Anda di halaman 1dari 13

HUBUNGAN PERAN KEPALA RUANG TERHADAP PERILAKU

PERAWAT PELAKSANA DALAM PELAKSANAAN


KESELAMATAN PASIEN

Ruswati1, Krisna Yetti2, Enie Novieastari3

1. Mahasiswa Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan


Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
2, 3. Departemen Keilmuan Dasar Keperawatan Keperawatan Dasar,
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Email: ruswati_crb@yahoo.co.id

ABSTRAK

Perilaku perawat akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan keselamatan pasien. Jika
perilaku perawat baik akan berdampak pada pelaksanaan keselamatan pasien sesuai standar
operasional prosedur. Perilaku tersebut salah satunya dapat dipengaruhi oelah peran kepala
ruang. Peran interpersonal, informational dan decision making kepala ruang yang optimal
dapat mempengaruhi perilaku perawat menjadi baik dalam pelaksanaan keselamataan
pasien.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran kepala ruang
terhadap perilaku perawat dalam pelaksanaan keselamatan pasien. Penelitian ini
menggunakan metode cross sectional untuk survey dan observasi. Sampel penelitian
sebanyak 95 responden dengan tehnik purposive sampling dengan menggunakan analisis
chi-square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara peran kepala ruang
terhadap perilaku perawat pelaksana yaitu peran optimal terhadap perilaku baik 70,5% dan
peran tidak optimal terhadap perilaku tidak baik 29,5%, dengan dengan kemaknaan
hubungan (p= 0,001). Peran kepala ruang dalam mengelola sumber daya perawat harus
mampu dilaksanakan agar staf tidak terjadi kebingungan peran dalam melaksanakan
tugasnya. Peran kepala ruang merupakan faktor dominan yang dapat mempengaruhi
perilaku perawat pelaksanan. Usia rata-rata perawat pelaksana 29,03 tahun, lama kerja
rata-rata 4,91 tahun, jenis kelamin mayoritas perempuan 75, 8%, dan pendidikan mayoritas
D3 83,2%. Perlu diadakan kebijakan manajemen untuk mengadakan upaya workshop agar
peran kepala ruang terus dapat dioptimalkan, dan mensosialisasikan program keselamatan
pasien agar perilaku perawat pelaksana dan praktikan dapat melaksanakan dengan baik.

Kata kunci : Peran, kepala ruang, perilaku perawat pelakasana, keselamatan pasien
Daftar Pustataka : 95 (200-2016)

