Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH MAGNETIC RESONANCE ANGIOGRAPHY (MRA) NECK

“Contrast-Enhanced MR Angiography of the Carotid and

Vertebrobasilar Circulations”

KELOMPOK IV

NURUL MUTMAINNA (P1337430219076)

EMI LISTIYANI (P1337430219043)

ANITA PRIHATIN SETYANINGSI (P1337430219030)

MAGFIRA RAMADANI (P1337430219060)

CAECELIA TUT WURI HADAYANI (P1337430219104)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2020
2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dunia pencitraan medik khususnya dalam bidang diagnostik dikenal

modalitas pencitraan yang sangat diunggulkan yaitu Magnetic Resonance

Imaging (MRI). MRI merupakan modalitas untuk yang palimg diunggulkan untuk

melihat jaringan lunak dan saat ini dikembangkan dapat digunakan untuk

melihat pembuluh darah atau disebut pemeriksaan Magnetic Resonance

Angiography (MRA).

MR angiography (MRA) menggunakan medan magnet yang kuat,

gelombang radio dan komputer untuk mengevaluasi pembuluh darah dan

membantu mengidentifikasi kelainan. Pemeriksaan ini tidak menggunakan

radiasi, kemudian pemeriksaan ini dapat melihat pembuluh darah tanpa bahan

kontras dan mungkin memerlukan suntikan bahan kontras. Bahan kontras yang

digunakan untuk MRA cenderung menyebabkan reaksi alergi daripada bahan

kontras yang digunakan untuk computed tomography (CT).

Salah satu fungsi dari MRA adalah untuk memperlihatkan gambaran

pembuluh darah pada leher (neck). Pembuluh darah adalah bagian dari sistem

peredaran yang mengedarkan darah ke seluruh bagian tubuh manusia.

Pembuluh ini mengedarkan sel-sel darah, nutrisi, dan oksigen ke jaringan tubuh

serta mengangkut limbah dan karbondioksida untuk dikeluarkan dari tubuh.

Leher merupakan salah satu organ yang penting didalam tubuh manuasia

yang biasa mengalami kelainan yang disebabkan oleh bebrapa penyebab

diantaranya adalah pola hidup yang tidak sehat sehingga mengakibatkan

pecahnya pembuluh darah atau kelainan – kelainan lainnya.


3

Kelainan pembuluh darah pada leher dapat didieteksi dengan pemeriksaan

MRA. Kelainan tersebut dapat dilihat dengan beberapa aspek potongan sesuai

dengan sekuen yang digunakan pada pencitraan MRA. Sehingga dalam

mendiagnosa kelainan pada pembuluh darah dapat lebih detail karena daerah

yang akan dinilai merupakan jaringan kecil.

Dengan adanya MRA ini sangat membantu untuk menilai kelainan yang

ada pada pembuluh darah leher. Dalam pemeriksaan MRA leher (neck) adapun

beberapa teknik pemeriksaan khusus karena fokus pemeriksaannya ada pada

pembuluh darahnya, mulai dari sekuen yang digunakan, paramater, sampai

dengan rekonstruksi citranya.

Dengan latar belakang diatas penulis akan membahas tentang teknik

pemeriksaan MRA Neck dari yang memakai kontras sampai dengan yang

menggunakan media kontras untuk pencitraannya.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana prosuder

pemeriksaan Magnetic Resonance Angiography (MRA) Neck?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui

bagaimana prosuder pemeriksaan Magnetic Resonance Angiography (MRA).

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memberikan

wawasan kepada penulis dan pembaca tentang prosuder pemeriksaan

Magnetic Resonance Angiography (MRA).


4

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi Dasar MRA

Magnetic Resonance Angiography (MRA) adalah metode

pencitraan diagnostik yang dapat menampilkan gambaran pembuluh

darah. Pemeriksaan dengan MRA memungkinkan untuk melihat pembuluh

darah di bidang utama dari tubuh, termasuk otak, leher, jantung, dada,

perut (seperti empedu, ginjal dan hati), panggul, lengan, dan kaki.

MRA disarankan jika Anda memiliki gejala seperti sakit kepala

berdenyut-denyut yang sering timbul berulang-ulang di tempat yang sama

dan terasa makin sakit. Ini adalah teknologi pencitraan resolusi tinggi MRI

3T yang dapat memberikan gambaran struktur pembuluh darah arteri dan

vena pada otak. MRA dapat mendeteksi aterosklerosis (penyempitan atau

pengerasan pembuluh darah) sebagai salah satu penyebab stroke dan

kelainan pembuluh darah seperti aneurisma atau AVM (Arteriovenous

Malformation).

B. Prinsip Dasar MRA

MRA adalah visualisasi karakteristik pembuluh darah serta aliran

darah dengan menggunakan pesawat MRI. Prosedur MRI dan MRA

merupakan pemeriksaan komprehensif yang menggambarkan anatomi

pembuluh darah (angiographic like), aliran darah serta deteksi kelainan-

kelainan pada jaringan perivaskuler dan organ target.

MRA bukanlah prosedur yang dapat berdiri sendiri dan perannya tidak

dapat dipisahkan dari pemeriksaan imejing lain seperti ultrasonografi

(USG), CT angiography (CTA), MRI dan conventional angiography (CA).


5

Gold standard untuk berbagai manifestasi penyakit penyakit vaskuler

adalah CA, suatu prosedur yang invasif, mahal dan mengandung resiko

tinggi.

Tujuan pemeriksaan MRA adalah menggambarkan pembuluh darah dalam

konfigurasi yang serupa dengan gambaran CA.

Teknik dasar pemeriksaan MRA adalah black-blood dan bright-blood

sesuai dengan gambaran pembuluh darah yang tampil pada pemeriksaan

MRI konvensional. Dua mekanisme utama yang menentukan tampilan

signal intravaskuler adalah high velocity signal loss (wash out effect) dan

flow related enhancement (inflow effect atau entry phenomen), yang

kemudian mendasari teknik bright blood MRA yaitu time of flight (TOF) dan

phase contrast (PC).

TOF menggunakan mekanisme flow related enhancement,

menggambarkan proton-proton yang memasuki suatu ruang. Dalam hal ini

darah yang mengalir tampak terang dan jaringan lunak yang stasioner

serta darah yang tertahan dalam suatu ruang untuk jangka waktu lama

akan terlihat gelap PC mengaplikasikan flow-encoding gradient, aliran

darah dibedakan dari jaringan stasioner dengan menggunakan velocity-

induced phase shifts, darah tampak terang karena bergerak dengan latar

belakang jaringan lunak yang gelap. Bayangan gambar kemudian diproses

dengan menggunakan algoritma Maximum Intensity Projection (MIP),

Shaded Surface Display (SSD), atau Multi Planar Reformations (MPR),

yaitu dengan pemilihan target rekonstruksi untuk menyisihkan struktur

yang tidak diperlukan keluar dari area terpilih hingga didapatkan separasi

pembuluh darah.
6

Suatu teknik modifikasi yang disebut MOTSA (multiple overlapping thin

slab acquisition) atau sequential 3D TOF mengkombinasikan teknik 2D dan

3D TOF MRA.

Teknik multislab tidak banyak dipengaruhi oleh saturasi aliran, sehingga

menghasilkan visualisasi pembuluh darah yang lebih baik.

Pemeriksaan MRA dengan pemberian kontras intravena (CE-MRA)

memberi keuntungan dengan menampilkan anatomi pembuluh darah yang

lebih detil serta mengurangi artefak. Pemberian kontras Gd-DTPA juga

akan memperjelas gambaran struktur vena serta pembuluh-pembuluh

darah kecil.

Pemeriksaan MRA seluruh tubuh diperlukan kontras intravena dan

teknik CE 3D MRA yang merupakan pilihan pada saat ini.3D TOF MRA

memberikan resolusi spatial tinggi dengan waktu pemeriksaan yang relatif

singkat. Prosedur ini dilakukan untuk visualisasi penyakit-penyakit

pembuluh darah otak yang memerlukan pemeriksaan cepat. 3D TOF MRA

dapat memperlihatkan dinding arteri yang tampak gelap serta plak atau

thrombus pada dinding dan lumen arteri. 3D TOF MRA tidak sensitif untuk

aliran pada bagian distal tetapi sensitif untuk jaringan dengan T1 rendah

(perdarahan intraparenkim) yang akan menunjukkan intensitas signal

tinggi pada 3D TOF menyerupai aliran darah sehingga menyulitkan

diagnosis.

2D TOF MRA sensitif untuk aliran darah yang lambat, dan pada

pasien-pasien yang kurang kooperatif, sequential 2D TOF akan lebih

mudah dinterpretasikan. 2D TOF MRA jarang digunakan untuk

pemeriksaan pembuluh dari Phase-contrast MRA sangat sensitif pada


7

aliran darah yang lambat dan memberikan supresi intensitas signal

terbesar pada bayangan latar belakang. Keterbatasan teknik ini adalah

waktu pemeriksaan yang relatif panjang serta dipengaruhi pulsasi

pembuluh darah.

C. Manfaat dan Keterbatasan MRA

1. Manfaat MRA

a) Dapat melihat penyempitan pada pembuluh darah

b) Dapat melihat kelainan pada pembuluh darah yang disebabkan

oleh kesemutan.

c) Dapat medeteksi secara dini penyakit stroke

d) Dapat melihat kelainan – kelainan pada perivaskuler dan organ

target

2. Kerterbatasan MRA

a) Waktu pemeriksaan dan akusisi yang lama

b) Harga yang cukup mahal

c) Sensitif terhadap flow artefak

d) Penggunaan media kontras pada MRA harus memperhatikan

konsentrasi media kontras yang disuntikkan

e) Bergantung pada pulsasi pembuluh darah

D. Teknik MRA

Teknik pemeriksaan MRA dapat dilakukan dengan dua cara yaitu,

dengan menggunakan media kontras dan tanpa kontras. teknik

pemeriksaan MRA tanpa kontras dapat digolongkan dengan dua teknik

yaitu Time Of Flight (TOF) MRA dan phase contrast, sedangkan teknik
8

MRA yang menggunakan media kontras disebut Contrast-Enhanced

Magnetic Resonance Angiography (CEMRA).

1. Time Of Flight (TOF)

Prinsip TOF adalah kontras yang didapat antara pembuluh darah

dan background adalah fresh spin pada darah yang mengalir di dalam

pembuluh darah high sinyal Background yang tersaturasi oleh flip angle

yang besar serta Low sinyal.

TOF MRA adalah hasil dari perbedaan magnitude proton yang

bergerak dalam pembuluh darah dibandingkan dengan proton dari

jaringan di sekitar pembuluh darah tersebut yang diam atau statis.

2. Phase contast (PC ) MRA

Pencitraan fase kontras (PC) adalah teknik yang digunakan untuk

menghasilkan gambar MRA atau untuk mendapatkan gambar aliran

dengan pengkodean cepat. Hal ini umumnya digunakan untuk

kuantifikasi aliran atau dalam evaluasi tingkat keparahan stenosis

luminal, terutama di arteri serebral dan ginjal. Pencitraan PC juga dapat

digunakan sebagai localizer untuk planning sekuens kontras

enhancement.

3. Contrast-Enhanced Magnetic Resonance Angiography (CEMRA)

Prinsip CE MRA adalah kontras didapat dari perbedaan T1 contras

enhance pada darah dengan background tissue. Contrast Enhancement

MRA (CE MRA) adalah sequence yang digunakan pada teknik MRA

dengan penyuntikan media kontras gadolinium (GdTPA). Teknik

pengambilan gambar pada sequence ini adalah dengan pengambilan

data pada saat media kontras mencapai konsentrasi tertinggi (peak


9

time) pada pembuluh darah (objek) yang diperiksa. Digunakan

pembobotan T1W Gradien echo dengan TR dan TE pendek. Tujuan

pemeriksaan CEMRA adalah Memvisualisasikan kontur/dinding

permukaan dan lumen pembuluh-pembuluh darah pada organ tertentu

berupa gambaran 2 dimensi atau 3 dimensi. MRA dengan penyuntikan

kontras media dilakukan untuk menggambarkan pembuluh darah dalam

tubuh kecuali arteri cerebralis dan arteri carotis.

TOF dan PC - MRA telah menjadi standar untuk evaluasi struktur

vaskular pada kepala. Kerugian yang terkait dengan TOF - MRA dan

PC - MRA, terutama untuk struktur vaskular tubuh. Kurang baik untuk

body MRA (dengan TOF - MRA / PC - MRA) termasuk potensi motion

artefak memiliki potensial untuk kehilangan sinyal pada struktur

vaskular karena kecepatan aliran pembuluh. Untuk ini, standar untuk

evaluasi pembuluh di leher, tubuh dan perifer vascular system dilakukan

dengan teknik contrast enhancement MRA (CE - MRA).

Pertimbangkan untuk teknis peningkatan MRA dapat dilihat pada

protokol parameter, metode injeksi, jenis kontras dan dosis, dan waktu

scanning.

E. Anatomi Fisiologi Pembuluh Darah Neck

Anatomi fisiologi terdiri atas beberapa bagian , yaitu

karotis komunis mensuplai darah untuk leher dan kepala, karotis komunis

bercabang dua setinggi kartilago tiroid(jakun), menjadi

• karotis interna ,mensuplai sebagian besar serebrum dan mata.

• karotis eksterna, mensuplai bagian luar wajah dan kulit kepala.


10

• pada percabangan karotis komunis terdapat area dilatasi disebut

sinus karotis.

• didalam sinus karotis berkumpul ujung – ujung saraf glossofaring

(nervus IX), dimana sinus karotis bereaksi terhadap perubahan

tekanan darah dan memberikan informasi ke otak untuk

mengembalikan tekanan darah ke normal kembali.

• dibelakang sinus karotis terdapat struktur coklat kecil disebut badan

karotis, bagian ini berfungsi sebagai kemoreseptor dimana

merupakan reseptor yang sensitifterhadap kadar oksigen dan

karbondioksida dalam darah.

• apabila kadar oksigen dalam darah menurun maka badan karotis

akan memberi sinyal ke jantung untuk mempercepat frekuensi

denyut untuk mencukupi kebutuhan jaringan.


11

F. Prosuder Pemeriksaan MRA Neck

MRA yang ditingkatkan kontrasnya (CE MRA) baru-baru ini muncul

sebagai alternatif, noninvasif teknik untuk menilai penyakit vaskular dan

sekarang secara rutin digunakan sebagai investigasi ini pertama di

berbagai tempat bagian tubuh. Penyakit vertebrobasilar telah menimbulkan

tantangan yang lebih sulit bagi MRA, terutama karena ukuran saluran yang

lebih kecil upaya awal untuk menilai vertebrobasilar sistem dengan MRA

yang menggunakan time-of-flight (TOF) teknik menghasilkan hasil yang

baik untuk deteksi arte penyakit rial. Namun, waktu akuisisi lama, dan ini

menghasilkan degradasi citra yang signifikan karena terjadi artefak. Karena

semakin besar cakupan anatomi dan peningkatan kualitas gambar,

CEMRA dengan cepat menggantikan TOF sebagai metode pilihan untuk

pencitraan pembuluh serviks. Selama dekade terakhir, CE MRA telah

menjadi mapan alat diagnostik untuk mengevaluasi pembuluh supraaortik,

dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi dilaporkan untuk mendeteksi

stenosis arteri karotis.

Prosuder pemeriksaan MRA neck dapat dilakukan dengan teknik

CEMRA, Indikasi pemeriksaan CEMRA terdiri atas :


12

a) stenosis arteri

b) Transplantasi ginjal

c) Pendesakan tumor

d) Persiapan amputasi pada penderita diabetes mellitus

e) Varises pada vena perifer

f) AVM

g) CRF (untuk arteri renalis) dan lain sebagainya.

Pada pemeriksaan pembuluh darah leher / carotid pada teknik

CEMRA menurut Carina dkk, 2005 adalah sebagai berikut :

a) Alat dan Bahan

1) Magnetom 1,5T Simfoni (Sistem Medis Siemens, Iselin, NJ).

2) Earphone

3) Selimut untuk kenyamanan pasien

4) Buzzer

5) Alat fiksasi jika diperlukan

b) Persiapan Pasien

1) Pasien di screening terlebih dahulu

2) Pasien dipersilahkan ke toilet sebelum diperiksa

3) Menerangkan prosuder pemeriksaan kepada pasien

4) Aksesoris pasien berupa logam dilepas

5) Pasien dipersilahkan ganti baju dengan baju pasien yang

sediakan.

c) Teknik Pemeriksaan

1) Pasien supine diatas meja pemeriksaan

2) Head first
13

3) Pasien diberi earpphone dan buzzer

4) Atur daerah kepala sampai dengan leher masuk kedalam gantry

5) Central Point pada pertengahan daerah vertebra C3-C4

6) Siapkan media kontras Gadolinium GDTPA. Kanula ukuran 20

dimasukkan ke dalam vena antekubital dan Akusisi waktu-bolus

2 dimensi (2D) pendahuluan diperoleh pada bidang koronal,

untuk memasukkan lengkungan aorta ke atas ke sirkulasi

intraserebral. Dua mililiter gadopenetate dimeglumine

disuntikkan pada 2 mL / s diikuti oleh bolus 20 mL salin normal.

Akusisi waktu-bolus 2 dimensi (2D) pendahuluan diperoleh pada

bidang koronal, untuk memasukkan lengkungan aorta ke atas ke

sirkulasi intraserebral. Dua mililiter gadopenetate dimeglumine

disuntikkan pada 2 mL / s diikuti oleh bolus 20 mL salin normal.

Waktu transit dicatat sebagai waktu antara awal injeksi dan

peningkatan awal bifurkasi karotis.

d) Parameter Pemeriksaan

1) TR / TE, 4.36 /1.64

2) Flip Angle 25 °

3) Bandwidth 432 Hz

4) Matriks 136 x 512

5) FOV 165 x 330 mm

6) Slice Thickness 70 mm

7) Ukuran Voxel 1,33 x 0,64 x 1,15 mm.

Waktu akuisisi adalah sekitar 19 detik untuk 3D. Setelah

mendapatkan bolus waktu awal, 20 mL gadolinium diethylene triamine


14

asam penta-asetat kemudian disuntikkan pada 2 mL / s. Pasien diminta

untuk hiperventilasi sebelum pemindaian dimulai dan untuk

menahannya nafas inspirasi selama akuisisi gambar. Semua pasien

berhasil menahan napas. Nafas sebelum dan sesudah kontras volume

3D yang diadakan diperoleh dalam orientasi koronal, merawat dari

lengkungan aorta naik melalui intraserebral sirkulasi. Pengurangan

digital in-line dilakukan, menghasilkan satu set 3D dikurangi, seperti

yang ditunjukkan pada. Ini kemudian dikenakan proyeksi intensitas

maksimum (MIP) pasca-algoritma cessing. Semua gambar memiliki

kualitas diagnostik. MIP seluruh sirkulasi karotis dan vertebrobasilar

disediakan. Setiap karotid ditampilkan secara terpisah. Sebuah MIP dari

vertebrobasi sirkulasi lar dalam isolasi diperoleh secara manual untuk

mengedit karotid.

Pemeriksaan dengan teknik CEMRA disini dibandingkan dengan

teknik Digital Subtraction Angiography (DSA). DSA dilakukan dengan

menggunakan teknologi Seldinger Technique standar. Arteri femoralis

umum diakses dengan vaskular jarum dan selubung arteri dimasukkan.

Lengkung dan giografi pada awalnya dilakukan melalui kateter kuncir

yang diposisikan ke aorta toraks. Karotis selektif dan angiografi vertebral

kemudian dilakukan dengan menggunakan sudut 5F kateter diposisikan

di karotis umum proksimal dan arteri vertebralis. Sagital anteroposterior

diperoleh untuk pencitraan.

Kemudian gambar dianalisis dengan semua pasien direkonstruksi

dengan teknik MIP yang diedit dari kanan dan kiri pada karotid, serta

sirkulasi vertebrobasilar. kemudian dievaluasi secara independen dan


15

secara blinded oleh 2 ahli radiologi berpengalaman (JC, SF). Gambar

DSA dijalankan dikuasai dan dievaluasi dengan cara yang sama oleh

seorang ahli radiologi (SF) dan ahli bedah vaskular (MM).

Setiap pengamat diminta untuk melaporkan temuannya pada

diagram arteri standar sirkulasi di kepala dan leher. Arteri vertebralis

adalah dibagi menjadi 4 segmen (V1 – V4), arteri basilar menjadi satu

segmen, dan karotid internal menjadi intrakranial dan eksternal segmen

tracranial. Ada atau tidak adanya penyakit dicatat, termasuk

penyempitan aterosklerotik yang signifikan (didefinisikan sebagai

stenosis 50%), oklusi segmental, oklusi lengkap, aneurisma, diseksi,

atau fistula arteriovenosa. Persen stenosis pada DSA dihitung setelah

pengukuran caliper diameter pembuluh normal di atas stenosis.

Di bawah ini contoh gambaran citra dari MRA carotid dengan teknik

CEMRA dan teknik DSA sebagai berikut :

Gambar 2.1 CEMRA MRA dan CEMRA MIP


16

Gambar 2.2 CEMRA dan DSA dengan stenosis vena kanan dan oklusi distal.

Gambar 2.3 CEMRA dan DSA stenosis dan segmental oklusi dari arteri.

Gambar 2.4 CEMRA dan DSA stenosis arteri subklavia.


17

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

pemeriksaan pembuluh darah yang paling baik digunakan adalah

teknik magnetication resonance angiography (MRA) untuk melihat kelainan

yang ada pada pembuluh darah khususnya pada pembuluh darah leher.

Dari jurnal yang telah dibahas diatas bahwa menegaskan bahwa

CE MRA adalah akurat dalam mendeteksi patologi seperti aneurisma dan

diseksi, selain stenosis dan oklusi tidak hanya di pembuluh karotis, tetapi

juga di vertesirkulasi brobasilar, dan memiliki potensi untuk vide evaluasi

komprehensif dan non-invasif untuk arteri kepala dan leher dalam satu

studi. Nafas memegang resolusi tinggi CE MRA bisa menjadi alternatif

nostik untuk DSA dalam diagnosis pasien dengan penyakit arteri

vertebrobasilar.

B. Saran

untuk penulisan makalah selanjutnya dengan tema yang sama

akan lebih baik banyak membahas tentang teknik pemeriksaan MRA baik

non kontras maupun kontras beserta indikasinya.