Anda di halaman 1dari 30

i

Qudwah Press

ii
RATIB AL-HADDAD
Al-HabibAbdullah bin Alawi Al-Haddad

Penyusun : Shabri Shaleh Anwar


Copyright© Shabri Shaleh Anwar, 2019
All Right Reserved Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang

Diterbitkan oleh Qudwah Press (Online)


Jl. Cipta Karya Perum Padimas Citra 1 Blok C7
Pekanbaru – Riau
Telp/Whatsapp: +62852-7292-7964
E-Mail : shabri.shaleh@gmail.com
Web: www.shabrishalehanwar.com

Cetakan Pertama, November 2018

Hak Cipta dilindungi Undang-undang


Silahkan memperbanyak sebagian atau seluruh
isi buku ini tanpa seizin tertulis dari penyusun

Penerbit
Qudwah Press

iii
PENDAHULUAN

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha


Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam dan
kita meminta tolong kepada-Nya dalam seluruh perkara
dunia dan agama. Semoga kita dipahamkan oleh-Nya
terhadap perkara agama Islam dengan sempurna. Kita
meminta pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun.
Kita berlindung kepada Allah dari pada kejahatan diri sendiri
dan dari pada keburukan perbuatan kita sendiri, sebab barang
siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada
siapapun yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang
disesatkan oleh Allah maka tidak ada siapapun yang bisa
memberikan jalan lurus kepadanya, oleh karenanya Kita
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan melainkan Allah SWT
yang wajib disembah, satu-satunya Tuhan dan tak ada sekutu
bagi-Nya dan kita bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad SAW
itu Hamba dan Rasul-Nya dan tidak ada nabi lagi selepas
beliau, Shalawat dan Salam Allah ke atas Penghulu kita
Rasulullah SAW nabiyyina Muhammad bin Abdullah dan ke
atas ahli keluarga dan sahabat beliau semuanya.
Ratib Al-Haddad adalah amalan yang sangat mulia
karena di dalamnya terkandung ayat-ayat suci al-Qur’an dan
rangkaian do’a-do’a. Ratib ini bisa diamalkan untuk meminta
kepada Allah agar dikabulkan segala hajat. Selain itu Ratib al
Haddad ini juga bisa dipakai untuk mengusir jin dengan segala
gangguan-gangguannya.
Ratib al-Haddad ini disusun semata karena kecintaan dan
rindu penyusun kepada Sohibul Ratib yaitu Al-Habib Abdullah
bin Alawi Al-Haddad dan juag kepada seluruh para ulama
(pewaris nabi), para waliyullah. Semoga dengan ditulisa

iv
ulangnya buku yang sederhana ini, dapat mempermudah bagi
pembaca untuk mengamalkannya dan kita mendapatkan
keberkahannya kepada kita semua, penyusun beserta
keluarga. Semoga kita dikumpulkan kelak diakhirat oleh Allah
SWT dengan hamba-hamba yang dicintai-Nya.

Al-Faqirila Rabbih:
Shabri Shaleh Anwar (Layout)

v
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN - iii

Bab 1 Sejarah Ratib Al-Haddad - 1


Bab 2 Biografi Sohibul Ratib - 5
Bab 3 Bacaan Ratib Al-Haddad - 13

PENUTUP

vi
Bab 1
Sejarah Ratib al-Haddad

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama


penyusunnya, yaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad,
seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Dari doa
doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang
paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al
Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspire
asi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah
(bersamaan 26 Mei 1661). Ratib ini disusun atas dasar
menunaikan permintaan salah seorang murid beliau yaitu,
‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung
di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir memohon permintaan
tersebut yaitu untuk mengadakan suatu wirid dan zikir
sebagai amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat
mempertahan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang
sedang melanda Hadhramaut ketika itu.
Pertama kalinya Ratib ini dibaca yaitu di kampung ‘Amir
sendiri, yaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah
dari Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini
dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam
tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada

1
kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan
lafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca
sebelum solat Isya’ untuk mengelakkan kesempitan waktu
untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad
di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan,
dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat
dipertahankan dari pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah
Haji, Ratib Al-Haddad pun dibaca di Makkah dan Madinah.
Sehingga hari ini Ratib al-Haddad dibaca setiap malam di Bab
al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib
Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahwa barang
siapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh
keyakinan dan iman dengan terus membaca “La ilaha illallah”
hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima
puluh kali), ia mungkin karuniakan pengalaman yang di luar
dugaannya.
Beberapa perbedaan ditemukan di dalam beberapa ceta
kan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir.
Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al-Marhum Al
Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah
untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada
masa–masa yang lain dari yang tersebut di atas juga di masa
keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan siapa saja yang
membaca ratib ini diselamatkan Allah dari bahaya dan
kesusahan. Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama
Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik dari Al
Quran dan hadith Rasulullah SAW. Bilangan bacaan setiap
doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil
(witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri.
Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca
berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya.

2
Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah,
adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara
berkala.

3
Bab 2
Biografi Sohibul Ratib

Beliau adalah seorang Imam Al-Allamah Al-Habib


Abdullah bin Alwy Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin
Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar
Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin
Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad
Shôhib Mirbath bin Ali Khôli’ Qosam bin Alwi bin Muhammad
Shôhib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir
Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al
Uraidhi bin Imam Jakfar Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al
Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahra
Fathimah Al-Batul binti Rasulullah Muhammad SAW.

ORANGTUANYA
Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad, Ayah Syaikh
Abdullah Al-Haddad dikenal sebagai seorang yang saleh.
Lahir dan tumbuh di kota Tarim. Sayyid Alwy, sejak kecil
berada di bawah asuhan ibunya Syarifah Salwa, yang dikenal

5
sebagai wanita ahli ma’rifah dan wilayah. Bahkan Al-Habib
Abdullah bin Alwy Al-Haddad sendiri banyak meriwayatkan
kekeramatannya. Kakek Al-Haddad dari sisi ibunya ialah
Syaikh Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba Alawy yang termasuk
ulama yang mencapai derajat ma’rifah sempurna.
Suatu hari Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad
mendatangi rumah Al-Arif Billah Syaikh Ahmad bin
Muhammad Al-Habsy, pada waktu itu ia belum berkeluarga,
lalu ia meminta Syaikh Ahmad Al-Habsy mendoakannya, lalu
Syaikh Ahmad berkata kepadanya, ”Anakmu adalah anakku,
di antara mereka ada keberkahan”. Kemudian ia menikah
dengan cucu Syaikh Ahmad Al-Habsy, Salma binti Idrus bin
Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Al-Habib Idrus adalah
saudara dari Al-Habib Husein bin Ahmad bin Muhammad Al
Habsy. Yang mana Al-Habib Husein ini adalah kakek dari Al
Arifbillah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Ahmad
bin Muhammad Al-Habsy (Mu’alif Simtud Durror). Maka
lahirlah dari pernikahan itu Al-Habib Abdullah bin Alwy Al
Haddad. Ketika Syaikh Al-Hadad lahir ayahnya berujar, “Aku
sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang ducapkan
Syaikh Ahmad Al-Habsy terdahulu, setelah lahirnya Abdullah,
aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda
sinar Al-wilayah (kewalian)”.

MASA KECIL
Dari semenjak kecil begitu banyak perhatian yang beliau
dapatkan dari Allah. Allah menjaga pandangan beliau dari
segala apa yang diharamkan. Penglihatan lahiriah Beliau
diambil oleh Allah dan diganti oleh penglihatan batin yang
jauh yang lebih kuat dan berharga. Yang mana hal itu
merupakan salah satu pendorong beliau lebih giat dan tekun
dalam mencari cahaya Allah menuntut ilmu agama.

6
Pada umur 4 tahun beliau terkena penyakit cacar
sehingga menyebabkannya buta. Cacat yang beliau derita
telah membawa hikmah, beliau tidak bermain sebagaimana
anak kecil sebayanya, beliau habiskan waktunya dengan
menghapal Al-Quran, mujahaddah al-nafs (beribadah dengan
tekun melawan hawa nafsu) dan mencari ilmu. Sungguh
sangat mengherankan seakan-akan anak kecil ini tahu bahwa
ia tidak dilahirkan untuk yang lain, tetapi untuk mengabdi
kepada Allah SWT.

