Anda di halaman 1dari 5

Nama : Fahri Muqaffa

Nim : 023131248
Quiz Etika Profesi

1. Bagaimana opini saudara terhadap masalah yang terjadi pada kasus Kasus KAP Anderson
dan Perusahaan Enron ?

Menurut saya, dapat di simpulkan bahwa Enron dan KAP Arthur Andersen telah melanggar
kode etik dan tidak memenuhi tanggung jawab yang seharusnya menjadi pedoman dalam
melaksanakan tugasnya dan bukan untuk dilanggar. Pelanggaran tersebut awalnya mendatangkan
keuntungan bagi Enron, tetapi akhirnya dapat saja menjatuhkan kredibilitas bahkan menghancurkan
Enron dan KAP Arthur Andersen. Di dalam kasus ini, KAP yang seharusnya bisa bersikap
menjunjung tinggi independensi dan profesionalisme tidak dilakukan oleh KAP Arthur Andersen.
Karena perbuatan mereka inilah, kedua-duanya telah menuai kehancuran dimana Enron bangkrut
dan keluar dari prinsip GCG dengan meninggalkan hutang milyaran dollar, sedangakan KAP Arthur
Andersen sendiri kehilangan ke-independensiannya dan kepercayaan dari masyarakat terhadap KAP
tersebut dan dapat juga berdampak pada karyawan yang bekerja di KAP Arthur Andersen dimana
mereka menjadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan akibat kasus ini. Dimana pentingnya peran
profesi Akuntan khususnya Akuntan Publik di pasar modal guna melindungi kepentingan
publik.Tantangan Akuntan Publik yakni menjaga kualitas dan kepercayaan yang diberikan oleh
masyarakat dalam memberikan informasi mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan.

2. Apakah motivasi utama dibalik keputusan mitra audit Arthur Andersen terhadap audit
Enron, Worldcom, Waste Management dan Sunbeam? Sebutkan contoh – contoh yang
mengungkapkan motivasi ini!

a) Enron Seakan telah dibutakan oleh profit di depan mata, AA lebih mementingkan kepentingannya
sendiri dibandingan dengan kepentingan umum, AA memilih tidak mengecewakan manajemen
Enron, yang merupakan salah satu sumber kekayaan bagi AA ($ 25 juta untuk biaya audit dan $ 27
juta untuk biaya konsultasi), ia rela membantu memanipulasi laporan keuangan Enron yang
sesungguhnya sedang buruk, hal ini dilakukan demi mempertahankan para investor, tanpa
mempedulikan resiko yang akan datang kelak.

b) Worldcom Pada kasus ini Arthur Andersen lebih mementingkan kepentingan dari WorldCom
dengan cara turut membantu memanipulasi laporan keuangan Enron. Hal ini dikarenakan Scott D.
Sullivan dan David F. Myers bekerja untuk Arthur Andersen sebelum bekerja di WorldCom.

c) Waste Management Arthur Andersen telah menghiraukan independensi dan profesionalismenya


sebagai auditor. Ia membantu menutup-nutupi dugaan malpraktek akuntansi yang disajikan oleh
Waste Management. SEC berpendapat bahwa praktik ini adalah upaya menutupi penipuan di masa
lalu untuk melakukan penipuan berikutnya.
Adanya faktor kepentingan yang lain. Arthur Andersen lebih mementingkan kepentingan
Enron untuk memanipulasi laporan keuangan yang mengalami kerugian agar para investor tetap
bertahan berinvestasi pada Enron tanpa melihat dari segi resiko dan latar belakang prosedur seorang
auditor yang sebenarnya.

Contohnya : Arthur Andersen sebagai auditor dan konsultan (dan menarik biaya untuk konsultasi)
beberapa SPE yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan palsu, menyembunyikan kerugian,
menjaga pembiayaan dari laporan keuangan konsolidasi Enron dan gagal untuk memenuhi ekuitas
berisiko dibawah 3 persen atas investor luar dan kriteria pengendalian keputusan untuk
nonkonsolidasi.
3. Mengapa seharusnya auditor membuat keputusan untuk kepentingan umum daripada
kepentingan manajemen atau pemegang saham saat ini?

