Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN


SISTEM PERNAFASAN PADA KASUS ASMA

Oleh :

HARI FAJRI
076 STYJ 19

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI NERS JENJANG PROFESI
MATARAM
2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
SISTEM PERNAFASAN PADA KASUS ASMA

ASKEP ini di sahkan pada :


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik

Zaenal Arifin, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.KMB

KATA PENGANTAR

i
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan ASKEP tentang “Asma”
ASKEP ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan ASKEP ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi sususnan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki ASKEP ini.
Akhir kata kami berharap semoga ASKEP ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Mataram, 24 Maret 2020

DAFTAR ISI

ii
Halaman Cover
Lembar Pengesahan....................................................................................... i
Kata Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar Isi ......................................................................................................... iii
Daftar Tabel ................................................................................................... iv
Daftar Gambar .............................................................................................. v

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Tujuan Penelitian....................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI.......................................................................... 3


A. Definisi....................................................................................................... 3
B. Etiologi....................................................................................................... 3
C. Klasifikasi.................................................................................................. 4
D. Manifestasi Klinis...................................................................................... 5
E. Patofisiologi............................................................................................... 6
F. Pemeriksaan Penunjang............................................................................. 8
G. Penatalaksanaan......................................................................................... 8
H. Komplikasi................................................................................................. 11
I. Pathway...................................................................................................... 12

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN......................... 13


A. Pengkajian.................................................................................................. 13
B. Diagnosa Keperawatan.............................................................................. 15
C. Intervensi Keperawatan............................................................................. 16
D. Implementasi Keperawatan........................................................................ 17
E. Evaluasi Keperawatan................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

iii
Tabel 3.1 Analisa Data..................................................................................... 15
Tabel 3.2 Intervensi Keperawatan.................................................................... 16

DAFTAR GAMBAR

iv
Gambar 2.1 Pathway......................................................................................... 12

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asma merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan yang banyak
dijumpai pada anak-anak maupun dewasa. Nugraheni (2015), asma
didefinisikan sebagai “ suatu penyakit yang heterogen, yang dikarakteristik
oleh adanya inflamasi kronis pada saluran pernafasan. Hal ini ditentukan oleh
adanya riwayat gejala gangguan pernafasan seperti mengi, nafas terengah-
engah, dada terasa berat/tertekan, dan batuk, yang bervariasi waktu dan
intensitasnya, diikuti dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi yang
bervariasi”, (Kementrian Kesehatan RI, 2017)
Asma adalah penyakit gangguan pernapasan yang dapat menyerang
anak-anak hingga orang dewasa, tetapi penyakit ini lebih banyak terjadi pada
anak-anak.Menurut para ahli, prevalensi asma akan terusmeningkat. Sekitar
100 - 150 juta penduduk duniaterserang asma dengan penambahan 180.000
setiaptahunnya. Nugraheni (2015), Angka kejadian asma bervariasi
diberbagai negara, tetapi terlihat kecendrungan bahwa penderita penyakit ini
meningkat jumlahnya, meskipun belakang ini obat-obatan asma banyak
dikembangkan. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam world
health report 2017 menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4
% dari seluruh kematian di dunia, masing-masing terdiri dari infeksi paru 7,2
%, PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) 4,8%, Tuberkulosis 3,0%, kanker
paru/trakea/bronkus 2,1 %. Dan asma 0,3%. (Infodatin, 2017).
Saat ini penyakit asma masih menunjukkan prevalensi yang tinggi.
Berdasarkan data dari WHO (2017) dan Nugraheni (2015), di seluruh dunia
diperkirakan terdapat 300 juta orang menderita asma dan tahun 2025
diperkirakan jumlah pasien asma mencapai 400 juta. Jumlah ini dapat saja
lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang underdiagnosed.
Buruknya kualitas udara dan berubahnya pola hidup masyarakat diperkirakan
menjadi penyebab meningkatnya penderita asma. Data dari berbagai negara

