Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Islam sebagaimana satu-satunya agama yang diakui keabsahannya oleh Allah
SWT. Walaupun ada banyak agama lain di muka bumi, namun hanya agama islam
yang sangat sempurna konsep dan fleksibilitasnya. Islam adalah agama yang
“Rahmatan lil’alamin” (Q.S An-Biya :1-7) sangat menjunjung tinggi keseimbangan
kehidupan antara makhluk satu dengan yang lainnya. Makannya dalam islam dikenal
ada dua jenis hubungan ketergantungan. Yaitu, “hablunminallah” dan
“hablunminanas” kaitannya dengan pengembangan individual manusia dalam hal
pengetahuan sebagai tonggak peradaban muslim. Disadari atau tidak, Pendidikan
adalah salah satu kebutuhan primer yang tidak bias dilepaskan dari keberlangsungan
siklus kehidupan suatu kelompok masyarakat. Tanpa adanya sebuah Pendidikan yang
cukup, sebuah komunitas akan sangat lambat peningkatan taraf hidupnya. Karena
kebodohan dalam melakukan suatu hal umumnya justru akan menimbulkan masalah-
masalah baru yang bisa menghambat laju perkembangannya. Karena itulah
pendidikan menjadi sebuah kebutuhan pokok yang keberadaannya tidak bisa ditawar
lagi.
Pendidikan adalah sebuah media bagi terjadinya transformasi nilai dan ilmu
yang berfungsi sebagai pencetus corak kebudayaan dan peradaban manusia.
Pendidikan berwawasan kemanusiaan memberikan pengertian bahwa pendidikan
harus memandang manusia sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek yang
memilah-milah potensi (fitrah) manusia. Artinya, pendidikan adalah suatu upaya
memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya, baik sebagai diri pribadi yang
hidup bersama hamba Tuhan yang terikat oleh hukum normatif (syariat) dan
sekaligus sebagai khalifah di bumi.
II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan ?
2. Apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam ?
3. Apa tujuan Pendidikan Islam ?
4. Apa landasan pemikiran Islam ?
5. Apa Prinsip Pendidikan Islam ?
6. Bagaimana Pengembangan Sistem Pendidikan ?
7. Bagaimana arah Pengembangan Pendidikan Islam ?

1
III. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Pendidikan
2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam
3. Mengetahui apa itu tujuan Pendidikan Islam
4. Mengetahui Landasan Pemikiran Islam
5. Mengetahui Prinsip Pendidikan Islam
6. Mengetahui Pengembangan Sistem Pendidikan
7. Mengetahui arah Pengembangan Pendidikan Islam

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat bangsa dan negara. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan
merupakan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang
utama. (Marimba, 1962)
Zuhairini mengemukakan pendidikan adalah suatu aktivitas untuk
mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup
dengan kata lain pendidikan tidak berlangsung di dalam kelas tetapi juga berlangsung
di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal (UU 19, 2005) tetapi juga bersifat
nonformal. Secara substansial, pendidikan tidak sebatas pengembangan intelektual
manusia, melainkan mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia. Sehingga
pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan kepribadian setiap
manusia.
B. Pengertian Pendidikan Islam
Dari beberapa definisi Pendidikan islam yang dikemukakan diatas, tampak
sekali umumnya penekanan utama diberikan kepada pentingnya pembentukan akhlak
(kepribadian), disamping adanya penekanan persoalan fitrah dan upaya manusia
dalam mencapai hidup makmur dan bahagia sesuai dengan ajaran dan norma islam.
Pendidikan sebagai padanan makna tarbiyah secara bahasa mempunyai asal makna
tumbuh (nãma), berkembang (nasyaa ), dan memperbaiki (ashlaha) (al-Suwaid, 1990:
13 ). Secara istilah menurut Raghib al-Isfahani tarbiyah adalah mengembangkan
sesuatu setahap demi setahap sampai tercapai kesempurnaan. Dan menurut Najar,
tarbiyah berarti menumbuhkembangkan potensi individu sedikit demi sedikit dengan
latihan–latihan sampai potensi individu tersebut dapat mencapai kesempurnaan
(Najar: 43 ).
Pengertian pendidikan yang bersifat umum, menurut Azra (1999: 4), jika
dihubungkan dengan agama Islam memunculkan pngertian baru yang secara totalitas
inheren mengandung makna tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Pendidikan Islam dapat
dimaknai sebagai upaya mengoptimalkan perkembangan potensi manusiawi,
kecakapan hidup, dan sikap kepribadian individu peserta didik menuju tercapainya