Karena terdapat prinsip yang harus dipegang teguh auditor, yaitu integritas, obyektifitas,
kerahasiaan, dan kompetensi. Kaitannya dalam hal integritas, auditor harus mengerjakan tugas
sesuai dengan prosedur, mengambil keputusan sesuai dengan informasi dan temuan audit yang
sudah didapat dan tidak boleh berpihak kepada siapapun. Informasi yang diberikan oleh auditor
diharapkan memberikan kontribusi untuk tujuan kepentingan umum yang sah sehingga tidak
merugikan kedua belah pihak. Dan juga auditor seharusnya membuat keputusan berdasarkan
kepentingan publik dibandingkan kepentingan manajemen atau pemegang saham saat ini, karena
salah satu prinsip etika auditor adalah kepentingan publik. Kepentingan publik di sini maksudnya
adalah auditor harus menerima kewajiban untuk bertindak sedemikian rupa agar dapat melayani
kepentingan orang banyak, menghargai kepercayaan publik, serta menunjukan komitmennya pada
profesionalisme.

4. Jelaskan prinsip GCG yang telah dilanggar oleh KAP Anderson dan Peusahaan Enron?

1. Transparansi (transparency)

Dalam kasus Enron Prinsip Transparasi jelas dilanggar, hal ini dapat dilihat pada:

o Tidak memasukan transaksi SPE dalam Laporan Konsolidasi Enron, sehingga angka yang
ada dalam neraca tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.
o Penghancuran dokumen terkait SPE sebanyak lebih dari 1 ton kertas dengan tujuan
menutup-nutupi kebenaran dan menghambat penyidikan.
o Pembentukan SPE dengan tujuan melebih-lebihkan laba, meningkatkan kas dan
menyembunyikan utang, menutup-nutupi kerugian terhadap investasi saham Enron pada
perusahaan lain
o Memberikan informasi kinerja perusahaan yang menyesatkan kepada investor dan karyawan
sehingga investor dan karyawan membeli saham Enron dalam jumlah besar pada saat harga
saham Enron tinggi, sebelum anjloknya harga saham.
2. Akuntabilitas

Dalam kasus Enron, pihak manajemen tidak mengelola sistem akuntansi yang efektif sehingga
menghasilkan laporan keuangan yang tidak dapat dipercaya, hal ini dapat dilihat pada:

 SEC membolehkan buah perusahaan untuk mengeluarkan pencatatan SPE dari laporan
keuangannya. Hal ini diperbolehkan jika terdapat pihak independen yang mempunyai
control atas entitas tujuan tersebut dan apabila pihak independen tersebut memiliki
setidaknya 3% dari seluruh SPE tersebut. Peraturan tersebut kurang tepat, karena seharusnya
perusahaan tidak boleh mengeluarkan pencatatan SPE dari laporan keuangannya. Hal
tersebut seharusnya dilaporkan dalam laporan keuangan konsilidasi yang dimiliki oleh
perusahaan induk. Dalam kasus Enron ini, hal tersebut tidak dicatat dan tidak dilaporkan
dalam laporan keuangan konsilidasi perusahaan induk, ditambah lagi pihak yang memiliki
SPE adalah pihak internal Enron.
 Melakukan skema prabayar, yakni mencatat transaksi prabayar dalam pengiriman energi
masa depan sebagai laba operasi dan arus kas saat ini, bukan sebagai arus kas dari operasi
pembiayaan.
 Perhitungan pajak yang salah yaitu mengakui kerugian yang sama sebanyak dua kali dan
mencatatnya sebagai pendapatan; dan merubah dpp aset tak tersusutkan (tidak kena pajak)
menjadi aset tersusutkan (kena pajak)
 Melakukan praktik asset light, yaitu menjual aset pembangkin listrik secara langsung atau
menjual kepentingan di dalamnya kepada investor secara lansung, dan mencatat pendapatan
tersebut sebagai laba dari hasil “monetizing” dan “syndicating”

3. Responsibilitas

Skandal Enron memberikan contoh pelanggaran tanggung jawab ini mempunyai dalam berbagai
dimensi, yaitu:
1) Dimensi ekonomi, Enron tidak bertanggungjawab untuk memberian keuntungan ekonomis bagi
para pemangku kepentingan. Dimensi ini juga melanggar prinsip fairness dimana tidak semua
pemangku kepentingan mendapatakan keuntungan ekonomis yang sama bahkan ada yang
dirugikan.