PENDAHULUAN
Pelaksanaan keselamatan pasien sesuai dengan Permenkes (KEMENKES, 2011)
No.1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit. Permenkes
tersebut menajelaskan bahwa setip rumah sakit baik tingkat pusat, propinsi maupun daerah
wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah (TKPRS). Keterlibatan para pemimpin
dalam hal keselamatan pasien sangat diperlukan untuk mendidik perawat pelaksna, serta
melakukan komunikasi efektif perawat dapat menampilkan peril aku baik dalam
pelaksanaan keselamatan pasien (RI, 2011).
Keberhasilan pelaksanaan program keselamatan pasien mendukung terpenuhinya
mutu rumah sakit. Undang-undang no 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, menyebutkan
bahwa memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit, yang
aman, bermutu, antidiskriminasi dan efektif serta menguntungkan kepentingan pasien.
Pelayanan yang tidak memperhatikan kulitas dapat menyebabkan terjadinya kejadian yang
tidak diharapkan (Lucero, Lake, & Aiken, 2015).
Kejadian Tidak Diharapkaan (KTD) merupakan kejadian yang kadang masih
terjadi di setiap rumah sakit. Satu dari 10 pasien di negara maju dirugikan saat menerima
perawatan di rumah sakit (WHO, 2014). Penelitian Cheragi, Manoocher, Mohammadnejad
dan Ehsani (2013) menjelaskan adanya kesalahan pemberian obat yang dilakukan oleh
perawat 64,55%, dan kesalahan paling banyak adalah dosis obat yaitu 31,37% dan
pemberian infus. Penelitian lain menemukan laporan perawat yang melaporkan bahwa
terjadi efek samping dari kesalahan pengobatan (15%), pasien jatuh dengan cedera (20%),
infeksi nosokomial (31%) (Lucero et al., 2015).
Laporan tahun 2011 pada Januari sampai dengan bulan April, Provinsi Jawa Barat
menempati urutan pertama mengenai Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) sebesar 23,67%,
Banten dan Jawa Tengah 20%, DKI Jakarta 5,15%, Bali 6,67%, Jawa Timur 1,33%.
Berdasarkan penyebab kejadian lebih dari 70% diakibatkan oleh tiga hal yaitu masalah
prosedur, dokumentasi dan medikasi (KKP-RS, 2011). Data tersebut menunjukkan bahwa
banyakya masalah keselamatan pasien yang seharusnya dapat dicegah dengan penerapan
standar International PatienSafety Goal(IPSG) dalam akreditasi JCI.
Pasien menjadi rentan terhadap pelayanan yang tidak aman terutama adalah dari
perawat yang bertugas selama 24 jam. Sebagaimana tercantum dalam Permenkes No 791
(2009), bahwa pengangkatan dan penempatan Sumber Daya Manusia dalam bidang
kesehatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai dengan standar
kompetensi yang jelas. Penelitian lain menjelaskan. Astriani, et al. (2014) bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan perawat maka akan semakin baik kinerja dalam pelaksanaan
keselamatan pasien. Tappen (2011) perawat yang memiliki pendidikan yang tinggi dapat
mempengaruhi daya nalar perawat dalam menyelesaikan masalah yang ditemui.
Peningkatan pendidikan staf perawat pelaksana dapat mempengaruhi angka insiden
keselamatan pasien.
Perawat pelaksana merupakan sumber daya kompeten yang harus disediakan rumah
sakit. Peningkatan kualitas keselamatan pasien, perawat merupakan sumber daya yang
sangat penting. Mereka bekerja di barisan paling depan dalam meningkatkan kualitas
layanan kesehatan. Perlunya peningkatan pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan
mereka agar mereka mampu memberikan asuhan keselamatan pasien dengan baik, bekerja
sama dengan multiindisipliner dalam memberikan asuhan keselamatan pasien (Karen, S.,
2008). Sesuai dengan penelitianSthephani, Dewanto, I (2015)hasilnya menunjukkan
terdapat 89% perawat rawat inap Rumah Sakit Panti Nirmala Malang Jawa Timur memiliki
pengetahuan yang baik tentang prinsip 6 benar. Hal ini dibuktikan dengan 64,9% perawat
melakukan benar pasien, 86,5% perawat melakukan benar obat, 64,9% perawat melakukan
benar waktu, dan 100% perawat melakukan benar dosis, benar cara dan dokumentasi.
Perawat pelaksana dengan pengetahuan baik dapat menunjukan perilaku baik
dalam melaksanakan keselamatan pasien. Perilaku merupakan tindakan, aktivitas, dan
berbagai pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya. Hal tersebut terwujud
dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan kegiatan pada kehidupan sehari-hari
(Notoatmojo, 2012; Choo, Hutchinson & Buknall, 2010). Perawat harus melibatkan
pengetahuan, dan ketrampilan serta tindakan yang mengutamakan keselamatan pasien.
Pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan perawat harus penuh dengan kasih dan
