, dan seharga 90
dinar secara kontan. Beliau menyebutkan hal itu dibawah hadits Abu Hurairah dengan
lafazh yang ringkas.
Ibnul Atsir. Di dalam "Gharibul Hadits" dia menyebutkannya di dalam penjelasan dua
hadits yang telah diisyaratkan tadi.

Sesungguhnya telah disebutkan pendapat-pendapat yang lain mengenai tafsir "dua


penjualan" itu, mungkin sebagiannya akan dijelaskan berikut ini. Namun tafsir yang telah
lewat di atas adalah yang paling benar dan paling masyhur, dan itu persis dengan apa yang
sekarang ini dikenal dengan (istilah) "Jual Beli Kredit". Bagaimana hukumnya ?
Dalam hal ini, para ulama telah berselisih pendapat semenjak dahulu hingga sekarang dan
menjadi tiga pendapat.
1. Bahwa hal itu adalah batil secara mutlak, dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm
2. Bahwa hal itu adalah tidak boleh kecuali apabila dua harga itu dipisah (ditetapkan)
pada salah satu harga saja. Misalnya apabila hanya disebutkan harga kreditnya saja.
3. Bahwa hal itu tidak boleh. Akan tetapi apabila telah terjadi dan harga yang lebih
rendah dibayarkan maka boleh.

Dalil madzhab yang pertama adalah zhahir larangan pada hadits-hadits yang telah lalu,
karena pada asalnya larangan itu menunjukkan batilnya (perdagangan model itu). Inilah
pendapat yang mendekati kebenaran, seandainya tidak ada apa yang nanti disebutkan saat
membicarakan dalil bagi pendapat yang ketiga.
Sedangkan para pelaku pendapat kedua berargumentasi bahwa larangan tersebut
disebabkan oleh ketidaktahuan harga, yaitu : ketidak pastian harga ; apakah harga kontan
atau kredit. Al-Khaththabi berkata : "Apabila (pembeli) tidak tahu harga (maka) jual beli itu
batal. Adapun apabila dia memastikan pada salah satu dari dua perkara (harga) itu dalam
satu majlis akad, maka (jual-beli) itu sah".
Syaikh Al Albani berkata : "Alasan dilarangnya ‘dua (harga) penjualan dalam satu
penjualan' disebabkan oleh ketidaktahuan harga, adalah alasan yang tertolak. Karena hal itu
semata-mata pendapat yang bertentangan dengan nash yang jelas di dalam hadits Abu
Hurairah dan Ibnu Mas'ud bahwa (penyebab larangan) itu adalah riba. Ini dari satu sisi,
sedangkan dari sisi lain (yang menjadi pendapat ini tertolak) ialah karena alasan mereka ini
dibangun di atas pendapat wajibnya ijab dan qabul dalam jual beli. Padahal (pendapat) ini
tidak ada dalilnya, baik melalui Kitab Allah maupun Sunnah Rasulullah SAW. Bahkan di
dalam (jual-beli) itu cukup (dengan) saling rela dan senang hati. Maka selama ada rasa
saling rela dan senang hati di dalam jual beli, dan ada petunjuk kearah sana, berarti itu
merupakan jual-beli yang syar'i. Itulah yang dikenal oleh sebagian ulama dengan (istilah)
jual beli Al-Mu'aathaah [Yaitu akad jual beli yang terjadi tanpa ucapan atau perkataan (ijab
qabul) akan tetapi dengan perbuatan saling rela. Seperti pembeli mengambil barang
dagangan dan memberikan (uang) harganya kepada penjual ; atau penjual memberikan
barang dan pembeli memberikan (uang) harganya tanpa berbicara dan tanpa isyarat, baik
barang itu remeh atau berharga. (Lihat "Al-Fihul Islami wa Adillatuhu IV/99 oleh DR
Wahbah Az-Zuhaili)], Asy-Syaukani berkata di dalam “As-Sail Al-Jarar (III/126)”
“Jual beli al-mu’aathaah ini, yang dengannya terwujud suasana saling rela dan senang hati
adalah jual beli syar’i yang diijinkan oleh Allah, sedangkan menambahinya (dengan syarat-
syarat lain) adalah termasuk mewajibkan apa yang tidak diwajibkan oleh syara (agama)”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga telah menjelaskan hal itu di dalam Al-Fatawa (XXIX/5-
21) yang tidak memerlukan tambahan lagi, hendaklah orang yang ingin memperluas
(masalah ini) melihat ke sana.
Syaikh Al-Albani berkata : “Apabila demikian, maka seorang pembeli sewaktu dia telah
berpaling (membawa) apa yang dia beli, mungkin dia membayar kontan atau mungkin
membayar kredit. Jual beli dengan cara yang pertama itu sah, sedangkan pada cara kedua
yaitu pembeli membawa barang dengan menanggung harga kredit -dan inilah masalah yang
sedang diperselisihkan-, lalu mana alasan tidak mengerti harga yang dikemukakan di atas ?
Khususnya lagi apabila pembayaran itu dengan angsuran, maka angsuran yang pertama dia
bayar dengan kontan sedang sisa angsurannya tergantung kesepakatan. Dengan demikian
batallah illat (alasan/sebab) tidak mengertinya harga sebagai dalil, baik melalui atsar
maupun melalui penelitian.
Dalil pendapat yang ketiga adalah hadits bab ini (hadits yang dibicarakan ini), ditambah
atsar (hadits) Ibnu Mas’ud. Sesungguhnya kedua hadits tersebut sepakat bahwa : ‘dua
(harga) penjualan di dalam satu penjualan adalah riba”. Jadi riba itulah yang menjadi illat
(alasan)nya. Dengan demikian maka larangan itu berjalan sesuai dengan illat (alasan)nya,
baik larangan itu menjadi ada, ataupun menjadi tidak ada. Karenanya bila dia mengambil
harga yang lebih tinggi, berarti itu riba. Tetapi bila mengambil harga yang lebih rendah,
maka hal itu menjadi boleh. Sebagaimana keterangan dari para ulama, yang telah
menyatakan bahwa boleh untuk mengambil yang lebih rendah harganya, dengan tempo
yang lebih lama, karena sesungguhnya dengan demikian berarti dia tidak menjual dua
(harga) penjualan di dalam satu penjualan.
Bukankah anda lihat apabila (penjual) menjual barang dagangannya dengan harga pada hari
itu, dan dia membebaskan pembeli untuk memilih antara membayar harga secara kontan
atau hutang, maka dia tidak dikatakan : Telah menjual dengan dua (harga) penjualan di
dalam satu penjualan, sebagaimana hal itu jelas. Dan itulah yang dinyatakan Rasulullah
SAW di dalam sabdanya pada hadits yang bicarakan, “Maka baginya (harga) yang paling
sedikit, atau (kalau tidak mau maka harga yang lebih tinggi adalah) riba” [lihat hadits yang
menjadi pokok bahasan di atas]
Maka beliau SAW mensahkan penjualan itu karena hilangnya illat (alasan/ sebab yang
menjadikannya terlarang). Beliau membatalkan harga tambahan, karena hal itu adalah riba.
Pendapat ini adalah juga pendapat Thawus, Ats-Tsauri, dan Al-Auza’i rahimahullah
sebagaimana telah diterangkan di atas. Dari sinilah dapat diketahui gugurnya perkataan Al-
Khaththabi di dalam “Ma’alimus Sunan (V/97)”.
Dan kesimpulannya ; bahwa pendapat yang kedua itu adalah pendapat yang paling lemah,
karena tidak ada dalil padanya kecuali akal bertentangan dengan nash. Kemudian diiringi
oleh pendapat yang pertama, karena Ibnu Hazm yang mempunyai pendapat itu mengklaim
bahwa hadits bab ini telah dihapus (mansukh) oleh hadits-hadits yang melarang dua
penjualan di dalam satu penjualan, dan klaim itu tertolak, karena bertentanan dengan ushul
(fiqh).
Karena (di dalam ushul fiqh, sebuah hadits itu,-pent) tidak akan menjadi (pembicaraan)
naskh (penghapusan hukum) kecuali apabila jama’ (penggabungan nash) sulit dilakukan,
padahal jama’ bisa dilakukan dengan mudah disini.
Ketahuilah akhi (saudaraku) Muslim ! bahwa mu’amalah tersebut yang telah tersebar di
kalangan para pedagang dewasa ini, yaitu jual beli kredit, dan mengambil tambahan (harga)
sebagai ganti tempo, dan semakin panjang temponya ditambah pula harganya. Dari sisi lain
itu hanyalah mu’amalah yang tidak syar’i karena meniadakan ruh Islam yang berdiri di atas
(prinsip) memudahkan kepada manusia, kasih sayang terhadap mereka, sebagaimana di
dalam sabda beliau “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang hamba, yang mudah
apabila dia menjual, mudah apabila dia membeli, mudah apabila dia menagih” [Hadits
Riwayat Al-Bukhari]
Dan sabda beliau SAW “Barangsiapa yang dermawan, yang lemah lembut, yang dekat
niscaya Allah haramkan dari neraka” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lainnya, dan telah
disebutkan takhrijnya no. 938]
Maka seandainya salah seorang dari mereka (para pedagang ) bertaqwa kepada Allah SWT
dan menjual (barang) dengan (sistim hutang atau kredit dengan harga kontan, sesunguhnya
itu lebih menguntungkannya, hatta dari sisi materi. Karena hal itu akan menjadikan orang-
orang ridha kepadanya dan mau membeli darinya serta akan diberkati di dalam rizkinya,
sesuai dengan firmanNya Azza wa Jalla “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia menjadikan jalan keluar baginya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang
tidak ia sangka” [Ath-Thalaq : 2]
Dan pada kesempatan ini aku nasehatkan kepada para pembaca untuk meruju kepada
risalah al-akh Al-Fadhil Abdurrahman Abdul Khaliq (yang berjudul) : “Al-Quuluf Fashl Fii
Bari’il Ajl”, karena risalah ini istimewa dalam masalah ini, bermanfaat dalam temanya,
mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kepadanya.”

