Anda di halaman 1dari 25

UTILITAS BANGUNAN TINGGI

Disusun untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Utilitas Bangunan Tinggi

yang diampu oleh Apif  M. Hajji, S.T, M.T., M.Sc., Ph.D

Disusun Oleh :

Yopy Novitasari

170523627012

S1 Teknik Sipil Offering E

PROGRAM S1 TEKNIK SIPIL

JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS TEKNIK

2019
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
Semester Gasal 2019-2020
Jurusan Teknik Sipil – Program Studi S1 Teknik Sipil

Mata Kuliah: Utilitas Bangunan


Dosen: Apif M. Hajji, S.T., M.Sc., Ph.D.
Hari/Tanggal: Kamis / 5 Desember 2019
Sifat: Opened Book/SIPEJAR
Waktu/Tempat Pukul 8.00 / Jumat 6 Desember
Pengumpulan: 2019
SIPEJAR

SOAL 1

Mahasiswa dengan NIM GANJIL kerjakan soal (a)


Mahasiswa dengan NIM GENAP kerjakan soal (b)

Sebagai seorang kontraktor anda harus merencanakan sebuah system transportasi vertikal
untuk bangunan berikut ini:

a. Bangunan hotel berbintang empat.


- 18 lantai
- Luas lantai tipikal 2100 m2/lantai
- Tinggi antar lantai 4 meter
- Luas lantai netto per orang 5 m2/orang
b. Bangunan perkantoran sewa.
- 15 lantai
- Luas lantai tipikal 2400 m2/lantai
- Tinggi antar lantai 3,5 meter
- Luas lantai netto per orang 6 m2/orang
Dengan asumsi bahwa tidak ada lift express pada bangunan tersebut, dan bila luas core
bangunan tersebut 10% luas lantai tipikal, hitung dan gambarkan:

1. Kapasitas dan Jumlah Lift


2. Penataan/layout lift pada core dengan skala yang SESUAI dan PROPORSIONAL
3. Tangga darurat (gunakan acuan KepMenPU no. 10 dan 11 tahun 2000)
4. Posisi KM/WC dan shaft utilitas/plambing/perpipaan (jenis dan jumlah alat
saniter bebas!)
5. Lampirkan merk/type/spesifikasi lift (max. 2 lembar) sesuai perhitungan anda
(setidaknya sesuai kapasitasnya!) Pilihan sama beberapa mahasiswa, nilai akan dibagi
rata!
Diketahui :

Jumlah Lantai (n) = 15 Lantai


Luas Lantai (a) = 2400 m2/lantai
Luas Lantai Perorang (a’) = 6 m2/orang
Tinggi antar Lantai (h) = 3,5 M
Kecepatan Lift (s) = 2,2 m/det
Waktu Tunggu Minimum (w) = 40 Det
Luas Core Bangunan = 240 m2/lantai
Persentase Penghuni Yang (P) = 4%
Dilayani Lift pada Jam
Sibuk

Penyelesaian :

1. Kapasitas dan Jumlah Lift

a. Kapasitas Lift (m)


a × n× w × P
m=
300 ×a '
2.400× 15× 40 × 4 %
¿ =32 orang
300 ×6

b. Beban Puncak Lift (L)


P ( 2a−3 mN ) n 4 % ×(2 ×2.400−3 ×32 × N )× 15
L= = =240−4,8 N
2× a ' 2 ×6

c. Waktu Perjalanan Bolak-Balik/Roundtriptime (T)


( 2h+ 4 s ) × ( n−1 ) + s × ( 3 m+ 4 )
T=
s
( 2× 3,5+ 4 × 2,2 ) × ( 15−1 ) +2,2 × ( 3 ×32+ 4 )
¿
2,2
¿ 200,55 s
d. Daya Angkat Lift Pada 5 Menit Jam Sibuk (M)
5 X 60 s X m X N 5 X 60 X 32 X N
M= = =47,86 N
T 200,55

e. Beban Puncak Lift = Daya Angkat Lift


L=M
240−4,8 N=47,86 N
240=52,67 N
240
N =
52,67
N=4,55 buah ≈ 5buah

Jadi jumlah lift yang dibutuhkan sebanyak 5 buah

f. Beban Puncak
L=240−4,8 N =240−4,8(5)=216

g. Daya Angkat
m=47,86 ×5=239,3

Jadi didapatkan hasil :

Kapasitas lift (m) = 32 orang

Jumlah lift (N) = 5 buah


2. Penataan / Layout Lift pada Core dengan Skala yang SESUAI dan PROPORSIONAL

Luas Bangunan : 2400 m2


Panjang : 80 m
Lebar : 60 m
Luas Core : 10% Luas Bangunan = 10% x 2400 = 240 m2
Jumlah Lift : 5 Buah

Gambar 1. Layout Lift pada Core


Gambar 2. Detail Layout Penempatan 5 Buah Lift pada Core Gedung Kantor
3. Tangga Darurat (Gunakan Acuan KepMenPU No. 10 dan 11 Tahun 2000)
Desain tangga menurut KepMenPU No. 10 dan 11 Tahun 2000 adalah :
 Setiap jalur tangga untuk pemadaman kebakaran dan saf kebakaran harus
dapat didekati dari akomodasi melewati lobi pemadaman kebakaran.
 Setiap tangga atau ramp yang dilindungi terhadap kebakaran, harus
menyediakan eksit tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan dapat
mencapai ke luar secara langsung, atau lewati jalan terusan yang diisolasi
terhadap kebakaran tersebut langsung menuju:
a. ke jalan atau ruang terbuka, atau
b. ke suatu tempat:
1) dalam ruang atau lantai dalam bangunan, yang digunakan hanya
untuk pejalan kaki, parkir kendaraan atau sejenisnya, dan tertutup
tidak lebih dari 1/3 kelilingnya;
2) yang pada jarak tidak lebih dari 20 m, tersedia jalur tanpa hambatan
menuju ke jalan luar atau ruang terbuka; atau
c. ke area tertutup yang:
1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka; dan
2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut; dan
3) mempunyai ketinggian bebas rintangan disemua bagian, termasuk
bukaan
4) mempunyai jalur bebas rintangan dari tempat bergerak ke luar ke
arah jalan atau ruang terbuka yang jaraknya tidak lebih dari 6 m.

Desain Tangga :
Jumlah : 2 Buah
Penempatan : 1 buah di samping kanan bangunan
1 bauh di samping kiri bangunan
Jumlah tangga dalam kantor ini terdapat dua buah tangga darurat penempatan
dilakukan di sisi kanan dan kiri bangunan guna memudahkan akses pengguna kantor
jikalau terdapat kondisi yang mendesak.
Gambar 3. Layout Tangga Darurat
Gambar 4. Detail Layout Penempatan 2 Buah Tangga Darurat pada Gedung Kantor
4. Posisi KM/WC dan Shaft Utilitas/Plambing/Perpipaan (Jenis dan Jumlah Alat
Saniter Bebas!)
Jumlah Kamar Mandi : 6 Buah
Penempatan : 3 berada di samping kanan bangunan
3 berada di samping kiri bangunan

Jenis Alat Saniter Jumlah


Closet 6 Buah
Westafel 6 Buah
Shower 6 Buah
Jet Washer 6 Buah
Robe Hook 6 Buah
Gambar 5. Posisi KM/WC dan Shaft Utilitas/Plambing/Perpipaan
Gambar 6. Detail Layout Penempatan KM/WC dan Shaft Utilitas/Plambing/Perpipaan
5. Lampirkan Merk/Type/Spesifikasi Lift (Max. 2 Lembar) Sesuai
Perhitungan Anda (Setidaknya Sesuai Kapasitasnya!) Pilihan Sama Beberapa
Mahasiswa, Nilai Akan Dibagi Rata!

Merk : Mitsubishi Electric


Type : NexWay S L200
Series : Series-IP/AP Version 2
Use : Passengers / Use
Rated capacity : 750-2500
Number of Person : 5-11
Rated Speed (m/sec) : 0.75-3.0
Max. Number of Stops : 50
Max. Travel 9m0 : 150

Ceiling Design
Interior
Signal Fixtures Hall Design

Materials and Colors


Observation Cars
SOAL 2
Mahasiswa dengan NIM GANJIL kerjakan soal (a)
Mahasiswa dengan NIM GENAP kerjakan soal (b)

(a) Ruang AVA Lt. 4 Gd. D9 Teknik Sipil Universitas Negeri Malang akan dirubah
fungsinya menjadi PERPUSTAKAAN/RUANG BACA JURUSAN TEKNIK
SIPIL. (p=12m, l=8m, t=4m)
(b) Ruang G3 211 Lt.2 Teknik Sipil Universitas Negeri Malang akan dirubah
fungsinya menjadi RUANG GAMBAR JURUSAN TEKNIK SIPIL
(p=10m, l=6m, t=4m)
Anda diminta untuk merancang dan menghitung kebutuhan lampu (luminer)
untuk ruang tersebut.

