Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULULAN PROFESI NERS

ASUHAN KEGAWATDARURATAN PADA PASIEN DENGAN


STROKE
DI RUANG IGD RSUD Dr.M.YUNUS BENGKULU

Nama : Anninah S.Tr.Kep


NIM : P05120419 006

Mengetahui
Preceptor Institusi Pendidikan

( Ns. Sahran, S.Kep., M.Kep )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian gawat darurat intoksikasi meliputi:
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur (bisa terjadi pada semua umur), jenis kelamin, alamat, agama,
tanggal pengkajian, jam, No. RM.
2. Identitas Penanggung Jawab
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, hubungan dengan klien.
3. Keadaan Umum: lemah/ berat
a. Pengkajian Primer
1) A (Airway): untuk mengakaji sumbatan total atau sebagian dan gangguan
servikal, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, distress pernafasan, ada secret atau
tidak. Pada kasus gawat darurat intoksikasi periksa kelancaran jalan napas,
gangguan jalan napas sering terjadi pada klien dengan keracunan baygon,
botulisme karena klien sering mengalami depresi pernapasan seperti pada klien
keracunan baygon, botulinun.
2) B (Breathing): kaji henti nafas dan adekuatnya pernafasan, frekuensi nafas dan
pergerakan dinding dada, suara pernafasan melalui hidung atau mulut, udara yang
dikeluarkan dari jalan nafas. Pada kasus gawat darurat intoksikasi kaji
keadekuatan ventilasi dengan observasi usaha ventilasi melalui analisa gas darah
atau spirometri.
3) C (Circulation): Pada kasus gawat darurat intoksikasi kaji TTV, kardiovaskuler
dengan mengukur nadi, tekanan darah, tekanan vena sentral dan suhu, pantau
EKG. Kemungkinan syok dapat terjadi berhubungan dengan kerja kardio depresan
dari obat yang ditelan, pengumpulan aliran vena di ekstremitas bawah, atau
penurunan sirkulasi volume darah, sampai dengan meningkatnya permeabilitas
kapiler
4) D ( Disabiliti): Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran
dan GCS, ukuran dan reaksi pupil serta tanda-tanda vital. Penurunan kesadaran
dapat terjadi pada klien keracunan alcohol dan obat-obatan. Penurunan kesadaran
dapat juga disebabkan karena penurunan oksigenasi, akibat depresi pernapasan
seperti pada klien keracunan baygon, botulinum
5) E ( Exposure): kontrol lingkungan, penderita harus dibuka seluruh pakaiannya.
Tidak ditemukan adanya luka, jejas ataupun trauma.

b. Pengkajian Skunder
1) Riwayat Penyakit
a) Keluhan utama
Klien biasanya datang kerumah sakit dalam kondisi gangguan pernafasan dan
hiperaktif gastrointestinal, muntah-muntah, diare, kejang, bahkan penurunan
kesadaran.
b) Riwayat penyakit sekarang dengan metode:
- S ( sign & symtoms ): tanda dan gejala yang diobservasi dan dirasakan
klien. Biasanya terjadi Anoreksia, sakit kepala, pusing, lemah, ansietas,
tremor lidah dan kelopak mata, miosis, gangguan penglihatan, gangguan
pernafasan dan hiperaktif gastrointestinal, nausea, salivasi, lakrimasi, kram
perut, muntah– muntah, keringatan, nadi lambat dan fasikulasi otot, diare,
pin point, pupil tidak bereaksi, sukar bernafas, edema paru, sianosis,
kontrol spirgter hilang, kejang – kejang, koma, dan blok jantung.
- A ( allergen ): alergi yang dipunyai klien
- M ( Medication ): tanyakan obat yang telah diminum klien untuk
mengatasi masalah. Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering
digunakan klien,
- P ( pertinent past medical history ): riwayat penyakit yang diderita klien.
- L ( last oral intake solid or liquid ): makan/ minum terakhir, jenis
makanan, adanya penurunan atau peningkatan kualitas makan.
- E ( even leading to injuri or illness): pencetus/ kejadian penyebab keluhan.
Pernyataan dengan mulut tentang jumlah dan jenis obat yang ditelan dalam
kedaruratan toksik mungkin tidak dapat dipercayai. Bahkan anggota
keluarga, polisi, dan pemadam kebakaran atau personil paramedis harus
ditanyai untuk menggambarkan lingkungan di mana kedaruratan toksik
ditemukan dan semua alat suntik, botol-botol kosong, produk rumah
tangga, atau obat-obat bebas di sekitar pasien yang kemungkinan dapat
meracuni pasien dan harus dibawa ke ruang gawat darurat.
Prognostic Score :
Dilakukan sebagai panduan dalam terapi dan menentukan prognosis penderita.
Parameter yang diambil adalah panas badan, malnutrisi berat, distress
respirasi, dan gejala neurologis.
Parameter Temuan Klinis Point
(-) 0
Panas badan
(+) 1
Malnutrisi berat (-) 0
(+) 1
(-) 0
Distress respirasi ( + ) tanpa sianosis 2
( + ) dengan sianosis 4
(-) 0
Gejala neurologis ( + ) tanpa konvulsi 2
( + ) dengan konvulsi 4