KEHIDUPAN DAKWAH
Berkat ketekunan dan akhlakul karimah yang beliau
miliki pada saat usia yang sangat dini, beliau dinobatkan oleh
Allah dan guru-guru beliau sebagai da’i, yang menjadikan
nama beliau harum di seluruh penjuru wilayah Hadhromaut
dan mengundang datangnya para murid yang berminat besar
dalam mencari ilmu. Mereka ini tidak datang hanya dari
Hadhromaut tetapi juga datang dari luar Hadhromaut.
Mereka datang dengan tujuan menimba ilmu, mendengar
nasihat dan wejangan serta tabarukan (mencari berkah),
memohon doa dari Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Di antara
murid-murid senior Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah
putranya, Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Alwy Al-Haddad,
Al-Habib Ahmad bin Zein bin Alwy bin Ahmad bin
Muhammad Al-Habsy, Al-Habib Ahmad bin Abdullah Ba
Faqih, Al-Habib Abdurrohman bin Abdullah Bilfaqih, dll.
Selain mengkader pakar-pakar ilmu agama, mencetak
generasi unggulan yang diharapkan mampu melanjutkan
perjuangan kakek beliau, Rasullullah SAW, beliau juga aktif
merangkum dan menyusun buku-buku nasihat dan wejangan
baik dalam bentuk kitab, koresponden (surat-menyurat) atau
dalam bentuk syair sehingga banyak buku-buku beliau yang

7
terbit dan dicetak, dipelajari dan diajarkan, dibaca dan
dialihbahasakan, sehingga ilmu beliau benar-benar ilmu yang
bermanfaat. Tidak lupa beliau juga menyusun wirid-wirid
yang dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan
bermanfaat untuk agama, dunia dan akhirat, salah satunya
yang agung dan terkenal adalah Ratib ini. Ratib ini disusun
oleh beliau dimalam Lailatul Qodar tahun 1071 H.

AKHLAQ DAN BUDI PEKERTI


Al-Imam Al-Haddad (rahimahullah) memiliki perwatakan
badan yang tinggi, berdada bidang, tidak terlalu gempal,
berkulit putih, sangat berhaibah dan tidak pula di wajahnya
kesan mahupun parut cacar. Wajahnya sentiasa manis dan
menggembirakan orang lain di dalam majlisnya. Ketawanya
sekadar senyuman manis; apabila beliau gembira dan girang,
wajahnya bercahaya bagaikan bulan. Majlis kendalian beliau
sentiasa tenang dan penuh kehormatan sehinggakan tidak
terdapat hadhirin berbicara mahupun bergerak keterlaluan
bagaikan terletak seekor burung di atas kepala mereka.
Mereka yang menghadhiri ke majlis Al-Habib bagaikan
terlupa kehidupan dunia bahkan terkadang Si-lapar lupa hal
kelaparannya; Si-sakit hilang sakitnya; Si-demam sembuh
dari demamnya. Ini dibuktikan apabila tiada seorang pun
yang yang sanggup meninggalkan majlisnya.
Al-Imam sentiasa berbicara dengan orang lain menurut
kadar akal mereka dan sentiasa memberi hak yang sesuai
dengan taraf kedudukan masing-masing. Sehinggakan
apabila dikunjungi pembesar, beliau memberi haknya sebagai
pembesar; kiranya didatangi orang lemah, dilayani dengan
penuh mulia dan dijaga hatinya. Apatah lagi kepada Si
miskin.

