Anda di halaman 1dari 2

Willy Gusnanda

12.06.0021

Dr. Dian Sp.A

ASMA

Asma merupakan salah satu penyakit kronik yang tersebar diseluruh belahan
dunia dan sejak 20 tahun terakhir prevalensinya semakin meningkat pada anak-anak baik
di negara maju maupun negara sedang berkembang. Peningkatan tersebut diduga
berkaitan dengan pola hidup yang berubah dan peran faktor lingkungan terutama polusi
baik indoor maupun outdoor.

Prevalensi asma pada anak berkisar antara 2-30%. Di Indonesia, prevalensi asma
pada anak sekitar 10% pada usia sekolah dasar dan sekitar 6,5% pada usia sekolah
menengah pertama.

Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan
yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan
sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami
gejala lain seperti nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi. Asma bisa diderita oleh semua
golongan usia, baik muda atau tua.

Penyebab asma secara pasti masih belum diketahui. Meskipun begitu, ada
beberapa hal yang dapat memicu kemunculan gejala penyakit ini, di antaranya seperti
infeksi paru-paru dan saluran napas yang umumnya menyerang saluran napas bagian atas
seperti flu, alergen (bulu hewan, tungau debu, dan serbuk bunga), paparan zat di udara,
misalnya asap kimia, asap rokok, dan polusi udara, faktor kondisi cuaca, seperti cuaca
dingin, cuaca berangin, cuaca panas yang didukung kualitas udara yang buruk, cuaca
lembap, dan perubahan suhu yang drastis, kondisi interior ruangan yang lembap,
berjamur, dan berdebu, pekerjaan tertentu, seperti tukang kayu, tukang las, atau pekerja
pabrik tekstil, dan bisa juga di sebabkan oleh stres.
Inflamasi saluran napas yang ditemukan pada pasien asma diyakini merupakan
hal yang mendasari gangguan fungsi. Respon terhadap inflamasi pada mukosa saluran
napas pasien asma ini menyebabkan hiperreaktifitas bronkus yang merupakan tanda
utama asma. Reaksi imunologik yang timbul akibat paparan dengan alergen pada
awalnya menimbulkan fase sensitisasi. Akibatnya terbentuk IgE spesifik oleh sel plasma.
IgE melekat pada reseptor Fc pada membran sel mast dan basofil. Bila ada rangsangan
berikutnya dari alergen serupa, akan timbul reaksi asma cepat (immediate asthma
reaction). Terjadi degranulasi sel mast dan dilepaskan mediator-mediator seperti
histamin, leukotrien C4 (LTC4), prostaglandin D2 (PGD2), tromboksan A2 dan tryptase.
Mediator-mediator tersebut menimbulkan spasme otot bronkus, hipersekresi kelenjar,
edema, peningkatan permeabilitas kapiler, disusul dengan akumulasi sel eosinofil. Hal ini
menyebabkan obstruksi saluran napas dan menghambat aliran udara yang dapat kembali
secara spontan atau setelah pengobatan. Obstruksi terjadi selama ekspirasi ketika saluran
napas mengalami volume penutupan dan menyebabkan gas di saluran napas
terperangkap.

Pengobatan pada asma bertujuan untuk mengendalikan gejala dan mencegah timbulnya
kembali serangan. Bagi sebagian besar penderita asma, obat-obatan dan metode
pengobatan yang ada saat ini sudah terbukti efektif dalam menjaga agar gejala asma tetap
terkontrol.

Untuk mendapatkan hasil yang efektif, perlu untuk menyesuaikan pengobatan dengan
gejala-gejala asma yang muncul. Selain itu, pasien juga harus menjalani pemeriksaan
secara rutin (minimal sekali dalam setahun) untuk memastikan pengobatannya cocok dan
penyakit asma telah berada dalam kendali. Terkadang pasien membutuhkan tingkat
pengobatan yang lebih tinggi pada jangka waktu tertentu.