Anda di halaman 1dari 5

Plasmodium Falciparum

Parasit adalah suatu patogen yang secara bersamaan menyebabkan cidera dan mendapatkan
sumber nutrisi dari inangnya. Parasit sebenarnya bersifat komensalis, yaitu dapat
menguntungkan atau merugikan bagi inangnya. Salah satu jenis parasit umum yang sering
dijumpai adalah Plasmodium falciparum. Plasmodium falciparum adalah salah satu jenis
protozoa dari genus Plasmodium yang bersifat parasit karena memerlukan inang agar dapat
bertahan hidup. Protozoa ber-genus Plasmodium merupakan penyebab utama dari penyakit
malaria dan dalam hal ini, Plasmodium Falciparum dapat menyebabkan malaria berjenis
tropika apabila masuk kedalam tubuh manusia.

1 2 3
Gambar 1. Gambar mikroskopis dari Tropozoit (1), Schizont (2), dan Gametosit (3).
Sumber : Laboratory diagnosis of malaria : Plasmodium falciparum. DPDx : Laboratory Identification of
Parasites of public health concern

Fase perkembangan dari Plasmodium falciparum dibagi menjadi 3, yaitu fase Tropozoit (1),
fase Schizont (2) dan fase Gametosit (3). Pada fase tropozoit matang, sitoplasmanya lebih
pekat dibandingkan dengan fase tropozoit belum matang. Tropozoit tetap mempertahankan
bentuk menyerupai cincinnya dan terkadang pigmen kuning dapat terlihat pada
sitoplasmanya. Tropozoit pada Plasmodium falciparum berbentuk sedikit amoeboid. Pada
fase schizont, Akan terakumulasi 8 hingga 24 merozoit pada sel yang pada akhirnya akan
membentuk schizont pada sel tersebut. Pada fase ini, terlihat adanya akumulasi pigmen
berwarna gelap pada sel tubuh manusia. Fase ketiga adalah gametosit, yaitu merupakan
bentuk matang dari Plasmodium falciparum. Gametosit merupakan penyatuan dari beberapa
merozoit yang keluar pada saat schizont pecah. Pada fase ini, dapat terlihat dengan jelas
bentuk gamet yang berbentuk lonjong melengkung seperti sabit dan memiliki kromatin dalam
satu massa tunggal (makrogamet) atau dalam bentuk difus (mikrogamet).

Gambar 2. Daur hidup Plasmodium falciparum


Sumber : S, Baron. 1996. Medical Microbiology :4th edition. Galveston (TX): University of
Texas Medical Branch at Galveston
Secara garis besar, siklus hidup plasmodium dibagi menjadi dua, yaitu siklus seksual, yaitu
siklus saat parasit ini berada pada perantaranya (nyamuk) dan proses aseksual, yaitu siklus
saat parasit ini berada pada inangnya. Siklus hidup dari Plasmodium falciparum dimulai saat
parasit tersebut masuk kedalam aliran pembuluh darah manusia dalam bentuk sporozoit yang
di-injeksi oleh nyamuk Anopheles wanita saat nyamuk tersebut menghisap darah. Mayoritas
dari sporozoit tersebut bermigrasi ke hati. Didalam hati, parasit tersebut akan menginvasi
hepatosit dan menggandakan diri. Sporozoit yang berhasil menginvasi sel hepatosit disebut
sebagai tropozoit. Merozoit yang terbentuk dari tropozoit didalam hepatosit akan dilepaskan
kedalam aliran darah. Merozoit ini akan menginvasi sel darah merah (eritrosit) dan akan
menginisiasi siklus penggandaan diri secara aseksual. Kumpulan dari berbagai merozoit ini
disebut dengan Schizont. Sebagian kecil dari merozoit yang dilepaskan dari sel darah merah
yang terinfeksi akan membentuk gametosit, yaitu bentuk parasit yang dapat ditularkan.
Pembentukan dan pematangan dari gametosit berlangsung dalam lima tahap yang dapat di-
identifikasi secara morfologis (Gambar I-V). Gametosit pada tahap awal akan terasingkan,
dan hanya gametosit matang tahap 5 yang dapat bersirkulasi di darah tepi (perifer). Pada
tempat ini, gametosit matang tersebut dapat diambil kembali oleh nyamuk anopheles. Setelah
ditelan oleh nyamuk, setiap individu gametosit membentuk satu mikrogamet betina atau
hingga 8 mikrogamet jantan. Didaerah perut bagian tengah nyamuk, fusi dari gamet tersebut
menghasilkan sebuah zigot yang akan berkembang menjadi ookinet yang dapat menembus
dinding perut bagian tengah nyamuk untuk membentuk ookista (oocyst). Ookista akan
membesar seiring waktu dan lama kelamaan akan pecah untuk melepaskan sporozoit yang
akan bermigrasi ke kelenjar saliva nyamuk. Hal ini menyebabkan nyamuk, terutama berjenis
anopheles dapat menularkan parasit ini kepada manusia.

Gambar 3. Fase demam pada infeksi plasmodium


Sumber : Hawking F, Worms MJ, Gammage K. 24- and 48-hour cycles of malaria parasites in the blood;
their purpose, production and control. Trans Royal Soc Trop Med Hyg 1968;62(6):731–760.
Gejala-gejala utama dari invasi parasit Plasmodium berupa nausea, muntah, diare, dan
hipotensi. Dalam hal ini, invasi dari parasit Plasmodium falciparum menimbulkan gejala
khas, yaitu demam yang timbul tidak beraturan. Hal ini membedakannya dengan invasi
parasit Plasmodium vivax, yang memiliki gejala khas berupa demam dan menggigil selama
48 – 72 jam siklus infeksi parasit. Demam dan menggigil yang terjadi dari kedua infeksi
parasit tersebut disebabkan oleh maturasi schizont didalam sel eritrosit manusia. Namun pada
infeksi parasit Plasmodium falciparum, waktu maturasi schizont didalam sel eritrosit manusia
tidak dapat ditentukan, sehingga demam dan menggigil pada proses infeksi parasit
Plasmodium falciparum dapat terjadi kapan saja tanpa adanya rentang waktu tertentu.
Maturasi schizont pada Plasmodium falciparum tidak dapat ditentukan karena fase maturasi
schizont yang tidak tersinkronisasi antara satu sama lain yang pada akhirnya akan
menyebabkan gejala berupa demam berkelanjutan atau tidak beraturan. Sehingga penyakit
yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum disebut penyakit malaria (subtertian) tropika

Salah satu terapi efektif dalam melawan invasi parasit Plasmodium falciparum adalah dengan
pengobatan berbasis kombinasi Artemisinin (ACT). ACT adalah kombinasi dari derivat
artemisinin yang bekerja cepat dengan obat yang lebih lama dieliminasi tubuh. Komponen
artemisinin dengan cepat mengeliminasi parasit dari darah (mengurangi jumlah parasit sekitar
10.000 dalam setiap siklus aseksual) dan juga efektif melawan siklus seksual dari gametosit
yang bertransmisi kembali ke nyamuk. Obat satunya yang tahan lama membersihkan sisa
parasit dan menyediakan perlindungan melawan perkembangan resistensi terhadap derivat
artemisinin. Lima ACT yang direkomendasikan untuk pengobatan Plasmodium falciparum
beserta dosisnya adalah :

1. Arthemether + lumefantrine

Dosis (mg) dari artemether + lumefantrine diberikan 2 kali setiap


Berat badan (kg)
hari selama 3 hari
5 hingga < 15 20 + 120
15 hingga < 25 40 + 240
25 hingga < 35 60 + 360
≥ 35 80 + 480

2. Arthesunate + amodiaquine

Berat badan (kg) Dosis (mg) dari arthesunate + amodiaquine setiap hari selama 3 hari
4.5 hingga < 9 25 + 67.5
9 hingga < 18 50 + 135
18 hingga < 36 100 + 270
≥ 36 200 + 540

3. Artesunate + mefloquine

Dosis (mg) dari Artesunate + mefloquine diberikan setiap hari


Berat badan (kg)
selama 3 hari
5 hingga < 9 25 + 55
9 hingga < 18 50 + 110
18 hingga < 30 100 + 220
≥ 30 200 + 440

4. Artesunate + sulfadoxine-pyrimethamine

Dosis Sulfadoxine /
Dosis Artesunate diberikan pyrimethamine (mg) diberikan
Berat Badan (kg)
setiap hari selama 3 hari (mg) sebagai dosis tunggal pada hari
pertama
5 hingga < 10 25 mg 250 / 12.5
10 hingga < 25 50 mg 500 / 25
25 hingga < 50 100 mg 1000 / 50
≥ 50 200 mg 1500 / 75

5. Dihydroartemisin + piperaquine

Dosis Dihydroartemisinin + piperaquine (mg) diberikan setiap hari


Berat badan (kg)
selama 3 hari
5 hingga < 8 20 + 160
8 hingga < 11 30 + 240
11 hingga < 17 40 + 320
17 hingga < 25 60 + 480
25 hingga < 36 80 + 640
36 hingga < 60 120 + 960
60 hingga < 80 160 + 1280
>80 200 + 1600