JUAL BELI SAHAM DALAM PANDANGAN ISLAM

Ketika kaum muslimin hidup dalam naungan sistem Khilafah, berbagai muamalah mereka
selalu berada dalam timbangan syariah (halal-haram). Khalifah Umar bin Khaththab
misalnya, tidak mengizinkan pedagang manapun masuk ke pasar kaum muslimin kecuali
jika dia telah memahami hukum-hukum muamalah. Tujuannya tiada lain agar pedagang itu
tidak terjerumus ke dalam dosa riba. (As-Salus, Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-
Mu’ashirah, h. 461).
Namun ketika Khilafah hancur tahun 1924, kondisi berubah total. Kaum muslimin makin
terjerumus dalam sistem ekonomi yang dipaksakan penjajah kafir, yakni sistem kapitalisme
yang memang tidak mengenal halal-haram. Ini karena akar sistem kapitalisme adalah
paham sekularisme yang menyingkirkan agama sebagai pengatur kehidupan publik,
termasuk kehidupan ekonomi. Walhasil, seperti kata As-Salus, kaum muslimin akhirnya
hidup dalam sistem ekonomi yang jauh dari Islam (ba’idan ‘an al-Islam), seperti sistem
perbankan dan pasar modal (burshah al-awraq al-maliyah). Tulisan ini bertujuan
menjelaskan fakta dan hukum seputar saham dan pasar modal dalam tinjauan Fiqh Islam.
Fakta Saham
Saham bukan fakta yang berdiri sendiri, namun terkait pasar modal sebagai tempat
perdagangannya dan juga terkait perusahaan publik (perseroan terbatas/ PT) sebagai pihak
yang menerbitkannya. Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal (stock market).
Dalam pasar modal, instrumen yang diperdagangkan adalah surat-surat berharga
(securities) seperti saham dan obligasi, serta berbagai instrumen turunannya (derivatif)
yaitu opsi, right, waran, dan reksa dana. Surat-surat berharga yang dapat diperdagangkan
inilah yang disebut “efek” (Hasan, 1996).
Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perusahaan
yang menerbitkan saham tersebut. Dalam Keppres RI No. 60 tahun 1988 tentang Pasar
Modal, saham didefinisikan sebagai “surat berharga yang merupakan tanda penyertaan
modal pada perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam KUHD (Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang atau Staatbald No. 23 Tahun 1847).” (Junaedi, 1990). Sedangkan obligasi
(bonds, as-sanadat) adalah bukti pengakuan utang dari perusahaan (emiten) kepada para
pemegang obligasi yang bersangkutan (Siahaan & Manurung, 2006).
Selain terkait pasar modal, saham juga terkait PT (perseroan terbatas, limited company)
sebagai pihak yang menerbitkannya. Dalam UU No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas pasal 1 ayat 1, perseroan terbatas didefinisikan sebagai “badan hukum yang
didirikan berdasarkan perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang
seluruhnya terbagi dalam saham,” Modal dasar yang dimaksud, terdiri atas seluruh nilai
nominal saham.
Definisi lain menyebutkan, perseroan terbatas adalah badan usaha yang mempunyai
kekayaan, hak, serta kewajiban sendiri, yang terpisah dari kekayaan, hak, serta kewajiban
para pendiri maupun pemiliknya (M. Fuad, et.al., 2000). Jadi sesuai namanya, keterlibatan
dan tanggung jawab para pemilik PT hanya terbatas pada saham yang dimiliki.
Perseroan terbatas sendiri juga mempunyai kaitan dengan bursa efek. Kaitannya, jika
sebuah perseroan terbatas telah menerbitkan sahamnya untuk publik (go public) di bursa
efek, maka perseroan itu dikatakan telah menjadi “perseroan terbatas terbuka” (Tbk).

Fakta Pasar Modal


Pasar modal adalah sebuah tempat di mana modal diperdagangkan antara pihak yang
memiliki kelebihan modal (pihak investor) dengan orang yang membutuhkan modal (pihak
issuer/ emiten) untuk mengembangkan investasi. Dalam UU Pasar Modal No. 8 tahun
1995, pasar modal didefinisikan sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.” (Muttaqin, 2003).

Para pelaku pasar modal ini ada 6 (enam) pihak, yaitu :


1. Emiten, yaitu badan usaha (perseroan terbatas) yang menerbitkan saham untuk
menambah modal, atau menerbitkan obligasi untuk mendapatkan utang dari para
investor di Bursa Efek.
2. Perantara Emisi, yang meliputi 3 (tiga) pihak, yaitu : a. Penjamin Emisi (underwriter),
yaitu perusahaan perantara yang menjamin penjualan emisi, dalam arti jika saham
atau obligasi belum laku, penjamin emisi wajib membeli agar kebutuhan dana yang
diperlukan emiten terpenuhi sesuai rencana; b. Akuntan Publik, yaitu pihak yang
berfungsi memeriksa kondisi keuangan emiten dan memberikan pendapat apakah
laporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh emiten wajar atau tidak.c. Perusahaan
Penilai (appraisal), yaitu perusahaan yang berfungsi untuk memberikan penilaian
terhadap emiten, apakah nilai aktiva emiten wajar atau tidak.
3. Badan Pelaksana Pasar Modal, yaitu badan yang mengatur dan mengawasi jalannya
pasar modal, termasuk mencoret emiten (delisting) dari lantai bursa dan memberikan
sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar peraturan pasar modal. Di Indonesia
Badan Pelaksana Pasar Modal adalah BAPEPAM (Badan Pengawas dan Pelaksana
Pasar Modal) yang merupakan lembaga pemerintah di bawah Menteri Keuangan.
4. Bursa Efek, yakni tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal
yang didirikan oleh suatu badan usaha. Di Indonesia terdapat dua Bursa Efek, yaitu
Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dikelola PT Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya (BES) yang dikelola oleh PT Bursa Efek Surabaya.
5. Perantara Perdagangan Efek. Yaitu makelar (pialang/broker) dan komisioner yang
hanya lewat kedua lembaga itulah efek dalam bursa boleh ditransaksikan. Makelar
adalah perusahaan pialang (broker) yang melakukan pembelian dan penjualan efek
untuk kepentingan orang lain dengan memperoleh imbalan. Sedang komisioner
adalah pihak yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan
sendiri atau untuk orang lain dengan memperoleh imbalan.
6. Investor, adalah pihak yang menanamkan modalnya dalam bentuk efek di bursa efek
dengan membeli atau menjual kembali efek tersebut (Junaedi, 1990; Muttaqin, 2003;
Syahatah & Fayyadh, 2004).

Dalam pasar modal, proses perdagangan efek (saham dan obligasi) terjadi melalui tahapan
pasar perdana (primary market) kemudian pasar sekunder (secondary market). Pasar
perdana adalah penjualan perdana saham dan obligasi oleh emiten kepada para investor,
yang terjadi pada saat IPO (Initial Public Offering) atau penawaran umum pertama. Kedua
pihak yang saling memerlukan ini tidak bertemu secara dalam bursa tetapi melalui pihak
perantara seperti dijelaskan di atas. Dari penjualan saham dan efek di pasar perdana inilah,
pihak emiten memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Sedangkan pasar sekunder adalah pasar yang terjadi sesaat atau setelah pasar perdana
berakhir. Maksudnya, setelah saham dan obligasi dibeli investor dari emiten, maka investor
tersebut menjual kembali saham dan obligasi kepada investor lainnya, baik dengan tujuan
mengambil untung dari kenaikan harga (capital gain) maupun untuk menghindari kerugian
(capital loss). Perdagangan di pasar sekunder inilah yang secara reguler terjadi di bursa efek
setiap harinya.

Jual Beli Saham dalam Pasar Modal Menurut Islam


Para ahli Fiqh kontemporer sepakat, bahwa haram hukumnya memperdagangkan saham di
pasar modal dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang haram. Misalnya,
perusahaan yang bergerak di bidang produksi minuman keras, bisnis babi dan apa saja yang
terkait dengan babi, jasa keuangan konvensional seperti bank dan asuransi, dan industri
hiburan, seperti kasino, perjudian, prostitusi, media porno, dan sebagainya. Dalil yang
mengharamkan jual beli saham perusahaan seperti ini adalah semua dalil yang
mengharamkan segala aktivitas tersebut. (Syahatah dan Fayyadh, Bursa Efek : Tuntunan
Islam dalam Transaksi di Pasar Modal, hal. 18; Yusuf As-Sabatin, Al-Buyu’ Al-Qadimah
wa al-Mu’ashirah wa Al-Burshat al-Mahalliyyah wa Ad-Duwaliyyah, hal. 109).
Namun mereka berbeda pendapat jika saham yang diperdagangkan di pasar modal itu
adalah dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha halal, misalnya di bidang
transportasi, telekomunikasi, produksi tekstil, dan sebagainya. Syahatah dan Fayyadh
berkata,”Menanam saham dalam perusahaan seperti ini adalah boleh secara syar’i…Dalil
yang menunjukkan kebolehannya adalah semua dalil yang menunjukkan bolehnya aktivitas
tersebut.” (Syahatah dan Fayyadh).

Tapi ada fukaha yang tetap mengharamkan jual beli saham walau dari perusahaan yang
bidang usahanya halal. Mereka ini misalnya Taqiyuddin an-Nabhani (2004), Yusuf as-
Sabatin dan Ali As-Salus (Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah, hal. 465).
Ketiganya sama-sama menyoroti bentuk badan usaha (PT) yang sesungguhnya tidak Islami.
Jadi sebelum melihat bidang usaha perusahaannya, seharusnya yang dilihat lebih dulu
adalah bentuk badan usahanya, apakah ia memenuhi syarat sebagai perusahaan Islami
(syirkah Islamiyah) atau tidak.

Aspek inilah yang nampaknya betul-betul diabaikan oleh sebagian besar ahli Fiqh dan
pakar ekonomi Islam saat ini, terbukti mereka tidak menyinggung sama sekali aspek krusial
ini. Perhatian mereka lebih banyak terfokus pada identifikasi bidang usaha (halal/haram),
dan berbagai mekanisme transaksi yang ada, seperti transaksi spot (kontan di tempat),
transaksi option, transaksi trading on margin, dan sebagainya (Junaedi, 1990; Zuhdi, 1993;
Hasan, 1996; Az-Zuhaili, 1996; Al-Mushlih & Ash-Shawi, 2004; Syahatah & Fayyadh,
2004).
Taqiyuddin an-Nabhani dalam An-Nizham al-Iqtishadi (2004) menegaskan bahwa
perseroan terbatas (PT, syirkah musahamah) adalah bentuk syirkah yang batil (tidak sah),
karena bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Kebatilannya antara lain
dikarenakan dalam PT tidak terdapat ijab dan kabul sebagaimana dalam akad syirkah. Yang
ada hanyalah transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara
membeli saham dari perusahaan atau dari pihak lain di pasar modal, tanpa ada perundingan
atau negosiasi apa pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya.
Tidak adanya ijab kabul dalam PT ini sangatlah fatal, sama fatalnya dengan pasangan laki-
laki dan perempuan yang hanya mencatatkan pernikahan di Kantor Catatan Sipil, tanpa
adanya ijab dan kabul secara syar’i. Sangat fatal, bukan?
Maka dari itu, pendapat kedua yang mengharamkan bisnis saham ini (walau bidang
usahanya halal) adalah lebih kuat (rajih), karena lebih teliti dan jeli dalam memahami fakta,
khususnya yang menyangkut bentuk badan usaha (PT). Apalagi, sandaran pihak pertama
yang membolehkan bisnis saham asalkan bidang usaha perusahaannya halal, adalah dalil al-
Mashalih Al-Mursalah, sebagaimana analisis Yusuf As-Sabatin (ibid., hal. 53). Padahal
menurut Taqiyuddin An-Nabhani, al-Mashalih Al-Mursalah adalah sumber hukum yang
lemah, karena kehujjahannya tidak dilandaskan pada dalil yang qath’i (Asy-Syakhshiyah
Al-Islamiyah, Juz III (Ushul Fiqih), hal. 437)

Kesimpulan
Menjual belikan saham dalam pasar modal hukumnya adalah haram, walau pun bidang
usaha perusahaan adalah halal. Maka dari itu, dengan sendirinya keberadaan pasar modal
itu sendiri hukumnya juga haram. Hal itu dikarenakan beberapa alasan, utamanya karena
bentuk badan usaha berupa PT adalah tidak sah dalam pandangan syariah, karena
bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam.

JUAL BELI MURABAHAH

Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tembahan keuntungan yang disepakati.
Dalam murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu
tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian dengan
sistem pemesanan. Dalam al-Umm, Imam Syafi’i menamai transaksi ini dengan istilah al-amir bi
al-syira . Dalam hal ini calon pembeli atau pemesan dapan memesan kepada sesorang (sebut saja
pembeli) untuk membelikan suatu barang tertentu yang diinginkannya. Kedua belah pihak
membuat kesepakatan mengenai barang tersebut serta kemungkinan harga asal pembelian yang
masih sanggup ditanggung pemesan. Setelah itu, kedua belah pihak juga harus menyepakati
beberapa keuntungan atau tambahan yang harus dibayar pemesan. Jual beli kedua belah pihak
dilakukan setelah barang tersebut beada di tangan pemesan

Landasan Syariah Murabahah


Al-Quran
َ
‫م الّرَبا‬ َ َ‫ه ال ْب َي ْعَ و‬
َ ‫حّر‬ ُ ّ ‫ل الل‬
ّ ‫ح‬
َ ‫وَأ‬
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah 2:275).

Al-Hadits
Dari Suhaib al-Rumi r.a, bahwa Rasulullah SAW, bersabda : “Tiga hal yang didalamnya terdapat
keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan
tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual” (HR. Ibn Majah).

Rukun murabahah :

1. Pihak yang berakad:


a. Penjual
b. Pembeli
2. Objek yang diakadkan:
a. Barang yang diperjualbelikan
b. Harga
3. Akad/sighot:
a. Serah (ijab)
b. Terima (qabul)
Syarat-syarat murabahah :
1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah.
2. Kontrak pertama harus sah.
3. Kontrak harus bebas dari riba.
4. Penjual harus menjelaskan setiap cacat yang terjadi sesudah pembelian dan harus membuka
semua hal yang berhubungan dengan cacat.
5. Penjual harus membuka semua ukuran yang berlaku bagi harga pembelian, misalnya jika
pembelian dilakukan secara hutang.
6. Jika syarat dalam 1, 4 atau 5 tidak dipenuhi, pembeli memiliki pilihan:
a. melanjutkan pembelian seperti apa adanya.
b. kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan.
c. membatalkan kontrak.

JUAL BELI SALAM


Salam adalah transaksi jual beli di mana barang yang diperjual belikan belum ada. Oleh karena itu
barang diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan tunai.

Landasan Syariah Salam

Al-Qur'an
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (Al-Baqarah 2: 282).

Al-Hadits
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. datang ke Madinah dimana penduduknya
melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu, dua, dan tiga tahun. Beliau
berkata, "Barangsiapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang
jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui."

Rukun Salam :
• Muslam atau pembeli
• Muslam ilaih atau penjual
• Ra’sul mal atau modal/uang
• Muslam fiihi atau barang
• Sighat atau ucapan/akad

Syarat Salam :
Modal

1) Modal harus diketahui

• Barang harus diketahui jenis, kualitas, dan jumlahnya.


• Hukum awal mengenai pembayaran harus dalam bentuk uang tunai.
2) Penerimaan pembayaran salam

• Pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak (kebanyakan ulama).


• Pembayaran salam tidak bisa dalam bentuk pembebasan utang yang harus dibayar
dari muslam ilaih (penjual).

Ketentuan umum salam :

• Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas seperti jenis,
macam, ukuran, mutu dan jumlahnya. Misalnya jual beli 100 kg mangga harum manis
kualitas "A" dengan harga Rp5000/ kg, akan diserahkan pada panen dua bulan
mendatang.
• Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan akad maka
nasabah (produsen) harus bertanggung jawab dengan cara antara lain mengembalikan
dana yang telah diterimanya atau mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.

JUAL BELI SHARF

Sharf adalah jual beli mata uang. Pada prinsipnya jual-beli valuta asing sejalan dengan prinsip sharf.
Jual beli mata uang yang tidak sejenis ini, penyerahannya harus dilakukan pada waktu yang sama
(spot).

Landasan Syariah Sharf

Al-Qur'an
َ
‫م الّرَبا‬ َ َ‫ه ال ْب َي ْعَ و‬
َ ‫حّر‬ ُّ ‫ل الل‬
ّ ‫ح‬
َ ‫وَأ‬
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah 2:275).

Al-Hadits
“(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir,
kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara
tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (HR Muslim)

Ijma’Ulama yang menyepakati bahwa akad sharf disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu.

Syarat Sharf :

• Pertukaran harus dilakukan secara tunai (spot), untuk penyerahan pada saat itu (over
the counter) atau penyelesaian paling lambat dalam jangka waktu dua hari.
• Motif pertukaran adalah dalam rangka mendukung transaksi perdagangan barang dan
jasa antarbangsa, bukan dalam rangka spekulasi.
• Bukan jual beli bersyarat. Misalnya, A setuju membeli barang dari B hari ini dengan
syarat B harus membelinya kembali pada tanggal tertentu di masa mendatang.
• Transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak-pihak yang diyakini mampu
menyediakan valuta asing yang dipertukarkan
• Tidak menjual barang yang belum dikuasai atau tanpa hak kepemilikan
Sharf yang dilarang :

• Perdagangan tanpa penyerahan (future non-delivery trading) atau margin trading


• Jual beli valas bukan transaksi komersial (arbitrage), baik spot maupun forward
• Melakukan penjualan melebihi jumlah yang dimiliki atau dibeli (oversold)
• Melakukan transaksi swap

JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat dan salam tercurah
kepada penghulu para Nabi dan atas keluarganya, dan para sahabatnya. Ini adalah risalah
singkat dengan topik jenis transaksi jual beli yang terlarang, yang telah dikumpulkan
sehingga kaum Muslimin dapat menghindarinya dalam kegiatannya sehari-hari, sehingga
penghasilannya menjadi halal, yang mana Allah akan memberikan baginya manfaat di
dunia dan di akhirat. Aslinya risalah ini berasal dari kuliah yang saya berikan di Masjid
Sumu Wali al ‘Ahd Al-Amir Abdullah bin Abdil Aziz Ali Su’ud di Riyadh pada bulan
Jumadil Ula 1411 H. Berikut ini adalah traskrip dari kuliah tersebut. Dari Muhadharah:
Wahai Saudaraku! Tidak ada keraguan bahwa perdagangan dan jual beli adalah dua hal
yang dibutuhkan dan diperlukan. Hal ini karena Allah telah memerintahkan kita untuk
mencari rezeki dan untuk makan dan minum bagi diri kita menurut cara yang secara umum
dibenarkan. Dan secara khusus, Dia berfirman mengenai perdagangan (yakni jual beli) :
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS AlBaqarah :
275) Dan Dia berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat
Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung.” (Qs Al-Jumu’ah : 9 – 10) Dan Allah berfirman, memuji mereka yang
mengumpulkan antara mencari rezeki dan melakukan ibadah:“Bertasbih kepada Allah di
mesjid-mesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di
dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh
perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan
sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.” (QS An-Nuur : 36 -37)
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa dari sifat-sifat seorang Muslim adalah berjual beli
(yakni mereka berdagang). Namun ketika waktu shalat tiba, mereka meninggalkan
dagangan mereka dan bersegera mendirikan shalat.
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingat Allah,” (QS An-Nuur : 37) Allah telah memerintahkan kita untuk mencari
rezeki bersamaan dengan perintah untuk beribadah kepadanya, sebagaimana Dia berfirman:
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.
Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan..” (QS Al-Ankabuut : 17) Jadi melakukan
bisnis dengan berjual beli atau jenis pekerjaan lain yang dibolehkan untuk memperoleh
rezeki adalah sesuatu yang diperintahkan menurut agama karena besarnya manfaat yang
dapat dipetik darinya bagi pribadi dan masyarakat.

Jual beli itu sendiri adalah terpuji dan penting, sepanjang tidak melalaikan ibadah seseorang
atau menyebabkan dia menunda pelaksanaan shalat berjama’ah di masjid. Nabi bersabda:
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, syuhada dan orang-orang
shaleh.” Ini berarti: Seorang pedagang yang membeli dan menjual dan dia jujur maka dia
akan bersama kelompok orang-orang tersebut pada hari kiamat. Ini adalah kedudukan yang
tinggi, yang menunjukkan kemuliaan memiliki pekerjaan seperti itu. Dan Nabi suatu kali
pernah ditanya tentang manakah jenis pekerjaan yang paling murni? Maka beliau
menjawab: “Perdagangan yang diberkahi (diterima oleh Allah) dan pekerjaan yang
dilakukan seseorang dengan tangannya.” (HR Thabrani) Nabi juga bersabda: “Kedua
penjual dan pembeli berada dalam kebaikan selama mereka tidak berpisah satu sama lain.
Maka jika keduanya jujur dan saling memberikan keterangan dengan jelas, semoga jual
belinya diberkahi. Namun, jika keduanya dusta dan ada yang saling disembunyikan,
hilanglah berkah jual beli keduanya.”. (Maka, bersikap jujur dalam dan dalam berdagang
adalah cara yang terbaik untuk memperoleh rezeki. Sebaliknya melakukan bisnis dengan
kebohongan, kecurangan dan tipu muslihat, maka ini merupakan cara memperoleh rezeki
yang paling buruk. Nabi pernah melewati sekelompok Muslim yang sedang berjual beli di
pasar Madinah. Maka Nabi bersabda: “Wahai para pedagang!” Maka mereka mendongak
menunggu apa yang akan beliau katakan, dan beliau berkata: “Sesungguhnya para
pedagang akan dibangkitkan sebagai pelaku kejahatan yang berdosa (fujaar) kecuali
mereka yang takut kepada Allah, yang benar dan jujur.” (HR Tirmidzi, dan berkata hadits
ini hasan shahih). Nabi sendiri terlibat dalam perdagangan di awal hidupnya, ketika beliau
mengelola harta Khadijah. Ini sebelum kedatangan kenabiannya. Dan beliau berjual beli
dan mendapatkan keuntungan.