2) Dimensi hukum, tanggung jawab manajemen Enron tidak diwujudkan dalam bentuk ketaatan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Enron melakukan ratusan transaksi yang melanggar
hukum, mulai dari konspirasi, penipuan, pemalsuan laporan, insider trading, penipuan pajak,
pencucian uang, dan penipuan sekuritas.

Vinson dan Elkins, pengacara eksternal Enron sudah sudah menyadari adanya risiko tak terkendali
dalam transaksi yang dilakukan Enron, mereka juga telah mengajukan laporan penjabaran risiko
kepada Lay, namun akibat loyalitasnya kepada Lay mereka tetap menyetujui SPE yang dikelola
oleh Faslow dan SPE lain. Padahal dalam etika hukum, pengacara eksternal memiliki kewajiban etis
yang jelas untuk menarik diri dari transaksi di mana klien jelas melanggar hukum.

3) Dimensi moral, artinya sejauh mana wujud tanggung jawab tindakan manajemen tersebut telah
dirasakan keadilannya bagi semua pemangku kepantingan. Selama prinsip fairness tidak terpenuhi,
dimensi moral sulit untuk dipertanggunjawabkan. Selain itu kegiatan perusahaan Enron tidak
menghormati nilai-nilai dasar yang mendasari ketertarikan pemangku kepentingan (hypernorms)
sehingga saat mendekati detik-detik keterpurukan, Enron tidak mendapat dukungan dari pemangku
kepentingan selain dengan cara curang.

4) Dimensi spiritual, artinya sejauh mana tindakan manajemen telah mampu mewujudkan
akuntabilitas diri atau telah dirasakan sebagai bagian dari ibadah sesuai dengan ajaran agama yang
diyakininya. Eksekutif Enron hanya mengejar tujuan lahirian dengan mengabaikan tujuan spiritual,
dengan ini tahap yang dicapai hanya PQ dan IQ saja.

4. Independensi

Pelanggaran prinsip ini terjadi pada, sebagai perikut:

 Arthur Ardensen menyediakan setidaknya 5 layanan kepada Enron yaitu: (1) sebagai auditor
eksternal yang mengaudit kewajaran laporan keuangan Enron; (2) sebagai Konsultan
akuntansi dan manajemen, termasuk saat transaksi SPE; (3) sebagai penasihat perpajakan;
(4) sebagai internal auditor Enron; (5) sebagai penasihat masalah keuangan. Kelima layanan
tersebut memiliki fungsi yang saling bertabrakan bahkan tumpang tindih hingga
menyebabkan hilangnya objektivitas Arthur Andersen.
 Banyaknya auditor Arthur Andersen yang kemudian pindah dan menjabat sebagai eksekutif
Enron, seperti: Richard Causey, Sheron Wattkins, dan staff lainnya
 SPE seharusnya dimiliki oleh pihak independen, tetapi SPE yang bertransaksi dengan Enron
adalah bentukan Fastow yang merupakan CFO Enron

5. Kesetaraan

Enron memperlakukan pemangku kepentingannya dengan tidak adil, yaitu:

