Anda di halaman 1dari 184

TESIS

ANALISIS PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN DI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH INCHE ABDOEL MOEIS
TAHUN 2017

ROSITA JAYANTI BARDAN


P1806215066

MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
i

ANALISIS PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN DI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH INCHE ABDOEL MOEIS
TAHUN 2017

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi
Magister Administrasi Rumah Sakit

Disusun dan diajukan oleh

ROSITA JAYANTI BARDAN


P1806215066

kepada

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
ii
iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Rosita Jayanti Bardan

Nim : P1806215066

Program Studi : Kesehatan Masyarakat

Jurusan : Administrasi Rumah Sakit

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis merupakan

hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan pengambilan tulisan atau

karya orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan

saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan

yang berlaku.

Makassar, November 2017

Yang membuat pernyataan

Rosita Jayanti Bardan


iv

PRAKATA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala

limpahan rahmat dan karunia-Nya dan salawat serta salam tak lupa

penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun

khasanah bagi umat manusia sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis

yang berjudul “Analisis Penerapan Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit

Umum Daerah Inche Abdoel Moeis Tahun 2017”. Pembuatan Tesis ini

merupakan salah satu syarat untuk penyelesaian studi penulis pada

jenjang pendidikan Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat,

Universitas Hasanuddin.

Terima kasih sebesar-besarnya dan saya persembahkan skripsi ini

terkhusus kepada kedua orang tua tercinta Ibunda dan Ayahanda serta

Adinda terima kasih atas segala pengorbanan, kesabaran, doa, dukungan,

dan bantuan yang tak ternilai hingga penulis dapat menyelesaikan studi,

kiranya amanah yang diberikan kepada penulis tidak tersia-siakan.

Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak terlepas dari segala

keterbatasan dan kendala, tetapi berkat bantuan dan dorongan dari

berbagai pihak, baik moral maupun material sehingga dapat berjalan

dengan baik. Oleh karena dengan segala kerendahan hati penulis

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya serta

penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. dr. Noer Bahry Noor,

M.Sc selaku pembimbing I dan Prof. Dr. Sangkala. M.Si, selaku

pembimbing II yang telah meluangkan waktunya memberikan petunjuk,


v

arahan dan motivasinya.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima

kasih dan penghargaan yang tinggi kepada deretan orang-orang yang

telah ikhlas membantu, pahlawan tanpa tanda jasa, Civitas Akademika

kepada :

1. Rektor Universitas Hasanuddin Makassar Prof. Dr. Dwia Aries

Tina Pulubuhu, MA., dan seluruh Wakil Rektor dalam Lingkungan

Universitas Hasanuddin.

2. Bapak Direktur Sekolah Pascasarjana dan para Wakil Direktur serta

seluruh staf yang telah memberikan bantuan selama penulis

mengikuti pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas

Hasanudin serta kepada bapak/ibu dosen, terima kasih untuk

segala ilmu yang telah diberikan

3. Bapak Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Prof. Dr. drg. A.

Zulkifli Abdullah, M.Kes.

4. Dr. Ridwan M. Thaha, M.Sc., selaku Ketua Program Studi

Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Hasanuddin.

5. Bapak Dr. Syahrir A. Pasinringi, MS., selaku ketua Departemen

Administrasi Rumah Sakit.

6. Bapak Prof. Dr. dr. H.M. Alimin Maidin, MPH selaku penguji I,

Bapak Dr. Syahrir A. Pasinringi, MS selaku penguji II, dan Ibu Dr.

Herlina SKM, M.Kes selaku penguji III yang telah memberikan

bimbingan dan arahan selama ini demi kesempurnaan tulisan ini.


vi

7. Direktur Rumah Sakit Inche Abdoel Moies telah memberikan izin

penelitian dan membantu selama penelitian berlangsung.

8. Semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis baik

berupa materi dan non materi yang tidak dapat penulis sebutkan

satu per satu, terima kasih untuk bantuan dan dukungannya.

Semoga semua bantuan yang diberikan kepada penulis mendapat

balasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Penulis menyadari bahwa tesis ini

masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatan penulis. Oleh karena

itu, saran dan kritik demi penyempurnaan tesis ini sangat penulis

harapkan. Akhir kata, semoga apa yang disajikan dalam skripsi ini dapat

bermanfaat bagi setiap yang membacanya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Makassar, November 2017


vii
viii
ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. ii
PERNYATAAN KEASLIAN .................................................................. iii
PRAKATA ............................................................................................ iv
ABSTRAK ............................................................................................ vii
ABSTRACT .......................................................................................... viii
DAFTAR ISI ........................................................................................ ix
DAFTAR TABEL ................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xiii
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................ xiv

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1


A. Latar Belakang .................................................................... 1
B. Kajian Masalah ................................................................... 12
C. Rumusan Masalah .............................................................. 17
D. Tujuan Penelitian ................................................................ 17
E. Manfaat Penelitian .............................................................. 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 19


A. Keselamatan Pasien (Patient Safety).................................. 19
B. Budaya Keselamatan Pasien ............................................. 23
C. Insiden Keselamatan Pasien .............................................. 39
D. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Insiden
Keselamatan Pasien .......................................................... 41
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Keselamatan
Pasien ................................................................................ 44
F. Kerja Tim ............................................................................ 58
G. Mapping Teori .................................................................... 64
H. Kerangka Teori .................................................................. 65
I Kerangka Konsep................................................................ 66
x

J. Defenisi Operasional .......................................................... 67


K. Penelitian Terdahulu .......................................................... 68

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................... 74


A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ....................................... 74
B. Pengelolaan Peran sebagai Peneliti .................................. 74
C. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................. 74
D. Sumber Data ...................................................................... 75
E. Prosedur Pengumpulan Data ............................................. 76
F. Teknik Analisa Data ........................................................... 77
G. Pengecekan Validitas Temuan .......................................... 78

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 79


A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................... 79
B. Hasil Penelitian .................................................................. 86
C. Pembahasan ...................................................................... 103

BAB V PENUTUP .............................................................................. 149


A. Kesimpulan ........................................................................ 149
B. Saran ................................................................................. 152

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 155


LAMPIRAN .......................................................................................... 160
xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jumlah Insiden Keselamatan Pasien di RS Inche Abdoel


Moeis Samarinda Tahun 2012-2015 .................................. 8

Tabel 2 Faktor keselamtan pasien Pengembangan WHO .............. 44

Tabel 3 Penelitian Terdahulu Terkait Judul Penelitian Penulis ........ 68

Tabel 4 Karateristik Informan di RSUD I.A.Moeis Samarinda


Tahun 2017 ........................................................................ 85
xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kajian Masalah Penelitian .............................................. 14

Gambar 2. Faktor organisasi dan personal dalam system sosio


teknikal ........................................................................... 22

Gambar 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi dampak


keselamatan pasien ....................................................... 23

Gambar 4. MappingTeori Faktor yang mempengaruhi penerapan


Budaya Keselamatan Pasien ......................................... 64

Gambar 5. Modifikasi teori faktor-faktor yang mempengaruhi


budaya keselamatan pasien ........................................... 65

Gambar 6. Kerangka Konsep .......................................................... 66


xiii

DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran I Persetujuan Menjadi Informan ................................... 161

Lampiran II Informed Consent ...................................................... 162

Lampiran III Pedoman Wawancara Mendalam (In Depth


Interview) ................................................................... 163

Lampiran IV Dokumentasi Penelitian ............................................. 167


xiv

DAFTAR SINGKATAN

WHO : World Health Organization

IOM : Institute Of Medicine

KTD : Kejadian Tidak Diharapkan

EMRO : Eastern Mediterranean

AFRO : African Regions

KNC : Kejadian Nyaris Cedera

JCI : Joint Commission International

KKP-RS : Komisi Keselamatan Pasien Rumah Sakit

GKPRS : Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit

TKPRS : Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit

SDM : Sumber Daya Manusia

HSOPSC : Hospital Survey Of Patient Safety Culture

MAPSAF : Manchester Patient Safety Assesment Framework

NORUM : Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip

LASA : Look Alike Sound

AHRQ : Agency for Healthcare Research and Quality


1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah Sakit adalah salah satu institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

melalui pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Agar dapat

memenangkan persaingan dan pelayanan tetap berlanjut, maka perlu

diupayakan secara terus menerus untuk peningkatan mutu pelayanan

kesehatan di rumah sakit tersebut. Melalui Akreditasi rumah sakit, mutu

pelayanan kesehatan yang diselenggarakam sesuai dengan standar yang

ditetapkan (KARS, 2012).

Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang dilaksanakan di

rumah sakit untuk membuat asuhan pasien lebih aman (Permenkes No.

1691 Tahun 2011). Keselamatan pasien menjadi salah satu dimensi

dalam mutu pelayanan kesehatan sebagaimana yang dipaparkan oleh

Institute of Medicine (IOM, 2004), sehingga keselamatan pasien perlu

dikelola dengan baik agar rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang

berkualitas. Selain itu menurut WHO (2005) keselamatan pasien

merupakan prinsip dasar dalam pemberian pelayanan dan merupakan

komponen yang kritikal dalam manajemen. Oleh karena itu keselamatan

pasien bukan hanya menjadi tanggung jawab moral perawat sebagai

salah satu bagian terdepan dalam pemberian pelayanan kepada pasien

tetapi juga seluruh pihak yang berada dalam rumah sakit dalam hal ini
2

pengelola rumah sakit (Cook, 2004).

Keselamatan pasien muncul dan berkembang seiring dengan

semakin bertambahnya jumlah insiden keselamatan pasien. Keselamatan

pasien berfokus pada usaha untuk menurunkan angka insiden

keselamatan pasien yang sebenarnya dapat dicegah (Raleigh, 2009).

Insiden keselamatan pasien dalam Permenkes No. 1691 Tahun 2011

adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang

mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat

dicegah pada pasien, terdiri dari kejadian tidak diharapkan, kejadian

nyaris cedera, kejadian tidak cedera, dan kejadian potensi cedera.

Institute of Medicine pada Tahun 1999 dalam To Err is Human : Building a

Safer Health Care System mengemukakan bahwa 44.000 sampai 98.000

orang setiap tahunnya meninggal di rumah sakit Amerika akibat insiden

keselamatan pasien padahal sebenarnya hal tersebut dapat dicegah.

Kematian akibat insiden keselamatan pasien menempati urutan kedelapan

penyebab kematian pasien di Amerika Serikat.

Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu

sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien menjadi lebih aman.

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan

akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang

seharusnya d ambil (Permenkes No 1691/2011). Proses dan hasil

pelayanan tersebut harus mampu memberikan jaminan bagi pelanggan

sehingga terbebas dari resiko. Hal ini berlaku bagi seluruh institusi

penyelenggara pelayanan kesehatan seperti rumah sakit (Cahyono,2008).


3

Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab semua pihak

yang berkaitan dengan pemberi pelayanan kesehatan. Stakeholder

mempunyai tanggung jawab memastikan tidak ada tindakan yang

membahayakan pasien. Masyarakat, pasien, dokter, tenaga perawat,

tenaga kesehatan, peneliti, kalangan professional, lembaga akreditasi

rumah sakit dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam

upaya keselamatan pasien (Ballard,2003). Keselamatan pasien menjadi

prioritas utama dalam layanan kesehatan dan merupakan langkah kritis

pertama untuk memperbaiki kualitas pelayanan serta berkaitan dengan

mutu dan citra rumah sakit (Depkes,2008).

Isu tentang keselamatan pasien mendapatkam perhatian

pemerintah seperti yang dituangkan dalam Undang-Undang Kesehatan

Nomor 36 Tahun 2009 dan Undang-Undang Rumah Sakit Nomor 44

Tahun 2009. Rumah sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan yang

aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif, dengan mengutamakan

kepentingan pasien. Rumah sakit wajib memenuhi hak pasien

memperoleh keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di

rumah sakit. Acuan bagi rumah sakit untuk pelaksanaan program

keselamatan pasien di rumah sakit sesuai nstandar yang ditetapkan,

tertuang dalam Permenkes RI Nomor n1691 Tahun 2011.

Rumah sakit (RS) adalah institusi yang kompleks sehingga

kesalahan memang bisa terjadi. Pada tahun 2000 IOM (Institute of

Medicine) di Amerika Serikat menerbitkan laporan : “TO ERR IS HUMAN ,

Building a Safer Health System” yang memuat 2 penelitian tentang KTD


4

(kejadian tidak diharapkan/Adverse Event) pada pasien di RS. Ditemukan

angka KTD sebesar 2,9% dan 3,7% dengan angka kematian 6,6% dan

13,6%.Dengan data ini kemudian dihitung (ekstrapolasi) dari jumlah

pasien rawat inap di RS di Amerika Serikat sebesar 33.6 juta pertahun

didapat angka kematian pasien rawat inap akibat KTD tersebut di seluruh

Amerika Serikat berkisar 44.000 s/d 98.000 per tahun. Sebagai

perbandingan angka kecelakaan lalu lintas pada tahun tersebut hanyalah

43.458. Kemudian WHO dalam publikasi tahun 2004 menampilkan angka

KTD di RS dari berbagai Negara maju adalah sebesar 3,2% s/d 16,6%

pada pasien rawat inap, berbagai publikasi menemukan angka 10%, dan

sebagian diantaranya dapat meninggal (Depkes RI, 2008).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Holloway et al,. (2007) dalam

Lumenta (2008) mengenai KTD pada pasien stroke di bagian neurologi

University Rochester Medical Center di dapatkan 72 kasus (41%) pasien

yang mengalami jatuh. Data lain yang menyebutkan bahwa prevalensi

infeksi nosokomial pada perawatan akut di Australia sebesar 4% dan di

Belanda sebesar 8-10%. Selain itu menurut studi Evans et al (2001) dalam

Lumenta (2008), insiden jatuh pada RS Australia sebesar 38% pada tahun

1998. Sedangkan kejadian yang tidak di inginkan yang berhubungan

dengan komunikasi sebagai bagian utama dari handover sebesar 65%.

Kejadian yang tidak di inginkan dari pengobatan sebesar 38% akibat

ketidaktepatan dalam pengelolaan obat obatan yang sebagian besar di

perankan oleh perawat (Bates, 1995).

New South Wales dalam Third Report on Incident Management in


5

the NSW Public Health System 2005–2006 (2006) memperlihatkan data

mengenai angka insiden di Rumah Sakit Umum New South Wales

Australia dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2003-2004 sebanyak 452

insiden, 2004-2005 sebanyak 429 insiden, dan 2005-2006 sebanyak 499

insiden. Angka insiden terbanyak terjadi pada tahun 2005- 2006 dan

meningkat setiap tahunnya. Tahun 2006 juga dilakukan studi oleh the

World Health Organisation (WHO), Eastern Mediterranean and African

Regions (EMRO and AFRO), dan WHO Patient safety di 8 negara

berkembang. Hasilnya insiden keselamatan pasien terjadi pada 2,5%-

18,4% dari 15.548 rekam medis di 26 rumah sakit, 83% diantaranya dapat

dicegah, 30% berhubungan dengan kematian pasien dan 34% berkaitan

dengan kesalahan terapeutik pada situasi klinik yang relatif tidak kompleks

(Wilson et al., 2012). Selain itu, WHO juga melaporkan studi pada 58

rumah sakit di Argentina, Colombia, Costa Rica, Mexico and Peru oleh

IBEAS (The Latin American Study of Adverse Events) dan melibatkan

11.379 pasien rawat inap. Hasilnya 10% admisi mengalami insiden

keselamatan pasien akibat pelayanan kesehatan.

Mengenai data di Indonesia, angka kejadian tidak di harapkan /

KTD atau kejadian nyaris cedera/ KNC (Near Miss) masih langka di

laporkan (Depkes, 2008). Berdasarkan laporan pada tahun 2010 pada

bulan Januari sampai dengan bulan April, Provinsi Jawa Barat menempati

urutan pertama mengenai KTD sebesar 33,33%, Banten dan Jawa

Tengah 20%, DKI Jakarta 16,67%, Bali 6,67%, Jawa Timur 3,33%.

Berdasarkan penyebab kejadian lebih dari 70% di akibatkan oleh tiga hal
6

yaitu masalah prosedur, dokumentasi, dan medikasi (KKP-RS, 2010).

Data-data di atas menunjukkan bahwa banyaknya masalah patient safety

yang seharusnya dapat di cegah dengan penerapan standar International

Patient Safety Goal dalam akreditasi JCI.

Berdasarkan data yang tercantum di atas banyak Provinsi yang

tidak tercatat di Komisi Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) pada

tahun 2010. Bukan berarti Provinsi yang tidak tercantum dalam laporan

KKP-RS bebas dari insiden yang berkaitan dengan keselamatan pasien.

Namun di karenakan mereka tidak mempunyai data mengenai kejadian

yang berkaitan dengan keselamatan pasien atau tidak melakukan

pelaporan kepada KKP-RS.

Berdasarkan laporan KKP-RS mengenai insiden keselamatan

pasien periode Januari hingga April 2011 di peroleh data bahwa

berdasarkan unit penyebab, 11,32% di sebabkan oleh unit keperawatan

disusul oleh farmasi sebanyak 6,17% serta dokter dan sarana prasarana

sebanyak 4,12%.

Angka insiden keselamatan pasien juga dilaporkan oleh berbagai

negara. Depkes RI Tahun 2006 dalam Panduan Nasional Keselamatan

Pasien Rumah Sakit membeberkan laporan dari WHO pada Tahun 2004

bahwa di beberapa negara, insiden keselamatan pasien terjadi dengan

rentang 3,2 % - 16,6 % kasus.

Insiden keselamatan pasien juga ditemukan di Indonesia. Tahun

2007 Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melaporkan

insiden keselamatan pasien sebanyak 145 insiden. DKI Jakarta


7

merupakan provinsi yang menempati urutan tertinggi yaitu 37,9 %, Jawa

Tengah yaitu 15,9 %, DI Yogyakarta yaitu 13,8 %, Jawa Timur yaitu 11, 7

%, Sumatera Selatan yaitu 6,9 %, Jawa Barat yaitu 2,8 %, Bali yaitu 1,4

%, Kalimantan timur yaitu 0,69 %, dan Aceh yaitu 0,68 %. Data lain

mengenai insiden keselamatan pasien di Indonesia menunjukkan bahwa

kejadian nyaris cedera (KNC) lebih banyak dilaporkan daripada kejadian

tidak diinginkan (KTD). Pelaporan kejadian nyaris cedera sebesar 47,6 %

sedangkan kejadian tidak diinginkan sebesar 46,2 %. Di Indonesia,

meskipun publikasi tentang malpraktik cukup sering muncul di media

massa, namun data resmi insiden keselamatan pasien masih jarang

ditemui. Penelitian pertama tentang keselamatan pasien di Indonesia

dilakukan di 15 rumah sakit dengan 4500 rekam medik. Hasilnya

menunjukkan angka insiden keselamatan pasien berkisar antara 8,0%-

98,2% untuk kesalahan diagnosis dan 4,1%-91,6% untuk kesalahan

pengobatan.

Salah satu rumah sakit yang angka kejadian insiden keselamatan

pasiennya cukup tinggi di Kota Samarinda adalah Rumah Sakit Inche

Abdoel Moeis. Jumlah kejadian insiden keselamatan pasien dapat dilihat

pada tabel di bawah ini berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian

Patient Safety Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis.


8

Tabel 1
Jumlah Insiden Keselamatan Pasien di RS Inche Abdoel Moeis
Samarinda Tahun 2012-2015
Jenis Insiden Tahun Standar Kemenkes No.
Keselamatan 2012 2013 2014 2015 129 Tahun 2008
Pasien
Infeksi 1,5 % 8,4 % 6,9 % 5,6 % < 1,5 %
Nosokomial
Pasien Jatuh 2 3 5 1 0 Kasus
Kesalahan
5 9 9 8 0 kasus
Pemberian Obat
Sumber : Bagian Patient Safety RS Inche Abdoel Moeis Samarinda,
2015

Tabel di atas menunjukkan tiga jenis insiden keselamatan pasien

yang terjadi di Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis Samarinda. Infeksi

nosokomial belum memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam

Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit (Kemenkes No. 129 Tahun

2008) yang seharusnya <1,5 %. Pada tahun 2012 angka kejadian infeksi

nosokomial yaitu sebesar 1,5 %, infeksi nosokomial pada tahun 2013

sebesar 8,4 %, pada tahun 2014 sebesar 6,9 %, dan tahun 2015

sebesar 5,6 %. Tren infeksi nosokomial meningkat dari tahun 2012 ke

tahun 2013 dan menurun dari tahun 2013 ke tahun 2014 dan 2015.

Kejadian pasien jatuh cenderung meningkat dari tahun 2012 sampai tahun

2014 masing-masing 2 kasus, 3 kasus, dan 5 kasus. Dan menurun pada

tahun 2015 yaitu hanya 1 kasus. Begitupun dengan kejadian kesalahan

pemberian obat meningkat setiap tahunnya sejak 2012-2014 yaitu 5

kasus, 9 kasus, dan 9 kasus. Tapi menurun pada tahun 2015 yaitu 8

kasus. Padahal dalam Kemenkes No. 129 Tahun 2008 tentang Standar

Pelayanan Minimal Rumah Sakit telah ditetapkan bahwa tidak boleh ada

kejadian pasien jatuh dan kesalahan pemberian obat pada pasien


9

(standar 0 kasus). Besarnya jumlah insiden di Rumah Sakit Inche Abdoel

Moeis Samarinda ini mengindikasikan bahwa pihak Rumah Sakit Inche

Abdoel Moeis Samarinda perlu melakukan tindakan demi mengurangi

bahkan jika perlu meniadakan insiden keselamatan pasien.

Insiden keselamatan pasien dapat dikurangi atau dicegah

kejadiannya dengan mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap

terjadinya insiden keselamatan pasien. Sebelumnya telah dipaparkan

bahwa program keselamatan pasien merupakan program yang

dilaksanakan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya insiden

keselamatan pasien. Dalam Panduan Nasional Keselamatan Pasien

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2006 dipaparkan

bahwa tujuan dari pelaksanaan keselamatan pasien salah satunya adalah

untuk menurunkan angka kejadian tidak diinginkan (KTD) di rumah sakit.

Institute of Medicine (1999) juga mengemukakan bahwa untuk

mengurangi insiden keselamatan pasien perlu dilakukan peningkatan

program keselamatan pasien. Program keselamatan pasien akan

membuat petugas sulit melakukan kesalahan dan mudah melakukan yang

benar (IOM, 1999). Ballard (2003) menyatakan bahwa keselamatan

pasien merupakan komponen penting dan vital dalam asuhan yang

berkualitas. Keselamatan pasien juga merupakan salah satu indikator

yang mempengaruhi mutu rumah sakit.

Selain dipengaruhi oleh pelaksanaan program keselamatan pasien,

insiden keselamatan pasien juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

WHO dalam Human Factors in Patient Safety : Review of Topics and


10

Tools pada tahun 2009 mengemukakan beberapa faktor yang

mempengaruhi insiden keselamatan pasien. WHO mengembangkan

empat kategori faktor yang sangat berhubungan dengan penyebab insiden

keselamatan pasien. Kategori faktor individu yang terdiri atas

kewaspadaan situasi, pengambilan keputusan, stres, dan kelelahan.

Kategori faktor kerja tim yang terdiri atas kerja tim dan supervisi. Kategori

faktor organisasi dan manajemen terdiri atas budaya keselamatan,

kepemimpinan manajer, dan komunikasi. Kategori faktor lingkungan terdiri

atas lingkungan kerja dan bahaya. Henriksen (2008) juga menjelaskan

bahwa insiden keselamatan pasien dipengaruhi oleh faktor individu seperti

kemampuan, pengalaman, kelelahan kerja. Faktor sifat dasar pekerjaan

seperti kompleksitas pengobatan, alur pekerjaan, interupsi. Faktor

lingkungan fisik meliputi pencahayaan, temperatur. Faktor manajemen

seperti budaya keselamatan, pengembangan karyawan, kepemimpinan.

Selain itu juga faktor eksternal organisasi seperti perkembangan teknologi,

kebijakan pemerintah terkait pelayanan kesehatan juga disebutkan

sebagai faktor yang dapat mempengaruhi insiden keselamatan pasien.

Penerapan program keselamatan pasien lebih efektif dibandingkan

dengan faktor-faktor lain dalam menurunkan angka kejadian insiden

keselamatan pasien. Lima tahun setelah laporan IOM (1999), keselamatan

pasien telah menjadi salah satu prioritas utama pelayanan kesehatan dan

diupayakan secara ekstensif dari tingkat global sampai sistem mikro.

Beberapa perubahan yang patut disyukuri, yaitu kesadaran global akan

arti dan pentingnya gerakan keselamatan pasien. Sehingga penting bagi


11

sebuah rumah sakit untuk megetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

pelaksanaan program keselamatan pasien itu sendiri.

Raj Behal (2004) dalam The Patient Safety Handbook menjelaskan

bahwa keberhasilan pelaksanaan program keselamatan pasien oleh staf

di rumah sakit dapat dipengaruhi oleh beberapa komponen. Salah satu

komponen tersebut adalah budaya keselamatan pasien. Penelitian

mengenai budaya keselamatan pasien dan pengaruhnya bagi program

keselamatan pasien telah dilakukan oleh beberapa tokoh. Penelitian

Nygren et al., (2013) menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien

menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan keselamatan pasien.

Budaya keselamatan pasien akan mendorong pelaporan insiden dan

menghilangkan kebiasaan blame atau menyalahkan ketika terjadi insiden

keselamatan pasien. Penelitian serupa juga dilakukan oleh McCaughan D.

(2013), hasil penelitiannya memperlihatkan bahwa komponen kunci

budaya keselamatan pasien yaitu kepemimpinan, kerjasama, dan belajar

dari kesalahan berperan besar terhadap keselamatan pasien.

Penerapan program keselamatan pasien merupakan syarat untuk

diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi

Rumah Sakit. Penyusunan program keselamatan pasien mengacu kepada

Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007)

yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit

(KKPRS) dan dari Joint Commission International (JCI). Sasaran

keselamatan pasien terdiri atas enam sasaran, yaitu ketepatan identifikasi

pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat


12

yang perlu diwaspadai (high alert), kepastian tepat lokasi, tepat prosedur,

dan tepat pasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan

kesehatan, dan pengurangan risiko jatuh.

Berdasarkan data insiden keselamatan pasien Rumah Sakit Inche

Abdoel Moeis, pendapat, dan hasil penelitian para tokoh yang sudah

dipaparkan di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian untuk

menganalisis penerapan keselamatan pasien di Rumah Sakit Inche

Abdoel Moeis.

B. Kajian Masalah

Insiden keselamatan pasien merupakan setiap kejadian yang tidak

disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi

mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien. Angka insiden

keselamatan pasien cukup tinggi di berbagai negara seperti yang telah

dilaporkan. Insiden keselamatan pasien juga tercatat tinggi kejadiannya di

berbagai rumah sakit Indonesia. RS Inche Abdoel Moeis Samarinda

adalah salah satu rumah sakit yang insiden keselamatan pasiennya cukup

tinggi. Insiden keselamatan pasien yang terjadi yaitu infeksi nosokomial,

pasien jatuh, dan kesalahan pemberian obat. Masing-masing insiden

tersebut melebihi standar yang telah ditetapkan.

Pengurangan dan pencegahan insiden keselamatan pasien perlu

dilakukan oleh rumah sakit. Namun perlu diketahui terlebih dahulu faktor-

faktor yang mempengaruhi insiden keselamatan pasien itu sendiri.

Berbagai organisasi dan tokoh telah mengemukakan faktor yang


13

berpengaruh terhadap insiden keselamatan pasien. Panduan Nasional

Keselamatan Pasien Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun

2006 misalnya, menyebutkan bahwa pelaksanaan program keselamatan

pasien merupakan program yang dapat menurunkan angka kejadian tidak

diinginkan (KTD) di rumah sakit. Institute of Medicine (1999) juga

mengemukakan bahwa untuk mengurangi insiden keselamatan pasien

perlu dilakukan peningkatan program keselamatan pasien. Program

keselamatan pasien akan membuat petugas sulit melakukan kesalahan

dan mudah melakukan yang benar (IOM, 1999). Ballard (2003)

menyatakan bahwa keselamatan pasien merupakan komponen penting

dan vital dalam asuhan yang berkualitas. Keselamatan pasien juga

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi mutu rumah sakit.

Henriksen (2008) juga menyebutkan faktor individu, faktor sifat

dasar pekerjaan, faktor lingkungan fisik, faktor manajemen, dan faktor

eksternal organisasi sebagai penyebab terjadinya insiden keselamatan

pasien. Namun program keselamatan pasien dianggap sebagai faktor

yang langsung memberikan efek terhadap terjadinya insiden keselamatan

pasien. Keselamatan pasien telah menjadi salah satu prioritas utama

pelayanan kesehatan dan diupayakan secara ekstensif dari tingkat global

sampai sistem mikro. Beberapa perubahan yang patut disyukuri, yaitu

kesadaran global akan arti dan pentingnya gerakan keselamatan pasien.

Indonesia sendiri telah mencanangkan Gerakan Keselamatan Pasien

Rumah Sakit (GKPRS) pada 21 Agustus 2005 dan setiap rumah sakit

wajib untuk membentuk tim keselamatan pasien rumah sakit.


14

Program keselamatan pasien tidak terlepas dari segala faktor yang

bisa mempengaruhi pelaksanaan keselamatan pasien itu sendiri. Raj

Behal (2004) dalam The Patient Safety Handbook mengungkapkan bahwa

keberhasilan pelaksanaan program keselamatan pasien oleh staf di rumah

sakit dapat dipengaruhi oleh beberapa komponen. Salah satu komponen

tersebut adalah budaya keselamatan pasien. Penelitian oleh Nygren et al.,

(2013) juga menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien menjadi

faktor pendukung dalam meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian

serupa juga dilakukan oleh McCaughan D. (2013), hasil penelitiannya

memperlihatkan bahwa komponen kunci budaya keselamatan pasien yaitu

kepemimpinan, kerjasama, dan belajar dari kesalahan berperan besar

terhadap keselamatan pasien.