Demikian pula para sahabat Rasulullah, mereka membeli dan menjual dan berdagang. Dan
dapat ditemui orang kaya diantara mereka yang menggunakan kekayaannya untuk
mendukung jihad di jalan Allah, seperti Utsman bin Affan yang memberikan perbekalan
kepada orang-orang miskin dalam pasukan. Dan demikian pula Abdur Rahman bin Auf
yang menginfakkan hartanya kepada kaum Muslimin pada saat dibutuhkan dan pada saat
Jihad. Demikian pula Abu Bakar As-Siddiq, dia berjual beli dan mengorbankan hartanya
untuk mendukung Islam dan kaum Muslimin, sejak dia berada di Makkah sebelum hijrah,
demikian pula setelah hijrah. Dia memberikan sebagian besar hartanya karena Allah.
Karena itu, mencari sumber-sumber rezeki sesuai dengan jalan yang diperbolehkan, yang
terbaik adalah jual beli- memiliki banyak kebaikan di dalamnya. Namun demikian, jual beli
ini harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk syariat, sehingga seorang Muslim dapat
menghindari terjerumus ke dalam jenis jual beli yang dilarang dan memperoleh penghasilan
yang haram. Nabi telah melarang kita dari beberapa jenis usaha tertentu karena di dalamnya
mengandung dosa dan apa yang di dalamnya terdapat bahaya bagi manusia dan mengambil
harta secara tidak adil. Beberapa jenis transaksi yang dilarang adalah:

1. Apabila jual beli menyibukkan seseorang dari ibadah, yakni mengambil waktu
ibadah, misalnya seseorang sibuk berjual beli dan menahannya dari shalat berjama’ah
di masjid, sehingga dia kehilangan shalat berjama’ah atau sebagian dari itu. Hal ini
dilarang. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari
Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan
sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs Al-Jumu’ah : 9 – 10)

Dan di dalam ayat lain Allah berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang rugi.” (QS Al-Munafiqun : 9) Perhatikan firman Allah: “…mereka itulah
orang-orang yang merugi.” Dia menetapkan bagi mereka bahwa mereka adalah orang-
orang yang merugi meskipun mereka mungkin kaya. Memiliki timbunan uang, dan juga
apabila dia mempunyai banyak anak. Ini karena anak-anaknya tidak dapat menggantikan
apa yang tidak mereka dapatkan dari mengingat Allah. Sehingga meskipun mereka
mendapatkan keuntungan atau memperoleh penghasilan di dunia, mereka tetap merugi.
Mereka hanya akan memperoleh keberuntungan jika mereka mengumpulkan kedua
kebaikan ini. Jika mereka menyatukan mencari rezeki dan beribadah kepada Allah, dengan
berjual beli pada waktunya dan mendirikan shalat pada waktunya, maka mereka telah
mengumpulkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan mereka telah berbuat
sebagaimana firman Allah:
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia.” (QS Al-Ankabut : 17)
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah.” (QA Al-Jumu’ah : 10) Oleh karena itu, perdagangan terbagi dua –
perdagangan untuk kehidupan dunia, dan perdagangan untuk kehidupan akhirat.
Perdagangan untuk kehidupan ini dengan harta dan penghasilan sedangkan perdagangan
untuk akhirat adalah dengan amal shaleh. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu
jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan
kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu)
ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan
(ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan
kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang beriman.” (QS As-Shaaf : 10 – 13) Inilah perdagangan besar yang menguntungkan.
Maka jika perdagangan yang diperbolehkan di dunia ini menyertainya, ia menjadi kebaikan
di atas kebaikan. Namun jika seseorang membatasi perdagangannya hanya untuk kehidupan
dunia dan mengabaikan perdagangan untuk akhirat, ia akan merugi, sebagaimana firman
Allah: “…dan mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Munafiqun : 9) Oleh
karena itu, manakala seseorang mengalihkan perhatiannya untuk beribadah dan mendirikan
shalat, dan banyak-banyak mengingat Allah, dengan melaksanakan apa yang Allah
perintahkan kepadanya, Allah pasti akan membukakan pintu-pintu rezeki baginya. Bahkan,
shalat adalah jalan untuk memperoleh rezeki, sebagaimana Allah berfirman:

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki
kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha : 132)
Maka shalat, sebagaimana yang dikatakan sebagian orang mengambil waktu mereka dari
mencari rezeki dan jual beli, ternyata adalah kebalikan dari apa yang mereka katakan.
Shalat membuka pintu-pintu rezeki, kesenangan dan berkah. Ini karena rezeki berada di
tangan Allah. Maka jika engkau hendak mengalihkan perhatianmu untuk mengingat
kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya, Dia akan memudahkan dan membuka pintu rezeki
bagimu. “Dan Allah adalah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (QS Al-Jumu’ah : 11)

Allah berfirman, menjelaskan ibadah orang-orang yang beriman:


“Bertasbih kepada Allah di mesjid-mesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan
disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari)
mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.” (QS An-Nuur : 36 -37) Dalam
penjelasan ayat ini, beberapa Salaf berkata: “Mereka (para sahabat) berjual beli, tetapi
manakala salah seorang mereka mendengar mu’adzin mengumandangkan adzan, dan
jangkauannya masih terdengar oleh telinganya, ia akan meletakkan timbangannya dan
bersegera menuju shalat.” Sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, persoalannya adalah
apabila berjual beli menyibukkan kamu dari shalatmu, maka peradangan ini dilarang dan
sia-sia. Dan uang yang dihasilkannya adalah haram dan kotor.

2. Dan dari jenis bisnis yang terlarang adalah: Menjual barang yang dilarang. Ini karena
ketika Allah menetapkan sesuatu terlarang, Dia juga menetapkan mengambil
penghasilan darinya adalah terlarang3), misalnya seseorang menjual sesuatu yang
dilarang untuk dijual. Rasulullah melarang menjual bangkai, khamr (minuman yang
memabukkan), babi dan patung4). Maka barangsiapa yang menjual bangkai, yakni
daging yang tidak ada ketentuan zakatnya, maka dia menjual bangkai dan
menghasilkan uang haram.
Hal ini juga berlaku dalam menjual khamr. Apa yang dimaksud dengan khamr adalah
segala sesuatu yang memabukkan, berdasarkan sabda Nabi : “Setiap yang memabukkan
adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram.” mencela sepuluh orang berkaitan dengan
khamr, sebagaimana di Dan beliau terdapat dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah
melaknat khamr, orang yang membuatnya dan orang yang baginya khamr dibuat, orang
yang menjualnya dan orang yang membelinya, orang yang meminumnya dan orang yang
mendapatkan penghasilan darinya, orang yang membawanya dan orang yang dibawakan
(khamr-pent) untuknya, dan orang yang melayaninya.” (HR Tirmdizi dan Ibnu Majah).
Khamr adalah segala sesuatu yang memabukkan terlepas apakah dia disebut khamr atau
minuman alkohol, liquor, anggur atau wishkey, itu tidak menjadi persoalan. Tidak perduli
apakah dia disebut dengan salah satu nama itu atau lainnya, merubah nama tidak merubah
kenyataan bahwa itu adalah khamr. Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Umatku di
akhir zaman akan meminum khamr dan memberinya nama yang lain.” Dan juga apa yang
lebih buruk dari hal ini adalah menjual narkotika, seperti opium, ataupun jenis narkotika
lainnya, yang banyak digunakan oleh orangorang belakangan ini. Maka orang yang
menjualnya adalah pelaku pelaku kejahatan (kriminal) dalam pandangan Muslim dan
pandangan dunia secara keseluruhan. Hal ini karena narkoba membunuh orang,
sebagaimana layaknya senjata yang menghancurkan. Karenanya, siapapun yang menjual
narkoba atau menyalurkannya atau membantu menyalurkannya, mereka semua berada
dalam laknat Allah dan Rasul-Nya . Dan mengambil uang darinya adalah diantara yang
perbuatan paling tercela dan perolehan yang paling dibenci. Lebih lanjut, orang yang
merurusan dengan narkoba patut di hukum karena dialah yang menyebakan banyak
kejahatan di muka bumi.
Hal yang sama berlaku untuk menjual rokok dan qaat (daun yang dikulum di Arab). Rokok
membahayakan dan dapat menimbulkan penyakit. Bahkan semua karakteristik khubth
(keburukan) terkandung dalam rokok. Tidak ada manfaat rokok dalam hal apapun.
Keburukannya sangat banyak. Seseorang dengan nafas terburuk, yang penampilannya
paling dibenci dan yang paling membebani untuk dijadikan teman diantara semua orang
adalah perokok. Jika dia duduk disebelahmu atau berkendaraan bersamamu di dalam mobil
atau di pesawat membuat sesak karena asap yang ditimbulkannya dan bau tak sedap. Bau
yang keluar dari mulutnya sudah cukup buruk ketika dia bernafas dihadapanmu, lalu
bagaimana jika dia merokok pada saat kehadiran anda dan asap menyentuh wajah anda?
Persoalannya akan menjadi lebih buruk. Rokok buruk dari segala segi dan tidak ada
kebaikan di dalamnya. Karenanya rokok dilarang tanpa ada keraguan sedikit pun. Rokok
haram hukumnya dari berbagai segi, tidak hanya satu. Ketika seseorang merokok, dia
memboroskan uang dan membuang-buang waktu. Rokok memperburuk wajah,
menghitamkan bibir dan menodai gigi. Penyakit yang disebabkan oleh rokok pun banyak.
Banyak orang yang telah menderita karenanya namun mereka menganggapnya remeh dan
sepele. Bahkan sebagian orang menderita diakibatkan asap rokok meskipun mereka tidak
pernah merokok bahkan benci merokok. Namun demikian, mereka menjualnya kepada
orang-orang karena mereka ingin mendapatkan uang dengan cara apapun mereka bisa
memperolehnya. Namun orang-orang seperti ini tidak mengetahui bahwa jenis usaha
seperti ini merusak penghasilan mereka, karena mereka telah mencampur uang yang
mereka peroleh darinya dengan usaha mereka lainnya dan merusaknya, karena
melakukannya (menjual rokok) terlarang dan menunjukkan penentangan (kepada Allah).
Rezeki tidak diperoleh dari Allah melalui penentangan kepadaNya. Sebaliknya, rezeki dan
penghidupan harus diperoleh melalui taat kepadaNya. Apapun yang telah Allah takdirkan
bagimu dari rezeki, pasti ia akan datang kepadamu. Jika engaku mencarinya manakala
mentaati Allah (dalam semua perintah dan larangan-Nya), Dia akan memudahkan dan
memberkahi rezekimu.
3. Jenis bisnis terlarang lainnya adalah: Menjual musik dan alat-alat hiburan dalam
segala jenis bentuknya, seperti instrumen yang menggunakan senar, yang ditiup atau
alat-alat musik dan segala jenis alat yang digunakan untuk tujuan itu, meskipun
mereka menamakannya dengan nama lain seperti “peralatan teknik”. Maka
hukumnya haram bagi Muslim untuk menjual alat-alat ini karena menjadi kewajiban
untuk menghancurkannya dan tidak memiliki salah satunya berada di tanah kaum
Muslimin. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin mereka menjualnya? Dan
bagaimana mungkin seseorang mendapatkan uang darinya? Ini adalah dari perbuatan
yang dilarang!
4. Dan di antara jenis transaksi bisnis yang dilarang adalah: Menjual gambar (yakni
gambar dan patung). Nabi melarang kita menjual patung, dan apa yang dimaksud
dengan patung adalah seluruh bentuk mahluk hidup. Hal ini karena pada asalnya
patung berdasarkan perwakilan gambar (image), tidak perduli apakah itu dari kuda,
burung, binatang, atau manusia. Segala sesuatu yang mempunyai ruh, maka menjual
gambarnya adalah haram, dan penghasilan yang diperoleh darinya adalah haram.
Nabi melaknat pembuat gambar dan telah mengabarkan bahwa merdekalah yang akan
menerima siksa yang paling pedih di hari kiamat. Demikian juga, tidak diperbolehkan
menjual majalah yang dipenuhi gambargambar, terlebih lagi jika majalah ini
mengandung gambar-gambar yang tidak senonoh (misalnya wanita telanjang). Hal ini
karena bersama dengan kenyataan bahwa majalah tersebut mengandung gambar yang
dilarang, dia juga menyebarkan fitnah (godaan) dan rangsangan untuk perbuatan
jahat. Hal demikian karena ketika seorang laki-laki melihat gambar wanita cantik
yang mengumbar sebagian auratnya atau telanjang, maka sebagian besar akan
menimbulkan gairahnya. Dan gairah ini akan mengarahkan seseorang untuk
melakukan perbuatan kotor atau kejahatan. Inilah apa yang diharapkan setan dari
kalangan manusia dan jin dengan penyaluran dan penjualan gambargambar ini. Juga
dalam perspektif yang lain, menjual film-film yang tidak bermoral (yakni film
porno), khususnya kaset video, yang telah dijejalkan kaum Muslim kedalam
rumahnya. Film-film ini mempertontonkan wanita telanjang juga gambar-gambar
kotor dan perbuatan seksual yang tidak bermoral. Film-film ini mengundang dan
merangsang pemuda dan pemudi dan menyebabkan mereka semakin menyukai hal-
hal yang tidak bermoral ini. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjual jenis-jenis
film porno seperti ini. Bahkan merupakan tugas anda untuk menjaga, menghancurkan
dan menjauhkan film-film seperti ini dari lingkungan kaum Muslimin. Maka
siapapun yang membuka toko (atau persewaan) video porno, dia telah membuka
tempat bagi pelaksanaan maksiat kepada Allah, dan dia telah memperoleh
penghasilan yang haram dan tidak sah, jika dia menggunakannya untuk keluarganya.
Bahkan dia telah membuka tempat fitnah dan benteng bagi syaithan.
5. Dan diantara jual beli yang dilarang adalah: Menjual kaset yang merekam lagu-lagu,
dengan suara penyanyi pria atau wanita disertai musik. Dan lagu-lagu ini mengadung
kata-kata yang berbicara tentang nafsu, kasmaran dan sanjungan pada wanita. Lagu-
lagu haram untuk didengarkan, direkam dan dijual. Dan mengambil uang darinya
merupakan penghasilan haram, dan keuntungan yang tidak sah yang dilarang oleh
Rasulullah karena menyebarkan keburukan. Dan mereka merusak prilaku seseorang
dan memasukkan keburukan ke dalam rumah kaum Muslimin.
6. Dan juga dari jenis jual beli yang dilarang adalah: Menjual sesuatu yang akan
digunakan untuk melaksanakan hal-hal yang diharamkan. Maka jika penjual
mengetahui bahwa pembeli akan menggunakan produk tersebut untuk melakukan
suatu perbuatan yang dilarang, maka menjual kepadanya dilarang dan batal. Hal ini
karena dengan menjualnya berarti anda menolongnya berbuat dosa dan kemaksiatan,
dan Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran.” (QS Al-Ma’idah : 2) Sebagai contoh: jika seseorang membeli anggur
atau kurma dengan tujuan untuk membuat anggur (minuman keras), atau dia membeli
pedang dengan tujuan untuk membunuh Muslim dengannya atau untuk perampokan
di jalan raya atau untuk melakukan penindasan dan kerusuhan dan lain-lain, setiap
orang yang akan menggunakan untuk membantunya melaksanakan apa yang dilarang
oleh Allah, maka menjual barang tersebut kepadanya tidak diperbolehkan. Hal ini jika
seseorang mengetahui dengan pasti atau besar dugaan pembeli tersebut akan
melakukannya.
7. Dan diantara jual beli yang dilarang adalah: Apabila seseorang menjual sesuatu yang
tidak dimilikinya. Misalnya seseorang menemui seorang pengusaha mencari barang
tertentu, namun pengusaha ini tidak memiliki barang tersebut. Namun mereka setuju
untuk membuat kontrak (untuk penjualan barang tersebut) dan menyepakati harga
untuk saat itu atau di masa depan. Dan saat itu barang tersebut tidak dimiliki oleh
pengusaha maupun pembeli. Maka pengusaha membeli barang dimaksud dan
menyerahkannya kepada pembeli setelah mereka menyepakati harga dan membuat
kontrak dan menyepakati nilainya untuk saat ini dan yang akan datang. Maka jenis
transaksi seperti ini adalah haram. Mengapa? Karena ia menjual sesuatu yang tidak
dimilikinya dan menjualnya sebelum ia memiliki barang tersebut, jika barangnya
telah ditentukan. Jika barangnya belum ditentukan dan pembayarannya ditangguhkan,
maka dia telah menjual hutang secara kredit. Rasulullah melarang kita melakukan hal
itu, sebagaimana yang terjadi ketika datang kepada beliau dan berkata: “Ya
Rasulullah, Hakam bin Hazam bagaimana jika seseorang datang kepadaku dan ingin
membeli sesuatu yang tidak ada padaku? Kemudian saya pergi ke pasar dan membeli
untuknya?” Nabi bersabda: “Jangan menjual sesuatu yang tidak engkau miliki.”7) Ini
adalah larangan yang jelas, karenanya tidak diperbolehkan seseorang menjual barang
tertentu kecuali barang tersebut berada dalam kepemilikannya sebelum membuat
kontrak, apapun yang akan dijualnya saat itu atau nanti. Tidak diperbolehkan
memandang remeh hal ini. Maka barangsiapa hendak menjual sesuatu untuk orang
lain, maka dia harus menyimpan barang tersebut di toko atau Gudangnya atau di
truck atau mobil atau di kantornya, sehingga dia barang tersebut tersedia. Maka
ketika ada orang yang hendak membelinya dia dapat langsung menjualnya atau untuk
waktu kemudian. Namun jika dikatakan, bukankah ini jenis transaksi yang telah
dijelaskan berkaitan dengan pembahasan (mengenai tanah Muslim), jadi ada
kemiripan dengan As-Salam? Kami katakan: “Dengan as-Salam seseorang harus
membayar harga produk pada waktu kontrak. Namun untuk jenis transaksi di atas,
maka hal tersebut melibatkan pembayaran harga diwaktu mendatang, jadi seperti
menjual hutang secara kredit, yang dilarang menurut kesepakatan para ulama.
8. Dan salah satu jenis transaksi terlarang lainnya adalah: Jual belii Aynah. Apakah jual
beli Aynah itu? Jika sebuah barang dijual kepada seseorang dengan pembayaran
ditangguhkan (yakni harga yang lebih tinggi akan dibayar kemudian hari pada waktu
yang ditentukan), kemudian barang tersebut dibeli kembali darinya dengan harga
yang berlaku pada saat itu, kurang dari harga yang ditanggukan yang diberikan
kepadanya. Maka jika pembayaran harga tunda tersebut jatuh tempo, ia membayar
hutangnya secara penuh. Inilah apa yang disebut dengan Jual Beli Aynah. Desebut
aynah (berasal dari kata ayn = sama) karena barang yang sama yang telah dijual
kembali kepada pemiliknya. Hal ini haram karena menipu seseorang dengan bunga
(riba). Pada kenyataannya, ini seperti anda menjual dengan harga dolar dengan harga
yang berlaku pada saat itu dengan penangguhan harga (akan diberikan kemudian),
yang lebih banyak dari nilai sebelumnya. Dan anda hanya menggunakan barang
tersebut sebagai alat untuk mendapatkan bunga. Adalah menjadi kewajiban anda, jika
anda memberi utang kepada seseorang karena anda menjual barang kepadanya
dengan harga pembayaran yang ditangguhkan, bahwa anda membiarkan dia
menjualnya kembali kepada orang lain, atau membiarkannya melakukan apa yang dia
kehendaki, jika dia menghendaki dia dapat menahan atau menjualnya kepada orang
lain jika dia membutuhkan uang. Nabi bersabda: “Jika kamu berjual beli dengan
aynah dan kamu memegang ekor unta dan kamu puas dengan pertanian, Allah akan
menurukan kehinaan untukmu. Dia tidak akan menghilangkannya darimu sampai
kamu kembali kepada agamamu.” (HR Abu Daud dengan ada dalil penguat
lainnya).10)
9. Dan diantara jual beli yang dilarang adalah: An-Najsh. Apa yang dimaksud dengan
An-Najash adalah ketika anda menunjukkan sebuah barang untuk dijual melalui
pelelangan umum. Maka seseorang datang untuk menawar harga barang, namun dia
tidak bermaksud membeli barang tersebut, tetapi ia hanya ingin menaikkan harga dari
barang tersebut untuk konsumen, untuk menipu para pembeli. Hal ini sama saja
apakah dia sepakat dengan penjual untuk melakukannya atau dia melakukan atas
kehendak sendiri. Maka siapapun yang menawar suatu barang yang tidak ingin
dibelinya namun hanya untuk menaikkan harganya bagi para konsumen, maka orang
tersebut adalah Najash, yang telah menentang larangan Rasulullah . Melakukannya
adalah haram, sebagaimana Nabi bersabda: “Dan janganlah melakukan Najash satu
sama lain.” Maka seseorang yang tidak memiliki keinginan atau membutuhkan suatu
barang, dia tidak boleh ikut serta dalam pelelangan dan tidak mengajukan penawaran.
Sebaliknya, ia harus meninggalkan konsumen, yang benar-benar menginginkan
barang tersebut, untuk saling menawar satu dengan lainnya. Mungkin orang tersebut
ingin menolong penjual, dan simpati kepada penjual membuatnya berlaku demikian.
Maka ia menawar harga barang untuk menolong penjual –menurut pendapatnya. Atau
mungkin penjual bersepakat dengan beberapa orang anggotanya untuk menimbulkan
kerumunan disekitar barang yang akan dijual untuk menarik perhatian pengunjung.
Perbuatan ini dipandang sebagai Najash dan haram karena merupakan cara untuk
menipu kaum Muslimin dan cara mendapatkan uang dengan tidak adil. Demikian
pula para ulama fiqh telah menetapkan bahwa yang termasuk dalam Najash adalah
ketika seorang penjual mengatakan kepada konsumennya, “Saya membeli barang ini
dengan harga demikian,” berbohong mengenai harga, sehingga pembeli akan tertipu
dan membeli barang dengan harga yang telah dinaikkan. Atau jika penjual berkata:
“Saya diberikan barang ini dengan harga demikian,” atau dia berkata, “Saya
menerimanya seharga demikian,” berbohong mengenai harga. Dia hanya ingin
menipu konsumennya untuk menawar dengan harga yang lebih tinggi dari yang
diperkirakan atau harga palsu, yang disebutnya sebagai harga yang dibayarkan untuk
barang tersebut. Ini adalah bentuk Najash yang dilarang oleh Rasulullah . Ini adalah
pengkhianatan dan penipuan seorang Muslim, dan ini merupakan sebuah kebohongan
dan ketidaksetiaan, yang akan dipertanggungjawabkannya dihadapan Allah. Jadi apa
yang menjadi kewajiban bagi penjual ialah dia memberitahukan kebenaran jika
pembeli bertanya dengan berapa harga dia mendapatkan untuk barang tersebut. Dia
harus mengatakan yang sebenarnya dan tidak mengatakan bahwa ia memperoleh
untuk harga begini, berbohong mengenai harga. Dan yang juga termasuk dalam
definisi An-Najash adalah jika orang-orang di pasar atau para pemilik toko sepakat
untuk tidak saling menawar ketua suatu barang ditampilkan dengan tujuan untuk
memaksa pemilik menjual dengan harga yang lebih rendah. Maka dengan demikian,
mereka semua berpartisipasi dalam perbuatan haram tersebut. Dan ini adalah bentuk
An-Najsm. Ini juga bentuk mengambil uang seseorang secara tidak adil.
10. Dan diantara jenis jual beli dilarang lainnya adalah: Apabila seorang Muslim
melakukan penjualan diatas penjualan saudaranya. Nabi bersabda: “Seseorang tidak
boleh menjual kepada pembeli (orang yang akan membeli barang) saudaranya.”11)
Bagaimana itu dilakukan? Misalnya ketika seseorang ingin membeli barang tertentu
datang dan membeli kepada seorang pedagang yang memberikan kepadanya pilihan
untuk memberikan keputusan terakhir dalam dua atau tiga hari. Dalam hal ini, tidak
diperbolehkan pedagang yang lain untuk datang dan mengatakan, “Tinggalkan barang
ini, saya akan memberimu barang yang sama bahkan lebih baik, dengan harga yang
murah.” Ini haram karena ia menjual kepada pembeli saudaranya. Karenanya, selama
ia menjual barang dan memberi tempo, biarkan dia memperolehnya dan tidak
mencampuri transaksinya, jika dia ingin, dia dapat membeli barangnya dan jika mau
dia bisa membatalkan perjanjian. Dan jika dia membatalkan perjanjian karena
pilihannya sendiri (yakni tidak karena bujukan dan dipengaruhi), maka tidak ada yang
menghalangimu untuk menjual kepadanya. (Kebalikan dari itu) melakukan pembelian
atas pembelian orang lain juga haram hukumnya. Maka jika seorang Muslim datang
dan membeli sebuah barang kepada seorang pedagang dan harga yang telah
ditetapkan dan memberi tempo (untuk melaksanakan jual beli), tidak diperbolehkan
pembeli lainnya untuk mencampuri dengan datang kepada pedagang dan berkata,
“Saya akan membeli barangmu dengan harga yang lebih tinggi dari yang dibeli orang
itu.” Ini haram, karena jual beli semacam ini menimbulkan kerugian kepada kaum
Muslimin dan melanggar hak mereka dan menimbulkan kebencian satu sama lain.
Hal demikian karena jika seorang Muslim mengetahui bahwa anda turut campuri
proses jual beli dan anda memiliki andil dalam membatalkan perjanjian antara
mereka, dia akan dipenuhi kebencian, dengki dan iri hati kepadamu. Atau dia bahkan
bermohon keburukanmu, karena engkau telah menentangnya. Dan Allah berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al-Ma’idah : 2)
11. Dan juga diantara jual beli yang dilarang adalah: Penjualan yang menipu, yaitu
manakala engkau menipu saudaramu Muslim dengan menjual barang yang cacat dan
engkau mengetahuinya namun tidak memberitahukan kepadanya. Maka jenis jual beli
seperti ini tidak diperbolehkan. Karena merupakan penipuan dan kecurangan.
Menjadi kewajiban bagi penjual untuk menampakkan jelas cacatnya barang dan
memberitahukan kepada pembeli. Namun jika gagal memngingatkan pembeli, maka
ini adalah penipuan dan kecurangan yang dilarang oleh Rasulullah dalam sabdanya:
“Kedua penjual dan pembeli berada dalam kebaikan selama mereka tidak berpisah
satu sama lain. Maka jika keduanya jujur dan saling memberikan keterangan dengan
jelas, semoga jual belinya diberkahi. Namun, jika keduanya dusta dan ada yang saling
disembunyikan, hilanglah berkah jual beli keduanya.” Maka menjadi kewajiban kita,
Wahai hamba Allah, untuk memberikan nasihat. Rasulullah bersabda: “Agama adalah
nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.” Mereka (para sahabat
bertanya), “Untuk siapa Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk
kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin Muslim, dan kaum Muslimin
seluruhnya.” Maka seorang Muslim harus tulus. Yang dimaksudkan dengan bersikap
tulus terhadap sesuatu adalah bahwa ia bebas dalam hal-hal tertentu. Sebagai
contohnya bersikap tulus adalah bebas dari penipuan. Suatu kali Rasulullah melewati
seseorang yang sedang menjual makanan di pasar, yang meletakkan makanannya
dalam satu tumpukan. Maka Nabi meletakkan tangannya di atas tumpukan tersebut
dan menemukan sebagian yang basah di bagian dasar tumpukan. Maka beliau
berkata: “Apa ini, wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Langit telah
merubahnya.” - maksudnya hujan telah merusak sebagiannya. Maka Rasulullah
bersabda: “Maka tidakkah kamu hendak menampakkannya sehingga orang-orang
dapat melihatnya? Barangsiapa yang menipu kami (Muslim) maka dia bukan bagian
dari kami.”12) Hadits ini telah meletakkan sebuah hal yang paling mendasar dalam
melakukan jual beli diantara kaum Muslimin. Maka tidak diperbolehkan seorang
Muslim untuk menutupi kecacatan (barangnya). Jika barang dagangannya cacat maka
dia harus menampakannnya sehingga pembeli dapat melihat dan menyadari hal itu,
sehingga mereka dapat menawar barang itu dengan harga yang sesuai dengan cacat
tersebut. Ia tidak boleh mendapatkan barang tersebut dengan harga bilamana barang
tersebut sempurna, karena dengan demikian penjual telah menggunakan tipu daya dan
berlaku curang, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah : “Maka tidakkah kamu
hendak menampakkannya sehingga orang-orang dapat melihatnya? Barangsiapa yang
menipu kami (Muslim) maka dia bukan bagian dari kami.”