1
menunjukkan bahwa prevalensi penyakit asma berkisar antara 1-18%
(Infodatin, 2017).
Prevalensi asma di Indonesia menurut data Survei Kesehatan Rumah
Tangga sebesar 4%. Sedangkan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2017, prevalensi asma untuk seluruh kelompok usia
sebesar 3,5% dengan prevalensi penderita asma pada anak usia 1 - 4 tahun
sebesar 2,4% dan usia 5 - 14 tahun sebesar 2,0%. (Infodatin, 2017)
Dampak yang akan terjadi jika anak dengan penyakit asma broncial
tidak ditangani dengan tepat, dimana lingkungan memiliki peran dalam
memicu kekambuhan asma. Selain itu ada faktor lain yang dapat
meningkatkan keparahan asma. Beberapa diantaranya adalah rinitis yang
tidak diobati atau sinusitis, gangguan refluks gastroesofagal, sensitivitas
terhadap aspirin, pemaparan terhadap senyawa sulfit atau obat golongan beta
bloker, dan influenza, faktor mekanik, dan faktor psikis (Stress) (Zullies,
2016).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien
dengan diagnosa medis Asma
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada pasien dengan
diagnosa medis Asma
b. Mahasiswa dapat menegakan diagnosa keperawatan pada pasien
dengan diagnosa medis Asma
c. Mahasiswa dapat membuat perencanaan keperawatan pada pasien
dengan diagnosa medis Asma
d. Mahasiswa dapat melaksanakan implementasi keperawatan pada
pasien dengan diagnosa medis Asma
e. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi keperawatan dengan diagnosa
medis Asma

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Asma
Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas
yang ditandai dengan adanya mengi, batuk, dan rasa sesak di dada yang
berulang dan timbul terutama pada malam atau menjelang pagi akibat
penyumbatan saluran pernapasan. (Infodatin, 2017)
Asma merupakan proses inflamasi kronik saluran pernapasan menjadi
hiperesponsif, sehingga memudahkan terjadinya bronkokonstriksi, edema,
dan hipersekresi kelenjar.(Nelson, 2013)
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang
menyebabkan peradangan. (Amin & Hardi, 2016)
B. Etiologi Asma
Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkaan faktor
autonom, imunologis, infeksi, endokrin dan psikologis dalam berbagai tingkat
pada berbagai individu. Pengendalian diameter jalan napas dapat dipandang
sebagai suatu keseimbangan gaya neural dan humoral. Aktivitas
bronkokonstriktor neural diperantarai oleh bagian kolinergik sistem saraf
otonom. Ujung sensoris vagus pada epitel jalan napas, disebut reseptor batu
atau iritan, tergantung pada lokasinya, mencetuskan refleks arkus cabang
aferens, yang pada ujung eferens merangsang kontraksi otot polos bronkus.
1. Faktor imunologis
Pada beberapa penderita yang disebut asma ekstrinsik atau alergik,
eksaserbasi terjadi setelah pemaparan terhadap faktor lingkungan seperti
debu rumah, tepungsari, dan ketombe. Bentuk asma adanya instrinsik dan
ekstrinsik. Perbedaan intrinsik dan ekstrinsik mungkun pada hal buatan
(artifisial), karena dasar imun pada jejas mukosa akibat mediator pada
kedua kelompok tersebut. Asma ekstrinsik mungkin dihubungkan dengan
lebih mudahnya mengenali rangsangan pelepasan mediator daripada
asma instrinsik.

3
2. Faktor endokrin
Asma dapat lebih buruk dalam hubungannya dengan kehamilan dan
menstruasi, terutama premenstruasi, atau dapat timbul pada saat wanita
menopause. Asma membaik pada beberapa anak saat pubertas.
3. Faktor psikologis
Faktor emosi dapat memicu gejala-gejala pada beberapa anak dan
dewasa yang berpenyakit asma, tetapi “penyimpangan” emosional atau
sifat-sifat perilaku yang dijumpai pad anak asma tidak lebih sering
daripada anak dengan penyakit cacat kronis yang lain.(Nelson, 2013).
C. Klasifikasi Asma
Keparahan asma juga dapat dinilai secara retrospektif dari tingkat obat
yang digunakan untuk mengontrol gejala dan serangan asma. Hal ini dapat
dinilai jika pasien telah menggunakan obat pengontrol untuk beberapa bulan.
Yang perlu dipahami adalah bahwa keparahan asma bukanlah bersifat statis,
namun bisa berubah dari waktu-waktu, dari bulan ke bulan, atau dari tahun ke
tahun, Zullies (2016). Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut :
1. Asma Ringan
Adalah asma yang terkontrol dengan pengobatan tahap 1 atau tahap
2, yaitu terapi pelega bila perlu saja, atau dengan obat pengontrol dengan
intensitas rendah seperti steroid inhalasi dosis rendah atau antogonis
leukotrien, atau kromon.
2. Asma Sedang
Adalah asma terkontrol dengan pengobatan tahap 3, yaitu terapi
dengan obat pengontrol kombinasi steroid dosis rendah plus long acting
beta agonist (LABA).
3. Asma Berat
Adalah asma yang membutuhkan terapi tahap 4 atau 5, yaitu terapi
dengan obat pengontrol kombinasi steroid dosis tinggi plus long acting
beta agonist (LABA) untuk menjadi terkontrol, atau asma yang tidak
terkontrol meskipun telah mendapat terapi.
Perlu dibedakan antara asma berat dengan asma tidak terkontrol.
Asma yang tidak terkontrol biasnya disebabkan karena teknik inhalasi