Berikut merupakan gambar kajian masalah seperti yang telah

dipaparkan di atas :

Faktor yang mempengaruhi budaya


keselamatan pasien menurut total
Safety Culture (2000) :
1. Faktor personal
2. Perilaku
3. Lingkungan kerja
Penerapan
Menurut WHO (2009) budaya Patient safety insiden keselamatan
keselamatan pasien dipengaruhi oleh ; sudah berjalan pasiennya cukup tinggi
1. Organisasi dan managerial tetapi hasil dari di Rumah sakit Inche
2. Kerja Tim penerapan Abdoel Moeis
3. Pegawai / Individual belum cukup
baik.
4. Lingkungan

Faktor yang mempengaruhi


keselamatan pasien oleh O’donnel and
Richard Boyle (2008) :
1. Kepemimpinan
2. Teamwork
3. Keterlibatan Pegawai
4. Kebijakan
5. Teknologi
6. Komunikasi

Gambar 1. Kajian Masalah Penelitian (Raj Behal (2004), Kemenkes RI (2006), IOM
(1999), WHO (2009), Henriksen (2008))
15

Budaya keselamatan pasien dalam suatu organisasi dapat dinilai

pada faktor-faktor ditingkat unit, tingkat rumah sakit sebgai variable hasil

(Katherine, et all, 2008). Menurut WHO (2009) ada empat kategori faktor-

faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan pasien ; Organisai /

Managerial, Kerja tim, pegawai individual, serta lingkungan kerja. Geller

(2000) dalam bukunya the Pscychology of safety handbook menjelaskan

bahwa untuk mencapai total safety culture suatu organisasi harus

didukung oleh ; faktor personal (pengetahuan, sikpa, motivasi, dan

kemampuan), faktor perilaku (kerja sama, kepemimpinan, komunikasi,

pengawasan dan pelatihan), serta faktor lingkungan (sarana dan

parasaran, mesin, mekanik serta standar prosedur operasional dan

kebersihan)

Program keselamatan pasien lebih efektif dilaksanakan untuk

menurunkan dan meniadakan insiden keselamatan pasien. Meskipun

masih terdapat faktor lain yang juga dapat mempengaruhi insiden

keselamatan pasien. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor individu, faktor

kerja tim, faktor organisasi dan manajemen, dan faktor lingkungan (WHO,

2009). Salah satu faktor yang diteliti adalah organisasi dan managerial

budaya keselamatan yang masih rendah ditandai dengan tingkat

pelaporan insiden keselamatan pasien yang rendah.

Kepemimpinan di Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis mempunyai 3

domain perilaku kepemimpinan yang mampu menjadi agent perubahan

(Change Agent) bagi perilaku anggota dalam suatu organisasi yakni


16

pengarahan (Direction), pengawasan (Supervision), serta koordinasi

(Coordination) (Gilles, 1994). Salah satu domain perilaku kepempinan

yang menjadi kajian masalah penelitian adalah pengawasan (Supervision)

kepala ruangan yang hampir 50 % tidak ada pelaporan atas insiden

keselamatan pasien.

Kompetensi dalam berkomunikasi menjadi suatu hal yang penting

karena komunikasi yang efektif berhubungan dengan pengelolaan dalam

menyelesaikan konflik. Komunikasi efektif juga berperan dalam

tersosialisasinya isu pelayanan keperawatan dan isu organisasi.

Komunikasi memeiliki dua aspek penting yatiu sikap dalam berkomunikasi

dan alat untuk berkomunikai (Wise & Kowalski, 2006). Komunikasi data

secara verbal, tertulis, mapun lisan. Keterampilan komunikasi dapat

berupa mendengar aktif, mendorong saluran informasi, asertif,

memberikan umpam balik, upaya mencitpkan perantara apabila terdapat

masalsah dalam berkomunikais, membentukan jaringan, menyatakan

komunikasi sebagai vivi.

Waishe & Boaden (2006) juga berpendapat budaya keselamatan

pasien positif, meliputi komunikasi yang didasarkan pada :

1. Kepercayaan dan transparansi

2. Proses dan alur informais yang baik

3. Persepsi bersama tentang arti penting keselamatan pasien

4. Perhatian dan pengenanalan pada pentingnya kesalahan

Dengan demikian peneliti merasa perlu untuk menganalisis tentang

perilaku kepemimpinan, kerja tim, dan komunikasi dalam penerapan

keselamatan pasien di instalasi pelayanan RS Inche Abdoel Moeis


17

Samarinda Tahun 2017

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah yang

dikemukakan tersebut di atas, maka peneliti mengajukan rumusan

masalah yaitu : “Bagaimana pengaruh budaya keselamatan pasien

terhadap pelaksanaan keselamatan pasien di instalasi pelayanan dan

penunjang pelayanan RS Inche Abdoel Moeis Tahun 2017?” “Analisis

penerapan keselamatan pasien di RS Inche Abdoel Moeis Tahun 2017”.

Adapun pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana analisis perilaku kepemimpinan Kepala Ruangan dalam

penerapan keselamatan pasien di Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis

Tahun 2017?

2. Bagaimana analisis komunikasi dalam penerapan keselamatan pasien

di Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis Tahun 2017?

3. Bagaimana analisis kerja tim dalam penerapan keselamatan pasien di

Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis Tahun 2017?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum :

Untuk menganalisis penerapan keselamatan pasien di RS Inche

Abdoel Moeis.Tahun 2017.

2. Tujuan khusus :

a. Untuk Menganalisis perilaku kepemimpinan Kepala Ruangan dalam

penerapan keselamatan pasien di Rumah Sakit Inche Abdoel

Moeis Tahun 2017.


18

b. Untuk Menganalisis komunikasi dalam penerapan keselamatan

pasien di Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis Tahun 2017.

c. Untuk Menganalisis kerja tim dalam penerapan keselamatan pasien

di Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis Tahun 2017.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakan tentang

maagemen mutu dan penerapan patient safety, serta dapat

memberikan kontribusi terhadap ilmu perumahsakitan khususnya

mengenai keselamatan pasien.

2. Bagi Institusi Rumah Sakit

Penelitian ini berguna bagi rumah sakit untuk dapat lebih

meningkatkan kinerja dan mutu pelayanannya. Karena patient safety

dapat mempengaruhi mutu pelayanan sebuah rumah sakit. Juga

sebagai bahan untuk pengambilan keputusan dalam rangka

peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki khususnya

mengenai keselamatan pasien dan penielitian diharapkan mampu

menjadi masukan untuk pihak managemen dalam mengidentifikasi

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penerapan keselamatan

pasien dirumah sakit khusunya terkait kepemimpinan, komunikasi dan

kerja tim dilingkungan rumah sakit.

3. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan peneliti dalam bidang penelitian

khususnya yang berkaitan dengan keselamatan pasien di rumah sakit.


19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan Pasien (Patient Safety)

1. Pengertian

Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem

dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang

meliputi asesmen risiko, identifikasi, dan pengelolaan hal yang

berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan, dan analisis insiden,

kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta

implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan

mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan

akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan

yang seharusnya diambil. Keselamatan pasien (patient safety)

rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat

asuhan pasien lebih aman.

Menurut Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah

Sakit oleh Depkes Republik Indonesia tahun 2006, terdapat tujuh

langkah menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Langkah-

langkah tersebut yaitu :

a. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien,

menciptakan kepemimpinan & budaya yg terbuka & adil.

b. Memimpin dan mendukung staf, membangun komitmen & fokus

yang kuat serta jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit

Anda.
20

c. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko, mengembangkan

sistem dan proses pengelolaan risiko, serta melakukan

identifikasi & asesmen hal yang potensial bermasalah.

d. Mengembangkan sistem pelaporan, memastikan staf agar dgn

mudah dapat melaporkan kejadian / insiden, serta rumah sakit

mengatur pelaporan kepada KKP-RS.

e. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien,

mengembangkan cara-cara komunikasi yg terbuka dgn pasien.

f. Melakukan kegiatan belajar & berbagi pengalaman tentang

keselamatan pasien, mendorong staf untuk melakukan analisis

akar masalah untuk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu

timbul .

g. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan

pasien, menggunakan informasi yang ada tentang kejadian/

masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan.

Dalam pelaksanaan patient safety rumah sakit harus

membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS). Tim

ini ditetapkan oleh kepala rumah sakit sebagai pelaksana kegiatan

keselamatan pasien. Anggota tim keselamatan pasien rumah sakit

terdiri dari manajemen rumah sakit dan unsur dari profesi

kesehatan di rumah sakit. Tugas dari tim ini adalah :

a. mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit

sesuai dengan kekhususan rumah sakit tersebut.

b. menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program


21

keselamatan pasien rumah sakit.

c. menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi,

konsultasi, pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluasi)

tentang terapan (implementasi) program keselamatan pasien

rumah sakit.

d. bekerja sama dengan bagian pendidikan dan pelatihan rumah

sakit untuk melakukan pelatihan internal keselamatan pasien

rumah sakit.

e. melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden, dan

mengembangkan solusi untuk pembelajaran.

f. memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala rumah

sakit dalam rangka pengambilan kebijakan keselamatan pasien

rumah sakit membuat laporan kegiatan kepada kepala rumah

sakit.

2. Tujuan Keselamatan pasien

Tujuan system keselamatan pasien rumah sakit adalah ;

a. Terciptanya budaya keselamatan pasien dirumah sakit

b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan

masyarakat

c. Menurun nya kejadian tak diharapkan (KTD) dirumah sakit

d. Terlaksana nya program-program pencegahan sehingga tidak

terjadi penanggulangan KTD

Sedangkan tujuan keselamatan pasien secara internasional

adalah
22

a. Mengidentifikasi pasien secara benar

b. Meningkatkan komunikasi yang efektif

c. Meningkatkan keamanan dari pengobatan resiko tinggi

d. Mengeliminasi kesalahan penempatan, kesalahan pengenalan

pasien dan kesalahan prosedur operasi

e. Mengurangi resiko infeksi yang berhubungan dengan pelayanan

kesehatan

f. Mengurangi resiko pasien terluka karena jatuh

3. Faktor yang mempengaruhi keselamatan pasien

Meningkat perhatian terhadap kinerja dan perilaku manusia dengan

menggunakan system , akan mengurangi kerusakan, hilangnya

nyawa, kerusakan property, luks, kerugian financial.

Pengembangan model organisasi dan faktor personal oleh Moray

(2000) dpat digambarkan sebagai berikut ;

Faktor Unit Kebiasan Dampak


organisasi/ manager / Pegawai/ Keselamatan
manager Budaya tim eror Pasien
senior

Faktor
individu

Gambar 2. Faktor organisasi dan personal dalam system sosio


teknikal (Moray, 2000).

Bagan diberikut ini menunjukkan bagaimana situasi

organisasi, unit manager, kebiasan pegawai dan faktor individu

dapat mempengaruhi situasi keselamatan pasien dirumah sakit ;


23

Pengaruh social, budaya, dan aturan


Organisasi
Tim (Kelompok)
dan managemen
Tim
Tim(Kelompok)
(kelompok)
Individu
Lingkungan kerja/
Perlengkapan
Pasien

Gambar 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi dampak keselamatan


pasien (Jackson & flin, 2003).

B. Budaya Keselamatan Pasien

1. Pengertian Budaya Keselamatan Pasien

Beberapa definisi mengenai budaya keselamatan pasien telah

dikemukakan oleh tokoh. Sorra dan Nieva (2004) mengemukakan

budaya keselamatan pasien adalah suatu keluaran dari nilai individu

dan kelompok, perilaku, kompetensi, dan pola serta kebiasaan yang

mencerminkan komitmen dan gaya serta kecakapan dari manajemen

organisasi dan keselamatan kesehatan. Sedangkan Jianhong (2004)

menjelaskan bahwa budaya keselamatan dalam pelayanan kesehatan

merupakan keyakinan dan nilai perilaku yang dikaitkan dengan

keselamatan pasien yang secara tidak sadar dianut bersama oleh

anggota organisasi. Budaya keselamatan pasien sangat penting

perannya dalam rumah sakit. Sebab budaya keselamatan pasien

mendorong rumah sakit untuk melaksanakan program keselamatan


24

pasien dan mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien melalui

pelaksanaan analisis akar masalah insiden keselamatan pasien.

Budaya keselamatan pasien terdiri atas budaya keselamatan

positif dan negatif. Budaya keselamatan positif menurut Pronovost et

al., (2003) adalah karakteristik budaya keselamatan pasien yang

proaktif, meliputi komitmen dari pimpinan untuk mendiskusikan dan

belajar dari kesalahan, mendorong dan mempraktekkan kerjasama tim,

membuat sistem pelaporan kejadian (KTD, KNC, Sentinel) serta

memberikan penghargaan bagi staf yang menjalankan program

keselamatan pasien dengan baik. Budaya keselamatan pasien positif

akan meningkatkan produktivitas. Sedangkan budaya keselamatan

negatif meliputi tingkatan karir yang curam antara staf medis degan

staf lain, hubungan tim kerja yang renggang, dan keengganan

mengakui kesalahan. Budaya keselamatan negatif akan merusak

keefektifan dari suatu tim dan menimbulkan efek dari desain organisasi

yang baik.

2. Dimensi Budaya Keselamatan Pasien

Agency for Healthcare Research and Quality (2004) menilai

budaya keselamatan pasien melalui tiga aspek. Aspek-aspek tersebut

adalah :

a. Tingkat unit, mencakup espektasi supervisor/manajer dan tindakan

promosi keselamatan berkaitan dengan sejauhmana pihak

pimpinan rumah sakit mempromosikan serta mendukung tindakan

keselamatan pasien, pembelajaran organisasi dan perbaikan


25

berkelanjutan berkaitan dengan sejauhmana petugas rumah sakit

mau dan bersedia belajar secara terus-menerus demi peningkatan

kinerja melalui peniadaan kejadian tidak diinginkan, kerjasama

dalam unit berkaitan dengan sejauhmana petugas suatu divisi

kompak dan bekerjasama dalam tim, keterbukaan komunikasi

berkaitan dengan sejauhmana keterbukaan antar anggota dan

pimpinan, umpan balik dan komunikasi tentang error berkaitan

dengan sejauhmana umpan diberikan oleh pimpinan, respon non-

punitive terhadap error berkaitan dengan sejauhmana pengakuan

akan kesalahan ditanggapi dengan hukuman, staffing berkaitan

dengan sejauhmana ketersediaan

b. SDM yang kompeten dan pengelolaannya dilakukan secara efektif.

c. Tingkat Rumah Sakit, meliputi dukungan manajemen terhadap

keselamatan pasien berkaitan dengan sejauhmana manajemen

memberikan dukungan pada penciptaan budaya keselamatan,

kerjasama antar unit berkaitan dengan sejauhmana kekompakan

dan kerjasama tim lintas unit atau bagian, pergantian shift dan

perpindahan pasien berkaitan dengan sejauhmana kelancaran

pergantian gilir kerja.

d. Keluaran/Outcome, meliputi keseluruhan persepsi tentang

keselamatan pasien berkaitan dengan sejauhmana pengetahuan

dan pemahaman petugas tentang keselamatan pasien yang

berlaku di rumah sakit, frekuensi pelaporan kejadian berkaitan

dengan tingkat keseringan petugas dalam melaporkan kejadian


26

kesalahan yang terjadi di rumah sakit, tingkat keselamatan

pasien berkaitan dengan sejauhmana petugas menilai tingkat

keselamatan pasien di rumah sakit terkait dengan program-program

keselamatan pasien yang telah dilakukan pihak rumah sakit, jumlah

pelaporan kejadian berkaitan dengan sejauhmana insiden

dilaporkan oleh petugas berdasarkan insiden yang terjadi.

3. Pembagian Budaya Keselamatan Pasien

Budaya keselamatan pasien juga terbagi atas informed culture,

reporting culture, just culture, dan learning culture

a. Informed Culture, keselamatan pasien sudah diinformasikan ke

semua karyawan, arti penting dari keselamatan pasien, ada upaya

dari rumah sakit dalam menciptakan keselamatan pasien, adanya

kebijakan yang menjadi draft/rencana strategis tentang

keselamatan pasien oleh tatanan manajerial, adanya pelatihan,

pengembangan berupa jurnal berdasarkan evidence-based,

informasi tentang kendala dan hambatan dalam menciptakan

keselamatan pasien.

b. Reporting Culture, adanya program evaluasi/sistem pelaporan,

adanya upaya dalam peningkatan laporan, hambatan dan kendala

dalam pelaporan, adanya mekanisme penghargaan, dan sanksi

yang jelas terhadap pelaporan.

c. Just Culture, staf di rumah sakit terbuka dan memiliki motivasi

untuk memberikan informasi terhadap hal yang bisa atau tidak bisa

diterima, adanya ketakutan apabila staf melaporkan kejadian


27

kesalahan, kerjasama antar sesama staf.

d. Learning Culture, adanya sistem umpan balik terhadap kejadian

kesalahan dan pelaporannya, adanya pelatihan di rumah sakit yang

menunjang peningkatan pengetahuan SDM.

4. Tingkat Maturitas Budaya Keselamatan Pasien

Tingkat maturitas budaya keselamatan pasien terdiri atas lima

tingkatan. Berikut adalah tingkatan maturitas budaya keselamatan

pasien.

a. Patologis, yaitu keadaan belum terdapat sistem yang mendukung

budaya keselamatan pasien dan lingkungan kerja masih bersifat

menyalahkan.

b. Reaktif, yaitu suatu keadaan dimana budaya keselamatan pasien

bersifat fragmentasi, dikembangkan hanya sekedar menjawab

akreditasi organisasi dan reaktif terhadap cedera medis yang

terjadi.

c. Kalkulatif, suatu keadaan budaya keselamatan pasien tertata baik

namun implementasinya masih bersifat segmentasi.

d. Proaktif, suatu keadaan budaya keselamatan pasien bersifat

komprehensif, berskala luas, dan melibatkan stakeholder,

pendekatan yang berbasis pada bukti (evidence based) sudah

diterapkan dalam organisasi.

e. Generatif, suatu keadaan budaya keselamatan pasien menjadi misi

sentral dalam organisasi, organisasi selalu mengevaluasi efektivitas

intervensi dan selalu belajar dari kegagalan dan kesuksesan


28

5. Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien

Pengukuran budaya keselamatan pasien dapat dilakukan

berdasarkan dimensi yang mendasari ataupun berdasarkan tingkat

maturitas dari organisasi dalam menerapkan budaya keselamatan

pasien. Beberapa organisasi mengembangkan standar pengukuran

dengan masing-masing instrumennya antara lain AHRQ, Stanford, dan

MaPSaF (Manchester Patient Safety Assesment Framework). Namun

sejauh ini kuesioner HSOPSC (Hospital Survey Of Patient Safety

Culture) dari AHRQ yang paling banyak direkomendasikan untuk

mengukur budaya keselamatan pasien karena telah menjamin validitas

dan reliabilitasnya secara internasional.

Pengukuran budaya keselamatan pasien yang dikembangkan

oleh AHRQ melalui dua belas instrumen seperti yang tercantum dalam

dua belas dimensi AHRQ yang disampaikan sebelumnya. Stanford

mengembangkan instrumen Safety Attitudes Questionnaire (SAQ)

dengan mengidentifikasikan enam elemen budaya keselamatan pasien

yang terdiri dari kerjasama, iklim keselamatan, kepuasan kerja, kondisi

stres, persepsi manajemen dan kondisi kerja. Stanford Instrument

menilai budaya keselamatan pasien dari lima elemen, antara lain

organisasi, departemen, produksi, pelaporan, dan kesadaran diri.

Sedangkan Modified Stanford Instrument (MSI) hanya mengidentifikasi

tiga elemen yang berpengaruh pada budaya keselamatan pasien yaitu

nilai keselamatan, takut/reaksi negatif, persepsi keselamatan. Adapun

MaPSaF mengembangkan tingkat kematangan (maturity) organisasi


29

dalam menerapkan budaya keselamatan pasien yang terdiri dari lima

elemen yaitu patologis, reaktif, kalkulatif, proaktif, dan generatif dimana

tingkat manturitas generatif adalah paling tinggi dimana budaya

keselamatan pasien sudah terintegrasi dengan tujuan rumah sakit.

6. Sasaran Keselamatan Pasien

Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk

diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi

Akreditasi Rumah Sakit. Sasaran tersebut mengacu kepada Nine Life-

Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety tahun 2007.

Sasaran tersebut juga digunakan oleh Komite Keselamatan Pasien

Rumah Sakit PERSI (KKPRS PERSI) dan dari Joint Commission

International (JCI). Maksud dari sasaran keselamatan pasien adalah

mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran-

sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan

kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari konsensus berbasis

bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Enam sasaran keselamatan

pasien rumah sakit adalah :

Sasaran I : Ketepatan Identifikasi Pasien

a. Standar SKP I

Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk

memperbaiki atau meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.

b. Maksud dan Tujuan Sasaran I

Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien

dapat terjadi di hampir semua aspek/tahapan diagnosis dan


30

pengobatan. Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien

yang dalam keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorientasi,

tidak sadar, bertukar tempat tidur/kamar/ lokasi di rumah sakit,

adanya kelainan sensori, atau akibat situasi lain. Maksud sasaran

ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama,

untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima

pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian

pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. Kebijakan

dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk

memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada proses untuk

mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah, atau produk

darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan

klinis; atau pemberian pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan

dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk

mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor

rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-

code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa

digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga

menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di lokasi yang

berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit gawat

darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma

tanpa identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk

mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur agar dapat

memastikan semua kemungkinan situasi untuk dapat diidentifikasi.


31

c. Elemen Penilaian Sasaran I

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh

menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk

darah.

3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain

untuk pemeriksaan klinis

4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan /

prosedur.

5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi

yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.

Sasaran II : Peningkatan Komunikasi yang Efektif

a. Standar SKP II :

Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan

efektivitas komunikasi antar para pemberi layanan.

b. Maksud dan Tujuan Sasaran II

Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan

yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan

menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat

berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah

terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan

secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang mudah terjadi

kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis,

seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit


32

pelayanan. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu

kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon

termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah yang

lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah; kemudian

penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau

hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah

dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat. Kebijakan dan/atau

prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan

tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak

memungkinkan seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di

IGD atau ICU.

c. Elemen Penilaian Sasaran II

1. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil

pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah.

2. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan

dibacakan kembali secara lengkap oleh penerima perintah.

3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah

atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan.

4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi

keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten.

Sasaran III : Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai

(High-Alert)

a. Standar SKP III

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


33

memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high- alert).

b. Maksud dan Tujuan Sasaran III

Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan

pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan

keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert

medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi

kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi

menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome)

seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama

Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound/LASA).

Obat-obatan yang sering disebutkan dalam isu keselamatan pasien

adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya,

kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium

klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat = 50 % atau lebih

pekat). Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan

orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat

kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau

pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk

mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan

meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai

termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien

ke farmasi. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu

kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang

perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan


34

dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang

membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi,

serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana

penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk

mencegah pemberian yang tidak sengaja/ kurang hati- hati.

c. Elemen Penilaian Sasaran III

1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses

identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan

elektrolit konsentrat.

2. Implementasi kebijakan dan prosedur.

3. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali

jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah

pemberian yang kurang hati-hati di area tersebut sesuai kebijakan.

4. Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien

harus diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi

ketat (restricted).

Sasaran IV : Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat Pasien

Operasi

a. Standar SKP IV

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan

tepat lokasi, tepat-prosedur, dan tepat- pasien.

b. Maksud dan Tujuan Sasaran IV

Salah lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah

sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit.


35

Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau

yang tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan

pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada

prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen

pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak

adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar

anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan

tangan yang tidak terbaca (illegible hand writing) dan pemakaian

singkatan adalah faktor-faktor sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk

secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur

yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan

ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan

di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di

The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site,

Wrong Procedure, Wrong Person Surgery.

Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan

dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus

digunakan secara konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh

operator/orang yang akan melakukan tindakan, dilaksanakan saat

pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat

sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi dilakukan pada

semua kasus termasuk sisi (laterality), multipel struktur (jari tangan, jari

kaki, lesi) atau multipel level (tulang belakang). Maksud proses

verifikasi praoperatif adalah untuk memverifikasi lokasi, prosedur, dan


36

pasien yang benar, memastikan bahwa semua dokumen, foto

(imaging), hasil pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label

dengan baik, dan dipampang, melakukan verifikasi ketersediaan

peralatan khusus dan/atau implant-implant yang dibutuhkan. Tahap

“Sebelum insisi” (Time out) memungkinkan semua pertanyaan atau

kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan di tempat, dimana tindakan

akan dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan

seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu

didokumentasikan secara ringkas, misalnya menggunakan checklist.

c. Elemen Penilaian Sasaran IV

1. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dimengerti

untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam

proses penandaan.

2. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk

memverifikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan

tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan

tersedia, tepat, dan fungsional.

3. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur

“sebelum insisi/ time-out” tepat sebelum dimulainya suatu

prosedur/tindakan pembedahan.

4. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung proses

yang seragam untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan

tepat pasien, termasuk prosedur medis dan dental yang

dilaksanakan di luar kamar operasi.


37

Sasaran V : Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan

a. Standar SKP V

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk

mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.

b. Maksud dan Tujuan Sasaran V

Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan

terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya

untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan

kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para

profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam

semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih,

infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia

(sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pusat dari

eliminasi infeksi ini maupun infeksi- infeksi lain adalah cuci tangan

(hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca

kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan

internasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk

mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan

atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum

dan untuk implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

c. Elemen Penilaian Sasaran IV

1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand

hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum


38

(al.dari WHO Patient Safety).

2. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.

3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan

pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait

pelayanan kesehatan.

Sasaran VI : Pengurangan Risiko Pasien Jatuh

a. Standar SKP VI

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk

mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh.

b. Maksud dan Tujuan Sasaran VI

Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera

bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang

dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit

perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk

mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk

riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan

dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh

pasien. Program tersebut harus diterapkan rumah sakit.

c. Elemen Penilaian Sasaran VI

1. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal atas pasien

terhadap risiko jatuh dan melakukan asesmen ulang pasien bila

diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain-

lain.

2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi


39

mereka yang pada hasil asesmen dianggap beresiko jatuh.

3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan

pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian tidak

diharapkan.

4. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan

pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di

rumah sakit.

C. Insiden Keselamatan Pasien

1. Pengertian Insiden Keselamatan Pasien

Insiden keselamatan pasien menurut Permenkes No. 1691

Tahun 2011 adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi

yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yan dapat

dicegah pada pasien. Selain itu menurut Depkes (2008), insiden

keselamatan pasien juga merupakan akibat dari melaksanakan suatu

tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang

seharusnya diambil (omission). Namun demikian penyebab terjadinya

insiden keselamatan pasien di rumah sakit sangat kompleks,

melibatkan semua bagian dalam sistem yang berlaku dalam rumah

sakit.

2. Jenis-Jenis Insiden Keselamatan Pasien

Berdasarkan Permenkes No. 1691 Tahun 2011, insiden

keselamatan pasien terdiri dari :

a. Kejadian tidak Diharapkan (KTD)

Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan yang


40

mengakibatkan cedera pada pasien akibat melaksanakan suatu

tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil,

dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Kejadian

tersebut dapat terjadi di semua tahapan dalam perawatan dari

diagnosis, pengobatan, dan pencegahan (Reason, 1990).

b. Kejadian tidak Cedera

Adalah suatu insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi

tidak mengakibatkan cedera.

c. Kejadian Nyaris Cedera

Adalah terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke

pasien. Misalnya suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan

tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat

diberikan kepada pasien.

d. Kejadian Potensial Cedera

Adalah kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan

cedera tetapi belum terjadi insiden. Misalnya obat-obatan LASA

(Look Alike Sound Alike) disimpan berdekatan.

e. Kejadian Sentinel

Adalah suatu kejadian tidak diinginkan yang mengakibatkan

kematian atau cedera yang serius. Biasanya dipakai untuk kejadian

yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima seperti

operasi pada bagian tubuh yan salah. Pemilihan kata “sentinel”

terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi sehingga pencarian

fakta-fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya masalah


41

yang serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

D. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Insiden Keselamatan

Pasien

Institute Of Medicine melalui laporannya To Err Is Human :

Building A Safer Health System menekankan bahwa yang

meningkatkan pencegahan terhadap insiden adalah berupa faktor

yang sistemik artinya tidak hanya berasal dari kinerja seorang perawat

dokter, atau tenaga kesehatan lain (Sanders et al, 1993). Laporan

tersebut juga memberi perhatian pada faktor komunitas manusia yang

terlibat pada masalah pelayanan kesehatan. Insiden keselamatan

pasien dihasilkan dari interaksi atau kecenderungan dari beberapa

faktor yang diperlukan kecuali beberapa faktor yang tidak sesuai.

Kekurangan pada faktor-faktor tersebut terlihat pada sistem, telah lama

ada sebelum terjadi suatu insiden. Yang menjadi poin penting adalah

pada pemahaman bahwa ada kebutuhan untuk menyadari dan

memahami fungsi dari banyaknya sistem yang masing-masing

berkaitan dengan setiap penyedia layana kesehatan dan bagaimana

kebijakan serta tindakan yang diambil pada suatu bagian (dalam

sistem tersebut) akan berdampak pada keamanan, kualitas, dan

efisiensi pada sistem bagian lainnya.

Pendekatan sistem memberikan perspektif yang luas dalam

mencari solusi dalam lingkungan secara fisik dan budaya. Sebagai

contoh yaitu bagaimana pengaturan unit, prosedur pelayanan

kesehatan, transfer pengetahuan oleh organisasi, kesalahan teknis,


42

kurangnya kebijakan dan prosedur, komunikasi antar tim dan isu dalam

ketenagaan mempengaruhi seorang individu dalam memberikan

layanan yang aman dan berkualitas. Apabila hal tersebut tidak

terpenuhi maka akan menghasilkan error atau kesalahan (Carayon,

2003). Menurut Carayon (2003) tipe error dan bahaya dapat

terklarifikasi menurut domain atau kejadian dalam spektrum pelayanan

kesehatan. Akar permasalahan dari bahaya teridentifikasi menurut

definisi berikut yaitu :

a. Latent Failure, yaitu melibatkan pengambilan keputusan yang

mempengaruhi kebijakan, prosedur organisasi, dan alokasi sumber

daya.

b. Active Failure, yaitu kontak langsung dengan pasien

c. Organizational Failure, yaitu kegagalan secara tidak langsung yang

melibatkan manajemen, budaya, organisasi, proses/protokol,

transfer pengetahuan, dan faktor eksternal

d. Technical Failure, yaitu kegagalan secara tidak langsung dari

fasilitas atau sumber daya eksternal

Depkes (2008) mengungkapkan bahwa faktor yang

berkontribusi terjadap terjadinya insiden keselamatan pasien adalah

faktor eksternal/luar rumah sakit, faktor organisasi dan manajemen,

faktor lingkungan kerja, faktor tim, faktor petugas dan kinerja, faktor

tugas, faktor pasien, dan faktor komunikasi. Agency for Healthcare

Research and Quality / AHRQ (2003) mengatakan bahwa faktor yang

dapat menimbulkan insiden keselamatan pasien adalah komunikasi,


43

arus informasi yang tidak adekuat, masalah SDM, hal-hal yang

berhubungan dengan pasien, transfer pengetahuan di rumah sakit, alur

kerja, kegagalan teknis, kebijakan dan prosedur yang tidak adekuat.

WHO (2009) juga turut mengembangkan model yang sangat

berhubungan dengan penyebab insiden keselamatan pasien. WHO

membagi penyebab insiden keselamatan pasien dalam empat kategori.

Kategori tersebut yaitu kategori organisasi dan manajerial, kerja tim,

individu, dan lingkungan. Organisasi dan manajerial terdiri atas budaya

keselamatan dan kepemimpinan manajer, dan komunikasi. Kerja tim

terdiri atas kerja tim dan supervisor. Individu terdiri atas kewaspadaan

situasi, pengambilan keputusan, stres, dan kelelahan. Terakhir

adalah lingkungan yang terdiri atas lingkungan kerja dan bahaya.

Selain itu dalam Buku Medical Management yang ditulis oleh

Markar dan Sullivan (2012), National Patient Safety Agency

menjelaskan bahwa faktor yang berkontribusi dalam insiden

keselamatan pasien terdiri atas faktor pasien, faktor individu, faktor

tugas/pekerjaan, faktor komunikasi, faktor kelompok/tim, faktor

pendidikan dan pelatihan, faktor peralatan dan sumber daya, faktor

kondisi kerja, dan faktor organisasi. Faktor pasien meliputi kondisi

klinik, faktor sosial, faktor fisik, faktor psikologis/mental, dan hubungan

interpersonal. Faktor individu meliputi keadaan fisik, psikologi, sosial,

dan kepribadian. Faktor tugas meliputi pedoman/prosedur, desain

pekerjaan. Faktor komunikasi meliputi komunikasi verbal, non-verbal,

tertulis, dan elektronik. Faktor tim meliputi peran, kesesuaian,


44

kepemimpinan, dukungan. Faktor pendidikan dan pelatihan yaitu

kompetensi. Faktor peralatan dan sumber daya meliputi pengadaan

peralatan dan penggunaan. Faktor kondisi kerja meliputi lingkungan,

desain lingkungan fisik, dan beban kerja. Faktor organisasi meliputi

struktur organisasi, kebijakan, dan budaya keselamatan.

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Keselamatan Pasien

1. Who Health Organization( WHO)

WHO (2009) mengembangkan 4 kategori faktor dengan

10 topik keselamatan pasien yang relevan.

Tabel 2
Faktor keselamtan pasien Pengembangan WHO (2009)

Kategori Topik
Organisasi/ Managergial 1. Budaya Keselamatan
2. Kepemimpinan Manager
3. Komunikasi
Kerja Tim 4. Kerja Tim-
Struktur/proses(Dinamika)
5. Team Leadership
(Supervisor)
Individual Pekerja 6. Kewaspadaan situasi
 Kemampuan Kognitif 7. Pengambilan Keputusan
(berpikir) 8. Stres
 Sumber daya manusia 9. Kelelahan
Lingkungan Kerja 10. Lingkungan Kerja dan
Bahaya

2. Total Safety Culture

Total Safety Culture (2000) membutuhkann perhatian khusus

terhadap tiga (3) faktor antara lain :


45

a. Faktor Personal (Pengetahuan, sikap, motivasi, kompetensi,

kepribadian)

b. Faktor perilaku (Kepemimpinan, kewaspadaan situasi,

komunikasi, kerja tim, stress, kelelahan, kepemimpinan tim,

pengambila keputusan).

c. Lingkungan (perlengkapan, peralatan, mesin, kebersihan,

teknik standar prosedur operasional).

3. O’Donell dan Richard Boyle

O’Donell dan Richard Boyle (2008) mengemukakan

bahwa hal-hal yang berkaitan dalam mempengaruhi budaya

dalm suatu organisasi yang berjalan ialah

a. Kepemimpinan

b. Teamwork

c. Keterlibatan pegawai

d. Kebijakan

e. Teknologi

f. Komunikasi

Berdasarkan uraian teori setelah di kolaborasikan, maka

peneltian ini akan menggunakan teori WHO (2009) akan

mengkaji pengaruh faktor-faktor organisasi/ manajerial terdiri

dari kepemimpinan, komunikasi dan kerja tim.

a. Kepemimpianan

Ada 3 domain perilaku kepemimpinan yang mampu menjadi

agen perubahan (Change Agent) bagi perilaku anggota


46

dalam suatu organisasi yakni pengarahan (Direction),

pengawasan (supervision), serta koordinasi (coordination)

(Gilles, 1994).

1) Pengarahan

Pengarahan mengacu kepada penugasan, perintah,

kebijakan, peratutaran, standar, pendapat, saran, dan

pertanyaan untuk mengarahan perilaku bawahan.

Kebijakan prosedur, standar, dan tugas menjadi alat

dalam memimpin orang lain untuk menghasilkan perilaku

yang diinginkan.

2) Supervisi

Pelayanan keperawatan dikatakan sebagai

kegiatan kegiatan dinamis yang bertujuan untuk

meningkatkan motivasi dankepuasan antara duan

komponen yang terlibat yaitu supervisor atau pimpinan.

Supervisor merupakan perilaku kepemimpinan

yang berfungis untuk memerikasa pekerjaan,

mengevaluasi kerja, memerikasa pekerjaan (Gillies,

2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak

banyak dukungan yang diberikan oleh pemimpin atau

supervisor untuk keselamatan pasien akan meningkatkan

frekuensi keterbukaan dan pelaporan atas insiden

keselamatan pasien.
47

3) Koordinasi

Kegiatan kepemimpinan yang mencakup semua

kegiatan yang memungkinkan staf untuk bekerja

bersama secara harmonis. Koordinasi penting dilakukan

untuk keberhasilan suatu organisasi kesehatan.

Umumnya koordinasi kegiatan sfat terjadi selama

pertemuan kelompok kerja utama karena beberapa

anggota mengkhususkan diri dalam tugas terkait, seperti

kegiatan menyempurnakan tujuan, identifikasi masalah,

dan analisis data.

b. Komunikasi

Kompetensi dalam berkomunikasi menjadi suatu

hal yang penting karena komunikasi efektif berhubungan

dengan pengelolaan dalam penyelesaian konflik.

Komunikasi efektif juga berperan dalam tersosialisasinya

isu pelayananan keperwatan dan siu organisasi.

Komunikais memliki dua aspek penting, yaitu sikap saat

berkomunikasi dan alat untuk berkomunikasi (Wise &

Kowalski, 2005).

Walshe & Boaden (2006) juga berpendapat

budaya keselamatan pasien positif meliputi komunikasi

yang didasarkan pada :

1) Kepercayaan dan transparansi

2) Proses dan alur informasi yang baik


48

3) Persepsi bersama tentang arti penting keselamatan

pasien

4) Perhatian dan pengenalan pada pentingnya

kesalahan.

Elemen peningkatan komunikasi yang efektif

menurut Permenkes (2011) sebagai beikut:

1) Perintah lengkap secara lisan dan melalui telepon

atau hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh

penerima perintah.

2) Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil

pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap oleh

penerima perintah.

3) Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh

pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil

Pemeriksaan

4) Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan

verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui

telepon secara konsisten.

c. Kerja Tim

Tim adalah unsure kehidupan oraganisasi karena

suatu pekerjaan melibatkan orang-orang dengan

berbagai macam keahlian untuk berkerjasama untuk satu

tujuan. Kejadian tim adalah proses dinamis yang

melibatkan dua atau lebih orang dalam suatu aktivitas


49

untuk menyelesaikan suatu tujuan. Hampir semua

pekerjaan rumah sakit dilakukan oleh berbagai disipilin

ilmu contohnya ; tim ruang pembedahan, shift antar

pekerja, dan unit medis dan perawatan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses Tim

1) Tujuan bersama- pengertian bersama tentang tujuan

dan betapa pentingnya komitmen semua anggota

dalam mencapai

2) Komunikasi – saluran amna yang dipilih dan

bagaimana grup terhubung.

3) Manajemen konflik- bagaimana konflik dan perbedaan

pendapat diatasi. Apakah konflik tersebut mendukung

atau/tidak.

4) Pembuat keputusan –bagaimana dan oelh siapa

5) Evalusi performa – bagaimana anggota dihargai,

secara formal atau informal

6) Divisi pekerja – bagaimana pekerjaan ditugaskan

7) Kepemimpinan- bagaimana pemimpin dipilih dan apa

fungsinya

8) Monitor proses – bagaimana tugas diproses dan

diperiksa

9) Bagaimana umpan baliknya

Dirumah sakit, definisi dari tim dan kerja tim

tergantung bagaimana profesi yang berbeda-beda


50

mengatur pekerjaannya. Makary et al (2006) melaporkan

bahwa dokter melakukan kerja tim dengan baik jika

suster juga mengantisipasi kebutuhan dokter dan dapat

mengikuti instruksi dengan baik.

D. Komunikasi

Komunikasi merupakan satu-satunya penghubung

antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Sekarang ini

masyarakat ini menjadi semakin menyadari arti pentingnya

komunikasi, komunikasi sudah menjadi bagian penting bagi

kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan berorganisasi

karena komunikasi merupakan satu- satunya sarana untuk

berinteraksi antara sesama manusia.

Menurut Schramm dan Roberts dalam Nugroho berasal

dari perkataan latin, Communicate yang berarti berpartisipasi,

memberitahu atau menjadi milik bersama. Dalam arti menjadi

milik bersama perkataan communicate masih digunakan

sehingga kini dalam istilah Inggris yaitu common yang berarti

milik bersama.

Fungsi komunikasi secara umum untuk memberikan

penerangan, pendidikan, hiburan dan mempengaruhi seseorang

atau sekelompok orang artinya dengan komunikasi manusia

dapat saling menerima, menyampaikan pikiran, gagasan,

informasi pada seseorang atau sekelompok orang (Wilbur, 199).


51

Adapun kata komunikasi menurut Onong Uchajana

Effendy yaitu berasal dari perkataan bahasa latin :

Communication yang berarti "Pemberitahuan atau "Pertukaran

Pikiran" .

Maka secara garis besar dalam suatu proses komunikasi

yang terdapat unsur- unsur kesamaan makna agar terjadi

suatu pertukaran pikiran atau pengertian antara komunikator

(penyebar pesan) dan komunikasi (penerima Pesan) (Effendy,

1992).

Komunikasi sebagai suatu proses mengenai pembagian

proses primer dan sekunder (Astrid, 1974). Menurut Rogers

dalam Nugroho, proses primer dalam komunikasi adalah

proses komunikasi langsung tanpa penggunaan perantara

yang dapat melipat gandakan jumlah penerima pesan.

Sedangkan proses komunikasi sekunder adalah komunikasi

dengan peralatan teknologi sehingga memungkinkan

komunikator untuk melipat gandakan jumlah penerima pesan

dan melampaui hambatan waktu dan geografis.

Komunikasi mempunyai arti yang sangat penting dalam

kehidupan manusia, karena melalui komunikasi orang

berusaha mendefinisikan sesuatu. Untuk memahami lebih

lanjut mengenai arti penting komunikasi dalam kehidupan

manusia berdasarkan definisi Lasswell dapat diturunkan lima

unsure komunikasi yang saling bergantung satu sama lain,


52

yaitu :

1. Source (Sumber) adalah pihak yang berinisiatif atau

mempunyai kebutuhan untuk komunikasi.

2. Message (Pesan) adalah apa yang dikomunikasikan oleh

sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat

simbol verbal maupun non verbal yang mewakili perasaan,

nilai, gagasan atau maksud sumber tadi.

3. Channel (saluran) merupakan alat atau wahana yang

digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada

penerima.

4. Receiver (Penerima) adalah orang yang menerima pesan

dari sumber.

5. Feedback (Umpan balik) yaitu apa yang terjadi pada

penerima setelah ia menerima pesan yang disampaikan oleh

sumber (Deddy, 2001).

Konsep komunikasi tersebut juga sesuai dengan

konsep komunikasi Carl L Hovland yaitu komunikasi adalah

proses yang memungkinkan seseorang atau komunikator

menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal)

untuk merubah perilaku orang lain (komunikan).

Komunikasi berfungsi sebagai jembatan, yang di

jembatani cita-cita dan aspirasi dengan masyarakat secara

timbal balik, adanya semacam take and give (memberi dan

menerima), aspirasi dan cita-cita masyarakat tertampung


53

sehingga mereka merasa ikut serta dan dengan sendirinya

ada dukungan dan dorongan dari masyarakat. Dalam

melaksanakan perannya (komunikasi) menggunakan

perangkat dari perintah keras yang ada dalam tubuh

organisasi maupun yang terdapat di dalam masyarakat. Sadar

bahwa kegiatan komunikasi adalah kegiatan yang dinamis

dan banyak aspek teknis, psikologis, maupun politis dan

sosiologis, maka humas harus bersikap kreatif, ulet,

pantangan menyerah, selalu terbuka untuk meneruskan mutu

profesi, pengetahuan, serta dedikasi (Widjaja, 2004).

Komunikasi adalah persyaratan kehidupan manusia.

Kehidupan manusia akan tampak hampa atau tiada kehidupan

sama sekali apabila tidak ada komunikasi, interaksi antara

manusia, baik secara perorangan, kelompok ataupun

organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan

melakukan interaksi apabila masing- masing melakukan reaksi

atau aksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan manusia ini (baik

secara perorangan, kelompok atau organisasi), dalam ilmu

komunikasi disebut sebagai tindakan komunikasi (Sasa, 2003).

Secara lebih terinci, kajian ilmiah dalam komunikasi meliputi 4:

1) Komunikasi Antarpribadi (interpersonal communication).

Komunikasi antarpribadi pada dasarnya merupakan jalinan

hubungan interaktif antara seorang individu dan individu lain, di

mana lambang-lambang pesan secara efektif digunakan, terutama


54

lambanglambang bahasa. Konsep “jalinan hubungan” atau

relationship sangat penting dalam kajian komunikasi antar pribadi.

“Jalinan hubungan” adalah seperangkat harapan yang ada pada

partisipan yang dengan itu mereka menunjukkan perilaku tertentu di

dalam berkomunikasi.

2) Komunikasi kelompok (group communication). Bidang kajian ini

pada dasarnya mempelajari pola-pola interaksi antarindividu dalam

suatu kelompok sosial (kelompok kecil), dengan titik berat tertentu,

misalnya pengambilan keputusan. Dalam komunikasi kelompok dan

pengambilan keputusan, istilah kepemimpinan (leadership)

sangatlah penting. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan

memilki dua fungsi, yaitu mempertahankan kelangsungan kelompok

dan pencapaian tujuan.

3) Komunikasi organisasional/institusional (organizational/institutional

communication). Komunikasi organisasional atau institusional

berkenaan dengan komunikasi yang berlangsung dalam jaringan

kerjasama antar pribadi dan/atau antarkelompok dalam suatu

organisasi atau institusi.

4) Komunikasi massa (mass communication) merupakan suatu bentuk

komunikasi dengan melibatkan khalayak luas yang biasanya

menggunakan teknologi media massa, seperti surat kabar, majalah,

radio, televisi, dan internet.

Stewart L Tubbs dan Sylvia maoss dalam buku Human

Communication menguraikan adanya tiga model dalam komunikasi.


55

Pertama model komunikasi linear, yaitu adanya pandangan komunikasi

satu arah (one way communication). Dalam model ini komunikator

memberikan stimulus dan komunikate memberikan respon atau

tanggapan yang diharapkan. Tanpa mengadakan interaksi seleksi dan

interpretasi. Model ini juga biasa disebut sebagai teori jarum hipodermik.

Kedua adalah interaksional, dalam model ini diperkenalkan adanya umpan

balik (feed back). Penerima melakukan seleksi, interpretasi, dan

memberikan respon terhadap pesan dari pengirim. Komunikasi dalam

model ini dipertimbangkan sebagai proses dua arah. Komunikator maupun

komunikate memiliki peran ganda, dalam arti waktu mereka menjadi

sender, pada waktu lain mereka sebagai receiver. Model yang ketiga

adalah transaksional, komunikasi dipahami dalam konteks hubungan

diantara dua orang atau lebih.

Pandangan ini menekankan bahwa semua perilaku adalah

komunikatif, tidak ada satu pun yang tidak bisa dikomunikasikan. Satu

komponen komunikasi dengan komponen yang lainnya. Adapun yang

dimaksud dengan model komunikasi adalah gambaran sederhana dari

proses komunikasi yang memperlihatkan kata antara satu komponen

komunikasi dengan komponen lainnya. Adapun penyajian model dalam

hal ini bertujuan untuk mempermudah memahami proses komunikasi dan

melihat komponen dasar yang perlu ada dalam suatu proses komunikasi

(Arni, 2001).

a. Sifat komunikasi

Ditinjau dari sifatnya komunikasi diklasifikasikan sebagai


56

berikut: komunikasi verbal (verbal communication), meliputi

komunikasi isan (oral communication), dan komunikasi tulisan

(written communication), komunikasi nonverbal (nonverbal

communication) antara lain komunikasi gial (gestural /body

communication) dan komunikasi gambar (pictorial communication),

komunikasi tatap muka (face to face communication) dan komunikasi

bermedia (mediated communication).

b. Tujuan komunikasi

Ditinjau dari tujuannya, komunikasi terbagi empat yaitu : social

change, yakni perubahan sosial. Seseorang mengadakan

komunikasi dengan orang lain, diharapkan adanya perubahan sosial

dalam kehidupannya, seperti halnya kehidupannya akan lebih baik

dari sebelum berkomunikasi, attitude change, perubahan sikap.

Seseorang berkomunikasi juga ingin mengadakan perubahan sikap

yaitu opinion change, perubahan pendapat. Seseorang dalam

berkomunikasi mempunyai harapan untuk mengadakan perubahan

pendapat dan behavior change yaitu perubahan perilaku. Seseorang

berkomunikasi juga ingin mengadakan perubahan perilaku.

c. Tekhnik Komunikasi

Istilah tekhnik berasal dari bahasa Yunani : “technikos” yang

berarti keterampilan atau keperigelan.29 Berdasarkan keterampilan

berkomunikasi yang dilakukan komunikator tekhnik komunikasi

diklasifikasikan yaitu : komunikasi informatif, yaitu memberikan


57

keterangan-keterangan (fakta-fakta), kemudian komunikan

mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri. Dalam situasi tertentu

pesan informatif justru lebih berhasil dari pada persuasif, misalnya

jika audiensi adalah kalangan cendekiawan.

Komunikasi persuasif, yaitu berisikan bujukan. Yakni

membangkitkan pengertian dan kesadaran manusia bahwa apa yang

kita sampaikan akan memberikan perubahan sikap, tetapi perubahan

ini adalah atas kehendak sendiri (bukan dipaksakan). Perubahan

tersebut diterima atas kesadaran sendiri. Komunikasi

instruktif/koersif, yaitu penyampaian pesan yang bersifat memaksa

dengan menggunakan sanksi-sanksi apabila terlaksanakan. Bentuk

yang terkenal dari penyampaian model ini adalah agitasi dengan

penekanan-penekanan yang menimbulkan tekanan batin dan

ketakutan dikalangan publik (khalayak).

Koersif dapat berbentuk perintah-perintah, intruksi dan

sebagainya. Hubungan manusiawi, yaitu bila ditinjau dari ilmu

komunikasi hubugnan manusiawi itu termasuk kedalam komunikasi

antar personal (interpersonal communication), sebab berlangsung

pada umumnya antara lain dua orang secara dialogis. Dikatakan

bahwa hubungan manusiawi itu komunikasi karena action oriented,

mengandung kegiatan mengubah sikap, pendapat, atau perilaku

seseorang.

Menurut Dr. Lassewll, ada lima unsur yang harus ada agar
58

komunikasi ini berjalan, yakni: Who (siapa) yang kemudian disebut

komunikator atau sender (pengirim komunikasi), what (apa) yang

kemudian disebut massege atau pesan komunikasi, whom (siapa)

yang kemudian disebut komunikan atau receiver (khalayak), channel

(media) apa yang kemudian disebut sarana atau media dan effect

(dampak komunikasi) yang kemudian disebut dampak atau efek

komunikasi yang diimplikasikan dalam umpan balik.

F. Kerja Tim

Ada beberapa definisi mengenai tim dari berbagai literatur.

Stueart dan Moran (2002, p. 399) mendefinisikan bahwa tim kerja

adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi dan

mengkoordinasikan pekerjaan mereka agar tercapai tujuan kerja

secara spesifik. Francis and Young menjelaskan tim sebagai kumpulan

dari orang-orang yang penuh semangat dan memiliki tanggung jawab

untuk mencapai tujuan bersama, yang saling bekerja sama dan senang

melakukan tugas-tugasnya, serta mampu menghasilkan hasil yang

terbaik, dalam Stott (1995, p. 25). Suatu tim kerja membangkitkan

sinergi positif lewat upaya yang terkoordinasi. Upaya-upaya individual

mereka menghasilkan suatu tingkat kinerja yang lebih besar daripada

jumlah masukan individual (Robbins, 2001, p. 347).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kerja sama tim adalah

usaha untuk bekerja sama dengan orang lain secara kooperatif dan

menjadi bagian dari kelompok. Bukan bekerja secara terpisah atau


59

saling berkompetisi. Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan

bahwa suatu kelompok dapat dikatakan tim apabila; terdiri dari 2 (dua)

orang atau lebih, saling berinteraksi dan bekerja sama antara anggota

dalam suatu pekerjaan bersama, serta terdapat suatu tujuan bersama

(kolektif) yang ingin dicapai.

a. Perbedaan Tim dengan Kelompok

Setiap tim adalah kelompok, akan tetapi tidak semua kelompok adalah

tim. Tim berbeda dengan kelompok dalam banyak aspek. Cleland

menjabarkan beberapa perbedaan antara tim dan kelompok, dalam

Stueart dan Moran (2002, p. 400), yaitu;

Tim Kelomp
ok
 Membagi dan merotasikan  Memiliki pimpinan yang
peran pimpinan ditunjuk
 Saling berbagi tanggung  Memiliki sedikit sekali
jawab dan wewenang pembagian dari wewenang
atau tanggung jawab
 Memiliki akuntabilitas baik
secara individu maupun  Memiliki akuntabilitas
kelompok secara individu saja
 Memiliki anggota tim yang  Hasil yang diperoleh berkat
bekerja sama untuk usaha tiap individu
menghasilkan sesuatu
 Memiliki produk hasil
 Memiliki produk hasil kerja kerja individu
sama
 Sangat jarang berbagi
 Saling berbagi hasil pengalaman
dan penghargaan
 Berdiskusi, memutuskan,
 Berdiskusi, memutuskan serta mendelegasikan
bersama, dan saling berbagi pekerjaan secara individu.
pekerjaan.
60

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa perbedaan tim dan

kelompok terlihat karena tim lebih memiliki kesatuan dan loyalitas

untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu, tim juga berusaha untuk

dapat saling berbagi pekerjaan dan tanggung jawab antar anggota

sehingga produk (hasil kerja) yang dihasilkan oleh sebuah tim dapat

dikatakan sebagai produk (hasil kerja) bersama.

b. Tipe-Tipe Tim

Tim kerja biasanya dipimpin satu dari dua cara, self-managed dan self-

directed team. Self-managed team adalah tim yang secara mandiri

menyediakan poses kepemimpinannya sendiri (masing-masing dari

anggota tim memiliki kesempatan dan menjajal kemampuan leadership

masing-masing). Self directed- team memiliki seorang pimpinan yang

bertugas mengkoordinasikan segala aktifitas yang dilakukan oleh tim

tersebut.

Lebih lanjut, Robbins (2005) menjelaskan empat tipe tim yang

biasa ditemukan dalam sebuah organisasi, dalam Rizka (2006, p. 13-

14), yaitu:

1. Pemecahan Masalah

Anggota tim ini biasanya berbagi gagasan atau menawarkan

saran mengenai bagaimana proses dan metode kerja dapat

diperbaiki. Tim melakukan pertemuan beberapa jam setiap

minggu untuk berdiskusi mengenai cara-cara meningkatkan

kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja.


61

2. Tim Kerja Pengelolaan-Diri

Tim ini biasanya menjalankan berbagai tanggung jawab dari

atasan, meliputi perencanaan, dan penjadwalan pekerjaaan,

penentuan tugas untuk para anggota, menjalankan keputusan,

mengatasi permasalahan, hingga bekerja dengan pelanggan.

3. Tim Lintas Fungsional

Tim ini terdiri dari para anggota yang berasal dari level pekerjaan

yang sama, tapi berasal dari area kerja yang berbeda, yang

saling bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah tugas.

4. Tim Virtual

Tim yang menggunakan teknologi komputer sebagai sarana

untuk menghubungkan anggota yang berjauhan secara fisik

dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Menggunakan jaringan,

video conference, atau email untuk saling berkomunikasi.

c. Langkah Awal Dalam Pengembangan Tim

Melakukan perekrutan terhadap orang-orang untuk saling bekerja

sama bukanlah sebuah jaminan bahwa suatu tim kerja dapat terbentuk

dengan baik. Sebuah tim haruslah dibangun atau dikembangkan.

Wilson (1996, p. 50-52) dalam Stueart (2002, p. 402-403) menguraikan

langkah awal yang harus diikuti oleh setiap pimpinan tim dalam suatu

tim kerja, agar tercipta suatu tim kerja yang sukses, yaitu:

1. Fokus pada kompetensi (keahlian) dalam memberi tugas kepada

anggota tim
62

2. Bangunlah suatu tujuan tim yang jelas serta segera

komunikasikan tujuan utama yang hendak dicapai

3. Bangunlah suatu deadline (batas waktu) serta peraturan dasar

ketika pertama kali melakukan pertemuan.

4. Pelihara suatu orientasi hasil dari struktur tim

5. Bekali tim dengan iklim kolaborasi/kerja sama serta berbagi

kekuasaan (share power)

6. Upayakan konsensus/kesepakatan.

7. Usahakan menjaga agar tim tetap termotivasi

8. Bangunlah rasa kepercayaan diri bagi tiap tim

9. Bangunlah rasa percaya dan saling menghormati

10. Jadilah fleksibel

11. Lengkapi dengan dukungan eksternal dan apresiasi terhadap

prestasi tim.

Sedangkan Goetsch (2004, p. xvi) memperkenalkan Ten-Step

Model yang patut diikuti untuk efektifnya suatu tim kerja, yaitu;

1. Menetapkan arah dan tujuan yang jelas untuk setiap tim

2. Menetapkan peran dan peraturan dasar yang jelas bagi setiap

tim

3. Menetapkan akuntabilitas untuk setiap kinerja tim

4. Mengembangkan keterampilan kepemimpinan bagi tim

5. Mengembangkan kemampuan komunikasi, baik untuk pemimpin


63

maupun anggota tim

6. Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah bagi

pemimpin maupun anggota tim

7. Menetapkan jabaran definisi terhadap proses pengambilan

keputusan, dan usahakan agar setiap tim berpartisipasi dalam

setiap prroses tersebut.

8. Membangun perilaku tim yang positif, ber-etika serta rasa percaya

di antara anggota tim.

9. Memberikan pengakuan dan penghargaan bagi performa (kinerja)

tim yang efektif

10. Evaluasi berkelanjutan, mengembangkan, dan memperkuat tim.

Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan dan dipertimbangkan

agar penempatan anggota pada suatu tim dilakukan secara tepat

sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap anggota tim. Secara

lebih jelas, Bowen (1998) menekankan bahwa tujuan kegiatan

merupakan faktor utama untuk mempertimbangkan pembentukan tim,

Asrori (2003, p. 114). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tujuan

dari suatu tim merupakan hal utama yang harus

diprioritaskan dalam pembentukan tim.


G. Mapping Teori

Total Safety Culture


1. Faktor Personel
2. Perilaku
3. Lingkungan kerja Penerapan keselamatan Pasien
6 Sasaran Keselamatan Pasien
WHO (2008)
1. Organisasi dan Managerial : 1. Ketepatan Identifikasi Pasien
Kepemimpinan Manager, Komukasi, 2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Kerja Tim 3. Peningkatan Keamanan Obat yang
2. Kerja Tim Perlu Diwaspadai (High-Alert)
3. Pegawai/ Individual : Pengambilan 4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-
kkepitisam kewaspadaan situasi Prosedur, Tepat Pasien Operasi
4. Lingkungan : Lingkungan kerja dan 5. Pengurangan Risiko Infeksi Terkait
bahaya organisasi Pelayanan Kesehatan
6. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
O’donnel and Richard Boyle (2008)
1. Kepemimpinan
2. Tim Work
3. Keterlibatan Pegawai
4. Kebijakan
5. Teknologi
6. Komunikasi

64
Gambar 4. MappingTeori Faktor yang mempengaruhi penerapan Budaya Keselamatan Pasien
H. Kerangka Teori

Dari beberapa teori yang telah menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan pasien

faktor-faktor yang mempengaruhi budaya


keselamatan pasien

Penerapan keselamatan Pasien


1. Organisasi dan Managemen 6 Sasaran Keselamatan Pasien
2. Kepemimpinan
1. Ketepatan Identifikasi Pasien
3. Team Work 2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
4. Komunikasi 3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu
5. Kebijakan Diwaspadai (High-Alert)
4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur,
6. Teknologi Tepat Pasien Operasi
7. Keterlibatan Pegawai 5. Pengurangan Risiko Infeksi Terkait
8. Pengetahuan Pelayanan Kesehatan
6. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
9. Sikap WHO Patient Safety tahun 2007
10. Kompetensi
11. Pengambilan Keputusan
12. Lingkungan Kerja
Who (2009), O’donnel and Richard Boyle
(2008), Total Safety Kultur (2000)

Gambar 5. Modifikasi teori faktor-faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan pasien Who (2009),
O’donnel and Richard Boyle (2008), Total Safety Kultur (2000), WHO Patient Safety (2007).

65
I. Kerangka Konsep

Kepemimpinan

1. Pengarahan
2. Supervisi Penerapan keselamatan Pasien
3. Koordinasi 6 Sasaran Keselamatan Pasien

1. Ketepatan Identifikasi Pasien


Komunikasi 2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
1. Kepercayaan dan Keterbukaan 3. Peningkatan Keamanan Obat yang
2. Proses dan informasi Perlu Diwaspadai (High-Alert)
3. Arti penting keselamatan patient 4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-
4. Perhatian dan pengenalan pentingnya Prosedur, Tepat Pasien Operasi
Keselamatan 5. Pengurangan Risiko Infeksi Terkait
Pelayanan Kesehatan
6. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Kerja Tim WHO Patient Safety tahun 2007
1. Komitmen pada tujuan
2. Komunikais ide dan gagasan
3. Efektivitas interpersonal

Keterangan :
Variabel Independen
Variabel Dependen

66
Gambar 6. Kerangka Konsep
67

J. Defenisi Operasional

Definisi operasional variabel dibutuhkan dalam rangka memberikan

batasan-batasan yang jelas atas variabel yang diteliti dalam penelitian ini.

Adapun definisi operasional variabel penelitian ini yaitu:

a. Kepemimpinan yang dibahas dalam penelitian ini, dihubungkan dengan

perilaku kepemimpinan yang mampu menjadi agen perubahan (Change

Agent) bagi perilaku anggota dalam suatu organisasi yakni pengarahan

(Direction), pengawasan (supervision), serta koordinasi (coordination)

b. Komunikasi yang dibahas dalam penelitian ini adalah proses kompleks

yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan

dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Komunikasi antara kepala

ruangan atau kepala instalasi dengan bawahannya yaitu perawat.

c. Kerja Tim yang dibahas dalam penelitian ini adalah proses dinamis yang

melibatkan dua atau lebih orang dalam suatu aktivitas untuk

menyelesaikan suatu tujuan. Hampir semua pekerjaan rumah sakit

dilakukan oleh berbagai disipilin ilmu contohnya ; tim ruang pembedahan,

shift antar pekerja, dan unit medis dan perawatan.


K. Penelitian Terdahulu

Tabel 3 Penelitian Terdahulu Terkait Judul Penelitian Penulis

No. Judul & Peneliti Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Perbedaan
dengan
Penelitian
Sebelumnya
The relationship Untuk menyelidiki Menggunakan Terdapat hubungan antara Tidak melihat
between patient hubungan antara metode penelitian budaya keselamatan pasien semua unit di
1. safety budaya retrospektif. dan tingkat kejadian tidak rumah sakit namun
culture and keselamatan Budaya diinginkan pada level unit beberapa unit saja
adverse events: pasien dan tingkat keselamatan pasien rumah sakit. Unit yang memiiki
a study in kejadian yang diukur dengan budaya keselamatan pasien
palestinian tidak diharapkan menggunakan yang positif, tingkat kejadian
hospitals (Najjar pada level unit di Survey Budaya yang tidak diharapkan juga
et al., 2015) Rumah Sakit Keselamatan lebih rendah
Palestina Pasien Rumah
Sakit (HSOPSC)
dan Kejadian Tidak
Diinginkan diukur
dengan
menggunakan IHI
Global Trigger Tool
Exploring the Untuk menyelidiki Penelitian dilakukan Penyebab kejadian tidak 1. Hanya meneliti
causes of penyebab pada 21 rumah diinginkan dikelompokkan atas faktor organisasi

68
adverse events kejadian tidak sakit di Belanda. empat kategori yaitu tekhnikal,
2. in Hospitals and diinginkan dan Reviewer yang organisasi, manusia/individu, dan pengaruhnya
Potential strategi sudah dilatih dan faktor pasien. Pada faktor terhadap insiden
Prevention pencegahan untuk diminta untuk organisasi terdapat faktor keselamatan
Strategies (Smits meminimalisir memilih semua budaya. Faktor organisasi pasien
et al., 2012) peluang terjadinya faktor yang berkontribusi 14 % dalam 2. Tidak menghitung
kejadian tidak berkontribusi menyebabkan terjadinya KTD persentase
diinginkan di terhadap kejadian kontribusi faktor
rumah sakit yang tidak terhadap terjadinya
diinginkan insiden
Intensive Care Untuk menguji Penelitian 1. Dimensi budaya Outcome
Unit Safety hubungan budaya merupakan keselamatan pasien yang pelayanan pasien
Culture and keselamatan penelitian kohort. berhubungan dengan yang diteliti hanya
Outcomes dengan outcome Terdapat 30 ICU kematian pasien hanya terjadinya insiden
(Huang et al., pasien pada yang menjadi persepsi terhadap tidak melihat
2010) Intensive Care tempat penelitian, manajemen. outcome pelayanan
Unit pada Bulan Januari 2. Dimensi budaya yang lain seperti
2001- keselamatan pasien yang LOS
3. Maret 2005. berhubungan dengan lama
Instrumen yang rawat pasien adalah iklim
digunakan dalam keselamatan pasien,
menilai budaya persepsi terhadap
keselamatan manajemen, dan kepuasan
adalah Safety kerja.
Attitudes
Questionnaire-ICU
Version

69
Exploring Untuk menguji Menggunakan Rumah sakit yang memiliki Tidak
relationships hubungan budaya regresi berganda, budaya keselamatan pasien menghubungkan
4. between hospital keselamatan data mengenai yang positif, tingkat komplikasi budaya
patient safety pasien (AHRQ budaya dan kejadian tidak diinginkan keselamatan
culture and Survey on Patient keselamatan pasien akan rendah dengan pasien dengan
adverse events Safety Culture) dikumpulkan pada menggunakan AHRQ Patient kejadian komplikasi
(Mardon et al., dengan tingkat tahun 2005 dan Safety Indicators (PSIs). yang terjadi pada
2010) komplikasi dan 2006 sedangkan Dimensi yang paling pasien
kejadian tidak data kejadian tidak berpengaruh terhadap insiden
diinginkan di diinginkan diambil keselamatan pasien adalah
rumah sakit ( pada tahun 2005 pergantian shift dan
AHRQ Patient dari 179 rumah perpindahan pasien
Safety Indicators) sakit
Organizational Untuk meneliti Responden 1. Budaya keselamatan pasien Tidak melihat
Safety Culture hubungan antara penelitian sebanyak baik pada tingkat organisasi, pengaruh budaya
5. and Medical budaya 247 perawat yang unit, maupun individu keselamatan
Error Reporting keselamatan bekerja pada berhubungan negatif pasien terhadap
by Israeli Nurses pasien dengan pelayanan dengan rata-rata kejadian pelaporan insiden
(Kagan & insiden dan rata- kesehatan di Israel. medical errror
Barnoy, 2013) rata pelaporan Statistik yang 2. Budaya keselamatan
medical error oleh digunakan dalam merupakan faktor utama
perawat di Israel penelitian ini adalah yang memberikan pengaruh
uji regresi berganda terhadap pelaporan insiden
keselamatan pasien
The relationship Untuk Penelitian dilakukan 1. Budaya keselamatan pasien Penelitian tidak
between patient memberikan 28 unit rawat inap yang tinggi berhubungan hanya dilakukan
6. safety culture gambaran dan gawat darurat dengan rendahnya kejadian pada unit rawat

70
and adverse persepsi perawat pada tiga rumah yang tidak diinginkan inap dan unit gawat
events: A mengenai budaya sakit umum di 2. Dimensi budaya darurat melainkan
questionnaire keselamatan Guanzhou, Cina. keselamatan pasien yang unit- unit yang
survey (Wang et pasien dan Responden berhubungan dengan berhubungan
al., 2013) frekuensi kejadian sebanyak 463 kejadian yang tidak dengan pelayanan
tidak diinginkan perawat. Uji statistik diinginkan adalah pasien
serta menguji yang digunakan pembelajaran organisasi &
hubungan budaya adalah regresi perbaikan berkelanjutan
keselamatan logistik berganda serta frekuensi pelaporan
pasien dengan kejadian
frekuensi kejadian
tidak diinginkan
Prevalence and Untuk mengetahui Penelitian ini 1. Terdapat 211 pasien yang 1. Penelitian
consequences of kejadian insiden merupakan teridentifikasi mengalami merupakan cross
7. patient safety keselamatan penelitian insiden keselamatan pasien. sectional study
incidents in pasien meliputi retrospektif dengan Faktor organisasi,faktor 2. Hanya melihat
general practice jenis-jenis insiden melihat data rekam perawatan, faktor komunikasi, faktor budaya
in the dan angka medis pasien dari faktor diagnosis, faktor keselamatan dan
Netherlands: a kejadiannya serta 1000 pasien pada pencegahan, dan faktor triase pengaruhnya bagi
retrospective faktor-faktor yang Rumah Sakit diindentifikasi menjadi faktor insiden dan tidak
medical record menyebabkan Belanda penyebab insiden melihat pengaruh
review study inisiden 2. Faktor organisasi meliputi faktor lainnya
(Gaal et al., keselamatan faktor eksternal, peraturan,
2011) pasien perpindahan pengetahuan,
prioritas manajemen, dan
budaya keselamatan pasien

71
The role of Untuk menguji Penelitian Dari 11 dimensi budaya Penelitian hanya
patient safety hubungan budaya merupakan cross- keselamatan pasien yang dilakukan pada
8. culture in the keselamatan sectional study. diteliti hanya tiga dimensi yang satu rumah sakit
causation of pasien dengan Penelitian dilakukan berhubungan dengan budaya
unintended kejadian tidak di 28 keselamatan pasien yaitu
events in diinginkan di unit pada 20 rumah respon tidak menyalahkan
hospitals rumah sakit sakit di Belanda. ketika terjadi kesalahan,
( Marleen Smits, dukungan manajemen, dan
Cordula Wagner kemauan untuk melaporkan
et al., 2012) kesalahan. Kemauan untuk
melaporkan kesalahan
menjadi dimensi yang paling
mempengaruhi terjadinya
kejadian tidak diinginkan
Development of Untuk Penelitian- Berdasarkan review yang Hanya melihat
an evidence- mengembangkan penelitian dilakukan pada beberapa pengaruh faktor
9. based kerangka mengenai faktor penelitian yang memenuhi organisasi terhadap
framework of mengenai faktor yang berkontribusi kriteria inklusi diperoleh faktor- insiden dan tidak
factors yang berkontribusi terhadap insiden faktor yang mempengaruhi melihat pengaruh
contributing to terhadap insiden keselamatan pasien insiden keselamatan pasien. faktor lainnya
patient safety keselamatan dikumpulkan dan Faktor-faktor tersebut adalah
incidents in pasien dari dipilih yang kegagalan aktif, sistem
hospital settings penelitian- memenuhi kriteria komunikasi, peralatan,
: a systematic penelitian yang inklusi kebijakan eksternal, faktor
review meneliti faktor- individu, ketanggapan,
(Lawton et al., faktor yang manajemen SDM dan level
2012) berkontribusi staffing, faktor pasien,

72
terhadap insiden lingkungan fisik, kebijakan dan
keselamatan prosedur, budaya
pasien di rumah keselamatan, beban kerja,
sakit kepemimpinan dan supervisi,
karakteristik tugas, faktor tim,
pendidikan
dan pelatihan.
11. The Effect of Untuk melihat Penelitian Beberapa komponen kunci Penelitian penulis
Organizational hubungan antara dilaksanakan di dari budaya keselamatan berfokus pada dua
Culture on budaya beberapa rumah pasien yaitu kepemimpinan, belas dimensi
Patient Safety keselamatan sakit di Inggris kerjasama tim, dan belajar dari budaya
(McCaughan, pasien dengan kesalahan berpengaruh keselamatan
2013) keselamatan terhadap keselamatan pasien pasien bukan
pasien secara khusus dan mutu hanya pada
rumah sakit secara umum kepemimpinan dan
kerjasama tim
12. Factors Untuk mengetahui Sebanyak 218 Budaya keselamatan pasien Kuesioner
Influencing faktor yang responden merupakan faktor yang dapat keselamatan
Patient Safety in mempengaruhi digunakan dalam mempengaruhi keselamatan pasien
Sweden : keselamatan penelitian ini, pasien. Budaya keselamatan menggunakan
Perceptions of pasien di rumah instrumen pasien akan menciptakan enam sasaran
Patient Safety sakit penelitian kebiasaan untuk melakukan keselamatan
Officers in The menggunakan analisis akar masalah pasien.
Country Councils kuesioner keselamatan pasien dan
(Nygren, 2013) menghilangkan budaya
menyalahkan ketika terjadi
insiden

73
keselamatan pasien.
74

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan

menggunakan pendekatan fenomenologi yang merupakan jenis penelitian

kualitatif yang melihat secara dekat interpretasi individual tentang

pengalaman-pengalamnnya (Sugiarto 2015 dalam Finriani 2016).

B. Pengelolaan Peran sebagai Peneliti

Informasi yang didapat oleh peneliti mengenai penerapan

keselamatan pasien di instalasi rawat inap, hingga observasi penerapan

keselamatan pasien yang telah dilaksanakan oleh RSUD Inche Abdoel

Moeis, dan pencapaian penerapan keselamatan pasien. Informasi yang

didapat oleh peneliti kemudian dieksplorasi oleh peneliti sebagai

instrument penelitian. Suasana lingkungan rumah sakit, instalasi rawat

inap diciptakan sedemikian rupa pada waktu melakukan penjejakan

maupun pada waktu melakukan eksplorasi data, peneliti menciptakan

suasana santai dan bersahabat tanpa kecurigaan, sehingga para informan

tidak merasakan bahwa percakapan yang sedang dilakukan adalah

wawancara dan observasi.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap RSUD

Inche Abdoel Moeis,Samarida Kalimantan Timur pada bulan Agustus-

Oktober 2017.
75

D. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

data sekunder.

1. Data Primer, data yang didapat dari obyek penelitian melalui :

a. Wawancara mendalam (in depth interview)

Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan yang

mengetahui permasalahan secara mendalam, dimana informan

tersebut mampu dan memiliki pengetahuan luas serta bersedia

memberikan informasi dengan baik yakni :

1) Kepala instalasi Rawat inap dan rawat jalan, yang terlibat

langsung dalam proses kegiatan penyelenggaraan penerapan

keselamatan pasien.

2) Perawat, Bidan dan tenaga kesehatan lainya, dimana mereka

yang terlibat langsung pada proses penerapan keselamatan

pasien.

b. Pengamatan (Observasi)

Metoda ini dilakukan dengan cara mengamati langsung

terhadap keseharian informan dalam melaksanakan tugasnya,

dimana metode ini dapat membantu menjelaskan data yang

didapatkan melalui teknik wawancara mendalam atau dengan kata

lain dilakukan sebagai suatu bentuk triangulasi guna menjamin

validitas data yang telah didapatkan. Hal tersebut dimaksudkan

untuk mengetahui kesesuaian antara ketentuan yang telah

ditetapkan dengan pelaksanaannya.


76

2. Data Sekunder, data ini diperoleh dari hasil pemeriksaan/ telaah

dokumen dan laporan-laporan yang terkait dengan obyek penelitian

yaitu berupa :

a. Dokumen struktur organisasi instalasi Rawat inap

b. Dokumen uraian tugas pokok dan fungsi

c. Survei budaya keselamatan pasien yang telah dilaksanakan

d. Survey pencapaian pelaksanan keselamatan pasien

e. Dokumen Angka kejadian insiden keselamatan pasien

E. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini dengan

menggunakan metode wawancara, dokumentasi, rekaman arsip,

observasi dan metode dokumentasi.

1. Metode interview (wawancara )

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk

mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden yang

didasarkan pada laporan tentang diri sendiri atau self report atau

pengetahuan dan atau keyakinan pribadi (Sugiyono, 2009).

2. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang

bersumber pada hal-hal yang tertulis seperti buku-buku, majalah,

dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan

sebagainya (Arikunto dalam Listiani, 2006). Dalam penelitian ini,

metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang

berhubungan dengan alur pelayanan di instalasi rawat inap.

3. Rekaman arsip, dapat berbentuk manual atau terkomputerisasi berupa


77

bagan rumah sakit, struktur organisasi instalasi rawat inap.

4. Observasi dengan peneliti mengamati secara langsung kondisi di

lapangan, baik berupa keadaan fisik maupun perilaku yang terjadi

selama berlangsungnya penelitian.

F. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data dimulai dengan cara mengatur urutan data

dengan cara mengorganisir data yang telah terkumpul, baik dari hasil

wawancara mendalam, telaah dokumen, catatan lapangan, serta foto

yang diambil sebagai bahan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian

dikategorikan dan dipilah-pilah.Pemilahan dan pengkategorisasian data

tersebut bertujuan untuk menemukan tema.

Teknik analisa data dalam penelitian ini mengikuti petunjuk Miles

dan Huberman (Maleong, 2002) yang melalui tiga alur sebagai berikut :

1. Reduksi data

Pertama-tama adalah melakukan pemilahan, pemusnahan,

penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang

ada yang ditemukan di lapangan, memilih dan mengelompokkan data,

serta membuang data yang tidak diperlukan.

2. Penyajian data

Alur analisis yang kedua adalah menyajikan data yang telah dianalisis

pada alur pertama, kemudian disajikan dalam bentuk naratif.

3. Penarikan kesimpulan

Alur selanjutnya adalah mencari makna atau hal-hal yang spesifik

untuk diangkat sebagai alur sebab akibat.


78

G. Pengecekan Validitas Temuan

Untuk menjamin keabsahan data, maka peneliti melakukan

pengumpulan data dengan beberapa metode yaitu : dengan teknik

triangulasi dengan pengumpulan data dari informan yaitu kepala instalasi

rawat inap, Perawat, Bidan dan tenaga kesehatan lainnya yang bertugas

diintalasi rawat inap.

1. Teknik triangulasi data, dengan maksud agar data yang telah

terkumpul dapat dilacak keabsahannya.

2. Teknik triangulasi sumber, dengan wawancara mendalam untuk

mengecek data dengan fakta dari sumber lain, data dari masing-

masing informan, telah dicocokkan dan dibandingkan dengan informan

lainnya untuk meyakinkan keabsahan data.

3. Teknik triangulasi, metode pengambilan data untuk keabsahan data

BAB IV.
79

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat

.Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarka

kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan,

persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan

keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi social (Undang-undang no

44 tentang Rumah Sakit, 2009)

Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuan

masing-masing berinteraksi satu sama lain. Ilmu pengetahuan dan

teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus diikuti

oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu

membuat semakin kompleksnya permasalahan dalam Rumah Sakit

(Manajemen Sumber Daya Manusia, 2012).

Wujud dari pelaksanaan Otonomi Daerah, dalam rangka

meningatkan pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam hal pelayanan

kesehatan ditingkat kota Samarinda, maka pemerintah kota Samarinda

membangun Rumah Sakit Umum Daerah I.A.MOEIS. Berdasarkan

PERDA No 8 Tahun 2007. RSUD merupakan bagian dari Perangkat

Daerah berupa Lembaga Teknis Daerah. Sebagai unsur pendukung tugas


80

Kepala Daerah yang diberikan wewenang otonomi menyelenggarakan

Pelayanan Kesehatan masyarakat yang diberikan kewenangan

memberikan pelayanan pada semua jenis penyakit dan sesuai dengan

bidang manejemen rumah sakit kelas C sesuai surat keputusan menteri

kesehataan No.1216/Menkes/SK.XI/2007.

Rumah Sakit Umum Daerah Inche Abdoel Moeis milik

Pemerintah Kota Samarinda yang dibangun pada awal 2006 di wilayah

Samarinda Seberang. Dioperasionalkan oleh Pemerintah Kota Samarinda

pada tanggal 24 Januari tahun 2007 diawali dengan pelayanan Unit

Gawat Darurat dan Poliklinik Rawat Jalan dengan kualifikasi kelas C

terletak di atas tanah seluas 12,4 Ha dengan bangunan yang didirikan

seluas 12.175,06 M2. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh bapak

Walikota pada tanggal 1 September 2007. Merupakan bangunan gedung

berlantai dua, berlokasi di jalan H.A.M.M Rifaddin Samarinda Seberang,

Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Samarinda Seberang. Memiliki

jumlah tempat tidur 112 buah, dengan tingkat hunian 55% pertahun.

Wilayah jangkauan pelayanan Rumah sakit meliputi Samarinda Seberang

sampai dengan Palaran hingga perbatasan Kabupaten Kutai Kartanegara

dan Kabupaten Kutai Timur.

Berlakunya Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional

serta penerapan Jaminan Kesehatan Nasional pada 1 Januari 2014

berhubungan dengan perubahan kebijakan sistem pembiayaan kesehatan

dan rujukan pelayanan kesehatan secara berjenjang. Hal ini memberikan

dorongan untuk mengembangkan Rumah Sakit menuju Rumah Sakit


81

kelas B ,mengingat posisi Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis secara

geografis terletak di poros jalan utama Trans Kalimantan maka dapat

dikembangkan menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional Provinsi

Kalimantan Timur yang mengampu tiga wilayah yaitu Samarinda, Kutai

Kartanegara, Kutai Barat.Sesuai dengan Permenkes nomor 56 tahun

2014 tentang kalsifikasi Rumah sakit penulis tertarik dengan dua unit yaitu

pelayanan di kamar Operasi dan laboratorium patologi klinik di RS I A

Moeis ,

Unit bedah memiliki 19 orang tenaga perawat dan dibawahi oleh

dokter spesialis bedah,rata-rata tindakan operasi 10 kali perhari, data

tindakan operasi tahun 2013, 855 kasus, 2014, 1560 kasus dan 2015,

2057 kasus. Dengan pertumbuhan operasi 1,32 maka termasuk dalam

criteria baik `A` hal ini menurut PP direktur jendral perbendaharaan

kemenkeu nomor 54/PB/2013 tentang Pedoman Penilaian kinerja satuan

kerja Badan Layanan Umum bidang layanan kesehatan. Namun dari hasil

komunikasi dengan petugas masih merasa belum optimal terutama terkait

dengan Sumber daya manusia di unikt Bedah ini, jumlah kamar bedah

yang sedikit, dan banyaknya operasi yang harus dirujuk ke RS lain terkait

tipe RS di Era JKN.

Instalasi laboratorium patologi klinik memiliki 10 orang petugas

analis laboratorium dibawah kepala ruangan satu orang.data pemeriksaan

tahun 2013, 19611, tahun 2014 , 27573 , dan tahun 2015 , 26268, terjadi

penurunan pemeriksaan laboratorium patologi klinik di RS I A Moeis,

dengan pertumbuhan laboratorium 0,46 yaitu criteria `C`,Dengan latar


82

belakang ini maka penulis akan mempelajari dan menemukan permasalah

yang terjadi di 2 unit ini dan menawarkan solusi kepada pihak RSUD Inche

Abdul Moeis Kota Samarinda.

2. Organisasi dan Manajemen

a. Visi

Visi Rumah Sakit I.A.Moies yaitu: Menjadi Rumah Sakit yang Unggul

Pilihan Masyarakat.

b. Misi

1. Mengembangkan kompetensi sumber daya manusia Rumah Sakit

dalam pengembangan knowledge, skill, dan attitude.

2. Memberikan pelayanan yang berstandar mutu dan dikemas santun

yang berdampak kepada peningkatan kesejahteraan karyawan.

3. Mengembangkan bangunan RS yang menarik, nyaman, dan

berfungsi secara optimal untung mendukung vsi Samarinda.

4. Menyediakan peralatan medis yang canggih dan mutahir sesuai

ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran agar mempunyai daya

saing sehingga dapat meningkatkan kelas RS menjadi kelas B.

5. Mengembangkan perangkat manajemen yang inovatif dan

responsive yang mampu menjawab tantangan RS dimasa akan

dating dalam rangka peningkatan good govermance yang dinamis.

6. Berperan aktif dalam menurunkan kematian ibu dan bayi di Kota

Samarinda menuju percepatan pencapaian millennium

development goals.
83

c. Tujuan

Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah Inche Abdoel Moeis, yaitu :

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia rumah

sakit.

2. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung kerja rumah sakit.

3. Mengembangkan Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit.

4. Meningkatkan kualitas manajemen yang inovatif, responsif dan

akuntabel.

5. Teraihnya peningkatan status rumah sakit menjadi kelas B

pendidikan.

d. Falsafah

Sebagai Rumah Sakit yang selalu siap memberikan pelayanan

kesehatan secara menyeluruh sesuai dengan perkembangan teknologi

dan kebutuhan masyarakat termasuk bagi mereka yang berkekurangan.

e. Badan Hukum

Rumah Sakit Umum Daerah Inche Abdoel Moeis milik

Pemerintah Kota Samarinda yang dibangun pada awal 2006 di wilayah

Samarinda Seberang. Dioperasionalkan oleh Pemerintah Kota

Samarinda pada tanggal 24 Januari tahun 2007 diawali dengan

pelayanan Unit Gawat Darurat dan Poliklinik Rawat Jalan dengan

kualifikasi kelas C terletak di atas tanah seluas 12,4 Ha dengan

bangunan yang didirikan seluas 12.175,06 M2. Pembukaan secara

resmi dilakukan oleh bapak Walikota pada tanggal 1 September 2007.

Merupakan bangunan gedung berlantai dua, berlokasi di jalan H.A.M.M

Rifaddin Samarinda Seberang, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan

Samarinda Seberang. Memiliki jumlah tempat tidur 112 buah, dengan


84

tingkat hunian 55% pertahun. Wilayah jangkauan pelayanan Rumah

sakit meliputi Samarinda Seberang sampai dengan Palaran hingga

perbatasan Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur.

3. Jenis Pelayanan

a. Pelayanan Rawat Jalan

1. Poliklinik Umum

2. Poliklinik Spesialis, terdiri atas Penyakit dalam, Spesialis bedah,

poli anak, Poli Jantung, Poli Anak, Poli Bedah, Poli Obgyn, Poli

Syaraf, Poli Mata, Poli Kulit dan Kelamin, Penyakit dalam.

3. Instalasi Gawat Darurat, terdiri atas pelayanan IGD Bedah

b. Pelayanan Rawat Inap

c. Pelayanan Penunjang Medis dan Terapi

1. Instalasi Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan kimia darah,

pemeriksaan hematologi, pemeriksaan serologi, pemeriksaan

bakteriologi, pemeriksaan liquor, pemeriksaan transudat dan

exudat, pemeriksaan urine, dan pemeriksaan tinja.

2. Instalasi Radiologi, terdiri atas pelayanan foto tanpa bahan

kontras, foto dengan bahan kontras, Computerized Radiografi

(CR), CT Scan dan USG.

3. Medical Check-Up

4. Instalasi Farmasi

5. Instalasi Fisioterapi, terdiri dari Exercise Therapy, Electro

Therapy (Diathermi / UKG, Ultrasonic, Interferensi, Traksi

Cervical, Traksi Lumbal).

d. Penunjang Media Lainnya

1. Hemodialisa
85

2. Instalasi Gizi

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Inche

Abdoel Moeis dengan jumlah 20 informan. Hasil penelitian akan

dijelaskan di bawah ini.

1. Karakteristik Informan

Instalasi rawat inap merupakan tempat analisis yang menjadi

objek penelitian. Informan dipilih secara purposive sampling dengan

menyesuaikan pada tujuan penelitian.

Dalam penelitian ini peneliti berhasil memperoleh informan dengan

total 8 orang informan. Informan tersebut antara lain Direktur, Wakil

Direktur Pelayanan, Dokter Rawat Inap, Dokter Rawat Jalan, Kepala

Instalasi Rawat Inap, Kepala instalasi Rawat Jalan, Kepala Ruangan

Rawat Inap, Kepala Ruangan Rawat Jalan.

Adapun untuk lebih jelasnya karakteristik informan dapat dilihat

pada table sebagai berikut.

Tabel 4
Karateristik Informan di RSUD I.A.Moeis Samarinda Tahun 2017

Inisial Informan
No. Jabatan Tempat Tugas
1 Informan I Direktur Manajemen
Wakil Direktur Pelayanan Manajemen
2 Informan II
Dokter Rawat Inap
3 Informan III Instalasi Rawat
Inap
Dokter Rawat Jalan
4 Informan IV Instalasi Rawat
Jalan
Kepala Instalasi Rawat
5 Informan V Instalasi Rawat
Inap
Inap
Kepala Instalasi Rawat
6 Informan VI Instalasi Rawat
jalan
Jalan
7 Informan VII Kepala Ruangan Rawat Instalasi Rawat
Inap Inap
8 Informan VIII Kepala Ruangan Rawat Instalasi Rawat
Jalan Jalan
86

B. Hasil Penelitian

Untuk mencapai tujuan umum penelitian yaitu mendapatkan

informasi mengenai analisis penerapan keselamatan pasien. Adapun

tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis gaya kepemimpinan,

komunikasi, kerja tim yang dilakukan di RSUD Ichae Abdoel Moies

Samarinda Tahun 2017.

1. Kepemimpinan

Ada 3 domain perilaku kepemimpinan yang mampu menjadi agen

perubahan (Change Agent) bagi perilaku anggota dalam suatu organisasi

yakni pengarahan (Direction), pengawasan (supervision), serta koordinasi

(coordination) (Gilles, 1994).

1) Pengarahan

a. Delegasi wewenang Direktur dan Wakil Direktur Pelayanan

terhadap bawahannya terkait penerapan keselamatan pasien

Berdasarkan wawancara tentang delegasi wewenang kepala ruangan,

diperoleh informasi yaitu :

“saya kan baru menjabat Direktur di rumah sakit ini pada


bulan Januari, saya juga akan membentuk tim keselamatan
pasien untuk dapat mengevaluasi program-program keselmatan
pasien, saya juga telah mendelegasikan wewenang saya
kepada bahawan tentang penerapan keselamatan pasien agar
melaporkan insiden kecelakaan yang terjadi, saya juga
memberitahu bawahan untuk mengutamakan keselamatan
pasien, saya juga sering turun langsung kelapangan untuk
melihat keadaan”.
(Informan I)
“Saya selalu mendelegasikan wewenang saya kepada
bawahan apalagi menyangkut penerapan keselamatan pasien,
selalu saya sampaikan kepada karyawan, selalu saya ingatkan
karyawan, saya selalu melakukan pengawasan juga”.
(Informan II)
87

“Kalau Direktur dan Wadir Pelayanan memang selalu


memberi tahu agar mengutamakan keselamatan pasien, cuma
penerapannya yang belum maksimal karena apabila terjadi KTD
atau KNC kami langsung melaporkan ke Kepala Ruangan,
tetapi selanjutnya kepala ruangan tidak melaporkan ke bagian
manajemen karena takut diberi sanksi”
(Informan III)

“Kalau delegasinya Direktur dan Wadir Pelayanan tentang


penerapan keselamatan pasien sangat baik caranya, Cuma
yang bagian manajemen itu atau diatas kami yang tidak ada
tindaklanjutnya kalau kami melaporkan masalah kayak KNC dan
KTD”
(Informan IV)

“Wewenangnya Direktur dan Wadir Pelayanan itu tentang


penerapan keselamatan pasien sangat baik menurut aku, sering
sekali kami diberitahukan untuk mejaga keselamatan pasien,
aku kira untuk bagaimana penerapannya belum maksimal sihh
kan disini tuh kalau melaporkan hal-hal seperti juga tidak ada
tindaklanjut”
(Informan V)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang delegasi

wewenang Direktur dan Wadir Pelayanan terhadap bawahannya terkait

penerapan keselamatan pasien diperoleh informasi bahwa semua

informan mengatakan bahwa kepala ruangan telah mendelegasikan

wewenangnya agar menerapkan keselamatan pasien di instalasi tersebut

tetapi mereka takut untuk melaporkan masalah keselamatan pasien ke

bagian manajemen karena tidak pernah ditindaklanjuti untuk laporan

tersebut sehinga membuat penerapan keselamatan belum maksimal.

b. Pemberian penghargaan oleh Direktur dan Wadir Pelayanan

bagi yang memiliki kinerja baik dalam meningkatkan program

keselamatan pasien

Berdasarkan wawancara tentang pemberian penghargaan Direktur dan


88

Wadir Pelayanan, diperoleh informasi yaitu :

“saya baru akan memberikan penghargaan bagi karyawan yang


memiliki kinerja baik dalam meningkatkan program keselamatan
pasien, karena selama ini tidak pernah dilakukan oleh pimpinan
yang sebelumnya”.
(Informan I)
“Saya akan membuat program seperti itu agar bisa
meningkatkan kinerja karyawan terhadapa penerapan
keselamatan pasien, agar memotivasi karyawan juga”.
(Informan II)
“Tidak pernah ada penghargaan yang di berikan sama kami
apalagi kalau masalah keselamatan pasien”
(Informan III)
“Setau saya tidak pernah kami di kasi penghargaan begitu”
(Informan IV)
“Tidak pernah, itukan keselamatan pasien hal sangat penting di
rumah sakit seharusnya sih ada supaya kami lebih termotivasi
untuk meningkatkan keselamatan pasien”
(Informan V)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pemberian


penghargaan oleh Direktur dan Wadir Pelayanan yang memiliki kinerja
baik dalam meningkatkan program keselamatan pasien yaitu semua
informan mengatakan bahwa mereka tidak pernah diberikan penghargaan
untuk yang memiliki kinerja baik dalam meningkatkan program
keselamatan pasien.

c. Pemberian sanksi oleh Direktur dan Wadir Pelayanan yang


tegas terhadap kesalahan yang dilakukan oleh karyawan terkait
penerapan keselamatan pasien
Berdasarkan wawancara tentang pemberian sanksi oleh Direktur dan

Wadir Pelayanan, diperoleh informasi yaitu :

“saya selalu memberitahu bawahan saya apabila terjadi


kesalahan yang dilakukan oleh karyawan terkait penerapan
keselamatan pasien maka saya akan memberi sanksi tegas
terhadap mereka.”
(Informan I)
89

“saya Wadir Pelayanan memang tidak pernah memberi sanksi


tegas karena selama ini belum ada kesalahan besar dalam
keselamatan pasien tapi kalau ada maka saya tidak segan-
segan untuk memberi sanksi kepada karyawan”.
(Informan II)

“Tidak pernah, karena melapor ke bagian atas yang ujung-


ujungnya tidak ada tindaklajut”
(Informan IV)
“Paling cuma diberi peringatan biasa, tidak pernah ada sanksi
tegas, nah itu yang membuat belum maksimal penerapan
keselamatan pasien di rumah sakit ini”
(Informan V)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pemberian sanksi


oleh Direktur dan Wadir Pelayanan yang tegas terhadap kesalahan yang
dilakukan oleh karyawan terkait penerapan keselamatan pasien yaitu
semua informan mengatakan bahwa kepala ruangan tidak pernah
memberikan sanski yang tegas hanya saja cuma di beri peringatan biasa
terhadap kesalahan yang dilakukan oleh karyawan terkait penerapan
keselamatan pasien.

2) Supervisi

a. Direktur dan Wadir Pelayanan memberikan kebebasan kepada

karyawan yang ingin memberikan pendapat terkait issue

penerapan keselamatan pasien?

Berdasarkan wawancara tentang kebebasan menyatakan pendapat dan

memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk diterapkan, diperoleh

informasi yaitu :

“Kalau kami kadang bebas menyatakan pendapat kadang tidak


bebas apalagi memberi usulan kebijakan”
(Informan VIII)
90

“kadang terbatas sekali kalau kami memberi usulan kebijakan”


(Informan V)

“kadang kalau masalah menyatakan pendapat dan kasi usulan


disini sangat terbatas, karena Cuma orang-orang yang lebih
tinggi yang bisa”
(Informan IV)

Kami yang orang bawah terbatas kalau memberi masukan


ataupun usulan seperti itu.
(Informan VII)

“Terbatas sekali menurut ku itu harus juga meminta pendapat


sama kami ini yang kepala ruangan krn kami yang jalankan di
instalasi”
(Informan III)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kebebasan


menyatakan pendapat dan memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk
diterapkan yaitu semua informan menyatakan bahwa mereka sangat
terbatas untuk menyatakan pendapat dan memberi usulan kebijakan yang
sesuai untuk diterapkan, hanya untuk orang- orang pihak atas yang
mengatur.
b. Direktur dan Wadir Pelayanan selalu memberikan bimbingan

dan dorongan kepada karyawan terkait penerapan

keselamatan pasien?

Berdasarkan wawancara tentang pemberian bimbingan dan dorongan

kepada karyawan terkait penerapan keselamatan pasien, diperoleh

informasi yaitu :

“Saya selalu kasi bimbingan dan dorongan kepada staf apalagi


kalau rapat saya selalu informasikan untuk bisa terus
meningkatkan penerapan keselamatan pasien”.
(Informan I)

“Saya sebagai wakil direktur pelayanan harus selalu


mengingatkan, membimbing apalagi memberikan dorongan
dalam peningkatan keselamatan pasien supaya bisa
91

mengurangi angka insiden kecelakaan”.


(Informan II)

“Iya, selalu diberi bimbingan, dorongan sama wadir pelayanan


dan direktur apalagi kalau sedang rapat dengan mereka pasti
kami membahas bagaimana peningkatan penerapan
keselamatan pasien dirumah sakit ini. Mereka selalu
mengingatkan kami tentang hal itu”.
(Informan IV)

“Direktur dan Wadir Pelayanan selalu mengingatkan untuk


mengurangi insiden kecelakaan pada pasien, kami juga diberi
bimbingan dan motivasi untuk hal itu. Jadi saya kira untuk
bimbingan kami selalu di bimbing dengan mereka”.
(Informan V)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pemberian

bimbingan dan dorongan kepada karyawan terkait penerapan

keselamatan pasien yaitu semua informan menyatakan bahwa mereka

selalu diberikan bimbingan dan motivasi untuk meningkatkan penerapan

keselamatan pasien di rumah sakit dan untuk mengurangi angka

kecelakaan pasien.

c. Direktur dan Wadir Pelayanan selalu melakukan pengawasan

terkait penerapan prosedur keselamatan pasien?

Berdasarkan wawancara tentang pengawasan yang dilakukan terkait

penerapan prosedur keselamatan pasien , diperoleh informasi yaitu :

“Saya selalu melakukan pengawasan untuk hal prosedur


keselamatan pasien karena saya ingin mengurangi angka
insiden kecelakaan, maka dari itu saya selalu was-was, saya
selalu beritahu bawahan saya untuk hal ini”.
(Informan I)

“Pengawasan yang saya lakukan itu seperti mengecek data-


data insiden keselamatan pasien, kalau ada yang bermasalah
panggil kepala instalasi atau kepala ruangan untuk menjelaskan
penyebab terjadinnya agar dicarikan solusi secepatnya dan
92

tidak terulang kembali”.


(Informan II)

“Iya, mereka selalu tanya kami masalah penerapan prosedur


keselamatan pasien, mereka selalu kan awasi kami, minta data
– data keselamatan pasien, kalau bermasalah kami yang
dipanggil juga”.
(Informan VII)

“Direktur dan wadir pelayanan yang selalu melakukan


pengawasan bagaimana kami menjalankan penerapan
prosedur keselamatan pasien, mereka kan minta datanya jadi
kalau misalnya ada yang bermasalah sedikit kami yang
dipanggil untuk menjelaskan kenapa bisa terjadi hal seperti itu.
(Informan VII)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pengawasan

yang dilakukan oleh direktur dan wadir pelayanan terkait penerapan

prosedur keselamatan pasien yaitu semua informan menyatakan bahwa

mereka selalu melakukan pengawasan dengan melihat data-data

keselamatan pasien, apabila ada hal yang bermasalah mereka langsung

memanggil kepala instalasi atau kepala ruangan yang terkait agar

menjelaskan penyebab terjadinya masalah tersebut dan untuk bisa

dicarikan solusi dan agar tidak terulang kembali untuk hal yang sama.

d. Direktur dan Wadir Pelayanan secara rutin mengadakan

pelatihan keselamatan pasien bagi pegawai ?

Berdasarkan wawancara tentang pelatihan keselamatan pasien yang

diadakan secara rutin bagi pegawai oleh direktur dan wadir pelayanan :

“saya selalu anjurkan untuk mengadakan pelatihan keselamatan


pasien untuk meningkatkan kemampuan pegawai, selama kami
selalu adakan hal seperti itu, jadi tidak ada masalah untuk hal
ini”.
(Informan I)

“Iya selalu kami adakan untuk pelatihan keselamatan pasien


untuk staf karena itu hal yang sangat penting, kan untuk
93

mencegah terjadinya insiden kecelakaan harus dimulai dari


sumber daya manusia, peningkatan pengetahuan sangat
diperlukan”.
(Informan II)

“Iya memang ada pelatihan seperti itu diadakan tetapi menurut


saya jarang juga, tetapi ada kok untuk mengkatkan kemampuan
kami sebagai tenaga juga bisa mengurangi insiden kecelakaan
pasien”.
(Informan III)

“Ada tapi jarang diadakan pelatihan seperti itu, padahal kami


kan harus update pengetahuan tentang keselamatan pasien
karena dalam pelatiha itu kami selalu diajarkan bagaimana bisa
mengurangi insiden kecelakaan apalagi kami kan di instalasi
yang sering terjadi hal seperti itu”.
(Informan IV)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pelatihan

keselamatan pasien yang diadakan secara rutin bagi pegawai oleh

direktur dan wadir pelayanan yaitu dua informan menyatakan bahwa

mereka selalu mengadakan pelatihan keselamatan pasien dirumah sakit

untuk menambah pengetahuan staf agar dapat menurunkan angka

insiden kecelakaan pasien dan enam informan lainnya menyatakan bahwa

ada pelatihan keselamatan pasien tetapi jarang diadakan.

2. Koordinasi

a) Direktur dan Wadir Pelayanan memiliki hubungan yang baik

kepada karyawan ?

Berdasarkan wawancara tentang hubungan baik karyawan dengan

direktur dan wadir pelayanan, diperoleh informasi sebagai berikut dibawah

ini :
94

“kami memang memiliki hubungan yang baik dengan karyawan,


tidak pernah kok terjadi masalah yang dapat menyebabkan
hubungan kami renganggang dengan karyawan, kalaupun ada
masalah kami diskusikan baik-baik”.
(Informan I)
“Hubungan kami dan karyawan sangat baik, tidak ada masalah
apa-apa, selalu kan kami bina hubungan yang baik dengan
mereka, saya selalu bilang kalau ada masalah laporkan kesaya
”.
(Informan I)
“Sangat baik hubungan kami dengan direktur dan wadir
pelayanan, setiap ada masalah kami selalu bicarakan dengan
mereka”.
(Informan V)

“Iya baik kok hubungan kami dengan direktur dan wadir


pelayanan, apalagi mereka kan selau beritahu kami kalau ada
masalah harus di diskusikan bersama mereka”.
(Informan VI)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang hubungan baik

karyawan dengan direktur dan wadir pelayanan yaitu semua informan

menyatakan bahwa mereka memiliki hubungan yang baik antara direktur

dan wadir pelayanan, hubungan yang baik selalu dibina.

b) Direktur dan Wadir Pelayanan selalu mampu menciptakan

suasana kerja yang kondusif dan aman ?

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kemampuan

direktur dan wadir pelayanan meciptakan suasana kerja yang kondusif

dan aman yaitu semua informan menyatakan bahwa mereka selalu

berada dalam suasana kerja yang aman dan kondusif karena telah diatur

sangat baik oleh pihak manajemen.

c) Direktur dan Wadir Pelayanan melibatkan karyawan dalam

membuat keputusan terkait penerapan keselamatan pasien ?

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan pelibatan karyawan dalam


95

membuat keputusan terkait penerapan keselamatan pasien yaitu semua

informan menyatakan bahwa mereka selalu dilibatkan dan diminta

pendapat yang dapat dijadikan masukan ataupun saran dalam membuat

keputusan terkait penerapan keselamatan pasien dirumah sakit.

3. Komunikasi

Kompetensi dalam berkomunikasi menjadi suatu hal yang penting

karena komunikasi yang efektif berhubungan dengan pengelolaan dalam

menyelesaikan konflik. Komunikasi efektif juga berperan dalam

tersosialisasinya isu pelayanan keperawatan dan isu organisasi.

Komunikasi memeiliki dua aspek penting yatiu sikap dalam berkomunikasi

dan alat untuk berkomunikai (Wise & Kowalski, 2006). Komunikasi data

secara verbal, tertulis, mapun lisan. Keterampilan komunikasi dapat

berupa mendengar aktif, mendorong saluran informasi, asertif,

memberikan umpam balik, upaya mencitpkan perantara apabila terdapat

masalsah dalam berkomunikais, membentukan jaringan, menyatakan

komunikasi sebagai vivi.

a) Mendapat umpan balik positif apabila ada suatu kejadian yang

dilaporkan

Berdasarkan wawancara tentang mendapat umpan balik positif, diperoleh

informasi yaitu :

“Iya saya selalu ingatkan kepada staf untuk melaporkan ke


pihak manajemen setiap ada kejadian, agar bisa di tindak
lanjuti, kalau masalah mereka sudah laporakan tetapi tidak ada
tindak lanjut itu berarti pihak manajemen yang salah, harus saya
tegur mereka itu”.
(Informan I)
96

“Selalu saya beritahu staf untuk melaporkan segera kepihak


manajemen jika ada kejadian yang terjadi untuk bisa ditindak
lanjuti segara karena hal itu bisa jadi masalah untuk kami juga,
(Informan II)
“Kami pernah melaporkan ke bagian atas tapi tidak ada tindak
lanjutnya dari mereka, misalnya sarana yang harus diganti
karena sudah tidak layak pakai yang bisa menyebabkan pasien
mengalami kecelakaan”.
(Informan IV)

“Saya pernah melaporkan ke pihak manajemen tapi ya begitulah


tidak ada tindak lanjut, terbatas juga untuk menyatakan
pendapat”
(Informan VII)
“Saya jarang melaporkan kalau ada kejadian yang berhubungan
dengan keselamatan pasien, karena pihak atas seperti acuh tak
acuh begitu”
(Informan VIII)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang mendapat umpan

balik positif yaitu dua informan menyatakan bahwa mereka selalu

memberikan umpan balik yang positif apabila ada suatu kejadian yang

dilaporkan dan enam informan lainnya mengatakan bahwa mereka tidak

pernah mendapatkan umpan balik positif.

b) Wajib memperingatkan apabila melihat segala sesuatu yang

dapat mengancam keselamatan pasien

Berdasarkan wawancara tentang wajib memperingatkan apabila melihat

segala sesuatu yang dapat mengancam keselamatan pasien, diperoleh

informasi yaitu :

“Saya wajib beri peringatan jika melihat segala sesuatu yang


dapat mengancam keselamatan pasien, kalau tidak di
dengarkan saya beri sanksi tegas kepada mereka”.
(Informan II)
97

“Wajib kami kasi peringatan kalau ada hal yang mengancam


keselamatan pasien karena itu hal yang sangat kami jaga
dirumah sakit ini agar mengurangi insiden kecelakaan pasien
(Informan II)
“Sangat, keharusan untuk di patuhi hal yang mengancam
keselamatan pasien, setiap ada yang kami liat harus kami
peringatkan untuk berhati-hati”
(Informan IV)
“Apapun yang berhubungann dengan keselamatan pasien saya
selalu peringatkan, wajib untuk semua staf disini”
(Informan VII)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang wajib

memperingatkan apabila melihat segala sesuatu yang dapat mengancam

keselamatan pasien yaitu Semua informan menyatakan bahwa apabila

melihat rekan kerja atau bawahan mereka melakukan sesuatu yang

mengancam keselamatan pasien maka wajib diberikan peringatan agar

lebih berhati-hati.

c) Kebebasan menyatakan pendapat dan memberi usulan

kebijakan yang sesuai untuk diterapkan

Berdasarkan wawancara tentang kebebasan menyatakan pendapat dan

memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk diterapkan, diperoleh

informasi yaitu :

“kami kadang bebas dan tidak bebas apalagi memberi usulan


kebijakan ataupun menyatakan pendapat”
(Informan VIII)

“kadang terbatas kalau kami memberi usulan kebijakan”


(Informan V)

“Kalau masalah menyatakan pendapat dan kasi usulan disini


kadang sangat terbatas, karena Cuma orang-orang yang lebih
tinggi yang bisa”
(Informan IV)
98

Kami yang orang bawah terbatas kalau memberi masukan


ataupun usulan seperti itu.
(Informan VII)

“Terbatas sekali menurut ku itu harus juga meminta pendapat


sama kami ini yang kepala ruangan krn kami yang jalankan di
instalasi”
(Informan III)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kebebasan

menyatakan pendapat dan memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk

diterapkan yaitu semua informan menyatakan bahwa mereka kadang

sangat terbatas untuk menyatakan pendapat dan memberi usulan

kebijakan yang sesuai untuk diterapkan, hanya untuk orang- orang pihak

atas yang mengatur.

d) Informasi perawatan pasien yang penting selalu tersedia saat

pergantian shift?

Berdasarkan hasil wawancara, hasil observasi dan telaah dokumen

dengan informan tentang informasi perawatan pasien yang penting selalu

tersedia saat pergantian shif yaitu dapat disimpulkan bahwa informasi

tersebut selalu tersedia untuk mengingatkan para staf yang sedang atau

akan bertugas untuk pergantian shift.

1). Arti Penting Keselamatan Pasien

a) Setiap masalah pasien yang terjadi dirumah sakit selalu

didiskusikan bersama dan dicarai jalan keluarnya

Berdasarkan hasil wawancara tentang setiap masalah pasien yang terjadi

dirumah sakit selalu didiskusikan bersama dan dicarai jalan keluarnya


99

yaitu semua informan mengatakan bahwa mereka selalu

mendiskusikannya bersama dan dicari jalan keluar dengan pihak

manajemen agar tidak terjadi lagi masalah yang sama dikemudian hari.

b) Diunit ini mendiskusikan bagaimana cara mencegah

terjadinya kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan

Berdasarkan hasil wawancara tentang mendiskusikan bagaimana cara

mencegah terjadinya kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan yaitu

semua informan mengatakan bahwa untuk instalasi mereka memang

selalu berdiskusi cara mencegah terjadinya kesalahan atau Kejadian

Tidak Dinginkan untuk mengurangi insiden kecelakaan pada pasien.

2).Perhatian dan pengenalan pentingnya keselamatan

a) Staf diberi kesempatan untuk bertanya apabila ada sesuatu

yang berjalan tidak semestinya

Berdasarkan hasil wawancara tentang pemberian kesempatan kepada

staf untuk bertanya apabila ada sesuatu yang berjalan tidak semestinya

yaitu semua informan mengatakan bahwa staf selalu diberikan

kesempatan untuk bertanya dan tidak ada pembatasan untuk bertanya.

b) Tidak pernah terjadi masalah sewaktu operan antar unit

Berdasarkan hasil wawancara tentang masalah yang pernah terjadi

sewaktu operan antar unit yaitu semua informan mengatakan bahwa

pernah ada masalah tetapi hanya masalah kecil dan tidak pernah dibesar-

besarkan serta hanya diselesaikan diunit tersebut dan juga tidak

mempengaruhi kinerja karyawan.


100

4. Kerja Tim

Tim adalah unsure kehidupan oraganisasi karena suatu pekerjaan

melibatkan orang-orang dengan berbagai macam keahlian untuk

berkerjasama untuk satu tujuan. Kejadian tim adalah proses dinamis yang

melibatkan dua atau lebih orang dalam suatu aktivitas untuk

menyelesaikan suatu tujuan. Hampir semua pekerjaan rumah sakit

dilakukan oleh berbagai disipilin ilmu contohnya ; tim ruang pembedahan,

shift antar pekerja, dan unit medis dan perawatan. Dirumah sakit, definisi

dari tim dan kerja tim tergantung bagaimana profesi yang berbeda-beda

mengatur pekerjaannya. Makary et.al., (2006) melaporkan bahwa dokter

melakukan kerja tim dengan baik jika suster juga mengantisipasi

kebutuhan dokter dan dapat mengikuti instruksi dengan baik.

1) Komitmen Pada Tujuan

a) Mendukung rumah sakit ini dalam meningkatkan program


keselamatan pasien yang lebih baik
Berdasarkan wawancara tentang kebebasan menyatakan mendukung

rumah sakit ini dalam meningkatkan program keselamatan pasien yang

lebih baik, diperoleh informasi yaitu :

“Kalau yang masalah begitu saya sangat mendukung, ini juga


kan untuk kenyamanan pasien saat berada disini”
(Informan II)

“Semua staf disini sangat mendukung apabila dilakukan


peningkatan program keselamatan pasien, kan belum maksimal
agar lebih baik lagi”.
(Informan V)

“Saya sebagai kepala instalasi sangat mendukung program


keselamatan pasien untuk lebih meningkatkan kepuasan
pasien”
(Informan VII)
101

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kebebasan

menyatakan mendukung rumah sakit ini dalam meningkatkan program

keselamatan pasien yang lebih baik yaitu semua informan menyatakan

bahwa mereka sangat mendukung rumah sakit dalam meningkatkan

program keselamatan pasien yang lebih baik karena penerapan dirumah

sakit belum maksimal.

b) Koordinasi dengan direktur dan wadir pelayanan terhadap


kegiatan yang terkait dengan peningktan program keselamatan
pasien
Berdasarkan wawancara tentang koordinasi dengan kepala ruangan

terhadap kegiatan yang terkait dengan peningktan program keselamatan

pasien, diperoleh informasi yaitu :

“Setiap ada masalah selalu kami berkoordinasi dengan direktur


dan wadir pelayanan”
(Informan IV)

“Saya merasa kami sering berkoordinasi apalagi untuk


meningkatkan program keselamatan pasien”
(Informan V)

“Saya sebagai kepala instalasi bersama direktur dan wadir


pelayanan kami selalu berdiskusi dan berkoordinasi bagaimana
meningkatkan program keselamatan pasien”
(Informan VIII)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang koordinasi

dengan direktur dan wadir pelayanan terhadap kegiatan yang terkait

dengan peningkatan program keselamatan pasien yaitu semua informan

menyatakan bahwa mereka selalu berkoordinasi dengan kepala ruangan

apabila terkait dengan peningktan program keselamatan pasien.


102

2) Komunikasi ide dan gagasan

a) Kenyaman dan tidak kesusahan saat pembagian tugas dengan

rekan kerja

Berdasarkan wawancara tentang kenyaman dan tidak kesusahan saat

pembagian tugas dengan rekan kerja , diperoleh informasi yaitu :

“Saya sangat nyaman saat kami mendapat pembagian tugas


karena menurut saya pembagiannya sangat adil”
(Informan III)

“Saya tidak pernah merasa kesusahan ya kalau untuk


pembagian tugas”

(Informan IV)

“Saya kan kepala ruangan sangat nyaman untuk pembagian


tupoksi kan sudah sesuai untuk kepala ruangan”

(Informan V)

“Nyaman sih menurut saya karena pembagian tuganya sudah


merata”
(Informan VI)

“Selama ini saya merasa tidak kesusahan untuk pembagian


tugas”
(Informan VII)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kenyaman dan

tidak kesusahan saat pembagian tugas dengan rekan kerja yaitu semua

informan menyatakan bahwa mereka sangat nyaman dan tidak pernah

merasa kesusahan saat pembagian tugas dengan rekan kerja karena

mereka merasa hal tersebut sudah adil.


103

3) Efektivitas Interpersonal

a) Anda dan rekan kerja anda mampu berkordinasi dengan baik

untuk mewujudkan pelayanan pasien yang sesuai dengan

prosedur keselamatan pasien

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kemampu

berkordinasi dengan baik untuk mewujudkan pelayanan pasien yang

sesuai dengan prosedur keselamatan pasien yaitu semua informan

menyatakan bahwa mereka sangat mampu berkordinasi dengan baik

karena hal tersebut sudah menjadi kewajiban mereka untuk mewujudkan

pelayanan pasien yang sesuai dengan prosedur keselamatan pasien.

C. Pembahasan

a. Kepemimpinan

Ada 3 domain perilaku kepemimpinan yang mampu menjadi agen

perubahan (Change Agent) bagi perilaku anggota dalam suatu organisasi

yakni pengarahan (Direction), pengawasan (supervision), serta koordinasi

(coordination) (Gilles, 1994).

Menurut Stoner (1982) definisi kepemimpinan adalah suatu proses

pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari

sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Menurut

Handoko (1997) ada tiga implikasi dari definisi tersebut yaitu (1)

kepemimpinan menyangkut orang yaitu bawahan atau pengikut, (2)

kepemimpinan menyangkut suatu pembagiankekuasaan yang tidak

seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok, (3) pemimpin

dapat mempergunakan pengaruh. Kepemimpinan bagian yang terpenting


104

dari manajemen yaitu merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang

untuk mempengarui orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan

sasaran.

Direktur dan wakil direktur pelayanan dengan memberikan

pengarahan ke bawahannya yaitu perawat dengan memberi penugasan,

perintah, kebijakan, peraturan, standar tentang keselamatan pasien yang

harus dilakukan dengan baik untuk mengurangi terjadi kecelakaan pada

pasien.

A. Pengarahan

Pengarahan mengacu kepada penugasan, perintah, kebijakan,

peratutaran, standar, pendapat, saran, dan pertanyaan untuk mengarahan

perilaku bawahan. Kebijakan prosedur, standar, dan tugas menjadi alat

dalam memimpin orang lain untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan.

1. Delegasi wewenang oleh kepala ruangan terhadap

bawahannya terkait penerapan keselamatan pasien

Kejadian yang tidak diharapkan atau kejadian nyaris cedera bukan

hanya saja kesalahan dari faktor manusianya/kelalaian petugas pemberi

pelayanan namun terdapat faktor lain yang memberikan kontribusi

sehingga terjadi kejadian yang merugikan pasien, seperti yang di

kemukakan oleh Reason. J.T dalam (Reason J.T et al., 2008) tentang

Swiss Chees Model yang menggambarkan proses terjadinya kecelakaan

melalui ilustrasi potongan-potongan keju Swiss. Terdapat empat lapisan

yang menyusun terjadinya suatu kejadian kecelakaan, yaitu:

organizational influences (pengaruh pengorganisasian dan kebijakan


105

manajemen dalam terjadinya kecelakaan, unsafe supervision

(pengawasan yang tidak baik), precondition for unsafe act (kondisi yang

mendukung munculnya aktivitas yang tidak aman).

Pendelegasian tugas merupakan bagian yang tidak terpisahkan

dari pengelolaan ruangan Pendelegasian digolongkan menjadi 2 jenis

yaitu terencana dan insidentil. Pendelegasian terencana adalah

pendelegasian yang memang otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem

penugasan yang diterapkan di ruang rawat inap, bentuknya dapat

pendelegasian tugas kepala ruang kepada ketua tim, kepada penanggung

jawab shift. Pendelegasian insidentil terjadi bila salah satu personil ruang

rawat inap berhalangan hadir, maka pendelegasian tugas harus dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang delegasi

wewenang kepala ruangan terhadap bawahannya terkait penerapan

keselamatan pasien diperoleh informasi bahwa direktur dan wadir

pelayanan telah mendelegasikan wewenangnya agar menerapkan

keselamatan pasien di instalasi tersebut tetapi mereka takut untuk

melaporkan masalah keselamatan pasien ke bagian manajemen karena

tidak pernah ditindaklanjuti untuk laporan tersebut sehinga membuat

penerapan keselamatan belum maksimal.

Studi penelitian Katz&Navon et al., (2005) telah menunjukan

bahwa kepemimpinan yang baik mempunyai hubungan yang signifikan

dengan perilaku keamanan kerja yang lebih baik dan menurunkan angka

kecelakaan serta meningkatkan kepatuhan terhadap keselamatan.

Sebuah penelitian lain Shipton et al, (2008) di Inggris mengungkapkan


106

bahwa persepsi staf tentang efektivitas kepemimpinan manajer senior

memiliki hubungan dengan menurunnya keluhan pasien dan

meningkatnya kepemimpinan klinik.

Berdasarkan hal tersebut untuk menciptakan budaya

keselamatan pasien maka seluruh lapisan mulai dari komitmen pimpinan

sampai karyawan harus dibenahi. Persepsi karyawan terhadap pimpinan

dan manajemen memiliki pengaruh paling besar dalam membangun

budaya keselamatan pasien, untuk mencapai tujuan secara optimal,

manajer/pimpinan harus bersinergi dengan karyawan di berbagai lapisan,

oleh karena itu model kepemimpinan yang paling sesuai adalah model

kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah

sebuah peroses dimana pimpinan dan para bawahannya berusaha untuk

mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi, hal ini berbeda

dengan model kepemimpinan transaksional untuk memotivasi agar

bawahan melakukan tanggungjawab mereka, para pemimpin

transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan

dan hukuman kepada bawahannya (Givens J.R. 2008).

Maka disimpulkan bahwa pelaksanaan pelaporan insiden

keselamatan pasien belum dilakukan secara optimal. Hal tersebut dapat

dilihat masih adanya gap pelaporan yang dilakukan oleh karyawan rumah

sakit dan hasil penelitian yang dilakukan pada informan yang

menyimpukan bahwa belum optimalnya pelaksanaan pelaporan insiden

keselamatan pasien ini sebenarnya datang dari unit itu sendiri, yaitu masih

adanya ketakutan akan budaya menyalahkan yang mengakibatkan


107

keengganan unit/individu untuk melaporkan insiden yang terjadi. Dan

dukungan manajemen yang kurang optimal dengan tidak segera

memberikan feedback atas laporan insiden keselamatan pasien yang

menjadi alasan yang sangat kuat.

2. Pemberian penghargaan oleh kepala ruangan bagi yang

memiliki kinerja baik dalam meningkatkan program

keselamatan pasien

Supervisi merupakan bagian penting dari manajemen keperawatan,

karena dengan supervisi dapat mengatasi masalah dalam organisasi

dengan cepat. Tugas pengawasan atau supervisi tidak bisa dipisahkan

dari fungsi kepemimpinan. Supervisor atau pengawas di mata karyawan

dianggap sebagai figur ayah dengan peran yang bukan hanya

mengawasi, mengarahkan juga harus bisa menampung segala keluhan

baik yang berkaitan dengan pekerjaan maupun masalah-masalah pribadi

yang menghambat saat bekerja. Superviser juga harus mengetahui sejauh

mana kemampuan bawahannya dan tingkat kerja samadiantara karyawan

yang dibawahinya.

Superviser harus mampu turun tangan untuk membantu

memecahkan masalah tersebut tanpa menunda-nunda. Sehingga dapat

tercipta suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. Seorang

supervisor juga harus mampu memotivasi karyawan dalam bekerja dan

menyelesaikan tugas-tugas misalnya dengan memberikan pujian atau

penghargaan atas apa yang telah dilakukan oleh karyawan dengan hasil

yang baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal tersebut selain
108

dapat memacu semangat kerja karyawan juga dapat meningkatkan

kepuasan kerja karyawan (Mulyaningsih, 2013).

Penghargaan adalah ganjaran yang diberikan untuk memotivasi

para karyawan agar produktivitasnya tinggi Tohardi (2002). Penghargaan

adalah insentif yang mengaitkan bayaran atas dasar untuk dapat

meningkatkan produktivitas para karyawan guna mencapai keunggulan

yang kompetitif Henri Simamora (2004). Penghargaan adalah reward

dalam bentuk uang yang diberikan kepada mereka yang dapat bekerja

melampaui standar yang telah ditentukan.

Sedamaryanti (2001) juga menjelaskan bahwa penghargaan

berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui

secara sosial, juga untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara

sosial. Maksud dan tujuan dari penghargaan adalah agar karyawan

menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau mempertinggi

prestasi yang telah dicapainya. Jadi dalam sisi yang lebih luas,

penghargaan dirancang agar mampu menarik perhatian,

mempertahankan dan mendorong karyawan agar bekerja lebih produktif,

di mana penghargaan harus mencerminkan win-win result, bagi karyawan

dan perusahaan. Secara luas penghargaan diciptakan untuk menarik,

menahan, dan memotivasi kinerja karyawan.

Wibowo (2007) menyatakan penghargaan memiliki berbagai jenis

dan bentuk tergantung pada waktu, tempat, untuk siapa, dan atas dasar

apa penghargaan tersebut diberikan. Penghargaan biasanya diberikan

dalam bentuk medali, piala, gelar, sertifikat, plakat atau pita. Suatu
109

penghargaan kadang-kadang disertai dengan pemberian hadiah berupa

uang seperti hadiah nobel untuk kontribusi terhadap masyarakat, dan

hadiah pulitzer untuk penghargaan bidang literatur. Bentuk penghargaan

bisa bermacam -macam, ada dalam bentuk bonus, promosi, penambahan

tanggung jawab yang bagi beberapa pegawai bisa menjadi beban namun

bagi beberapa pegawai lainnya dapat menjadi poin penghargaan bagi

dirinya.

Menurut Jiunkpe (2008) bahwa pemberian reward (penghargaan)

terhadap perawat merupakan suatu imbalan yang diberikan dalam bentuk

material dan non material seperti pelaksanaan pendokumentasian asuhan

keperawatan. Sebuah ucapan terima kasih dapat dijadikan sebuah

reward. Kekuatan ucapan terima kasih ini memberikan arti dan manfaat

yang sangat luar biasa. Pekerjaan yang dimotivasi dengan ucapan terima

kasih oleh seorang atasan kepada bawahan, dapat menjadi sumber

inspirasi kedisiplinan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pemberian

penghargaan oleh direktur dan wadir pelayanan bagi yang memiliki kinerja

baik dalam meningkatkan program keselamatan pasien yaitu mereka tidak

pernah diberikan penghargaan untuk yang memiliki kinerja baik dalam

meningkatkan program keselamatan pasien.

Hasil penelitian Sanjaya (2013) Di Rumah Sakit Umum Puri

Raharja dalam melaksanakan program penerapan keselamatan pasien,

pihak manajemen rumah sakit sudah melakukan planning yang baik untuk

menyusun program keselamatan pasien. Meskipun perencanaan sudah


110

dilaksanakan dengan baik namun output dari program tersebut kurang

maksimal. Dalam menjalankan fungsi manajernen, rnanajemen, seorang

manajer diharapkan memiliki kemampuan yang cukup dalam

mengorganisasikan pegawainya. Salah satu kemampuan yang dimaksud

adalah kemampuan motivasi sumber daya manusia yang ada. Manajer

dan asisten keperawatan sebaiknya memberikan motivasi untuk

menimbulkan dorongan kepada perawat. Dengan diberikannya motivasi

seperti adanya penghargaan yang berikan kepada perawat, diharapkan

perawat akan bersemangat dalam melaksanakan program penerapan

keselamatan pasien.

Retnowati (2002) menyatakan bahwa persepsi terhadap imbalan

terjadi tidak begitu saja tetapi ada faktor yang mempengaruhinya meliputi

sikap, motif, keentingan, minat, pengalaman, dan harapan. Adapun hasil

penelitian Simamora (2004) bahwa pemberian penghargaan merupakan

upaya untuk memperkuat hubungan kinerja dan dengan demikian

memotivasi karyawan yang terpengaruh.

Penelitian yang dilakukan oleh Novinda (2010) yang menyatakan

bahwa terdapat hubungan penghargaan dengan kinerja perawat dimana

semakin baik penghargaan yang diberikan maka semakin baik pula kinerja

perawat yang dihasilkan, sehingga dapat dikatakan bahwa penghargaan

dapat tercapai jika kinerja keperawatan dapat terlaksana dengan baik.

Menurut Achmad. R (2001) bahwa penggunaan Sistem Manaiemen

Kinerja sebagai dasar bagi kebijakan pemberian reward yang umum

disebut Merit System ataupun untuk dasar bagi pembagian bonus,


111

imbalan, sefta pujian. tadi bisa dikatakan bahwa dengan adanya

pemberian reward maka akan memberikan motivasi bagi karyawan untuk

berlomba-lomba memberikan prestasi kinerja yang baik.

Pernyataan-pernyataan di atas menjelaskan bahwa penghargaan

merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi karyawan, selain sebagai

motivasi kerja yang tinggi, penghargaan juga memberikan arti bahwa

karyawan tersebut dianggap ada dalam perusahaan, terutama karyawan

yang telah lama berkontribusi bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Selain bagi karyawan lama, pemberian penghargaan tersebut juga sangat

berarti bagi karyawan yang berusaha keras untuk mencapai prestasi kerja

yang baik. Dengan adanya penghargaan, karyawan akan merasa bahwa

usahanya dalam berprestasi dihargai oleh perusahaan, dan hal ini tentu

memacu dan memotivasi karyawan untuk berprestasi lebih baik lagi.

3. Pemberian sanksi oleh kepala ruangan yang tegas terhadap

kesalahan yang dilakukan oleh karyawan terkait penerapan

keselamatan pasien

Pada prinsipnya sanksi (punishment) adalah segala sesuatu yang

dapat memperlemah perilaku dan cenderung untuk mengurangi frekuensi

perilaku yang berikutnya dan biasanya terdiri dari permintaan suatu

konsekuensi yang tidak diharapkan. Sanksi yang dimaksud merupakan

konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap respon perilaku tertentu.

Maka secara umum sanksi adalah tindakan berupa siksaan yang

dikenakan kepada orang yang melakukan kesalahan atau pelanggaran

tertentu seperti pelanggaran undang-undang dan sebagainya.


112

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dijelaskan bahwa sanksi adalah

suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan (siksa) terhadap suatu

respons perilaku tertentu dengan tujuan untuk memperlemah perilaku

tersebut dan mengurangi frekuensi perilaku yang berikutnya. Ngalim

Purwanto (1988) membagi sanksi (punishment) menjadi dua macam yaitu:

 Sanksi prefentif yaitu sanksi yang dilakukan dengan maksud atau

supaya tidak terjadi pelanggaran. Sanski ini bermaksud untuk

mencegah agar tidak terjadi pelanggaran, sehingga hal ini

dilakukannya sebelum terjadi pelanggaran dilakukan. Contoh

perintah, larangan, pengawasan, perjanjian dan ancaman.

 Sanksi represif yaitu sanksi yang dilakukan, oleh karena adanya

pelanggaran, oleh adanya dosa yang telah diperbuat. Jadi sanksi

itu terjadi setelah terjadi kesalahan.

Siagian (1998) menjelaskan bahwa disiplin juga merupakan bagian

penting dari sanksi. Disiplin merupakan tindakan manajemen untuk

mendorong para anggota organisasi memenuhi berbaga kebutuhan yang

harus dipenuhi oleh para anggota organisasi. Siagian juga menjelaskan

bahwa pada dasarnya dalam suatu organisasi terdapat dua jenis disiplin,

yaitu :

 Disiplin yang bersifat preventif yaitu pendisiplinan preventif

merupakan bentuk pendisiplinan yang bersifat tindakan yang

mendorong para bawahan untuk taat pada berbagai ketentuan

yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan.


113

 Disiplin yang bersifat korektif yaitu pendisiplinan korektif lebih

ditujukan kepada pemberian sanksi kepada bawahan atas sejumlah

pelanggaran yang telah dilakukannya. Dengan kejelasan dan

penjelasan tentang pola sikap,tindakan, dan perilaku yang

diinginkan dari setiap anggota organisasi maka diusahakan

jangansampai para pegawai berperilaku negatif. Siagian (1998)

menyebutkan bahwa agar upaya pendisiplinan di kalangan pegawai

dapat tercapai, maka sanksi pendisiplinan harus diterapkan secara

bertahap. Pendisiplinan secara bertahap yaitu dengan mengambil

langkah yang bersifat sanksi pendisiplinan, mulai dari yang tingkat

ringan hingga yang terberat misalnya :

1. Peringatan lisan.

2. Pernyataan tertulis perihal ketidakpuasan oleh atasan

langsung.

3. Penundaan gaji berkala.

4. Penundaan kenaikan pangkat.

5. Pembebasan dari jabatan.

6. Pemberhentian sementara.

7. Pemberhentian atas permintaan sendiri.

8. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan

sendiri.

9. Pemberhentian tidak dengan hormat.

Dalam pengimplementasiannya, sanksi seringkali menjadi

penyebab kontroversi dalam perusahaan, sebab sebagian karyawan


114

menganggap sanksi adalah hal merugikan dan tidak wajar karena tidak

memacu kerja. Mereka mengangap sanksi tersebut sebagai suatu

pemaksaan. Jelas dalam anggapan di atas bahwa sebagian karyawan

tidak tertarik dan menentang diterapkannya sanksi dalam perusahaan. Di

sini perlu ketegasan seorang pemimpin khususnya manajer untuk

menjelaskan fungsi dan tujuan dari pengimplementasian sanksi tersebut;

bahwa sanksi tidak akan diberlakukan pada karyawan yang tidak

melanggar peraturan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pemberian

sanksi oleh direktur dan wadir pelayanan yang tegas terhadap kesalahan

yang dilakukan oleh karyawan terkait penerapan keselamatan pasien yaitu

semua informan mengatakan bahwa tidak pernah memberikan sanski

yang tegas hanya saja cuma di beri peringatan biasa terhadap kesalahan

yang dilakukan yang oleh karyawan terkait penerapan keselamatan

pasien.

Hasil penelitian Aris (2013) Dimensi sanksi terhadap kesalahan di

RSU PKU Muhammdiyah Bantul diinterpretasikan cukup. Begitu pula

dengan hasil penelitian yang dilakukan Putri (2010) 2-3 tahun yang lalu.

Pemberian sanksi kepada unit kerja atau individu yang melakukan

kesalahan adalah hal paling sulit dilakukan olehpihak rumah sakit. sanksi

terhadap kesalahan harus digunakan sebagai pelajaran yang berharga

dan jika perlu disertai dengan sanksi yang sesuai dengan prosedur untuk

mencegah terjadinya atu terulangnya kekeliruan yang sama. Tetapi hal ini
115

harus dijauhkan dengan blaming culture, melainkan sebagai upaya untuk

perbaikan dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.

B. Supervisi

Pelayanan keperawatan dikatakan sebagai kegiatan kegiatan

dinamis yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan kepuasan

antara dua komponen yang terlibat yaitu supervisor atau pimpinan.

Supervisor merupakan perilaku kepemimpinan yang berfungis untuk

memeriksa pekerjaan, mengevaluasi kerja, memerikasa pekerjaan (Gillies,

2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak banyak

dukungan yang diberikan oleh pemimpin atau supervisor untuk

keselamatan pasien akan meningkatkan frekuensi keterbukaan dan

pelaporan atas insiden keselamatan pasien.

Menurut Sujono (2007, dalam Andriani 2012) mengatakan bahwa

supervisi merupakan upaya untuk membantu pembinaan dan peningkatan

kemampuan pihak yang di supervisi agar mereka dapat melaksanakan

tugas kegiatan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif.

Supervisi yang dilakukan oleh Direktur dan wakil direktur

menunjukkan bahwa lebih banyak banyak dukungan yang diberikan oleh

pemimpin atau supervisor untuk keselamatan pasien akan meningkatkan

frekuensi keterbukaan dan pelaporan atas insiden keselamatan pasien.

Dan untuk koordinasi kegiatan sfat terjadi selama pertemuan kelompok

kerja utama karena beberapa anggota mengkhususkan diri dalam tugas

terkait, seperti kegiatan menyempurnakan tujuan, identifikasi masalah,

dan analisis data tentang keselamatan pasien di rumah sakit.


116

1) Direktur dan Wadir Pelayanan selalu memberikan bimbingan dan

dorongan kepada karyawan terkait penerapan keselamatan

pasien

Motivasi adalah dorongan alamiah yang terdapat dalam diri

responden untuk berkeinginan mendukung atau tidak mendukung

penerapan patient safety.Konsep motivasi merupakan sebuah konsep

penting dalam studi tentang kinerja individual. Dengan kata lain, motivasi

merupakan sebuah determinan penting bagi kinerja individual dimana

makin meningkatnya motivasi seorang individu maka makin meningkat

pula kinerja yang dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara tentang pemberian bimbingan dan

dorongan kepada karyawan terkait penerapan keselamatan pasien dapat

disimpulkan bahwa mereka yaitu karyawan selalu diberikan bimbingan

dan motivasi untuk meningkatkan penerapan keselamatan pasien di

rumah sakit dan untuk mengurangi angka kecelakaan pasien.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Sihotang (2006) di Rumah Sakit Umum Doloksanggul yang meneliti

hubungan motivasi kerja terhadap kinerja perawat dalam memberikan

pelayanan untuk pasien. Berdasarkan data deskriptif penelitian tersebut

menunjukkan bahwa prestasi perawat dalam kategori baik dan lebih

banyak yang menyatakan bahwa dengan peningkatan jabatan dan

pencapaian prestasi akan meningkatkan kinerja perawat.Selain itu Badi’ah

(2008) juga menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara


117

faktor motivasi internal dan faktor motivasi eksternal dengan kinerja

perawat.

2) Direktur dan Wadir Pelayanan selalu melakukan pengawasan

terhadap penerapan terkait penerapan prosedur keselamatan

pasien

Pelaksanaan pengawasan pada dasarnya merupakan tanggung

jawab manajemen rumah sakit. Keberhasilan pengawasan sangat

dipengaruhi oleh supervisor. Dalam hal ini bisa atasan langsung, pimpinan

kantor, aparat fungsional, maupun masyarakat (Nirwan dan Zamzami,

1999). Menurut Saydam (1996), jika supervisor ini dekat dengan karyawan

dan menguasai liku-liku pekerjaan serta penuh dengan sifat- sifat

kepemimpinan maka suasana kerja akan bergairah dan bersemangat dan

sebaliknya, apabila supervisor tersebut angkuh, mau benar sendiri, tidak

mau mendengarkan, akan menciptakan situasi kerja yang tidak

mengenakkan, dan dapat menurunkan semangat kerja.

Berdasarkan hasil wawancara tentang pengawasan yang dilakukan

oleh direktur dan wadir pelayanan terkait penerapan prosedur

keselamatan pasien dapat disimpulkan bahwa pimpinan yaitu direktur dan

wakil direktur pelayanan selalu melakukan pengawasan dengan melihat

data-data keselamatan pasien, apabila ada hal yang bermasalah mereka

langsung memanggil kepala instalasi atau kepala ruangan yang terkait

agar menjelaskan penyebab terjadinya masalah tersebut dan untuk bisa

dicarikan solusi dan agar tidak terulang kembali untuk hal yang sama.
118

Pengawasan tetap dibutuhkan untuk mencegah ketidakpuasan

pada kinerja. Dengan itu dapat diketahui bahwa pelaksanaan supervisi

juga memiliki andil terhadap kinerja perawat. Sejalan dengan penelitian

Mulyono (2012) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan supervisi

terhadap kinerja perawat. Seperti yang dikemukakan oleh Nainggolan

(2010) bahwa pelaksanaan supervisi oleh kepala ruangan memiliki

pengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Islam

Malahayati Medan.

3) Direktur dan Wadir Pelayanan secara rutin mengadakan pelatihan

keselamatan pasien bagi pegawai

Hughes (2008) menyatakan bahwa langkah awal memperbaiki

pelayanan yang berkualitas adalah keselamatan, sedang kunci dari

pelayanan bermutu dan aman adalah membangun budaya keselamatan

pasien. Menurut Mitchell dalam Hughes (2008), perawat merupakan kunci

dalam pengembangan mutu melalui keselamatan pasien. Peningkatan

pengetahuan merupakan dampak yang diharapkan dari pelatihan mutu

dan keselamatan pasien. Pelatihan merupakan salah satu sarana

menambah kebutuhan akan pengetahuan baru dan untuk meningkatkan

kinerja individu dan kinerja sistem (Henriksen & Dayton, 2006).

Berdasarkan hasil wawancara tentang pelatihan keselamatan

pasien yang diadakan secara rutin bagi pegawai oleh direktur dan wadir

pelayanan dapat disimpulkan bahwa ada pelatihan keselamatan pasien

tetapi jarang diadakan oleh pimpinan untuk menambah pengetahuan staf

agar dapat menurunkan angka insiden kecelakaan pasien.


119

Marquis dan Huston (2006) menyatakan bahwa program

pengembangan staf melalui pelatihan dan pendidikan merupakan program

yang efektif untuk meningkatkan produktifitas bagi perawat. Dukungan

yang adekuat dalam bentuk pelatihan professional dan pengembangan

pengetahuan merupakan salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan

kerja yang positif bagi perawat agar asuhan yang aman dapat diberikan

(ICN, 2007).

Kemampuan kognitif seseorang mempengaruhi kemampuan

individu tersebut dalam melakukan tindakan yang tidak menimbulkan

risiko terhadap keselamatan pasien. Pengetahuan merupakan

kepercayaan yang dapat dipertanggungjawabkan serta sesuatu yang

eksplisit dan terpikirkan (Krough, Ichiyo, & Nonaka, 2000 dalam Thite,

2004; Cho, 1998, dalam Set iarso, Harjanto, Triyono, & Subagyo, 2009).

Menurut Baron dan Greenberg (200), pengetahuan merupakan sebuah

perubahan yang relatif menetap dalam perilaku yang dihasilkan dari

pengalaman.

Organisasi yang ingin mengembangkan budaya belajar yang efektif

perlu memetakan pengetahuan yang dimiliki oleh staf Riset Delphi Group

yang dikemukakan dalam Set iarso , et al. (2009), menemukan 45% aset

pengetahuan tersimpan dalam pikiran staf dalam bentuk pengetahuan dan

pengalaman, sedangkan sisanya berada dalam dokumen kertas dan

dokumen elektronik dalam berbagai bentuk. Cahyono (2008) menyatakan

bahwa pengetahuan SDM kesehatan, termasuk perawat adalah hal yang

berhubungan dengan komitmen yang sangat diperlukan dalam upaya

untuk membangun budaya keselamatan pasien.


120

C. Koordinasi

Kegiatan kepemimpinan yang mencakup semua kegiatan yang

memungkinkan staf untuk bekerja bersama secara harmonis. Koordinasi

penting dilakukan untuk keberhasilan suatu organisasi kesehatan.

Umumnya koordinasi kegiatan sfat terjadi selama pertemuan kelompok

kerja utama karena beberapa anggota mengkhususkan diri dalam tugas

terkait, seperti kegiatan menyempurnakan tujuan, identifikasi masalah,

dan analisis data.

1) Direktur dan Wadir Pelayanan memiliki hubungan yang baik

kepada karyawan

Keharmonisan hubungan para pegawai dengan adanya sikap yang

baik dari pimpinan yang ditunjukkan ketika memberikan tugas-tugas yang

harus dikerjakan oleh pegawai, ketika memberikan informasi yang baru,

mengajak, memberi perintah, mengatur, menggerakkan, membimbing,

menegur, dan lain-lain. Aktvitas pimpinan harus di imbangi dengan

kemampuan dan keterampilan serta sikap yang tepat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang hubungan

baik karyawan dengan direktur dan wadir pelayanan dapat disimpulkan

bahwa mereka memiliki hubungan yang baik antara direktur dan wadir

pelayanan, hubungan yang baik selalu dibina.

Scord dan Backman dalam Azwar (2002), mengatakan sikap

adalah “keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran

(kognisi), dan prediposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu

aspek di lingkungan sekitarnya”. Sedangkan Syafii dalam Harbani


121

Pasolong (2008:3), menyatakan bahwa “pemimpin adalah orang yang

mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi

sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan

tertentu”. Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap

pimpinan dapat diartikan sebagai reaksi atau respon tertentu yang

digunakan seseorang mempengaruhi pengikutnya untuk melakukan kerja

sama dalam mencapai tujuan organisasi. Sikap yang ditampilkan oleh

seorang pemimpin dapat mempengaruhi cara kerja dan semangat

bawahan atau pegawai dalam melakukan pekerjaan.

Menurut Maxwell (1995:104) mengatakan bahwa “Sikap seseorang

tidak dapat menghentikan perasaannya, tetapi sikap bisa menjaga agar

perasaan tidak menghentikan seseorang”. Jadi, pentingnya seorang

pimpinan untuk memiliki sikap positif karena dengan sikap yang demikian

pemimpin akan menjadi lebih tangguh, lebih kuat, dan juga memiliki

pikiran yang positif dalam menghadapi persoalan yang dihadapi dan

penting untuk diingat bahwa pemimpin pasti mempengaruhi para

bawahannya, dengan memiliki sikap yang baik maka pemimpin pun akan

menarik orang-orang untuk bersikap baik, demikian pula sebaliknya. Jadi

pemimpin secara tidak langsung pasti mempengaruhi bawahannya.

2) Direktur dan Wadir Pelayanan selalu mampu menciptakan

suasana kerja yang kondusif dan aman

Menurut Nitisemito (2000) mengatakan bahwa lingkungan kerja

adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat

mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan.


122

Sedangkan menurut Sedarmayanti (2001) menyebutkan bahwa

Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang

dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode

kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun

sebagai kelompok dapat ditarik kesimpulannya bahwa kondisi lingkungan

kerja baik akan menunjang produktivitas karyawan yang pada akhirnya

berdampak pada kenaikan tingkat kinerja karyawan.

Berdasarkan hasil wawancara tentang kemampuan direktur dan

wadir pelayanan meciptakan suasana kerja yang kondusif dan aman

dapat disimpulkan bahwa mereka selalu berada dalam suasana kerja

yang aman dan kondusif karena telah diatur sangat baik oleh pihak

manajemen.

Sikap dan perilaku pegawai dalam melaksanakan tugasnya akan

dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik internal maupun eksternal.

Namun, dalam kenyataannya sikap dan perilaku pegawai lebih banyak

dipengaruhi oleh lingkungan kerja internal, karena lingkungan kerja

internal berada disekitar pegawai dalam menjalankan tugas. Seperti yang

dikemukakan Agus (1999) bahwa Lingkungan kerja internal adalah segala

sesuatu yang ada di sekitar tempat pekerjaan dan dapat mempengaruhi

dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan.

3) Direktur dan Wadir Pelayanan melibatkan karyawan dalam

membuat keputusan terkait penerapan keselamatan pasien

Pengambilan keputusan merupakan inti kepemimpinan, artinya

bahwa kualitas kepemimpinan seorang manajer akan ikut ditentukan oleh


123

kualitas dari keputusan-keputusan yang diambil dalam sebuah

organisasi/instansi. Seorang pimpinan diharapkan sebagai penggerak

pegawai-pegawai yang ada agar bekerja seoptimal mungkin sesuai

dengan tugas-tugas yang telah ditetapkan. Keberhasilan pimpinan dalam

menggerakan bawahannya sangat dipengaruhi cara pimpinan dalam

pengambilan keputusan.

Berdasarkan hasil wawancara tentang pelibatan karyawan dalam

membuat keputusan terkait penerapan keselamatan dapat disimpulkan

bahwa mereka selalu dilibatkan dan diminta pendapat yang dapat

dijadikan masukan ataupun saran dalam membuat keputusan terkait

penerapan keselamatan pasien dirumah sakit.

Partisipasi dalam pengambilan keputusan merupakan suatu

penerapan manajemen sumber daya manusia yang memberikan tanda

kepada karyawan bahwa mereka dihargai oleh perusahaan. Karyawan

dapat berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam

pengambilan keputusan dan memiliki kesempatan untuk mempengaruhi

keputusan yang ada dalam berbagai tingkat organisasi.

Karyawan merasa menjadi bagian dari organisasi ketika mereka

berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut masa

depan perusahaan. Melalui partisipasi ini, karyawan mulai melihat

perusahaan sebagai refleksi dari keputusan mereka. Keterlibatan

karyawan juga membangun loyalitas karena dengan melibatkan karyawan

dalam pengambilan keputusan berarti perusahaan mempercayai

karyawannya.
124

Pengetahuan karyawan juga dapat menjadi keunggulan kompetitif

bagi perusahaan. Karyawan terkadang memiliki pengetahuan yang lebih

banyak tentang pekerjaan mereka dibandingkan dengan para manajer

(Miller dan Monges,1986 dalam Joyce Elele dan Dail Fields, 2010).

Sebagai hasilnya, keputusan yang dibuat bersama dengan para karyawan

akan lebih baik karena keputusan yang dibuat merupakan gabungan dari

informasi yang lebih lengkap. Karyawan yang terlibat secara langsung

dalam pengambilan keputusan akan lebih baik dalam menjalankan hasil

keputusan. Partisipasi dalam pengambilan keputusan juga dapat

meningkatkan moral para karyawan karena mereka mempersepsikan

bahwa melalui partisipasi berarti perusahaan memandang karyawan

sebagai rekan yang berharga dan berkompeten.

Partisipasi dalam pengambilan keputusan mempunyai bentuk yang

berbeda-beda seperti partisipasi dalam keputusan kerja, konsultasi,

partisipasi jangka pendek, partisipasi informal, kepemilikan, dan

perwakilan (Cotton at al., 2002 dalam Samson SamGananakkan, 2010).

Bentuk partisipasi dalam pengambilan keputusan yang berbeda dapat

menghasilkan outcome yang berbeda.

b. Komunikasi

Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku

dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan

dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi

pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Makalah

ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik. Komunikasi


125

interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang

atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi

interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai

ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal. Menurut Potter

dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995)

ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan non-verbal yang

dimanifestasikan secara terapeutik.

Kompetensi dalam berkomunikasi menjadi suatu hal yang penting

karena komunikasi yang efektif berhubungan dengan pengelolaan dalam

menyelesaikan konflik. Komunikasi efektif juga berperan dalam

tersosialisasinya isu pelayanan keperawatan dan isu organisasi.

Komunikasi memeiliki dua aspek penting yatiu sikap dalam berkomunikasi

dan alat untuk berkomunikai (Wise & Kowalski, 2006). Komunikasi data

secara verbal, tertulis, mapun lisan. Keterampilan komunikasi dapat

berupa mendengar aktif, mendorong saluran informasi, asertif,

memberikan umpam balik, upaya mencitpkan perantara apabila terdapat

masalsah dalam berkomunikais, membentukan jaringan, menyatakan

komunikasi sebagai vivi. Komunikasi yang efektif dapat dilakukan baik

lisan maupun tertulis. Komunikasi lisan diselenggarakan melalui proses :

operan, konferens, konsultasi, dan informal antar staf. Komunikasi tertulis

diselenggarakan melalui media yaitu papan tulis, buku laporan ruangan,

atau pesan-pesan khusus tertulis.


126

A. Kepercayaan dan Keterbukaan

1) Mendapat umpan balik positif apabila ada suatu kejadian yang

dilaporkan

Umpan balik dalam proses komunikasi adalah sebuah balasan

yang di kirimkan oleh komunikan kepada komunikator, setelah menerima

pesan dari sang komunikator. Umpan balik disini biasanya berbentuk

langsung setelah si komunikan menerima pesan. Namun menurut buku

Hafied Cangara umpan balik atau bisa dari unsur lain seperti pesan dan

media meski pesan belum sampai pada penerima. Umpan balik dari lima

unsur tersebut adalah elemen paling penting untuk mengetahui berhasil

atau gagalnya komunikasi tersebut. Maka sebagai komunikator, kita akan

dapat langsung mengetahui apakah tujuan dari pesan kita tersampaikan

atau tidak.

Dalam Ilmu Komunikasi dikenal beberapa jenis umpan balik. Ada di

antaranya yang merupakan analogi pada konteks komunikasi yang lain

atau merupakan sifatnya. Jenis-jenis umpan balik tersebut adalah :

1. Umpan balik Positif – umpan balik Negatif

umpan balik positif adalah isyarat / gejala yang ditunjukkan oleh

komunikan yang menandakan bahwa ia / mereka memahami, membantu

dan mau bekerja sama dengan komunikator untuk mencapai sasaran

komunikasi tertentu, dan tidak menunjukkan perlawanan / pertentangan.

umpan balik negatif adalah isyarat / gejala yang ditunjukkan oleh

komunikan yang menandakan bahwa ia / mereka memiliki sikap serta

perilaku yang dapat berkisar dari mulai tidak setuju hingga tidak menyukai
127

pesan, cara penyampaian, atau bahkan diri sang komunikator. Segalanya

sesuatu yang merupakan lawan dari feedback positif adalah feedback

negatif.

2. umpan balik Netral – umpan balik Zero

umpan balik Netral adalah jenis feedback yang sulit untuk dinilai

sebagai isyarat / gejala yang menunjukkan respon positif atau negatif.

Dengan kata lain feedback netral adalah feedback yang tidak jelas

wujudnya; apakah itu positif atau negatif. umpan balik k Zero adalah

feedback yang sulit dimengerti oleh komunikator. Komunikator tidak tahu

harus menafsirkan isyarat / gejala yang muncul dari komunikan.

3. umpan balik Internal – umpan balik Eksternal

umpan balik Internal adalah yang menunjukkan sumber dari isyarat

/ gejala yang menjadi feedback. Bila itu muncul dari dalam diri

komunikator, maka itu disebut feedback internal. Maksudnya, misalnya

ketika komunikator telah mengatakan sesuatu, tapi kemudian ia ingat

sesuatu dan meralat apa yang telah ia katakan, maka yang kita lihat itu

dapat kita katakan sebagai hal yang terjadi karena ada feedback internal

pada diri komunikator.

4. umpan balik Verbal – umpan balik Non-Verbal

umpan balik Verbal menunjuk pada bentuk atau wujud dari apa

yang disampaikan komunikan sebagai reaksinya pada suatu perilaku

komunikasi tertentu yang sedang berlangsung. umpan balik Non-Verbal

adalah yang wujudnya bukan berupa lisan atau tulisan, seperti ekspresi
128

wajah, gerak-gerik, cara duduk, cara berdiri, cara menatap, bentuk

senyuman, isyarat tangan, dan sebagainya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang mendapat

umpan balik positif yaitu mereka tidak pernah mendapat umpan balik yang

positif apabila ada suatu kejadian yang dilaporkan tidak pernah

ditindaklanjuti.

Umpan balik terkait dengan keselamatan kepada pihak

manajemen di rasakan masih kurang bahkan oleh tenaga pelaksana di

rasakan tidak ada. Padahal dalam penerapan sistem manajemen yang

berdasarkan model Competency-Based Human Asset, kompetensi

seseorang dinilai dari sudut hard skill (pengetahuan dan keahlian) dan

soft skill (perilaku,motivasi, talenta). Seorang perawat harus selalu

memperbaharui/update pengetahuan dan ketrampilannya, kemampuan

teknis, berpikir kritis dan ketrampilan hubungan interpersonal, dalam

lapangan yang selalu berubah. Kompetensi juga mengembangkan

budaya kerja yang positif, karena keyakinan akan kompetensi rekan kerja

akan meningkatkan kerja tim/teamwork.

Berbeda dengan hasil penelitian Aris (2013) Pada dimensi timbal

balik kesalaahan di RS PKU Bantul asuk Muhammdiyah dalama

interpretasi baik. Hal ini menunjukan bahwa apabila terjadi suatu

kesalahan medis maka akan diberikan respon yang baik terhadap laporan

tersebut. Kesalahan akan segera dicari jalan keluarnya. Setelah kejadian

selesai maka akan dievaluasi terhadap kasus yang terjadi dan akan dicari

cara pencegahan agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali.


129

2) Wajib memperingatkan apabila melihat segala sesuatu yang

dapat mengancam keselamatan pasien

Insiden keselamatan pasien tidak terjadi hanya karena satu atau

dua penyebab melainkan banyak penyebab yang bisa berkontribusi, mulai

dari sistem yang menggerakkan pelayanan kesehatan, sarana &

prasarana sampai dengan kinerja perseorangan yang bersentuhan

langsung dengan pasien, yang kesemuanya berkolaborasi sehingga

insiden tidak dapat dicegah. Demikian pula pada pengendaliannya,

suatu variabel yang berisiko menyebabkan insiden keselamatan pasien

harus dikendalikan secara menyeluruh meliputi sistem dan lingkungan

yang melingkupinya.

Keselamatan Pasien (Patient Safety) merupakan sesuatu yang jauh

lebih penting dari pada sekedar efisiensi pelayanan. Perilaku perawat

dengan kemampuan perawat sangat berperan penting dalam pelaksanaan

keselamatan pasien. Perilaku yang tidak aman, lupa, kurangnya

perhatian/motivasi, kecerobohan, tidak teliti dan kemampuan yang tidak

memperdulikan dan menjaga keselamatan pasien berisiko untuk

terjadinya kesalahan dan akan mengakibatkan cedera pada pasien,

berupa Near Miss (Kejadian Nyaris Cedera/KNC) atau Adverse Event

(Kejadian Tidak Diharapkan/KTD) selanjutnya pengurangan kesalahan

dapat dicapai dengan memodifikasi perilaku. Perawat harus melibatkan

kognitif, afektif dan tindakan yang mengutamakan keselamatan pasien.

Salah satu sasaran keselamatan pasien adalah tercapainya

pengurngan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. Infeksi adalah


130

inivsai tubuh oleh pathogen atau mikroorganisme yang mampu

menyebabkan sakit. Rumah sakit merupakan salah satu tempat yang

paling mungkin rentan mendapat infeksi karena mengandung populasi

mikroorganisme yang sangat tinggi dengan jenis virus yang mungkin

resisten terhadap antibiotik (Potter & Perry, 2005). Infeksi umumnya

dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi

saluran kemih terkait kateter, infeksi aliran darah (blood stream infections)

dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang wajib

memperingatkan apabila melihat segala sesuatu yang dapat mengancam

keselamatan pasien yaitu bahwa maka wajib diberikan peringatan agar

lebih berhati-hati.

Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien

harus menerapkan keselamatan pasien. Perawat harus melibatkan

kognitif, afektif, dan tindakan yang mengutamakan keselamatan pasien.

Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus penuh dengan

kepedulian. Persepsi perawat untuk menjaga keselamatan pasien sangat

berperan penting dalam pencegahan, pengendalian, dan peningkatan

keselamatan pasien (Choo dkk, 2011). Dalam pelaksanaan program

patient safety di rumah sakit berkareditasi, kejadian pasien jatuh

merupakan salah satu indikator berjalan tidaknya program ini.

Menurut Potter & Perry (2009) beberapa intervensi yang dapat

dilakukan perawat untuk mencegah terjadinya jatuh pada pasien antara

lain; Mengorientasikan pasien pada saat masuk rumah sakit dan


131

menjelaskan sistem komunikasi yang ada, bersikap hati-hati saat mengkaji

pasien dengan keterbatasan gerak, melakukan supervise ketat pada awal

pasien dirawat terutama malam hari, memberikan alas kaki yang tidak

licin, memberikan pencahayaan yang adekuat, memasang pengaman

tempat tidur terutama pada pasien dengan penutunan kesadaran dan

gangguan mobilitas, dan menjaga lantai kamar mandi agar tidak licin.

B. Proses dan Informasi

1) Kebebasan menyatakan pendapat dan memberi usulan kebijakan

yang sesuai untuk diterapkan

Berdasarkan hasil wawancara tentang kebebasan menyatakan

pendapat dan memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk diterapkan

dapat disimpulkan bahwa mereka sangat terbatas untuk menyatakan

pendapat dan memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk diterapkan,

hanya untuk orang- orang pihak atas yang mengatur. Sebagian besar staf

akan tidak bebas berbicara jika mereka memberi usulan ataupun

pendapat yang akan berdampak positif kepada rumah sakit dan merasa

tidak bebas bertanya terhadap keputusan atau tindakan dari mereka

yang mempunyai otoritas lebih tinggi.

Hal ini merupakan hal yang menunjukkan bahwa ketidak terbukaan

dan ketidakkeadilan yang menjadi dasar dalam budaya keselamatan

pasien sudah tidak terbentuk. Namun masih di dapatkan informasi bahwa

masih ada staf yang merasa sungkan untuk berbicara sehingga perlu di

dorong dan di beri motivasi agar mau bebas berbicara. Manager dan

pimpinan tim keselamatan pasien perlu untuk melakukan pendekatan


132

sistem, bertindak tidak dengan menyalahkan seseorang yang disebabkan

ketidakmampuannya atau kurang motivasi, namun berfokus pada aspek

desain sistem yang buruk sebagai penyebab masalah.

2) Informasi perawatan pasien yang penting selalu tersedia saat

pergantian shift

Pengembangan dan peminatan terhadap handover di klinis telah

berkembang selama beberapa tahun terakhir ini, baik secara nasional

maupun internasional, terutama setelah World Health Organization

meluncurkan The Nine Patient Safety Solutions pada Mei 2007. Salah

satu solusi ini berhubungan dengan "komunikasi selama penyerahan

pasien" (Australian Healtcare and Hospitals Association, 2009).

Transfer informasi dan tanggung jawab penting untuk perawatan

pasien dari satu ke penyedia layanan kesehatan lain dan merupakan

komponen integral dari komunikasi dalam perawatan kesehatan. Titik kritis

perpindahan ini dikenal sebagai handover atau handoff atau serah terima

pasien. Serah terima pasien yang efektif mendukung informasi penting

dan kontinuitas perawatan dan pengobatan. Handover ini bertujuan untuk

menyampaikan informasi dari setiap pergantian shift serta memastikan

efektifitas dan keamanan dalam perawatan pasien (McCLoughen, et al

2008 dalam Scovell, 2010). Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali

peran handover dalam meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit.

Berdasarkan hasil wawancara, hasil observasi dan telaah dokumen

dengan informan tentang informasi perawatan pasien yang penting selalu

tersedia saat pergantian shif yaitu dapat disimpulkan bahwa informasi


133

tersebut selalu tersedia untuk mengingatkan para staf yang sedang atau

akan bertugas untuk pergantian shift.

C. Arti Penting Keselamatan Pasien

1) Setiap masalah pasien yang terjadi dirumah sakit selalu

didiskusikan bersama dan dicarai jalan keluarnya

Melalui diskusi, kita dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif, berpikir secara

logis dan sistematis serta menyampaikan gagasan kepada orang lain dengan

menggunakan bahasa yang baik dan benar secara lisan. Dengan berdiskusi kita

dapat berlatih menggunakan pengetahuan dan gagasan-gagasan kita untuk

menyampaikan pendapat, mempertahankan pandangan-pandangan,

mengatakan setuju atau menolak pandangan orang lain dengan cara-cara yang

baik. Melalui diskusi pula kita dilatih untuk menghargai orang lain walaupun kita

berbeda pendapat atau pandangan. Selain itu, dalam diskusi juga bisa berlatih

memperkenalkan diri dan dengan diskusi bisa mencari jalan keluar.

Berdasarkan hasil wawancara tentang setiap masalah pasien yang

terjadi dirumah sakit selalu didiskusikan bersama dan dicarai jalan

keluarnya yaitu dapat disimpulkan bahwa mereka selalu

mendiskusikannya bersama dan dicari jalan keluar dengan pihak

manajemen agar tidak terjadi lagi masalah yang sama dikemudian hari.

2) Diunit ini mendiskusikan bagaimana cara mencegah terjadinya

kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan

Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit merupakan

suatusistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.

Sistem tersebut terdiri dari: assesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan

hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis


134

insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta

implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Sistem

tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan

oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak

melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara tentang mendiskusikan bagaimana

cara mencegah terjadinya kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan yaitu

dapat disimpulkan bahwa untuk instalasi memang selalu berdiskusi cara

mencegah terjadinya kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan untuk

mengurangi insiden kecelakaan pada pasien.

Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien

dengan menggunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah

untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan yang didiskusikan

bersama

D. Perhatian dan pengenalan pentingnya keselamatan

1) Staf diberi kesempatan untuk bertanya apabila ada sesuatu yang

berjalan tidak semestinya

Berdasarkan hasil wawancara tentang pemberian kesempatan

kepada staf untuk bertanya apabila ada sesuatu yang berjalan tidak

semestinya yaitu dapat disimpulkan bahwa staf selalu diberikan

kesempatan untuk bertanya dan tidak ada pembatasan untuk bertanya.

Penyebab positif dan signifikannya pengaruh komunikasi

diakibatkan karena pimpinan selalu memberikan kesempatan kepada

karyawan untuk bertanya tentang permasalahan kerja yang memang


135

dianggap benar-benar penting sehingga berdampak pada tingginya

kepuasan kerja karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Kondisi tersebut didukung dengan pimpinan senantiasa memberikan

bimbingan kepada karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan

standar yang telah di tetapkan.

2) Tidak pernah terjadi masalah sewaktu operan antar unit

Operan merupakan komunikasi antar perawat yang berisi tentang

laporan kegiatan dan rencana kegiatan yang dilakukan kepada pasien

selama sif. Komunikasi harus efektif dan akurat agar tugas-tugas yang

akan di lanjutkan oleh perawat selanjutnya berjalan dengan baik (Kerr,

2002, Lardner, 1996 dalam Sugiharto, 2012)

Berdasarkan hasil wawancara tentang masalah yang pernah terjadi

sewaktu operan antar unit yaitu dapat disimpulkan bahwa pernah ada

masalah tetapi hanya masalah kecil dan tidak pernah dibesar-besarkan

serta hanya diselesaikan diunit tersebut dan juga tidak mempengaruhi

kinerja karyawan.

Pelaksanaan serah terima pasien dilakukan berawal dari kantor

perawat kemudian dilanjutkan ke ruangan pasien dengan seluruh staf

keperawatan (Wallis, 2010). Pelaksanaan serah terima pasien juga

dilakukan pada saat pertukaran shiftyaitu shift pagi, siang, dan malam,

informasi yang diberikan mencakup nama pasien, usia, diagnosa serta

asuhan keperawatan dengan menggunakan model ISOBAR (Identification

of patient, Situation and status, Observations, Background and history,


136

assessment and action, Responsibility and risk Management) (ACSQHC,

2009).

c. Kerja Tim

Tim adalah unsur kehidupan oraganisasi karena suatu pekerjaan

melibatkan orang-orang dengan berbagai macam keahlian untuk

berkerjasama untuk satu tujuan. Kejadian tim adalah proses dinamis yang

melibatkan dua atau lebih orang dalam suatu aktivitas untuk

menyelesaikan suatu tujuan. Hampir semua pekerjaan rumah sakit

dilakukan oleh berbagai disipilin ilmu contohnya ; tim ruang pembedahan,

shift antar pekerja, dan unit medis dan perawatan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses Tim

• Tujuan bersama- pengertian bersama tentang tujuan dan

betapa pentingnya komitmen semua anggota dalam

mencapai

• Komunikasi – saluran amna yang dipilih dan bagaimana grup

terhubung.

• Manajemen konflik- bagaimana konflik dan perbedaan

pendapat diatasi. Apakah konflik tersebut mendukung

atau/tidak.

• Pembuat keputusan –bagaimana dan oleh siapa

• Evalusi performa – bagaimana anggota dihargai, secara

formal atau informal

• Divisi pekerja – bagaimana pekerjaan ditugaskan

• Kepemimpinan- bagaimana pemimpin dipilih dan apa


137

fungsinya

• Monitor proses – bagaimana tugas diproses dan diperiksa

• Bagaimana umpan baliknya

Dirumah sakit, definisi dari tim dan kerja tim tergantung bagaimana

profesi yang berbeda-beda mengatur pekerjaannya. Makary et al (2006)

melaporkan bahwa dokter melakukan kerja tim dengan baik jika suster

juga mengantisipasi kebutuhan dokter dan dapat mengikuti instruksi

dengan baik.

A. Komitmen Pada Tujuan

1) Mendukung rumah sakit ini dalam meningkatkan program


keselamatan pasien yang lebih baik
Rumah sakit sebagai pemberi layanan kesehatan harus

memperhatikan dan menjamin keselamatan pasien. Rumah sakit

merupakan organisasi yang berisiko tinggi terhadap terjadinya Inciden

keselamatan pasien yang diakibatkan oleh kesalahan manusia. Kesalahan

terhadap keselamatan paling sering disebabkan oleh kesalahan manusia

terkait dengan risiko dalam hal keselamatan, dan hal ini disebabkan oleh

kegagalan sistem di mana individu tersebut bekerja (Reason, 2009).

Keselamatan pasien di rumah sakit melibatkan partisipasi dari

semua petugas kesehatan, terutama perawat. Perawat sebagai salah satu

tenaga kesehatan yang mempunyai jumlah cukup dominan di rumah sakit

yaitu sebesar 50 sampai 60% dari jumlah tenaga kesehatan yang ada.

Pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien

merupakan pelayanan yang terintegrasi dari pelayanan kesehatan yang

lainnya dan memiliki peran yang cukup penting bagi terwujudnya


138

kesehatan dan keselamatan pasien.

Keselamatan pasien adalah usaha suatu tim, tim yang paling

efektif mempunyai tujuan yang sama dalam bekerja, dan adanya kerja tim

yang tidak efektif menciptakan berbagai peluang untuk terjadinya

kesalahan/errors (Merry & Brown, 2002; White, 2004). Pronovost (2003)

dalam Rachmawati (2012) menyatakan bahwa kesenjangan komunikasi di

antara anggota tim adalah dasar dari kebanyakan kesalahan medis yang

terjadi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang dukungan

untuk rumah sakit ini dalam meningkatkan program keselamatan pasien

yang lebih baik yaitu bahwa mereka sangat mendukung rumah sakit

dalam meningkatkan program keselamatan pasien yang lebih baik karena

penerapan dirumah sakit belum maksimal. Peningkatan keselamatan

pasien (patient safety) dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan

kepada para perawat. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang

menyatakan bahwa terdapat peningkatan yang bermakna dari

pelaksanaan timbang terima dan penerapan keselamatan pasien sebelum

dan sesudah diberikan pelatihan timbang terima. Pada penelitian ini juga

diketahui bahwa sebuah komitmen penting untuk meningkatkan

pelaksanaan timbang terima dan penerapan keselamatan pasien melalui

kebijakan dalam bentuk standar dan prosedur timbang terima,

pengarahan dan evaluasi pelaksanaan timbang terima, untuk

kesinambungan asuhan keperawatan yang berdampak pada peningkatan

keselamatan pasien (Dewi, 2011).


139

Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien merupakan

suatu cara bagaimana menciptakan kepemimpinan dan budaya terbuka

dan adil yang artinya rumah sakit mempunyai kebijakan apa yang mesti

dilakukan staf segera setelah insiden, bagaimana langkahlangkah

pengumpulan fakta dan dukungan apa yang diberikan kepada staf,

budaya pelaporan dan belajar dari insiden serta melakukan penilaian

keselamatan pasien (Depkes, 2006).

Pelayanan kesehatan yang bermutu yaitu pelayanan kesehatan

yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan sesuai dengan

kode etik dan standar pelayanan yang telah ditetapkan. Pelayanan

perawatan yang sesuai dengan standar memiliki dampak yang lebih besar

terhadap citra pelayanan rumah sakit.

Strategi meningkatkan keselamatan pasien oleh Permenkes (2011)

melalui enam sasaran keselamatan pasien rumah sakit meliputi identifikasi

pasien dengan tepat, meningkatkan komunikasi yang efektif,

meningkatkan keamanan obat perlu diwaspadai, memastikan tepat lokasi,

tepat prosedur, tepat pasien operasi, mengurangi risiko infeksi terkait

pelayanan kesehatan dan mengurangi risiko jatuh. Joint Commision

International (JCI) menetapkan sasaran internasional keselamatan pasien

dengan meningkatkan keamanan obat-obatan, memastikan lokasi

pembedahan, prosedur yang benar dan pembedahan pada pasien yang

benar, memastikan keamanan risiko jatuh pasien (JCI, 2011).

Strategi untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan

keselamatan pasien telah dilakukan banyak dikemukakan peneliti.


140

Strategi membangun sistem pelaporan non hukuman. Perawat pada

posisi yang unik untuk mengembangkan alat,proses, dan praktik yang

berusaha untuk mengurangi dan menghilangkan semua jenis kesalahan

keselamatan pasien yaitu dengan mengembangkan Risiko berbasis

kesalahan, Risiko berbasis kesalahan peraturan, mengembangkan

kemampuan untuk mengenali adanya risikotinggi dan perilaku berbasi

pengetahuan (Mattox,2012).

2) Koordinasi dengan kepala ruangan terhadap kegiatan yang terkait


dengan peningktan program keselamatan pasien
Kerjasama dalam tim adalah salah satu pilar mutu selain scientific

approach dan continuous quality improvement dalam memberikan

pelayanan yang bersdifat customer focus, termasuk dalam upaya

meningkatkan keselamatan pasien. Pekerjaan yang besar dan berat dapat

diselesaikan dengan baik bila ada kerjasama dalam tim (Roobins, 1996).

Hasil penelitian ini selaras dengan laporan AHRQ, tentang Hospital

Survey on Patient Safety Culture tahun 2009 Comparative Databased

Report bahwa team work pada tingkat unit di rumah sakit yang diteliti

sebagai salah satu area kekuatan dalam patient safety culture. Kejadian

yang berhubungan dengan keselamatan pasien merupakan proses

belajar untuk lebih menjadi baik. Perawat merupakan bagian dari

budayakeselamatan pasien mampu belajar dari laporan kejadian

keselamatan pasien baik itu kejadian tidak diinginkan dan kejadian nyaris

cidera (Jeffs, Law & Baker, 2007).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang koordinasi

dengan kepala ruangan terhadap kegiatan yang terkait dengan peningktan


141

program keselamatan pasien yaitu bahwa mereka selalu berkoordinasi

dengan kepala ruangan apabila terkait dengan peningktan program

keselamatan pasien.

Hasil penelitian Apriningsih (2013) Dalam team work di unit RS

menunjukkan sejauh mana anggota suatu divisi kompak dan bekerja

sama dalam tim. Juga adanya keterbukaan yang menunjukkan sejauh

mana keterbukaan antar-anggota dan pimpinan. Ada pula umpan balik

dan komunikasi tentang kesalahan yang menunjukkan sejauh mana

umpan balik diberikan para pimpinan. Kemudian, respon non-punitif

terhadap kesalahan: menunjukkan sejauh mana pengakuan akan

kesalahan tidak ditanggapi dengan hukuman.

Kerjasama tim yang dilakukan oleh pemimpin dengan bawahan

merupakan suatu kelompok kecil orang dengan keterampilan yang saling

melengkapi yang berkomitmen pada tujuan bersama, sasaran-sasaran

kinerja dan pendekatan yang mereka jadikan tanggung jawab bersama

(Katzenbach & Douglas, dalam Cahyono, (2008). Pemimpin disini

diartikan sebagai atasan langsung dari perawat pelaksana, dengan kata

lain adalah kepala ruangan/supervisor. Menurut Yahya (2007) dalam

Konveksi Nasional Mutu Rumah Sakit dalam membangun budaya

keselamatan pasien ada dua model kepemmpinan sekaligus yang

dibutuhkan, yakni kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan

transaksional.

Kerjasama merupakan bentuk attitude dari perawat dalam bekerja

di dalam tim karena membuat individu saling mengingatkan, mengoreksi,


142

berkomunikasi sehingga peluang terjadinya kesalahan dapat dihindari.

Hasil penelitian ini sejalan dengan kenyataan dilapangan bahwa dalam

melakukan asuhan keperawatan kepada pasien, perawat melakukannya

hanya kepada pasien yang menjadi tanggungjawabnya dari pada bekerja

dalam tim. Setiap perawat memiliki tanggung jawab dan tugasnya

tersendiri terhadap pasien sehingga perawat lain tidak saling mengetahui

terhadap pekerjaan rekannya.

Kepala ruang harus melakukan kegiatan pengarahan dalam

berkoordinasi dengan perawat melalui : saling memberi motivasi,

membantu pemecahan masalah, melakukan pendelegasian,

menggunakan komunikasi yang efektif, melakukan kolaborasi dan

koordinasi. Kegiatan saling memberi motivasi merupakan unsur yang

penting dalam pelaksanaan tugas pelayanan dan asuhan keperawatan di

ruangan. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh kepala ruang adalah selalu

memberikan reinforcement terhadap hal-hal yang positif, memberikan

umpan balik, memanggil perawat yang kurang termotivasi, mungkin

prestasi yang dicapai perlu diberikan penghargaan.

a. Komunikasi ide dan gagasan

1) Direktur dan wadir pelayanan selalu ikut berkoordinasi terhadap

kegiatan yang terkait dengan peningktan program keselamatan

pasien

Mintzberg (1983) memperkenalkan mekanisme koordinasi yang

dapat membantu organisasi untuk meningkatkan proses koordinasi yang

efektif dan menyelesaikan permasalahan yang ditemui. Suatu organisasi


143

harus mengetahui mekanisme koordinasi yang paling tepat dan

dibutuhkan untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kebebasan

menyatakan mendukung rumah sakit ini dalam meningkatkan program

keselamatan pasien yang lebih baik yaitu dapat disimpulkan bahwa

mereka sangat mendukung rumah sakit dalam meningkatkan program

keselamatan pasien yang lebih baik karena penerapan dirumah sakit

belum maksimal.

2) Kenyaman dan tidak kesusahan saat pembagian tugas dengan


rekan kerja
Depkes (2008) mengungkapkan bahwa faktor yang berkontribusi

terhadap terjadinya insiden keselamatan pasien adalah: faktor

eksternal/luar rumah sakit, faktor organisasi dan manajemen, faktor

lingkungan kerja, faktor tim, faktor petugas & kinerja, faktor tugas, faktor

pasien, dan faktor komunikasi. Sebagaimana dinyatakan Flippo, kondisi

kerja yang nyaman aman dan menarik merupakan keinginan karyawan

untuk dipenuhi perusahaan.

Didalam lingkungan kerja, perawat dan tim kesehatan membentuk

interaksi sosial dan terapeutik untuk membangun kepercayaan dan

memperkuat hubungan. Semua orang memiliki kebutuhan interpribadi

akan penerimaan, keterlibatan, identitas, privasi, kekuatan dan control

serta perhatian (Stewart & Logan, 2005). Perawat membutuhkan

persahabatan dukungan, bimbingan dan dorongan dari pihak lain untuk

mengatasi tekanan akibat stres pekerjaan dan harus dapat menerapkan

komunikasi yang baik dengan klien, sejawat dan rekan kerja.


144

Upaya selanjutnya dalam memaksimalkan kemampuan potensi

sumber daya manusia pada suatu organisasi, yaitu dengan memberikan

tempat bagi pegawai pada posisi yang sesuai kemampuannya dengan

cara melakukan pembagian kerja sesuai porsi pada unit kerjanya. Dalam

pembagian kerja tersebut tersebut kegiatan dibagi-bagi sesuai porsi kerja

pada unit organisasi. Pembagian kerja dimaksud, yaitu upaya

memudahkan seseorang dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya

yang memungkinkan orang itu dapat mempelajari dan memiliki

keterampilan kerja yang memadai, sehingga mampu bekerja dan

berpengalaman dalam pekerjaannya untuk mendukung tugas, fungsi dan

tanggungjawab yang diberikan pimpinan kepadanya.

Pembagian kerja merupakan salah satu faktor yang paling penting

karena adanya pembagian kerja akan dapat memberikan kejelasan bagi

para karyawan untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai

dengan beban kerja yang menjadi tanggung jawab serta mencegah

kemungkinan terjadinya tumpang tindih pekerjaan, pemborosan dan saling

melempar tanggung jawab bilamana terjadi kesalahan dan kesulitan.

Namun pembagian kerja harus diikuti dengan penempatan karyawan

pada tempat yang tepat (The right man on the right place). Selain

penempatan karyawan pada tempat yang tepat juga perlu diperhatikan

tentang penyesuaian beban kerja. Pembagian kerja harus disesuaikan

dengan kemampuan seseorang karyawan, karena mungkin saja seorang

karyawan sanggup diberi tugas yang banyak, namun apakah ia mampu

untuk menyelesaikanya. Pembagian kerja dilakukan dengan asumsi


145

bahwa semakin kecil tugas yang dibebankan maka akan semakin cepat

penyelesaiannya dari waktu, semakin ringan dari segi tenaga yang

digunakan, semakin mudah didalam penggunaan pikiran, semakin hemat

biaya yang digunakan.

Menurut Hasibuan (2007) bahwa pembagian kerja itu berkaitan

dengan informasi tertulis yang menguraikan tugas dan tanggung jawab,

kondisi pekerjaan, hubungan pekerjaan, dan aspek-aspek pekerjaan

pada suatu jabatan tertentu dalam organisasi”. Pembagian kerja yang

diuraikan dengan jelas dan terperinci sangat membantu pegawai dalam

pelaksanaan tugas untuk menjalankan tugas dan fungsinya, sehingga

keahlian dalam pengalaman dan tanggungjawab yang dimiliki pegawai

secara perlahan akan tumbuh dan meningkat menuju perbaikan kinerja

secara menyeluruh.

Kinerja pegawai dimaksud merupakan penyelesaian pekerjaan

yang berkualitas, tepat waktu disertai dengan kualitas dan kuantitas serta

mutu yang dihasilkan sesuai dengan target yang telah ditentukan. Kinerja

pegawai menurut Jamari dalam Rivai (2009), dikatakan: “sebagai

perwujudan wewenang, tugas dan tanggungjawab yang dibebankan

kepadanya untuk mencapai tujuan yang telah digariskan oleh organisasi”.

Pelayanan keperawatan yang berkualitas dapat dipengaruhi oleh

jumlah tenaga perawat dan adanya kepuasan perawat yang ada dalam

suatu rumah sakit. Kepuasan perawat dapat dipengaruhi oleh kebijakan

manajemen. Kinerja perawat yang baik dapat mencerminkan tingkat

kepuasan kerja (Nursalam, 2007). Kepuasan kerja juga merupakan suatu


146

bentuk interaksi manusia dengan lingkungan pekerjaannya. Kepuasan

kerja yang tinggi merupakan tanda bahwa organisasi telah melakukan

manajemen perilaku yang efektif . Faktor lingkungan kerja juga merupakan

salah satu faktor lain yang mampu mempengaruhi kepuasan kerja

karyawan. Lingkungan kerja yang baik dalam arti sempit adalah tempat /

lokasi kerja aman, nyaman, bersih dan tenang, peralatan yang baik,

teman sejawat akrab, pimpinan yang pengertian akan memberikan

kepuasan karyawan.

Setiap organisasi memiliki serangkaian tugas atau kegiatan yang

harus diselesaikan untuk mencapai tujuan. Kegiatan perlu dikumpulkan

sesuai dengan spesifikasi tertentu. Pengelompokan kegiatan dilakukan

untuk memudahkan pembagian tugas pada perawat sesuai dengan

pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki serta disesuaikan

dengan kebutuhan klien. Ini yang disebut dengan metoda penugasan

keperawatan. Metoda penugasan tersebut antara lain: metode fungsional,

metode alokasi klien/keperawatan total, metode tim keperawatan, metode

keperawatan primer, dan metode moduler (Swansburg, 1999).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kenyaman

dan tidak kesusahan saat pembagian tugas dengan rekan kerja yaitu

semua informan menyatakan bahwa mereka sangat nyaman dan tidak

pernah merasa kesusahan saat pembagian tugas dengan rekan kerja

karena mereka merasa hal tersebut sudah adil.

Hasil penelitian Herni (2014) menunjukkan bahwa besarnya

pengaruh Pembagian Kerja menunjukkan besaran nilai signifikan Kinerja


147

Pegawai secara optimal artinya pengaruh Pembagian Kerja terhadap

Kinerja Pegawai menunjukkan pengaruh positif. Nilai tersebut

menunjukkan bahwa Pembagian Kerja yang dilakukan oleh pimpinan

terhadap bawahan telah dijalankan secara penuh. Pimpinan telah

melakukan Pembagian Kerja secara konsisten dan terprogram sedemikian

rupa, sehingga Kinerja Pegawai meningkat, hal ini diketahui dari evaluasi

yang dilakukan secara rutin. Melihat kenyataan di lapangan pelaksanaan

Pembagian Kerja ini telah dilakukan dengan penuh kesungguhan dengan

tujuan untuk meningkatkan Kinerja Pegawai secara menyeluruh.

b. Efektivitas Interpersonal

1) Anda dan rekan kerja anda mampu berkordinasi dengan baik

untuk mewujudkan pelayanan pasien yang sesuai dengan

prosedur keselamatan pasien

Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang padat

karya, padat modal, padat teknologi serta mempunyai peranan

melaksanakan kesehatan paripurna dengan mengutamakan upaya

penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan

terpadi dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan

rujukan dan menyelenggarakan pendidikan dan penelitian. Adtiama (2009)

menyatakan bahwa dalam menyelenggarakan tugasnya rumah sakit

mempunyai fungsi pelayanan medik, pelayanan penunjang medik,

pelayanan perawatan pelayanan rehabilitasi dan pencegahan serta

peningkatan kesehatan.
148

Sehubungan dengan pelayanan di rumah sakit, sistem yang

bagian-bagiannya adalah unit yang ada harus berfungsi dengan baik.

Fungsi ini memungkinkan adanya kesatuan, keterpaduan antar unit, antar

pejabat serta keharmonisan antar organisasi. Agar Rumah sakit dapat

mencapai tujuannya, maka fungsi koordinasi memegang peranan penting

dalam prosesnya, sehingga mampu menciptakan kualitas pelayanan yang

optimal bagi para pasien.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kemampu

berkordinasi dengan baik untuk mewujudkan pelayanan pasien yang

sesuai dengan prosedur keselamatan pasien yaitu dapat disimpulkan

bahwa mereka sangat mampu berkoordinasi dengan baik dengan saling

membantu rekan kerja karena hal tersebut sudah menjadi kewajiban

mereka untuk mewujudkan pelayanan pasien yang sesuai dengan

prosedur keselamatan pasien.

Willian dalam Aditama (2008) menyampaikan bahwa hal yang perlu

dinilai pada karyawan rumah sakit meliputi pengetahuan tentang

pekerjaan, produktivitas, kemampuan menyelesaikan tugas, perilaku

dalam pekerjaan, kemampuan mengambil keputusan dan hubungan

kerjasama dengan orang lain. Dengan demikian, koordinasi antar unit dan

antar profesi bentuk interaksi dan hubungan kerjasama antara satu unit

dengan unit yang ada pada organisasi menjadi penting. Kinerja layanan

kesehatan sebagai ukuran hasil kerja pegawai dalam memberikan

pelayanan kesehatan, dan kepuasan merupakan salah satu tujuan dari

pemberian pelayanan kesehatan.


149

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian ini mengenai penerapan keselamatan

pasien di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda Tahun 2017, peneliti

merumuskan kesimpulan sebagai berikut:

1. Penerapan keselamatan pasien di RSUD Inche Abdoel Moeis

Samarinda Tahun 2017 dilihat dari gaya kepemimpinan yaitu

pengarahan, direktur dan wakil direktur pelayanan telah

mendelegasikan wewenang dengan sangat baik sehingga mampu

diterima oleh bawahannya tetapi ada kendala dalam pelaksanaan

pelaporan insiden keselamatan pasien pasien belum dilakukan

secara maksimal yang disebabkan adanya gap pelaporan dengan

pihak manajemen, sehingga dukungan manajemen yang kurang

optimal dengan tidak segera memberikan feedback atas laporan

insiden keselamatan pasien yang menjadi alasan yang sangat kuat.

Pemberian penghargaan bagi karyawana yang memiliki kinerja

yang baik tidak pernah dilakukan, dimana penghargaan merupakan

salah satu kebutuhan pokok bagi karyawan, selain sebagai motivasi

kerja yang tinggi. Pemberian sanksi tegas bagi karyawan yang

melakukan kesalahan terkait penerapan keselamatan pasien tidak

pernah dilakukan. Dilihat dari gaya kepemimpinan yaitu pada

supervisi, kebebasan sangat terbatas untuk menyatakan pendapat


150

dan memberi usulan kebijakan yang sesuai untuk diterapkan.

Pemberian bimbingan dan motivasi selalu diberikan untuk

meningkatkan penerapan keselamatan pasien di rumah sakit dan

untuk mengurangi angka kecelakaan pasien. Pengawasan

dilakukan dengan melihat data-data keselamatan pasien, apabila

ada hal yang bermasalah mereka langsung memanggil kepala

instalasi atau kepala ruangan yang terkait agar menjelaskan

penyebab terjadinya masalah tersebut dan untuk bisa dicarikan

solusi dan agar tidak terulang kembali untuk hal yang sama.

Pelatihan keselamatan pasien dirumah sakit yang diadakan untuk

menambah pengetahuan staf. Dilihat dari gaya kepemimpinan yaitu

pada Koordinasi, hubungan yang baik dimiliki oleh karyawan antara

direktur dan wadir pelayanan, hubungan yang baik selalu dibina.

Karyawan selalu berada dalam suasana kerja yang aman dan

kondusif karena telah diatur sangat baik oleh pihak manajemen.

Pelibatan karyawan dan diminta pendapat yang dapat dijadikan

masukan ataupun saran dalam membuat keputusan.

2. Penerapan keselamatan pasien di RSUD Inche Abdoel Moeis

Samarinda Tahun 2017 dilihat dari komunikasi yaitu pada

kepercayaan dan keterbukaan, yang dilakukan oleh kepala

ruangan dengan perawat telah berjalan dengan baik, tetapi untuk

pihak manajemen tidak pernah mendapat umpan balik positif dan

apabila melaporkan kasus insiden keselamatan pasien akan diberi

sanksi, pihak manajemen merasa mereka tidak memiliki tanggung


151

jawab untuk hal tersebut sehingga perawat merasa tidak perlu

melaporkan kasus-kasus yang terjadi di ruangan. Pemberian

peringatan apabila terjadi sesuatu yang akan mengancam

keselamatan pasien telah telah di laksanakan dengan baik. Dilihat

dari komunikasi yaitu pada proses dan informasi, adanya

keterbatasan dalam menyatakan pendapat dan memberi usulan

kebijakan yang sesuai untuk diterapkan di rumah sakit. Ketersedian

informasi pergantian shift untuk mengingatkan para staf yang

sedang atau akan bertugas untuk pergantian shift. Dilihat dari

komunikasi yaitu pada arti penting keselamatan pasien,

pendiskusian selalu dilakukan bersama dan dicari jalan keluar

dengan pihak manajemen agar tidak terjadi lagi masalah yang

sama dikemudian hari. Instalasi selalu berdiskusi cara mencegah

terjadinya kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan untuk

mengurangi insiden kecelakaan pada pasien. Dilihat dari

komunikasi yaitu pada perhatian dan pengenalan pentingnya

keselamatan, staf selalu diberikan kesempatan untuk bertanya dan

tidak ada pembatasan untuk bertanya. Masalah pernah terjadi

antar unit tetapi hanya masalah kecil dan tidak pernah dibesar-

besarkan serta hanya diselesaikan diunit tersebut dan juga tidak

mempengaruhi kinerja karyawan.

3. Penerapan keselamatan pasien di RSUD Inche Abdoel Moeis

Samarinda Tahun 2017 dilihat dari kerja tim yaitu pada komitmen

pada tujuan, para karyawan sangat mendukung rumah sakit dalam


152

peningkatan program penerapan keselamatan pasien yang lebih

baik karena keamanan dan kenyaman sarana dan prasarana yang

akan digunakan oleh pasien sehingga menyebabkan penerapan

keselamatan pasien belum maksimal di RSUD Inche Abdoel Moeis

Samarinda. Dilihat dari kerja tim yaitu pada komunikasi ide dan

gagasan, koordinasi terhadap kegiatan yang terkait dengan

peningktan program keselamatan pasien selalu dilakukan dan

pembagian tugas yang adil dan merata telah dilakukan sehingga

membuat perawat merasa nyaman dan tidak kesusahan dalam

menjalankan tugasnya. Karyawan sangat nyaman dan tidak pernah

merasa kesusahan saat pembagian tugas dengan rekan kerja

karena mereka merasa hal tersebut sudah adil. Dilihat dari kerja

tim yaitu efektivitas interpersonal pada karyawan sangat mampu

berkordinasi dengan baik karena hal tersebut sudah menjadi

kewajiban mereka untuk mewujudkan pelayanan pasien yang

sesuai dengan prosedur keselamatan pasien.

B. Saran

Beberapa saran yang peneliti rekomendasikan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut.

1. Diharapkan atasan dalam hal ini Direktur, Wakil Direktur Pelayanan,

Kepala Instalasi dan Kepala Ruangan dan petugas aktif dalam

menyelesaikan dan mencari solusi masalah keselamatan pasien. Agar

masalah keselamatan pasien tidak berulang kembali.


153

2. Diharapkan untuk membentuk tim keselamatan pasien rumah sakit

agar dapat mengevaluasi program-program keselamatan pasien yang

berjalan sehingga diketahui sejauhmana program tersebut efektif

dalam peningkatan keselamatan pasien.

3. Diharapkan kepada pimpinan, manajemen rumah sakit, kepala unit,

dan kepala ruangan untuk menciptakan lingkungan kerja dimana

petugas tidak takut dalam bertanya maupun mengemukakan pendapat

terkait masalah keselamatan pasien yang sedang terjadi.

4. Diharapkan pimpinan melibatkan petugas dalam pengambilan

keputusan terkait keselamatan pasien.

5. Diharapkan rumah sakit dapat menciptakan no blame culture karena

dari hasil penelitian diperoleh bahwa petugas masih takut melaporkan

insiden yang terjadi dikarenakan takut diberi hukuman dan merasa

akan dikeluarkan dari rumah sakit jika diketahi melakukan kesalahan.

6. Bagi pihak pimpinan rumah sakit membentuk tim keselamatan pasien

rumah sakit, diharapkan dapat mengembangkan program-program

pelatihan keselamatan pasien kepada petugas.

7. Bagi kepala instalasi/kepala ruangan, lebih intens dalam melakukan

pembimbingan, pengarahan, dan supervisi kepada petugas. Dari

jawaban responden mengenai bentuk dukungan yang diperoleh dalam

melaksanakan keselamatan pasien salah satunya adalah diberi

pengarahan dan pengenalan keselamatan pasien. Hal ini tentu harus

lebih ditingkatkan lagi.

8. Petugas kesehatan lebih meningkatkan penerapan komunikasi dalam


154

timbang terima pasien (penyerahan informasi mengenai pasien) dari

petugas sebelumnya kepada petugas selanjutnya yang akan

melaksanakan proses pelayanan kepada pasien.

9. Tim keselamatan pasien Rumah Sakit Inche Abdoel Moeis sebaiknya

melakukan survey budaya keselamatan pasien setiap tahun sebab

budaya keselamatan pasien dapat mempengaruhi pelaksanaan

keselamatan pasien.

10. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan observasi terhadap

pelaksanaan keselamatan pasien jika ingin meneliti pelaksanaan

keselamatan pasien. Agar hasil penelitian lebih objektif.


155

DAFTAR PUSTAKA

Agency for Healthcare Research and Quality. (2004). Hospital Survey on


Patient Safety Culture. US.Department of Health anh Human
Service.

Alex, Nitisemito. 2000. Manajemen Personalia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Andriani. (2012) .Kepuasan Kerja Perawat pada Aplikasi Metode Tim


Primer dalam Pelaksanaan Tindakan Asuhan Keperawatan (Studi
Kuantitatif di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang). Jurnal Aplikasi
Manajemen. 10(2): 419 –424.

Apriningsih. (2013). Kerjasama Tim dalam Budaya keselamatan pasien di


rs x (studi kualitatif di suatu rsud di propinsi jawa barat). Jurnal
Ilmiah Kesehatan. 5 (3 ).

Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. (2003). Manajemen Sumber Daya


Manusia. Jakarta: Universitas Trisakti. Jakarta.

Aris. (2013). Analisis Budaya Keselamatan Pasien di RSU PKU


Muhammadiyah. (Skripsi). Bantul. Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.

Azwar,Saifuddin.2002. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Edisi Ke-


2. Yogyakarta:Pustaka Offset.

Badi’ah (2008). Hubungan Motivasi Perawat dengan Kinerja Perawat di


Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Panembahan Senopati
Bantul Tahun 2008. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 12 :
74 –82.

Baron, R.A., & Greenberg, J. (2000). Behaviour in organizations (7th Ed.).


New Jersey: Prentice Hall.

Cahyono, JBS. (2008). Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam


Praktek Kedokteran. Jakarta.

Choo, dkk. (2010). Nurse’s Role in Medication Safety. Journal of Nursing


Management, 18 (5).

Demir C, C. Y. (2002). Determinants of patient satisfaction in miliary


teaching hospital. UK: J Health care Qual.2002:24:30-34.

Depkes. (2006). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit.


Jakarta: Departemen Kesehatan. Jakarta.

Dewi, I. M. (2011). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kapabilitas


anggota DPRD dalam pengawasan keuangan daerah (APBD).
Semarang: Universitas Diponegoro, Fakultas Ekonomi.
156

Dick AW, Perencevich EN, Pogorzelska-Maziarz M, Zwanziger J, Larson


EL, Stone PW. (2015). A decade of investment in infection
prevention: A cost-effectiveness analysis. American Journal Of
Infection Control. 43(1):4-9.

Donabedian, A. (2005). Evaluating of the Quality of Medical Care. The


Milbank Quarterly, 83(4): 691-729.

Effendy, Onong Uchjana. (1992). Hubungan Masyarakat. Bandung: PT.


Remaja Rosdakarya. Bandung.

Gellies, (2005). Manajmen Keperawatan Suatu Pendekatan Sistem, Edisi


Terjemahan. Alih Bahasa Dika Sukmana dkk. Jakarta.

Givens, J.R. (2008), Transformational leadership: The impact on


organizational and personal outcomes. Emerging Leadership
Journeys, 1(1), 4–24.

Handako. T. Hani. (2001). Manajemen Personalia dan Sumber Daya


Manusia. Ed.2. Yogyakarta: BPFE. Yogyakarta.

Hartwell, J. E. (2006). Food service in hospital : Development of a


Theoretical Model for Patient Experience and Satisfaction Using
one Hospital in The UK National Health Service as a case study.
Journal of Foodservice,17: 226-238

Harnoto. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia 2nd ed. Jakarta: PT.
Prenhallindo: Jakarta.

Henriksen K., & Dayton E. (2006). Issues in the design of training for
quality and safety. Quality and Safety Health Care, 15 (1): 17–24.

Institute of Medicine. (2004). Keeping Patients Safe: Transforming the


Work Environment of Nurses.

Hughes RG. (2008). Patient safety and quality: An evidence-based


handbook for nurses. Rockville MD: Agency for Healthcare
Research and QualityPublications.

James L, G. J. (1997). Organizations Behaviour Structure Process.


Chicago: Irwin Book Team. Chicago.

Jeffs, L., Law, M., & Baker, G. R. (2007). Creating reporting & learning
cultures in health-care organizations. The Canadian Nurse, 103(3):
16.

Jiunkpe, (2008). Finansial dan Nonfinansial Rewards.


157

Katz-Navon, T., Naveh, E., & Stern, Z. (2005). Safety climate in healthcare
organisations: A multidimensional approach. Academy of
Management Journal, 48: 1075–1090.

Komite Keselamatan Rumah Sakit (KKP-RS) PERSI. (2007). Pedoman


pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP). Jakarta.

Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). 2012 . Instrumen Akreditasi


Rumah Sakit Standar Akreditasi Versi 2012. Jakarta.

Kondrup J. (2004). Properhospital Nutrition As A Human Right. Clinical


Nutrition , 23:135-7.

Kotler P. (2009). Manajemen Pemasaran Edisi 12 Jilid I. Jakarta: PT


Indeks. Jakarta.

Kotler P. (1999). Perizinan dan Akreditasi Rumah Sakit. Yogyakarta:


Nuha Medika.

Kyle Ue (2005). Does nutritional risk, as assessed by Nutritional Risk


Index, increase during hospital stay? Clinical Nutrition , 24:516-24.

Lele Joyce dan Dail Field, (2010), "Participative Decision Making and
OrganizationalCommitment Comparing Nigerian and American
Employees, Cross Cultural Management”, An International Journal.
17 (4).

Marquis BL & Huston CJ. (2006). Leadership roles and management


functions in nursing: Therory and application (5th Ed.). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Michael V. Tolliver, A. H. (2015). Hospitals are hungry for changes in food


service. http://www.beckershospitalreview.com/hospital-
management-administration/hospitals-are-hungry-for-changes-in-
food-service.html .

Mulyaningsih. (2013). Peningkatan Kinerja Perawat dalam Penerapan


MPKP dengan Supervisi oleh Kepala Ruang di RSJD Surakarta.
Gaster. 10(1):57-70.

Mulyono M. Hadi dkk. (2012). Faktor Yang Berpengaruh Tehadap Kinerja


Perawat di RS Tingkat III. 16.06.01 Ambon.Jurnal AKK. 2 (1): 18-
26.

Nainggolan. (2010). Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruangan


Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Di Rumah Sakit Islam
Malahayati Medan (Skripsi). Universitas Sumatera Utara : Medan

Novinda .S. (2011). Jurnal:Hubungan Penghargaan dengan Kinerja


Perawat Pelaksana di RS Haji Medan.
158

Nursalam (2007). Proses & dokumentasi keperawatan konsep & praktik,


Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Medika.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1691/Menkes/PER/VIII/2011. (2011).


tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI

Potter, C.J, Taylor. P.A., & Perry, C. (2009). Potter &Perry’s Fundamentals
of Nursing, Edition. Australia : Mosby-Elsevier.

Pronovost, P., & Sexton, B. (2005). Assessing safety culture: guidelines &
recommendations. Quality & Safety in Health Care, 14: 231-233.

Rachmawati, E., (2012). “Model Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien


di Putri, 2010. Penerapan Budaya Patient Safety di RS PKU
Muhammadiyah, (Skripsi). Bantul. UMY.

Reason, J. (2008). The human contribution: Unsafe acts, accidents and


heroic recoveries.

Retnowati. (2002). Persepsi terhadap sistem reward, kepuasan kerja dan


motivasi kerja dosen menurut gender di Universitas Negeri Jakarta
Tahun 2001. (Tesis). Depok. Universitas Indonesia.

Rivai, V., & Sagala, E.J. (2009). Manajemen sumber daya manusia untuk
perusahaan: Dari teori ke praktik (Edisi Ke-2). Jakarta: Rajawali
Pers.

Robbins S. (1996) Perilaku Organisasi Jilid 1: Konsep, Kontroversi,


Aplikasi. penerjemah. Jakarta: Prenhallindo.

SamGnanakkan, Samson, (2010),“ Mediating Role of Organizational


Commitment on HR Practices and Turnover Intention Among ICT
Professionals,”Journal of Management Research. 10(1): 39-61,

Sanjaya, l.D.G.W. Ketut, S', (2013). Faktor-faktor Manajerial yang


Melatarbelakangi TingginYa Kejadian Jumlah Pasien Dengan
Dekubitus (lndikator Patient Safety) Pada Pasien Rawat lnaP Di
Rumah Sakit Umum Puri Raharja Tahun 2012. Community Health.
I(2): 72-79.

Sedarmayanti. (2001). Manajemen Perkantoran Modern. Bandung:


Mandar Maju. Bandung.

Setiarso, B., Harjanto, N., Triyono, & Subagyo, H. (2009). Penerapan


knowledge management pada organisasi . Yogyakarta: Graha Ilmu.

Shipton, H., Armstrong, C., West, M., & Dawson, J. (2008) The impact of
leadership and quality climate on hospital performance.
International Journal for Quality in Health Care, 6: 439–445.
159

Siagian, D.S. (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi


Aksara.

Sihotang, B.F. (2006). Pengaruh Motivasi Terhadap Produktivitas Kerja


Perawat Di Rumah Sakit Umum Doloksanggul Tahun 2006.
(Skripsi). Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.Medan.

Swanburg Russel C (1993). Pengantar kepemimpinan dan manajemen


keperawatan (untuk perawat klinis), Jakarta : EGC. Jakarta.

Supranto. (2001). Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta:


Rineka Cipta.

Tappen. (2004). Essential of Nursing Leadership and Management: Third


Edition. Philadelphia: F.A Davis Company.

The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations.,


2011. U.S Department of Health and Human Services. Oakbrook
Terrace, Illinois USA.

Tjiptono, F. (2002). Manajemen Jasa cetakan ketiga. Yogyakarta: Penerbit


Andi. Yogyakarta.

Undang Undang Republik Indonesia No 44 tahun 2009 tentang Rumah


Sakit. Jakarta: Sekretariat Negara RI; 2009.

Waite ML, A. S. (2000). Ward hostess study at Basildon and Thurrock


General Hospital NHS Trust. Proceeding of the Nutrition Society.
59:183A.

Wibowo. (2007). Manajemen Kinerja. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.


Jakarta.

World Health Organization. (2009). Human factors in patient safety review


of topics and tools; report for methods and measures working.
WHO.

Wijono, D. (2000). Manajemen Mutu pelayanan Kesehatan. Surabaya:


Airlangga University Press. Surabaya.

Wilson M, M. A. (1997). The implementation of hazard analysis and critical


control points in hospital catering.

Yahya,A. (2006, November). Konsep dan Program Patient Safety.


Disampaikan pada konvensi nasional mutu rumah sakit ke VI.
Bandung.
160

N
161

LAMPIRAN 1
PERSETUJUAN MENJADI INFORMAN

Assalamualaikum Wr. Wb
Selamat Pagi/Siang/Sore
Perkenalkan nama saya Rosita Jayanti Bardan. Saya adalah
mahasiswi S2 angkatan 2015 Bagian Manajemen Rumah Sakit, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Saya bermaksud melakukan penelitian tentang “Analisis Penerapan
Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Umum Daerah Inche Abdoel Moeis
Samarinda Tahun 2017”. Penelitian ini dilakukan sebagai tahap akhir
dalam penyelesaian studi di Program Pascasarjana akultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Hasanuddin. Saya berharap Bapak/Ibu,
Saudara/Saudari bersedia untuk menjadi informan dalam penelitian ini
dimana saya akan melakukan wawancara mendalam terkait dengan
penelitian. Semua informasi yang Saudara/Saudari berikan terjamin
kerahasiaannya, dengan cara hanya mencantumkan inisial nama dari
Saudara/Saudari dan tidak mencantumkan identitas informan ke dalam
hasil penelitian saya. Setelah Saudara/Saudari membaca maksud dan
kegiatan penelitian di atas, saya mohon untuk mengisi nama dan tanda
tangan di bawah ini.
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, setuju untuk ikut serta dalam
penelitian.
Nama : ________________________________________
Tanda tangan : ________________________________________
Terima kasih atas kesedian Saudara/Saudari untuk ikut serta di dalam
penelitian ini.
162

LAMPIRAN II

INFORMED CONSENT

Nama Informan :

Jabatan Informan :

A. Petunjuk

1. Menyampaikan Ucapan terima kasih kepada informan atas

kesediannya meluangkan waktu yang untuk diwawancara

2. Menjelaskan tentang maksud dan tujuan wawancara

B. Pelaksanaan Wawancara

1. Perkenalan diri pewawancara

2. Menjelaskan maksud wawancara kepada informan

3. Memninta kesediaan informan unuk diwawancara

C. WAWANCARA

1. Meminta izin untuk memulai wawancara

2. Melakukan wawancara sesuai dengan isi wawancara yang telah

disusun

3. Selesai wawancara, mengucapkan terima kasih dan mohon diri


163

LAMPIRAN III

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (IN DEPTH INTERVIEW)

A. Penjelasan Wawancara

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pandangan informan

mengenai penerapan keselamatan pasien dalam pelayanan di RSUD

I.A Moeis Samarinda, mengidentifikasi masalah ataupun kendala yabg

dihadapi berkaitan dengan keselamatan pasien yang sudah ada.

Sebagaimana dengan tujuan umum dari penelitian ini yaitu Untuk

menganalisis penerapan keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum

Daerah Inche Abdoel Moeis Samarinda Tahun 2017.

B. Daftar Pertanyaan

Kepemimpinan

A. Pengarahan

1) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan anda mendelegasikan

wewenang dengan baik terhadap bawahannya terkait penerapan

keselamatan pasien?

2) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan anda memberikan

penghargaan bagi anda dan teman-teman yang memiliki kinerja

baik dalam meningkatkan program keselamatan pasien?

3) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan memberikan sanski yang

tegas terhadap kesalahan yang dilakukan oleh karyawan terkait

penerapan keselamatan pasien?


164

B. Supervisi

1) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan memberikan kebebasam

kepada karyawan yang ingin memberikan pendapat terkait issue

penerapan keselamatan pasien?

2) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan selalu memberikan

bimbingan dan dorongan kepada karyawan terkait penerapan

keselamatan pasien?

3) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan selalu melakukan

pengawasan terhadap penerapan terkait penerapan prosedur

keselamatan pasien?

4) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan secara rutin mengadakan

pelatihan keselamatan pasien bagi pegawai ?

C. Koordinasi

3) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan memiliki hubungan yang

baik kepada karyawan ?

4) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan selalu mampu menciptakan

suasana kerja yang kondusif dan aman ?

5) Apakah Direktur dan Wadir Pelayanan melibatkan karyawan dalam

membuat keputusan terkait penerapan keselamatan pasien ?

Komunikasi

1. Kepercayaan dan Keterbukaan

1) Apakah anda mendapat umpan balik positif apabila ada suatu

kejadian yang dilaporkan?


165

2) Apakah setiap orang wajib memperingatkan apabila melihat segala

sesuatu yang dapat mengancam keselamatan pasien?

4. Proses dan Informasi

1) Apakah anda bebas menyatakan pendapat dan member usulan

kebijakan yang sesuai untuk diterapkan ?

2) Apakah pegawai bebas menyatakan pendapat dan memberi usulan

kebijakan yang sesuai diharapkan?

3) Apakah informasi perawatan pasien yang penting selalu tersedia

saat pergantian shift?

5. Arti Penting Keselamatan Pasien

2) Apakah setiap masalah pasien yang terjadi dirumah sakit selalu

didiskusikan bersama dan dicarai jalan keluarnya?

3) Apakah diunit ini mendiskusikan bagaimana cara mencegah

terjadinya kesalahan atau Kejadian Tidak Dinginkan?

6. Perhatian dan pengenalan pentingnya keselamatan

a. Apakah staf diberi kesempatan untuk bertanya apabila ada sesuatu

yang berjalan tidak semestinya?

b. Apakah tidak pernah terjadi masalah sewaktu operan antar unit?

Kerja Tim

1. Komitmen Pada Tujuan

1) Apakah anda dan rekan kerja anda untuk mendukung rumah sakit

ini dalam meningkatkan program keselamatan pasien yang lebih

baik?
166

2) Apakah rekan kerja anda tidak merasa keberatan ketika diajak

berdiskusi tentang peningkatan keselamatan pasien?

2. Komunikasi ide dan gagasan

i. Apakah direktur dan wadir pelayanan selalu ikut berkoordinasi

terhadap kegiatan yang terkait dengan peningktan program

keselamatan pasien?

ii. Apakah anda nyaman dan tidak kesusahan saat pembagian tugas

dengan rekan kerja saya?

3. Efektivitas Interpersonal

1) Apakah anda dan rekan kerja anda mampu berkordinasi dengan

baik untuk mewujudkan pelayanan pasien yang sesuai dengan

prosedur keselamatan pasien?


167

LAMPIRAN IV

DOKUMENTASI PENELITIAN
168
169