Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

GEOLOGI PANAS BUMI & VULKANOLOGI

Disusun Oleh :

Kelompok D1

Desita Indah (270110170016)

Prisca Nurul P (270110170017)

M. Dhiya Ulhaq (270110170018)

M. Faisal Wirdan (270110170019)

Fani Mulyana I (270110170020)

Batistuta Sihotang (270110170036)

Ghoffar Cahya R (270110170037)

Rifqi Dwi Saprana (270110170038)

Fakultas Teknik Geologi


Universitas Padjadjaran
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di zaman modern seperti sekarang, sumber energi sangat dibutuhkan untuk


memenuhi kebutuhan kehidupan manusia. Namun, sumber energi yang masih
banyak digunakan hingga saat ini masih menggunakan bahan bakar fosil. Bahan
bakar fosil merupakan bahan bakar yang tidak dapat terbarukan dan suatu saat
dapat habis. Sementara kebutuhan akan energi untuk memenuhi kebutuhan
manusia semakin meningkat. Untuk itu diperlukan sumber energi alternatif lain
yang dapat menunjang kebutuhan kehidupan manusia.

Pengembangan energi terbarukan merupakan salah satu yang sedang


digencarkan oleh pemerintah maupun perusahaan. Salah satu energi alternatif
untuk menggantikan bahan bakar fosil yang banyak terdapat di Indonesia yaitu
energi panasbumi. Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di ring of
fire dimana banyak gunungapi yang sangat berpotensi menjadi sumber energi
Panasbumi. Menurut UU No. 21 tahun 2014, Sumber Energi panas yang
terkandung di dalam air panas, uap air, serta batuan bersama mineral ikutan dan
gas lainnya yang secara genetik tidak dapat dipisahkan dalam sistem panas bumi.

Eksplorasi panasbumi adalah salah satu tugas dari seorang geologist, karena
tidak semua gunungapi dapat dijadikan sebagai sumber energi panasbumi, ada
beberapa karakteristik atau indikasi jika salah satu daerah atau gunungapi akan
dijadikan penghasil dari energi panasbumi itu sendiri. Oleh sebab itu seorang
geolgist harus mempelajari hal hal tersebut. Dalam mata kuliah Geologi
Panasbumi dan Vulkanologi kami mempelajari secara teori tentang energi panas
bumi ini dan kegiatan kuliah lapangan ini merupakan salah satu poin
pembelajaran kami sebagai mahasiswa Teknik Geologi. Harapannya dengan
melakukan kegiatan kuliah lapangan ini mahasiswa dapat mengetahui hal yang
sebenarnya terjadi di lapangan bukan hanya sekedar teori, karena yang ditemukan

1
pada lapangan sepenuhnya tidak selalu ideal seperti yang ada di dalam buku.
Maka diadakanlanlah kuliah lapangan Geologi Panasbumi dan Vulkanologi.

1.2. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari kuliah lapangan ini adalah untuk
mengimplementasikan materi yang telah diberikan selama kurang lebih satu
semester dalam pembelajaran di kelas secara teoritis. Selain itu juga untuk
memenuhi salah satu komponen penilaian dalam kurikulum maupun penilaian
dalam semester ini.

1.3. Waktu dan Tempat


Kuliah Lapangan Geologi Panasbumi dan Vulkanologi dilaksanakan pada :
Tempat : Pertamina Geotermal Energi, Area Kamojang. Jl. Raya Kamojang,
Kabupaten Bandung, Garut 44151, Jawa Barat.
Tanggal : 12 November 2019
Pukul : 08.00 s.d 15.00 WIB

2
BAB II
GEOLOGI REGIONAL
2.1. Fisiografi Regional
Area panasbumi Kamojang terletak 40 Km dari Kota Bandung ke arah
Tenggara, di dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Bandung dan Garut. Area
panasbumi Kamojang meliputi luas kurang lebih sebesar 31,68 km2 dan luas
daerah prospek sekitar 21 Km2. Secara geografis daerah ini berada pada posisi 7°
8' 2" LS - 107° 48' 0,01” BT dengan ketinggian sekitar 1500 m di atas muka air
laut. Kamojang beriklim sejuk, dengan suhu reservoar 150 – 200 oC dengan curah
hujan setiap tahunnya mencapai 2885 mm. Berdasarkan zona fisiografi wilayah
Jawa Barat dibagi menjadi 4 zona mencakup zona dataran pantai Jakarta, zona
Bogor, zona Bandung, dan zona Pegunungan Selatan.

Gambar 1. Fisiografi Jawa Barat Indonesia

2.2. Stratigrafi Regional

Tatanan daerah penelitian yang termasuk ke dalam area panasbumi Kamojang


secara fisiografis berada pada kelompok Garut yang terdiri dari endapan volkanik

3
berumur Kuarter.Secara regional, tatanan stratigrafi daerah penelitian mengacu
pada peta geologi lembar Garut, Pameungpeuk, dan Jawa oleh Alzwar, dkk, 1992.

Gambar 2. Peta Geologi lembar Garut dan Pameumpuek (Kotak hijau


adalah lokasi penelitian) (Alzwar, dkk., 1992)

4
2.3 Tatanan Tektonik Regional

Gambar 3. Morfologi Lapangan Kamojang

Struktur geologi yang terdapat di daerah ini adalah lipatan, sesar dan
kekar. Lipatan yang terjadi mempunyai arah sumbu barat-barat laut-timur
tenggara pada Formasi Bentang dan utara barat laut – selatan tenggara pada
Formasi Jampang. Perbedaan arah sumbu tersebut disebabkan oleh perbedaan
tahapan dan intensitas tektonika pada kedua satuan batuan tersebut. Sesar yang
dijumpai adalah sesar normal dan sesar geser. Sesar normal yang utama
merupakan bagian unsur pembentukkan depresi (Zona Bandung) yang dicirikan
sebagai sesar Pegunungan Selatan, berarah barat-timur. Arah jurus sesar geser
umumnya baratdaya-timurlaut, beberapa ada yang hampir barat-timur dan
baratlaut – tenggara. Sesar-sesar itu melibatkan satuan batuan Tersier dan Kuarter,
sehingga dapat ditafsirkan sebagai sesar yang muda. Melihat pola arahnya
diperkirakan gaya tektonika berasal dari selatan ke utara yang diduga telah
berlangsung sejak Oligosen Akhir Miosen Awal. Dengan demikian dapat diduga
bahwa mungkin sebagian dari sesar tersebut merupakan penggiatan sesar lama.
Sesar yang berkembang dalam Kuarter umumnya sebagai pengontrol tumbuhnya
gunungapi muda, terutama sistem sesar berarah baratdaya-timurlaut
yangmemotong bagian tengah daerah ini.

5
BAB II

TEORI DASAR

Panas bumi (Geothermal) adalah sumber daya alam berupa air panas atau
uap yang terbentuk di dalam reservoir bumi melalui pemanasan air bawah
permukaan oleh batuan panas. Sistem panas bumi merupakan salah satu sistem
yang terjadi dalam proses geologi yang berjalan dalam orde ratusan bahkan jutaan
tahun yang dewasa ini membawa manfaat bagi manusia baik dimanfaatkan
dengan menjadikan manifestasi untuk pariwisata maupun pemanfaatannya untuk
pertanian dan peternakan (Winarsih, 2014).

Sumberdaya panasbumi pada umumnya berkaitan dengan mekanisme


pembentukan magma dan kegiatan vulkanisme. Sistem panas bumi dengan suhu
yang tinggi, umumnya terletak di sepanjang zona vulkanik punggungan
pemekaran benua, di atas zona subduksi seperti di Indonesia, dan anomali
pelelehan di dalam lempeng. Batas-batas pertemuan lempeng yang bergerak
merupakan pusat lokasi untuk munculnya sistem hidrotermal magma. Transfer
energi panas secara konduktif pada lingkungan tektonik lempeng diperbesar oleh
gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal.

Persyaratan utama untuk pembentukan sistem panas bumi (hidrotermal)


adalah sumber panas yang besar (heat source), reservoir untuk mengakumulasi
panas, dan lapisan penudung terakumulasinya panas (cap rock). Dalam system
hidrotermal ini, panas dapat berpindah secara konduksi dan konveksi. Menurut
Hochstein dan Muffler (1995), transfer panas dari kerak dapat berasal dari busur
vulkanik, plume, pelelehan subcrustal oleh underplating, pemekaran kerak., atau
akibat deformasi plastis.

Reservoar panasbumi yang produktif harus memiliki porositas dan


permeabilitas yang tinggi, ukuran cukup besar, suhu tinggi dan kandungan fluida
yang cukup. Permeabilitas dihasilkan oleh karakteristik stratigrafi (misal porositas

6
intergranular pada lapilli, atau lapisan bongkah-bongkah lava) dan unsur struktur
(misalnya sesar, kekar, dan rekahan). Geometri reservoar hidrotermal di daerah
vulkanik merupakan hasil interaksi yang kompleks dari proses vulkano-tektonik
aktif antara lain stratigrafi yang lebih tua dan struktur geologi.

Batuan penudung yang impermeable atau memiliki permeabilitas rendah


menutupi reservoir sangat diperlukan untuk mencegah jalan keluar akumulasi
fluida panas dalam reservoir. Pada lingkungan vulkanik yang berasosiasi dengan
pergerakan tektonik yang menyebabkan terbentuknya celah, batuan penudung
impermeabel tanpa celah yang ideal seharusnya jarang ditemukan. Akan tetapi,
proses geokimia yang menyebabkan terjadinya ubahan-ubahan hidrotermal dan
deposisi mineral sangat membantu dalam menutup celah-celah yang terbentuk,
contohnya kalsit dan silika yang berperan sebagai penyegel celah-celah tersebut.

Posisi Kepulauan Indonesia yang terletak pada pertemuan antara tiga


lempeng besar (Eurasia, Hindia Australia. Pasifik) menjadikannya memiliki
tatanan tektonik yang kompleks. Subduksi antar lempeng benua dan samudra
menghasilkan suatu proses peleburan magma dalam bentuk partial melting batuan
mantel dan magma mengalami diferensiasi pada saat perjalanan ke permukaan
proses tersebut membentuk kantong –kantong magma (silisic / basaltic) yang
berperan dalam pembentukan jalur gunungapi yang dikenal sebagai lingkaran api
(ring of fire). Munculnya rentetan gunung api Pasifik di sebagian wilayah
Indonesia beserta aktivitas tektoniknya dijadikan sebagai model konseptual
pembentukan sistem panas bumi Indonesia.

Berdasarkan asosiasi terhadap tatanan geologinya, sistem panas bumi di


Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu : vulkanik, vulkano –
tektonik dan Non-vulkanik. Sistem panas bumi vulkanik adalah sistem panas
bumi yang berasosiasi dengan gunungapi api Kuarter yang umumnya terletak
pada busur vulkanik Kuarter yang memanjang dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara, sebagian Maluku dan Sulawesi Utara. Pembentukan sistem panas bumi
ini biasanya tersusun oleh batuan vulkanik menengah (andesit-basaltis) hingga
asam dan umumnya memiliki karakteristik reservoir sekitar 1,5 km dengan

7
temperature reservoir tinggi (~250 - ≤ 370°C). Pada daerah vulkanik aktif
biasanya memiliki umur batuan yang relatif muda dengan kondisi temperatur yang
sangat tinggi dan kandungan gas magmatik besar. Ruang antar batuan
(permeabilitas) relatif kecil karena faktor aktivitas tektonik yang belum terlalu
dominan dalam membentuk celah-celah / rekahan yang intensif sebagai batuan
reservoir. Daerah vulkanik yang tidak aktif biasanya berumur relatif lebih tua dan
telah mengalami aktivitas tektonik yang cukup kuat untuk membentuk
permeabilitas batuan melalui rekahan dan celah yang intensif. Pada kondisi
tersebut biasanya terbentuk temperatur menengah - tinggi dengan konsentrasi gas
magmatik yang lebih sedikit. Sistem vulkanik dapat dikelompokkan lagi menjadi
beberapa tie, misal : sistem tubuh gunung api strato jika hanya terdiri dari satu
gunungapi utama, sistem komplek gunung api jika terdiri dari beberapa
gunungapi, sistem kaldera jika sudah terbentuk kaldera dan sebagainya. Gambar 2
adalah contoh tipe sistem komplek gunung api di lingkungan pulau- pulau kecil
seperti Pulau Weh, sedangkan Gambar 3 merupakan contoh tipe sistem komplek
gunung api di lingkungan pulau- pulau besar seperti di Pulau Jawa. Hal ini untuk
menunjukkan bahwa tipe yang sama akan memberikan potensi yang jauh berbeda
jika lingkungannya berbeda.

Sistem panas bumi vulkano – tektonik, sistem yang berasosisasi antara


struktur graben dan kerucut vulkanik, umumnya ditemukan di daerah Sumatera
pada jalur sistem sesar sumatera (Sesar Semangko). Sistem panas bumi Non
vulkanik adalah sistem panas bumi yang tidak berkaitan langsung dengan
vulkanisme dan umumnya berada di luar jalur vulkanik Kuarter. Lingkungan non-
vulkanik di Indonesia bagian barat pada umumnya tersebar di bagian timur
sundaland (paparan sunda) karena pada daerah tersebut didominasi oleh batuan
yang merupakan penyusun kerak benua Asia seperti batuan metamorf dan
sedimen. Di Indonesia bagian timur lingkungan non-vulkanik berada di daerah
lengan dan kaki Sulawesi serta daerah Kepulauan Maluku hingga Irian didominasi
oleh batuan granitik, metamorf dan sedimen laut.

8
Pengelompokan sistem ini juga akan memberikan gambaran atau estimasi
awal besarnya potensi energinya. Sistem komplek gunung api dan sistem kaldera,
karena telah mengalami proses geologi yang panjang dan lama, memungkinkan
potensi energinya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan sistem tubuh
gunung api tunggal. Perkiraan awal mengenai besar potensi panas bumi suatu
daerah berdasarkan lingkungan geologinya dapat menjadi panduan dalam
menentukan prioritas penyelidikan pendahuluan panas bumi oleh Pemerintah,
dalam hal ini Badan Geologi.

Sampai saat ini di Indonesia terdapat 265 lokasi panas bumi yang tersebar
di sepanjang jalur vulkanik yang membentang dari P. Sumatera, Jawa, Bali, Nusa
Tenggara, Sulawesi, dan Maluku serta daerah-daerah non vulkanik seperti
kalimantan dan Papua. Sebagian besar lokasi panas bumi (~80%) merupakan
daerah panas bumi yang berasosiasi dengan lingkungan busur vulkanik Kuarter,
dan sisanya adalah berasosiasi dengan lingkungan non vulkanik yang berada
diluar busur vulkanik tersebut. Perkiraan total potensi energi panas bumi di
Indonesia sekitar 28 GWe atau setara dengan 8 ~ 10 milyar barel minyak bumi.
Dengan total potensi sebesar ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara
terkaya akan energi panas bumi. Apabila dilihat dari status penyelidikannya, dari
265 daerah panas bumi yang ada, sekitar 62% daerah panas bumi masih berada
pada tahap penyelidikan pendahuluan atau inventarisasi dengan potensi pada kelas
sumber daya spekulatif. Daerah yang telah disurvei secara rinci melalui eksplorasi
permukaan dengan atau tanpa pengeboran landaian suhu bsru sebanyak 82 lokasi
(32%). Dari sisi pemanfaatan untuk energi listrik, saat ini baru 7 lokasi atau 2,73
% lapangan panas bumi yang telah berproduksi dengan kapasitas total terpasang
1189 MW.

9
BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Kuliah lapangan mata kuliah Vulkanologi dan Panas Bumi kali ini
diadakan di PLTP PGE Area Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun,
Kabupaten Bandung Jawa Barat. Kuliah lapangan tersebut dibagi menjadi 2 tahap
yaitu Tahap Pengenalan PGE Kamojang yang terletak pada Kantor PGE Area
Kamojang dimana dilakukan sosialisasi mengenai Panas Bumi di Kamojang
secara teori pada Geothermal Information Centre (GIC). Dan tahap kedua pada
daerah-daerah yang memiliki manifestasi panas bumi di Kamojang. Daerah
kamojang sendiri merupakan daerah pembangkin listrik tenaga panas bumi
pertama di Indonesia sejak tahun 1926. Kini daerah Kamojang memiliki 5 unit
pembangkit listrik dari puluhan sumur produksi yang menghasilkan 235 MW.
Pada ruangan GIC dijelaskan system panas bumi secara garis besar, bagiamana
pemanfaatannya secara langsung dan tidak langsung, dan system panas bumi pada
daerah Kamojang itu sendiri.

Gambar 4. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi daerah Kamojang oleh


Pertamina Geothermal Energy

Daerah Kamojang memiliki system panas bumi dari gunung api strato
kamojang dengan tipe gunung yaitu tipe C. Ciri-ciri system panas bumi pada area
Kamojang yaitu steam-dominated, dengan suhu reservoir 230-245 °C dengan

10
mata air yang kaya akan unsur Cl atau bersifat asam. Tekanan pada reservoir 30-
34 bar dengan kebasahan <1%. Untuk system panas bumi tidak lepas kaitannya
dengan system hydrothermal yang ada pada daerah Kamojang. Mulai dari zona
recharge (topografi tinggi), sebagai zona resapan air, zona discharge (manifestasi
panas bumi pada topografi yang lebih rendah serta zona upflow(pada reservoir)
dan outflow dll.

Pencarian energy panas bumi dimulai pada sumur-sumur eksplorasi yang


ada. Kemudian setelah ditemukan dikembangkan pada sumur pengembangan atau
sumur produksi. Uap air panas yang ditemukan pada reservoir di alirkan oleh
sumur produksi ke permukaan lalu dihantar dengan pipa-pipa sampai menuju unit
pembangkit listrik. Namun sebelumnya harus melewati isolator terlebih dahulu
untuk memisahkan antara uap air dengan air saja. Kemudian uap air tsb digunakan
untuk memutar turbin generator listrik. Kemudian sisa uap air didinginkan dan
kemudian bersama air yang diisolator dialirkan kembali ke reservoir melalui
sumur injeksi.

Gambar 5. Skema Pemanfaatan Energi Panas Bumi pada daerah Kamojang

PGE Area Kamojang memiliki sekitar kurang lebih 60 sumur dengan 24


diantaranya merupakan sumur produksi, kemudian terdapat sumur eksplorasi.
Tentunya pada PLTP daerah Kamojang tidak hanya memiliki sumur eksplorasi
dan produksi saja namun juga memiliki sumur injeksi guna menginjeksikan

11
kembali uap air panas yang digunakan untuk memutar turbin generator listrik
sebelumnya ke reservoir agar tetap menjaga kondisi reservoir sehingga
berkelanjutan.

Gambar 6. Model system panas bumi Area Kamojang

Selanjutnya pada kuliah lapangan ini , kami mengunjungi manifestasi-


manifestasi panas bumi yang terdapat pada daerah kamojang. Pada daerah
terdapat fumarole dan solfatara yang banyak ditemukan didekat kawah Kamojang.
Seperti yang ditemukan pada Kawah Kereta Api Kamojang yang merupakan
bekas sumur produksi pada zaman penjajahan Belanda.

12
Gambar 7. kiri merupakan Kawah Kereta Api dan Gambar kanan merupakan
solfatara

Pada sekitaran daerah Kawah Kereta api juga terdapat beberpa manifestasi
panas bumi lainnya seperti mata air panas, steaming ground , batuan yang
teralterasi. Pada daerah kamojang sendiri dapat ditemui sinter silica berupa
endapan silica yang terdapat pada mata air panas.

Gambar 8. Kanan merupakan fumarol dan Gambar Kiri merupakan mata air
panas yang terdapat pada daerah Kamojang

Gambar 9. di atas merupakan manifestasi panas bumi pada daerah Kamojang


berupa batuan alterasi.

Energi panas bumi merupakan energy terbarukan yang dapat berkelanjutan


dan merupakan energy bersih juga. Manfaatnya sangat besar dirasakan sebagai
sumber daya energy. PGE sendiri selain mengembang PLTP juga

13
mengembangkan kondisi ekonomi, pendidikan dan sosial pada masyarakat sekitar
daerah PLTP daerah Kamojang seperti sekolah, kelompok tani, dll.

14
KESIMPULAN

Salah satu energi alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil yang
banyak terdapat di Indonesia yaitu energi panasbumi. Indonesia merupakan salah
satu negara yang terletak di ring of fire dimana banyak gunungapi yang sangat
berpotensi menjadi sumber energi Panasbumi.

Area panasbumi Kamojang terletak 40 Km dari Kota Bandung ke arah


Tenggara, di dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Bandung dan Garut. Area
panasbumi Kamojang meliputi luas kurang lebih sebesar 31,68 km2 dan luas
daerah prospek sekitar 21 Km2. Daerah kamojang sendiri merupakan daerah
pembangkin listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia sejak tahun 1926.
Kini daerah Kamojang memiliki 5 unit pembangkit listrik dari puluhan sumur
produksi yang menghasilkan 235 MW.

Daerah Kamojang memiliki system panas bumi dari gunung api strato
kamojang dengan tipe gunung yaitu tipe C. Ciri-ciri system panas bumi pada area
Kamojang yaitu steam-dominated, dengan suhu reservoir 230-245 °C dengan
mata air yang kaya akan unsur Cl atau bersifat asam. Tekanan pada reservoir 30-
34 bar dengan kebasahan <1%.

Energi panas bumi merupakan energy terbarukan yang dapat berkelanjutan


dan merupakan energy bersih juga. Manfaatnya sangat besar dirasakan sebagai
sumber daya energy. PGE sendiri selain mengembang PLTP juga
mengembangkan kondisi ekonomi, pendidikan dan sosial pada masyarakat sekitar
daerah PLTP daerah Kamojang seperti sekolah, kelompok tani, dll.

15