Anda di halaman 1dari 33

Pertemuan 12

KONSEP KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL

Oleh : Sabina Gero

A. Deskripsi
Mata kuliah ini membahas tentang konsep keperawatan kesehatan jiwa dalam
rentang sehat mata kuliah ini membahas tentang : Manajemen stress, Psikoterapi
suportif, Pendidikan kesehatan jiwa, Konseling jiwa pada kondisi bencana, Bimbingan
spiritual menjelang ajal, Tindakan kolaboratif, Terapi modalitas,restrain, Pre dan post
pasien dengan tindakan ECT, Penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat, Deteksi dini
gangguan jiwa, Rujukan, Konsep keperawatan pasien dengan masalah Psikososial,
Konsep keperawatan pasien dengan gangguan kesehatan jiwa, Konsep keperawatan
pasien gangguan jiwa pada tatanan rumah sakit, Konsep keperawatan pasien gangguan
jiwa pada tatanan masyarakat (CHMN=Community Mental Helath Nursing).
Pengalaman belajar diperoleh melalui penglaman belajar ceramah, praktik laboraorium,
dan penugasan terstruktur untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan klinis
mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan jiwa di tatanan
pelayananan kesehatan.
Masalah psikososial dalam Undang-Undang Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014
tentang Kesehatan Jiwa disebut Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). ODMK
adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan
perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan
jiwa. Selanjutnya ODMK dikategorikan dalam masalah psikososial. Belajar masalah
psikososial meliputi harga diri rendah, isolasi sosial, deficit perawatan diri dan cemas.

B. Relevansi
Dalam UU Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014, disebutkan 2 kategori orang yaitu
ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) dan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).
Masalah psikososial tergolong dalam ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) yaitu
orang yang memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.
C. Capaian pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa mampu memberi asuhan keperawatan(askep)
orang dengan masalah psikososial (ODMK)
CP1. Mengetahui Konsep Harga Diri Rendah
CP2. Memahami Isolasi Sosial
CP3. Memahami Deficit Perawatan Diri
CP4. Memahami Askep Cemas

D. Materi
Manusia adalah makhluk biopsikososial dan spiritual, bersifat holistic, unik dan dalam
system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha mempertahankan
keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga menjadi sehat. Sakit terjadi apabila
seseorang gagal mempertahankan keseimbangan diri dan beradaptasi dengan lingkungan.
Psikososial merupakan dimensi dalam kehidupan manusia yang selalu berubahan dalam
aspek psikologi dan sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Perubahan sosial dan
atau gejolak sosial dalam masyarakat dapat menimbulkan gangguan jiwa. Untuk
mempertahankan kestabilan diupayakan dari lingkungan fisik yang stabil, aman dan
keamanan, kestabilan lingkungan psikologis dimulai sejak bayi, ada rasa percaya dan
cinta, lingkungan social dari role model yang sehat, menjadi suatu kebiasaan dan
pengalaman-pengalaman hidup, baik kepuasan maupun frustrasi.
Contoh masalah psikososial antara lain: gelandangan dan pemasungan, penderita
gangguan jiwa, masalah anak- anak jalanan dan penganiayaan anak, masalah anak
remaja: tawuran dan kenakalan, penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, masalah
seksual: penyimpangan seksual, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual, tindak
kekerasan sosial, stress pasca trauma, pengungsi/ migrasi, masalah usia lanjut yang
terisolir, masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa di tempat kerja, penurunan
produktifitas dan stres di tempat kerja, dan lain-lain (Depkes, 2011).
D1. Konsep Harga Diri Rendah
Harga diri atau self esteem adalah bagian dari konsep diri (self concept). Konsep diri
adalah nilai atau kelayakan seseorang menurut dirinya, dalam menempatkan diri
(posisikan diri). Self Esteem merupakan pengalaman dari perasaan seseorang dan
menjadi konstan. Konsep diri adalah kombinasi dari perasaan dan kepercayaan mengenai
diri sendiri.
Ada 2 komponen dari konsep diri:
 Phy sical self adalah body image/gambar tubuh seseorang menilai penampilan fisik,
umpan balik gerak, sensori dan emosi
 Personal self adalah moral etik diri, intergritas diri dan ideal diri
 Moral etik diri dalam berperilaku disebut self integritas / self image
 Self ideal adalah sesuatu yang diharapkan menjadi seperti itu
Perkembangan Konsep Diri.
Ada 3 tugas utama untuk perkembangan Psikososial:
Belajar kehidupan dengan alat
Perkembangan pribadi seorang
Belajar kehidupan dengan orang lain
Belajar kehidupan dengan alat adalah ketrampilan yang dibutuhkan pada tiap tahap
perkembangan seseorang.Perkembangan personal diri adalah belajar untuk hidup dengan
satu orang yang ditujui diri sendiri. Belajar hidup dengan orang lain adalah berhubungan
dengan orang lain, menerima dan respek terhadap orang lain.
Ada 8 tahap perkembangan psikososial menurut ERICSON:
Sukses menghadapi stres orang pada tiap, tahapan akan menentukan perkembangan
konsep diri. Seseorang yang gagal menghadapi stress mengakibatkan masalah konsep diri
saat ini dan bisa berlanjut dalam kehidupan selanjutnya.
8 Tahap tersebut (baca kembali materi psikologi) :
1. Percaya x tidak percaya
2. Otonomi x malu dan ragu – ragu
3. Inisiativ x bermusuhan
4. Rajin x rendah diri
5. Identitas jelas x peran yang membingungkan
6. Intimasi x isolasi diri
7. Generativit x stagnasi (produktif/diam)
8. Integritas diri x despair ( keutuhan diri x putus asa.
Faktor – faktor yang mempengaruhi konsep diri :
Lingkungan adalah benda – benda dilingkungan membantu sesorang belajar, umpan
balik, belajar mekanisme koping
Pengalaman yang lalu mendapat umpan balik dari orang lain (orang penting),
perkembangan sebelum, situasi stress dan koping, harapan, pengalaman sukses dan
gagal adalah membangun nilai dan kelayakan diri.
Budaya, anak anak akan mengadopsi perilaku dari orang tuanya
Sumber eksternal dan internal. Kekuatan dan perkembangan diri berpengaruh
terhadap konsep diri
Tingkat perkembangan dan kematangan diri.
Pengamatan sukses dan gagal., riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri
seseorang, dan sebaliknya
Stressor, dalam kehidupan, misalnya gagal perkawinan, pekerjaan, ujian, dll
Usia, keadaan sakit dan trauma. Meningkatnya usia, mendapat sakit akan
mempengaruhi persepsi diri
Perkembangan konsep diri :
1) Self Esteem / acceptance / self warth.
2) Menjadi konsep diri
3) Berkembang dari Feedback orang lain
4) Berhubung dengan etik moral diri : self konsistensi, self ideal, self expectancy
5) Belajar dari keterbatasan selama pertumbuhan anak.
6) Posetiv self esteem artinya self esteem positif, low self esteem artinya merasa
diri tak pantas atau tidak layak
Harga diri adalah bagian kelima dalam tingkatan kebutuhan dasar manusia( fisiologis,
stimulasi, perlindungan, cinta dan memiliki, harga diri, spiritual) menurut Kalish (1977),
modifikasi dari teori human need dari Maslow. Kebutuhan harga diri atau menghargai
diri, merasa pantas diri. Seseorang perlu menghargai diri sendiri sebelum bisa
menghargai orang lain. Merasa diri benar, dibutuhkan dan berguna. Self Esteem
dipengaruhi oleh perasaan dependen dan independen. Orang sakit mengalami
terganggunya perasaan independen, dan harus dependen pada orang lain dan perawat,
menyebabkan rendah diri, dan kurang percaya diri. Tidak terpenuhi kebutuhan akan
penghargaan, atau harga diri dalam waktu lama dapat berkembang menjadi orang dengan
masalah kejiwaan (ODMK).