3
kesempurnaan dan kedewasaan yang baik. Pendidikan yang orientasinya adalah
sebagai proses pendewasaan dan penyempurnaan untuk tercapainya kebaikan
kemanusiaan, dengan demikian mengharuskan berlangsung secara mustamirah, baik
dalam situasi pergaulan, pengajaran, latihan-latihan, dan bimbingan, serta tertuju pada
keutuhan pengembangan skill, sikap pribadi dan sosial, serta semangat pengabdian
pada Tuhan secara kritis dan praktis.
Tampak sekali penekana makna pendidikan kepada pembentukan kepribadian,
dan pendekatan bersifat teoritis dan praktis kearah perbaikan sikap mental yang
memadukan antara iman sekaligus amal shaleh yang tertuju kepada individu dan
masyarakat luas. Dalam pemberian makna pendidikan islam kepada pembentukan
kepribadian, syariat islam harus melalui proses pendidikan, mengajak beriman,
beramal shaleh dan berakhlak, adanya perbaikan sikap mental, pendidikan teoritis dan
praktis, pendidikan iman dan amal sekaligus pendidikan individu dan masyarakat.
Muhammad Athiyah Al-Abrasy memberikan pengertian bahwa pendidikan islam
atarbiyah memperisapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia
mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur
pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik
dengan lisan maupun tulisan. Arah pendidikan islam adalah mempersiapkan manusia
supaya hidup bahagia dan sempurna, punya rasa kebangsaan, kesehatan, berakhlak,
berketrampilan dan mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan sebaik-
baiknya.
C. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah merupakan salah satu aspek upaya umat Islam
membelajarkan generasinya dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah dalam
tugas dan perannya sebagai hamba Allah Swt dan sebagai khalifatullah fil ardhy.
Peran inilah yang mengharuskan tujuan pendidikan Islam tidak dapat lepas dari siapa
hakikat manusia dan apatujuan hidup manusia dalam Islam. Tujuan pendidikan Islam
dengan demikian harus mampu menjawab terciptanya pribadi-pribadi hamba Allah
Swt. yang bertakwa, pribadi yang mampu mengelola kehidupan lebih maju dan bijak,
pribadi yang peduli dengan lingkungan alam dan sesama dengan semangat
kerahmatan, dan pribadi yang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat.Tujuan Pendidikan antara lain menjadikan manusia utama dan bijaksana,
menjadi warga negara yang baik, menjadi orang biasa yang bertanggung jawab, bisa
hidup bahagia sejahtera dan seterusnya.
Tujuan pendidikan dengan demikian menurut Ainain (1980: 150–153) tidak
dibenarkan keluar dari tiga pilar berikut.
1. Pilar ruhiyah/spiritual.
4
Pilar ini berkaitan dengan menyadari eksistensi Allah Swt., sebagai sesuatu
yang sangat agung dan tinggi. Pilar ini akan dapat tertanam melalui kualitas keimanan
yang harus ditanamkan dalam jiwa anak.
2. Pilar ubudiyah.
Pilar ini merupakan perwujudan sikap manusia yang kedua, yakni ketika
manusia dalam semua keadaan hidup pribadi dan keluarga, dalam memelihara
kebaikan diri dan lingkungan, dalam pergaulan dengan dirinya dan manusia lain
senantiasa berpegang pada prinsip hukum tertinggi yang dibuat oleh Allah Swt.
3. Pilar fardiyah/pribadi.
Pilar pribadi ini berkaitan dengan bagaimana agar pendidikan mampu
mengoptimalkan pembinaan dan pengembangan potensi manusiawi secara total, baik
akal, akhlak, jiwa, fisik, keindahan, dan kemampuan sosial.
4. Pilar fardun fil mujtami.
Pilar ini berkaitan dengan bagaimana agar pendidikan mampu menumbuhkan
potensi individu yang sekaligus menyadari posisinya tidak bisa lepas dari tugas
kehidupan ditengan sosial kemasyarakatan.
Ciri pokok tujuan pendidikan islam menurut Omar Muhammad Al-Thoumy Al-
Syaibani
1. Sifat yang bercorak agama dan akhlak
2. Sifat komprehensif yang mencakup segala aspek pribadi pelajar dan
perkembangan dalam masyarakat
3. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan unsur dan
cara pelaksanaannya
4. Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan dan perubahan yang
dikehendaki pada tingkah laku dan kehidupan, memperhitungkan perbedaan diantara
individu, masyarakat, dan kebudayaan.
Prinsip tujuan pendidikan islam meliputi :
a. Menyeluruh
b. Keseimbangan dan kesederhanaan
c. Kejelasan
d. Tidak ada pertentangan
e. Realisme dan dapat dilaksanakan
f. Menerima perubahan dan perkembangan dalam rangka metode
keseluruhan yang terdapat dalam agama.
Tujuan pendidikan islam menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasy yamg
dikutip dari Qomar Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibani :

5
 Untuk membentuk akhlak mulia , kaum uslimin sepakat bahwa
pendidikan akhlak yang sempurna adalah tujuan pendididkan yang sebenarnya.
 Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat, pendidikan islam tidak
hanya menitik beratkan pada keagamaan atau dunia saja, melainkan pada keduanya
dan memandang kesiapan keduanya.
 Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan dilihat dari segi
kemanfaatan, pendidikan islam menyeluruh bagi kesempurnaan kehidupan.
 Menyiapkan pelajar dari segi profesi, supaya dapat menguasai profesi
dan ketrampilan tertentu agar dapat mencari rizki dalam hidup.

Dengan demikian tujuan pendidikan islam dikenal adanya beberapa jenis atau
tingkatan yang terdiri dari tujuan umum, akhir, sementara, dan operasioanal. Hal ini
menggambarkan bahwa tujuan pendidikan islam harus disesuaikan dengan target
yang ingin dicapai.

Yasin berpendapat bahwa fungsi tujuan pendidikan mencakup tiga aspekyang


semuanya masih bersifat normatif. Pertama, memberikan arah bagi proses
pendidikan. Kedua, memberikan motivasi dalam aktivitas pendidikan, karena pada
dasarnya tujuan pendidikan merupakan nilai-nilai pendidikan yang ingin dicapai dan
diinternalisasi pada anak didik. Ketiga, tujuan pendidikan merupakan kriteria atau
ukuran dalam evaluasi pendidikan (Yasin, 2008).

Tujuan pendidikan islam mencangkup dua aspek utama, yakni mewujudkan


kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup diakhirat. Hal ini menggambarkan
bahwa pendidikan islam merupakan pendidikan yang bersifat komplet yang
merangkum tujuan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan allah yang paripurna serta
dibekali akal. Namun perlu dicatat di sini, perkembanmgan perilaku sosial yang
cukup fluktuatif dan sukar di tebak, memerlukan reinterpretasi tujuan pendidikan
islam yang bersifat khusus dan aplikatif. Al-Quran dan hadis yang menjadi pijakan
utama dapat diinterpretasi ulang dengan memadukan nilai-nilai sosio-kultural yang
selama ini menjadi pijakan bangsa Indonesia sebagai bangsa Timur yang ramah dan
toleran. Untuk menggali tujuan pendidikan berbasis nilai-nilai sosial-kultural tersebut
perlu dilihat berdasarkan aspek kajian ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

D. Landasan Pemikiran Pendidikan Islam

Konsepsi pendidikan Islam akan dapat dirumuskan dari hasil derivasi


pandangan Islam tentang manusia, alam semesta dan ilmu pengetahuan. Pendidikan
akan terkonsepsikan dengan secara baik dan sempurna manakala pemahaman
(potensi, dan peran manusia; realitas alam dan sosial budaya; serta konsep ilmu) telah
6
terumuskan dengan baik dan sempurna. Dari pandangan terhadap tiga konsep inilah,
pandangan filosofis pendidikan dapat dirumuskan, berikut model pendidikan dan
sistem kelembagaan Islam.

1. Konsep Manusia

Studi tentang manusia dalam konteks pendidikan Islam menempati posisi


yang amat sentral. Manusia adalah maudu’ pendidikan. Islam memiliki Alquran yang
menjadi rujukan sentral perilaku manusia. Alquran adalah hudan (Q.S. Al-Baqarah,
2: 2) menjadi sumber inspirasi sekaligus dasar berpikir bagi pengembangan
pendidikan Islam. Menurut Ainain (1980: 95) Alquran adalah kitab manusia, maka
Alquran kandungan seluruhnya untuk dan tentang manusia. Karenya Alquran di
dalamnya terdapat falsafah yang sempurna tentang manusia baik hakikat, penciptaan,
dan watak manusia. Manusia adalah makhluk Allah Swt. yang termulia dari makhluk
ciptaannya yang lain (Q.S. Al-Isra’: 7), dan karena itu maka Allah Swt. telah
menundukkan semua apa yang ada dibumi dan langit untuk digunakan oleh manusia.
Konsekwensi dari hal ini, maka manusia dipersiapkan menjadi khalifah (Q.S. al-
Baqarah: 30) yang secara kodratnya dapat didik (Q.S. al-Baqarah: 31). Manusia akan
dimintai pertanggungjawaban atas amanat kekhalifahan, dan oleh kerenanya manusia
harus mengembangkan potensi fungsionalnya. Para pemikir pendidikan Islam
mengklasifikasi substansi manusia menjadi dua bagian. Bagian yang pertama adalah
mady (badan) dan ghairu mady (akal, jiwa, dan hati), atau manusia terdiri dari jasad
dan ruh (Mursyi, 1977). Kedua unsur ini adalah fitrah manusia yang akan dapat
digunakan untuk menyempurnakan kehidupan. Kedua unsur tersebut tidak dipahami
secara terpisah, melainkan keduanya saling menyempurnakan, keduanya adalah dua
unsur yang menyatu. Inilah tabiat dasar manusia, oleh karenanya manusia
diharamkan mengesampingkan kebutuhan salah satu unsur untuk mengutamakan
unsur lain, dan tidak dibenarkan memuji salah satu unsur secara berlebihan dan
melecehken salah satu unsur lainnya (Qordowi, 1972: 76).

Manusia memiliki badan yang merupakan aspek biologis yang memiliki


kebutuhan akan kesenangan, pekerjaan, dan sahwat dan berikut perangkat kebutuhan
yang akan menyempurnakan aspek fisiknya. Namun demikian, manusia juga
memiliki unsur psikologis berupa ruh, qalb, ‘aql, dan nafs. Unsur ini berbeda dengan
unsur pertama, karena unsur ini terbentuk dari aspek yang sangat tinggi, yakni dari
Dzat Allah Swt. Ruh lebih dekat dengan kehidupan yang kekal dan tidak terlihat oleh
indra manusia (Q.S. Al-Isra: 85), sedang akal adalah merupakan kekuatan indra
manusia yang diberikan oleh Allah Swt. pada manusia sebagai dasar pertimbangan
tanggung jawab pada perbuatannya (Q.S. al-Mulk: 10). Jiwa adalah merupakan
7
kekuatan untuk berkehendak yang dapat mengarah pada kebaikan maupun keburukan
(mutmainnah, lawwamah, dan imarah bi as-syu’), dan hati adalah kekuatan ruhiyah
(Ainain, 1980: 99-102).

Hati dapat digunakan untuk ber-tafaqquh (Q.S. Ali Imran: 159) dan
menentukan baik dan buruk perilaku, sebagaimana hadis Rasul yang sangat popular:
”Ketahuilah bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging, jika baik maka akan
baiklah semuanya dan jika rusak maka akan rusaklah semuanya, ketahuilah segumpal
daging itu adalah hjati”. Manusia adalah perpaduan kedua unsur jasad dan ruh,
meskipun sebagian ulama berbeda pendapat memandang akal, jiwa, hati dan ruh,
yakni hanya merupakan murodif. Kesatuan unsur di atas menggambarkan secara
tegas, bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna/kamilah wa syamilah.
Pandangan Alquran terhadap manusia bukan hanya memperhatikan potensi batin,
sebagaimana tegambar pada diagram di atas, melainkan Alquran juga sangat
memperhatikan betapa besar pengaruh lingkungan dan pendidikan, Pendidikan Islam
yang benar harus memperhatikan kedua unsur pembentuk tabiat manusia, untuk satu
tujuan yakni tercapainya kesempurnaan manusia. Pendidikan Islam sebagaimana
yang digariskan pada ajaran Islam harus menjaga perkembangan aspek jasad dan ruh.
Pendidikan Islam hendaknya melihat manusia secara utuh/nazrah syumuliyah
takamuliyah.

2. Konsep Ilmu Pengetahuan

Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang dalam Alquran sebanyak 854
kali, kata ilmu digunakan dalam arti proses pencapaian dan obyek pengetahuan.
Berbeda dengan konsep barat dalam Islam ilmu tidak dibatasi pada yang ilmiah
(sistematik, rasional, empiris, dan bersifat kumulatif), karena Islam juga menerima
ilmu pengetahuan yang bersifat supra rasional dan supra empiris, yakni sejenis imu
pengetahuan yang bersumber dari wahyu dan intuisi (Tim Dosen, 2009: 167). Islam
memandang baik ilmu (sains) maupun pengetahuan (knowledge) , keduanya
bersumber dari Allah Swt. Dialah yang mengajarkan pada manusia ilmu pengetahuan
(Q.S. al-Baqarah: 32), dan Dialah yang menurunkan wahyu dan menyediakan alam
semesta sebagai sumber Ilmu. Baik ayat kauliah maupun ayat kauniah semuanya
kembali pada kesatuan ilmu, yakni ilmu yang bersumber dari ilmu Allah Swt., oleh
karenanya Islam memandang bahwa tidak ada dikotomi ilmu yang tauqifiyah (ilmu
yang didapat melalui pengajaran Allah Swt. secara langsung) dengan ilmu yang
muktasabah (ilmu yang diperoleh dari Alla Swt. secara tidak langsung, melalui
prosedur pengusahaan). Integrasi ilmu kepada Ilmu Allah Swt. secara logis baik ilmu
tauqifiyah maupun muktasabah tidak ada pertentangan, justru karena menyatu pada
8
integrasi ilmu Tuham, maka seharusnya ilmu apa pun harus saling mendukung dan
saling menyempurnakan.

Pandangan integratif terhadap ilmu di samping menuntut adanya keharusan


lembaga pendidikan untuk mengajarkan berbagai ilmu tanpa dikotomik, juga
menuntut adanya upaya agar semua ilmu yang diajarkan tidak dipertentangkan.
Pendidikan hendaknya dapat membuat anak didik yang mempelajari ilmu tauqifiah
menjadi tertarik untuk membawa pada penyelidikan ilmu muktasabah dan sebaliknya
pendidik yang mempelajari ilmu muktasabah menjadi menyadari batapa pentingnya
mempelajari ilmu tauqifiyah. Prinsip syamilah (ilmu komprehensif) dan kamilah
(ilmu yang saling membenarkan dam menyempurnakan) jika terwujud secara
terintegrasi akan menghasilkan ulama yang senantiasa khashyatallah (Innama
yakhsyallaha min ‘ibadihi al-‘ulama ).

E. Prinsip Pendidikan Islam

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi


muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk
jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi
dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian, pendidikan Islam itu
berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya, maka sudah sewajarnyalah
untuk dapat memahami hakikat pendidikan Islam itu harus bertolak dari pemahaman
terhadap konsep manusia menurut Islam. Alquran meletakkan kedudukan manusia
sebagai khalifah Allah di bumi (AlBaqarah, 2: 30). Esensi makna khalifah adalah
orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia
bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan
kemaslahatan bagi manusia. Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai
khalifah secara maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi
yang menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut. Potensi tersebut
meliputi potensi jasmani dan rohani. Potensi jasmani adalah meliputi seluruh organ
jasmaniah yang berwujud nyata. Sedangkan potensi rohaniah bersifat spiritual yang
terdiri dari fitrah, roh, kemauan bebas dan akal. Manusia itu memiliki potensi yang
meliputi badan, akal dan roh. Ketigatiganya persis segitiga yang sama panjang
sisinya. Selanjutnya, manusia memililki potensi spiritual meliputi dimensi: akidah,
akal, akhlak, perasaan (hati), keindahan, dan dimensi sosial.

Selain dari itu Alquran menjelaskan juga tentang potensi rohaniah lainnya,
yakni al-Qalb, ‘Aqlu An Ruh, dan an-Nafs. Dengan bermodalkan potensi yang
dimilikinya itulah manusia merealisasi fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi yang

9
bertugas untuk memakmurkannya. Di sisi lain, di samping manusia berfungsi sebagai
khalifah, juga bertugas untuk mengabdi kepada Allah (Az-Zariyat, 51: 56). Dengan
demikian manusia itu mempunyai fungsi ganda, sebagai khalifah dan sekaligus
sebagai ‘abd. Fungsi sebagai khalifah tertuju kepada pemegang amanah Allah untuk
penguasaan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pelestarian alam raya yang berujung
kepada pemakmurannya. Fungsi ‘abd bertuju kepada penghambaan diri semata-mata
hanya kepada Allah. Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam
diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang
dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin
dicapai. Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir (ultimate aim) pendidikan
Islam, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat
mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
Beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam mengembangkan model
pendidikan yang mencerahkan sebagai berikut.

1. Tarbiyah syamilah takamuliah,yakni agar pendidikan diarahkan pada


pendidikan manusia seutuhnya. Pendidikan tidak hanya memperhatikan salah satu
aspek potensi manusiawi saja, melainkan harus mencakup/meliputi semua aspek
potensisil yang dimiliki manusia secara utuh (jismun, nafsun, ‘aqlun, qalbun, ruhun).
Di samping pendidikan harus utuh, juga harus saling menyempunakan, ketika salah
satu aspek potensi ataupun materi dididikkan hendaknya mempunyai implikasi
positif komplimenter pada aspek/materi yang lain.

2. Tarbiyah mutawazzinah, yakni agar pendidikan diarahkan pada pendidikan


yang berkeseimbangan. Pendidikan hendaknya mampu menciptakan kepribadian dan
sikap yang berkeseimbangan antara orientasi tugas/kebutuhan hidup keduniaan
dengan orientasi/tugas hidup keakhiratan. Pendidikan diarahkan pada keutuhan hidup
dan keutuhan kebahagiaan hidup secara hakiki dan faktual. Dengan demikian,
pendidikan tidak dibenarkan hanya berorientasi kerja dan kemajuan duniawi semata
dengan mengabaikan orientasi keakhiratan.

3. Tarbiyah sulukiyah wa ‘amaliah, yakni pendidikan yang diarahkan pada


pembentukan kepribadian yang fungsional. Pendidikan tidak hanya mendidik umat
yang pandai berbicara dan pandai berargumentasi, melainkan hendaknya justru
digunakan untuk melatih anak didik memiliki integritas kepribadian, yang
diwujudkan dalam perbuatan nyata dalam keseharian. Pendidikan yang demikian
berarti di samping mengajarkan konsep juga menanamkan konsep dalam tingkah laku
dan ketrampilan hidup (life skill).

10
4. Tarbiyah Fardiyah Ijtima’iyah, yakni pendidikan diarahkan untuk
membentuk individu dan sosialkemasyarakatan. Pendidikan yang idial adalah mampu
membentuk keutamaan individu agar tercipta masyarakat yang idial dimana individu
sebagai unsur pembentuknya. Sebaliknya pendidikan juga bekerja sama dengan
masyarakat agar masyarakat dapat menciptakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan
individu mencapai keitamaan kemampuan individualnya. Meminjam istilah Dewey
pendidikan harus dapat menjadi miniatur kehidupan masyarakat yang terseteril dari
unsur negatif kehidupan sosial.

5. Tarbiyah Dlamir al-Insan, yakni pendidikan harus diarahkan sebagai


lembaga yang mampu mendidik hati manusia. Prinsip ini sesua dengan fitrah manusia
yang memiliki hati, dan hati didik agar manusia bukan hanya kemampuan intelektual
dan ketrampilan yang dibangun tetapi juga terbangun kepekaan hatinya. Kecerdasan
hati didik agar manusia senantiasa dapat berintrospeksi kedekatan dengan Allah Swt.
dan mengarahkan kepekaan terhadap kbijaksanaan perilaku.

6. Tarbiyah Fitriah Ghariziah, yakni agar model pendidika dapat mengerahkan


anak didiknya untuk senantiasa sejalan dengan citra dirinya yang bertauhid dan
mengarahkan pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan insaniahnya dengan
secara terkendali.

7. Tarbiyah ila al-Khair, yakni agar model l pendidikan diarahkan pada tujuan
akhir kebaikan. Konsep ini berpangkal pada fungsidiciptaknnya, manusia sebagai
rahmatan lil’alamin. Pendidikan hedaknya mampu mengantarkan anak didiknya pada
kehidupan yang penuh makna bagi diri, sosial dan alam semesta, guna tercapainya
kebahagiaan kehidupan. Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu,
melanikan harus dibawa untuk memberikan kebermaknaan hidup menciptakan
kerahmatan alam semesta .

8. Tarbiyah Mustamirah, yakni agar model pendidika diarahkan pada model


yang mampu menyediaakan pembelajaran secara terus berkesinambungan.
Pendidikan tidak dibatasi oleh tempat dan jenjang waktu sekolah, pendidikan
berlangsung sepanjag hidup manusia. Manusia memiliki dinamika kehidupan yang
terus berubah , oleh karenanya pendidikan harus luwes dan mampu terus melakukan
pencerahan baru sesuai dengan tuntutan perubahan.

9. Tarbiyah Kulliyyah, prinsip ini merujuk pada konsep bahwa Islam adalah
pendidikan untuk semua orang dan golongan. Konsep ini sejalan dengan
keuniversalan Islam. Islam tidak diperuntukkan bagi golongan, aliran, bangsa

11
tertentu, tetapi untuk semua ummat di alam semesta ini. Pendidikan dengan demikian
harus mewadahi semua ras, kultur, budaya, dan bangsa.

10. Tarbiyah Muhafzhah wa Mujaddidah, yakni agar model pendidikan


diarahkan pada model pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai yang
berdasarkan pada wahyu (Alquran) dan nilai-nilai yang dibenarkan sesuai dengan
perkembangan ruang dan waktu. Model pendidikan di samping memegangi
kebenaran yang diyakini benarnya secara prinsip, juga memperhatikan
perubahan/perkembangan ilmu dan nilai sejalan denga perubahan ruang dan waktu.
Prinsip ini mendorong agar dunia pendidikan konsisten dengan nilai kebenaran
sekaligus tanggap dan merlakukan pembaruan sesuai dengan tuntutan perubahan
(Mursyi, 1977).

Kedua, pendidikan dengan prinsip Islam akan mengikis kehawatiran Philip H.


Phenix yang mengatakan bahwa pada dunia moderen para pengemban profesi yang
spesialis banyak yang tenggelam dalam aktivitas spesialis mereka masing-masing.
Mereka sedikitpun tidak memahami dimana mereka tinggal dalam jaringan
kehidupan budaya masyarakatnya. Dan akhirnya mereka menjadi masyarakat yang
tidak mampu mengenali sosok masyarakat dan persoalan yang dihadapi masyarakat
mereka. Akhirnya muncul gejala depersonalization, yang membuat mereka tidak
mampu memberikan kontribusi yang berarti kepada humanisasi masyarakat modern.
Gejala depersonalization, dengan sendidirinya terkikis dengan kurikulum syamilah
kamilah, yang mengintegrasikan muatan pembelajaran sains, dengan kurikulum yang
berfungsi sebagai perbendaharaan makna, sebagai pedoman untuk
mengidentifikasikan diri dengan sosial budaya di tempat mereka bekerja sebagai
spesialis. Dan kurikulum integrated ini yang akan mengarahkan mereka menguasai
spesialisasi ilmu mereka sekaligus membentuk watak dan kesadaran akan nilai sosial
budaya yang melingkunginya serta kesadaran pada fungsi penghambaan dan
kerahmatan. Dan ini akan dapat menghilangkan keterasingan saintis untuk secara
sadar melibatkan mereka dalam pergulatan sosial dan politik yang terdapat di
masyarakat.

Kurikulum yang kamilah syamilah juga menjawab apa yang diharapkan


Phenix, yang menurutnya dalam kehidupan terdapat enam jenis wilayah makna, yaitu
simbolik,empirik, estetik, sinotik, etik, dan sinoptik. Untuk memahami makna
simbolik harus diberikan pendidikan bahasa, matematika. Untuk memahami makna
empirik harus diberikan pendidikan tentang lingkungan fisik (fisika, kimia, biologi,
dsb). Untuk memahami estetik diberikan pendidikan seni. Untuk memahami makna
sinoptik/personal knowledge harus diberikan pendidikan cerita, drama, film ata
12
sejenisnya. Untuk memahami makna etik, harus dididk kesadaran terhadap norma.
Dan untuk memahami sinoptik adalah dengan pelajaran sejarah, filsafat, dan agama.
Sedangkan Jammes Trefil, mengegaskan bahwa dalam dunia yang ditandai
perubahanperubahan yang sangat cepat dalam segenap aspek kehidupan, merupakan
keharusan bagi siapapun untuk untuk memiliki cultural literacy dan saintific literacy.
Dan saintific literacy adalah merupakan satu sel dalam cultural literacy.

Ketiga, prinsip pengembangan pendidikan Islam syamilah kamilah yang


diorientasikan pada proses mustamirah, fitriah gharizah, dan ilal khair, akan mampu
mengembangkan kompetensi dan membentuk watak yang relevan dengan upaya
menghadapi tantangan jaman. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang
bermakna sebagai proses pembudayaan, yaitu membudayakan kemampuan
memecahkan masalah, kemampuan bekerja dan beretos kerja, kemampuan meneliti
dan mengembangkan IPTEK, dan membudayakan sikap mandiri, bertanggung jawab,
demokratis, jujur, dan bermoral. Prinsip pendidikan Islam mampu menjawab
keinginan Beyer (1998) bahwa kemampuan metakognitif merupakan pijakan dasar
perilaku berpikir (habit of mind) yang merupakan hasil dari proses belajar.
Pendidikan yang akan mampu membentuk konsep belajar sepanjang hayat (life long
education) yang terintegrasi pada pribadi guru dan siswa dan pembelajaran yang
dilaksanakan.

F. Pengembangan Sistem Pendidikan

Melihat masa depan yang penuh dengan tantangan sudah barang tentu tidak
bisa menyesuaikan permasalahan jika pendidikan Islam tersebut masih terikat
dikotomi. Berkenaan dengan itu perlu diprogramkan upaya pencapainya, mobilisasi
pendidikan Islam tersebut, misalnya melakukan rancangan kurikulum, baik
merancang keterkaitan ilmu agama dan umum maupun merancang nilai-nilai Islami
pada setiap pelajaran; personifikasi pendidik di lembaga pendidikan sekolah Islam,
sangat dituntut memiliki jiwa keislaman yang tinggi .Lembaga pendidikan Islam
dapat merealisasikan konsep kurikulum seutuhnya bedasar prinsip pendidikan Islam
di atas. Dari prinsip di atas tujuan pendidikan dapat disederhanakan berorientasi
kepada tiga tujuan besar. 1. Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan
Allah. 2. Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia). 3.
Tercapainya tujuan hablum minal’alam (hubungan dengan alam). Adapun model-
model pengembangan lembaga pendidikan Islam ada tiga pendekatan sebagai pola
alternatif yaitu: pendekatan sistematik (perubahan total), pendekatan suplementer
(dengan menambah sejumlah paket pendidikan yang bertujuan memperluas
pemahaman), dan pendekatan komplementer (dengan upaya mengubah kurikulum
13
dengan sedikit radikal untuk disesuaikan secara terpadu). Sedangkan konsep
pendidikannya adalah pendidikan integralistik dan humanistik.

Kemudian baru ditarik model pendidikan yang lebih operasional yaitu


mendesain model pendidikan umum Islami, mendesain model pendidikan Islam yang
tetap mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan, model pendidikan Islam
yang tidak dilaksanakan di sekolahsekolah formal tetapi dilaksanakan di luar
sekolah, di tempat kursus-kursus, pengajianpengajian dan kajian-kajian keagamaan,
serta mendesain model pendidikan diarahkan pada dua dimensi yaitu dimensi
dialektika (horisontal) dan dimensi ketundukan vertikal (Hidayat, 2011). Desain
pendidikan, yang sejalan dengan arah pencerahan pendidikan adalah: sekolah
diupayakan untuk merekonstruksi model pendidikan yang diarahkan pada
keterpaduan kurikulum, keterpaduan proses dan keterpaduan hasil. Model pendidikan
terpadu diharapkan dapat melengkapi kekurangan-kekutrangan pendidikan yang telah
ada, dalam arti ketika kurikulum masih dikotomik dan mengarah pada penekanan
aspek–aspek tertentu, harus direkonstruksi menjadi kurikulum integrated yang
diarahkan pada pengembangan spesifikasi akademik tertentu tanpa mengabaikan
perhatian pada pembentukan karakter sosial budaya dan spiritualitas anak. Demikian
pula sebaliknya bagi pendidikan yang orientasinya pada pengembangan sosial dan
keagamaan, hendaknya tetap mengarahkan muatan kurikulum saintek sebagai
pembekalan pemahaman dasar pengetahuan untuk agar tercipta keutuhan kepribadian
dan kemampuan sainsnya sebagai modal bertanggung jawab sebagai khalifah di
bumi.

Desain proses yang sejalan dengan arah pendidikan pencerahan, adalah proses
pendiddikan yang mengoptimalkan seluruh potensi manusiawi (fisik, jiwa, akal, hati,
dan ruh) agar pengetahuan yang diperoleh anak didik tidak hanya memahami dan
mampu mempraktikkan semata, melainkan lebih dari itu pengetahuan diperoleh
menjadikan lebih bermakna dan membimbingnya untuk mengunakan secara benar
sebagai rahmatan lil’alamin. Pengetahuan anak didik tidak semata keahlian yang
berorientasi kerja, melainkan pengetahuan itu dimaknai secara sosial budaya dan
kebermaknaannya bagi tugas kekhalifahan. Dan untuk mendukung proses tersebut di
samping harus mengoptimalkan seluruh potensi manusiawi, diperlukan adanya
kesinambungan dan keselarasan tujuan, isi pembelajaran, dan proses baik di
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (mustamirah). Proses seperti ini yang
akan membuka belenggu deschooling, dan akan menjadikan proses pendidikan yang
dapat berjalan sepanjang hidup. Model desain pendidikan berdasar Islam harus
diarahkan Pertama, orientasi pendidikan harus lebih ditekankan kepada aspek afektif

14
dan psiko motorik. Pendidikan lebih menitikberatkan pada keterpaduan pembentukan
akhlak peserta didik dan pembekalan keterampilan atau skill. Kedua, pembelajaran
dikembangkan pada pola student oriented agar terbentuk sikap kemandirian,
tanggung jawab, kreatif, dan inovatif. Ketiga, Prmbelajaran diarahkan pembentukan
kesempurnaan kepribadian yang siap menjadin khalifatullah fil-ardi, tidak direduksi
sebatas tranfer ilmu tan papa pendewasaan berbuat. Keempat, perlunya penguatan
dan pembinaan motivasi belajar yang benar, sehingga anak akan menjadi jiwa
pembelajar yang ikhlas dan konsisten.

Kelima, Pembelajaran mengedepankan kemampuan proses, agar anak


memahamai ilmu dengan benar dari akar, ranting, dan manfaat ilmu bagi kehidupan.
Keenam, pembelajaran keahlian lebih detail perlu dikembangkan, agar bakat minat
anak terasah dengan maksimal, dan dapat diarahkan menjadi keahlian unggulan anak
yang realitasnya punya potensi yang beraneka ragam, dengan tetap konsisten dengan
peran dan tanggung jawab sosial dan kultural. Ketujuh, tujuan akhir pendidikan
adalah untuk menciptakan generasi dapat menjadi berperan sebagai khalifah
memajukan kehidupan dan sekaligus memiliki spiritualitas yang kokoh sebagai
hamba Allah. Menjadi profesional dalam keahlian, bertanggungjawab terhadap
lingkungan kehidupan, dan khusuk dalam sikap.

G. Arah Pengembangan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuknya


kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain, Pendidikan
Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim.
Kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta
berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-
nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk
individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah
dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah SWT.

Karel Steenbrink, menyatakan bahwa keberadaan pendidikan Islam di


Indonesia cukup variatif. Steenbrink mengategori pendidikan tersebut dalam tiga
jenis, yaitu pendidikan Islam yang berbasis pada pondok pesantren, madrasah, dan
sekolah. Ketiga jenis pendidikan ini diharapkan dapat menjadi “modal” dalam upaya
mengintegrasikan ilmu pengetahuan sebagai suatu paradigma didaktik-metodologis.
Sebab, pengembangan keilmuwan yang integral (interdisipliner) akan mampu
menjawab kesan dikotomis dalam lembaga pendidikan Islam selama ini berkembang.

15
Pada sisi lain, muncul pula jenis pendidikan luar sekolah bagi anak-anak
muslim dengan model pesantrenisasi dan TPA (Taman Pendidikan Al Quran).
Pendidikan pesantrenisasi sebagai jenis pendidikan Islam yang muncul sebagai
kekuatan pendidikan Islam, walaupun dilaksanakan secara insidental pada setiap
bulan Ramadhan, tetapi terencana dan terprogram oleh sekolah-sekolah. Selain itu,
pada tahun 90-an juga muncul sekolah-sekolah elite Muslim yang dikenal sebagai
“Sekolah Islam”. Sekolah-sekolah itu mulai menyatakan dirinya secara formal dan
diakui oleh banyak kaum Muslim sebagai “sekolah unggulan” atau “sekolah Islam
unggulan”.

Dalam upaya mencari pola atau model pendidikan Islam di Indonesia,


hendaknya pengembangan pendidikan Islam menitikberatkan atau berorientasi
kepada visi dan misi, fleksibilitas, relevansi pendidikan di sekolah (formal) dan
pendidikan di luar sekolah (non formal). Berkenaan dengan itu, perlu adanya program
upaya pencapaiannya terkait mobilisasi pendidikan Islam tersebut. Misalnya
melakukan rancangan kurikulum, baik merancang keterkaitan ilmu agama dan umum
maupun merancang nilai-nilai Islam dalam setiap pelajaran; personifikasi pendidik di
lembaga pendidikan sekolah Islam sangat dituntut memiliki jiwa keislaman yang
tinggi. Lembaga pendidikan Islam dapat merealisasikan konsep kurikulum seutuhnya
berdasar prinsip pendidikan Islam di atas. Dari prinsip di atas, tujuan pendidikan
dapat disederhanakan berorientasi kepada tiga tujuan besar, yaitu :

1. Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah SWT).


2. Tercapainya tujuan hablum minannas ((hubungan dengan manusia).
3. Tercapainya tujuan hablum minal’alam (hubungan dengan alam).

Adapun model-model pengembangan lembaga pendidikan islam ada tiga


pendekatan sebagai pola alternatif, yaitu :

1. Pendekatan Sistematik
Yaitu perubahan harus dilakukan terhadap keseluruhan sistem pada lembaga
pendidikan Islam formal yang ada, dalam arti terjadi perubahan total.

2. Pendekatan Suplementer
Yaitu dengan menambah paket pendidikan yang bertujuan memperluas
pemahaman dan penghayatan ajaran Islam secara lebih memadai.

3. Pendekatan Komplementer

16
Yaitu dengan upaya mengubah kurikulum dengan sedikit radikal untuk
disesuaikan secara terpadu. Artinya, untuk kondisi sekarang ini, perubahan
kurikulum pendidikan Islam harus diorientasikan pada kompetensi yaitu
kompetensi knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), kompetensi
ability (kemampuan tertentu), kompetensi sosial-kultural, dan kompetensi
spiritual ilahiyah.

Sedangkan konsep pendidikannya adalah pendidikan integralistik dan pendidikan


humanistic.

1. Konsep Pendidikan Integralistik


Yaitu pendidikan yang diorientasikan pada komponen kehidupan meliputi
orientasi Robbaniyah ketuhanan, insaniyyah kemanusiaan dan alamiyah.
Sebagai sesuatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang baik serta
pendidikan yang menganggap manusia sebagai pribadi jasmani, rohani,
intelektual, perasaan, dan individu sosial yang akan menghasilkan manusia
yang memiliki integritas yang tinggi.
2. Konsep Pendekatan Humanistik
Yaitu pendidikan yang berorientasi dengan memandang manusia sebagai
makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya, manusia makhluk hidup yang harus
mampu melangsungkan dan mempertahankan hidupnya. Posisi pendidikan
dapat menghasilkan manusia yang manusiawi, mengembangkan dan
membentuk manusia yang berfikir, berasa, dan berkemauan untuk bertindak
sesuai dengan nilai luhur kemanusiaan.

Model desain pendidikan berdasar Islam harus diarahkan pada :

1. Orientasi pendidikan harus lebih ditekankan pada aspek afektif dan psiko
motorik.
2. Pembelajaran dikembangkan pada pola student oriented agar terbentuk sikap
kemandirian, tanggung jawab, kreatif, dan inovatif.
3. Pembelajaran diarahkan pembentukan kesempurnaan kepribadian yang siap
menjadi khalifatullah fil-ardi.
4. Perlunya penguatan dan pembinaan motivasi belajar yang benar, sehingga
anak akan menjadi jiwa pembelajar yang ikhlas dan konsisten.
5. Pembelajaran mengedepankan kemampuan proses.
6. Perlunya pengembangan pembelajaran keahlian.

17
7. Tujuan akhir pendidikan adalah untuk menciptakan generasi yang berperan
sebagai khalifah memajukan kehidupan sekaligus memiliki spiritualitas yang
kokoh sebagai hamba Allah.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pendidikan Islam adalah proses yang disengaja sebagai upaya mengoptimalkan


perkembangan potensi manusiawi, kecakapan hidup, dan sikap kepribadian individu
peserta didik menuju tercapainya kesempurnaan dan kedewasaan berdasar sistem
Islam. Pendidikan Islam adalah merupakan salah satu aspek upaya umat Islam
membelajarkan generasinya dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah dalam
tugas dan perannya sebagai hamba Allah Swt dan sebagai khalifatullah fil ardhy.
Peran inilah yang mengharuskan tujuan pendidikan Islam tidak dapat lepas dari siapa
hakikat manusia dan apatujuan hidup manusia dalam Islam. Tujuan pendidikan Islam
dengan demikian harus mampu menjawab terciptanya pribadi-pribadi hamba Allah
Swt. yang bertakwa, pribadi yang mampu mengelola kehidupan lebih maju dan bijak,
pribadi yang peduli dengan lingkungan alam dan sesama dengan semangat
kerahmatan, dan pribadi yang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat.Tujuan Pendidikan antara lain menjadikan manusia utama dan bijaksana,
menjadi warga negara yang baik, menjadi orang biasa yang bertanggung jawab, bisa
hidup bahagia sejahtera dan seterusnya.

18
Daftar Pustaka

Jurnal Pendidikan Islam. Vol : 9 No : 1 Hal : 21-35.Lampung : Al-Tadzkiyyah

Rahman, Miftahur dan Harrudin.2018.KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM


PERSPEKTIF NILAI-NILAI SOSIAL KULTURAL.Jurnal Pendidikan Islam. Vol : 9
No : 1 Hal : 21-35.Lampung : Al-Tadzkiyyah

Abdullah Idi dan Suharto, Toto, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta:


Tiara Wacana, 2006), hal. 9
Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam
Kurun Moderen, Cet. Kedua (Jakarta: LP3ES, 1994), hal. 25
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju
Milennium Baru, (Jakarta: Logo Wacana Ilmu, 1999), hal. 67
Malik A. Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta : Fajar Dunia, 1999),
hal 64
Muhammad Athiyah Al-Abrasyi. At-Tarbiyah Al.Islamiyah. Jakarta : Bulan
Bintang, 1993.Hal 100

Achwan, Roihan. 1991. Prinsip-Prinsip Pendidikan Versi Mursi. Jurnal Pendidikan


Islam. Yogyakarta: Fak. Tarbiyah IAIN Suinan Kalijaga, Vol. I.

Najar, Fahmi. 2011. Al-Harbu An-Nafsiyah Adlwaun Islamiyatun. Riyad: Dar al-
Fadlilah, t.th, didownload dari www.waqfea.com. 3 oktober 2011.

Nasution, Harun. 1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah. Jakarta:
UI Press.

Hidayat, Wiji. 2011. Review Strategi Pendidikan Islam Karya Hujair Ah.Sankay.
www. geogle.com. didownload 25 Juni 2011.

19