Anda di halaman 1dari 12

CRITICAL BOOK REPORT

“DASAR-DASAR BIMBINGAN KONSELING”


DOSEN PENGAMPU : Dra. Nur Arjani, M.pd

NAMA : KRISTIKA MONDANG MATONDANG


NIM : 1193151035
KELAS : BK REGULER D 2019

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
Kata Pengantar

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, sebab
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya serta kesehatan kepada saya, sehingga mampu
menyelesaikan tugas “CRITICAL BOOK REPORT” . Tugas ini dibuat untuk memenuhi
salah satu mata kuliah saya yaitu “Dasar-dasar Bimbingan & Konseling”

Tugas critical book report ini disusun dengan harapan dapat menambah pengetahuan
dan wawasan kita semua khususnya dalam hal Bimbingan & Konseling. Saya menyadari
bahwa tugas critical book report ini masih jauh dari kesempurnaan, apabila dalam tugas ini
terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, saya mohon maaf karna sesungguhnya
pengetahuan dan pemahaman saya masih terbatas , karna keterbatasan ilmu dan pemahaman
saya yang belum seberapa.

Karena itu saya sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya
membangun guna menyempurnakan tugas ini. Saya berharap semoga tugas critical book
report ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi saya khususnya. Atas perhatian nya saya
mengucapkan terima kasih .

Medan, 14 September 2019,

Penulis.
BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bila ditinjau dari segi sejarah perkembangannya ilmu bimbingan dan konseling di
Indonesia, maka sebenarnya istilah bimbingan dan konseling pada awalnya dikenal dengan
istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari istilah guidance and
counseling. Penggunaan istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari kata
guidance and counseling ini diceruskan oleh Tatang Mahmud, MA. Seorang pejabat
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia pada tahun 1953. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh DR. Tohari Musnawar (1985:8)
Menurut riwayatnya, penggunaan istilah penyuluhan sebagai terjemahan counseling,
sudah dimulai sejak tahun 1953. Pencetusnya Tatang Mahmud., MA. Seorang pejabat di
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Pada tahun tersebut ia menyebarkan suatu
edaran untuk meminta persetujuan kepada beberapa orang yang dipandang ahli, apakah istilah
“guidance and conseling dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia Bimbingan dan
Penyuluhan. Pada waktu itu ternyata tidak ada yang menolaknya.
Oleh karena itu Tatang Mahmud untuk mencarikan terjemahan istilah Guidance and
Counseling ini dengan istilah Bimbingan dan Penyuluhan itu tidak ada yang membantahnya,
maka sejak saat itu populerlah istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan istilah
Guidance and Counseling.
Akan tetapi dalam perkembangan bahasa Indonesia selanjutnya pada tahun 1970
sebagai awal dari masa pembangunan Orde Baru, istilah penyuluhan yang merupakan
terjemahan dari kata Counseling dan mempunyai konotasi psychological-counseling, banyak
pula dipakai dalam bidang-bidang lain, seperti penyuluhan pertanian, penyuluhan KB,
penyuluhan gizi, penyuluhan hukum, penyuluhan agama, dan lain sebagainya, yang
cenderung diartikan sebagai pemberian penerangan atau informasi bahkan kadang-kadang
hanya dalam bentuk pemberian ceramah atau pemutaran film saja. Menyadari perkembangan
pemakaian istilah yang demikian, maka sebagian para ahli bimbingan dan penyuluhan
Indonesia yang tergabung dalam oraganisasi profesi IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan
Indonesia) mulai meragukan ketepatan penggunaan istilah penyuluhan. Sebagai terjemahan
dari istilah counseling tersebut. Oleh karena itu sebagian dari mereka berpendapat, sebaiknya
istilah penyuluhan itu dikembalikan ke istilah aslinya yaitu counseling, sehingga pada saat itu
dipopulerkan istilah bimbingan dan konseling untuk ilmu ini, tetapi ada pula sebagian ahli
bimbingan dan penyuluhan yang berpendapat bahwa kalau istilah guidance diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dengan istilah bimbingan, istilah counseling harus pula dicarikan
istilah bahasa Indonesianya. Berdasarkan pemikiran yang demikian maka ada para ahli itu ada
yang menggunakan istilah bimbingan dan wawanwuruk, bimbingan dan wawanmuka,
bimbingan dan wawancara untuk memberi nama bagi ilmu ini. Namun diantara sedemikian
banyak istilah tersebut, saat ini yang paling populer adalah istilah Bimbingan dan Konseling.

