Anda di halaman 1dari 7

FINANCIAL MANAGEMENT

Kasus Milkindo PLC. Part II (Distributing cash to the shareholders)

Disusun oleh: Kelompok 3 - Reguler 75 C

Briyan Reynaldo Dwi Iddo (452427)

Ginza Pinasthika (452468)

Kevin Juliano Andristo (452598)

Nathania Tifara Sjarief (452531)

Rio Gunadharma (452554)

Thesalonica Gita Pramesti (452575)

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2020
Pertanyaan

1. Apakah argumentasi yang disampaikan oleh direktur keuangan, bahwa investasi pada
instrumen pasar modal merupakan investasi dengan NPV sama dengan nol, adalah
benar? Apakah pernyataan direktur keuangan tersebut mendukung ataukah menolak
pendapat komisaris independen yang menyatakan bahwa “para pemegang saham akan
memilih agar laba dibagikan sebagai dividen karena investasi kelebihan kas tersebut
hanya menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih rendah dari biaya modalnya”?
Mengapa?

Jawab;

Argumentasi yang disampaikan oleh direktur keuangan, bahwa investasi pada instrumen
pasar modal merupakan investasi dengan NPV sama dengan nol adalah benar. Karena
Investasi yang dilakukan oleh perusahaan Milkindo di pasar modal bersifat jangka
pendek dan membuat investasi ini cenderung mempunyai NPV = 0. Yang artinya adalah
sewaktu-waktu investasi tersebut dapat dengan mudah untuk dicairkan. Tidak akan ada
keuntungan yang didapat oleh perusahaan saat menginvestasikan kelebihan kasnya pada
pasar modal karena setiap investor memiliki pengetahuan yang sama terhadap nilai di
pasar modal.

Keuntungan para investor untuk tahun kedepannya tidak akan bertambah besar jika
melihat opsi investasi kelebihan kas yang akan ditaruh pada pasar modal. Hal ini akan
menyebabkan para investor untuk lebih memilih kas yang berlebih langsung dibagikan
kembali kepada investor sebagai dividen. Pernyataan direktur keuangan mendukung
pernyataan komisaris independen yang menyatakan bahwa “para pemegang saham akan
memilih agar laba dibagikan sebagai dividen karena investasi kelebihan kas tersebut
hanya menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih rendah dari biaya modalnya.
2. Mengapa direktur utama menyukai untuk menahan kelebihan kas tersebut di

perusahaan?

Jawab;
Direktur utama menyukai untuk menahan kelebihan kas tersebut karena dapat
mengindikasikan perusahaan memiliki likuiditas yang lancar. Dengan likuiditas aset
yang lancar maka perusahaan dapat menggunakan kas tersebut untuk memenuhi atau
membayar kewajiban (liabilities) yang dimiliki, seperti hutang bank, hutang dagang, dan
kewajiban lainnya. Selain itu perusahan dapat menggunakan kas untuk mendukung
kegiatan operasional, sehingga nantinya dapat berimbas pada naiknya angka penjualan
yang dihasilkan oleh perusahaan, atau dapat juga menginvestasikan kas untuk investasi
jangka pendek.
3. Antara dua alternatif, yaitu membagikan kas sebagai dividen tunai atau membeli kembali
sebagian saham, mana yang menurut pendapat saudara lebih baik? Jelaskan. Apabila
dividen tunai dipilih, berapa payout ratio harus ditetapkan apabila pemegang saham
pengendali memerlukan kas Rp200 miliar? Apabila pembelian kembali sebagian saham
dipilih, berapa banyak saham yang harus dijual oleh pemegang saham pengendali agar
bisa memperoleh Rp200 miliar?
Jawab;
Dua pilihan yang dapat dipilih antara dividen tunai dipilih atau pembelian kembali
sebagian saham.
Pembelian kembali saham: Pembelian kembali saham akan dikenakan pajak sebesar
0.25% sebagai fee dan 0.1% sebagai pajak transaksi. Dengan kata lain, pajak yang
dikenakan untuk pembelian saham kembali hanya memiliki total sebesar 0.35%.
Sedangkan dividen tunai akan dikenakan pajak sebesar 15%. Hal ini akan menyebabkan
para pemegang saham akan memilih alternatif pembelian kembali sebagian saham karena
biaya pajak akan dibebankan pada si pemegang saham. Dan juga bagi perusahaan, ini
akan memakan biaya yang lebih sedikit dibanding memberikan dividen tunai. Alternatif
ini saling menguntungkan kedua belah pihak.

Pembelian kembali saham:


Pajak Transaksi = 0,1%
Fee = 0,25%
Total Pajak = 0,35%
Maka besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk melakukan pembelian kembali
saham:
= 200 milliar + 0.35% (200 milliar)
= 200,7 miliar
Banyaknya saham yang harus dijual oleh pemegang saham:
= 200.7 milliar dibagi per lembar saham 4700
= 47,63 juta lembar saham
Dividen tunai:
Pajak = 15%
Besarnya dividen adalah
= 200 + 15% (200 milliar)
= 230 miliar
Maka besarnya dividend payout ratio (DPO) adalah:
Lembar saham = 47 619 047
DPS : EPS = DPO

DPS = 230 milliar : 47 619 047


= 4830

EPS = 240 milliar : 47 619 037


= 5040

4200 : 5040 = 95.8%


DPO = 95.8%
4. Apakah pendapat Vice Chairman (VC) tentang share repurchase tersebut benar? Yaitu
bahwa share repurchase akan menaikkan harga saham sewaktu dilakukan pembelian
sesuai dengan harga pasar. Jelaskan pendapat saudara.
Jawab;
Menurut kami, Pendapat VC tentang pembelian kembali saham (share repurchase) tidak
benar karena harga saham sebelumnya dan setelah hasilnya tetap sama.

Harga saham (Harga saham sebelum share repurchase) = Rp4.200 per lembar
Jumlah lembar saham yang beredar = 940.000.000 lembar saham

Maka besarnya equity sebelum share repurchase :


Rp 4.200 x Rp 940.000.000 (harga saham x jumlah lembar saham yang beredar)
= Rp3.948.000.000.000
Jumlah lembar saham yang dibeli kembali oleh pemegang saham pengendali agar bisa
memperoleh Rp200 M :
Rp 200 M
= 47.619.048 lembar
Rp 4.200
Lembar saham setelah share repurchase = 940.000.000 – 47.619.048
= 892,380,952 lembar saham
Equity setelah share repurchase = Rp 394,8 M– Rp 200 M
= Rp3,748 M
Rp 3,748 M
Harga saham setelah share repurchase =
892,380,952lembar saham
= Rp4.200 per lembar

Kesimpulannya adalah pembelian kembali saham tidak menaikkan harga saham


sewaktu dilakukan pembelian sesuai dengan harga pasar karena berdasarkan hasil
perhitungan di atas;
Harga saham sebelum share repurchase = Rp 4.200 per lembar
Harga saham setelah share repurchase = Rp 4.200 per lembar

Harga saham sebelum pembelian kembali saham sama dengan Harga saham setelah
pembelian saham kembali
5. Misalkan proyek produk-produk premium diharapkan mempunyai usia ekonomis tidak
terhingga dan arus kas bersih konstan selama usia proyek tersebut. Berapa kenaikan
harga saham apabila proyek tersebut diambil? Apakah perusahaan dapat mengambil
proyek tersebut dengan menggunakan internal financing pada tahun 2006 apabila
perusahaan juga membeli kembali sebagian saham?
Jawab;
 Diketahui:
CF0 = - Rp50 Milyar
IRR = 21%
rs = 16%
NCF konstan selama proyek
Usia ekonomis proyek tidak terhingga
CF
NPV = CF0 +
IRR
CF
- CF0 =
IRR
CF
50 =
0.21
10.5 = CF
CF 10.5
NPV = CF0 + = -50 +
rs 0.16
NPV = Rp15,625 Miliar
Rp 15625 juta
NPV per share = = Rp16.62
Rp 940 juta
Dari hasil NPV per share, dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan Rp16.62 per lembar
saham. Net Income perusahaan diproyeksikan sebesar Rp275 miliar ditahun 2006.
Kemudian, dana yang dibutuhkan untuk share repurchase adalah sebesar Rp200,7 miliar.
Biaya yang dibutuhkan untuk investasi proyek produk premium adalah Rp50miliar.
Sehingga, perusahaan dalam melakukan share repurchase dapat menggunakan internal
financing, serta dapat membiayain investasi produk premium karena 275-200,7-50=24,3
miliar.