8
Beliau amat mencintai para penuntut ilmu dan mereka
yang gemar kepada alam akhirat. Al-Habib tidak pernah jemu
terhadap ahli-ahli majlisnya bahkan sentiasa diutamakan
mereka dengan kaseh sayang serta penuh rahmah; tanpa
melalaikan beliau dari mengingati Allah walau sedetik. Beliau
pernah menegaskan “Tiada seorang pun yang berada
dimajlisku mengganguku dari mengingati Allah”.
Majlis Al-Imam sentiasa dipenuhi dengan pembacaan
kitab-kitab yang bermanfaat, perbincangan dalam soal
keagamaan sehingga para hadhirin sama ada yang alim
ataupun jahil tidak akan berbicara perkara yang
mengakibatkan dosa seperti mengumpat ataupun mencaci.
Bahkan tidak terdapat juga perbicaraan kosong yang tidak
menghasilkan faedah. Apa yang ditutur hanyalah zikir, diskusi
keagamaan, nasihat untuk muslimin, serta rayuan kepada
mereka dan selainnya supaya beramal soleh. Inilah yang
ditegaskan oleh beliau “Tiada seorang pun yang patut
menyoal hal keduniaan atau menyebut tentangnya kerana
yang demikian adalah tidak wajar; sewajibnya masa
diperuntuk sepenuhnya untuk akhirat sahaja. Silalah bincang
perihal keduniaan dengan selain dariku.”
Al-Habib (rahimahullah) adalah contoh bagi insan dalam
soal perbicaraan mahupun amalan; mencerminkan akhlak
junjungan mulia dan tabiat Al-Muhammadiah yang mengalir
dalam hidup beliau. Beliau memiliki semangat yang tinggi
dan azam yang kuat dalam hal keagamaan. Al-Imam juga
sentiasa menangani sebarang urusan dengan penuh keadilan
dengan menghindari pujian atau keutamaan dari oramg lain;
bahkan beliau sentiasa mempercepatkan segala tugasnya
tanpa membuang masa. Beliau bersifat mulia dan pemurah
lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. Ciri inilah menyebabkan
ramai orang dari pelusuk kampung sering berbuka puasa

9
bersama beliau di rumahnya dengan hidangan yang tidak
pernah putus semata mata mencari barakah Al-Imam.
Al-Imam menyatakan: “Sesuap makanan yang dihadiah
kan atau disedekahkan mampu menolak kesengsara
an”. Katanya lagi: “Kiranya ditangan kita ada kemampuan,
nescaya segala keperluan fakir miskin dipenuhi, sesungguh
nya permulaan agama ini tidak akan terdiri melainkan dengan
kelemahan Muslimin”.
Beliau adalah seorang yang memiliki hati yang amat suci,
sentiasa sabar terhadap sikap buruk dari yang selainnya serta
tidak pernah merasa marah. Kalaupun ia memarahi, bukan
kerana peribadi seseorang tetapi sebab amalan mungkarnya
yang telah membuat Al-Imam benar-benar marah. Inilah yang
ditegaskan oleh Al-Habib “Adapun segala kesalahan berkait
dengan hak aku, aku telah maafkan; tetapi hak Allah
sesungguhnya tidak akan dimaafkan”.
Al-Imam amatlah menegah dari mendoa’ agar keburukan
dilanda orang yang menzalimi mereka. Sehingga bersama
beliau terdapat seorang pembantu yang terkadangkala
melakukan kesilapan yang boleh menyebabkan kemarahan
Al-Imam. Namun beliau menahan marahnya; bahkan kepada
si-Pembantu itu diberi hadiah oleh Al-Habib untuk meredakan
rasa marah beliau sehinggakan pembantunya berkata:
“alangkah baiknyajika Al-Imam sentiasa memarahiku”.
Segala pengurusan hidupnya berlandaskan sunnah;
kehidupannya penuh dengan keilmuan ditambah pula dengan
sifat wara’. Apabila beliau memberi upah dan sewa sentiasa
dengan jumlah yang lebih dari asal tanpa diminta.
Kesenangannya adalah membina dan mengimarahkan
masjid. Di Nuwaidarah dibinanya masjid bernama Al
Awwabin begitu juga, Masjid Ba-Alawi di Seiyoun, Masjid Al

10
Abrar di As-Sabir, Masjid Al-Fatah di Al-Hawi, Masjid Al-Abdal
di Shibam, Masjid Al-Asrar di Madudah dan banyak lagi.
Diantara sifat Al-Imam termasuk tawaadu’ (merendah
diri). Ini terselah pada kata-katanya, syair-syairnya dan
tulisannya. Al-Imam pernah mengutusi Al-Habib Ali bin
Abdullah Al-Aidarus. “Doailah untuk saudaramu ini yang
lemah semoga diampuni Allah”

WAFATNYA
Beliau wafat hari Senin, malam Selasa, tanggal 7 Dhul
Qo’dah 1132 H, dalam usia 98 tahun. Beliau disemayamkan di
pemakaman Zambal, di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman.
Semoga Allah melimpahkan rohmat-Nya kepada beliau juga
kita yang ditinggalkannya.