.        Komponen konsep diri


1) Citra diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar.
Sikap ini mencakup presepsi dari pasangan tentang ukuran, bentuk, dan fungsi
penampilan tubuh saat ini dan masa lalu.
2) Ideal diri. Presepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai
dengan standar perilaku. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan
3) Harga diri. Harga diri adalah penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan
analisis, sejauh mana perilaku memenuhi ideal diri. Jika individu selalu sukses
maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami kegagalan
cenderung harga diri menjadi rendah.
4) Peran diri.Peran diri adalah pola sikap, perilaku nilai yang diharapkan dari
seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
5) Identitas diri.Identitas diri adalah kesadaran akan dirinya sendiri yang
bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesis dari semua
aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh.
D2. Konsep Isolasi Sosial/Menarik Diri

Isolasi sosial adalah keadaan seorang yang mengalami penurunan atau bahkan


sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan. Klien
merasa ditolak, tidak diterima, kesepian dan tidak mampu membina hubungan yang
berarti dengan orang lain disekitarnya (Keliat, 2011)

Isolasi sosial adalah suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami atau
merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang
lain tetapi tidak mampu berinteraksi (Carpenito, 2007). Menurut Doenges, Townsend
dan Moorhouse (2007), isolasi sosial adalah kondisi ketika individu atau kelompok
mengalami, atau merasakan kebutuhan, atau keinginan untuk lebih terlibat dalam
aktivitas bersama orang lain, tetapi tidak mampu mewujudkannya.
Maka, isolasi social adalah ketidakmampuan seseorang untuk berinteraksi dengan
orang lain dalam lingkungan hidupnya, karena dorongan dari dalam diri berupa
perasaan ditolak, diacuhkan, diabaikan. Isolasi social merupakan perilaku
maladaptive atau respon maladaptive, merupakan respon menyimpang dari norma-
norma social budaya dan lingkungan (Stuart, 2007).
Tabel 1. Perbedaan antara respon Adaptif dan Maladaptif
Respon Adaptif: respon yang Respon Mal-adaptif: respon
diterima menyimpang
1) Solitude 1) Menarik diri
2) Otonomi 2) Manipulasi
3) Kebersamaan 3) Ketergantungan
4) Saling ketergantungan 4) Impulsif
5) Narkisisme

Penyebab Isolasi Sosial


Berbagai faktor yang menyebabkan isolasi sosial antara lain sebagai berikut (Suliswati,
Payapo,Maruhawa,et.al,2005):
a. Faktor predisposisi 
Faktor predisposisi adalah aspek biologis, psikologis, genetik, sosial dan biokimia.
Penyebab isolasi sosial berdasarkan faktor predisposisi antara lain sebagai berikut:
1. Faktor perkembangan. Dalam pencapaian tugas perkembangan dapat
mempengaruhi respon sosial maladaptif pada setiap individu.
2. Faktor biologis. Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif,
keterlibatan neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini.
3. Faktor sosiokultural. Norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang
lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang kurang produktif, seperti
lanjut usia, orang cacat, dan penderita penyakit kronis dapat menyebabkan
terjadinya isolasi sosial.
4. Faktor keluarga. Komunikasi dalam keluarga dapat mengantar seseorang dalam
gangguan berhubungan, bila keluarga hanya menginformasikan hal-hal yang
negatif akan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah.
b. Faktor presipitasi 
Faktor presipitasi adalah faktor pencetus terjadinya suatu masalah. Penyebab isolasi
sosial berdasarkan faktor presipitasi antara lain sebagai berikut:
1) Stres sosiokultural. Stres dapat ditimbulkan oleh karena menurunnya stabilitas unit
keluarga dan berpisah dari orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah
sakit.
2) Stressor psikologis. Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan
keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya.

Gambar 1. Rentang Respon Isolasi Sosial


Keterangan Gambar 1.
Respon adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan dengan cara yang
dapat diterima oleh norma-norma masyarakat. Menurut Riyardi S dan Purwanto
T. (2013) respon ini meliputi: a. Menyendiri Merupakan respon yang dilakukan
individu untuk merenungkan apa yang telah terjadi atau dilakukan dan suatu cara
mengevaluasi diri dalam menentukan rencana-rencana. b. Otonomi Merupakan
kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,
perasaan dalam hubungan sosial, individu mamapu menetapkan untuk
interdependen dan pengaturan diri. c. Kebersamaan Merupakan kemampuan
individu untuk saling pengertian, saling member, dan menerima dalam hubungan
interpersonal. d. Saling ketergantungan Merupakan suatu hubungan saling
ketergantungan saling tergantung antar individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpersonal. Respon maladaptif adalah respon individu
dalam menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang bertentangan dengan
norma-norma agama dan masyarakat. Menurut Riyardi S dan Purwanto T. (2013)
respon maladaptive tersebut adalah: a. Manipulasi Merupakan gangguan sosial
dimana individu memperlakukan orang lain sebagai objek, hubungan terpusat
pada masalah mengendalikan orang lain dan individu cenderung berorientasi pada
diri sendiri. Tingkah laku mengontrol digunakan sebagai pertahanan terhadap
kegagalan atau frustrasi dan dapat menjadi alat untuk berkuasa pada orang lain. b.
Impulsif, merupakan respon sosial yang ditandai dengan individu sebagai subyek
yang tidak dapat diduga, tidak dapat dipercaya, tidak mampu merencanakan tidak
mampu untuk belajar dari pengalaman dan miskin penilaian. c. Narsisme Respon
sosial ditandai dengan individu memiliki tingkah laku ogosentris, harga diri yang
rapuh, terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan mudah marah jika
tidak mendapat dukungan dari orang lain.
Manifestasi Klinik. Tanda dan gejala yang muncul pada klien dengan isolasi
sosial: menarik diri menurut Dermawan D dan Rusdi (2013) adalah sebagai
berikut: a. Gejala Subjektif 1) Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak
oleh orang lain 2) Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain 3) Respon
verbal kurang atau singkat 4) Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti
dengan orang lain 5) Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu 6)
Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan, 7) Klien merasa tidak
berguna 8) Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup 9) Klien merasa ditolak
b. Gejala Objektif 1) Klien banyak diam dan tidak mau bicara 2) Tidak mengikuti
kegiatan 3) Banyak berdiam diri di kamar 4) Klien menyendiri dan tidak mau
berinteraksi dengan orang yang terdekat 5) Klien tampak sedih, ekspresi datar dan
dangkal 6) Kontak mata kurang 7) Kurang spontan 8) Apatis (acuh terhadap
lingkungan) 9) Ekpresi wajah kurang berseri 10) Tidak merawat diri dan tidak
memperhatikan kebersihan diri 11) Mengisolasi diri 12) Tidak atau kurang sadar
terhadap lingkungan sekitarnya 13) Memasukan makanan dan minuman
terganggu 14) Retensi urine dan feses 15) Aktifitas menurun 16) Kurang enenrgi
(tenaga) 17) Rendah diri 18) Postur tubuh berubah,misalnya sikap fetus/janin
(khusunya pada posisi tidur).

Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial/menarik diri menggunakan pendekatan proses


keperawatan dan Stategi Pelaksanaan (SP)  dikembangkan oleh mahasiswa.
D3. Deficit Perawatan Diri
Pengertian. Suatu keadaan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang kehilangan
kemauan untuk merawat diri sehari-hari secara mandiri meliputi mandi teratur; menyisir
rambut, menganti pakaian , berdandan; makan; dan toilet. Kebersihan diri mempunyai
manfaat untuk meminimalkan resiko seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya
suatu penyakit. Kebersihan diri juga memberikan rasa nyaman bagi diri sendiri dan
orang di sekitarnya serta dapat meningkatkan kepercayaan diri.
Tanda-tanda defisit perawatan diri diantaranya adalah :
Tidak mau mandi atau sudah beberapa hari tidak mandi
 Tidak mengganti pakaian atau menggunakan pakaian tidak sesuai/ pakaian bau
 Tidak mau makan-minum sesuai kebutuhan
 Buang air besar/kecil sembarang tempat
 Rambut kotor/ berkutu/ berketombe
 Kadang tubuh dipenuhi penyakit kulit (jamur, koreng, borok)
 Penampilan tidak rapih dan bau badan tidak sedap, dijauhi orang
Tubuh yang kotor tentunya akan menimbulkan kerugian bagi kita. Sebagai contoh, kuku
panjang dan kotor dapat menjadi sarang kuman penyebab penyakit saluran pencernaan
(diare/sakit perut). Telinga yang dibiarkan kotor dapat menimbulkan gangguan
pendengaran akibat penumpukan kotoran telinga dan dapat menimbulkan infeksi pada
telinga. Pada gigi dan mulut, kotoran dapat menjadi penyebab karies gigi, gigi berlubang,
sakit gigi dan bau mulut.
Lingkup deficit perawatan diri:
1) Kebersihan diri/mandi
2) Berdandan/berpakaian (berhias,menyisir rambut dan cukur)
3) Makan
4) Toileting
Masalah deficit perawatan diri pada ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Merupakan gangguan pada orang dengan gangguan jiwa kronis, sebagai suatu gejala
perilaku negatif yang menyebabkan pasien dikucilkan dari keluarga dan masyarakat.

