Anda di halaman 1dari 5

   PENGERTIAN ETIKA PRODUKSI

Etika adalah seperangkat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menegaskan tentang benar dan salah.
Sedangkan produksi adalah suatu kegiatan menambah nilai guna barang dengan menggunakan
sumberdaya yang ada

 Jadi, Etika Produksi adalah seperangkat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menegaskan tentang benar
dan salahnya hal hal yang dikukan dalam proses produksi atau dalam proses penambahan nilai guna
barang.

 Tujuan Produksi antara lain :

            1.         Memperbanyak jumlah barang dan jasa

 2.        Menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi

            3.         Memenuhi kebutuhan sesuai dengan peradaban

 4.        Mengganti barang-barang yang rusak atau habis

 5.        Memenuhi pasar dalam negeri untuk perusahaan dan rumah tangga

 6.        Memenuhi pasar internasional

 7.        Meningkatkan kemakmuran

2.2   PENTINGNYA ETIKA PRODUKSI

 Dalam proses produksi, subuah produsen pada hakikatnya tentu akan selalu berusaha untuk menekan
biaya produksi dan berusaha untuk mendapatkan laba sebanyak banyaknya. Dalam upaya produsen
untuk memperoleh keuntungan, pasti mereka akan melakukan banyak hal untuk memperolehnya.
Termasuk mereka bisa melakukan hal hal yang mengancam keselamataan konsumen. Padahal
konsumen dan produsen bekerjasama. Tanpa konsumen, produsen tidak akan berdaya. Seharunyalah
produsen memeberi perhatian dan menjaga konsumen sebagai tanda terima kasih telah membeli
barang atau menggunakan jasa yang mereka tawarkan. Namun banyak produsen yang tidak
menjalankan hal ini. Produsen lebih mementingkan laba. Seperti banyaknya kasus kasus yang akhirnya
mengancam keselamatan konsumen karena dalam memproduksi, produsen tidak memperhatikan hal
hal buruk yang mungkin terjadi pada konsumen. Bahkan, konsumen ditipu, konsumen ditawarkan hal-
hal yang mereka butuhkan, tapi pada kenyataannya, mereka tidak mendapat apa yang mereka butuhkan
mereka tidak memperoleh sesuai dengan apa yang ditawarkan.

2.3   PANDANGAN KONTRAK KEWAJIBAN PRODUSEN TERHADAP KONSUMEN

Hubungan antara perusahaan dengan konsumen pada dasarnya merupakan hubungan kontraktual, dan
kewajiban moral perusahaan pada konsumen adalah seperti yang diberikan dalam hubungan
kontraktual.

Jadi, perusahaan berkewajiban untuk memberikan produk sesuai dengan karakteristik yang dimaksud
dan konsumen memiliki hak korelatif untuk memperoleh produk dengan karateristik yang dimaksud.

a.       Kewajiban untuk Mematuhi


 Kewajiban untuk memberikan suatu produk dengan karakteristik persis seperti yang dinyatakan
perusahaan, yang mendorong konsumen untuk membuat kontrak dengan sukarela dan yang
membentuk pemahaman konsumen tentang apa yang disetujui akan dibelinya.

   Jadi, pihak penjual berkewajiban memenuhi klaim yang dibuatnya tentang produk yang dijual. Tidak
seperti Wintherop Laboratories memasarkan produk penghilang rasa sakit yang oleh perusahaannya
diklaim sebagai obat nonaddictive (tidak menyebabkan ketergantungan). Selanjutnya seorang pasien
yang menggunakan produk tersebut menjadi ketergantungan dan akhirnya meninggal karena over dosis.

b.          Kewajiban untuk Mengungkapkan

   Penjual yang akan membuat perjanjian dengan konsumen untuk mengungkapkan dengan tepat apa
yang akan dibeli konsumen dan apa saja syarat penjualannya. Ini berarti bahwa penjual berkewajiban
memberikan semua fakta pada konsumen tentang produk tersebut yag dianggap berpengaruh kepada
keputusan konsumen untuk membeli.

 Contoh, jika pada sebuah produk yang dibeli konsumen terdapat cacat yang berbahaya atau beresiko
terhadap kesehatan dan keamanan konsumen, maka harus diberitahu.

c.               Kewajiban untuk Tidak Memberikan Gambaran yang Salah

 Penjual harus menggambarkan produk yang ia tawarkan dengan benar, ia harus membangun
pemahaman yang sama tentang barang yang ia tawarkan di piiran konsumen sebagaimana barang
tersebut adanya. Jangan sampai terjadi Misrepresentasi bersifat koersif , yaitu, seseorang yang dengan
sengaja memberikan penjelasan yang salah pada orang lain agar orang tersebut melakukan sesuatu
seperti yang diinginkannya, bukan seperti yang diinginkan orang itu sendiri apabila dia mengetahui yang
sebenarnya.

 Contoh: pembuat perangkat lunak atau perangkat keras computer memasarkan produk yang
mengandung ‘bug’ atau cacat tanpa memberitahu tentang fakta tersebut.

d.                Kewajiban untuk Tidak Memaksa

 Penjual berkewajiban untuk tidak memanfaatkan keadaan emosional yang mungkin mendorong
pembeli untuk bertindak secara irasional dan bertentangan dengan kepentingannya, tidak
memanfaatkan ketidaktahuan, ketidakdewasaan, kebodohan, atau faktor lain yang mengurangi atau
menghapuskan kemampuan pembeli untuk menetapkan pilihan secara bebas.

Terdapat 3 hal penting yang harus dimiliki oleh perusahaan dalam berbisnis:

(1)    Transparansi

Masyarakat ingin mengetahui tentang operasi perusahaan. Posisi etis dari perusahaan harus jelas bagi
para pembeli agar mereka dapat menilai. Hal ini biasanya bisa dilakukan pada perusahaan yang sudah
menjadi perusahaan publik.

(2)   Kejujuran
Ketidakjujuran adalah aspek kritis terbesar dalam etika bisnis. Pemberian label yang salah atau tidak
lengkap, harga yang membingungkan dapat merugikan konsumen. Kejujuran ini juga meliputi perilaku
perusahaan, staf dan personil lainnya yang berkaitan dengannya.

(3)   Kerendahan Hati

Perusahaan harus mencegah untuk menggunakan kekuatan atau uangnya untuk mengamankan
posisinya.

2.4   PENGERTIAN ETIKA PEMASARAN

Etika pemasaran berkaitan dengan prinsip-prinsip moral di balik operasi dan regulasi pemasaran.
Tanggung jawab sosial Seorang manajer pemasaran meliputi pengembangan program pemasaran dan
meningkatkan kesadaran dan penerimaan ide-ide dan praktek-praktek sosial.

2.5   RUANG LINGKUP ETIKA PEMASARAN

Ada tiga hal yang menyangkut dalam ruang lingkup etika pemasaran, antara lain:

1.   Manajer pemasaran harus menerima tanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan mereka.

2.   Manajer pemasaran harus menahan diri dari sengaja merugikan; mematuhi semua undang-undang
dan peraturan yang relevan; dan akurat mewakili diri mereka sendiri, perusahaan mereka, dan merek
mereka.

3.   Manajer pemasaran harus melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa pilihan dan tindakan
mereka melayani kepentingan terbaik dari semua pelanggan, organisasi, dan masyarakat terkait.

2.6   LANGKAH – LANGKAH  MENERAPKAN ETIKA PEMASARAN

Etika pelaksanaan  sepanjang tiga tahapan proses perencanaan memungkinkan perusahaan untuk


menentukan karakter dan citra publik. Sebuah rencana pemasaran adalah cetak biru yang komprehensif
yang menguraikan upaya pemasaran secara keseluruhan organisasi. proses pemasaran dapat
diwujudkan dengan menerapkan bauran pemasaran, dan derajat keberhasilan (berdasarkan langkah-
langkah tertentu) dapat menunjukkan bagaimana mengontrol iterasi masa depan rencana pemasaran. 

1.         Mempromosikan Etika dalam Tahap Perencanaan

Sumber utama dari konteks untuk rencana pemasaran adalah tujuan dan misi perusahaan. Misi
perusahaan dapat dianggap sebagai definisi apa organisasi ini atau apa yang dilakukannya. Definisi ini
tidak boleh terlalu sempit, atau akan menyempitkan perkembangan organisasi. Di sisi lain, seharusnya
tidak terlalu lebar atau akan menjadi tidak berarti; “Kami ingin membuat keuntungan” terlalu umum
untuk membantu dalam mengembangkan rencana spesifik.

Untuk memasukkan etika ke dalam tahap perencanaan, misi perusahaan harus didefinisikan dalam hal
melayani pelanggan dan memenuhi kebutuhan mereka daripada tujuan perusahaan-sentris seperti
membuat uang paling banyak.
Mungkin faktor yang paling penting dalam mempromosikan etika selama fase perencanaan
mendefinisikan “visi perusahaan.” Sebagai contoh, semua kegiatan pemasaran IBM yang didukung oleh
filosofi “layanan pelanggan.” Yang jelas, visi didefinisikan dapat memandu semua tingkat staf dalam
tindakan mereka dan pada gilirannya menyediakan pelanggan dengan pengalaman yang seragam.

2.            Mempromosikan Etika dalam Tahap Implementasi

Tahap implementasi melibatkan menempatkan strategi pemasaran dalam tindakan dengan


menggunakan bauran pemasaran (Harga, Promosi, Produk, dan Place). Setiap perusahaan akan
mendasarkan rencananya pada kebutuhan rinci pelanggan dan strategi yang dipilih untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Dari segi harga, praktik yang tidak etis dapat mencakup persekongkolan tender
atau predatory pricing. Ini adalah tanggung jawab perusahaan untuk terlibat dalam penentuan harga
pasar wajar untuk memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan produk terbaik yang tersedia.

Perusahaan juga harus menggunakan metode promosi yang menghindari iklan negatif dan
mempromosikan kebenaran dan kejujuran tentang suatu produk. Sebagai contoh, DishTV dan DirecTV
keduanya terlibat dalam iklan negatif dengan menyoroti kelemahan kompetisi mereka pada faktor-
faktor seperti jumlah saluran, bukan hanya menyoroti keuntungan mereka sendiri.

Ketika memutuskan pada penempatan produk, perusahaan harus memastikan bahwa produk yang
ditawarkan kepada semua pelanggan dengan kebutuhan untuk itu, terlepas dari karakteristik demografi
mereka. Menempatkan produk dengan pengecualian pasar tidak etis berdasarkan kualitas seperti etnis
dapat berdampak negatif terhadap perusahaan.

3.            Mempromosikan Etika dalam Tahap Kontrol

Tahap akhir dari proses perencanaan pemasaran adalah untuk menetapkan target untuk memantau
kemajuan. Tahap pengendalian perencanaan pemasaran melibatkan mengukur keberhasilan rencana
melalui analisis tindakan kuantitatif seperti penjualan, pangsa pasar, dan biaya. Dengan demikian,
penting untuk memasukkan kedua jumlah dan rentang waktu ke tujuan pemasaran (misalnya, untuk
menangkap 20 persen nilai pasar dalam waktu dua tahun) dan ke dalam strategi yang sesuai.

Salah satu metode untuk mempromosikan perilaku etis dalam tahap kontrol adalah untuk berhati-hati
terhadap invasi privasi sementara mendapatkan data. Pemasar harus menghormati hak-hak pelanggan
mereka untuk anonimitas atau bahkan untuk tidak berpartisipasi. Perilaku lain yang tidak etis untuk
melihat keluar untuk di kontrol fase membuat penilaian stereotip cepat pada kelompok besar hanya
didasarkan pada beberapa pelanggan. Etis melakukan penelitian pasca-pelaksanaan akan
memungkinkan perusahaan untuk mengontrol eksekusi masa depan strategi pemasaran.

2.7   HAL-HAL TIDAK SESUAI DENGAN ETIKA PEMASARAN

1.            Menutupi kelemahan produk

2.            Melebih-lebihkan kemampuan produk

3.            Memanipulasi perasaan konsumen

4.            Tidak menyampaikan informasi dengan benar


5.            Mengecoh konsumen dengan meniru fitur produk lain