Prognostic Score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari
distress pernapasan) + (poin dari gejala neurologis)
Interpretasi :
Skor minimum = 0
Skor maksimum = 10
Skor > 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi
Skor > 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian
Skor < 7 mengindikasikan akan selamat.

2) Tanda- tanda vital


Evaluasi dengan teliti tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, pernapasan,
dan suhu tubuh) merupakan hal yang esensial dalam kedaruratan toksikologi.
Hipertensi dan takikardia adalah khas pada obat-obat amfetamin, kokain,
fensiklidin, nikotin, dan antimuskarinik. Hipotensi dan bradikardia, merupakan
gambaran karakteristik dan takar lajak narkotika, kionidin, sedatif-hipnotik dan
beta bloker. Takikardia dan hipotensi sering terjadi dengan antidepresan trisiklik,
fenotiazin, dan teofihin. Pernapasan yang cepat adalah khas pada amfetamin dan
simpatomimetik lainnya, salisilat, karbon monoksida dan toksin lain yang
menghasilkan asidosis metabolik. Hipertermia dapat disebabkan karena obat-obat
simpatomimetik, antimuskarinik. salisilat dan obat-obat yang menimbulkan kejang
atau kekakuan otot. Hipotermia dapat disebabkan oleh takar lajak yang berat
dengan obat narkotik, fenotiazin, dan obat sedatif, terutama jika disertai dengan
pemaparan pada lingkungan yang dingin atau infus intravena pada suhu kamar.
3) Pengkajian Head to toe terfokus
Pemeriksaan yang cepat harus dilakukan dengan penekanan pada daerah yang
paling mungkin memberikan petunjuk ke arah diagnosis toksikologi. Hal ini
termasuk mata dan mulut, kulit, abdomen, dan sistem saraf.
a) Mata
Mata merupakan sumber informasi toksikologi yang berharga. Konstriksi pupil
(miosis) adalah khas utituk keracunan narkotika, klonidin, fenotiazin,
insektisida organofosfat dan penghambat kolinesterase lainnya, serta koma
yang dalam akibat obat sedatif. Dilatasi pupil (midriasis) umumnya terdapat
pada amfetamin, kokain, LSD, atropin, dan obat antirnuskarinik lain.
Nistagmus riorizontal dicirikan pada keracunan dengan fenitoin, alkohol,
barbiturat, dan obat seclatit lain. Adanya nistagmus horizontal dan vertikal
memberi kesan yang kuat keracunan fensiklidin. Ptosis dan oftalmoplegia
merupakan gambaran karakteristik dari botulinum.
b) Mulut
Mulut dapat memperlihatkan tanda-tanda luka bakar akibat zat-zat korosif. atau
jelaga dan inhalasi asap. Bau yang khas dan alkohol, pelarut hidrokarbon.
Paraldehid atau amonia mungkin perlu dicatat. Keracunan dengan sianida dapat
dikenali oleh beberapa pemeiriksa sebagai bau seperti bitter almonds. Arsen
dan organofosfat telah dilaporkan menghasilkan bau seperti bau bawang putih.
c) Kulit
Kulit sering tampak merah, panas, dan kering pada keracunan dengan atropin