4
yang kurang tepat, kurangnya kepatuhan, paparan alergen yang berlebih,
atau ada komorbiditas. Asma yang tidak terkontrol relatif bisa membaik
dengan pengobatan. Sedangkan asma berat merujuk pada kondisi asma
yang walaupun mendapatkan pengobatan yang adekuat tetapi sulit
mencapai control yang baik.
D. Manifestasi Klinik
Berikut ini adalah tanda dan gejala asma, menurut Zullies (2016), tanda
dan gejala pada penderita asma dibagi menjadi 2, yakni :
1. Stadium dini
Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
a. Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
b. Ronchi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang
timbul
c. Wheezing belum ada
d. Belum ada kelainana bentuk thorak
e. Ada peningkatan eosinofil darah dan IGE
f. Blood gas analysis (BGA) belum patologis
Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan :
a. Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
b. Wheezing
c. Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
d. Penurunan tekanan parial O2
2. Stadium lanjut/kronik
a. Batuk, ronchi
b. Sesak nafas berat dan dada seolah-olah tertekan
c. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
d. Suara napas melemah bahkan tak terdengar (silent chest)
e. Thorak seperti barel chest
f. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
g. Sianosis
h. Blood gas analysis (BGA) Pa O2 kurang dari 80 %

5
i. Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan
kiri
j. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis repiratorik
k. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/ tanpa stetoskop,
batuk produktif, sering pada malam hari, nafas atau dada seperti
tertekan, ekspirasi memanjang
E. Patofisiologi
Pada dua dekade yang lalu, penyakit asma dianggap merupakan
penyakit yang disebabkan karena adanya penyempitan bronkus saja, sehingga
terapi utama pada saat itu adalah suatu bronkodilator, seperti betaegonis dan
golongan metil ksantin saja. Namun, para ahli mengemukakan konsep baru
ayng kemudian digunakan hingga kini, yaitu bahwa asma merupakan
penyakit inflamasi pada saluran pernafasan, yang ditandai dengan
bronkokonstriksi, inflamasi, dan respon yang berlebihan terhadap rangsangan
(hyperresponsiveness). Selain itu juga terdapat penghambatan terhadap aliran
udara dan penurunan kecepatan aliran udara akibat penyempitan bronkus.
Akibatnya terjadi hiperinflasi distal, perubahan mekanis paru-paru, dan
meningkatnya kesulitan bernafasan. Selain itu juga dapat terjadipeningkatan
sekresi mukus yang berlebihan (Zullies, 2016).
Secara klasik, asma dibagidalam dua kategori berdasarkan faktor
pemicunya, yaitu asma ekstrinsik atau alergi dan asma intrinsik atau
idiosinkratik. Asma ekstrinsik mengacu pada asma yang disebabkan karena
menghirup alergen, yang biasanya terjadi pada anak-anak yang memiliki
keluarga dan riwayat penyakit alergi (baik eksim, utikaria atau hay fever).
Asma instrinsik mengacu pada asma yang disebabkan oleh karena faktor-
faktordi luar mekanisme imunitas, dan umumnya dijumpai pada orang
dewasa. Disebut juga asma non alergik, di mana pasien tidak memiliki
riwayat alergi. Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya asma antara
lain : udara dingin, obat-obatan, stress, dan olahraga. Khusus untuk asma
yang dipicu oleh olahraga. Khusus untuk asma yang dipicu oleh olahraga
dikenal dengan istilah (Zullies, 2016)

6
Seperti yang telah dikatakan diatas, asma adalah penyakit inflamasi
saluran napas. Meskipun ada berbagai cara untuk menimbulkan suatu respons
inflamasi, baik pada asma ekstrinik maupun instrinsik, tetapi karakteristik
inflamasi pada asma umunya sama, yaitu terjadinya infiltrasi eosinofil dan
limfosit serta terjadi pengelupasan sel-sel epitelial pada saluran nafas dan dan
peningkatan permeabilitas mukosa. Kejadian ini bahkan dapat dijumpai juga
pada penderita asma yang ringan. Pada pasien yang meninggal karena
serangan asma , secara histologis terlihat adana sumbatan (plugs) yang terdiri
dari mukus glikoprotein dan eksudat protein plasma yang memperangkap
debris yang berisi se-sel epitelial yang terkelupas dan sel-sel inflamasi. Selain
itu terlihat adanya penebalan lapisan subepitelial saluran nafas. Respons
inflamasi ini terjadi hampir di sepanjang saluran napas, dan trakea samapi
ujung bronkiolus. Juga terjadi hiperplasia dari kelenjar-kelenjar sel goblet
yang menyebabkan hiperserkesi mukus yang kemudian turut menyumbat
saluran napas (Zullies, 2016)
Penyakit asma melibatkan interaksi yang kompleks antara sel-sel
inflamasi, mediator inflamasi, dan jaringan pada saluran napas. Sel-sel
inflamasi utama yang turut berkontribusi pada rangkaian kejadian pada
serangan asma antara lain adalah sel mast, limfosit, dan eosinofil, sedangkan
mediator inflamasi utama yang terlibat dalam asma adalah histamin,
leukotrein, faktor kemotaktik eosinofil dan beberapa sitokin yaitu :
interleukin (Zullies, 2016)
Pada asma alergi atau atopik, bronkospasme terjadi akibat dari
meningkatnya responsivitas otot polos bronkus terhadap adanya rangsangan
dari luar, yang disebut alergen. Rangsangan ini kemudian akan memicu
pelepasan berbagai senyawa endogen dari sel mast yang merupakan mediator
inflamasi, yaitu histamin, leukotrien, dan faktor kemotaktik eosinofil.
Histamin dan leukotrien merupakan bronkokonstriktor yang poten, sedangkan
faktorkemotaktik eosinofil bekerja menarik secara kimiawi sel-sel eosinofil
menuju tempat terjadinya peradangan yaitu di bronkus (Zullies, 2016)

7
F. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Ngastiyah (2013), ada beberapa pemeriksaan diagnostik bagi
para penderita asma, antara lain :
1. Uji faal paru
Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi,
menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti
perjalanan penyakit. Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak
flow meter, caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali
(sebelumnya menarik napas dalam melalui mulut kemudian
menghembuskan dengan kuat) dan dicatat hasil.
2. Foto toraks
Foto toraks dilakukan terutama pada anak yang baru berkunjung
pertama kali di poliklinik, untuk menyingkirkan kemungkinan ada
penyakit lain. Pada pasien asma yang telah kronik akan terlihat jelas
adanya kelainan berupa hiperinflasi dan atelektasis.
3. Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret
hidung. Bila tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma. Selain itu juga,
dilakukan uji tuberkulin dan uji kulit dengan menggunakan alergen.
G. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan Asma adalah mencapai asma terkontrol
sehingga penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari.
Menurut Kusuma (2016), ada program penatalaksanaan asma meliputi 7
komponen, yaitu :
1. Edukasi
Edukasi yang baik akan menurunkan morbiditi dan mortaliti.
Edukasi tidak hanya ditujukan untuk penderita dan keluarga tetapi juga
pihak lain yang membutuhkan energi pemegang keputusan, pembuat
perencanaan bidang kesehatan/asma, profesi kesehatan.