GURU-GURUNYA
Abdullah bin Alawi al-Haddad memiliki 140 guru, di
antaranya adalah:
1. Abdullah bin Syaikh Maula 'Aidid
2. Umar bin Abdurrahman al-'Aththas
3. Abdullah bin Ahmad Bilfaqih
4. Aqil bin Abdurrahman as-Saqaf
5. Sahl bin Ahmad Bahasan al-Hudaili Ba'alawi
6. Muhammad bin Alawi as-Saqaf, Ulama Mekah.

MURID-MURIDNYA
Abdullah bin Alawi al-Haddad memiliki banyak sekali
murid, di antaranya adalah:
1. Ahmad bin Zain al-Habasyi
2. Muhammad bin Zain bin Sumaith
3. Umar bin Zain bin Sumaith
4. Umar bin Abdurrahman al-Bar

11
5. Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih
6. Muhammad bin Umar bin Thaha ash-Shafi as-Saqaf
7. Ali bin Abdullah as-Saqaf

KARYA-KARYANYA
Beliau meninggalkan kepada umat Islam khazanah ilmu
yang banyak, yang tidak ternilai, melalui kitab-kitab dan
syair-syair karangan beliau. Diantaranya yaitu:
1. An-Nasha`ih ad-Diniyyah wa al-Washaya al-Imaniyyah
2. Ad-Da'wah at-Tammah wa at-Tadzkirah al-'Ammah
3. Risalah al-Mu'awanah wa al-Muzhaharah wa al-Mu`azarah
li ar-Raghibina min al-Mu`minin fi Suluki Thariqi al
Akhirah
4. Risalah al-Mudzakarah ma`ah al-Ikhwan al-Muhibbin min
Ahli al-Khairi wa ad-Din
5. Risalah Adab Suluki al-Murid
6. Itfah as-Sa`il bijawabi al-Masa`il
7. Sabil al-Adzkar bima Yamur bi al-Insan wa Yunqadhi lahu
min `umrihi
8. Al-Fushul al-'Amaliyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah
9. An-Nafais al-Alawiyyah fi al-Masa`il ash-Shufiyyah
10. Kitab al-Hikam
11. Ad-Dur al-Manzhum lidzawi al-'Uqul wa al-Fuhum,
kumpulan syair
12. Kumpulan perkataannya
13. Kimpulan surat-suratnya
14. Wasilatu al-'Ibad ila Zadi al-Ma'ad, kumpulan wirid dan
zikir

12
Bab 3
Bacaan Ratib al-Haddad

salui s" & ".....…" &#9 & :


493 & 49 Ja' ay. Ju, sey &#9
sai ol. ..., 92 cas 3

13
S; ā , sast S &; ai 3- s& S. 4 S &
'S 3, JayS sa 43 - 3-J sa w & 8:
s-4:4. 3.4 V. &la. 35°k S) 345 &i:4 sJ'

y, A'

ssi. Si Jess's ey- 4-5 - 2u.


..…" & " ,s, wiki>
A'

2, 2- ... s 2 : , i, ', a w"/> o 81 ..?i T. > 2. T


i
35 S3°33'349 52 & J; 3 J}.}}| 3*
"... . . . .

& 3,4 S 4.9 %.35 ×3×3 &u 32' 2* 2* A'

u9 Jil,is usei, uss jus 4.3 ° -


4-3 S) u-3, 6 C.S. S., adi Jl.
o ." .2* A'

S ū.
- 2* o
ss º - 3ST U4 - o ( - >
o
ss ~ - 2* U.
') * zº-9 <> LA
o 2*
- 81 -
U.8. o
o% z > 31 o 3
‘Ja U. UU23-i
> ra
313 --
U s-z Cl
: , 74 °. > 9
U-A2-135
&& ° - 39 u-) 9 v--- U) u-13

14
|

u, jisis de Cael; , u sue Su ut: -

2*

.g, Si eja Je U; ais US;° C. L-39

45 Jikji & .4 Ji, 3 S 34-3 & S. All S


(3% .2° 23.3 JSJ" 3s; 3-53 - 43

G% .s.a." & St., 9-43 & Su.


a *t, 2 # 2 1%, - 212 ° - 4 s: , , ra
J-133) - Jil u.8 S-53 U ,sel 3,
9 o ‘j1
(3% . " -

(3X) 4-2 4-4-4u … " - 4.


