Anda di halaman 1dari 8

Nama : Uchi Wina Pratama

NPM : 17412065
Kelas : AKT 17 Bx
Tugas : Auditing 2

BAB 17 PEMERIKSAAN LIABILITAS JANGKA PANJANG

A. SIFAT DAN CONTOH KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Menurut PSAK (IAI, 2009 : 1.8)


Kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang
walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan sejak
tanggal laporan posisi keuangan, apabila :
 Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan
 Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka panjang,
dan ;
 Maksud tersebut pada huruf (b) didukung dengan perjanjian pembiayaan kembali atau
penjadwalan kembali pembayaran yang resmi disepakati sebelum laporan keuangan disetujui.

Menurut Sukrisno Agoes ( AUDITING –Buku 2 : 2013)


Liabilitas jangka panjang adalah kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga yang jatuh tempo
atau harus dilunasi dalam waktu lebih dari satu tahun.
Contoh Liabilitas Jangka Panjang :
1. Kredit Investasi (Long Term Loan)
Kredit Investasi yaitu pinjaman dari bank atau lembaga keuangan bukan bank, yang digunakan
untuk pembelian aset tetap, kecuali tanah, misalnya gedung dan mesin.
2. Utang Obligasi (Bond Payable)
Utang Obligasi yaitu pinjaman jangka panjang yang diperoleh suatu perusahaan dengan menjual
obligasi, di dalam negeri maupun di luar negeri.
Berikut jenis-jenis obligasi :
 Registered Bonds (Obligasi yang mencantumkan nama pemilik disertifikat obligasinya,
sehingga jika dipindahtangankan harus di-endorse di bagian belakangnya)
 Coupon Bonds atau Bearer Bonds (Obligasi atas unjuk yang tidak mencantumkan nama
pemilik di sertifikat obligasinya, sehingga tidak perlu di –endorse pada saat
dipindahtangankan)
 Term Bonds (Obligasi yang seluruhnya jatuh tempo pada suatu tanggal tertentu.
 Serial Bonds (Obligasi yang tanggal jatuh temponya bertahap pada beberapa tanggal tertentu)
 Convertible Bonds (Obligasi yang bisa ditukar dengan surat berharga)
 Callable Bonds (Obligasi yang memberikan hak kepada perusahaan yang mengeluarkan
obligasi tersebut, untuk melunasi obligasi tersebut sebelum tanggal jatuh temponya)
 Secured Bonds (Obligasi yang dijamin dengan harta perusahaan)
3. Wesel Bayar (Promissory Notes/Pronotes) yang jatuh temponya lebih dari satu tahun.
Yakni suatu pernyataan tertulis dari debitur bahwa ia berjanji untuk membayar sejumlah tertentu,
pada tanggal tertentu, dengan memperhitungkan tingkat bunga tertentu.
4. Utang kepada pemegang saham atau perusahaan induk (Holding Company) atau Perusahaan
Afiliasi (Affiliated Company)
Biasanya diberikan untuk membantu perusahaan anak atau perusahaan afiliasi yang baru mulai
beroperasi dan membutuhkan pinjaman (pinjaman tersebut bisa dikenakan bunga , bisa juga
tidak)
5. Utang Subordinasi (Subordinatde Loan)
Yakni utang dari pemegang saham atau perusahaan induk, yang mempunyai beberapa sifat:
 tanpa bunga
 baru dibayar kembali pada saat perusahaan telah mempunyai kemampuan untuk membayar
kembali utangnya
 mempunyai kemungkinan untuk dialihkan sebagai setoran modal
6. Bridging Loan
Yaitu pinjaman sementara yang akan dikembalikan jika kredit investasi yang dibutuhkan
perusahaan sudah diperoleh. Tingkat bunga biasanya lebih tinggi dari tingkat bunga pasar dan
bisa berupa short term loan atau long term loan.
7. Utang Leasing (Utang dalam Rangka Sewa Guna)
Adalah utang yang diperoleh dari perusahaan leasing untuk pembelian aset tetap (dalam bentuk
capital lease atau sales and lease back) dan biasanya dicicil dalam jangka panjang.
B. TUJUAN PEMERIKSAAN (AUDIT OBJECTIVES) KEWAJIBAN JANGKA
PANJANG

Untuk menentukan apakah :

1. terdapat internal control yang baik atas liabilitas jangka panjang


2. liabilitas jangka panjang yang menjadi kewajiban perusahaan sudah dicatat
seluruhnya per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) dan diotorisasi oleh
pejabat perusahaan yang berwenang
3. libilitas jangka panjang yang tercantum di laporan posisi keuangan (neraca) betul
– betul merupakan kewajiban perusahaan
4. libilitas jangka panjang yang berasal dari legal claim atau aset yang dijaminkan
sudah diidentifikasi
5. libilitas jangka panjang dalam valuta asing per tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan kurs tengah Bank Indonesia
per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) dan selisih kurs yang terjadi sudah
dibebankan atau dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan
6. biaya bunga dan bunga yang terutang dari liabilitas jangka panjang serta
amortisasi dari premium/discount telah dicatat per tanggal laporan posisi
keuangan (neraca)
7. biaya bunga libilitaa jangka panjang yang tercatat pada tanggal laporan posisi
keuangan(neraca) betul telah terjadi, dihitung secara akurat dan merupakan beban
perusahaan
8. semua persyaratan dalam perjanjian kredit telah diikuti oleh perusahaan sehingga
tidak terjadi bank “default”
9. bagian dari liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun yang
akan datang sudah direklasifikasikan sebagai kewajiban lancar
10. liabilitas jangka panjang berikut discount, premium, dan bunga yang timbul sudah
dicatat dengan akurat dan diklasifikasikan serta diungkapkan dalam laporan
keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangn, sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan ETAP/PSAK/IFRS
C. AUDIT PROSEDUR YANG DISARANKAN
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas libilitas jangka panjang.
2. Dapatkan dan periksa ringkasan perubahan liabilitas jangka panjang berikut
discount, premium, dan bunga selama peiode yang diperiksa
3. Kirim informasi kepada bank yang antara lain menanyakan mengenai : plafon
kredit, saldo per tanggal laporan posis keuangan, tingkat bunga, jangka waktu
pinjaman dan jaminan kredit.
4. Minta salinan perjanjian kredit untuk permanent file, lalu perhatikan apakah data
yang terdapat dalam perjanjian kredit tersebut sesuai dengan data yang tercantum
dalam kertas kerja pemeriksaan liabilitas jangka panjang.
5. Periksa apakah perolehan/penambahan bunga dan amortisasi discount/premium
dari obligasi. Tie-Up jumlah beban bunga dan amortisasi discount/premium
obligasi dengan jumlah yang tercantum pada laporan laba rugi. Discount/premium
yang belum diamortisasi harus dilaporkan sebagai pengurangan/penambahan dari
nilai nominal obligasi.
6. Periksa perhitungan bunga, pembayaran bunga dan amortisasi discount/premium
dari obligasi.
7. Periksa apakah ada liabilitas jangka panjang atau wesel bayar yang diperpanjang
(direnewed) setelah tanggal laporan posisi keuangan, untuk mengetahui apakah
utang tersebut harus tetap disajikan sebagai liabilitas jangka panjang atau sebagai
utang lancar.
8. Seandainya ada utang dari pemegang saham atau dari direksi atau dari perusahaan
afiliasi, harus dikirim konfirmasi dan periksa apakah ada pembebanan bunga atas
pinjaman tersebut.
9. Seandainya ada utang leasing, periksa apakah pencatatannya dan penyajiannya di
laporan keuangan sudah sesuai dengan standar akuntansi sewa guna usaha (PSAK
No. 30 Revisi 2007 tentang Sewa)
10. Periksa apakah ada bagian dari liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
waktu satu tahun akan datang, sehingga harus direklasifikasi sebagai liabilitas
jangka pendek
11. Seandainya ada liabilitas jangka panjang yang harus dibayar kembali dalam mata
uang asing, periksa apakah per tanggal laporan posisi keuangan sudah
dikonversikan kedalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia
per tanggal laporan posisi keuangan dan selisih kurs yang terjadi sudah
dibebankan/dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan.
12. Lakukan penelaahan analitis (analytical review procedures) terhadap liabilitas
jangka panjang dan biaya bunganya, untuk melihat kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam pencatatan biaya bunga
13. Tarik kesimpulan apakah penyajian liabilitas jangka panjang di laporan posisi
keuangan dan catatan atas laporan keuangan dilakukan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan ETAP/PSAK/IFRS

Dalam catatan atas laporan keuangan harus dijelaskan :


 nomor dan tanggal perjanjian kredit serta plafon kredit
 nama kreditur
 tingkat bunga dan jangka panjang waktu kredit
 mengenai jaminan, apakah berupa aset, jaminan pribadi atau corporate guarantee
 apakah pembayaran bunga dan pembayaran kembali pinjaman dalam rupiah atau mata uang
asing
 apakah ada bank default

PEMBAHASAN
A. Sifat dan Bentuk Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban Jangka Panjang adalah kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga, yang jatuh tempo
atau harus dilunasi dalam waktu lebih dari satu tahun yang akan datang.
Contoh:
1. Kredit Investasi (Long Term Loan) yaitu pinjaman dari bank/non bank untuk pembelian
aktiva tetap, kecuali tanah.
• Jika pinjaman berasal dari luar negeri adalah off shore loan
• Tingkat bunga off shore loan adalah lebih rendah dari tingkat bunga pinjaman dalam negeri
• Tingkat bunga kredit investasi adalah lebih rendah dari tingkat bunga kredit modal kerja
• Jumlah kredit investasi adalah lebih besar dari jumlah kredit modal kerja
• Kredit investasi digunakan untuk pembelian aktiva tetap
• Jangka waktu pengembalian kredit investasi adalah lebih dari satu tahun
2. Hutang obligasi ( bond payable ) yaitu pinjaman jangka panjang dengan menjual obligasi,
baik didalam maupun di luar. Contoh : registered bonds, coupon bonds atau bearer bonds, term
bonds, serial bonds, convertible bonds, callable bonds, secured bonds, unsedured bonds.
3. Wesel Bayar ( Promissory Notes/Pronotes ) yang jatuh tempo lebih dari satu tahun, yaitu
pernyataan tertulis dari debitur bahwa ia berjanji untuk membayar jumlah, tanggal dan tingkat
bunga tertentu.
4. Hutang kepada Pemegang Saham atau kepada Perusahaan Induk (Holding Company) atau
kepada Perusahaan Afiliasi (Affiliated Company)
Yaitu : pinjaman untuk membantu perusahaan anak atau perusahaan afiliasi yang baru mulai
beroperasi dan membutuhkan pinjaman.
5. Hutang Subordinasi (Subordinated Loan) yaitu hutang kepada pemegang saham atau
perusahaan induk, yang tanpa bunga, dibayar kembali pada saat perusahaan telah mempunyai
kemampuan untuk membayar kembali hutangnya.
6. Bridging Loan yaitu pinjaman sementara yang akan dikembalikan jika kredit investasi yang
dibutuhkan perusahaan sudah diperoleh
• Tingkat bunga lebih tinggi dari tingkat bunga pasar
• Dapat berupa short term loan atau long term loan
7. Hutang Leasing ( hutang dalam rangka sewa guna ) yaitu hutang yang diperoleh dari
perusahaan leasing untuk pembelian aktiva tetap ( dalam bentuk capital lease atau sales and lease
back)
• Dicicil dalam jangka panjang
• Hutang leasing yang jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 tahun dikelompokkan sebagai
kewajiban jangka pendek, dan sebaliknya.
B. Tujuan Pemeriksaan Kewajiban Jangka Panjang
Tujuan pemeriksaan hutang jangka panjang. Akuntan juga harus memperhatikan bahwa
ketentuan-ketentuan yang dicantumkan didalam perjanjian kredit itu ditaati oleh klien serta
bunga juga telah dihitung dengan benar dan dibukukan dengan tepat sebagai biaya untuk tahun
yang bersangkutan. Tujuan tersebut antara lain:
1. Menentukan Internal Control atas hutang jangka panjang apakah sudah cukup baik.
Ciri internal control yang baik antara lain :
Perolehan hutang jangka panjang harus mendapat persetujuan dari pejabat perusahaan yang
berwenang (Direksi, Dewan Komisaris, RUPS), biasanya dalam bentuk notulen rapat.
Hutang jangka panjang yang harus dibayar kembali dalam mata uang asing dicover dengan
SWAP untuk mencegah kerugian yang timbul jika terjadi devaluasi.
Perusahaan yang menjual obligasi sebaiknya menggunakan Independent Trustee (biro
admenistrasi efek) agar dapat mengadministrasikan obligasi yang beredar, mengurus pembayaran
bunga obligasi, dan mengurus pelunasan obligasi yang jatuh tempo
2. Menentukan apakah hutang jangka panjang sudah dicatat seluruhnya per tanggal neraca dan
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.