sayang Watson(1985) dalam Stoor, Topley & privet, 2005; Elley et.all., 2008; Choo,
Hutchinson dan Buknall(2010) mengemukakan bahwa merawat pasien merupakan cita-cita
moral keperawatan. Perilaku perawat yang dapat menjaga keselamatan pasien sangat
berperan dalam pencegahan, pengendalian, dan peningkatan keselamatan pasien.
Perilaku yang baik perawat pelaksana tidak lepas dari pengaruh peran kepala ruang.
Kepala ruang merupakan tenaga perawat professional yang diberi tanggung jawab dan
wewenang dalam mengelola kegiatan pelayanan keperawatan di satu ruang rawat (Marquis
& Huston, 2014). Kepala ruang sebagai manajer paling bawah mempunyai kewenangan
mengatur agar organisasi berjalan sesuai dengan harapan/tujuan. Masing-masing tingkatan
manajer mempunyai peran yang menjadi tanggung jawabnya. Peran menurut mintzberg
(1960) dalam Robbins dan Judge (2015) peran manajer terdiri dari sepuluh peran yang
harus diperankan dan saling berkaitan, kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok
yang meliputi peran antar-pribadi (interpersonal), peran informasional(informational), dan
peranpengambil keputusan(decision making) (Gillies, 1994; Miri, Naha, Mansor, Alkali, &
Chikaji, 2015;Robbins, 2015; Winardi, 2012).
Peran antar-pribadi (interpersonal), merupakan ketrampilan manajer atau kepala
ruang sebagai pemimpin (figurhead dan leader), dan sebagai penghubung (liaison) Peran
informasi (informational), kepala ruang sebagai sumber informasi, diseminator, dan juru
bicara. Peran il keputusan (decision making), kepala ruang sebagai enterpreuner, peredam
gangguan, pembagi sumber daya dan dana, perunding untuk organisasi. (Robbins, 2015;
Miri et al., 2015; Winardi, 2012).
Peran kepala ruang sangat penting dalam mencapai kualitas pelayanan yang baik.
Kepala ruang yang kurang memberikan saran, masukan, motivasi dapat mengakibatkan
pelayanan keselamatan pasien kurang berjalan dengan baik. Sebaliknya peran kepala ruang
yang dijalankan dengan baik dapat menghasilkan keselamatan pasien yang baik. Hasil
penelitian menunjukkan peran kepala ruangan baik berpengaruh terhadap pelaksanaan
penerapan keselamtan pasien, prosedur identifikasi pasien baik (95,3 %), pelaksanaan
prosedur injeksi (100%)(Mwachofi & Walston, 2011; Nafei, 2015; Rumampuk, 2011).
Menurut Kangasniemi, et all. (2013); Mari, et al. (2013) peran manajer menggabungkan
nilai-nilai keselamatan pasien pada semua level decision making diq sebuah organisasi, dan
juga mendorong perawat klinik/pelaksana untuk mempertimbangkan nilai dalam pelayanan
kepada pasien.
Peran interpersonal, informastional, dan decision making yang optimal kepala
ruang dapat meningkatkan perilaku yang baik perawat pelaksana. Kedekatan antara kepala
ruang dan perawat pelaksana akan mendekatkan mereka untuk terjadinya proses mengajar
dan diajar antara atasan dan staf sebagai formula yang tepat meningkatkan pengetahuan,
perilaku dan mendisiplinkan perawat(Darawad & Al-hussami, 2013). Penelitian lain yang
mendukung yaitu Jeong dan Kim(2016) pengetahuan tidak cukup untuk mengubah
keyakinan, akan tetapi kepercayaan atasan dapat memperkuat perilaku staf.
Hasil studi pendahuluan dan pengamatan pada tanggal 29-31 desember 2015
didapatkanprogram keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Arjawinangun
sudah dilaksanakan sejak bulan april 2016. Program keselamatan pasien yang diterapkan
adalah enam sasaran menurut International Patient SafetyGoals (IPSG). Ditemukannya
pasien jatuh 2 orang, pasien rawat inap sudah lebih dari 3 jam belum terpasang gelang
identitas, komunikasi yang belum efektif, laporan survilens masih ditemukannya kejadian
infeksi, edukasi pencegahan pasien jatuh belum diberikan kepada keluarga pasien.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectionalynng digunakan untuk mengukur hubungan peran kepala ruang terhadap perilaku
perawat pelaksana dalam pelaksanaan keselamatan pasien. Populasi pada penelitian ini
adalah perawat pelaksana yang bekerja di lima ruang rawat inap yang berjumlah 125
perawat. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 95 perawat pelaksana
Instrumen dalam penelitian menggunakan kuesioner. Prosedur pengambilan data
melalui prosedur administrasi dan prosedur teknis.Pengolahan data dengan tahapan
enabling, coding,entry, dan cleaning. Analisis data yang digunakan yaitu univariate dan
bivariat. Etika penelitian dengan menghormati harkat dan martabat manusia (respect for
personal), manfaat (beneficence),dan keadilan (justice).

HASIL
Tabel 5.1
Gambaran Karakteristik Perawat Pelaksana (n=95)

Kategori Jumlah Persentase (%)


Jenis Kelamin
a. Laki-laki 23 24,2
b. Perempuan 72 75,8
Total 95 100
Pendidikan
a. D3 79 83,2
b. S1 16 16,8
Total 95 100
Tabel 5.1 frekuensi mayoritas jenis kelamin adalah perempuan sebanyak 72
responden (75,8%). Pendidikan perawat pelaksana dengan frekuensi terbanyak adalah D3
keperawatan sejumlah 79 responden (83,2 %).
Tabel 5.2
Gambaran Karakteristik Perawat Pelaksana: (n=95)

Variabel n Mean 95% CI Min Max


Umur 95 29,03 27,91-30,15 27,91 30,15
Masa Kerja 95 4,91 3,91 – 5,91 3,91 5,91

Pada tabel 5.2 diketahui bahwa nilai mean usia perawat pelaksana adalah 29,03
tahun (95% CI: 27,91-30,15). Umur termuda adalah 21 tahun dan tertua 53 tahun. Hasil
estimasi interval tersebut disimpulkan 95% diyakini bahwa rata-rata umur perawat
pelaksana berada antara 27,91 – 30,15 tahun. Masa kerja perawat pelaksana nilai
mediannya adalah 4,91 tahun (95% CI: 3,91 – 5,91). Masa kerja perawat pelaksana
minimumsatu (1) tahun dan maksimum 32 tahun.
Tabel 5.3
Gambaran Variabel Peran Kepala Ruang (Interpersonal, informational, Decision Making)
November 2016 (n=95)

Peran Kepala Ruang Frekuensi Persentase (%)


Interpersonal
Optimal 67 70,5
Tidak Optimal 28 29,5
Informational
Optimal 67 70,5
Tidak Optimal 28 29,5
Decision making
Optimal 75 78,9
Tidak Optimal 20 21,1

Tabel 5.3 gambaran peran (Interpersonal, informational, Decision Making) kepala


ruang yang dipersepsikan perawat pelaksa. Hasil analisis menunjukkan bahwa peran
Decision makingkepala ruang berdasarkan persepsi perawat pelaksana merupakan peran
yang paling banyak dipersepsikan oleh perawat pelaksana dengan frekuensi 75 (71,6%).
Tabel 5.4 menunjukkan gambaran variabel perilaku perawat pelaksana dalam
melaksanakan keselamatan pasien. Perilaku baik merupakan mayoritas perilaku perawat
pelaksana di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon sebanyak 67 responden (70,5%),
sedangkan tidak baik sebanyak 27 responden (29,5%)
Tabel 5.4
Gambaran Variaabel Perilaku Perawat Pelaksana November 2016 (n=95)

Perilaku Frekuensi Persentase (%)


Baik 67 70,5
Tidak baik 27 29,5
Total 95 100

Tabel 5.5
Hubungan PeranKepala Ruang terhadap Perilaku Perawat Pelaksana November 2016
(n=95)

Perilaku Perawat Pelaksana Total


Peran Kepala P value (Asymp Sig)
Ruang Baik Tidak Baik
n % n % n %
Optimal 67 97,1 2 2,9 69 100 0,000
Tidak 0 0 26 100 26 100
Optimal
Jumlah 67 70,5 28 29,5 95 100
Tabel 5.5menunjukkan analisis hubungan peran kepala ruang optimal terhadap
perilaku baik perawat pelaksana dengan frekuensi 67 (97,1%). Hubungan peran kepala
ruang tidak optimal terhadap perilaku tidak baik perawat pelaksana dengan frekuensi 43
(58,9). Hasil uji statistik dengan chi square didapatkan nilai median 88,00 dan nilai p=
0,001 (p<0,05). Jika tidak ada hubungan antara peran kepala ruang terhadap perilaku,
faktor peluang saja menerangkan 0,1% hasil yang diperoleh. Karena faktor peluangkurang
dari 5%, maka hasil tersebut bermakna, artinya ada hubungan yang signifikan antara peran
kepala ruang terhadap perilaku perawat pelaksana dalam pelaksanakan keselamatan pasien

PEMBAHASAN
1. Gambaran Karakteristik Perawat Pelaksana
Rata-rata umur perawat pelaksana 29,03 tahun masa kerja mayoritas adalah 4,91
tahun. Sesuai dengan pernyataan Shipley, Jackson, dan Segrest(2011)seseorang yang
bertambah usia akan bertambah dewasa secara psikologis, semakin bijaksana dalam
mengambil keputusan, dan memiliki kemampuan dalam menganalisis yang baik terhadap
permasalahan yang dihadapi.
Karakteristik selanjutnya yaitu tingkat pendidikan mayoritas adalah diploma tiga.
Hal tersebut sesuai dengan penelitian dari Hyde et al. (2016) yang menjelaskan bahwa
rata-rata hasil lulusan keperawatan adalah tenaga perawat pemula untuk menjalankan
tugas-tugas vokasional. Perwat yang memiliki pendidikan ners dapat menurunkan angka
kejadian bahkan kematian terkait pelaksanaan keselamatan pasien, terutama di ruang
intensif dan bedah (Kane, Shumilyan, & Mueler, 2015).
Masa kerja yang dianggap sudah lama dapat mempengaruhi kecerdasan emosi
seseorang. Orang tersebut memiliki kemampuan dalam hal pengendalian diri, memiliki
daya tahan ketika menghadapi masalah, mampu mengendalikan impuls, memotovasi diri,
mempu mengatur suasana hati, kemampuan berempati, dan mampu berinteraksi dengan
orang lain. Sesuai dengan hasil penelitian Shipley et al.(2011) bahwa seseorang yang
mempunyai pensgalaman kerja lebih lama mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi
dibandingkan dengan yang memiliki pengalaman kerja baru.
Gambaran karakteristik jenis kelamin responden pada peanelitian ini mayoritas
adalah perempuan sebanyak 72 responden (75,8%). Gambaran tersebut menunjukkan
adanya kesesuaian dengan penelitian yang dilakukan Nichol et al. (2008) yang
menjelaskanbahwa rata-rata perawat yang bekerja di rumah sakit berjenis kelamin
perempuan. Menurut Ilyas (2001) jenis kelamin akan memberikan dorongan yang berbeda,
jenis kelamin laki-laki memiliki dorongan lebih besar daripada wanita karena tanggung
jawab laki-laki lebih besar. PenelitianNasution (2009) mengungkapkan jenis kelamin tidak
berpengaruh terhadap kinerja seseorang dalam melakukan pendokumentasian rekam
medis.
2. Gambaran Peran Kepala Ruang
a. Peran Interpersonal
Kepala ruang mampu melaksanakan peran interpersonal secara optimal. Hal tersebut
selaras dengan pendapat Guererro dan Anderson(2014) yang menjelaskan bahwa hubungan
interpersonal merupakan hubungan saling ketergantungan satu sama lain atau dengan
kelompok lain untuk saling mempengaruhi dengan tujuan tertentu dengan melibatkan
kemampuan dari individu tersebut baik emosional maupun sosial. Peran interpersonal
kepala ruang menuntut agar proaktif terhadap segala hal yang berhubungan dengan
pelaksanaan keselamatan pasien, sehingga perilaku yang ditampilkan perawat pelaksana
baik. Pendapat tersebut didukung oleh data hasil penelitian Havens, Knafl, &
Warshawsky(2014) bahwa pengalaman pemimpin yang bertindak secara proaktif terhadap
permasalahan yang ada sangat berpengaruh besar terhadap pencegahan perilaku yang tidak
baik atau pencegahan kesalahan dalam melaksanakan keselamatan pasien.
b. Peran informational Kepala ruang
Peran informational sudah optimal dilaksanakan, jika dibiarkan tidak optimal akan
berdampak pada ketidakjelasan informasi dan instruksi apa saja yang harus dikerjakan agar
pelaksanaan keselamatan pasien dapat dilaksanakan sesuai dengan standar operasioanl
prosedurnya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Yhosie, Saito,
Takahashi, & Kai(2008)yang menyatakan bahwa kemampuan informational seorang
kepala ruang sebagai manajer tingkat pertama dapat berdampak kepada bawahan yang
mengalami ketidakjelasan peran. Hal tersebut selaras dengan pernyataan yang
dikemukakan oleh Lin et al. (2009) yang menyatakan bahwa informasi yang disampaikan
dengan benar dan segera akan mengurangi budaya menyalahkan sesama perawat. Havens
et al.(2014) sebagai kepala ruang kemampuan peran informational secara proaktif sangat
dibutuhkan untuk memantau dan mencegah efek yang buruk dari pelayanan keselamatan
pasien yang tidak sesuai standar operasional prosedur oleh perawat pelaksana.
c. Peran decision making Kepala ruang
Peran decision making jika tidak dilaksanakan dengan optimal dapat berdampak pada
pelayanan yang tidak berkualitas karena pelaksanaan keselamatan pasien tidak
dilaksanakan dengan baik. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari McKanzie,
Winkelen, & Grewal(2011) yang menyatakan bahwa kepala ruang sebagai manajer yang
memiliki kemampuan yang baik dalam pengambilan keputusan akan meningkatkan
kemampuan organisasi untuk melaksanakan evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan
dan dapat melaksanakan penyusunan perencanaan ke depan menjadi labih baik
kemampuan organisasi untuk melaksanakan evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan
dan dapat melaksanakan penyusunan perencanaan ke depan menjadi labih baik.
3. Gambaran Perilaku
Hasil penelitian, perilaku perawat pelaksana baik. Perilaku dalam menjaga atau
mengontrol pelaksanaan keselamatan pasien dipengaruhi oleh tempat/ruangan kerja
perawat dan keyakinan normatif. Namun pengaruh terbesar adalah keyakinan normatif
dimana niat perawat untuk melaksanakan keselamatan pasien sesuai dengan standar
operasional prosedurnya. Hasil penelitian pelaksanaan keselamatan pasien di bangsal
bedah dan bangsal medis menunjukkan bahwa keyakinan normatif memiliki pengaruh
besar dalam mempengaruhi niat perawat untuk melaksanakan keselamatan pasien sesuai
standar operasional prosedurnya (Javadi, Kadkhodaee, Yaghoubi, Maroufi, & Shams,
2013). Penelitian lain menjelaskan bahwa kepala ruang sebagai pemimpin harus mampu
menjadi motivator dalam hal peningkatan kepuasan kerja, peningkatan pengetahuan,
menjadi pemecah masalah, melakukan supervisi berjenjang serta kolaborasi antar
departemen (Havens et al., 2014).
4. Hubungan Peran Kepala Ruang terhadap Perilaku Perawat dalam Melaksanaan
Keselamatan Pasien
Hasil penelitian ada hubungan antara peran kepala ruang dengan perilaku perawat
pelaksana dalam melaksanakan keselamatan pasien. Hal ini sesuai dengan Robbins (2015)
ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer agar mampu dengan optimal
menjalankan perannya adalah keterampilan teknis, keterampilan manusiawi dan
konseptual.Pendapat lain menguraikan bahwa peran mengelola sumber daya perawat harus
mampu dilaksanakan agar staf tidak terjadi kebingunan peran dalam melaksanakan
keselamatan pasien (Miri et al., 2015). Hal ini sejalan dengan penelitian Duffield dan
Franks (2016) bahwa manajer bertanggung jawab terhadap kualitas pelaksanaan
keselamatan pasien sehingga harus mampu mengatur kebijakan, prosedur, tempat dan staf
perawat pelaksana agar pelaksanaan keselamatan pasien dapat maksimal
5. Implikasi Penelitian
Implikasi untuk keperawatan penelitian ini bagi manajemen ruamh sakit sebagai
penentu kebijakan (Direktur, KKPRS, Bidang keperawatan, bidang diklat, dan tim mutu
ruamh sakit) yang akan menyusun struktur organisasi sehingga kepala ruang akan
diberikan pelatihan tentang menejerial agar dapat melaksanakan perannya dengan optimal.
Hasil penelitian ini juga akan digunakan manajemen dalam menyusun program
keselamatan pasien agar selalu mensosialisasikan dan menyelenggarakan pelatihan
keselamatan pasien bagi perawat yang belum tersosialisasi.
Untuk pendidikan keperawatan, sebagai calon manajer mahasiswa praktikan dapat
menjadikannya role model penerapan peran kepala ruang selama menjalani praktik klinik.
Dengan pembelajaran secara langsung atau direct learning calon manajer mendapatkan
gambaran nyata bagaimana aplikasi peran kepala ruang interpersonal, informational, dan
decision making yang dapat mempengaruhi perilaku baik pada perawat pelaksana ketika
mereka kembali ketempat kerja atau bekerja pada tatanan layanan kesehatan. Sedangkan
implikasi untuk penelitian selanjutnya . Penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian
tentang faktor lain yang dapat mepengaruhi perilaku perawat dalam pelaksnaan
keselamatan pasien. Dapat juga peneliti selanjutnya melakukan penelitian tentang peran
dikaitkan dengan teori model keperawatan dikaitkan dengan perubahan perilaku perawat
pelaksana dalam pelaksnaan keselamatan pasien.

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Simpulan dari hasil penelitian adalah gambaran karakteristik perawat rata-rata berada
pada umur 29,03 tahun, dengan masa kerja rata-rata 4,91 tahun. Peran decision making
merupakan peran kepala ruang yang dipersepsikan paling banyak oleh perawat pelaksana
sebagai responden. Perilaku perawat pelaksana mayoritas 70,5% adalah baik. Sesuai
dengan tujuan dan hipotesis penelitian ini, ada hubungan antara peran kepala ruang
terhadap perilaku perawat pelaksana dalam pelaksanaan keselamatan pasien dengan
2. Saran
a. Untuk pimpinan RSUD Arjawinangun
Manajemen dapat memfasilitasi peran kepala ruangdengan menyusun pedoman
dalam pembinaan perilaku perawat secara langsung. Optimalisasi peran kepala ruang dapat
dilakukan dengan melakukan pembinaan terhadap kepala ruang mengenai pelaksanaan
peran kepala ruang baik interpersonal, informational maupun decision making
b. Untuk Bidang Diklat dan KKPRS RSUD Arjawinangun
Evaluasi rencana strategis bidang keperawatan terhadap keterkaitan peran kepala
ruang terhadap perilaku perawat pelaksana dalam melaksanakan keselamatan pasien. Surat
keputusan direktur mengenai Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit hendaknya
menjadi komitmen bersama yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin sehingga
perilaku perawat akan dapat sangat baik, dengan pengawasan dan pembinaan dari kepala
ruang sesuai dengan perannya.
c. Untuk Kepala ruang
Pengalokasian sumber daya perawat yang sesuai dengan kebutuhan klien,
peningkatan upaya negosiasi terhadap pimpinan agar memberikan peningkatan
pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien dapat
dilakukan agaar pelaksanaan keselamatan pasien dapat dilakukan lebih baik lagi.
d. Untuk Peneliti selanjutnya
Penelitian ini dapat ditindaklanjuti dengan penelitian kualitatif tentang pengalaman
kepala ruang menjalani peran interpersonal, informational, dan decition making terhadap
perilaku perawat pelaksana, serta kuantitatif mengenai fungsi kepala ruang terhadap
perilaku perawat pelaksana.

REFERENSI
Cheragi, M. A., Manoocher, H., Mohammadnejad, E., & Ehsani, S. R. (2013). Types and
causes of medication errors from nurse’s viewpoint. Iranian J. Nurs Midwifery.
Choo J., Hutchinson A., & Bucknall T. (2010). Nurses' role in medication safety, 18(7).
Journal of nursing management, 853-861. Retrieved Maret 1 pkl 23.00, 2015, from
https://www.google.com/search?q=Choo%2C
Darawad, M. W., & Al-hussami, M. (2013). Nurse Education Today Jordanian nursing
students ’ knowledge of , attitudes towards , and compliance with infection control
precautions. YNEDT, 33(6), 580–583. http://doi.org/10.1016/j.nedt.2012.06.009
Duffield, C., & Franks, H. (2016). The role and preparation of first-line nurse managers in
Australia : Where are we going and how do we get there. Journal of Nursing
Management, (July). http://doi.org/10.1046/j.1365-2834.2001.00214.x
Durham, B. (2015). The nurses role in medication safety. Nursing, 45, 1–4.
http://doi.org/10.1097/01.NURSE.0000461850.24153.8b
Green, L.W., & Marshal, K. (2000). Health promotion planning An Education And
Enviromental Approach. 2 nd Ed. California: May Field Publishing Company.
Guerrero, L., & Andersen, P. (2014). Close encounters: Communication in Relationships.
In 4th ed. (Ed.), . London, United Kingdom: SAGE Publications.
Havens, D. S., Knafl, G., & Warshawsky, N. E. (2014). The influence of interpersonal
relationships of nurse manager’s work engagement and work behavior. J Nurse Adm,
42(9), 418–425. http://doi.org/10.1097/NNA.0b013e3182668129.The
Hyde, A., Coughlan, B., Naughton, C., Hegarty, J., Savage, E., Grehan, J., Drennan, J.
(2016). Nurses’, physicians’ and radiographers’ perceptions of the safety of a nurse
prescribing of ionising radiation initiative: A cross-sectional survey. Elsevier, 58, 21–
30. http://doi.org/http://dx.doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2016.01.004
Javadi, M., Kadkhodaee, M., Yaghoubi, M., Maroufi, M., & Shams, A. (2013). Applying
Theory of Planned Behavior in Predicting of Patient Safety Behaviors of Nurses. Mat.
Soc.Med, 25(February), 52–55. http://doi.org/10.5455/msm.2013.25.52-55
Jeong, S. Y., & Kim, K. M. (2016). Influencing factors on hand hygiene behavior of
nursing students based on theory of planned behavior: A descriptive survey study.
Nurse Education Today, 36, 159–164. http://doi.org/10.1016/j.nedt.2015.09.014
Kangasniemi, M., Vaismoradi, M., & Jasper, M. (2013). Ethical issues in patient safety :
Implications for nursing management. Nursing Ethics, 20(8), 904–916.
KKP-RS. (2010). Laporan insiden keselamatan pasien. inapasientsafety.persi.or.id.
Kane, R. L., Shumilyan, T., & Mueler, C. (2015). Nurse staffing and quality of patient are.
AHRQ, (151). Retrieved from http://www.isemiraq.net/nursestaff-1.pdf
Karen, S. (2010). Improving patient safety by retaining nursing expertise. AS: A Scolarly
Journal of The ANA
Lin, H., Lee, W., Huang, M., Hsiao, W., Kuo, L., Chan, H., Chuang, Y. (2009). Factors
influencing the competency of head nurses when assisting with inhospital
cardiopulmonary. Tzu Chi Medical Journal, 21(3), 233–238.
http://doi.org/10.1016/S1016-3190(09)60045-8
Lucero, R. J., Lake, E. T., & Aiken, L. H. (2015). Nursing care quality and adverse events
in US hospitals. J Clin Nurs. http://doi.org/10.1111/j.1365-2702.2010.03250.x
McKanzie, J., Winkelen, C. Van, & Grewal, S. (2011). Developing organisational
decisional desicion-making capablity: A knowledge manager’s guide. Journal of
Knowledge Management. http://doi.org/http://dx.doi.org/10.1108/13673271111137402
Miri, S. A., Naha, N., Mansor, A., Alkali, A., & Chikaji, A. (2015). The Role of First Line
Nurse Manager, 6(4), 31–41. http://doi.org/10.5539/res.v6n4p31
Mwachofi, A., & Walston, S. L. (2011). Factors affecting nurses ’ perceptions of patient
safety. International Journal Of Health Care Quality Assurance, 2009, 274–283.
http://doi.org/10.1108/09526861111125589
Marquis, B. L., & Huston, C. J. (2014). Leadership roles and management functions in
nursing: Theory and application (8th ed.). New York: Lippincott williams & Wilkins.
Nafei, W. (2015). The influence of ethical climate on job attitudes : A study on nurses in
egypt. International Business Research, 8(2), 83–100.
http://doi.org/10.5539/ibr.v8n2p83
Nasution, A. irma zahriany. (2009). Pengaruh karakteristik individu dan psikologis
terhadap kinerja perawat dalam kelengkapan rekam medis di ruang rawat inap rumah
sakit umum Dr. Pirngadi Medan. USU.
Nichol, K., Bigelow, P., O’Brien-Pallas, L., McGeer, A., Manno, M., & Holness, D. L.
(2008). The individual environmental, and organizational factors that influence nurses
use of facial protection to prevent occupational transmission of communicable
respiratory illness in acute care hospital. American Journal of Infection Control, 36(7),
481–487. http://doi.org/http://dx.doi.org/10.1016/j.ajic.2007.12.004
Notoatmodjo. (2012). Promosi kesehatan dan perilaku manusia. Edisi revisi. Jakarta:
Rhineka Cipta
RI. (2011). Permenkes. No. 1691/Menkes/PER/VIII/2011. Jakarta: Kemenkes
RI. (2009). Permenkes. No. 791: Pengangkatan dan penempatan SDM nakes. Jakarta:
Kemenkes
Robbins, S.& Judge T. (2015). Organisation behaviors. (4th Ed). New jersey: Upper
Saddle River
Rumampuk, M. V. H. (2011). Peran kepala ruangan melakukan supervisi perawat dengan
penerapan patient safety di ruang rawat inap rumah sakit. Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia, Thesis, 1–12.
Sari, N. K. (2013). Determinan pelaksanaan peran dan fungsi manajemen kepala ruang
dalam penerapan keselamatan perawat RS PKU Muhammadiyah di Yogyakarta.
Universitas Indonesia.
Shipley, N. L., Jackson, M. J., & Segrest, S. L. (2011). The effects of emotional
intelligence , age , work experience , and academic performance. Research in Higher
Education Journal, 1–18. Retrieved from
http://www.aabri.com/manuscripts/10535.pdf
Sthephani, P., Dewanto, A., & I, C. W. (2015). Faktor penghambat pelaksanaan SPO 7
benar dalam pemberian obat di ruang rawat inap rumah sakit panti nirmala. FK-
Universitas Brawijaya Malang, 28(2), 228–234.
Stor, J Topley, K & Privet, S. (2005). The ward nurse's role in infection control. Nursing
Standard. 19.41, 56-64. Diunduh melalui http://web.
ebscohost.com/ehost/detail?vid=15&hid=105&sid=834bc7256a08-4ccf-b2b5-
f6e0e6722704%40sessionmgr114&bdata=JnNpdG
WHO. (2014). Patient safety. Trust Indonesia. Jakarta.
Winardi. (2012). Perilaku Organisasi. Kencana Prenada Media Group. Jakarta
Yhosie, S., Saito, T., Takahashi, M., & Kai, I. (2008). Effect of work environment on care
managers ’ role ambiguity : An exploratory study in japan. Care Management Jornal,
9(3), 113–119. http://doi.org/10.1891/1521-0987.9.3.113