15
G%..." &- 333 sus- 3 S3 J258'

G% .e. "...43 dise%-393 % &u u-2,

G% .4 . AJL 2-3 & 43-5 'A' - -

G% .yeles Lev & J. L.; 2-S e;...", wu wai


2* *

G% .w. s53." &213 us Cael; u ; g


-

% .ax. Je Jeu-le,339 JS3 su

G% & Jua' , sas 1 & V 39° u

16
(3% . ..." (, j+- U. y o
21:
° -3 1
U 2.5u se- "

A' ** ** U 9 o > 42 ×
-

re:~
&* & -à-la
a C( , :-a: 3 & s" (, **
2* **

J 384
** 2. 2 Q
° – - 4Q r 2* A' w" ...& | -->
* & 2* A' w* & ) 2*

** 2" ** 2* * **

A - o ->

(3%).8-29

32 & " ... i


sas." (', 3J
at-i
- .4
&-3 As

17
al-5 Jü 4* & ... " J; ; 43
3° Ju. Aw G 233 &a-3 433 °353 - 3.8%
&93 & 43 & = & J}", "s-el; Ji

.S.-9 - 9 & 2 ° -4* Les


.s. 23' c. 9 A *
.u; i; u ; 4-2, A - & 3 Ji
(3X) 3-i ',353' 53. #

s-9 ; ;) & -
-3 ° -2 -14 1 - - : ~ .1%i - - 3 s2 f s1%
y" C-9 313-L* 5.3 ° 313' - 2 S38 JA
swas, J &-034' . 323 e-33 ° 3-te
**- -

. -- $ 4-u-33 323
18
J-U 4. J-4 s14 J-0' -9. 339 J5

3 &y-3: 3." Jº' J";-3) , , 32

v & J. "... "...a." "sai was- c., J.


Ji Ji sis- 43 .4°33 °32' syle
sa usa. . . . ... " si syle
2 0 (0

32-S3 L'A', 'A' 3 ° );ji; sey-93

19
s," 3 sisu-isya' sis- -3, J.
** 2 * 2.
A'

Jx & 3 – 4-5, J-3 awa, Ja;S

-3* 24.38 -a. s ', -- c% J.


sa- syle & A - - 3- >SJ, suai
2,"

& J :3u. Ja. 4 di ses;3, 4,2',


J.J. J. 33& ..."}}}}} <>'', '5 ° 38.43
.32-S13 ujāji,
20
ssuf
&s, sa"; sua' & ske is J.
s--", s", --", se.
ssé-s sey-k usa. . . .. "
:(syai 92-49)

Berdoa/44 sesaan dengar Ayat:

A' A' ** ** 2 2 ,"

2* 3% > 2* 2* 2* s%. .2* 2*

4:4 Jsi: "..." U.A., Jºe J-2 6.40 .24%


- - ," 2 - > ," A'

P. 9 sf,2 w A' 2% ," 4 w


‘i 4-" A J
L:- U) 34U .81-3 4:2-23
s* 4 4 o 2* 2
33*sāj 5* O s. * o 2* 2

A ," O o 4 Q 4 o
o ~. w % C 43% : , ; os 3. 4 o 3 2 *: 2 7* 2* 9.

: 3 JS, U &si & 3 saji & J's 3.x. |


3% >7 - 23 2, 3 o 2 A - 81.2
,"

a 4 -2 2, 3
| 13 2 * 13 A' * w * A' * s* "

J* 32 ulas Si; : , JS, wile J asas Si;


s% A' 21 2 2 × 4 &t o 2 ," J} > 2. 3.6 - s:i
JAS
2*
Jalālās UN33 g uleuss & 5 . A3-l

21
Vessi; u-iii, wusi 3 ubi. Sis 'A'

Se Jl. Syº, s" 4-2, J- 9 su


6%. U9 Ja

22
Penutup

Semoga buku Ratit al-Haddad yang kami susun ulang


dengan warna dan huruf Arab yang cukup besar ini dapat
mempermudah pembaca untuk mengamalkannya. Amin.

23
DAFTAR PUSTAKA

http://pamungkasalfarisi.blogspot.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Alawi_al-Haddad

24