Anda di halaman 1dari 13

6.

Gambaran radiografi abdomen polos dan USG Pada kasus :


A. Batu ginjal
Jawab :

Gambaran. Terlihat gambaran radioopak membentuk pelvis renalis yang membesar.


Menandakan batu pada kalix minor dan kalix mayor. Pada gambaran radiologis disebut
dengan batu staghorm
Pada pemeriksaan USG ginjal,batu ginjal tampak sebagai suatu opasitas dengan reflektif
yang tinggi didaerah sinus renalis, yang disertai dengan acoustic shadow didistalnya.

Gambar. Tampak hidronefrosis dengan ureter yang terdesak akibat adanya batu di ureter
terminal dengan adanya acoustic shadow
B. Pemeriksaan Radiologi pada Urolithiasis

1. Foto Polos Abdomen

Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan


adanya batu radioopak di saluran kemih. Batu – batu berjenis kalsium oksalat
atau kalsium fosfat bersifat radioopak dan paling sering dijumpai diantara
batu jenis lain, sedangkan batu asam urat bersifat non opak / radiolusen.

JENIS BATU RADIO - OPASITAS


KALSIUM OPAK
MAP SEMI OPAK
URAT/SISTIN NON OPAK

Tabel 1. radio – opasitas jenis batu saluran kemih


Pada foto polos abdomen pasien harus melepas bajunya dan tidak
menggunakan alat – alat yang berbahan logam. Selain itu, pasien harus buang
air kecil terlebih dahulu. Pada saat difoto harus terlihat diafragma dan ramus
inferior os pubis.
Gambar 3. Foto polos abdomen normal
Pada pasien penderita batu ginjal yang dilakukan pemeriksaan foto polos
abdomen dapat terlihat bentuk dari pelvis renalis yang melebar dengan
gambaran radioopak.

Gambar 4. Terlihat gambaran radioopak membentuk pelvis renalis yang


membesar. Menandakan batu pada kalix minor dan kalix mayor. Pada
gambaran radiologis disebut dengan Batu Staghorn
Batu ureter dapat terjadi akibat komplikasi dari ESWL (Extrashockwave
Litotripsy) karena batu dapat turun ke ureter dan tidak bisa keluar.

Gambar 5. Terlihat gambaran radioopak setinggi vertebra lumbal 4


menandakan adanya Straintrasse (Stone Street) yaitu batu di ureter
2. BNO –IVP

BNO – IVP adalah pemeriksaan radiografi pada sistem urinaria (ginjal,


ureter, dan kandung kemih) dengan menyuntikkan zat kontras melalui
pembuluh darah vena. Pada saat media kontras di injeksikan melalui
pembuluh darah vena pada tangan pasien, media kontras akan mengikuti
peredaran darah dan dikumpulkan dalam ginjal dan saluran kemih sehingga
tractus urinarius berwarna putih. Indikasi dari BNO – IVP yaitu nefrolithiasis,
nefritis adanya keganasa, kista dll. Kontraindikasi dari penggunaan BNO –
IVP adalah ureum yang meningkat, adanya riwayat hipertensi, diabetes
mellitus dll. Sebelumnya pasien harus dilakukan skin test terlebih dahulu
untuk mengetahui apakah ada alergi pada bahan kontras. Terdapat beberapa
fase pada BNO – IVP:

a. Fase Ekskresi (3 – 5Menit)

Melihat apakah ginjal mampu mengekskresikan kontras yang


dimasukkan.

b. Fase Nefrogram (5 -15Menit)


Fase dimana kontras menunjukkan nefron ginjal, pelvis renalis, ureter
proximal.

Gambar 7. Fase Nefrogram normal

Gambar 8. Fase nefrogram tetapi ureter sebelah kanan tidak terisi


menandakan adanya obstruksi
c. Fase Uretrogram (30Menit)

Fase dimana kontras media memperlihatkan nefron, Pelvis renalis dan


ureter proksimal terisi maksimal dan ureter distal mulai mengisi
kandung kemih.
Gambar 9. Terlihat gambaran klingkin yang menandakan adanya batu
pada ureter kanan bagian proximal.

3. Ultrasonography (USG)

Ultrasonography adalah salah satu imaging diagnostic (pencitraan


diagnostik) untuk pemeriksaan alat – alat tubuh, dimana kita dapat melihat
bentuk tubuh, ukuran anatomis, gerakan, serta hubungan dengan jaringan
sekitarnya. Pemeriksaan ini bersifat non invasif, tidak menimbulka rasa sakit,
dapat dilakukan dengan cepat, aman, dan data yang diperoleh mempunyai
nilai diagnostik yang tinggi. Prinsip penggunaan USG adalah gelombang
suara yang dihasilkan leh transduser akan dipantulkan oleh jaringan yang ada
didalam tubuh kita. Frekuensi gelombang suara dihasilkan oleh kristal –
kristal yang ada di dalam transduser mencapai 1 -10 MHz (1-10 Juta Hz)
sehingga manusia tidak dapat mendengarnya. Gelombang suara yang diterima
oleh jaringan di tubuh tersebut akan dipantulkan kembali ke dalam transduser
dan diubah menjadi energi listrik oleh suatu efek bernama piezo – electric.
Energi listrik tersebut akan diperlihatkan kedalam bentuk cahaya pada layar
osiloskop. Masing – masing jaringan tubuh mempunyai impendance acustic
tertentu. Jaringan yang heterogen akan ditimbulkan bermacam–
macamekodisebutechogenic.Sedangkan,jaringanyanghomogeny
hanya sedikit sekali atau sama sekali tidak ada eko, disebut dengan anechoicatau
echofree

Pada USG ginjal, sonic window yang digunakan adalah otot perut
belakang dan posterolateral dan celah iga. Pada ginjal kanan, hepar juga bisa
digunakan sonic window sedangkan pada ginjal kiri, lambung yang berisi air
bisa digunakan sebagai sonic window.

Pada pemeriksaan USG ginjal, batu ginjal tampak sebagai suatu opasitas
dengan reflektif yang tinggi di daerah sinus renalis, yang disertai dengan
acoustic shadow di distalnya.

Gambar 11. Tampak hdironefrosis dengan ureter yang terdesak akibat


adanya batu di ureter terminal dengan adanya acoustic shadow

Acoustic shadow adalah bayangan dibelakang massa yang free echoic akibat
tertutup oleh suatu massa yang mempunyai densitas yang tinggi.
Gambaran USG pada gambar 8. Menunjukan pelvis yang membesar karena
hambatan aliran urin akibat adanya nefrolithiasis sehingga terjadi hidronefrosis.

Pada batu ureter dapat ditemukan adanya hidroureter akibat adanya


sumbatan pada ureter. Dapat juga ditemukan acoustic shadow dan adanya
twinkling artefact.

Gambar 12. Tampak hiperechoic pada batu di ureter dengan adanya


acoustic shadow dan adanya twingkling artefacts

Twninkling artefact atau color comet tail artefact adalah gambaran


pada USG Doppler akibat adanya gambaran pergerakan yang palsu, biasanya
karena gambaran di USG Doppler dengan opasitas yang tinggi, biasanya
disebabkan oleh batu.
Gambar 13. Hidroureter dengan penebalan dinding akibat inflamasi pada
ureter proksimal
Pada gambar 10 terdapat pembesaran dari ureter. Pembesaran ini
disebabkan oleh stasis urin yang bisa menyebabkan hidroureter. Apabila
kondisi ini terus berlanjut maka dapat menyebabkan gagal ginjal.
c. Batubuli
a. Fot opolos abdomen
bisa tunggal atau multiple, besar atau kecil dan sering berlapis lapis.

Batu buli-buli tunggal yang berlapis-lapis. Penderita ini Nampak nya juga menderita cystitis

kronis

Terlihat radio – opak di daerah vesica urinaria menandakan adanya batu


di vesica urinaria
Suatu batu buli-buli yang besar, dengan kalsifikasi karena schistoniasis
b. BNO-IVP

Kontras tidak memenuhi VU menandakan kemungkinan batu pada VU

c. USG

Pasien dengan batu di vesicolithiasis akan menunjukkan hasil dengan


opasitas tinggi dengan acoustic shadow dan penebalan dinding dari vesica
urinaria akibat dari inflamasi.
Gambaran hiperechoic dengan acoustic shadow pada vesica
urinaria menggambarkan batu pada vesica urinaria.

D. Batu empedu

Jawab :

TEKNIK IMAGING

Pada foto polos abdomen dapat dilihat gas atau kalsium didalam traktus biliaris.
Kira- kira 10%-15% batu kantung empedu mengapur (kalsifikani) dan dapat dlidentifikasi
sebagai batu kandung empedu pada foto polos. Mungkin pula penimbunan kalsium di
dalam kandung empedu yang mirip bahan kontras. Kadang- kadang dinding kandung
empedu mengapur (kalsifikasi) yang disebut porcelain gallbladdor, yang penting sebab
dari hubungan kelainan ini karsinoma kandung empedu.

Gas dapat torlhat di pusat kandung empedu gambaran berbentuk segitiga


(Mercedez-Benz sign), gas didalam duktus biliaris menyatakan secara tidak langsung
hubungan abnormal antara gas kandung empedu atau duktus cho- ledochus. Ini dapat
disebabkan oleh penetrasi ulkus duodeni ke dalam traktus biliaris atau erosi batu kedalam
lambung, duodenum atau kolon. Gas kadang-kadang terlihat didalam duktus sebagai
manifestasi cholangitis disebab- kan oleh organisme pembentuk gas. Gas di dalam
kandung empedu dan dindingnya (emphysematous cholecystitis) adalah mani- festasi dari
infeksi serupa dan biasanya timbul pada diabetes, sekunder terhadap kemacetan dari arteri
kistik disebabkan diabetic angiopathy.

Gas didalam vena porta, tampak perifer di dalam hepar, menyatakan secara tidak
langsung usus necrosis tetapi itu dapat terjadi dengan cholecystitis cholangitis hebat.

Kolesistografi oral ditemukan pertama kali 70 tahun yang lalu dan banyak
diadakan perubahan kontras nontoxic iodinated organic deng compound diberikan oral
yang diserap di dalam usus kecil, diekskresi oleh hati dan dipekatkan di dalam empedu
memberikan kesempatan untuk menemukan batu kandung empedu yang tidak mengapur
sebelum operasi. Dapat pula dideteksi kelainan intra abdominal lain dari kandung
empedu. Kolesistografi intra vena dikerjakan sebagai pengganti kolesistografi oral. Bahan
kontras dipergunakan adalah lodiparnide (biligralin yang mengandung lodine 50%).
Ultrasonografi kandung empedu (GB-US) telah membuat suatu pengaruh yang hebat pada
diagnosa traktus biliaris. Ini telah menggantikan kolesistografi oral sebagal cara imaging
utama karena ini menawarkan bermacam-macam keuntungan. Tidak mempergunakan
sinar x, tidak perlu menelan kontras.

Kemampuan untuk menentukan ukuran duktus biliaris dan untuk mengevaluasi


parenkim hepar dan pankreas sangat menguntungkan sekali. Seorang ultrasonografer
yang mempunyai skill diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimum. Ultrasonografi
mermperlihatkan patologi anatomi dari pada patophysiology, kolesisto-grafi oral
memperlihatkan kedu-duanya. Sebab banyak orang mempunyai batu kandung empedu
asimptomatik. Ada suatu derajat tertentu agar batu tampak pada ultrasonografi kandung
empedu adalah pasien mengeluh. Ultrasonografi kandung empedu dapat mendeteksi batu
kecil dari pada kolesistografi oral. Ultrasonografi dapat pula untuk menemukan masa
intra luminal selain dari pada batu, seperti adenoma, polip kolesterol dan karsinoma
kandung empedu. Kolesistografi telah berkembang sebagai studi dinamik dari patologi
fisiologi dari sistem biliaris. Injeksi intravena dari technitium labeledimminodiacetic acid
compounds memberikan imaging segera dari kandung empedu dan radioaktivfitas dapat
diikuti ke dalam duodenum. Kekurangan pengisian kandung empedu menunjukkan
obstruksi duktus sistikus dan tanda-tanda kolesistitis akut.

Kolesskintigrafi salah satu prosedur yang dopat mendeteksi obstruksi duktus


biliaris dilatasi duktus timbul dan dapat dilihat sebelum dengan ultrasonografi. Berguna
untuk mendeteksi atresia biliaris pada neonatus dan kebocoran empedu oleh berbagai
penyebab.

Endoskopi retrograde cholangiography (ERC) memberi injeksi langsung dokus


koledokus dengan bahan kontras. Ini nilai spesial dalam mendeteksi batu di dalam duktus
koledokus dan radang serta kelainan neoplastik duktus. Papillotomi, biopsi, mencari
keterangan batu dari duktus biliaris,striktura dilatasi dan penempatan nasobiliary stents
untuk membebaskan obstruksi semua mungkin dengan ERCP "Percutaneus transhepätic
cholangiography”dikerjakan dengan menyuntikkan bahan kontras dibawah fluoroscopy
melalui jarum sempit, gauge berada di dalam parenkim hati. Ini penting, sama alasannya
dengan ERC dan keuntungannya memungkinkan operator mengadakan drainage empedu,
bila perlu biopsi jarum (needle biopsy). Drainage dari kumpulan cairan dan menempatkan
eksternal dan internal drainage stents dapat dikerjakan secara perkutan. Computed
tomography (CT): CT tidak begitu bernilai dalam mengevaluasi kandung empedu dan
sistem duktus dari pada metoda yang lain, tetapi berguna pada studi neoplasma parenkim
hati. Dalam penentuan gas di dalam vena porta lebih sensitif dari pada foto polos. CT
sensitif dalam mendeteksi kalsifikasi dan menentukan komposisi batu Angiografi adalah
penting dalam menen- tukan lesi parenkim hepar. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
dari hepar, kandung empedu dan duktus pada anak dilakukan karena pertim- bangan
radiasi ion tidak dipakai pada peme- riksaan ini.