B. Tujuan

Tujuan pembuatan critical book report adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui isi dari buku yang dapat dijadikan seebagai bahan kajian untuk
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan.
2. Sebagai bahan pengumpulan data dalam pembuatan critical book report untuk di analisis
dan mencari kelebihan dan kekurangan buku yang di kritisi .
3. Mengembangkan potensi peseta didik agar menjadi manusia yang mampu berpikir dan
mengembangkan potensi diri.
4. Untuk menyelesaikan tugas dari Dosen “Dasar-dasar Bimbingan & Konseling” yaitu ibu
Dra. Nur Arjani, M.pd. Tentang Bimbingan & Konseling dan untuk menambah wawasan
tentang mata kuliah dan rasa ingin tahu serta meningkatkan minat membaca melalui CBR
ini.

C. MANFAAT

Manfaat critical book report adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan isi buku.

2. Membantu mahasiswa untuk berpikir kritis, menalar dan menganalisis isi buku.
3. Untuk membantu seorang mahasiswa mengkritik isi dari buku.
4. Menambah wawasan mata kuliah Dasar-dasar Bimbingan & Konseling.
BAB II
ISI BUKU
A. Identifikasi Buku
1. Buku Utama (Buku Satu)

Judul buku : BIMBINGAN KONSELING (Kesehatan Mental Di Sekolah)


Pengarang : Dr. Dede Rahmat Hidayat, M.Psi dan Herdi, M.pd
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya – Bandung
Tahun terbit : 2013
Tebal buku      : 190 halaman
ISBN : 978-979-692-132-4

2. Buku Pembanding ( Buku Dua)


Judul buku      : Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Pengarang       : Dr. Syarifuddin Dahlan, M.pd
Penerbit           : Graha Imu - Yogyakarta
Tahun terbit :  2014
Tebal buku      : 137 halaman
ISBN : 978-602-262-303-8
B. Isi Ringkas Buku

Bab 1. Sejarah Singkat Perkembangan Kesehatan Mental

Pembahasan mengenai sejarah perkembangan kesehatan mental memiliki sejarah yang panjang,
seumur dengan perkembangan kehidupan manusia. Gangguan kesehatan mental dialami sepanjang
hidup manusia, mulai zaman purba sampai dengan masa kini. Perbedaan yang nyata adalah dalam
kompleksias masalah mental yang dialami dan variasi sumber masalah. Dahulu variasi gangguan
relatif homogen dan dengan sumber yang relatif sama, sekarang jauh lebih kompleks dan berbagai
sumber masalah yang lebih rumit.

Zaman dahulu, penjelasan mengenai bentuk gangguan kesehatan mental amatlah sederhana dan
sebagian besar tidak terjelaskan dengan baik. Gangguan kesehatan mental dijelaskan karena
gangguan roh jahat sehingga penanganan yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi.
Semakin berubahnya zaman dan berkembangnya pengetahuan, penjelasan mengenai gangguan
kesehatan mental semakin baik dan didasarkan kepada ilmu pengetahuan yang telah melalui berbagai
penelian dan pengembangan teknologi. Meskipun harus disadari bahwa perubahan ini melalui
berbagai rintangan dan proses yang panjang.

Bab 2. Konsep Dasar Kesehatan Mental

Kesehatan mental secara definitif harus diikatkan dalam makna kesehatan yang umum, karena
akan berkaikan dengan kondisi jasmani dan sosial. Keadaan sehat mental dapat dimaknai secara utuh
berupa kondisi yang prima dan berfungsi secara optimal. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa
orang yang sehat secara mental memiliki kondisi yang baik, tidak mengalami berbagai bentuk
gangguan atau masalah, baik dari aspek kejiwaan maupun aspek sosial. Aspek sosial sangat penting
dan menentukan, karena orang yang saehat mental dapat terlihat dalam relasinya dengan lingkungan
soaial, dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Komponen penting dalam kesehatan mental adalah kepribadiaan. Kepribadiaan ini menentukan
bagaimana seseorang berpikir, bersikap, dan betingkah laku. Kepribadian berkembang melalui proses
perkembangan, sehingga kepribadiaan merupakan hasil interaksi dengan lingkungan. Dalam ilmu
kesehatan jiwa, penjelasan mengenai kepribadiaan merujuk kepada teori keperibadiaan yang
dikembangkan oleh Sigmund Freud. Teorinya yang terkenal mengenai kepribadiaan disebut dengan
“Psikoanalisa”. Teori ini dikembangkan berdasarkan pengalamannya sebagai ahli psikoterapi dalam
menghadapi pasien-pasiennya.
Dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, orang yang memiliki mental sehat adalah orang yang
mencapai tingkat kesejahteraan sosial yang baik. Mereka adalh orang yang adjustif (dapat
menyesuiakan diri) dengan lingkungannya. Dengan demikian, sehat tidaknya seseorang dapat dilihat
dalam kehidupan sosialnya.

Bab 3. Karakteristik Mental Yang Sehat

Kesehatan mental seseorang banyak ditentukan oleh kondisi kepribadian. Kepribadian yang sehat
akaan memastikan bahwa yang bersangkutan dalam kondisi mental yang baik.

Beberapa ahli teori kepribadian memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri atau karakteristik
kepribadian yang sehat. Dalam hal ini, para ahli teori kepribadian mengembangkan setiap model
kepribadian yang sehat versi mereka masing-masing.

Allport menyebutkan bahwa orang yang sehat dengan orang yang matang adalah orang yang
memiliki ciri-ciri kepribadian sebagai berikut; memiliki perluasan perasaan diri, memiliki hubungan
yang hangat dengan orang lain, meniliki keamanan emosional, memiliki presepsi yang realistis,
memiliki beberapa ketrampilan dan tugas-tugas, memiliki pemahaman diri, serta memilikifilsafat
hidup yang mempersatukan.

Bab 4. Wellness dan Well-Being sebagai Konsep Kesehatan Mental Perspektif


Multidimensional

Konsep wellness dan well-being menggambarkansuatu keadaan “sehat” secara lebih komprehensif
dari perspektif multidimensional. Istilah wellness dan well-being mempunyai makna yang lebih luas
yang mencakup mental health sekaligus mental hygiene, dan dikembangkan secara holistik untuk
mendepkripsikan konsep keutuhan internal dan eksternal dari kepribadian yang sehat.

Orang yang mencapai wellness ditandai oleh adanya kekuatan spiritualisme, religius diri yang
tinggi, memiliki pekerjaan yang bermakna bagi dirinya sendiri dan orang lain serta menghasilkan
prestasi, memiliki jalinan persahabatan yang kuat, dan memiliki kekuatan cinta kasih yang
diwujudkan dalam ikatan pernikahan. Cinta lasih diasuh dalam hubungan pernikahan atau hubungan
emosional yang intim melalui kepercayaan, pemeliharaan, dan kerja sama. Karakteristik yang senada
ditunjukkan oleh orang yang mencapai well-being, yaitu merasakan kesenangan karena dapat
mnyelesaikan suatu tugas tertentu, memiliki penghargaan diri, memiliki gairah hidup, mencapai
pengalaman puncak, dan mengetahui serta menyadari tujuan dari sesuatu yang dilakukannya.
Dalam kecenderungan perkembangan profesi konseling, model kesehatan mental (wellness dan
well-being) telah dijadikan sebagai landasan dalam kegiatan konseling, baik secara konseptual
maupun operasional. Dalam perkembangan dewasa ini, konseling lebih banyak menggunakan
pendekatan perkembangan yang komprehensif dalam prosesnya, dan para ahli dalam bidang
konseling nampaknya telah sepakat bahwa wellness dan well-being merupakan tujuan umum
konseling.

Bab 5. Gangguan Kesehatan Mental di Sekolah

Masyarakat sekolah, teerutama para siswa adalah salah satu kelompok masyrakat yang tidak
terlepas dari gangguan mental. Secara umum, gangguan yang dialami berkaitan dengan belajar dan
relasi antara siswa dengan siswa. Bentuk-bentuk gangguan mental yang sering dialami oleh siswa
meliputi: (1) masalah kesulitan belajar; (2) masalah kenakalan remaja; (3) masalah disiplin; dan (4)
masalah gangguan mental.

Mengenai peran sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, Hurlock (1980:322)


mengemukaan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik
dalam berpikir, bersikap, maupun cara berprilaku. Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga, dan
guru berperan sebagai substitusi orangtua. Dari sudut pandang psikologis, guru dapat berperan
sebagai: (1) pakar psikologis pendidikan, artinya seseorang yang memahami psikologis pendidikan
dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik; (2) seniman dalam
hubungan antar manusia (artis in human relations), artinya guru adalah orang yang memiliki
kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan siswa-siswa sehingga
dapat mencapai tujuan pendidikan; (3) pembentukan kelompok, yaitu mampu membentuk,
menciptakan kelompok dan aktifitas sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan; (4) catalytic
agent atau inovator, yaitu orang yang mampu memciptakan suatu pembaharuanbagi pembuat suatu
hal yang lebih baik; (5) petugas kesehatan mental (mental hygiene worker) artinya, guru
bertanggungjawab bagi terciptanya kesehatan mental para siswa.

Bab 6. Profesi Konselor Sekolah

1. Guru bimbingan dan konseling atau konselor merupakan sebuah profesi yang menuntut
kualifikasi pendidikan tertentu. Sebagai bagian dari pendidik, guru bimbingan konseling atau
konselor memiliki hak dan kewajiban serta perlindungan yang harus diperhatikan agar dapat
menjalankan tugas-tugasnya secara bermartabat.
2. Beberapa peraturan yang berkaitan dengan profesi guru bimbingan dan konseling atau konselor
adalah surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Administrasi
Kepegawaain Negara nomor 0433/p/1993 dan nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk
Pelaksaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Permen Diknas nomor 22/2006
tentang Standar Isi, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, Undang-
undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005, Permendiknas nomor 27 tahun 2008 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, dan Peraturan Pemerintah RI nomor 74
tahun 2008 tentang guru.
3. Profesi guru bimbingan dan konseling atau konselor menyaratkan adanya pendidikan khusus,
peraturan, dan kode etik yang menaungi profesinya. Kompetensi tersebut mencakup
kompetensi pedagogik, kopetensi profesional, kompenten kepribadian, kompenten sosial, dan
yang mencakup kompetensi multikultural. Kompetensi tersebut selain diperoleh melalui
pendidikan akademik S1 dan pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling atau konselor,
juga harus terus ditingkatkan melalui berbagai kegiatan ilmiah atau kegiatan akademik, misalnya
menempuh pendidikan formal di bidang bimbingan dan konseling, pelatihan, seminar ilmiah,
penelitian, kerjasama dengan kolega, lokakarya, perluasan sumber bacaan, dan pengguanaan IT.
Bab 7 . Program Bimbingan Konseling Komprehensif Untuk Meningkatkan Kesehatan Mental
di Sekolah

Bimbingan dan konseling komprehensif merupakan alternatif model bimbingan dan konseling
yang memberikan kesempatan bagi akademis dan praktisi konseling untuk meningkatkan layanan
bimbingan dan konseling di sekolah. Model ini memberikan model yang komprehensif dalam
layanan bimbingan dan konseling yang mengakomodir seluruh stakeholder bimbingan dan konseling
di sekolah, mulai dari siswa, guru pembimbing, kepala sekolah, sataf sekolah, guru mata pelajaran,
orangtua, dan masyarakat.

Adaptasi model bimbingan dan konseling komprehensif di Indonesia sangat memungkinkan untuk
dilakuakan, karena model ini sangat fleksibel dan adaptabel . Model ini dikembangkan untuk
mengakomodir perbedaan-perbedaan dan keunikan negara bagian, daerah, dan sekolah. Dengan
demikian, model ini juga dapat diadaptasi di Indonesia yang memiliki perbedaan dan keunikan yang
bervariasi.
Bab 8. Kolaborasi, Konsultasi, dan Referral

Kolaborasi, konsultasi, dan referral merupakan salah satu bentuk upaya sekaligus kompetensi
konselor sekolah dalam membantu pesrta didik (konseli) melalui proses kerjasama dengan konseli
dan pihak lain (guru, kepala sekolah, administrator sekolah, dokter, psikolog, psikiater, ulama, agen
kesehatan masyaratkat, serta para ahli lainnya) agar konseli dapat menafaatkan kompetensi atau
kemampuannya, kekuatannya, dan sumber-sumber lain dalam mengembangkan dirinya secara
optimal, mengatasi masalah gangguan kesehatan mental, dan konflik yang dihadapinya. Kolaborasi,
konsultasi, dan referral mengisyaratkan pentingnya pengembangan kompetensi konselor sekolah
yang profesional, menerapkan kode etik, dan pemahaman batas-batas profesional.
BAB III

PEMBAHASAN BUKU

A. BUKU UTAMA
1. Kelebihan Buku
 Buku ini sangat bermanfaat bagi para Calon Konselor untuk menambah referensi dan
wawasan terkait Kesehatan Mental di Sekolah.
 Buku ini sangat menarik karena mengupas tuntas Kesehatan Mental dengan urut
sehingga kita lebih mudah paham.
 Buku ini tidak banyak kata-kata yang sulit dimengerti.
 Buku tersebut sangat bagus, karena pembahasan buku tersebut berdasarkan contoh
kehidupan sehari-hari.
 Dalam setiap materi dari buku tersebut tertera contoh yang menambah imajinasi
pembaca.
 Pada setiap bab ada dituliskan rangkuman/kesimpulan yang dapat mempermudah dalam
memahami isi materi.
2. Kelemahan Buku
 Kekurangannya ialah kurangnya ilustrasi dan terdapat beberapa kalimat yang tidak
mudah dipahami.
 Ada beberapa kata yang menggunakan bahasa inggris tanpa terjemahan sehingga
mempersulit pemula di dalam membaca nya.

B. Buku Pembanding
1. Kelebihan Buku