dan antimuskarinik lain. Keringat yang berlebihan ditemukan pada keracunan
dengan organofosfat, nikotin, dan obat-obat simpatomimetik. Sianosis dapat
disebabkan oleh hipoksemia atau methemoglohinemia. Ikterus dapat memberi
kesan adanya nekrosis hati akibat keracunan asetaminofen atau jamur A manila
phailoides.
d) Abdomen
Pemeriksaan abdomen dapat menunjukkan ileus, yang khas pada keracunan
dengan antimuskarinik, narkotik, dan obat sedatif. Bunyi usus yang hiperaktif,
kram perut, dan diare adalah urnum terjadi pada keracunan dengan
organofosfat, besi, arsen, teofihin, dan A.phalloides.
e) Sistem saraf
Pemeriksaan neurologik yang teliti adalah esensial. Kejang fokal atau defisit
motorik lebih menggambarkan lesi struktural (seperti perdarahan intrakranial
akibat trauma) daripada ensefalopati toksik atau metabolik. Nistagmus,
disartria, dan ataksia adalah khas pada keracunan fenitoin, alkohol, barbiturat,
dan keracunan sedatif lainnya. Kekakuan dan hiperaktivitas otot umum
ditemukan pada metakualon, haloperidol, fensiklidin (PCP), dan obat-obat
simpatomimetik. Kejang sering disehabkan oleh takar lajak antidepresan
trisiktik, teotilin, isoniazid, dan fenotiazin. Koma ringan tanpa refleks dan
bahkan EEG isoelektrik mungkin terlihat pada koma yang dalam karena obat
narkotika dan sedatif-hipnotik, dan mungkin menyerupai kematian otak.
4) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium. Laboratorium rutin (darah, urin, feses, lengkap)
tidak banyak membantu.
b) Pemeriksaan darah lengkap, kreatinin serum (N: 0,5-1,5 mg/dl), elektrolit
serum (termasuk kalsium (N: 9-11 mg/dl).
c) Foto thorax kalau ada kecurigaan udema paru.
d) Pemeriksaan EKG. Pemeriksaan ini juga perlu dilakukan pada kasus keracunan
karena sering diikuti terjadinya gangguan irama jantung yang berupa sinus
takikardi, sinus bradikardi, takikardi supraventrikuler, takikardi ventrikuler,
fibrilasi ventrikuler, asistol, disosiasi elektromekanik. Beberapa faktor
predosposisi timbulnya aritmia pada keracunan adalah keracunan obat
kardiotoksik, hipoksia, nyeri dan ansietas, hiperkarbia, gangguan elektrolit
darah, hipovolemia, dan penyakit dasar jantung iskemik.
e) Pemeriksaan khusus, misalnya pengukuran kadar AChE dalam sel darah merah
dan plasma, penting untuk memastikan diagnosis keracunan akut maupun
kronik.
Keracunan akut:
- Ringan 40 – 70 % N
- Sedang 20 % N
- Berat < 20 % N
Keracunan kronik: bila kadar AChE menurun sampai 25 – 50 %, setiap
individu yang berhubungan dengan insektisida ini harus segera disingkirkan
dan baru diizinkan bekerja kembali bila kadar AChE telah meningkat > 75 %
N.
f) Pemeriksaan PA
Pada keracunan acut, hasil pemeriksaan patologi biasanya tidak khas. Sering
hanya ditemukan edema paru, dilatasi kapiler, hiperemi paru,otak dan organ-
oragan lainnya.

B. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan distress pernapasan; hiperventilasi
2. Hambatan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi,
perubahan membran alveolus kapiler.
3. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekwensi jantung; perubahan
irama jantung; perubahan preload; perubahan afterload; perubahan kontraktilitas
4. Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran; penurunan reflex
muntah; hiperaktif gastrointestinal; efek agen farmakologis
5. Resiko syok berhubungan dengan hipoksia; hipotensi; kekurangan volume cairan

3. Intervensi dan Pengembangan Aktivitas Keperawatan


No Diagnosa Tujuan/ Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
Keperawatan (NOC) (NIC)
1 Ketidakefektifan Setelah diberikan NIC: Manajemen jalan
pola napas b.d intervensi keperawatan napas
distress pernapasan; selama 1 x 6 jam, Aktivitas Keperawatan
hiperventilasi Pola napas teratasi 1. Monitor status 1. Mempertahan kan
dengan: pernapasan sebagaimana ventilasi
Batasan NOC: Status mestinya
karakteristik: Pernapasan 2. Posisikan untuk 2. Posisi semi fowler
- Pola napas  Ditingkatkan pada 4 meringankan sesak menggunakan gaya
abnormal 1 = deviasi berat dari napas gravitasi untuk
- Dispnea kisaran normal membantu
- Peningkatan 2 = deviasi yang pengembangan paru dan
diameter anterior- cukup berat dari mengurangi tekanan
posterior kisaran normal dari abdomen pada
- Othopnea 3 = deviasi sedang diagfragma.
- Takipnea dari kisaran normal 3. Ajarkan pasien untuk 3. Memaksimlakan
- Penggunaan otot 4 = deviasi ringan bernapas pelan, dan ventilasi dan mencegah
bantu pernapasan. dari kisaran normal dalam terjadinya kelelahan
5 = tidak ada deviasi 4. Auskultasi suaran napas, 4. Suara nafas menurun
dari kisaran normal catat area ventilasi atau tidak ada
menurun, atau tidak ada menunjukkan tidak
Dengan kriteria hasil: dan suara tambahan masuknya O2 ke paru
- Frekuensi paru
pernapasan (4) 5. Berikan terapi oksigen 5. Membantu pemehuhan
- Irama pernapasan sesuai indikasi oksigenasi didalam
(4) tubuh
- Kedalaman inspirasi 6. Monitor aliran oksigen 6. aliran yang terlalu
(4) rendah atau terlalu
- Suara auskultasi tinggi dapat
nafas (4) menurunkan kondisi
- Kepatenan jalan pasien
nafas (4) 7. Kelola pemberian 7. Bronkodilator dapat
- Pencapaian tingkat bronkodilator diberikan untuk
insertif spirometri membantu ventilasi
(4) dengan efek
- Penggunaan otot vasodilatasi saluran
bantu pernapasan napas
(4) 8. Monitor status respirasi 8. Sesak dapat terjadi pada
- Akumulasi sputum pasien jika posisi
(4) postural drainage terlalu
- Gangguan ekspirasi lama dipertahankan
(4) 9. Monitor status 9. Memantau kondisi
- Atelektasis (4) hemodinamik pasien
10.Monitor pola nafas : 10. Mencegah pola napas
bradipena, takipenia, pasien memburuk
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
11.Atur intake cairan 11. Cairan untuk
mengoptimalkan
keseimbangan
2 Hambatan Setelah diberikan NIC: Terapi oksigen
pertukaran gas b.d intervensi keperawatan Aktivitas Keperawatan
Ketidakseimbangan selama 1.x 6 jam, 1.Bersihkan mulut, hidung
ventilasi perfusi, hambatan petukaran dan sekresi trakea dengan
1.Rongga mulut dengan
perubahan membran gas teratasi dengan: tepat tambahan alat bantu
alveolus kapiler NOC: Status napas harus selalu
pernapasan : dibersihkan dan diganti
Batasan pertukaran gas untuk mencegah
karakteristik:  Ditingkatkan pada 4 terjadinya infeksi dan
- Gas darah arteri 1 = deviasi berat dari2.Pertahankan kepatenan cedera mukosa
abnormal kisaran normal jalan napas 2.Mempertahan kan
- pH arteri 2 = deviasi yang 3.Berikan oksigen ventilasi
abnormal cukup berat dari tambahan 3.Membantu
- Pola pernapasan kisaran normal memaksimalkan ventilasi
abnormal 3 = deviasi sedang 4.Monitor aliran oksigen udara yang masuk keparu
- Warna kulit dari kisaran normal 4.aliran yang terlalu rendah
abnormal 4 = deviasi ringan atau terlalu tinggi dapat
- Penurunan dari kisaran normal menurunkan kondisi
karbon dioksida 5 = tidak ada deviasi 5.Monitor kerusakan kulit pasien
- Hiperkapnia dari kisaran normal terhadap adanya gesekan 5.perangkat oksigen tanpa
- Hipoksemia perangkat oksigen perawatan dapat
- Hipoksia Dengan kriteria hasil: mengakibatkan kerusakan
- Samnolen - Tekanan parsial 6.Posisikan pasien untuk kulit dan mukosa
- Takikardia oksigen di darah mendapatkan ventilasi 6. Posisi semi fowler
- Gangguan arteri (PaO2) (4) yang adekuat menggunakan gaya
penglihatan - Tekanan parsial gravitasi untuk membantu
karbondioksida di pengembangan paru dan
darah arteri (PaO2) mengurangi tekanan dari
(4) abdomen pada
- pH arteri (4) 7.Monitor keseimbangan diagfragma
- Saturasi oksigen (4) ph arteri PaCO2 dan 7. ph arteri PaCO2 dan
- Tidal HCO3 HCO3 Menunjukkan
karbondioksida status keseimbangan asam
akhir (4) 8.Monitor status neurologi basa
- Keseimbangan 8. penurunan kesadaran
ventilasi dan perfusi merupakan salah satu
(4) tanda gangguan
- Sianosis (4) 9. Anjurkan pernapasan oksigenasi
- Gangguan kesadaran lambat dan dalam 9. Meningktakan ventilasi
(4) yang efektif sehingga
10.Beri obat yang tidak terjadi kelelahan
meningkatkan patensi 10. Bronkodilator dapat
jalan napas dan diberikan untuk
pertukaran gas membantu ventilasi
dengan efek vasodilatasi
saluran napas

3 Penurunan curah Setelah dilakukan NIC: Perawatan jantung:


jantung b.d intervensi selama 1 x 6 akut
perubahan frekwensi jam penurunan curah 1. Monitor tekanan darah 1. Memonitor keadaan
jantung; perubahan jantung teratasi dengan: dan denyut jantung umum pasien terhadap
irama jantung; NOC: Keefektifan penyakit
perubahan preload; pompa jantung 2. Monitor EKG, amati 2. ST elevasi dan depresi
perubahan afterload;  Ditingkatkan pada 4 perubahan segmen ST menandakan terjadinya
perubahan 1= Berat gangguan pada jantung
kontraktilitas 2= Cukup berat 3. Lakukan penilaian 3. Sianosis perifer merupakan
3= Sedang secara komprehensif tanda gejala terjainya
Batasan 4= Ringan terhadap status jantung penurunan curah jantung
karakteristik: 5= Tidak ada termasuk sirkulasi
- Takikardia Dengan kriteria hasil perifer
- Gambaran EKG - Tekanan darah 4. Monitor irama jantung 4. Pada intoksikasi biasanya
aritmia sistol (4) dan kecepatan denyut muncul disritmia
- Edema - Tekanan darah jantung
- Tekanan darah diastol (4) 5. Auskultasi suara 5. Mengetahui tingkat
meningkat/menu - Denyut jantung jantung keparahan intoksikasi
run apikal (4) 6. Rekam EKG 12 lead 6. Mengetahui adanya
- Nadi teraba - Suara jantung gangguan pada jantung
lemmah abnormal (4) 7. Monitor fungsi ginjal 7. Mengetahui tingkat
- Capillary refill - Kelelahan (4) keparahan intoksikasi
time > 3 detik - Keseimbangan 8. Monitor nilai 8. Gangguan pada kalium dan
- Oliguria intake output (4) laboratorium elektrolit magnesium dapat
- Sianosis - Intoleransi aktivitas yang dapat meningkatkan resiko
(4) meningkatkan resiko disritmia
disritmia
9. Kolaborasi pemberian 9. Mencegah iskemia
obat
4 Resiko aspirasi b.d Setelah diberikan NIC: Manajemen jalan
penurunan tingkat intervensi keperawatan napas
kesadaran; selama 1 x 6 jam Aktivitas Keperawatan
penurunan reflex diharapkan tidak 1. Monitor status 1. Jalan napas yang tidak
muntah; hiperaktif terjadi aspirasi dengan: pernapasan paten dapat
gastrointestinal; efek NOC: Status sebagaimana mestinya mengakibatkan tidak
agen farmakologis pernapasan: kepatenan adekuatnya ventilasi yang
jalan napas menyebabkan frekuensi
 Ditingkatkan pada 4 meningkat, irama tidak
1 = Deviasi berat dari teratur
kisaran normal 2. Posisikan pasien untuk 2. Meningkatkan respirasi
2 = Deviasi yang memaksimalkan pasien
cukup berat dari ventilasi
kisaran normal 3. Identifikasi kebutuhan 3. Pada kasus intoksikasi
3 = Deviasi sedang aktual/potensial pasien dengan penurunan
dari kisaran normal untuk memasukkan alat kesadaran membutuhkan
4 = Deviasi ringan membuka jalan napas intubasi untuk
dari kisaran normal membebaskan jalan napas
5 = Tidak ada deviasi 4. Masukkan NPA/OPA 4. Membuka jalan napas
dari kisaran normal 5. Buang sekret dengan 5. Suction dapat dilakukan
Dengan kriteria hasil: menyedot lendir untuk membersihkan
- Frekuensi secret pada jalan napas
pernapasan (4) buatan, secret yang
- Irama pernapasan tertahan, atau pasien tidak
(4) sadar
- Kedalaman inspirasi 6. Auskultasi suara napas, 6. Suara nafas yang
(4) catat area yang abnormal menunjukkan
- Kemampuan untuk ventilasinya menurun lokasi adanya secret pada
mengeluarkan area lobus paru.
sekret (4) 7. Lakukan penyedotan 7. Secret dapat mengisi
- Suara napas melalui endotrakeal atau jalan napas buatan dan
tambahan (4) NPA mencegah terjadinya
- Akumulasi sputum infeksi tambahan
(4) 8. Kelola udara atau 8. Meningkatkan status
oksigen yang respirasi pasien
dilembabkan
sebagaimana mestinya