Penyebab :
Gangguan proses pikir, sehingga aktivitas perawatan diri menurun
Menurut Depkes (2000), penyebab kurang perawatan diri adalah:
1) Faktor prediposisi
a.     Perkembangan.Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
b.    Biologis. Penyakit kronis yang menyebabkan tidak mampu melakukan perawatan diri.
c.     Kemampuan realitas turun. Klien gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

d.    Sosial. Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.


Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
2) Faktor presipitasi
Faktor presipitasi dari defisit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi,
kerusakan kognisi atau perseptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga
menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Tanda Dan Gejala
Menurut Depkes (2000), tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
1) Fisik
a.    Badan bau, pakaian kotor.
b.    Rambut dan kulit kotor.
c.    Kuku panjang dan kotor.
d.   Gigi kotor disertai mulut bau.
e.    Penampilan tidak rapi.
2) Psikologis
a.    Malas, tidak ada inisiatif.
b.    Menarik diri, isolasi diri.
c.    Merasa tidak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3) Sosial
a.    Interaksi kurang.
b.    Kegiatan kurang.
c.    Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d.   Cara makan tidak teratur Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air
Besar (BAB) disembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
Data yang biasa ditemukan dalam defisit perawatan diri adalah:
1) Data subyektif
a.    Pasien merasa lemah.
b.    Malas untuk beraktivitas.
c.    Merasa tidak berdaya.
2) Data obyektif
a.    Rambut kotor, acak-acakan.
b.    Badan dan pakaian kotor dan bau
c.    Mulut dan gigi bau.
d.   Kulit kusam dan kotor.
e.    Kuku panjang dan tidak terawat.

Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan Diri :


A. Pengkajian.
Dari hasil observasi pada ODGJ,
1. Rambut dan gigi kotor, kulit berdaki, berbau, kuku panjang dan kotor è gangguan
kebersihan diri
2. Rambut acak-acakan, pakaian kotor, tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pasien laki-laki
tidak bercukur, pasien wanita tidak berdandanè tak mampu berhias/dandan
3. Tidak mengambil makan, makan berceceran, makan tidak pada tempatnya è tidak
mampu makan
4. BAB dan BAK sembarangan, tidak cebok denganbersih setelah BAB atau BAK è
ketidakmampuan toilet
B. Diagnosa Keperawatan.
Defisit perawatan diri : kebersihan diri, makan, berdandan dan Toileting (BAB dan BAK)
C. Perencanaan
1) Self care deficit:bathing/hyagiene kurang perawatan diri: mandi/kebersihan
Definisi : gangguan kemampuan utk melakukan aktivitas mandi/kebersihan pada diri
NOC : self care:hygiene;
self care : activity of daily living (ADL)
self care:bathing/mandi
Kriteria :1=tdk pernah dilakukan, 2=jarang dilakukan, 3=kadang²; 4=sering;
5=konsisten dilakukan
Kriteria hasil: tubuh tidak bau & kulit terjaga; tertarik utk mandi sesuai kemampuannya;
menjelaskan & menggunakan metode mandi secara aman & dg kesulitan minimal;
dimandikan oleh perawat tanpa kecemasan
Tujuan jangka pendek/tujuan khusus:
ODGJ akan,
1) Menunjukkan aktifitas memandikan pada tingkat optimal yg diharapkan
2) Melaporkan adanya kepuasan dg prestasi meskipun memiliki keterbatasan
3) Menghubungkan perasaan nyaman & puas dg kebersihan badan
4) Mendemonstrasikan kemampuan utk menggunakan alat bantu
5) Mengambarkan faktor yg menyebabkan kurangnya mandi
NIC (Nursing Intervensi Classification):
1. ODGJ mandi
2. Membantu peawatan diri : bantu memandikan ODGJ
Prosedur : membantu ODGJ melakukan kebersihan diri
 Siapkan handuk, sabun, alat mandi lain
 Kamar mandi kosong dan berisi air
 Sediakan sikat gigi, odol, deodoran
 Fasilitasi ODGJ utk sikat gigi dg benar
 Fasilitasi mencuci rambut ODGJ
 Monitor kebersihan kuku, rendam kaki sesuai kebutuhan
 Fasilitasi mencukur kumis dan janggut
 Fasilitasi ODGJ mandi pakai sabun dg benar
 Mengeringkan badan dengan handuk
2) Self care deficit :dressing/grooming(kurang perawatan diri:berpakaian/ berdandan)
Definisi: gangguan kemampuan berpakaian dan aktivitas berdandan sendiri

NOC : Kriteria hasil, ODGJ akan,


1) Mendemonstrasikan peningkatan kemampuan utk memakai baju atau laporan adanya
kebutuhan utk membutuhkan seseorg dl membantu menyelesaikan tugasnya
2) Mendemonstrasikan kemampuan utk mempelajari bagaimana menggunakan alat
bantu utk memfasilitasi kemandirian yg optimal dl tugasnya utk memakai pakaian
3) Mendemonstrasikan peningkatan ketertarikan utk menggunakan pakaian
4) Menggambarkan faktor yg menyebabkan tidak memakai baju
5) Menghubungkan rasional dan prosedur untuk penanganan
NIC :
1. Berpakaian
2. Perawatan rambut
Membantu perawatan diri: berpakaian/dandan
Prosedur èMembantu ODGJ berpakaian & berdandan,
 Minta pasien mengambil pakaian ganti yang bersih
 Siapkan pakaian dekat ke pasien
 Siapkan baju pribadi atau baju RSJ yang ada
 Bantu ODGJ memakai bajunya sesuai kondisi dan jika diperlukan
 Fasilitasi ODGJ utk sisir rambut dg benar
 Fasilitasi ODGJ utk mencukur dg cara tepat
 Jaga privacy saat ganti baju, perhatikan retsluiting, kancing,dll
 Tawarkan cuci pakaian sendiri
 Potong/Cat kuku dan make up boleh
 Bantu pasien gunakan buju bersih dan tidak
 Usahakan utk pakai pakaian sendiri
 Minta ODGJ untuk cuci pakaian sendiri
3) Self care deficit: feeding (kurang perawatan diri: makan)
Pengertian: gangguan kemampuan untuk melakukan atau menunjukkan aktifitas makan
NOC :
Perawatan diri : makan (1=tdk pernah dilakukan; 2=jarang; 3=kadang²; 4=sering;
5=konsisten dilakukan)
Kriteria hasil :
ODGJ dapat makan sendiri
ODGJ puas merencanakan makan dg baik
ODGJ diberikan bantuan o/ perawat saat makan
Tujuan khusus: ODGJ akan,
1. Mendemonstrasikan peningkatan kemampuan utk makan sendiri atau laporan bahwa dia
tidak dapat makan sendiri
2. Mendemonstrasikan kemampuan utk menggunakan alat bantu, jika diindikasikan
3. Mendemonstrasikan peningkatan ketertarikkan & keinginan utk makan
4. Menggambarkan rasional & prosedur utk penanganan
5. Menggambarkan faktor yg menyebabkan tidak makan
NIC :
Membantu ODGJ makan sendiri
Prosedur è ODGJ mampu makan dengan benar,
 Identifikasi diit ODGJ
 Siapkan nampan dan meja makan yg menarik
 Ciptakan lingkungan yg menyenangkan selama saat makan
 perhatikan kebersihan oral sebelum makan
 Makanan disajikan dl keadaan siap (daging dipotong, telur dikupas, dll)
 Makanan dapat dicapai dan didepan ODGJ
 Tempatkan pasien dalam posisi yg nyaman
 Siapkan minuman dengan sedotan k/p
 Suhu makanan hangat dg gelas minum disamping
 Ajak ODGJ makan bersama di ruang makan yg tersedia
 Gunakan piring dan gelas yang tahan pecah dan ringan
 Beri ucapan “selamat makan”…….
4)Self care deficit: Toileting (kurang perawatan diri:toileting)
Pengertian: Gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitras
toileting sendiri
NOC :
Kriteria hasil, ODGJ akan
1. Mendemonstrasikan peningkatan kemampuan utk melakukan toileting sendiri
atau laporan bahwa dia tidak dpt melakukan toileting sendiri
2. Mendemonstrasikankemampuan utk menggunakan alat bantu utk memfasilitasi
toileting
3. Menggambarkan faktor yg menyebabkan tdk dpt toileting
4. Menghubungkan rasional & prosedur penanganan toileting
NIC : manajemen lingkungan
bantu ODGJ ke toilet
Prosedur è membantu ODGJ mampu melakukan toileting secara mandiri,
Membantu ODGJ melakukan BAK dan BAB mandiri sesuai tahapan berikut,
 Menjelaskan tempat BAB dan BAK yang sesuai
 Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK (cebok)
 Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK
Tindakan keperawatan keluarga :
Tujuan è keluarga mampu merawat anggota keluarga yg mengalami masalah kurang
perawatan diri