Oleh karena itu, Wahai Hamba Allah! Berapa banyak penipuan yang engkau temui pada
hari ini? Berapa kali engkau melihat orang-orang menyembunyikan barang yang cacat di
bagian bawah wadah atau peti dan menempatkan yang baik di bagian atas – apakah itu
sayuran atau bahan makanan? Mereka dengan sengaja meletakkan barang yang cacat di
bagian bawah dan menempatkan barang yang sempurna bentuknya di bagian atas. Ini
adalah penipuan, yang dilakukan di seluruh dunia. Kami memohon kepada Allah untuk
memaafkan dan mengampuni diri kami dan anda, dan semoga Dia menjadikan rezeki kita
halal dan menjadikan penghasilan kita halal. Dan kita memohon kepada Allah agar
memberikan anugerah-Nya kepada kita. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan apa yang
Engkau halalkan bukan atas apa yang Engkau haramkan, dan Berikanlah kami anugerah-
Mu bukan dari apa-apa yang selain dari di sisi-Mu, Dan ampunilah kami, kasihilah kami
dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya hanya Engkau-lah Yang Maha Menerima taubat
lagi Maha Penyayang. Dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi .

Referensi:

Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-


Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq
Al-Mushlih, Abdullah & Ash-Shawi, Shalah, Fiqh Ekonomi Keuangan Islam (Maa Laa
Yasa’u Al-Taajir Jahlahu), Penerjemah Abu Umar Basyir, (Jakarta : Darul Haq),
2004
Al-Omar, Fuad. dan Abdel-Haq, Mohammed. 1996. Islamic Banking. Theory, Practise, and
Challenges. Karachi: Oxford University Press.
An-Nabhani, Taqiyuddin, an-Nizham al-Iqtishadi fi Al-Islam, (Beirut : Darul Ummah),
Cetakan VI, 2004
Antonio, Muhammad Syafi’i (2001), Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Gema
Insani, Jakarta
As-Sabatin, Yusuf Ahmad Mahmud, Al-Buyu’ Al-Qadimah wa al-Mu’ashirah wa Al-
Burshat al-Mahalliyyah wa Ad-Duwaliyyah, (Beirut : Darul Bayariq), 2002
As-Salus, Ali Ahmad, Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah wa al-Iqtishad al-
Islami, (Qatar : Daruts Tsaqafah), 2006
Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz IX (Al-Mustadrak), (Damaskus
: Darul Fikr), 1996
Badilag (2005), http://www.badilag.net/index.php?
option=com_content&task=view&id=90&Itemid=100 JIC (2006),
http://jic.jakarta.go.id/index.php?menu=showarticle.php&id=32
Fuad, M, et.al., Pengantar Bisnis, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama), 2000
Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah : Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan,
(Jakarta : PT RajaGrafindo Persada), 1996
Junaedi, Pasar Modal Dalam Pandangan Hukum Islam, (Jakarta : Kalam Mulia), 1990
Majalah As-Sunnah Edisi 12/Th III/1420-1999, Penjualan Kredit Dengan Tambahan Harga,
Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Peneremah Abu Shalihah Muslim
Al-Atsari, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah.
Muttaqin, Hidayatullah, Telaah Kritis Pasar Modal Syariah, http://www.e-
syariah.org/jurnal/?p=11, 20 des 2003
Pikiran Rakyat (2005), http://www.pikiran-
rakyat.com/cetak/2005/0805/21/hikmah/manajemen.htm
Siahaan, Hinsa Pardomuan & Manurung, Adler Haymans, Aktiva Derivatif : Pasar Uang,
Pasar Modal, Pasar Komoditi, dan Indeks (Jakarta : Elex Media Komputindo), 2006
Suhendi, Hendi (2002), Fiqh Muamalah, RajaGrafindo Persada, Jakarta
Syahatah, Husein & Fayyadh, Athiyah, Bursa Efek : Tuntunan Islam dalam Transaksi di
Pasar Modal (Adh-Dhawabit Al-Syar’iyah li At-Ta’amul fii Suuq Al-Awraq Al-
Maliyah), Penerjemah A. Syakur, (Surabaya : Pustaka Progressif), 2004
Tarban, Khalid Muhammad, Bay’u Al-Dayn Ahkamuhu wa Tathbiquha Al-Mu’ashirah
(Al-Azhar : Dar al-Bayan Al-’Arabi; Beirut : Dar al-Kutub al-’Ilmiyah), 2003
Vbaitullah (2006), http://blog.vbaitullah.or.id/2006/11/19/816-jual-beli-kredit-25/
Vibiznews (2007), http://www.vibiznews.com/1new/articles_financial.php?
id=24&page=syariah
Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, (Jakarta : CV Haji
Masagung), 1993