Hal-hal teknis yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:


- Ukuran panjang-lebar-tinggi ruang sesuai dengan keterangan.
- Lampu/luminer direncanakan menggantung 1,5 m dari lantai
- Tinggi meja baca perpustakaan ini berada 0,8 m dari lantai
- Jenis lampu, bentuk armatur, dan besaran lumen bebas (sesuai katalog)
- Pilihan warna dinding/lantai/plafon bebas, dengan angka bilangan pantul sesuai
dengan gambar di bawah ini
- Karena ruangan baru, semua nilai faktor LLF dianggap 1

Dengan menyebutkan nilai angka lux (E), ukuran ruang, jenis warna/finishing yang
dipilih, dan MERK/SPESIFIKASI lampu/luminer yang dipasang

a. Hitung jumlah titik armature yang diperlukan


b. Gambarkan rencana DENAH dan POTONGAN yang menunjukkan perletakan titik-
titik armature tersebut pada ruangan

Bila beberapa mahasiswa memiliki rancangan/pilihan yang sama, nilai akan dibagi
sesuai jumlah mahasiswa tersebut)
Penyelesaian :

a. Hitung Jumlah Titik Armature yang Diperlukan

Diketahui :

L =6m

P = 10 m

T =4m

L = 1100 Lumen (Merk Philips)

E = 750 Lux (Berdasarkan SNI 03-6575-2001)

LLF = 1 (Ruangan Baru)

Armatur = 1 Lampu

Tinggi dinding ruang G3 211 lt 2 =4m

Kemiringan Plafon =-

A = 0°

Ketinggian Plafon =4m

Tinggi meja = 0,8 m

Letak lampu luminer = 1,5 m (dari lantai)

ρ plafon = 0,8 (Putih)

ρdinding = 0,7 (Putih)

ρlantai = 0,4 (Coklat)


Penyelesaian :

1. Mencari Room Cavity


 Room Cavity Ratio (RCR)

keliling
RCR=2,5 . hr .
Luas

2×(6 +10)
¿ 2,5 . 0,7 .
6 ×10

¿ 0,933

 Floor Cavity Ratio (FCR)

keliling
FCR=2,5 . hr .
Luas

2×(6+ 10)
¿ 2,5 . 0,8 .
6 ×10

¿ 1,067

 Ceiling Cavity Ratio (FCR)


keliling
CCR=2,5 . hr .
Luas

2 ×(6+10)
¿ 2,5 . 4 .
6× 10

¿ 5,33

2. Mencari Bilangan Pantul


A di ataslampu=luas plafon+dinding diatas plafon
¿ ( 6 ×10 )+¿
¿ 140 m²
( 0,8 ×60 )+(0,7 × 80)
ρc = =0,743
140
ρ c . A0
ρefektif =
A s−ρ c . A s + ρc . A 0

0,743×(6 × 10)
¿
140−0,743+0,743.( 6× 10)

¿ 0,55
ρ ×2( Ldinding lebar+ Ldinding panjang)
ρtotal =
2(Ldinding lebar + Ldinding panjang)
0,7 ×2( ( 4 ×6 )+(4 ×10))
¿
2( ( 4 ×6 ) +(4 × 10))
¿ 0,7

Digunakan Cu dari tabel sebesar = 68 (dari tabel UF)


A dasar =2× ( 6 ×10 ) =120 A dinding lebar=2× ( 1,5 ×6 ) =18
A dinding panjang=2×(1,5 ×10)=36 +
174

L . N . Cu. LLF
E=
A

E. A
N=
L .Cu . LLF

750 ×174
¿
1100 ×68 ×1

130500
¿
74800

¿ 1,745

¿ 2 buah
b. Gambarkan rencana DENAH dan POTONGAN yang menunjukkan
perletakan titik-titik armature tersebut pada ruangan

Gambar 7. DENAH dan POTONGAN yang menunjukkan perletakan titik-titik armature pada ruangan
SOAL 3

Mahasiswa dengan NIM GANJIL kerjakan soal (1-3)


Mahasiswa dengan NIM GENAP kerjakan soal (4-6)

Konsep Green Building menurut Green Building Council Indonesia (GBCI) terdiri atas
enam kriteria sebagai berikut:

1. Appropriate Site Development (ASD) – Pemilihan dan Pengelolaan Lahan/Site yang


baik
2. Energy Efficiency and Conservation (EEC) – Penghematan dan konservasi energi
3. Water Conservation (WAC) – Penghematan dalam pengelolaan air
4. Material Resource and Recycle (MRC) – Pemanfaatan dan daur ulang
bahan/material
5. Indoor Health and Comfort (IHC) – Kenyamanan dan kesehatan ruang dalam
6. Building Environment Management (BEM) – Pengelolaan lingkungan bangunan

