Anda di halaman 1dari 3

ASTRID ALVIONITA FAUZIA

072001700004

FAKTOR GEOLOGI ZAMAN KUARTER DI ASIA TENGGARA

Zaman Kuarter adalah sebuah zaman dimana merupakan sebuah kehidupan


manusia yang lebih sempurna dibandingkan sebelumnya. Zaman Kuarter merupakan
sebuah zaman yang paling penting, dimana mulai adanya kehidupan manusia yang
lebih sempurna, layaknya kehidupan kita saat ini. Zaman ini dimulai kira-kira 1,8 juta
tahun yang lalu, dimana pada Zaman Kuarter ini telah terbagi menjadi 2 periode, yakni
zaman Pleistosen (Dilluvium) serta zaman Holosen (Alluvium).
Sepanjang periode zaman kuarter hampir semua benua bergerak dengan
gerakan yang sama dan benua benua tersebut bergerak sejak zaman Tersier akhir.
Pergeseran benua India dan Australia terus berlanjut ke arah utara, membentuk
pegunungan Himalaya di Asia dan kepulauan gunung api serta erupsi di Pasifik
Selatan. Benua Afrika dan benua Eropa terus mengalami penggapungan dan menjauh
dari utara dan Amerika Selatan, memperlebar lautan Atlantik. Subduksi beberapa
lempeng ke dalam tepi benua Amerika utara bagian barat mendekati akhir, dan hampir
seluruh bagian dari Amerika utara bergeser relatif ka arah Tenggara terhadap lautan
Pasifik. Iklim yang relatif dingin telah berlangsung di atas muka bumi sejak lima
tahun, namun demikian zaman glasiasi yang besar yang terjadi pada kala Pleistosen
kurang lebih 1,8 jt tahun lalu. Selama periode glasiasi ( hanya satu dari beberapa
episode zaman glasiasi yang pernah terjadi dalam sejarah bumi ), bongkah - bongkah
es meluas dari posisi yang sekarang ada di Antartika, laut Arktik, dan Greenland
hingga Amerika Utara, Eropa, Asia, dalam Amerika Selatan.
Kala Pleistosen ini adalah sebagian besar kehidupan sama dengan yang hidup
saat ini. Dalam periodenya sendiri, kala ini belangsung sejak 1,8 hingga 0,01 juta tahun
yang lalu. Sejumlah fosil pada kala ini yang paling banyak diperagakan diantaranya:
- Fosil gajah ( Stegodon trigonocephalus Martin )
- Fosil Kerbau ( Bulbalus paleokerabau Falconer ) dari Bumiayu
- Fosil Banteng ( Bibos sp. )
- Fosil Harimau ( Felis sp. )
- Fosil manusia purba Homo erectus
Zaman Glasial merupakan zaman dimana lapisan es di Kutub Utara telah
meluas hingga wilayah Eropa dan Amerika Bagian Utara tertutup oleh es tersebut.
Sementara daerah yang letaknya jauh dari Kutub mengalami hujan yang sangat lebat
selama bertahun-tahun. Permukaan laut saat itu mengalami penurunan diiringi dengan
permukan Bumi yang naik disejumlah tempat. Dan peristiwa tersebut terjadi setelah
kejadian alam besar yang bisa ditemukan dalam ciri zaman mesozoikum. Hal ini bisa
terjadi lantaran pada saat itu pegeseran Bumi serta adanya aktivitas dari Gunung
berapi, banyaknya hutan, dan menjadikan negara kita Indonesia saat itu mengalami
kekeringan. Akibatnya, hal ini memunculkan Paparan Sunda (Sunda Plat) dan juga
Paparan Sahul (Sahul Plat). Sementara untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan,
serta Malayia Barat bergabung dengan Filipina dan Formossa, Taiwan, serta kemudian
ke Benua Asia. Begitu pun dengan Sulawesi melalui Minahasa, Pula Sangir dilanjutkan
ke negara Filipina. Lalu antara wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ini pun
saling berhubungan melalui Nusa Tenggara. Pada permulaan Zaman Kuarter ini,
muncullah zaman es pertama, dan saat itu suhu bumi menurun dengan sangat drastis
dan gletser telah menutupi sebagian besar daratan yang ada di Asia, hal ini pun
mengakibatkan banyak air laut yang terambil serta permukaan air laut menjadi turun.
Kala Holosen yang merupakan generasi kedua dalam Zaman Kuarter ini. Kala
ini dalam skala waktu geologi berlangsung mulai sekitar 10.000 tahun radiokarbon,
kurang lebih 11.430 atau setara 130 tahun kalender yang lalu (antara 9560 sampai
dengan 9300 SM. Kala Holosen atau Alluviym, merupakan kala dimana manusia telah
resmi merajai dunia, dimulai 0,01 juta (10 ribu) tahun lalu. Ciri-Ciri Kala Holosen :
- Sebagian besar es yang berada di Kutub ini lenyap, serta permukaan air laut pun naik
- Hewan-hewan besar sepeti Sabre-tooth, Mammoth, Mastodon, Bdak Berbulu,
Glyptodon, serta Giant Sloth telah menghilang
- Daerah dataran rendah mulai tergenang air, laut mulai teragresi, hingga munculah
pulau-pulau yang ada di Nusantara
Pembentukan es yang sangat luas di  daerah kutub pada awal Plistosen sebagai
bukti adanya perubahan iklim secara mencolok secara mendunia pada kedua batas kala
tersebut.  Akibat dari pembentukan es tersebut, maka air laut di daerah tropik turun
sehingga daratan-daratan di Kawasan Barat Indonesia menyatu dan menyambung ke
Benua Asia. Peristiwa ini sangat penting peranannya dalam migrasi fauna  (termasuk
manusia) dari Asia ke Kawasan Barat Indonesia.  Pulau Jawa sendiri selama 5-3 juta
tahun yang lalu tumbuh secara perlahan-lahan dari barat ke timur akibat menurunnya
muka air  laut.  Pada saat ini Jawa adalah sebuah pulau, namun pada masa-masa lalu
tidak selamanya Jawa itu selalu sebuah pulau.  Bagaimana kalau muka air laut turun
sekitar 40-50 m, maka kita akan melihat bahwa di selatan masih tetap berupa lautan
dengan kedalaman sekitar 1000 m, tetapi di utara, Laut Jawa akan kering dan Jawa
akan terhubungkan dengan Kalimantan dan  Sumatera menjadi satu dengan daratan
Asia. Pada masa yang lalu penurunan muka air laut terjadi berkali-kali sehingga
memungkinkan terjadinya migrasi mammalian dan manusia purba. 
Perkembangan-perkembangan evolusi manusia dan tumbuhan pada zaman
Kuarter pun menjadi sangat menarik. Dikemukakan oleh Fauzie bahwa kaitannya
dengan migrasi hewan darat dari Asia ke Indonesia, baru diketahui sekitar dua juta
tahun yang lalu atau awal Kala Plistosen. Pada waktu itu  Indonesia mulai didatangi
oleh hewan darat dari Asia, karena Indonesia waktu itu sudah hampir seperti sekarang
dan daratan Sunda merupakan daratan Asia. Kedatangan mereka pun tidaklah sekali,
tetapi berulang kali dengan keluarga hewan yang beraneka. 
Perubahan iklim yang terjadi pada batas Kala Pliosen dan Plistosen sangat
mempengaruhi kehidupan yang ada pada waktu itu, baik fauna maupun floranya antara
lain menyebabkan pula adanya perubahan lingkungan sehingga mengakibatkan migrasi
dan pemisahan komunitas hewan dan tumbuhan. Hal ini yang mempengaruhi adanya
migrasi vertebrata, seperti yang telah selama ini kita kenal, yaitu migrasi vertebrata
dari dataran Asia ke Indonesia melalui Paparan Sunda. Namun demikian teori land
bridge masih diperdebatkan ketika melintas Selat Lombok, yang mempunyai
kedalaman lebih dari 1000 meter, ke Kepulauan Sunda kecil, walaupun di sana
dijumpai fosil Stegodon (gajah purba).

Sumber :
Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan. (e-book)

http://inaquarter.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=79%3Apenelitian-geologi-kuarter-di-
indonesia&catid=38%3Aartikel&Itemid=57