Tindakan keperawatan : memantau kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri yg


baik. Keluarga penting di libatkan agar dapat meneruskan latih pasien dan mendukung
kemampuan perawatan diri sehingga meningkat.
Prosedur yang dilakukan utk keluarga:
 Diskusikan dg keluarga tentang masalah yg dihadapi dalam merawat pasien terutama
kebersihan diri
 Jelaskan pentingnya perawatan diri utk mengurangi stigma
 Diskusikan dg keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yg dibutuhkan oleh pasien
utk menjaga perawatan dirinya
 Anjurkan keluarga utk terlibat dl merawat diri pasien dan bantu mengingatkan pasien
dl meawat diri sesuai jadwal yg telah disepakati
 Anjurkan keluarga utk berikan pujian atas keberhasilan pasien dalam merawat diri
 Latih keluarga cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri.

D4. Askep Cemas/Anxiety


Pengertian. Cemas adalah perasaan tidak jelas, subjektif, specifik, merasa sulit, gelisah,
tertekan, tidak aman, merasa seperti akan mati saja. Cemas dalam ilmu medis/kedokteran
disebut neurosa. Lazarus (1969), kecemasan èrespon terhadap pengalaman yang dirasa tidak
menyenangkan dan di ikuti perasaan gelisah, khawatir, dan takut. Kecemasan merupakan
aspek subjektif dari emosi seseorang timbul karena menghadapi tegangan, ancaman
kegagalan, perasaan tidak aman dan konflik.
Biasanya individu tidak menyadari dengan jelas penyebab dirinya mengalami kecemasan.
The New Encyclopedia Britannica (1990) kecemasan atau anxiety adalah suatu perasaan
takut, kuatir atau cemas yang sering terjadi tanpa ada penyebab yang jelas. Kecemasan
dibedakan dari rasa takut, rasa takut ada penyebab jelas , fakta-fakta atau keadaan yang
membahayakan, sedangkan kecemasan timbul karena respon terhadap situasi yang
kelihatannya tidak menakutkan, atau bisa juga dikatakan sebagai hasil dari rekaan, rekaan
pikiran sendiri (praduga subyektif), dan juga suatu prasangka pribadi yang menyebabkan
seseorang mengalami kecemasan.
Ada 2 sebab cemas perlu dideteksi dini sebab:
1) Cemas mudah menjalar, maka segera komunikasi agar cemas tidak meningkat yang
bisa mengganggu jika tidak diatasi
2) Perawat harus waspada terhadap cemasnya sendiri, yang dapat dikomunikasikan bila
bekerja dengan pasien cemas
Setiap orang menerima cemas secara berbeda. Ada yg mengalami cemas umum, berusaha
mengatasi tapi tdk berkurang, ada yg alami cemas sejak pertama diserang, ada yg cemas

RESPON ADAPTIF RESPON MALADAPTIF


MILD SEVERE
Ringan
ANTISIPASI MODERATE PANIC
Berat
Dg mengetahui tipe cemas, seseorang dapat berharap
menemukan jalan keluar menghilangkan cemas
tersebut.
Gambar 1. Rentang Respon Cemas
Menurut UU nomor 18 tahun 2014, kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang
individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga
individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
Tabel 2. Respon Cemas

Tingkat Fisiologis Kognitif/Persepsi Emosional/bbehaviour


cemas

Ringan TV normal, ketegangan Lapang persepsi Perasaan relatif


otot kurang, pupil lebar, sadar akan nyaman&aman
kontraksi normal lingkungan &
stimulus internal .
Berpikir macam-
macam tapi terkontrol
Moderate Tv normal, bisa tidak Tanda bahaya Merasa kurang siap.
nyaman dan tidak enak persepsi sempit Suara, ekspresi wajah
minta perhatian
Severe/ Respon Lapang pandang Merasa terancam,
Berat menyerang/terbang,ssa sangat sempit. Sulit stimulus berlebihan,
sekali stimulus meningkat, tv pecahkan aktivitas berkurang,
juga, sering juga diare, masalah,perhatian atau meningkat,
mulut kering,napsu pada 1 topik mengeluh nyeri
makan kurang, otot saja,stimulus terblok, kepala&gigi, iritable
kaku dan tegang kekacauan waktu dan agitasi; mata lari,
atau menutup mata
Panic Semua gejala diatas Persepsi total Merasa tidak tertolong
sampai ss simpatik menyebar/tertutup. lagi, kontrol sosial
terjadi, wajah pucat, Tidak dapat diambil menurun, dapat marah,
hypotensi turun. stimulus lari, menangis.
Kontraksi otot nyeri Perilaku ekstrim, bisa
dengan sensasi minimal aktif atau inakti
MODEL TRANSAKSIONAL DARI STRESS DAN ADAPTASI
KEJADIAN PENCETUS
faktor2 predisposisi: genetik, pengalaman lalu,kondisi kaget
RESPON DALAM PIKIRAN(RESPON KOGNITIF)

REAKSI PERTAMA-KALI/ PENILAIAN PRIMER

TIDAK SESUAI Positif Ringan Menilai Sebagai Stress

Tidak Respon Respon Nyaman Menyakitkan/ mengancam Menantang


kehilangan
PENILAIANSEKUNDER/ Reaksi Kedua
1. Strategi koping bekerja
2. Menerimakopingstrategi ygefektif
3. Menerimakemampuan gunakan strategi kopingygefektif
KualitasRespon

Adaptasi/Penyesuaian Mal adaptasi/Adaptasi keliru


Gangguan psikososial (mental emosional) yang utama : cemas/anxiety:
Macam-macam Cemas/anxiety : gangguan cemas umum, Social Phobia, gangguan panik,
Agoraphobia (takut pada keramaian, tempat umum, situsi tertentu, pada hidup itu
sendiri), Macam-macam Phobia, gangguan stress post traumatik, Obsessive-Compulsive
Disorder (OCD)
Tingkatan cemas : ringan, sedang, berat dan panik.
Mekanisme koping cemas ringan : tidur saja, makan terus, minum-miras, olah raga
berlebihan, mimpi siang hari, merokok, tertawa, menangis, gigit kuku, mengangga/
menguap, maki-maki/kutuk, mondar mandir, goyang kaki, penyadapan, gelisah.
Etiologi cemas:
1) Psykoanalisis è konflik bawah sadar
2) Biologi è predisposisi genetik
3) Neorofisiologiè respon meningkat pada ssa
4) Intro personal èinteraksi awal figur orang tua
5) Behavioral è respon terhadap stimulus lingkungan
6) Keberadaan è kurang arti hidup karena cemas
7) Lingkungan èbencana,perkosaan,serangan, trauma/stressor kontinue sebabkan
anxietas
Epidemiologi cemas :
 Cemas dan penyakit yg berhubungan dg cemas mengenai kira-kira 1% - 5 % dari total
populasi
 Stres post traumatik penyakitè 50 – 80 % individu mengalami pengalaman yg
menghancurkan
 Lebih banyak terjadi pada penyakit hipochondria
 Beberapa jenis cemas cenderung mengenai wanita Usia terjadi cemas biasanya
sebelum 30 tahun
Ada 7 tipe gangguan CEMAS
1) Generalized Anxiety Disorder (GAD) = gangguan cemas umum
2) Social Phobia
3) Panic Disorder/ gangguan panik
4) Agoraphobia (takut pada keramaian, tempat umum, situsi tertentu, pada hidup itu
sendiri)
5) Macam-macam Phobia
6) Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)= gangguan stress post traumatik
7) Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)
Kenali gejala dari tipe-tipe cemas ini.
Ad 1: Generalized Anxiety Disorder (GAD)
 Tipe cemas yg paling sering dan menyebar luas. GAD berpengaruh pada 10 dari 1 juta
manusia di dunia.
 GAD adalah suatu status mental yg terus menerus mengalami ketegangan mental maupun
fisik dan nervous, tidak tanpa penyebab spesifik atau tanpa penyebab spesifik atau tanpa
kemampuan untuk menghilangkan diri dari cemas.
 Jika seseorang merasa dirinya seperti dipinggir jurang, cemas, kawatir atau stress (fisik
atau mental), dan ini menganggu hidupmu, dia mungkin gangguan cemas umum. Perlu
diingat, ada cemas yg normal bg dari kehidupan, ada cemas yg normal karena
menghadapi sesuatu. Jika cemas muncul untuk sesuatu yg tidak ada penyebabnya maka
anda kemungkinan menderita gangguan cemas umum. ini. Seseorang bisa menderita
lebih dari satu gangguan, cemas umum biasanya bersama gg. panik dan gg. obsesi
kompulsive.
 Perbedaan cemas normal dan gangguan cemas : Cemas yang menganggu kualitas
kehidupanmu adalah gangguan cemas dan ini butuh mencari pertolongan dokter.
Cemas dapat diobati dengan strategi berikut:
Temukan tipe spesifik dari cemasmu
Terima bahwa kecemasanmu adalah suatu masalah
Mengerti sebab kecemasanmu dan kuat menghadapinya
Pecahkan menjadi potongan kecil cemas yg kamu dapat mengelolahnya
Ubah gaya hidupmu menjadi lebih bebas cemas
Ad 2. Phobia sosial. Banyak org menderita sosial phobia, yaitu suatu perasaan takut yg
irrassional terhadap suatu situasi sosial. Malu di tempat umum atau tdk nyaman selama
berbicara didepan org, alamiah utk banyak org, dan tidak menimbulkan masalah cemas.
Tetapi ketika keadaan sosial itu menganggu hidupmu, anda mungkin menderita phobia
sosial, seperti malu semakin intens saat menyampaikan ide atau berbicara didepan umum,
orang asing, org berkuasa atau ketika temanmu sebabkan takut dan cemas.
 Org ini kadang melakukan sesuatu kebodohan atau sesuatu yg memalukan didepan umum
 Seorang sosial phobia sering hidup dengan 2 atau lebih isu-isu berikut :
a. Merasa putus asa atau takut terhdp orang lain atau org yg belum dikenal atau situasi
yg tidak biasa
b. Memikirkan berlebihan sedang ditonton, diobservasi atau diadili oleh org asing
c. Pengalaman menangani cemas dl situasi sosial dg koping yg sulit
d. Merasa takut berat saat bicara didepan umum dl satu situasi normal
e. Cemas terhadap ide situasi sosial, bahkan walau tidak dalam situasi itu
f. Isu-isu penting tentang bertemu orang baru, atau ketika ingin menyampaikan sesuatu
 Banyak org dg phobia sosial mempunyai perilaku menghindar. Mereka menghindar dari
sesuatu atau semua situasi sosial sebagai yg terbaik mereka dpt lakukan untuk
menghindar rasa takut
Ad 3. Panic Disorder ( gangguan panik).
 Gangguan ini berhubungan dg gangguan cemas tetapi berbeda dengan GAD. Ini berbeda
dengan kawatir kehilangan pekerjaan atau akan diserang singa, panik ini normal.
 Gangguan panik adalah ketika mengalami perasaan berat hebat yg menyebabkan gejala
fisik dan mental yg mendalam. Ada yang sampai harus dirawat di RS, kawatir sesuatu yg
berbahaya terjadi dengan kesehatannya
 Ada 2 karakteristik panik:
1.Serangan panikè hanya menimbulkan sesasi pada fisik dan mental, yg berupa stres,
cemas atau tidak satupun. Sering termasuk mental distress, seperti dikenal gejala fisik
seperti palpitasi, irama jantung tidak teratur, berkeringan, sensasi aneh, tubuh lemah.
Depersonalisasi è merasa seolah berada diluar diri sendiri, nyeri dada, lambung.
Gangguan pencernaan, dll.
Serangan mental dg gejala kira2 10 menit menuju serangan panik, ini termasuk merasa
akan mati, cemas berat, merasa tidak punya harapan, merasa sendirian yg
berkepanjangan.
2. Takut mendapat serangan panik
 Serangan panik sulit dikontrol tanpa pertolongan dari org lain. menggunakan alat kontrol
dg mana anda dapat belajar teknik utk mengobati panik.
 Anda bisa mengalami gangguan panik tanpa mengalami serangan panik, jika anda hidup
dalam ketakutan yg konstan terhadap serangan panik. Anda akan didiagnosa gangguan
panik tetapi ketakutannya diketahui.
Ad.4. Agoraphobia.
 Takut menghadapi situasi ramai, ruangan terbuka, atau di tempat asing/tidak familiar.
Org dg agoraphobia bahkan tak pernah meninggalkan rumah, menghindar perjalanan
ketempat lain daripada rumah dan kantor. Ada yg bisa ke pertokoan. Banyak org yg
menderita agoraphobia juga mempunyai gangguan panik. Banyak penyebab agoraphobia
disebabkan karena serangan panik. Serangan panik ditempat umum, sampai takut keluar
rumah.
 Ada org yg mengalami agoraphobia sesudah kejadian traumatik seperti itu
 Agoraphobia lebih sering pd orang dewasa. Banyak yg takut kehilangan kontrol fisik dan
psikolodi, menyebabkan mereka menghindari situasi sosial. Tidak semua agoraphobia
menghabiskan waktunya dirumah.
 Beberapa gejala yg umum terjadi :
a. Seorg obsesive takut bersosialisasi dg kelompok org, baik dikenal maupun tidak
b. stress berat atau cemas jika berada di lingkungan lain dari rumah, atau satu
lingkungan yg tidak di kontrol
c. Merasa tegang dan stres selama aktivitas rutin, mis. Pergi ke toko, jalan dg org
asing, bahkan hanya melangkah keluar pintu rumah
d. Sebelum kerja mencari perlindungan atau proteksi diri terutama pada tempat yg
pernah terjadi masalah, atau dg alasan akan terjadi masalah
e. Menemukan bahwa ketakutanmu telah memenjarakan kamu, mencegah anda
keluar dan hidup, sebab ketakutan
Ad. 5. Phobia-phobia Khusus:
Perasaan takut yg mendalam terhadap objek, skenario, binatang, dll. phobia disebab
karena berpikir bencana atau sesuatu yg buruk akan terjadi atau menghindari
perilaku2 (berbuat sesuatu utk menghindari phobia)
Contoh : arachnophobia, takut terhadap laba-laba, ular, pesawat terbang, guntur
dan bahkan darah
Penyebab phobia :
a. Berlebihan,takut menetap pada situasi/event khusus
b. Perasaan hebat akan ada teror jika dihubungkan dengan subjek phobia
c. Tidak mampu kontrol perasaan, bahkan diketahui itu semua tidak rasional
d. Pergi dalam waktu lama utk menghindari situasi atau objek yg menyebabkan
takut
e. Mengalami pembatasan2 dalam hidup rutin normal sebagai akibat dari rasa
takutmu.
Seorg phobia berat, mempunyai pikiran hebat tentang obyek yg ditakutinya
walaupun obyek itu tidak ada menyebabkan stress dan cemas serta berefek pada
kehidupannya. Banyak org dpt mengelolah phobianya, tetapi jika itu menganggu
kualitas kehidupan, maka perlu mencari terapi medis
Ad 6. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
 Sebagai manusia, selalu ada risiko yg menempatkan diri anda dalam bahaya.
Kebanyakan org terhindar, hidup aman, tetapi dl kasus tertentu ada yg mengalami
trauma kehidupan, baik fisik atau emosional ini menyebabkan gangguan cemas yg
terjadi setelah kejadian traumatik tesebut.
 Org yg hidup dalam PTSD harus mencari pertolongan, karena berdampak
bertahun tahun setelah kejadian, bisa sampai mati.
 Dampak PTSD pada fisik dan psikis, dl banyak kasus seseorg PTSD dapat
mengalami PTSD pada cedera atau kejadian lain yg sederhana dari pengalaman
org lain yg traumatik
Gejala-gejala PSTD:
a. Menghidupkan trauma itu tdk hanya emosional, tetapi mental dan fisik bahkan
memasukkan diri ke trauma yg lalu
b. Berespon terhadap kejadian tragis tersebut, sehingga tetap stress dan takut,
seperti teriakan, ketika kejadian itu timbulkan teriakan, ketakutan hebat jika
seseorg menyerang dari belakang,bisa juga hanya berpikir tentang kejadian itu
c. Cemas jika kejadian terulang kembali. Karena cemar berat ketika mengalami
kejadian. Jika alami teratur, cemas seharian menguasai ide yg terus
mengulang kejadian itu termasuk PTSD
d. Masalah emosional, pengalaman emosional, berpikir dan masa depan, merasa
tidak dicintai, ingin mati. Semua serangan emosional ini bg dari PTSD
Org PTSD membuat skenario kemana dia pergi, berpikir tentang bencana, merasa
tidak punya harapan dl situasi umum, dan menghindari kejadian, sesuatu, orang
yg mengingatkan dia akan kejadian itu, walau tdk ada hubungan antara isu dan
trauma lalu.
Orang dengan PTSD mempunyai stress setiap hari, mereka mudah marah, gampang
ketakutan atau tidak dpt tidur. PTSD merupakan masalah berat dalam hidup
Ad 7. Gangguan obsessive-compulsive (OCD)
Gangguan kecemasan yg sangat merusak/destruktiv. Perilaku dan ketakutan seorg
OCD membinggungkan orang sekitar bahkan sesama OCD
Kompulsiv dan obsesi sama, tetapi pemunculannya dg cara berbeda :
Obsessi: berdasarkan pikiran, pra obsesi dg pikiran khusus biasanya yg
menakutkan atau negatif, org tersebut tidak dapat mengetahui bgmn berat dia
akan mencobanya.
Compulsions: berdasarkan pada perilaku. Mereka butuh utk melakukan aksi
atau tindakan , sering dg cara khusus, dan sulit utk dicoba, mereka tidak dapat
berhenti melakukan perilaku itu. (mengulang-ulang perilaku tersebut)
Contoh :
a. Seorang obsesi kawatir ibunya akan lebih sakit, sementara kompulsiv merasa
kawatir jika tidak menyentuh kunci pintu sebelum meninggalkan rumah.
b. Seseorang bisa menderita kedua-duanya atau hanya obsessiv atau kompulsive
saja.
c. Misalnya perilaku cuci tangan berulang kali karena takut tangan
terkontaminasi kuman.
d. Kadang kejadiannya jarang, mereka tahu itu irasional namun merasa dirinya
tidak dapat mengontrol pikiran dan perilaku itu.
Asuhan Keperawatan :
A. Pengkajian.
1) Faktor predisposisi è kepribadian dan pembentukkan karakteristik individu:
Pandangan psikoanalisa : ketidakmampuan kronik
Mendapat kebutuhan seksual
2) Inter personal è ketakutan sebagai sentral cemas.
Cemas timbul karena hubungan emosi anak – orang tua
3) Perilaku è cemas terjadi akibat rasa frustrasi karena tujuan tidak tercapai
4) Studi keluarga è Cemas ada pd keluarga latar belakang berbeda, atau antara
cemas dan depresi mereka perlu diobati
5) Dasar biologi è adanya benzodiazepam yg mengatur terjadinya cemas. Juga
akibat neurotransmitter GABA (GAMMA AMINO BUTYRIC ACID)

B. Diagnosa Keperawatan:
1) Anxiety à Anxiety/cemas, FEAR/takut
2) Semua tipe phobia à tidak efektifnya koping individu
3) Gg. Obsessive kompulsiv à kerusakkan interaksi sosial
4) Gg.stress post traumatik à Respon post traumatik
Semua tipe gangguan somatik à tidak efektifnya koping individu
Semua tipe gangguan dissosiasi à
a. Resiko tinggi merusak diri
b. Kerusakan pengambilan keputusan
c. Tidak efektifnya koping individu
 Umumnya prognosis jelas/baik, karena cemas dan gangguan yang berhubungan
dengan cemas terjadi saat ada trauma, terutama jika seseorang segera mendapat
pertolongan.
 Gangguan somatik umumnya menjadi kronik dan butuh pengobatan untuk
sembuh.
 Kebanyakan depresi terjadi pada cemas berat dan penyakit-penyakit.
 Gangguan Obsesiv kompulsif resisten terhadap obat. Kira-kira 20% - 40% pasien
OKD menjadi sakit atau menunjukkan gejala berat. Gejala depresi terjadi + 1/3
pasien dan mereka beresiko Ý bunuh diri.
 Untuk semua gangguan cemas yg dapat berfungsi baik seperti manusia yang kuat
dan tidak ada pengaruh penyakit –penyakit lain menentukan prognosisnya,
menjadi lebih SEHAT………
 Neurosis à gangguan mental yang di karakteristikkan dengan cemas tetapi tak ada
gangguan realitas.Gangguan neurotic adalah respon2 cemas maladaptif yang di
hubungkan dengan cemas sedang & berat.
 Psikosis à keadaan darurat pada tahap panik , yang mana individu merasakan
terpecah2 menjadi berkeping2 . Kepribadi pecah antara pikiran, perasaan dan
kemauan
C. Perencanaan: Strategi menolong diri sendiri menghadapi serangan kecemasan atau
gangguan kecemasan.
1)Hadapi pikiran negatif dg cara,
a. Tulislah kekawatiranmu dg pinsil, leptop, HP, pikiran negatifmu akan
segera sirna
b. Buatlah satu periode kawatir-cemas misalnya 1-10 menit periode cemas
dalam sehari, waktu utk cemas. Waktu ini diisi dg pikiran negatif, jangan
di koreksi, jika ada pikiran cemas maka tulislah itu jangan ditunda
c. Terima sesuatu yg tdk disenangi è cemas tentang sesuatu yg salah tidak
membuat hidup dapat diprediksi, tetapi itu hanya membuatmu tidak
bahagia untuk sesuatu yg didpt hari ini
2)Mengasuh diri sendiri dg lakukan teknik relaksasi; ciptakan kebiasaan makan yg
sehat; kurangi alkohol dan rokok; olahraga teratur ( ± 30 menit aerobik sehari)
dan istirahat dan tidur cukup (tidur 7-9 jam dg kualitas baik malam hari)
3)Kapan mencari pertolongan profesional?
a. Bila menjadi lebih tertekan, menganggu kehidupan rutin sehari-hari
b. Jika mengalami gejala cemas fisik yang banyak, maka perlu cek up. Sebab
kemungkinan dari thyroid, hipoglikemi dan asthma, atau obat-obatan.
c. Setelah mendapat obat, konsul lagi ke terapist yg berpengalaman mengobatai
serangan cemas dan gangguan cemas, agar menetapkan pengobatan tambahan
lain
4) Macam pengobatan utk gangguan cemas;(terapi perilaku, obat-obatan & kombinasi
keduanya):
a. Terapi perilaku è selama 5 – 20 minggu. Ada 2 jenis,
b. terapi perilaku kognitif è fokus pada pikiran atau kognitif utk
mengidentifikasi pola-pola pikiran negatif dan keyakinan yang tidak
rasional yg membakarmu jadi cemas
c. terapi paparanè memberanikan diri melawan perasaan takut dalam situasi
yg aman dan lingkungan yg terkontrol. Melalui terpapar terhadap obyek
atau situasi yg menakutkan didalam imaginasi atau realita akan
meningkatkan rasa kontrol. Dg menghadapi takut tanpa menyakitkan anda
akan mengurangi cemas secara bertahap
5) Medikasi Cemas :
 Obat-obat cemas dapat menyebabkan ketergantungan serta efek samping yg
tidak diinginkan. Maka teliti benar sebelum tentukan akan minum.
Pertimbangkan manfaat dan risikonya, maka anda bisa sebelum ambil
keputusan mendapat obat-obat cemas.
Ada macam-macam jenis obat cemas, antara lain benzodiazepines dan
antidepresant biasa dipakai dalam terapi gangguan cemas. Tetapi obat-obat akan
lebih efektif jika dikombinasikan dg terapi perilaku, strategi menolong diri
sendiri saat cemas. Obat dipakai jangka pendek utk menghilangkan gejala
cemas berat, maka dapat gunakan terapi alternatif lagi dapat disarankan
D. Pelaksanaan/Implementasi:
1)Tahap berat dan panik :
 Bina hubungan saling percaya, karena meraka dirawat. Tugas perawat
lindungi & supportif hubungan terbuka saling percaya, aktif dengar,
anjurkan diskusi perasaan2 cemas, bermusuhan , frustasi.
 Jawab pertanyaan2 langsung, jarak perhatikan + 6 kaki, dekat /jauh sesuai
perkembangan pasien.
Tahap kesadaran diri à perawat sadar akan perasaannya sendiri perawat
perlu sangkal cemasnya karena ini bisa menyebabkan perawat tidak bisa
bedakan kecemasan orang lain
 Lindungi pasien à lindungi & yakinkan pasien aman, cegah situasi yang
membuat pasien > cemas, jangan melawan mekanisme koping.
 Modifikasi lingkunganàkonsul ke tim kesehatan lain untuk idenfikasikan
penyebab cemas bagi lingkungan yang tenang, aman dan Þ stimulus juga
tindakan-tindakan mandi kongesti massage dan renang.
 Aktifitas – aktifitas yang dianjurkan à aktivitas di luar dirinya misalnya
sapu rumah, atur rumah, latihan fisik misalnya aerobik, sport dan hoby2
lain.
 Intervensi dengan obat-obatan à untuk menurunkan cemas misalnya :
a. Benzodiazepin : Librium, Xanax, Tranxene, Klonopin,
Diazepam (valium), Halazepam (Paxipam), Loraxepani
(aktivan), Seraxy Centrax.
b. Antihistamin : Benadryl (diaphenhidramin, inderal, anxiolytic
(Buspar)
c. Obat-obat antidepresan tricyclic : anafranil (chlomipramine)
Selain obat-obat anti cemas, juga non farmakologi. Bahaya obat-obatan
ini syndrom withdrawal, dan ketergantungan maka perlu informasi.
2) Intervensi cemas sedang
a. Meliputi suportif dan langsung ke tujuan jangka pendek untuk kurangi
cemas berat à panik.
b. Pendidikan aspek penting untuk Ýrespon adaptasi pasien.
c. Cara – cara lain :
Mengenal cemasnya à bantu pasien mengenai cemasnya, ekspresikan
perasaannya
Mengenal dalamnya cemas à setelah mengenal cemas bersama (p)
tangani penyebab presipitasi atau stressor biopsikososial
d. Koping terhadap ancaman à anjurkan gunakan koping konstruktif agar
berrespon adaptasi.
e. Tingkatkan respon2 relaksasi à ajarkan tehnik relaksasi pada individu,
kelompok kecil/kelompok besar.
f. Desensitisasi sistemik à untuk ubah respon klien terhadap stimulus
ancaman.
Bagian yang terpenting à relaksasi otot dalam dari tangan, biceps dan
triceps, bahu, leher, mulut, mata, nafas, telapak, bokong, sehingga
relaksasi sempurna.
g.Pendekatan lain untuk relaksasi à meditasi, Komponen penting dari
meditasi : à Lingkungan
à Sikap pasif
à Posisi nyaman
à Kata-kata untuk memfokus
Individu ini masih punya orientasi realitas jika gejala intoleransi, pada individu
atau orang penting lainnya à perlu pengobatan.
Pada yang obsesiv à butuh hospitalisasi utk kurangi stresor-stresor
h. Lingkungan eksternal & beri lingkungan yg aman & pemberian pengobatan
 Pharmacotherapy
Anti depresi & antagonis beta adrenesgic, sukses untuk cemas, pada gangguan
somatik, hindari pengobatan gangguan dissosiasi tidak butuh pengobatan.
Clomipramine dipki lama di Eropah utk obsesive kompulsive
 Therapy Perilaku
Melalui systematik desensitization, melalui berhenti berpikir, bantu perilaku
baru, hambatan resiprokal periklanan, dll. à untuk perbaiki perilaku (itu
penting).
 Therapy psiko . Penting dan terapi berhasil jika effektive tangani peran, maka
kaji kepribadian, pola hidup, HAM, Psikotherapi pasien dengan gangguan
somatik biasanya baik.
 Terapi keluarga à merupakan jaminan & support dari keluarga, tolong Þ
stressor lingkungan & pendidikan pada anggota keluarga . Tentang symptom,
intervensi2 & hasil akhir.
 Kesimpulan intervensi :
Hospitalisasi à Biasanya tidak dibutuhkan untuk cemas kecuali berhubungan
dengan depresi berat atau resiko bunuh diri.
E. Latihan
1) Setiap mahasiswa mengeksplorasi perasaan cemasnya sendiri
2) Berdua dengan teman (emaus) dengan menggunakan format API, membahas
cara menghilangkan cemas anda
3) Askep isolasi social harus dibaca oleh semua mahasiswa dan dibuatkan
resumenya

F. Rangkuman
Kebutuhan harga diri atau menghargai diri, merasa pantas diri. Seseorang perlu
menghargai diri sendiri sebelum bisa menghargai orang lain. Merasa diri benar,
dibutuhkan dan berguna. Self Esteem dipengaruhi oleh perasaan dependen dan
independen. Orang sakit mengalami terganggunya perasaan independen, dan harus
dependen pada orang lain dan perawat, menyebabkan rendah diri, dan kurang percaya
diri. Tidak terpenuhi kebutuhan akan penghargaan, atau harga diri dalam waktu lama
dapat berkembang menjadi orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).
Isolasi social adalah suatu ketidakmampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang
lain dalam lingkungan hidupnya, karena dorongan dari dalam diri berupa perasaan
ditolak, diacuhkan, diabaikan. Isolasi social merupakan perilaku maladaptive atau respon
maladaptive, merupakan respon menyimpang dari norma-norma social budaya dan
lingkungan. Isolasi social biasa menjadi core problem dari deficit perawatan diri pada
ODGJ.
Defisit perawatan diri pada ODGJ adalah suatu keadaan pada orang dengan gangguan
jiwa (ODGJ) yang kehilangan kemauan untuk merawat diri sehari-hari secara mandiri
meliputi mandi teratur; menyisir rambut, menganti pakaian , berdandan; makan; dan
toilet. Keadaan ini khas pada gangguan jiwa kronik atau jenis scizofrenia hebefrenik.
Cemas atau neurosa (diagnose medis) dialami semua orang. Cemas bisa menular, oleh
karena itu baiklah kita mengenal tanda tanda cemas dalam disi. Cemas ada 7 jenis, dari
ketujuh tipe cemas, yang perlu terapi medis dan masuk RS adalah tipe Obsesiv
Kompulsiv terapi.
G. Formatif tes
1. Tn Z berusia 40 tahun, sehari-hari duduk dibawah pohon, tidak berpindah baik
cuaca kering maupun hujan, kulit dan badan kotor, rambut, jenggot panjang tidak
terurus.Dari data diatas, apa masalah keperawatan utama yg di angkat pada tn Z?
A. Kurang perawatan diri: makan
B. Kurang perawatan diri : berdandan
C. Kurang perawatan diri: toileting
D. Kurang perawatan diri: mandi
E. Kurang perawatan diri: berpakaian

2. Tn Z menurut UU nomor 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa disebut orang dengan


gangguan jiwa (ODGJ) yang menggelandang di jalan-jalan kota, dengan
penampilan kotor dan tak terurus, apa sebutan yang tepat untuk tn Z ini?
A. ODGJ kronis
B. ODGJ akut
C. ODGJ borderline
D. ODGJ scizofrenia
E. ODGJ psikosa

3. Suatu ketika, anda bertemu seorang laki-laki, ODGJ berjalan telanjang sambil bicara
sendiri. Dia tidak peduli orang disekitarnya. apa sebab ODGJ menjadi seperti ini?
A. ODGJ mengalami gangguan harga diri
B. ODGJ mengalami gangguan proses pikir
C. ODGJ mengalami gangguan alam bawah sadar
D. ODGJ mengalami gangguan alam perasaan
E. ODGJ mengalami gangguan gambaran diri

4. Tn RO, 23 tahun, dirawat di RSJ karena dirumah RO mengurung diri di kamar, tak
makan berhari-hari. Selama dirawat, RO makan asal-asalan, nasi berhamburan
dimeja, kursi dan lantai. Apa rencana anda untuk atasi masalah tn RO?
A. Tn RO makan dengan disuap
B. Tn RO saat makan dipisahkan dari pasien lain
C. Tn RO diberi makan porsi kecil dan boleh tambah kemudian
D. Tn RO dihukum tidak diberi makan pada jam makan berikut
E. Tn RO diberi sangsi membersihkan meja makannya sendiri

5. Pagi ini perawat mencium bau pesing bercampur bau feses. Setelah diselidik
perawat menemukan tn. KP, 56 tahun yang ngompol dan BAB di tempat tidur. Apa
pemecahan anda terhadap masalah tn KP ini?
A. Ajar kembali tn KP cara menggunakan toilet
B. Tuntut tn KP ke toilet, ajarkan cara BAK dan BAB
C. Pasang kateter dan pempers pada tn KP
D. Manajemen lingkungan : tn KP tidur di kamar sendiri
E. Manajemen lingkungan: tn KP tidur dekat toilet
6. Seorang ibu G (45 th), berobat ke poliklinik penyakit dalam dengan gejala jantung
berdebar, mulut kering, nafsu makan berkurang, diare, otot kaku. Hal ini sangat
menganggu kehidupan rutin sebagai ibu rumah tangga. Dokter mengatakan
kemungkinan ibu menderita cemas. Apa level cemas yang dialami ibu G?
A. Cemas ringan
B. Cemas sedang
C. Cemas berat
D. Panik
E. Tidak cemas

7. SG, remaja putri 18 tahun, mempunyai suara indah, namun sangat takut berada
dipanggung pada temu pengemar. Apa jenis cemas yang diderita SG?
A. Gangguan panik D. Stress post traumatik
B. Agoraphobia E. Obsesiv-compulsive
C. Cemas umum

8. CG, remaja laki-laki, 17 tahun, berlatar belakang keluarga bapak-mama cerai. CG


bersekolah di SMA, namun kedapatan sebagai pengguna narkoba. Menurut
rentangan, apa mekanisme koping yang dipakai CG?
A. Adaptif koping mekanisme
B. Ego oriented koping mekanisme
C. Maladaptif koping mekanisme
D. Task oriented koping mekanisme
E. Mekanisme koping konstruktif

9. Tn BH, 45 tahun, seorang tentara yang pernah ikut perang di Timor Leste. Saat ini
BH sangat sensitive, mudah tersinggung, cepat emosi dan gampang marah marah.
Dokter mendiagnosa tn BH menderita cemas. Apa tipe cemas yang diderita tn BH
disini?
A. Gangguan panik D. Stress post traumatik
B. Agoraphobia E. Obsesiv-compulsive
C. Cemas umum

10. Mahasiswa E, perempuan 19 tahun, mempunyai kebiasaan cemas saat menghadapi


ujian semester maupun ujian laboratorium. Saat ini E sangat hiperaktif, mondar
mandir, ribut, karena akan maju ujian laboratorium. Apa saran anda yang tepat saat
ini?
A. Nona E, ujian seperti ini akan terus anda hadapi dalam hidup, realistislah sedikit
B. Nona E, anda bermasalah dalam mengelolah stres. Belajar mengelolah stres lagi .
C. Nona E, cemasmu menular ke saya, kita tidak boleh berdekatan
D. Nona E, coba pilah pilah cemasmu, saat ini kamu hanya ujian laboratorium
E. Nona E, mekanisme koping yang anda pakai saat ini sangat destruktif
H. Umpan balik/kunci jawaban
1= D 2=A 3=A 4=C 5=E
6=C 7=B 8=C 9=D 10=D

I. Penjelasan jawaban yang dipilih


No Penjelasan
1 Jawaban D, Penampilan fisik tn Z sebagai ODGJ menunjukkan dirinya
kurang perawatan diri khusus mandi.
2 Jawaban A, ODGJ yang biasa berkeliling di jalan jalan dengan penampilan
kotor, termasuk dalam kategori kronis, bukan yang lain.
3 Jawaban A, ODGJ yang berjalan sambil telanjang tanpa merasa malu dengan
orang sekitar menunjukkan dia menderita gangguan harga diri rendah
4 Jawaban C, tn RO diberi makan sedikit, porsi kecil agar dia dapat tenang
menghabiskan makanan tanpa merasa dikejar teman lain. Sesudahnya boleh
diberi tambah makanan
5 Jawaban E, pada ODGJ lansia dan masalah taoleting, beri dia tidur dekat
kamar mandi, sambil menjelaskan alsannya aga rpasien paham
6 Jawaban C, Karena sudah menganggu aktifitas harian ibu G, maka cemas ini
sudah tergolong cemas berat, yang membutuhkan tenaga profesional
7 Jawaban B, SG masuk dalam cemas agoraphobia, karena dia sangat takut
berada ditempat umum. Bukan phobia tipe lain
8 Jawaban C, CG menggunakan mekanisme koping mal adaptif, sebab dengan
narkoba dia sedang merusak dirinya sendiri, sebab menadi ketagihan dan
membutuhkan banyak uang untuk membelinya
9 Jawaban D, tn BH menderita cemas strss post traumatic, karena pengalaman
merasakan perang di Timor Leste waktu lalu
10 Jawaban D, mhs E belum tahu cara menangani stress, karena dia sdh menjadi
cemas. Cara yang baik saat ini, E dilatih menyadari keadaannya dan
memilah-milah stress menjadi bagian kecil yang bisa ditangani olehnya

J. Cara penilaian

skore jumlah benar x 1


= x NILAI BATAS LULUS
nilai rata−ratabenar

K. Tindak lanjut
1) Diskusikan askep Isolasi social dengan mengambil kasus nyata
2) Diskusikan perasaan cemas yang pernah anda alami untuk cemas sedang -panik
L. Daftar pustaka/referensi

Yudianto, Andi. 2008. Perkembangan Psikososial Erikson.


http://bayoesmartboy.blogspot.com/2008/04/perkembangan-psikososial-erikson.html.
(diakses pada tanggal 15 November 2011, pukul 09.30 wib)

Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemb
Carpenito, M.L (2007). Buku saku diagnosa keperawatan, alih bahasa,
Yasmin Asih, editor edisi bahasa indonesia, ed. 10, EGC: Jakarta.

Dalami, E., Suliswati., Rochimah., Suryati, K.R,. Lestari, W (2009). Asuhan


keperawatan klien dengan gangguan jiwa.Ed.1.TIM: Jakarta.

Doenges, M.E., Tonsend, M.C., Moorhouse, M.F (2007). Rencana asuhan


keperawatan psikiatri. Ed.3, EGC: Jakarta.

Suliswati., Payapo, T.A., Maruhawa, J., Sianturi, Y., Sumijatun (2005). Konsep


dasar keperawatan kesehatan jiwa. Ed.1, EGC: Jakarta.

Stuart, G.W & Lararia, M.T (2001). Principles & practice of psichiatric


nursing. Ed.7, St Louis: Mosby.

Eyvin Berhimpong, Sefty Rompas, Michael Karundeng, PENGARUH LATIHAN


KETERAMPILAN SOSIALISASI TERHADAP KEMAMPUAN BERINTERAKSI KLIEN
ISOLASI SOSIAL DI RSJ Prof. Dr. V. L. RATUMBUYSANG MANADOE-Journal
Keperawatan (EKP) Volome 4 Nomor 1, Februari 2016.