Carilah contoh kasus untuk masing-masing komponen tersebut dalam uraian


miniminal 1 paragraf dan 2 gambar/foto.
Penyelesaian :

Contoh kasus untuk masing-masing komponen berikut :

1. Material Resource and Recycle (MRC) – Pemanfaatan dan Daur Ulang


Bahan/Material

Pemanfaatan dan daur ulang bahan atau material diterapkan pada Gedung
EcoArk di China. Fat Eastern Group sebagai produsen botol plastik dunia yang
memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran akan limbah plastik di Taipei. Gedung
EcoArk membutuhkan 1,5 milyar botol plastik bekas agar dapat terbentuk sebuah
gedung dengan struktur dan susunan yang berkualitas.

Gambar 8. Gedung EcoArk di China

Kebutuhan plastik yang begitu banyak digunakan sebagai materian penyusun


utama gedung. Bahkan dari luar botol plastiknya terlihat begitu kentara. Fasad
gedungnya juga mencerminkan penggunaan plastik yang sangat ikonik.

Gedung ini mampu berdiri tegak dan kokoh melawan beragam bencana, seperti
guncangan gempa, kebakaran, badai dan goncangan angin kencang berkekuatan 130
km/jam sekalipun. Inilah salah satu gedung tahan gempa yang dibuat dari bahan yang
tak pernah disangka sebelumnya. Ternyata bukan tanpa alasan kenapa gedung ini
menggunakan botol plastik bekas. Karena setelah botol-botol plastik itu
dihancurleburkan. Maka plastik yang didaur ulang itu membentuk hexagonal seperti
patern yang dapat direkatkan satu sama lain menjadikannya bata polli-brick.Bata
polli-brick ini saling mengunci satu sama lain dikarenakan bentuknya yang seperti
lego. Dan untuk menyangganya agar kokoh, diberi pelapis tahan air dan lelehan besi
baja sebagai penguat.

Gambar 9. Penempatan Bata Polli-Brick di Gedung EcoArk

Di Gedung Eco Ark juga disediakan tempat cadangan air yang berasal dari
kucuran air hujan yang dikumpulkan. Manakala diperlukan cadangan air tersebut,
dapat digunakan setelah mengalami proses filterisasi dengan kualitas baik. Selain
dapat dipergunakan untuk keperluan para penghuninya, kucuran air hujan yang
ditampung di screen waterfall ini pun memiliki fungsi sebagai penyejuk ruangan.

2. Indoor Health and Comfort (IHC) – Kenyamanan dan Kesehatan Ruang Dalam
Kenyamanan dan kesehatan ruang dalam diterapkan pada Gedung 122
Leadenhall Street, London. Gedung pintar yang dikenal dengan sebutan Cheesegrater
ini memanfaatkan teknologi yang bisa mengatur pencahayaan dan suhu ruangan.
Gambar 10. Gedung 122 Leadenhall Street, London.

Tata pencahayaan dan penghawaan.  Gedung ini memiliki komponen


pencahayaan dan penghawaan yang bagus tujuannya adalah agar ruang-ruang di
dalam bangunan mendapat pencahayaan dan penghawaan alami cukup, agar memberi
kenyamanan pemakai dalam melakukan aktivitasnya.
Ruang-ruang di geudng memiliki penghawaan dan pencahayaan alami baik
juga akan memiliki kelembaban udara cukup, sehingga kesehatan lingkungan tetap
terjaga. Selain itu, memiliki penghawaan dan pencahayaan alami yang cukup berarti
menghemat energi listrik yang diperlukan, karena tidak tergantung pada pencahayaan
dan penghawaan buatan.

3. Building Environment Management (BEM) – Pengelolaan Lingkungan Bangunan


Pengelolaan lingkungan bangunan diterapkan pada Gedung Bosco Verticale.
Bosco Verticale ini bukan hanya bangunan beton tetapi menonjolkan penghijauan di
sekitar gedungnya. Terdapat dua gedung yang berdampinan dengan memiliki
ketinggian 110 meter (360 kaki) dan 76 meter (249 kaki) dan telah ditanami sekitar
900 pohon (kira-kira 550 pohon di gedung pertama dan 350 pohon di gedung kedua)
dengan areal 8900 meter persegi (9600 kaki persegi).

Gambar 12. Gedung Bosco Verta


Gedung Bosco Vertacale ini dirancang oleh Stefano Boeri,  Gianandrea Barreca
dan Giovanni La Varra. Dan juga melibatkan masukan dari ahli hortikultura dan
botani.

Gambar 13. Perawatan Gedung Bosco Verta oleh Petugas Gedung