Aditor harus yakin bahwa seluruh kewajiban jangka panjang perusahaan sudah dicatat dan
dilaporkan di neraca per tanggal neraca dan jangan sampai ada yang belum tercatat (unrecorded).
Misalnya, jika ada hutang leasing untuk pembelian kendaraan, maka harga perolehan kendaraan
dan hutang leasing harus dicatat sebesar nilai tunainya.
3. Menentukan hutang jangka panjang yang tercantum di neraca apakah merupakan
kewajiban perusahaan.
Auditor harus yakin bahwa hutang jangka panjang yang diperoleh benarbenar digunakan untuk
membiayai kegiatan operasi perusahaan, bukan digunakan oleh pihak lain, misalnya anak
perusahaan.
4. Menentukan hutang jangka panjang yang berasal dari legal claim atau asset yang dijaminkan
apakah sudah diidentifikasi.

Auditor harus yakin bahwa bila ada hutang yang berasal dari tuntutan hukum, hutang tersebut
sudah dicatat dan dilaporkan di neraca. Selain itu, jika ada aktiva perusahaan yang dijadikan
jaminan atas hutang jangka panjang tersebut sudah dicatat dan dilaporkan di neraca oleh
perusahaan.
5. Menentukan hutang jangka panjang dalam valuta asing per tanggal neraca apakah sudah
dikonversikan kedalam rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal neraca dan
selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan/dikreditkan pada rugi laba tahun berjalan.
6. Menentukan apakah biaya bunga dan bunga yang terhutang dari hutang jangka panjang serta
amortisasi dari premium/discount obligasi telah dicatat per tanggal neraca. Kadang klien lupa
untuk mencatat biaya bunga yang terhutang, atau tidak menchek lagi pembebanan amortisasi
premium/discount obligasi. Karena itu auditor harus menchek perhitungan pembebanan bunga
dan amortisasi premium/discount

Kesimpulan
Kewajiban Jangka Panjang adalah kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga, yang jatuh tempo
atau harus dilunasi dalam waktu lebih dari satu tahun yang akan datang.
Contoh :
1. Kredit Investasi (Long Term Loan)
2. Hutang obligasi ( bond payable )
3. Wesel Bayar ( Promissory Notes/Pronotes )
4. Hutang kepada Pemegang Saham atau kepada Perusahaan Induk (Holding Company)
5. Hutang Subordinasi (Subordinated Loan)
6. Bridging Loan
7. Hutang Leasing ( hutang dalam rangka sewa guna )
Tujuan pemeriksaan hutang jangka panjang. Akuntan juga harus memperhatikan bahwa
ketentuan-ketentuan yang dicantumkan didalam perjanjian kredit itu ditaati oleh klien serta
bunga juga telah dihitung dengan benar dan dibukukan dengan tepat sebagai biaya untuk tahun
yang bersangkutan.