Anda di halaman 1dari 14

 PENGOLAHAN LIMBAH B3

Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu
kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat
(toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik
secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau
membahayakan kesehatan manusia. Definisi lain dari limbah B3 berdasarkan Peraturan
Pemerintah No.18/1999 ialah “Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah sisa suatu
usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat
dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain” .

Jenis-jenis proses pengolahan limbah secara fisik dan kimia antara lain :

1. Proses pengolahan secara kimia :

 Reduksi-Oksidasi
 Elektrolisasi
 Netralisasi
 Presipitasi / Pengendapan
 Solidifikasi / Stabilisasi
 Absorpsi
 Penukaran ion, dan
 Pirolisa

2. Proses pengolahan limbah secara fisik :

 Pembersihan gas : Elektrostatik presipitator, Penyaringan partikel, Wet scrubbing, dan


Adsorpsi dengan karnbon aktif
 Pemisahan cairan dengan padatan : Sentrifugasi, Klarifikasi, Koagulasi, Filtrasi,
Flokulasi, Floatasi, Sedimentasi, dan Thickening
 Penyisihan komponen-komponen yang spesifik : Adsorpsi, Kristalisasi, Dialisa,
Electrodialisa, e, Leaching, Reverse osmosis, Solvent extraction, dan Stripping

Penerapan sistem pengolahan limbah harus disesuaikan dengan jenis dan karakterisasi dari
limbah yang akan diolah dengan memperhatikan 5 hal sebagai berikut :

1. Biaya pengolahan murah,


2. Pengoperasian dan perawatan alat mudah,
3. Harga alat murah dan tersedia suku cadang,
4. Keperluan lahan relatif kecil, dan
5. Bisa mengatasi permasalahan limbah tanpa menimbulkan efek samping terhadap
lingkungan.

Pemilihan teknologi alternatif proses pengolahan limbah B3 dapat dilihat pada Gambar 1.1

 Teknologi Pengolahan

Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di
antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan incineration.

1. Chemical Conditioning

Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. TUjuan utama


dari chemical conditioning ialah:

o menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur


o mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
o mendestruksi organisme patogen
o memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioningyang masih memiliki
nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion
o mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman
dan dapat diterima lingkungan

Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:


1. Concentration thickening Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan
diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada
tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya
merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-watering
selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit
pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.

2. Treatment, stabilization, and conditioning Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan
senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses
pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan
adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian
secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara
pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses
destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini
ialahlagooning, anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment,polyelectrolite
flocculation, chemical conditioning, dan elutriation.

3. De-watering and drying De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau
mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada
tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying
bed, filter press, centrifuge, vacuum filter, dan belt press.

4. Disposal Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi
sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis,wet air oxidation, dan composting. Tempat
pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill, crop land, atauinjection well.

2. Solidification/Stabilization

Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization juga dapat diterapkan


untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses
pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi
bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan
solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan
aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang
sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6
golongan, yaitu:

1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus


dalam matriks struktur yang besar
2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar
terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik
3. Precipitation
4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan
pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan
padat
6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain
yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali

Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan


termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing,
danplant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan
Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

3.Incineration

Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi


pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90%
(volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan
limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat
mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk
panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana sebagian besar dari komponen
limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi
memerlukan lahan yang relatif kecil.
Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi (heating value) limbah.
Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran,
heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi.
Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah rotary
kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueous waste
injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai
kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.

 PINYIMPANAN LIMBAH B3
 Definisi:
Penyimpanan Limbah B3 adalah kegiatan menyimpan Limbah B3 yang dilakukan oleh
Penghasil Limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara Limbah B3 yang
dihasilkannya
Diatur dalam Pasal 12 s.d. Pasal 30 PP Nomor 101 Tahun 2014
Penyimpanan Limbah B3 WAJIB dilakukan oleh setiap orang yang menghasilkan limbah
B3.
DILARANG melakukan pencampuran limbah B3 yang disimpannya.
Penyimpanan Limbah B3 WAJIB dilengkapi dengan IZIN pengelolaan Limbah B3 untuk
kegiatan penyimpanan Limbah B3.
Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan penyimpanan Limbah B3 diterbitkan oleh
bupati/walikota.
Tujuan:
Menyimpan sementara limbah sampai dengan tercapai kuantitas limbah yang memadai
sehingga efisien secara ekonomi untuk pengelolaan lebih lanjut
 Kewajiban Penghasil Limbah B3:
– Wajib melakukan Penyimpanan Limbah B3
– Memiliki “Izin Pengelolaan Limbah B3 Untuk Penyimpanan Limbah B3”
– Izin oleh Bupati/Walikota, berlaku 5 tahun
– Dilarang melakukan pencampuran Limbah B3 yang disimpannya
– Persyaratan: izin lingkungan, lokasi, fasilitas penyimpanan, pengemasan
– Fasilitas penyimpanan: bangunan, tangki, waste pile, waste impondment, dan teknologi
lain sesuai perkembangan IPTEK
– Perubahan izin dan penghentian izin
– Kewajiban pemegang izin
 Persyaratan Izin Penyimpanan

 Fasilitas Penyimpanan Limbah B3:


– Containment building (bangunan)
– Tangki dan/atau kontainer
– Silo
– Waste Pile (tempat tumpukan limbah)
– Waste impoundment
– Bisa dalam bentuk lainnya sesuai dengan prkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi
 Fasilitas Penyimpanan Limbah B3

 GAMBAR FASILITAS PENYIMPANAN TANGKI

 Waste Pile
 Waste Impoundment

Post Views: 1,678

 PENGEMASAN LIMBAH B3

Pengemas B3

Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. Alat
pengemas dapat berupa: drum baja, kotak kayu, drum fiber, botol gelas dan sebagainya.

Pengemasan yang baik mempunyai kriteria:

 Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar


 Keefektifannya tidak berkurang
 Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap

Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan, yaitu:

 Kelompok I: derajat bahaya besar


 Kelompok II: derajat bahaya sedang
 Kelompok III: derajat bahaya kecil.

Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks.


Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia, hak
milik dan lingkungan. Dengan demikian, aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan
kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering
terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau
alat/perlengkapan yang kurang sempurna.

USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya
dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi
yang normal, maka:

 Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya


 Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan
 Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan, yang dapat menimbulkan reaksi
spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan;
pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya.

Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. Drum yang
biasa, biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan
lingkungan. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang
kompatibel atau sesuai. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Banyak terjadi bahwa drum yang
digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka
panjang dari drum tersebut.

Ditinjau dari tonase, maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang
digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Hampir setengah bahan berbahaya
kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. Bahan
pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard, plastik, kayu, kaca, fiberglass dan logam.
Kombinasi container sering digunakan, misalnya botol- botol gelas dimasukkan dalam peti-peti
fiberboard. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan.
Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan, seperti drum baja atau silinder untuk gas
terkompres.

Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi
dan beratnya. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas
tersebut. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading,
unloading, dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Drum baja 55 gallon
(208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan.

Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas
kecil relatif akan lebih tinggi, misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Beberapa
temuan yang terdapat di USA adalah:

 Ketidak tepatan dalam menayangkan label


 Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya
 Kebocoran pada valve
 Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut
 Tidak tepat dalam pengisian shiping paper Radiasi berlebihan di kabin truk.

Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No.01/Bapedal/09/1995:

Di Indonesia, ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep.
No.01/Bapedal/09/1995. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan
pewadahan limbah B3 di fasilitas:

 Penghasil, untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil;


 Penghasil, untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai
pengumpul;
 Pengumpul, untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah;
 Pengolah, sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan;

Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari
setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik
limbahnya, maka harus dilakukan pengujian. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang
sama secara terus menerus, maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali.
Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan
berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan, maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil
kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya.
Bentuk, ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang
akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam
penanganannya. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE, PP atau PVC) atau bahan
logam (teflon, baja karbon, SS304, SS316, atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang
dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya.

Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai de ngan simbol dan
label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. Kemasan
tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan
penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya, kemudian disimpa n di tempat yang
memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara
penyimpanannya. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3.

Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50
liter, 100 liter atau 200 liter, atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan kapasitas 2
m3, 4 m3 atau 8 m3. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama, atau
dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama
atau saling cocok. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan, serta agar lebih
aman, limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat
limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. Pengisian limbah dalam satu
kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah, pengaruh pemuaian,
pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. Untuk limbah yang bereaksi
sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. Untuk limbah yang mudah
meledak, kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan.
Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B)

Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan
harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali.
Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor), maka isi limbah
B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru, dan tumpahan limbah
tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan, kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3
terpisah. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas
limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya.

Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok, maka kemasan
tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah
B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan
digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama, harus
disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3
dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya, maka kemasan tersebut harus
dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan
ketentuan penandaan kemasan limbah B3.

Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. Sebelum
melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3, pemilik atau operator harus
mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan
hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan
sebagai bahan pertimbangan. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi:

 Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang;
 Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan;
 Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan
dapat terkontak dengan air dan atau tanah, logam dan kemungkinan harus mencakup
pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan
bahan tangki terhadap korosi tersebut
 Perhitungan umur operasional tangki;
 Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir;

Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah, maka harus dengan memperhitungkan
dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat
melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. Selama masa konstruksi berlangsung,
maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan
prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi.
Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai, terbuat dari bahan yang cocok
dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah, dan aman terhadap korosi sehingga
tangki tidak mudah rusak.

Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik
dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak
ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Apabila tangki akan digunakan untuk
menyimpan limbah sebelumnya, maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. Tidak
digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali:
 Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah
ditempatkan di dalam tangki, sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak
lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif; atau
 Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau
bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif.

Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan, tangki wajib dilengkapi dengan


penampung sekunder. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki,
tanggul atau berdinding ganda. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah:

 Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta
memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh
tekanan;
 Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan
dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian,
tekanan atau uplift;
 Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu
mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder, dan lepasnya limbah B3
dari sistem penampungan sekunder.
 Penampungan sekunder, dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-
cairan yang berasal dari kebocoran, ceceran dan presipitasi.

Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang -kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan,
khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan, deteksi korosi atau lepasnya
limbah dari tangki. Disamping itu, monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal
seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau
tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab, kematian vegetasi.

Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan
yang menyebabkan limbah terlepas, maka harus segera melakukan:

 Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah;


 Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder
 Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan, mencegah terjadinya perpindahan
tumpahan ke tanah atau air permukaan, serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk
ke tanah atau air permukaan.
 Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah
dilakukan.