 Karyawan memperkaya diri mereka sendiri tanpa persetujuan Dewan Direksi (Kompensasi
berlebihan).
 Konflik kepentingan yang tidak pantas, yaitu adanya Insider Trading dimana Dewan Direksi
menyetujui CFO untuk mengoperasikan dana ekuitas swasta SPE LJM yang melakukan
transaksi bisnis dengan Enron dan meperoleh keuntungan dari biaya Enron.
 Kegagalan tugas fidusida Dewan Direksi yaitu: gagal melindungi pemegang saham Enron
dari kegiatan yang tidak adil sehingga merugikan pemegang saham, karyawan, dan rekan
bisnis.
 Memanipulas krisis listrik di California dan menerapkan skema prabayar dan menetapkan
harga listrik sangat tinggi sampai 9kali lipat demi keuntungan eksekutif Enron. Hal ini
menyebabkan banyak perusahaan di industri sejenis gulung tikar, pengangguran di
California bertambah, masyarakan kesulitan mendapatkan listrik dan harus membayar mahal
untuk itu.
 Karyawan diperlakukan tidak adil. Enron mengharuskan dana pensiun karyawannya diubah
dalam bentuk saham. Tujuan Enron adalah menaikan harga saham perusahaan dengan cara
ini. Dan pada saat masa jatuhnya enron, para ekskutif yang terlebih dahulu tahu telah
menjuals ahamnya, sedangkan karyawan hanya dapat menjual saham sampai pada harga 26
sen. Sangat banyak terjadi kerugian pada karyawan. Baik financial maupun moral.
Karyawan Enron banyak yang tidak diterima di perusahaan lain.

5. Etika profesi apa yang dilanggar oleh KAP Enderson dan Perusahaan Enron ?

Enron dan KAP Arthur Andersen sudah melanggar kode etik yang seharusnya menjadi
pedoman dalam melaksanakan tugasnya dan bukan untuk dilanggar. Mungkin saja pelanggaran
tersebut awalnya mendatangkan keuntungan bagi Enron, tetapi akhirnya dapat menjatuhkan
kredibilitas bahkan menghancurkan Enron dan KAP Arthur Andersen. Keduanya telah bekerja sama
dalam memanipulasi laporan keuangan sehingga merugikan berbagai pihak baik pihak eksternal
seperti para pemegang saham dan pihak internal yang berasal dari dalam perusahaan enron. Enron
telah melanggar etika dalam bisnis dengan tidak melakukan manipulasi-manipulasi guna menarik
investor. Sedangkan Arthur Andersen yang bertindak sebagai auditor pun telah melanggar etika
profesinya sebagai seorang akuntan. Arthur Andersen telah melakukan “kerjasama” dalam
memanipulasi laporan keuangan enron. Hal ini jelas Arthur Andersen tidak bersikap independent
sebagaimana yang seharusnya sebagai seorang akuntan.

6. Jelaskan dan apa yang menjadi latar belakang dari Sarbanes-Oxley Act 2002 yang saudara
ketahui?

Sarbanes-Oxley Act 2002 di akhir abad ke 20 sampai dengan awal abad ke 21, terjadilah
suatu skandal akuntansi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Skandal ini melibatkan
perusahaan-perusahaan besar yang telah go publik di Amerika Serikat seperti Enron, Worldcom,
Adelphia, Tyco International, dan Peregrine System. Skandal ini yang menyebabkan kerugian
bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang
terpengaruh ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional. Tidak hanya
pasar saham nasional USA saja yang terpengaruh, tetapi juga segera meluas ke berbagai negara
lainnya karena harga-harga saham bursa lain serta tingkat kepercayaan masyarakat pada pasar
saham global juga anjlok secara keseluruhan. Skandal-skandal ini merupakan contoh yang sangat
menyedihkan bagaimana fraud scheme berdampak sangat buruk bagi investor, pasar, pegawai, dan
masyarakat secara keseluruhan.
Dan Sarbanes Oxley Act 2002 (SOX/SOA) menyatakan bahwa tujuan pengaturan berkaitan dengan
lima hal:
1. Mengatur persaingan (regulate competition)
2. Melindungi konsumen (protect consumers)
3. Mendorong keadilan dan keselamatan (promote equity and safety)
4. Melindungi lingkungan alam (protect natural environment)
5. Adanya etika untuk mencegah dan menegakkan hukum terhadap tindakan ilegal (ethics to deter
and provide for enforcement againts misconduct)