8
2. Menilai dan monitor berat asma secara berkala
Penilaian klinis berkala antara 1-6 bulan dan monitoring asma oleh
penderita sendiri mutlak dilakukan pada penatalaksanaan asma. Hal
tersebut disebabkan berbagai faktor antara lain :
a. Gejala dan berat asma berubah, sehingga membutuhkan perubahan
terapi
b. Pajanan pencetus menyebabkan penderita mengalami perubahan
pada asmanya
c. Daya ingat (memori) dan motivasi penderita yang perlu direview,
sehingga membantu penanganan asma terutama asma mandiri.
3. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus
4. Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang
Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit,
disebut sebagai asma terkontrol.
Terdapat 3 faktor yang perlu dipertimbangkan :
a. Medikasi asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala
obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.
b. Tahapan pengobatan
1) Asma Intermiten, medikasi pengontrol harian tidak perlu
sedangakan alternatif lainnya tidak ada.
2) Asma Presisten Ringan, medikasi pengontrol harian diberikan
Glukokortikosteroid ihalasi (200-400 ug Bd/hati atau
ekivalennya), untuk alternati diberikan Teofilin lepas lambat,
kromolin dan leukotriene modifiers.
3) Asma Persisten Sedang, medikasi pengontrol harian diberikan
Kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (400-800 ug BD/hari
atau ekivalennya), untuk alternatifnya diberikan
glukokortikosteroid ihalasi (400-800 ug Bd atau ekivalennya)
ditambah Teofilin dan di tambah agonis beta 2 kerja lama oral,
atau Teofilin lepas lambat.
4) Asma Persisten Berat, medikasi pengontrol harian diberikan
ihalasi glukokortikosteroid (> 800 ug Bd atau ekivalennya) dan

9
agonis beta 2 kerja lama, ditambah 1 antara lain : Teofilin lepas
lambat, Leukotriene, Modifiers, Glukokortikosteroid oral. Untuk
alternatif lainnya Prednisolo/ metilprednisolon oral selang sehari
10 mg ditambah agonis bate 2 kerja lama oral, ditambah Teofilin
lepas lambat.
c. Penanganan asma mandiri (pelangi asma)
Hubungan penderita dokter yang baik adalah dasar yang kuat
untuk terjadi kepatuhan dan efektif penatalaksanaan asma.
Rencanakan pengobatan asma jangka panjang sesuai kondisi
penderita, realistik/ memungkinkan bagi penderita dengan maksud
mengontrol asma.
5. Menetapkan pengobatan pada serangan akut
Pengobatan pada serangan akut antara lain : Nebulisasi agonis beta
2 tiap 4 jam, alternatifnya Agonis beta 2 subcutan, Aminofilin IV,
Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK, dan oksigen bila mungkin Kortikosteroid
sistemik.
6. Kontrol secara teratur
Pada penatalaksanaan jangka panjang terdapat 2 hal yang penting
diperhatikan oleh dokter yaitu:
a. Tindak lanjut (follow-up) teratur
b. Rujuk ke ahli paru untuk konsultasi atau penangan lanjut bila
diperlukan
7. Pola hidup sehat
a. Meningkatkan kebugaran fisik
Olahraga menghasilkan kebugaran fisik secara umum.
Walaupun terdapat salah satu bentuk asma yang timbul serangan
sesudah execrise, akan tetapi tidak berarti penderita EIA dilarang
melakukan olahraga. Senam asma Indonesia (SAI) adalah salah satu
bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan menguatkan
otot-otot pernapasan khususnya, selain manfaat lain pada olahraga
umumnya.
b. Berhenti atau tidak pernah merokok

10
c. Lingkungan kerja
Kenali lingkungan kerja yang berpotensi dapat menimbulkan asma.
H. Komplikasi
Bila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, maka
akan terjadi emfisema dan mengakibatkan perubahan bentuk toraks, yaitu
toraks menbungkuk ke depan dan memanjang. Pada foto rontgen toraks
terlihat diafragma letaknya rendah, gambaran jantung menyempit, corakan
hilus kiri dan kanan bertambah. Pada asma kronik dan berat dapat terjadi
bentuk dada burung dara dan tampak sulkus Harrison (Zullies, 2016).
Bila sekret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat
sehingga dapat terjadi atelektasis pada lobus segmen yang sesuai.
Mediastinum tertarik ke arah atelektasis. Bila atelektasis berlangsung lama
dapat berubah menjadi bronkietasis, dan bila ada infeksi akan terjadi
bronkopneumonia. Serangan asma yang terus menerus dan berlangsung
beberapa hari serta berat dan tidak dapat diatasi dengan obat-obat yang biasa
disebut status asmatikus. Bila tidak ditolong dengan semestinya dapat
menyebabkan kematian, kegagalan pernafasan dan kegagalan jantung
(Zullies, 2016)

11
I. Pathway
Allergen masuk

Ditangkap makrofag

Allergen dipresentasikan ke sel Th

Sel Th member sinyal ke sel B dengan cara melepaskan interlukin 2

Membentuk IgE

IgE diikat mastosis (dijaringan) dan basopil (sirkulasi)

Penurunan kadar cAMP

Degranulasi sel

Melepaskan mediator kimia

Peningkatan sekresi Kontraksi otot polos Peningkatan


kelenjar mukosa permeabilitas kapiler

Peningktana mukosa mucus Bronkospasme Edema mukosa

Pengisian bronki dengan mucus Penyempitan saluran paru

Bersihan jalan nafas Ketidak seimbangan Pola nafas tidak efektif


tidak efektif ventilasi-perfusi

Sesak nafas Gangguan pertukran


gas

Gambar 2.1 Pathway


(Zullies, 2016)

12
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Menurut Kusuma (2015), meliputi :
1. Biodata
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, pekerjaan,
suku bangsa, diagnosa medis
b. Identitas Penanggung Jawab
Meliputi nama, pekerjaan, alamat, agama, hubungan dengan
pasien
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama yang timbul pada klien dengan asma adalah
dispnea (sampai bisa berhari-hari atau berbulan-bulan), batuk, dan
mengi (pada beberapa kasus lebih banyak paroksimal).
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Terdapat data yang menyatakan adanya faktor prediposisi
timbulnya penyakit ini, di antaranya adalah riwayat alergi dan
riwayat penyakit saluran nafas bagian bawah (rhinitis, utikaria, dan
eskrim).
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien dengan asma sering kali didapatkan adanya riwayat
penyakit turunan, tetapi pada beberapa klien lainnya tidak ditemukan
adanya penyakit yang sama pada anggota keluarganya.
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : Tampak lemah
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Tanda-tanda vital :
1) TD menurun karena dehidrasi

13
2) RR meningkat karena hipermetabolisme, cepat dan dalam
(kusmoul)
3) Suhu meningkat bila terjadi reaksi inflmasi
4) Nadi meningkat (nadi perifer melemah)
d. Pemeriksaan Head to toe
1) Mata
a) Konjungtiva pucat (karena anemia)
b) Konjungtiva sianosis (karena hipoksemia)
c) konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau
endokarditis)
2) Kulit
a) Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah
perifer)
b) Penurunan turgor (dehidrasi)
c) Edema.
d) Edema periorbital.
3) Jari dan kuku
a) Sianosis
b) Clubbing finger.
4) Mulut dan bibir
a) Membrane mukosa sianosis
b) Bernapas dengan mengerutkan mulut.
5) Hidung
Pernapasan dengan cuping hidung.
6) Vena leher
Adanya distensi / bendungan.
7) Dada
a) Retraksi otot bantu pernapasan (karena peningkatan
aktivitas pernapasan, dispnea, obstruksi jalan pernapasan)
b) Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan.
c) Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena
udara/suara melewati saluran/rongga pernapasan

14
d) Suara napas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial)
e) Suara napas tidak normal (creklerlr/rales, ronkhi, wheezing,
friction rub/pleural friction)
f) Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness)
8) Abdomen
Bising usus (+), distensi abdomen, nyeri biasanya tidak ada
9) Genetalia
Tidak ada gangguan
10) Ektremitas
Kelemahan, penurunan aktivitas, sianosis ujung jari dan kaki
4. Analisa data
Tabel 3.1 Analisa Data
Symptom Etiologi Problem
DS : Ketidak seimbangan Gangguan
1. Dispnea ventilasi-perfusi pertukaran gas
2. Pusing
DO:
1. PCO2 meningkat/menurun Sesak nafas
2. PO2 meningkat
3. Takikardia
4. Bunyi nafas tambahan
5. Sianosis
6. Gelisah
7. Pola nafas cuping hidung
8. Pola nafas abnormal
9. Kesadaran menurun
DS : Peningkatan Pola nafas tidak
Dispnea permeabilitas kapiler efektif
DO :
1. Fase ekspresi memanjang
2. Pola nafas abnormal Edema mukosa
(mis.takipnea, bradipnea
dll)
Penyempitan saluran
3. Pernapasan cuping hidung
paru
4. Kapasitas vital menurun
5. Tekanan ekspirasimenurun
6. Tekanan inpirasi menurun
Sumber : SDKI Edisi 1 (2016)

15
B. Diagnosa Keperawatan
Menurut diagnosis keperawatan SDKI Edisi 1 (2016), diagnosa
keperawatan yang dapat diambil pada pasien dengan asma adalah :
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidak seimbangan
ventilasi-perfusi
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan Peningkatan permeabilitas
kapiler
C. Intervensi Keperawatan
Table 3.2 Intervensi Keperawatan
Hari/ No Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
Tangga DX (SLKI Edisi 1 Cetakan II, 2019) (SIKI Edisi 1 Cetakan II 2018)
l
1 Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor frekuensi, irama,
keperwatan diharapkan gangguan kedalaman dan upaya nafas
pertukran gas dapat teratasi dengan 2. Monitor pola nafas (seperti
kriteria hasil : bradipnea, takipnea,
1. Dispnea menurun hiperventilasi dll)
2. Pusing menurun 3. Monitor adanya sumbatan
3. PCO2 membaik jalan nafas
4. PO2 membaik 4. Monitor kecepatan aliran
5. Takikardia membaik oksigen
6. Bunyi nafas tambahan menurun 5. Palpasi kesimterisan ekspansi
7. Sianosis membaik paru
8. Gelisah menurun 6. Auskultasi bunyi nafas
9. Nafas cuping hidung menurun 7. Atur interval pemantuan
10.Pola nafas membaik respirasi sesuai kondisi
11.Kesadaran meningkat pasien
8. Ajarkan pasien dan keluarga
cara menggunakan oksigen di
rumah
9. Kolaborasi penentuan dosis
oksigen
2 Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor pola nafas
keperwatan diharapkan pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha
kembali efektif dengan kriteria nafas)
hasil : 2. Monitor bunyi nafas
1. Dispnea menurun tambahan
2. Pemanjangan fase ekspresi 3. Monitor sputum
menurun 4. Posisikan semi fowler atau
3. Pernapasan cuping hidung fowler
menurun 5. Berikan minum hangat
4. Kapasitas vital meningkat 6. Keluargkan sumbatan benda
5. Tekanan ekspirasi meningkat padat dengan forsep McGill
6. Tekanan inpirasi meningkat 7. Berikan oksigen

16
8. Anjurkan asupan cairan
2.000 ml/hari
9. Ajarkan teknik batuk efektif
10. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik

D. Tindakan Keperawatan
Merupakan tahap ke empat dalam tahap proses keperawatan dengan
melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang
telah direncanakan dalam rencana keperawatan. Dalam tahap ini perawat
harus mengetahui berbagai hal diantaranya bahaya-bahaya fisik dan
perlindungn pada pasien, tehnik komunikasi, kemampuan dalam prosedur
tindakan, pemahaman tentang hak-hak dari pasien serta dalam memahami
tingkat perkembngan pasien (Nursalam, 2006)
Menurut Nursalam, (2006) Tindakan keperawatan mencakup tindakan
independent (mandiri), dan kolaborasi.
1. Tindakan mandiri adalah aktifitas keperawatan yang didasarkan pada
kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan petunjuk atau
perintah dari petugas kesehatan lain.
2. Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang didasarkan hasil keputusan
bersama seperti dokter dan petugas kesehatan lain.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana
tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai (Nursalam, 2006)
Menurut Nursalam, (2006) evaluasi disusun dengan menggunakan
SOAP yang operasional dengan pengertian:
S : Ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara obyektif oleh
keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
O : Kedaan subyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan
pengamat yang objektif setelah implemnatsi keperawatan.

17
A : Merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan
masalah keluarga yang dibandingkan dengan krietria dan standar yang telah
ditentukan mengacu pada tujuan rencana keperawatan keluarga.
P : Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis pada tahap
ini ada 2 evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Huda Amin, Kusuma Hardhi. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis : Berdasarkan


Penerapan Diagnosa Nanda, Nic, Noc. Yokyakarta : Mediaction Jogja.

Ikawati Zullies. 2016. Penatalaksanaan Terapi : Penyakit Sistem Pernafasan.


Yogyakarta : Bursa Ilmu

Infodatin. 2017. Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. ISSN 2442-
7659.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017. Profil Kesehatan Indonesia.


Jakarta: Kementrian Kesehatan Indonesia

Nelson. 2013. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15, vol.1. Jakarta : EGC

Ngastiyah. 2013. Perawatan anak sakit. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Nugraheni, D. 2015. Peran Perawat Tentang Penanganan Asma Pada Anak di IGD
Puskesmas Sibela Mojosongo Surakarta. STIKes Kusuma Husada Surakarta
: Surakarta

Nursalam. 2006. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan


Praktik. Jakarta : Salemba Medika.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2017. Profil Kesehatan Indonesia.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia

World Health Organization, 2017. Asthma, update April 2017, dilihat 18 Januari
2018 <http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs307/en>

19