NIC: Pencegahan aspirasi


Aktivitas keperawatan
1. Monitor tingkat
kesadaran, reflek batuk, 1. Penurunan kesadaran
kemampuan menelan menyebabkan pasien
mengalami penurunan
kemampuan batuk dan
2. Pertahankan kepatenan mengeluarkan secret
jalan napas 2. Meningkatkan status
3. Monitor status respirasi
pernapasan 3. Mengidentifikasi
terjadinya obstruksi pada
4. Jaga peralatan suction jalan napas
tersedia 4. Tindakan suctioning
segera dapat dilakukan
bila terjadi aspirasi

5 Resiko syok b.d Setelah dilakukan NIC : pencegahan syok


hipoksia; hipotensi; tindakan keperawatan 1. Monitor terhadap 1. Respon awal
kekurangan volume selama 1 x 6 jam adanya respon kompensasi syok yang
cairan resiko syok teratasi, kompensasi awal syok tidak ditangani dengan
dengan: tepat dapat
NOC: Keparahan memperparah keadaan
syok: Anafilaktik syok, tanda respon
 Ditingkatkan pada 4 kompensasi awal syok
1= sangat terganggu (TD norma,nadi
2= banyak terganggu melemah, perlambatan
3= cukup terganggu pengisian kapilerrasa
4= sedikit haus, kelemahan )
terganggu 2. Monitor inflamasi 2. Tanda-tanda terjadinya
5= tidak terganggu sistemik (hipertemi, peradangan akibat
takikardi, takipnea, intoksikasi
Dengan kriteria hasil: leukositosis,
- Tekanan darah hipokarbia)
(4) 3. Monitor tekanan 3. Mengetahui kadar
- Aritmia (4) oksimetri oksigen di dalam darah
- Sesak napas (4) 4. Monitor suhu dan status 4. Mengetahui adanya
- Penurunan respirasi peradangan
oksigen arteri (4) 5. Monitor EKG 5. Mengetahui kelistrikan
- Akral hangat, jantung
kulit kemerahan 6. Posisikan pasien dalam 6. Posisi kaki ditinggikan
(4) posisi supinasi (volume, vasogenik),
- Kram perut (4) kepala dan bahu
- Muntah (4) ditinggikan
- Diare (4) (kardiogenik)
- Penurunan NIC : Manajemen
tingkat kesadaran anafilaksis
(4) Aktivitas keperawatan:
7. Identifikasi dan 7. Mencegah munculnya
bersihkan semua efek lanjut intoksikasi
sumber intoksikasi
8. Atur posisi datar 8. Menajemen awal
intoksikasi
9. Pertahankan kepatenan 9. Meningkatkan kadar
jalan napas oksigen yang diperlikan
tubuh
10.Monitor tanda-tanda 10. Mengetahui tingkat
vital keparahan syok

11.Mulai pemberian cairan 11. Memperbaiki status


infus hidrasi
12.Monitor tanda-tanda 12. Mencegah syok
syok (kesulitan berlanjut
bernapas, aritmia
jantung, kejang,
hipotensi)
13.Kumbah lambung jika 13. Membersihkan
diperlukan intoksikasi di tubuh
14.Kolaborasi peemberian 14. Mencegah syok
obat
DAFTAR PUSTAKA

Doheny K. Most common foods for foodborne illness: CDC report. Medscape Medical News.
January 30, 2013.
Fajri. (2012). Keracunan Obat dan bahan Kimia Berbahaya. Dari:
http://fajrismart.wordpress.com/keracunan-obat-dan-bahan-kimia-berbahaya/. Diakses
tanggal 01 Maret 2020.
Krisanty, dkk. (2011). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans Info Media.
Mansjoer Arif, 2009, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 jilid 1 Media Aesculapius, FKUI,
Jakarta.
Sartono. (2012). Racun dan Keracunan. Jakarta: Widya Medika.
Smeltzer, Suzanne C., & Bare, Brenda G. Buku Ajar: Keperawatan Medikal Bedah, vol: 3.
Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai