Anda di halaman 1dari 35

255

BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

4.1 Pembahasan Kasus Antenatal Care


Analisa dari penulis mengenai kesenjangan-kesenjangan yang terjadi
antara teori dengan tinjauan kasus, setelah melakukan Asuhan Kebidanan
Persalinan pada Ny. S dengan Kehamilan Patologis di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang.
1. Ny. S masuk IGD Maternal pada 11 November 2017 pukul 01:31 WIB.
Merupakan pasien rujukan dari RSIA Bunda Sejati atas indikasi PEB. Ibu
pertama kali datang mengeluh tidak enak badan (malaise) sejak 10
november 2017, pusing dan nyeri ulu hati. Tekanan darah Ny.S 180/100
mmHg, proteinuria positif 2 (++), ditemukan oedema pada ekstremitas atas
dan bawah pada kaki dan betis. Dalam hal ini tidak terjadi  kesenjangan 
antara  teori  dan  praktek, sesuai dengan teori tanda dan gejala
Preeklampsia berat yaitu Sistolik ≥ 160 mmHg dan diastolik ≥ 110 mmHg,
Proteinuria ≥ positif 2 (++), nyeri kepala, gangguan penglihatan dan nyeri
ulu hati.
2. Ny. S merupakan pasien rujukan dari RSIA Bunda Sejati, ketika datang
pasien terpasang infus RL dengan MgSO4 6 gram. Ny. S telah dilakukan
pemberian pemberian Dosis Awal, yaitu MgSO4 4 gram secara intravena di
RSIA Bunda Sejati, kemudian diberi Dosis Rumatan MgSO 4 6 gram melalui
cairan infus (drip) 28 tpm. Dan melakukan pemeriksaan fisik tiap jam,
meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, refleks patella,
dan jumlah urin. Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan teori dan praktik
dalam hal penatalaksaan kasus PEB.
256

3. Ny. S selama kehamilan ini telah melakukan pemeriksaan kehamilan


sebanyak 5 kali: 1 kali di Puskesmas Pasar Kemis, 3x di RSIA Bunda Sejati
dan 1x di Poli Kebidanan RSU Kabupaten Tangerang. Hal ini sesuai dengan
teori Kesehatan Ibu dan Anak bahwa pemeriksaan ANC dilakukan minimal
4 kali selama kehamilan; 1x pada Trimester I, 1x pada Trimester II dan 2x
pada Trimester III.
4. Saat ini Ny. S berusia 40 tahun. Usia > 35 tahun memiliki resiko 1.1 sampai
1.3 kali lipat memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami preeklamsia.
Berdasarkan jurnal Clinical risk factors for pre-eclampsia determined in
early pregnancy: systematic review and meta-analysis of large
cohort studies. Kematian maternal pada wanita hamil dan bersalin pada usia
dibawah 20 tahun dan setelah usia 35 tahun meningkat, karena wanita yang
memiliki usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun di anggap lebih
rentan terhadap terjadinya preeklampsa.
5. Hipertensi yang dimiliki ibu kandung ny. Suharti termasuk kedalam Strong
family history of CV disease dan memiliki resiko 3,2 kali lipat resiko
terjadinya preeklampsi. Berdasarkan jurnal Clinical risk factors for pre-
eclampsia determined in early pregnancy: systematic review and meta-
analysis of large cohort studies. Riwayat hipertensi orangtua terutama
genotip ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara
familial. Telah terbukti pada ibu yang mengalami preeklampsi 26% anak
perempuannya akan mengalami preeklampsi pula, sedangkan 8% anak
menantunya mengalami preeklampsi. Karena biasanya kelainan genetik juga
dapat mempengaruhi penurunan perfusi uteroplasenta yang selanjutnya
mempengaruhi aktivasi endotel yang dapat menyebabkan terjadinya
vasospasme yang merupakan dasar patofisiologi terjadinya
preeklampsi/eklampsi.(Cunningham, 2013)
6. Jika dikaji BB sebelum hamil dan saat hamil BB sebelum 58 saat hamil 28
mg BB 69, artinya meningkat 11 kg. Normalnya perempuan dengan IMT
257

lebih kenaikan berat badannya selama hamil 9 bulan adalah 7,2 sampai 11
kg. Peningkatan berat badan berlebih dan oedem di kedua kaki sampai betis
mengindikasikan cairan berlebih di tubuhnya ditambah lagi pola minum
sehari-harinya 8-9 gelas artinya penumpukan cairan dlm tubuh trs terjadi.
Peningkatan berat badan yang mendadak serta berlebihan terutama
disebabkan oleh retensi cairan dan selalu dapat ditemukan sebelum timbul
gejala edema nondependen yang terlihat jelas, seperti edema kelopak mata,
kedua lengan, atau tungkai yang membesar pada kasus preeklampsia.
7. IMT ibu sebelum hamil sebesar 24,1berdasarkan lembar skrining gizi dari
RSU Kabupaten Tangerang bahwa IMT > 23 Adalah berlebihan . maka ini
sesuai dengan Hasil jurnal: Pada perempuan hamil yang overwight bahkan
obesitas, jantungnya bekerja lebih keras dalam memompa darah.Hal ini
dapat dipahami karena biasanyapembuluh darah perempuan yang obesitas
terjepitkulit yang berlemak, keadaan ini di dugadapat mengakibatkan
naiknya tekanan darah. Perempuan yang obesitas tubuhnya bekerja lebih
keras untuk membakar kelebihan kalori yang ada dalam
tubuhnya,pembakaran kalori tersebut membutuhkan suplaioksigen dalam
darah yang cukup, semakin banyak kalori yang dibakar, maka
semakinbanyak pula pasokan oksigen dalam darah,banyaknya pasokan darah
tentu menjadikan jantung bekerja lebih keras, dan dampaknya tekanan darah
perempuan hamil yang obesitas cenderung lebih tinggi.
Widharto. 2007. Bahaya Hipertensi. Jakarta . PT. Sunda Kelapa Pustaka
8. Ny. S diberi terapi obat nifedipin untuk hipertensinya. Diberikan secara
peroral dengan 4 x 1 hari 10 mg. Artinya obat diberikan selang waktu 6 jam.
Atau dapat juga diberikan jika tensi ibu meningkat lagi. Pemberian
nifedipine untuk mengontrol hipertensi Ny. S sesuai dengan Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Dasar dan Rujukan.
9. Ny. S diberi terapi obat Dexamethasone untuk mematangkan paru janin.
Penggunaan kortikosteroid direkomendasikan pada semua wanita usia
258

kehamilan 24-34 minggu yang berisiko melahirkan prematur, termasuk


pasien dengan PEB. Deksametason 6 mg IM setiap 12 jam sebanyak 4 kali.
Yaitu saat pengkajian tanggal 11 November 2017 pukul 02.00, 14.00, Pada
tanggan 12 November 2017 pukul 02.00 dan 14.00. dalam teori disebutkan
bahwa pemberian secara IM tetapi di label obat Dexamethasone itu sendiri
disebutkan bahwa dapat diberikan secara IM dan IV. Sehingga dalam
praktiknya diberikan secara IV.
10. Pada tanggal 12 November 2017, terapi obat hipertensi Ny. S
dikombinasikan. Yaitu Nifedipine dan Methyldopa. Untuk mengontrol
tekanan darah Ny.S
Terdapat catatan dari dokter cardio, apabila ada rencana terminasi atau TD ≥
160/100 maka dapat diberikan Perdipine dengan dosis 0,5mg/kg/menit.
11. Pada tanggal 13 November 2017, obat terapi hipertensi Ny. S di kobinasikan
Nifedipine, Methyldopa, Perdipine, dan Adalat. Pemberian Perdipine
dimulai pada pukul 13.00 dan Adalat pada pukul 18.00, hal ini dilakukan
karena tensi ibu masih dominan ≥ 160/100. Bahkan sempat naik hingga
200/120 mmHg pada tanggal 12 November 2017 pukul 12.00 dan 13.00.
Penatalaksanaan peningkatan dosis obat antihipertensi lainnya
dikolaborasikan dengan Dokter Cardio, dan dilakukan sesuai dengan
instruksi dari Dokter Cardio.
12. Pada tanggal 16, Ny. S diberi KSR atau Suplemen Kalsium. Hal ini sesuai
dengan reccomendasi WHO dalam buku “WHO Reccomendations for
prevention and treatment of pre-eclampsia dan eclampsia” bahwa didaerah
dimana asupan kalsium rendah, suplementasi kalsium selama kehamilan
(pada dosis 1,5-2,0 g elemental calcium/hari) direkomendasikan untuk
pencegahan pre eklampsia atau bahkan mereka yang beresiko tinggi
mengalami pre-eklamsia lebih parah. Evidence base : sedang, dengan
rekomendasi kuat. Berdasarkan pendapat Dr Peter von Dadelszen pemberian
suplemen kalsium pada ibu hamil tertentu dapat sebagai antihypertensive
259

agent ditubuhnya. Mungkin atas alasan ini Ny. S diberikan suplemen


kalsium.
13. Pada tanggal 16 November 2017, ibu pulang atas permintaan sendiri. Ibu
merasa dirinya sudah lebih baik dan mengajukan permohonan untuk pulang
(penghentian perawatan). Sudah dijelaskan resiko yang akan terjadi jika ibu
memaksa pulang dan menghentikan tindakan perawatan. Namun, ibu tetap
memaksa ingin pulang dan bersedia menanggung resikonya sendiri dengan
membuat surat pernyataan penolakan tindakan perawatan yang ditanda
tangani sendiri oleh ibu (klien), suami sebagai saksi, dokter dan bidan yang
memberi penjelasan serta perawat yang mendampingi.Hal ini tidak sesuai
dengan teori kepatuhan ibu hamil dalam pencegahan preeclampsia menjadi
eclampsia yaitu, pencegahan secara sekunder (upaya mencegah orang yang
telah sakit agar tidak menjadi parah) dilakukan dengan pemantauan ketat
dalam rawat inap dan pencegahan tersier (upaya mencegah terjadinya
komplikasi yang lebih berat atau membatasi kecacatan yang terjadi).
14. Algoritma tatalaksana Syndrome HELLP sesuai dengan teori dan
talaksananya di RSU Kabupaten Tangerang
260

Dengan usia kehamilan Ny. S <32 minggu Ny. S diberikan kortikosteroid


lalu di observasi respon kliniknya, ternyata Tekanan darah terkontrol dan
stabil. Oleh karena itu pasien di pantau di ruangan isolasi kamar bersalin
RSU Kab. Tangerang. Namun, karena pasien menginginkan pemberhentian
perawatan dan menginginkan pulang maka pasien dipulangkan atas
permintaan sendiri pada tanggal 16 November 2017. Dan pada tanggal 19
November 2017 pasien kembali lagi dan mengalami kondisi yang
memburuk pukul 00.30 dengan keluhan pusing, nyeri kepala hebat, dan
sesak napas. Saat dilakukan pemeriksaan darah didapatkan kadar LDH 940.
Kondisi pasien memburuk sehingga di rencanakan terminasi kehamilan
tanpa memandang usia kehamilan.

15. Karena kadar LDH nya lebih dari 600 IU/L maka dapat ditegakkan
diagnosis Syndrome HELLP Partial. Cara untuk menegakkan diagnosis
syndrome HELLP Partial adalah Melalui kriteria diagnosis syndrom
Klasifikasi Mississippi dan Tennessee. Dengan LDH Ny. S mencapai 940
maka syndrome HELLP Partial dapat ditegakkan.
261

Sistem Mississippi Sistem Tennessee

- Klas 1 Trombosit ≤ 50 K/mm3 Sindrom Komplit:


- Klas 2 Trombosit > 50 - ≤100 - Hemolisis (gambaran sel
K/mm3 abnormal)
- Klas 3 Trombosit >100 - ≤ 150 - AST ≥ 70 IU/L
K/mm3 - Platelet < 100 K/mm3
- LDH ≥ 600 IU/L

- AST dan atau ALT ≥ 40IU/L Sindroma Parsial:


- Hemolisis (gambaran sel Terdapat satu atau dua tanda
abnormal) diatas

- LDH ≥ 600 IU/L

4.2 Pembahasan Kasus Intranatal Care

Resume PengkajianAwal Pasien di Kamar Bersalin


Ny. S G3P2A0 usia 40 tahun usia kehamilan 29 minggu 3 hari di ruang
bersalin pada tanggal 19 November 2017 pukul 13.00 WIB dengan keluhan
pusing dan pandangan mata kabur. Dilakukan pemeriksaan umum, tanda-tanda
vital, pemeriksaan fisik dan pemeriksan dalam.Dari pemeriksaan umum
didapatkan hasil yaitu keadaan umum: baik; keadaan emosional : stabil;
kesadaran: compos mentis; TTVTD: 134/81mmHg, nadi: 68x/menit,
pernafasan: 27x/menit, suhu tubuh: 36,4ºC. Pada pemeriksaan antopometri
didapatkan hasil berat badan sebelum hamil: 57 kg, berat badan saat ini: 69 kg,
tinggi badan 155 cm, LiLA: 26 cm, IMT= 28,7 (Status gizi berlebih). Pada
pemeriksaan fisik didapatkan hasil wajah tidak pucat dantidak oedema; pada
pemeriksaan mata: konjungtiva merah muda, sklera putih tidak ikhterik, tidak
ada gangguan mata/penglihatan; warna bibir tampak merah muda; tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening/kelenjar tiroid pada leher; bentuk payudara
262

simetris, puting susu menonjol, aerola hiperpigmentasi, sudah terdapat


pengeluaran kolostrum, payudara tampak bersih; tidak ada bekas luka operasi di
bagian abdomen, TFU 19 cm, TBJ= 930 gram. Pada palpasi Leopold I: bagian
teratas perut ibu teraba satu bagian janin bulat dan keras (Kepala); Leopold II:
bagian kanan perut ibu teraba bagian terkecil janin (ekstremitas), bagian kiri
perut ibu teraba tahanan, luas, datar, memanjang seperti papan (punggung);
Leopold III: bagian terbawah perut ibu teraba bagian janin agak bulat, lunak,
tidak melenting (bokong); Leopold IV:bokong belum masuk PAP; kontraksi
uterus baik; His: 2x 10’20’’; DJJ 137x/menit (teratur/reguler); kandung kemih
kosong; ekstemitas atas tidak ada varises dan tidak oedema; ekstemitas bawah:
tidak ada varises, terdapat oedema pada kaki kanan dan kiri; pada inspeksi
genetalia: tampak bersih, tidak ada pengeluaran pervaginam, tidak ada gejala
PMS, tidak ada varises, tidak ada edema; pada pemeriksaan dalam vulva vagina
tidak ada kelainan, portio tebal lunak, belum ada pembukaan, ketuban (+) utuh,
presentasi bokong, posisi sacrum dan anus.
Hasil USG oleh dr. Dhika Prabu : ‘janin tunggal hidup intrauterin; plasenta
korpus anterior; belum ada maturasi; TBJ: 976 gram; ICA SDP 5,39; DJJ + 125
dpm; BPD 66; HC 240,9; AC 220,6 26+4 minggu.”
Hasil pemeriksaan laboratorium dengan kesan peningkatan LDH,
proteinuria. Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada tanggal 11-11.2017
pukul 02.52 dengan hasil Hematologi: Hb: 13,8 g/dL,lekosit: 17,23x103/UL,
hematokrit: 38%, trombosit: 215x103/UL; fungsi hati: SGOT: 26 U/L, SGPT 19
U/L; fungsi jantung: LDH: 522 U/L; urinalisa makroskopik: warna kuning
keruh, protein ++, urobilinogen: negatif.

Analisa penetapan diagnosa berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan


laboratorium
Berdasarkan teoridalam buku Obstetri William edisi 18disebutkan bahwa
gejalapreeklampsia antara lain, terjadigangguan visus dan serebral seperti
263

penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma dan pandangan kabur, terdapat


nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat
teregangnya kapsula Glisson). Pada pasien ini, ditemukan gejala yang sesuai
pada teori tersebut yaitu nyeri kepala dan pandangan mata kabur.
Dalam buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal
disebutkan bahwa faktor risiko pada preeklampsia adalah riwayat preeklampsia,
primigravida muda atau tua, genetik, kegemukan, merokok, kehamilan ganda,
riwayat penyakit hipertensi kronik, dan diabetes melitus. Pada pasien ini
didapatkan faktor risiko yaitu riwayat hipertensi kronik.
Dalam buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,
preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan
timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau
edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Pada pasien ini, didapatkan
oedema pada kaki kanan dan kiri dengan hasil tes celup urin menunjukkan
proteinuria dengan nilai ++.
Dalam buku sindrom HELLP parsial pada kehamilan prematuroleh
Jayakusuma A. disebutkan bahwa diagnosis sindrom HELLP ditegakkan
dengan adanya tanda dan gejala yang tidak khas malaise, lemah, nyeri kepala,
mual, muntah (semuanya ini mirip tanda dan gejala infeksi virus), tanda dan
gejala preeklampsia, tanda-tanda hemolisis intravaskular, khususnya kenaikan
LDH, AST, dan bilirubin indirek, tanda kerusakan/disfungsi sel hepatosit hepar:
kenaikan ALT, AST, LDH, trombositopenia : trombosit < 150.000/ml.
Berdasarkan teori tersebut, temuan yang didapatkan pada kasus sesuai dengan
diagnosis preeklampsia berat dan sindrom HELLP yaitu nyeri kepala, terdapat
tanda dan gejala preeklampsia dan ditemukan kenaikan nilai LDH yaitu 666
U/L yang menunjukkan tanda kerusakan/disfungsi sel hepatosit hepar.
Dalam buku ilmu kedokteran fetomaternal: sindroma HELLPdisebutkan
bahwa terdapat sindroma HELLP parsial apabila hanya dijumpai satu atau lebih
perubahan parameter sindroma HELLP yaitu hemolisis atau peningkatan enzim
264

hepar atau penurunan jumlah trombosit dengan karakteristik gambaran darah


tepi dijumpai burr cell, schistocyte atau spherocytes; LDH > 600 IU/L;
SGOT>40 IU/L; bilirubin > 1,2 ml/dL dan jumlah trombosit < 100.000/ mm3.
Pada pasien ini, ditemukan kenaikan nilai LDH yaitu 666 U/L yang
menunjukkan bahwa terdapat sindroma HELLP parsial.
Pada tanggal 20 November 2017, pukul 09:00 WIB Ibu mengatakan sudah
merasakan mulas-mulas. Dilakukan pemeriksaan umum, tanda-tanda vital,
pemeriksaan fisik dan pemeriksan dalam.Dari pemeriksaan umum didapatkan
hasil yaitu keadaan umum: baik; kesadaran: compos mentis; keadaan emosinal:
stabil;TTV TD: 157/96 mmHg, S: 35,9º C, RR: 19 x/menit, Nadi 73 x/menit;
kontraksi uterus :baik, his: 2x 10’20’’, DJJ: 134x/menit (teratur/reguler),
kandung kemih: kosong. Pada pemeriksaan dalam: vulva vagina; tidak ada
kelainan; portio: tebal lunak; pembukaan: 3 cm; ketuban: (+) utuh; presentasi:
bokong; posisi: sakrum dan anus; penurunan: H-II.
Selanjutnya dilakukan pemantauan kemajuan persalinan yaitu pemeriksaan
setiap 1 jam. Yang hasilnya sebagai berikut.

LEMBAR PEMANTAUAN PASIEN

Tangga IBU DJJ KETERANGAN


l Jam
KELUHAN K/U KES TD N S RR HIS

08:00 Baik CM 157/96 71 36,6 21 2x10’20’’ 137

Oksi 5 IU 24
09:00 Baik CM 157/96 73 35,9 19 3x10’20’’ 134 tpm, pembukaan
3cm
28 tpm
10:00 Baik CM 167/98 78 36,4 22 3x10’25’’ 136
pembukaan 3 cm
32 tpm
11:00 Baik CM 155/93 71 36,3 21 3x10’30’’ 131
pembukaan 7 cm
265

12:00 Baik CM 154/91 73 36,3 20 3x10’37’’ 132 40 pm

Berdasarkan pemantauan kemajuan persalinan diatas bisa disimpulkan


bahwa keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan terlihat kemajuan
persalinan yang baik yang bisa dilihat dari semakin lamanya his dan semakin
seringnya frekuensi his sesuai dalam buku Ilmu Kebidanan yang ditulis oleh
Sarwono pada tahun 2014 yaitu, his pada fase kala I permulaan adalah 3x his
dalam 10 menit yang durasinya 30.
Pada pukul 11.00 WIB ibu mengeluh perutnya mulas-mulas semakin
sering, lalu dilakukan pemeriksaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik
dan pemeriksan dalam. Dari pemeriksaan umum didapatkan hasil yaitu Keadaan
Umum: Baik, Kesadaran: Compos Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD:
155/93 mmHg, S: 36,3 ̊ C, RR: 21 x/menit, Nadi 71 x/menit, Pemeriksaan
Kebidanan Kontraksi uterus Baik, His 3 x 10’30’’, DJJ 131x/menit
(teratur/reguler), Kandung kemih kosong, Pemeriksaan dalam Vulva
vagina Tidak ada Kelainan, Portio Tebal lunak, Pembukaan 7cm, Ketuban (+)
utuh, Presentasi Bokong, Posisi Sacrum dan Anus, Penurunan H II – H III,
Molase 0.
Pada pukul 12.25 WIB ibu Ibu mengeluh mulesnya semakin sering dan
kuat, timbul rasa ingin meneran dan keluar air-air. Selanjutnya dilakukan
pemeriksaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik dan pemeriksan dalam.
Dari pemeriksaan umum didapatkan hasil yaitu Keadaan Umum: Baik,
Kesadaran: Compos Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD: 140/80 mmHg, S:
36,9 ̊ C, RR: 20 x/menit, Nadi 88 x/menit, Pemeriksaan Kebidanan Kontraksi
uterus Baik, His 4 x 10’45’’, DJJ 160x/menit (teratur/reguler), Kandung
kemihkosong, saat dilakukan pemeriksaan dalam Vulva vagina Tidak ada
Kelainan, Portio Tidak teraba, Pembukaan 10cm (lengkap), Ketuban (-) pecah
spontan warna jernih, Presentasi Bokong, Posisi Sacrum dan Anus, Penurunan
266

Hodge III+, Molase 0. Dengan pembukaan sudah lengkap yang berarti ibu
sudah memasuki kala II. Lalu selanjutnya yang dipantau adalah DJJ, menurut
buku Obstetri Williams tahun 2012 yang mengatakan bahwa selama trimester
III, rata-rata denyut jantung janin basal normal berkisar 120-160 denyut/menit
dan bisa dilihat dari hasil pemantauan DJJ dalam batas normal. Maka dapat
disimpulkan kemjuan persalinan maju kearah yang baik.
Ibu dianjurkan memilih posisi yang nyaman untuk bersalin dan ibu memilih
posisi litotomi. Ibu diajarkan cara mengedan yang baik dan mengedan saat ada
his, ibu bisa melakukannya dengan baik. Ny. S dipimpin meneran selama
kurang lebih 5 menit dengan Memimpin persalinan sungsang (dengan
menggunakan tekhnik Lovset, Klasik dan Moriceau ), Kemudian pada pukul
12.30 WIB bayi lahir spontan letak Bokong, merintih, tonus otot lemah, warna
kulit pucat, jenis kelamin perempuan. Segera setelah pemotongan tali pusat
dilakukan asuhan bayi baru lahir dengan BBLER, lalu Membawa bayinya ke
meja resusitasi untuk dilakukan penatalaksanaan awal resusitasi.
Hal ini sejalan dengan jurnal ya ng disusun oleh Reni Tri Lestari dan
Yuniar Wardani yang berjudul “INDUKSI PERSALINAN DENGAN
KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD
PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL” Hasil penelitian menunjukkan
22,19% persalinan pervaginam dilakukan induksi per-salinan dan 77,81%
persalinan pervaginam tidak dilakukan induksi persalinan. Sesuai dengan
standart operasional RSUD Panem-bahan Senopati Bantul setiap tindakan kebi-
danan dilakukan atas dasar indikasi tertentu. Indikasi tersebut antara lain
ketuban pecah dini, kehamilan post term, kehamilan dengan preeklamsia, partus
lama atau macet.
Angka kejadian asfiksia bayi baru lahir di RSUD Panembahan Senopati
Bantul pada bulan JanuariApril 2012 sebesar 47 (66,20%) dan tidak asfiksia
(33,80%) kasus dari total 71 kasus persalinan pervaginam dengan in-duksi.
Kejadian asfiksia adalah keadaan bayi tidak dapat segera bernapas secara
267

spontan dan teratur setelah lahir, yang disebabkan hipoksia janin dalam uterus
dan hipoksia ini dapat berhubungan dengan faktorfaktor yang timbul selama
kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir.
Hipoksia janin dapat menyebabkan asfiksia bayi baru lahir karena gangguan
pertukaran gas O2 dari ibu ke janin, sehingga terdapat gangguan dalam
persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan dapat bersifat
penyakit menahun yaitu pada ibu hamil yang menderita gizi buruk, penyakit
menahun seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Asfiksia
yang terjadi secara mendadak diakibatkan oleh hal-hal yang diderita ibu dalam
persalinan. Faktor dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu
mengakibatkan hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa jumlah kejadian induksi


persalinan di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2012 yaitu 71 pasien
(22,19%) dan jumlah yang tidak dilakukan induksi 249 pasien (77,81%).
Jumlah kejadian asfiksia dengan induksi persalinan yaitu 47 pasien (67,20%)
dan yang tidak mengalami asfiksia 24 pasien (22,80%). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan induksi persalinan dengan kejadian asfiksia
pada bayi baru lahir di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2012 dan
sesuai dengan odds ratio pasien yang dilakukan induksi persalinan diperkirakan
bayinya mengalami asfiksia 2,36 kali dari pada pasien yang tidak dilakukan
induksi persalinan.

Pada pukul 12.30 WIB Ibu mengatakan lega dan bersyukur karena telah
melahirkan bayinya. Ibu merasa masih ada rasa mulas. Selanjutnya adalah
mengecek adanya janin kedua atau tidak, dan tidak ada janin kedua. TFU teraba
sepusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong. Lalu melakukan
Manejemen Aktif Kala III yaitu suntik oksitosin, Penegangan Tali Pusat
Terkendali (PTT) dan massase uterus. Saat menunggu adanya tanda-tanda
pelepasan plasenta, teraba TFU setinggi pusat. Lalu terlihat adanya tanda-tanda
268

pelepasan plasenta seperti adanya semburan darah, tali pusat memanjang dan
uterus berbentuk globuler. Setelah dilakukan PTT, plasenta lahir pukul 12.35
WIB. Lalu dilakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta dan didapatkan hasil
Amnion dan korion utuh, kotiledon lengkap, dengan tebalnya ±2 cm,
diameternya ±20 cm. Insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat ±53 cm.
Jika berdasarkan data diatas, berjalannya kala III tidak ada masalah yang
menyimpang dari normal seperti TFU sebelum plasenta lahir setinggi pusat
yang memang normalnya menurut Tri Sunarsih (2011) dalam buku Asuhan
Kebidanan Pada Ibu Nifas bahwa TFU setelah bayi lahir adalah setinggi pusat.
Lalu plasenta lahir kurang dari 30 menit dan hal ini sesuai dengan dengan
Asuhan Persalinan Normal dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di
Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan yang menyatakan bahwa batas waktu
lahirnya plasenta yaitu 30 menit dan jika tidak lahir dalam 30 menit segera
rujuk ibu. Dan saat pemeriksaan plasenta, semua bagian plasenta lengkap yaitu
kotiledon lengkap, selaput utuh, tali pusat normal dengan insersi sentralis.
Pada pukul 12.35 WIB Ibu merasa masih lemas dan lelah, Dari
pemeriksaan umum didapatkan hasil yaitu Keadaan Umum: Baik, Kesadaran:
Compos Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD: 143/83 mmHg, S: 35,2 ̊ C, RR:
27 x/menit, Nadi 62 x/menit, Pemeriksaan Abdomen Kontraksi uterus
Baik, TFU 1 jari dibawah pusat, Pendarahan ±150 cc, Kandung kemih
Kosong, Setelah plasenta lahir langkah selanjutnya adalah melihat apakah
adanya robekan jalan lahir atau tidak, dan terlihat di jalan lahir Perineum tidak
ada robekan.
Dan dilakukan observasi nifas selama 2 jam yaitu setiap 15 menit pada jam
pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua (hasil pemantauan nifas terlampir
di partograf), dan dari hasil pemantauan nifas tersebut tidak ada masalah pada
ibu hanya tekanan darah ibu masih tinggi. Dilakukan tindakan merapikan ibu
dan alat-alat partus yaitu alat di rendam air klorin dengan perbandingan 1:9
269

selama 10 menit, setelah itu dicuci menggunakan sabun hingga bersih lalu
dikeringkan, setelah alat kering, selanjutnya di sterilisasi.
Puku TD Nadi Suhu TFU Kontraksi KK Perdarahan
l
12.50 143/83 mmhg 62 35,2oc 2jari dibawah Baik kosong 20 cc
pusat
13.05 146/82 mmHg 58 2jari dibawah Baik kosong
pusat
13.20 148/83 mmHg 57 2jari dibawah baik kosong
pusat
13.35 140/83 mmHg 53 2jari dibawah Baik kosong
pusat
o
14.05 155/90 mmHg 53 36.2 c 2jari dibawah Baik kosong
pusat
14.35 155/90 mmHg 56 2jari dibawah Baik kosong
pusat

Asuhan yang kami berikan selama menunggu pembukaan ialah teknik


relaksasi pernafasan, mobilisasi tidur miring kiri, pemberian hidrasi dan nutrisi,
serta selalu memantau kesejahteraan ibu dan janin (DJJ, his, TD, nadi, suhu dan
pernapasan).
Dalam menunggu pembukaan kami mengajarkan teknik relaksasi
pernafasan kepada Ny. S dan Ny. S pun bisa melakukannya dengan baik karena
sudah memiliki pengalaman pada anak yang sebelumnya.
Dan asuhan selanjutnya yang kami berikan adalah menganjurkan ibu
memenuhi nutrisi dan hidrasi agar tidak kehabisan energi saat meneran.
Menurut Evidence Base Midwifery tahun 2003, wanita bersalin membutuhkan
kurang lebih 50-100 kilokalori energi setiap jam, dan jika tidak terpenuhi,
mereka akan mengalami kelelahan otot dan kelaparan yang sangat. Jika glukosa
tidak tersedia, cadangan lemak digunakan sehingga menyebabkan ketosis dan
270

pada akhirnya terjadi ketonuria. Aktifitas uterus dapat menurun akibat


akumulasi benda keton.
Ibu tetap di perbolehkan makan dan minum karena berdasarkan EBM
diperoleh kesimpulan bahwa:
a. Pada saat bersalin ibu mebutuhkan energy yang besar, oleh karena itu jika
ibu tidak makan dan minum untuk beberapa waktu atau ibu yang
mengalami kekurangan gizi dalam proses persalinan akan cepat mengalami
kelelahan fisiologis, dehidrasi dan ketosis yang dapat menyebabkan gawat
janin.
b. Ibu bersalin kecil kemungkinan menjalani anastesi umum, jadi tidak ada
alasan untuk melarang makan dan minum.
c. Efek mengurangi/mencegah  makan dan minum mengakibatkan
pembentukkan glukosa intravena yang telah dibuktikan dapat berakibat
negative terhadap janin dan bayi baru lahir oleh karena itu ibu bersalin
tetap boleh makan dan minum. Hal ini berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Larence 1982, Tamow-mordi Starw dkk 1981, Ruter
Spence dkk 1980, Lucas 1980.
Pada kenyataannya, bisa dilihat pada Ny. S Saat disarankan untuk tetap
memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu melakukan dengan baik, ibu
memakan makananan yang disediakan oleh pihak RS hingga habis dan minum
teh manis disela-sela his. Sehingga saat persalinan terlihat Ny. S tidak lemas
dan tidak kehabisan tenaga serta kuat meneran dengan baik
Ny. S G3P2A0 pada tanggal 20 November 2017 pukul 08.00 WIB dengan
keluhan Ibu sudah merasakan mulas-mulas. Dilakukan pemeriksaan umum,
tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik dan pemeriksan dalam. Dari pemeriksaan
umum didapatkan hasil yaitu Keadaan Umum: Baik, Kesadaran: Compos
Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD: 157/96 mmHg, S: 36 ̊ C, RR: 21
x/menit, Nadi 71 x/menit. Berdasarkan Pemeriksaan Antopometri didapatkan
271

hasil Berat badan sebelum hamil 57 Kg, 1Berat badan sekarang 69 Kg, Tinggi
badan 155 cm, LILA 26 cm, IMT 69 :(1,55)2 = 28,7 (Status gizi berlebih).
Saat pemeriksaan fisik didapatkan hasil wajah tidak oedema, konjungtiva
merah muda tidak pucat, sklera putih tidak ikhterik, tidak ada gangguan
mata/penglihatan, warna bibir tampak merah muda, leher tidak ada pembesaran
kelenjar getah bening/kelenjar tiroid, bentuk payudara simetris, puting susu
menonjol, aerola hiperpigmentasi, sudah terdapat pengeluaran kolostrum,
payudara tampak bersih, tidak ada bekas luka operasi di bagian abdomen, TFU
19 cm, TBJ (19-13) x 155 = 930 gram, Hasil pemeriksaan palpasi Leopold I
bagian teratas perut ibu teraba satu bagian janin bulat dan keras (Kepala).
Leopold II bagian kanan perut ibu teraba bagian terkecil janin (ekstremitas),
bagian kiri perut ibu teraba tahanan, luas, datar, memanjang seperti papan
(punggung), Leopold III bagian terbawah perut ibu teraba bagian janin agak
bulat, lunak, tidak melenting (bokong), Leopold IV teraba Bokong belum
Masuk PAP, Kontraksi uterus Baik, His 2x 10’20’’, DJJ 137x/menit
(teratur/reguler), Kandung kemih kosong, Ekstemitas Atas tidak ada varises,
Oedema ka/ki -/-, Ekstemitas Bawah Tidak ada varises, Oedema ka/ki +/+,
pemeriksaan genetalia dengan Inspeksi Kebersihan Tampak bersih, Tidak ada
Pengeluaran pervagina, Tidak ada Gejala PMS, Tidak ada Varises, Tidak ada
Edema, Pemeriksaan dalam Vulva vagina Tidak ada Kelainan, Portio Tebal
lunak, Pembukaan 3 cm, Ketuban (+) utuh, Presentasi Bokong, Posisi Sacrum
dan Anus, Penurunan H-II, Molase tidak ada.
Selanjutnya dilakukan pemantauan kemajuan persalinan yaitu pemeriksaan
setiap 1 jam. Yang hasilnya sebagai berikut

LEMBAR PEMANTAUAN PASIEN

Tangga IBU DJJ KETERANGAN


l Jam
KELUHAN K/U KES TD N S RR HIS
272

08:00 Baik CM 157/96 71 36,6 21 2x10’20’’ 137

Oksi 5 IU 24
09:00 Baik CM 157/96 73 35,9 19 3x10’20’’ 134 tpm, pembukaan
3cm
28 tpm
10:00 Baik CM 167/98 78 36,4 22 3x10’25’’ 136
pembukaan 3 cm
32 tpm
11:00 Baik CM 155/93 71 36,3 21 3x10’30’’ 131
pembukaan 7 cm

12:00 Baik CM 154/91 73 36,3 20 3x10’37’’ 132 41 pm

Berdasarkan pemantauan kemajuan persalinan diatas bisa disimpulkan


bahwa keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan terlihat kemajuan
persalinan yang baik yang bisa dilihat dari semakin lamanya his dan semakin
seringnya frekuensi his sesuai dalam buku Ilmu Kebidanan yang ditulis oleh
Sarwono pada tahun 2014 yaitu, his pada fase kala I permulaan adalah 3x his
dalam 10 menit yang durasinya 30.
Pada pukul 11.00 WIB ibu mengeluh perutnya mulas-mulas semakin
sering, lalu dilakukan pemeriksaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik
dan pemeriksan dalam. Dari pemeriksaan umum didapatkan hasil yaitu Keadaan
Umum: Baik, Kesadaran: Compos Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD:
155/93 mmHg, S: 36,3 ̊ C, RR: 21 x/menit, Nadi 71 x/menit, Pemeriksaan
Kebidanan Kontraksi uterus Baik, His 3 x 10’30’’, DJJ 131x/menit
(teratur/reguler), Kandung kemih kosong, Pemeriksaan dalam Vulva
vagina Tidak ada Kelainan, Portio Tebal lunak, Pembukaan 7cm, Ketuban (+)
utuh, Presentasi Bokong, Posisi Sacrum dan Anus, Penurunan H II – H III,
Molase 0.
Pada pukul 12.25 WIB ibu Ibu mengeluh mulesnya semakin sering dan
kuat, timbul rasa ingin meneran dan keluar air-air. Selanjutnya dilakukan
273

pemeriksaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik dan pemeriksan dalam.


Dari pemeriksaan umum didapatkan hasil yaitu Keadaan Umum: Baik,
Kesadaran: Compos Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD: 140/80 mmHg, S:
36,9 ̊ C, RR: 20 x/menit, Nadi 88 x/menit, Pemeriksaan Kebidanan Kontraksi
uterus Baik, His 4 x 10’45’’, DJJ 160x/menit (teratur/reguler), Kandung
kemihkosong, saat dilakukan pemeriksaan dalam Vulva vagina Tidak ada
Kelainan, Portio Tidak teraba, Pembukaan 10cm (lengkap), Ketuban (-) pecah
spontan warna jernih, Presentasi Bokong, Posisi Sacrum dan Anus, Penurunan
Hodge III+, Molase 0. Dengan pembukaan sudah lengkap yang berarti ibu
sudah memasuki kala II. Lalu selanjutnya yang dipantau adalah DJJ, menurut
buku Obstetri Williams tahun 2012 yang mengatakan bahwa selama trimester
III, rata-rata denyut jantung janin basal normal berkisar 120-160 denyut/menit
dan bisa dilihat dari hasil pemantauan DJJ dalam batas normal. Maka dapat
disimpulkan kemjuan persalinan maju kearah yang baik.
Ibu dianjurkan memilih posisi yang nyaman untuk bersalin dan ibu memilih
posisi litotomi. Ibu diajarkan cara mengedan yang baik dan mengedan saat ada
his, ibu bisa melakukannya dengan baik. Ny. S dipimpin meneran selama
kurang lebih 5 menit dengan Memimpin persalinan sungsang (dengan
menggunakan tekhnik Lovset, Klasik dan Moriceau ), Kemudian pada pukul
12.30 WIB bayi lahir spontan letak Bokong, menangis kuat, tonus otot aktif,
warna kulit kemerahan, jenis kelamin perempuan. Segera setelah pemotongan
tali pusat dilakukan asuhan bayi baru lahir dengan BBLER, lalu Membawa
bayinya ke meja resusitasi untuk dilakukan penatalaksanaan awal resusitasi.
Pada pukul 12.30 WIB Ibu mengatakan lega dan bersyukur karena telah
melahirkan bayinya. Ibu merasa masih ada rasa mulas. Selanjutnya adalah
mengecek adanya janin kedua atau tidak, dan tidak ada janin kedua. TFU teraba
sepusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong. Lalu melakukan
Manejemen Aktif Kala III yaitu suntik oksitosin, Penegangan Tali Pusat
Terkendali (PTT) dan massase uterus. Saat menunggu adanya tanda-tanda
274

pelepasan plasenta, teraba TFU setinggi pusat. Lalu terlihat adanya tanda-tanda
pelepasan plasenta seperti adanya semburan darah, tali pusat memanjang dan
uterus berbentuk globuler. Setelah dilakukan PTT, plasenta lahir pukul 12.35
WIB. Lalu dilakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta dan didapatkan hasil
Amnion dan korion utuh, kotiledon lengkap, dengan tebalnya ±2 cm,
diameternya ±20 cm. Insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat ±53 cm.
Jika berdasarkan data diatas, berjalannya kala III tidak ada masalah yang
menyimpang dari normal seperti TFU sebelum plasenta lahir setinggi pusat
yang memang normalnya menurut Tri Sunarsih (2011) dalam buku Asuhan
Kebidanan Pada Ibu Nifas bahwa TFU setelah bayi lahir adalah setinggi pusat.
Lalu plasenta lahir kurang dari 30 menit dan hal ini sesuai dengan dengan
Asuhan Persalinan Normal dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di
Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan yang menyatakan bahwa batas waktu
lahirnya plasenta yaitu 30 menit dan jika tidak lahir dalam 30 menit segera
rujuk ibu. Dan saat pemeriksaan plasenta, semua bagian plasenta lengkap yaitu
kotiledon lengkap, selaput utuh, tali pusat normal dengan insersi sentralis.
Pada pukul 12.35 WIB Ibu merasa masih lemas dan lelah, Dari
pemeriksaan umum didapatkan hasil yaitu Keadaan Umum: Baik, Kesadaran:
Compos Mentis, Keadaan Emosinal: Stabil, TD: 143/83 mmHg, S: 35,2 ̊ C, RR:
27 x/menit, Nadi 62 x/menit, Pemeriksaan Abdomen Kontraksi uterus
Baik, TFU 1 jari dibawah pusat, Pendarahan ±150 cc, Kandung kemih
Kosong, Setelah plasenta lahir langkah selanjutnya adalah melihat apakah
adanya robekan jalan lahir atau tidak, dan terlihat di jalan lahir Perineum tidak
ada robekan.
Dan dilakukan observasi nifas selama 2 jam yaitu setiap 15 menit pada jam
pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua (hasil pemantauan nifas terlampir
di partograf), dan dari hasil pemantauan nifas tersebut tidak ada masalah pada
ibu hanya tekanan darah ibu masih tinggi. Dilakukan tindakan merapikan ibu
dan alat-alat partus yaitu alat di rendam air klorin dengan perbandingan 1:9
275

selama 10 menit, setelah itu dicuci menggunakan sabun hingga bersih lalu
dikeringkan, setelah alat kering, selanjutnya di sterilisasi.
Puku TD Nadi Suhu TFU Kontraksi KK Perdarahan
l
12.50 143/83 mmhg 62 35,2oc 2jari dibawah Baik kosong 20 cc
pusat
13.05 146/82 mmHg 58 2jari dibawah Baik kosong
pusat
13.20 148/83 mmHg 57 2jari dibawah baik kosong
pusat
13.35 140/83 mmHg 53 2jari dibawah Baik kosong
pusat
o
14.05 155/90 mmHg 53 36.2 c 2jari dibawah Baik kosong
pusat
14.35 155/90 mmHg 56 2jari dibawah Baik kosong
pusat

Asuhan yang kami berikan selama menunggu pembukaan ialah teknik


relaksasi pernafasan, mobilisasi tidur miring kiri, pemberian hidrasi dan nutrisi,
serta selalu memantau kesejahteraan ibu dan janin (DJJ, his, TD, nadi, suhu dan
pernapasan).
Dalam menunggu pembukaan kami mengajarkan teknik relaksasi
pernafasan kepada Ny. S dan Ny. S pun bisa melakukannya dengan baik karena
sudah memiliki pengalaman pada anak yang sebelumnya.
Dan asuhan selanjutnya yang kami berikan adalah menganjurkan ibu
memenuhi nutrisi dan hidrasi agar tidak kehabisan energi saat meneran.
Menurut Evidence Base Midwifery tahun 2003, wanita bersalin membutuhkan
kurang lebih 50-100 kilokalori energi setiap jam, dan jika tidak terpenuhi,
mereka akan mengalami kelelahan otot dan kelaparan yang sangat. Jika glukosa
tidak tersedia, cadangan lemak digunakan sehingga menyebabkan ketosis dan
276

pada akhirnya terjadi ketonuria. Aktifitas uterus dapat menurun akibat


akumulasi benda keton.
Ibu tetap di perbolehkan makan dan minum karena berdasarkan EBM
diperoleh kesimpulan bahwa:
a. Pada saat bersalin ibu mebutuhkan energy yang besar, oleh karena itu jika
ibu tidak makan dan minum untuk beberapa waktu atau ibu yang mengalami
kekurangan gizi dalam proses persalinan akan cepat mengalami kelelahan
fisiologis, dehidrasi dan ketosis yang dapat menyebabkan gawat janin.
b. Ibu bersalin kecil kemungkinan menjalani anastesi umum, jadi tidak ada
alasan untuk melarang makan dan minum.
c. Efek mengurangi/mencegah  makan dan minum mengakibatkan
pembentukkan glukosa intravena yang telah dibuktikan dapat berakibat
negative terhadap janin dan bayi baru lahir oleh karena itu ibu bersalin tetap
boleh makan dan minum. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Larence 1982, Tamow-mordi Starw dkk 1981, Ruter Spence dkk 1980,
Lucas 1980.
Pada kenyataannya, bisa dilihat pada Ny. S Saat disarankan untuk tetap
memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu melakukan dengan baik, ibu
memakan makananan yang disediakan oleh pihak RS hingga habis dan minum
teh manis disela-sela his. Sehingga saat persalinan terlihat Ny. S tidak lemas
dan tidak kehabisan tenaga serta kuat meneran dengan baik

4.3 Pembahasan Kasus Postnatal Care


Analisa dari penulis mengenai kesenjangan- kesenjangan yang terjadi
antara teori dengan tinjauan kasus, setelah melakukan Asuhan Kebidanan
Postpartum pada Ny. S dengan Nifas Patologis di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang.
277

1. Ny. S masuk Ruang Anyelir Bawah pada tanggal 20 November 2017 pukul
14.00 WIB. Ny. S baru saja melahirkan secara spontan pervaginam pada
tanggal 21 November 2017 pukul 11.30 WIB, bayi lahir dengan jenis
kelamin laki- laki dengan berat badan lahir 900 gram dan panjang badan 47
cm.
2. Saat dilakukan anamnesa Ny. S mengeluh masih merasa mulas pada
perutnya. Hal ini normal dan menunjukkan bahwa kontraksi uterus baik.
Kontraksi uterus dikatakan baik apabila pasca melahirkan perut terasa mulas
dan teraba keras.
3. Setelah dikaji usia dan riwayat penyakit dalam keluarga (herediter) Ny. S
yaitu, usia ibu 38 tahun, keluarganya (orang tua) memiliki hipertensi. Selain
itu Ny. S memiliki hipertensi yang timbul dari sebelum kehamilan dan
terdapat protein dalam urine (superimposed preeclampsia). Hal ini sesuai
dengan American Journal of Obstetric and Gynecology yang berjudul
Etiology and Management of Postpartum Hypertension-Preeclampsia yang
mengatakan hipertensi postpartum dapat berhubungan dengan hipertensi
gestasional yang menetap, preeklamsia atau hipertensi kronik. Selain itu,
Hipertensi atau eksaserbasi hipertensi postpartum mungkin karena
hipertensi kronik esensial yang tidak terdiagnosis atau karena eksaserbasi
hipertensi setelah kelahiran pada pasien dengan superimpose preeclamsia.
4. Saat dilakukan pemeriksaan didapatkan Tekanan Darah Ny. S 155/80
mmHg, Nadi 80 kali per menit, Pernafasan 20 kali per menit, Suhu 36,0°C,
ditemukan oedema pada kaki. Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara
teori dan kasus, hal ini sesuai dnegan teori tanda dan gejala Preeklamsia
Berat yaitu sistolik ≥ 160 mmHg dan diastolik ≥ 110 mmHg dan dari hasil
urin menunjukkan ++ 2.
5. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, pada kaki Ny. S terdapat oedema.
Oedema tersebut muncul karena adanya penumpukan cairan pada ruang
278

intertisial (celah diantara sel). Hal ini disebabkan karena laju filtrasi
glomerulus berlangsung cepat sehingga terdapat kerusakan pada sel endotel.
Adanya kerusakan pada sel endotel meningkatkan permeabilitas vaskular,
memungkinkan air keluar dari celah- celah pembuluh darah antara sel
endotel dan masuk ke jaringan. Selain itu karena adanya kehilangan protein
dari darah akibat proteinuria, semakin banyak cairan yang bergerak dari
pembuluh darah masuk ke jaringan. Hal ini menyebabkan edema umum
yang sering terlihat pada kaki, wajah dan tangan.
6. Ny. S diberi terapi obat Dopamet dan Asam Folat. Pemberian dopamet
dalam hal ini sesuai dengan teori penatalaksanaan kasus preekalmsia berat
pada buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar.
Pemberian asam folat dalam hal ini sesuai dengan penatalaksanaan nifas
normal pada buku saku pelayanan kesehatan ibu difasilitas kesehatan dasar.
7. Pada tanggal 15 November 2017 dilakukan pemeriksaan laboraturium pada
Ny. S dimana hasilnya sebagai berikut:

TEST RESULT REFERENCES UNITS


HEMATOLOGI
Hemoglobin 13,8 11,7 – 15,5 g/dL
Lekosit 14,8 3,60 – 11,00 x10^3/ul
Hematokrit 40 35 – 47 %
Trombosit 119 140 – 440 x10^3/ul
KIMIA
FUNGSI HATI
SGOT 55 0 – 35 U/L
SGPT 29 0 – 35 U/L
FUNGSI GINJAL
Ureum 23 0 – 50 mg/dL
Kreatinin 0,7 0,0 – 1,1 mg/dL
FUNGSI
JANTUNG
LDH 940 0 – 480 U/L
279

URINALISA
MAKROSKOPIK
Warna Kuning Kuning
Kekeruhan Agak keruh Jernih
CARIK CELUP
Lekosit Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Urobilinogen Negatif 0,1 – 1 umol/L
Protein ++ Negatif

Berdasarkan hasil laboraturium pada bagian fungsi jantung LDH


(Laktat Dehidrogenase) dimana normalnya adalah 0 – 480 U/L sedangkan
LDH pada Ny. S yaitu 940 U/L, Lekosit normalnya 3,60 – 11,00 x10^3/ul
sedangkan Lekosit pada Ny. S yaitu 14,8 x10^3/ul, dan Hematokrit
normalnya 35- 47. Hasil laboraturium tersebut menunjukkan bahwa Ny. S
mengalami HELLP Syndroma Partial. Hal ini sesuai dengan jurnal yang
berjudul “Luaran Ibu dan Bayi Pada Penderita Preeklamsia Berat dan
Eklamsia dengan atau tanpa Sindorma HELLP” oleh Sarah Dina dari bagian
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,
yaitu adanya satu atau lebih gejala dari ketiga parameter sindrom HELLP.

8. Pada kasus Ny. S ini belum dapat ditegakkan diagnosa Syndrom HELLP
postpartum dikarenakan tidak dilakukannya pemeriksaan penunjang setelah
proses persalinan tetapi menurut jurnal HELLP Sindrom postpartum muncul
di 48 jam pertama setelah melahirkan dengan tanda gejala utama terdapat
proteinuria dan tekanan darah tinggi, serta tanda gejala tersebut biasanya
muncul secara cepat.
9. Ny. S terpasang infus 500 cc RL + 6 gram MgSO4 kalf ke-2 sehingga Ny. S
terpadang dower cateter, dan dilakukan observasi tekanan darah, nadi, suhu,
pernafasan dan diuresis. Hal ini sesuai dengan teori pada Buku Saku
280

Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan yaitu


syarat pemberian MgSO4 adalah tersedianya Ca Glukonas 10%, adanya
refleks patella, jumlah urin minimal 0,5 ml/kgBB/jam, dan pernafasan tidak
kurang dari 16 kali per menit.
10. Pada tanggal 21 November 2017, Ny. S masuk pada hari kedua postpartum.
Saat dilakukan anamnesa, Ny. S mengeluh masih merasakan mulas pada
bagian perutnya. Setelah dilakukan palpasi abdomen, perut Ny. S teraba
keras, hal ini menunjukkan bahwa involusi uterus pada Ny.S berjalan
dengan baik karena sedang dalam proses pengembalian bentuk rahim seperti
sebelum hamil.
11. Saat dilakukan pemeriksaan fisik pada Ny. S didapatkan tinggi fundus uteri
(TFU) 3 jari di bawah pusat dan perut teraba keras. Hal ini normal karena
menunjukkan proses involusi uterus berjalan dengan baik
(Pusdisnakes;2003 dan Varney;2009).
12. Saat dilakukan pemeriksaan tanda- tanda vital pada Ny. S didapatkan
tekanan darah 160/90 mmHg, Nadi 70 x/menit, Pernafasan 20 x/menit dan
Suhu 36,5°C.
13. Pada kaki Ny. S terdapat oedema. Hal ini disebabkan karena laju filtrasi
glomerulus berlangsung cepat sehingga terdapat kerusakan pada sel endotel.
Adanya kerusakan pada sel endotel meningkatkan permeabilitas vaskular,
memungkinkan air keluar dari celah- celah pembuluh darah antara sel
endotel dan masuk ke jaringan. Selain itu karena adanya kehilangan protein
dari darah akibat proteinuria, semakin banyak cairan yang bergerak dari
pembuluh darah masuk ke jaringan. Hal ini menyebabkan edema umum
yang sering terlihat pada kaki, wajah dan tangan.
14. Saat dilakukan pemeriksaan anogenital, terdapat pengeluaran lochea rubra.
Hal ini sesuai dengan teori dimana lochea rubra berlangsung pada hari
pertama sampai hari ketiga masa pospartum.
281

15. Pada Ny. S dilakukan bledder training sebelum dilakukan aff down cateter.
Bledder training ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi tonus otot
kandung kemih.
16. Ny. S diberikan terapi adalat oros 2x30 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg,
cefadroxile 2 x 500 mg. Pemberian adalat oros dalam hal ini sesuai dengan
teori penatalaksanaan kasus preekalmsia dan eklampsia pada buku saku
pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan, pemberian
asam mefenamat berguna untuk mengurangi raa nyeri, dan pemberian
cefadroxile berguna untuk mencegah infeksi.
17. Pada tanggal 22 November 2017, Ny, S memasuki hari ke tiga post partum.
Saat dilakukan anamnesa, Ny. S mengeluh mulas dibagian perutnya. Setelah
dilakukan palpasi abdomen, perut Ny. S teraba keras, hal ini menunjukkan
bahwa involusi uterus pada Ny. S berjalan dengan baik karena sedang dalam
proses pengembalian bentuk rahim seperti sebelum hamil.
18. Saat dilakukan pemeriksaan tanda- tanda vital pada Ny. S didapatkan
tekanan darah 140/90 mmHg, Nadi 86 x/menit, Pernafasan 20 x/menit dan
Suhu 36,5°C.
19. Saat dilakukan pemeriksaan fisik pada Ny. S didapatkan tinggi fundus uteri
(TFU) 2 jari di bawah pusat dan perut teraba keras. Hal ini normal karena
menunjukkan proses involusi uterus berjalan dengan baik
(Pusdisnakes;2003 dan Varney;2009).
20. Saat dilakukan pemeriksaan anogenital, terdapat pengeluaran lochea rubra.
Hal ini sesuai dengan teori dimana lochea rubra berlangsung pada hari
pertama sampai hari ketiga masa pospartum.
21. Ny. S diberikan terapi oros 2x30 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg,
cefadroxile 2 x 500 mg. Pemberian adalat oros dalam hal ini sesuai dengan
teori penatalaksanaan kasus preekalmsia dan eklampsia pada buku saku
pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan, pemberian
282

asam mefenamat berguna untuk mengurangi raa nyeri, dan pemberian


cefadroxile berguna untuk mencegah infeksi.
283

4.4 Pembahasan Kasus Neonatus

Analisa mengenai kesesuaian antara teori dengan kasus, setelah


dilakukannya pengkajian serta asuhan kebidanan bayi patologi pada bayi Ny. S
dengan diagnosa bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR).

1. Bayi Ny. S lahir pada pukul 12.30 WIB dengan persalinan normal spontan
pervaginam berjenis kelamin laki-laki. Dilakukan penilaian awal segera
setelah bayi baru lahir dan didapatkan tonus otot lemah, warna kulit pucat
dan merintih. Setelah didapatkan hal tersebut, dilakukan 5 langkah awal
bayi dengan menjaga kehangatan, mengatur posisi bayi, menghisap lendir,
mengeringkan dan rangsangataktil serta, memposisikan kembali bayi.
Evaluasi dari langkah awal tersebut didapatkan bayi dengan kondisi
bernapas normal, kulit kemerahan dan tonus otot baik. Penilaian dan
langkah awal ini berdasarkan Manajemen bayi baru lahir pada buku saku
pelayanan kesehatan anak di Rumah Sakit.
2. Bayi Ny. S dilakukan pemantauan tanda bahaya, perawatan tali pusat,
pencegahan hipotermi, pemberian Vitamin K dan obat salep/tetes mata
serta dilakukan pemeriksaan fisik lengkap. Evaluasi dari asuhan yang
dilakukan, bayi tidak didapati tanda bahaya, sudah dilakukan perawatan tali
pusat dengan mengikat tali pusat dengan benang tali pusat, melakukan
pencegahan hipotermi dengan meletakkan bayi di infant warmer, melakukan
penyuntikkan vitamin K dan pemberian obat tetes mata, setelah itu
dilakukan pemeriksaan fisik lengkap seperti dibawah ini :
No. PEMERIKSAAN HASIL

1 Postur, tonus dan aktivitas Tonus baik, aktivitas aktif


2 Kulit Bayi Kemerahan
3 Pernapasan ketika bayi sedang tidak Tidak ada retraksi dada
menangis
284

No. PEMERIKSAAN HASIL


4 Detak Jantung Teratur
5 Suhu Ketiak 36.5oC
6 Kepala Tidak ada caput succedeneum
dan tidak ada cepalhematoma
7 Mata Simetris dan tidak ada kelainan
8 Mulut (lidah, selaput lendir) Tidak didapati labiaskizis dan
palatoskizis
9 Perut dan tali pusat Tidak ada omfalokel dan
gastroskizis
10 Punggung dan tulang belakang Tidak ada spina bivida
11 Lubang anus Terdapat lubang anus
12 Alat kelamin Terdapat testis kanan dan kiri,
skrotum belum turun (belum
matur)
13 Berat badan 900 gram
14 Panjang 35 cm
15 Lingkar Kepala 26 cm
Asuhan ini dilakukan berdasarkan Manajemen bayi baru lahir pada
buku saku pelayanan kesehatan anak di Rumah Sakit.
3. Bayi Ny. S setelah dilakukan pemeriksaan awal serta dilakukan kolaborasi
dengan dokter berdasarkan hasil yang didapati, ditegakkan diagnosa bahwa
Bayi Ny. S merupakan Bayi baru lahir dengan Berat badan lahir amat sangat
rendah yaitu 900 gram, berdasarkan world health organization bayi dengan
berat badan lahir <1000 gram merupakan klasifikasi Bayi berat badan lahir
amat sangat rendah (BBLASR).
4. Bayi Ny. S datang ke Ruang Perinatologi Atas dilakukan penjagaan
285

kehangatan bayi dengan meletakkan bayi di infant warmer terlebih dahulu


dan dilakukan penilaian ulang tanda-tanda vital dan tanda-tanda bahaya,
didapati denyut nadi 118x/menit, pernapasan 50x/menit dan suhu 36 oC dan
juga terdapat tanda-tanda bahaya seperti bayi merintih dan terdapat retraksi
dada. Dengan indikasi tersebut, bayi diletakkan di inkubator dengan rentang
suhu 34oC-35oC menurut tabel pemakaian suhu inkubator infant di RSU
Kab. tangerang. Dan dilakukan pemasangan CPAP dan saturasi oximeter
sesuai standar operasional dan prosedur dengan indikasi tanda-tanda vital
tersebut oleh perawat RSU Kab.Tangerang dan dilakukan pemasangan
oximeter untuk memandu terapi oksigen, saturasi oksigen yang didapati
selama 12 hari tidak pernah kurang dari 90%, saturasi oksigen berkisar
92%-98%, hal tersebut sesuai dengan buku saku pelayanan kesehatan anak
di rumah sakit.
5. Bayi Ny. S dilakukan pemasangan Orogastric Tube (OGT) untuk memantau
pengeluaran cairan residu serta untuk pemberian minum dikarenakan refleks
hisap pada BBLR belum baik. Bayi Ny. S diberikan pemberian minum
dimulai pada hari kedua dikarenakan perut tidak distensi dan lembut,
terdapat bising usus, telah keluar mekonium dan tidak terdapat apnu yaitu
pada tanggal 21 November 2017 diawali dengan pemberian 3 ml setiap 1-2
jam melalui OGT, dan pemberian volume minum ditingkatkan sebanyak 1-2
mL setiap harinya. Hal tersebut sesuai dengan dosis obat umum yang dapat
diberikan pada bayi baru lahir menurut buku saku pelayanan kesehatan anak
di rumah sakit.
6. Bayi Ny. S dilakukan pemasangan IVFD dengan cairan dextrose 10% 3
mL/jam dan maximal perhari diberikan 100 ml/kg/hari pada hari pertama
untuk mengatasi kekurangan glukosa dalam darah, hal ini sesuai dengan
penatalaksanaan hipoglikemia pada bayi baru lahir menurut Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo dan pada hari selanjutnya diteruskan dengan
pemberian cairan infus N5+KCL+Ca Gluconase dengan dosis awal 3
286

mL/jam sesuai standar prosedur RSU. Kab. Tangerang.


7. Bayi Ny. S dilakukan pemeriksaan hematologi dan kimia gas darah untuk
data penunjang dan didapatkan hasil sebagai berikut;

Test Result Reference

Hemoglobin 13,6 gr/dL 13,2 – 17,3


Lekosit 12,87 3,80 – 10,60
Hematokrit 39 40 – 52
Trombosit 181 140 – 440
Golongan darah A
Rhesus faktor Positif
CRP 0,05 0,00 – 6,00
GDS 36 mg/dL >47 mg/dL

Test

Kimia Hasil Referensi

Gas Darah

pH (T) 7.354 7.350-7.450

pCO2 (T) 27.60 35.00-45.00 mmHg

PO2 (T) 92.1 80.0-104.0 mmHg

HCO3-act 15.2 22.0-26.0 mmHg

TCO2 16.1 23.0-27.0 mmol/L

BE (vt) -9.1 -2.5-2.5 mmol/L

BE (vv) -10.6 -2.5-2.5 mmol/L

O2 Saturasi 97.2 96.0-97.0 %

Berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi tersebut, didapati hasil


287

glukosa darah 36 mg/dL dan hal tersebut menyatakan bahawa bayi


mengalami kekurangan glukosa dalam darah dan telah diberikan terapi
IVFD Dextrose 10% pada hari pertama
8. Bayi Ny. S dilakukan pemantauan tanda-tanda vital setiap harinya.
Berdasarkan tabel observasi diatas, dilakukan pemantauan tanda-tanda vital
setiap hari untuk memantau nadi, suhu, pernapasan dan didapatkan tanda-
tanda vital dalam batas normal serta tidak ditemukan tanda-tanda bahaya
seperti hari pertama saat datang ke perinatologi atas. Hasil tanda-tanda vital
dalam batas normal sesuai dengan buku saku pelayanan kesehatan anak di
rumah sakit seperti, Pernapasan normal yaitu tidak <20x/menit dan
>60x/menit, suhu antara 36.5oC-37.5oC dan nadi >100x/menit.

Tabel 1. Pemantauan Tanda – Tanda Vital Bayi


Tanggal Nadi Suhu RR
20-11-2017 118x/m 36,5oC 50x/m
21-11-2017 137x/m 37,2oC 48x/m
22-11-2017 156x/m 37,1oC 50x/m
23-11-2017 155x/m 36,8oC 42x/m
24-11-2017 137x/m 36,7oC 50x/m
25-11-2017 136x/m 37,1oC 47x/m
26-11-2017 135x/m 37,3oC 47x/m
27-11-2017 135x/m 37,3oC 48x/m
28-11-2017 135x/m 37,5oC 48x/m
29-11-2017 146x/m 37,4oC 40x/m
30-11-2017 146x/m 37,5oC 48x/m
01-12-2017 135x/m 37,5oC 48x/m
02-12-2017 156x/m 37,1oC 50x/m
288

03-12-2017 156x/m 37,1oC 48x/m


04-12-2017 152x/m 37,3oC 47x/m
05-12-2017 152x/m 37,4oC 46x/m
06-12-2017 154x/m 36,9oC 47x/m

8. Bayi Ny. S dilakukan pemantauan berat badan setiap harinya, berat badan
hari pertama hingga berat badan hari kelima mengalami penurunan hingga
95 gram dan hal tersebut sesuai dengan teori dalam buku saku pelayanan
kesehatan anak di rumah sakit yaitu penurunan berat badan pada bayi baru
lahir tidak lebih dari 10% dan bayi Ny. S mengalami penurunan berat badan
+- 10%. Dan pada hari ke enam hingga hari ke enambelas berat badan bayi
Ny. S setelah dilakukan penimbangan mulai berangsur naik hingga pada
hari ketujuh belas mencapai berat badan 920 gram.
Grafik 1. Pemantauan Kenaikan Berat Badan

Bayi Ny. S dilakukan pemberian medikamentosa dengan kolaborasi


dokter, diberikan aminofilin untuk mencegah terjadinya masalah pernapasan
289

dengan dosis awal secara IV sebanyak 10 mg/kg/BB/dosis dan dosis


rumatan yang diberikan selama minggu pertama kehidupan sebanyak 2.5
mg/kg/BB/dosis hal dan dosis yang diberikan pada minggu kedua dan ketiga
kehidupan adalah 4 mg/kg/BB/dosis tersebut sesuai dengan dosis obat
umum yang dapat diberikan pada bayi baru lahir menurut buku aku
pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Diberikan antibiotik ampisilin
dengan dosis 50 mg/kg/BB dan gentamicin 3 mg/kg/BB/dosis sesuai dengan
dosis obat umum yang dapat diberikan pada bayi baru lahir menurut buku
saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit.