Anda di halaman 1dari 28

ANGGARAN DASAR

PERKUMPULAN PENASIHAT HUKUM NUSANATARA


(PPHN)
  
MUKADIMAH
  
1. Bahwa Negara REPUBLIK INDONESIA adalah Negara Hukum yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945, dan oleh karena
itu setiap orang tanpa dibedakan keyakinan, agama, suku,
bangsa, golongan dan kedudukannya wajib tunduk serta
menjunjung tinggi hukum demi tegaknya keadilan dan kebenaran
bagi setiap orang guna melindungi dan mempertahankan hak-hak
asasi manusia yang sesuai dengan harkat dan martabatnya.
2. Bahwa Advokat berdasarkan Amandemen ke IV UUD 1945 merupakan
salah satu unsur  Penegak Hukum dalam kerangka kekuasaan
kehakiman yang bebas dan merdeka serta memiliki kedudukan yang
sama dengan penegak hukum lainnya wajib mengemban tugas dan
tanggung jawab untuk mengabdi, mempertahankan dan menegakkan
hukum demi tercapainya kepastian hukum yang mencerminkan
nilai-nilai hidup yang luhur dalam hati nurani serta kesadaran
Hukum Masyarakat.
3. Bahwa kekuasaan kehakiman yang bebas dan merdeka memerlukan
profesi Advokat yang mandiri, bebas dan bertanggung jawab guna
mencapai peradilan yang bebas dan bertanggung jawab yang
menjadi benteng terakhir dalam menegakkan kebenaran dan
keadilan berdasarkan hukum dan menjamin serta mempertahankan
hak-hak asasi manusia
4. Bahwa Advokat Indonesia mempunyai kewajiban serta tanggung
jawab kemasyarakatan untuk membawakan peranan sebagai
penggerak pembangunan yang turut mempelopori pembaruan,
pembangunan dan pembentukan hukum sesuai dengan arah serta
tujuan pembangunan dan pembinaan hukum sebagai sarana
penunjang tercapainya masyarakat adil makmur, berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.
5. Bahwa Advokat Indonesia dalam menjalankan profesinya
memberikan konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa,
mewakili, mendampingi, membela dan melakukan tindakan hukum
lain untuk kepentingan hukum klien, baik di luar maupun di
dalam pengadilan, bertanggung jawab serta untuk memperjuangkan
asas-asas keadilan dengan melindungi hak-hak asasi manusia
meningkatkan kesadaran hukum dengan penuh rasa tanggung jawab
didasarkan atas pengabdian dan ilmu  hukum yang didorong oleh
cita-cita luhur profesi
 
 
ANGGARAN DASAR
BAB I
KETENTUAN UMUM
 
Pasal 1
 
Dalam Anggaran Dasar ini yang dimaksud dengan :
1. Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik
didalam maupun diluar pengadilan yang memenuhi persyaratan
berdasarkan ketentuan Undang-Undang Advokat;
2. Anggaran Dasar adalah anggaran dasar PPHN yang termuat dalam
Akta ini dan sebagaimana di kemudian hari diubah dari waktu
ke waktu;
3. Musyawarah Nasional adalah Forum Tertinggi, untuk mengambil
keputusan tertinggi demi kepentingan Organisasi secara
Nasional;
4. Musyawarah Daerah adalah forum tertinggi di tingkat daerah
untuk mengambil keputusan demi kepentingan Organisasi di
tingkat Provinsi;
5. Musyawarah Cabang adalah Forum tertinggi di tingkat cabang
untuk mengambil keputusan demi kepentingan Organisasi di
tingkat Kabupaten/Kota;
6. Dewan Pimpinan Pusat disingkat DPP adalah stuktur PPHN di
tingkat pusat, dengan tugas memimpin PPHN di tingkat
Nasional;
7. Dewan Pimpinan Daerah, disingkat DPD adalah struktur
Organisasi PPHN di tingkat Daerah, dengan tugas memimpin PPHN
di tingkat Provinsi;
8. Dewan Pimpinan Cabang, disingkat DPC adalah struktur PPHN di
tingkat cabang, dengan tugas memimpin PPHN di tingkat
Kabupaten/Kota;
9. Dewan Kehormatan adalah alat kelengkapan struktural
Organisasi dalam PENGURUS PPHN yang hanya dibentuk di dua
tingkatan Organisasi, yaitu tingkat DPD yang memeriksa dan
mengadili pelanggaran Kode Etik pada tingkat pertama dan di
DPP yang memeriksa dan mengadili pelanggaran Kode Etik pada
tingkat Banding atau terakhir, diisi oleh unsur Advokat;
10. Dewan Penasehat adalah alat kelengkapan struktural Organisasi
dalam PENGURUS PPHN, bersifat kolektif dan kolegial, diisi
oleh para Advokat senior (senioren) di semua tingkatan
Organisasi, yaitu DPP, DPD dan DPC;
11. Dewan Pengawas adalah alat kelengkapan struktural Organisasi
dalam PENGURUS PPHN, bersifat kolektif kolegial, diisi oleh
para Advokat senior (senioren) yang dibentuk di tingkat DPP;
12. Dewan Standar Profesi Advokat adalah alat kelengkapan
struktural Organisasi dalam PENGURUS PPHN yang dibentuk
ditingkat DPP yang bertanggung jawab dalam menyusun,
memelihara dan mengembangkan Standar Profesi Advokat, terdiri
dari Advokat Senior dan tenaga ahli/akademisi;
13. Komisi Pengawas adalah alat kelengkapan non struktural
Organisasi dalam PENGURUS PPHN yang dibentuk di semua
tingkatan organisasi, yaitu DPP. DPD dan DPC, merupakan
pelaksana pengawasan Advokat sehari-hari dengan tujuan agar
advokat dalam menjalankan profesinya selalu menjunjung tinggi
kode etik profesi Advokat dan peraturan perundang-undangan,
yang keanggotaannya terdiri atas unsur Advokat Senior, tenaga
ahli/akademisi dan tokoh masyarakat;
14. Dewan Pembina adalah alat kelengkapan non struktural
Organisasi dalam PENGURUS PPHN yang dapat dibentuk di tingkat
DPD dan DPC, untuk mengakomodir aspirasi Daerah dan Cabang
yang menghendaki agar PENGURUS DPD dan DPC dapat menampung
tokoh masyarakat dan atau pejabat di daerah setempat yang
peduli dan sangat mendukung perjuangan PPHN di Daerah dan
atau Cabang yang bersangkutan;
15. Buku Daftar Anggota adalah buku yang berisi daftar Anggota
PPHN sebagaimana di kemudian hari diubah dari waktu ke waktu
untuk disesuaikan dengan perubahan jumlah Anggota PPHN;
16. Kode Etik adalah kode etik profesi Advokat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Advokat, sebagaimana di
kemudian hari diubah dari waktu ke waktu;
17. Tahun Buku adalah periode yang dimulai pada tanggal 1 (satu)
Januari dan berakhir pada tanggal 31 (tiga puluh satu)
Desember tahun kalender yang sama;
18. Undang-Undang Advokat adalah Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat, sebagaimana diubah dari
waktu ke waktu.
 

 
BAB II
NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN DAN WAKTU
 
Pasal 2
 
(1) Organisasi Advokat ini bernama PERKUMPULAN PENASIHAT HUKUM
NUSANATARA disingkat PPHN adalah  wadah bagi setiap Advokat
yang merupakan Organisasi Profesi dan Perjuangan, yang bebas
dan mandiri serta bertanggung jawab dan mengemban misi luhur
para Advokat, untuk turut membangun negara hukum Republik
Indonesia serta mengembangkan Advokat yang profesional dan
berintegritas;
 
(2) PPHN berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia
dengan kepengurusan di tingkat pusat, di tingkat daerah dan
di tingkat cabang, sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar
ini.
 
Pasal 3
 
(1) PPHN didirikan pada tanggal 10 Nopember 1985 dalam
Musyawarah Nasional Advokat Indonesia di Jakarta dan telah
mendapatkan pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan
berdasarkan Keputusan Menkumham RI No. AHU-
0014142.AH.01.07.TAHUN 2015 tertanggal 6 November 2015;
 
(2) PPHN didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.
 
 
BAB III
ASAS, MOTTO DAN LAMBANG
 
Pasal 4
 
PPHN berjuang berasaskan Pancasila sebagai landasan idiil dan
berlandaskan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan
konstitusional.
 
Pasal 5
 
(1) PPHN berjuang berdasarkan motto FIAT JUSTITIA, RUAT COELUM
(Hendaklah Keadilan ditegakkan, Sekalipun Langit akan
Runtuh);
 
(2) Lambang PPHN adalah berupa timbangan keadilan yang
dilindungi oleh dua bilah pedang, dengan latar belakang
lingkaran merah bergerigi 45 (empat puluh lima) yang
mengandung tulisan FIAT JUSTITIA RUAT COELUM membentuk
setengah lingkaran dengan warna putih dilindungi oleh lima
seongkok (dilihat dari sudut muka) yang membentuk lingkaran
yang mengandung tulisan berwarna merah PERKUMPULAN PENASIHAT
HUKUM NUSANATARA dan PPHN diantara dua bintang bersegi lima
dengan latar belakangnya warna putih;
 
(3) Gambar visual Lambang PPHN adalah sebagaimana telah
terdaftar dalam Daftar Ciptaan pada Direktorat Hak Cipta,
Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu Dan
Rahasia Dagang Nomor: 034294 tanggal 25 Juni 2007,
sebagaimana dimuat dalam Surat Pendaftaran Ciptaan yang
diterbitkan oleh Direktur Hak Kekayaan Intelektual Departemen
Hukum Dan Hak Azasi Manusia tanggal 17 Juli 2007.
 
 
BAB IV
TUJUAN DAN USAHA
 Pasal 6
 
Tujuan PPHN adalah :
(1) Menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan serta meningkatkan
kesadaran hukum anggota masyarakat dalam Negara Hukum
Indonesia
(2) Menegakkan hak-hak asasi manusia berlandaskan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945
(3) Menumbuhkan dan memelihara rasa setia kawan di antara para
Advokat
(4) Membela dan memperjuangkan hak dan kepentingan para Advokat
dalam menjalankan profesinya
(5) Turut aktif dalam Pembangunan Hukum Nasional
(6) Menegakkan hak imunitas Advokat dalam menjalankan profesi
(7) Meningkatkan profesionalisme moral dan integritas  Advokat
sesuai Kode Etik
(8) Kaderisasi Advokat Indonesia yang profesional dan
berintegritas
 
Pasal 7
 
Untuk mencapai tujuan seperti yang diatur dalam Pasal 6 tersebut
diatas PPHN melakukan usaha-usaha antara lain :
a. Mengangkat Advokat yang memenuhi persyaratan berdasarkan
ketentuan Undang-Undang Advokat;
b. Menyelenggarakan Buku Daftar Advokat dan setiap 1 (satu) tahun
melaporkan perubahan jumlah Anggota PPHN kepada Mahkamah Agung
Republik Indonesia dan Menteri menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang hukum dan perundang-undangan;
c. Melaksanakan pendidikan profesi Advokat.
d. Melaksanakan ujian profesi Advokat;
e. Menetapkan persyaratan kantor Advokat yang dapat menerima
calon Advokat yang akan melakukan magang;
f. Mendorong terbentuknya  satu kode Etik Advokat Indonesia dan
mendorong terbentuknya satu Dewan Pengawas  Advokat Indonesia
serta satu Dewan Kehormatan untuk seluruh organisasi Advokat
di Indonesia;
g. Menjaga supaya setiap anggota menjunjung tinggi kehormatan
profesi Advokat sesuai dengan Kode Etik;
h. Membentuk Dewan Kehormatan di tingkat Pusat maupun di tingkat
Daerah;
i. Memberi bantuan hukum cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu
membayar honoranium Advokat;
j. Meningkatkan kerjasama dengan instansi-instansi dan badan-
badan lain khususnya dalam bidang hukum;
k. Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat bagi
profesi Advokat.
 
 
BAB V
K E A N G G O T A A N
 
Pasal 8
 
(1) Anggota PPHN terdiri dari :
a. Anggota Biasa;
b. Anggota Kehormatan.
(2) Anggota Biasa adalah Warga Negara Indonesia yang telah
diangkat sebagai advokat berdasarkan ketentuan Undang-Undang
Advokat dan terdaftar dalam buku daftar anggota PPHN;
(3) Anggota Kehormatan, adalah mereka yang dianggap telah berjasa
kepada PPHN, pengembangan ilmu, khususnya ilmu hukum atau
pembangunan hukum Nasional;
(4) Setiap anggota PPHN tidak dibenarkan menjadi anggota
organisasi profesi Advokat lainnya;
(5) Hal tersebut pada ayat (4) tidak berlaku bagi anggota
kehormatan;
(6) Pelanggaran terhadap ketentuan Ayat (4) diatas diberhentikan
dari keanggotaan PPHN;
(7) Tata cara dan syarat menjadi anggota PPHN diatur dalam
Peratutan Rumah Tangga.
 
 
Pasal 9
KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA
 
(1) Setiap Anggota wajib menjaga nama baik dan kehormatan
profesi Advokat dan wajib menjaga nama baik PPHN;
(2) Anggota biasa memiliki hak suara memilih dan dipilih serta
hak berbicara;
(3) Anggota Kehormatan tidak memiliki hak suara memilih dan
dipilih, tetapi memiliki hak berbicara;
(4) Kewajiban dan hak-hak lain dari anggota diatur dalam
Peraturan Rumah Tangga.
 
Pasal 10
 
(1) Keanggotaan Anggota PPHN berakhir karena :
a. Meninggal dunia;
b. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
c. Menjadi anggota di Organisasi Advokat lain.
d. Dinyatakan pailit atau ditaruh di bawah pengampuan
(curatele);
e. Dikenakan sanksi pemberhentian tetap dari profesinya
sebagai Advokat karena melanggar Kode Etik berdasarkan
putusan Dewan Kehormatan;
f. Dijatuhi hukuman pidana penjara karena melakukan tindak
pidana kejahatan dengan ancaman pidana 4 (empat) tahun
atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mendapat kekuatan hukum tetap;
 
2) Tata cara pengunduran diri dan pemberhentian sebagai anggota
diatur dalam Peraturan Rumah Tangga.

BAB VI
STRUKTUR ORGANISASI
 
Pasal 11
 
(1) Struktur organisasi PPHN adalah :
a. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) berkedudukan di tempat
kedudukan Mahkamah Agung Republik Indonesia;
b. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) berkedudukan di tempat
kedudukan Pengadilan Tinggi atau di salah satu tempat
yang masuk wilayah suatu Pengadilan Tinggi;
c. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) berkedudukan di tempat
kedudukan Pengadilan Negeri atau di salah satu tempat
yang masuk wilayah suatu Pengadilan Negeri.
 
(2) Pembentukan Dewan Pimpinan Pusat dilakukan melalui
Musyawarah Nasional;
(3) Pembentukan Dewan Pimpinan Daerah dilakukan melalui
Musyawarah Daerah;
(4) Pembentukan Dewan Pimpinan Cabang dilakukan melalui
Musyawarah Cabang;
(5) Peresmian Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang
dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan Surat Keputusan.
 
Pasal 12
DEWAN PIMPINAN PUSAT
 
(a) Dewan Pimpinan Pusat terdiri dari: seorang Ketua Umum dibantu
sedikitnya 2 (dua) orang Wakil Ketua Umum, seorang Sekretaris
Jenderal dibantu sedikitnya 2 (dua) orang Wakil Sekretaris
Jenderal, seorang Bendahara Umum dibantu sedikitnya 2 (dua)
orang Wakil Bendahara Umum dan Ketua-Ketua Bidang sesuai
kebutuhan;
(b) Oleh Dewan Pimpinan Pusat ditetapkan Dewan Kehormatan Pusat,
Dewan Penasehat Pusat, Dewan Pengawas, Dewan Standar Profesi
Advokat dan Komisi Pengawas;
(c) Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal mewakili PPHN di dalam dan
di luar Pengadilan, kecuali untuk tindakan hukum di bidang
keuangan PPHN diwakili oleh Ketua Umum dan Bendahara Umum;
(d) Syarat-syarat untuk menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat
diatur dalam Peraturan Rumah Tangga;
(e) Tugas dan Wewenang Dewan Pimpinan Pusat diatur dalam
Peraturan Rumah Tangga.
 
 
Pasal 13
DEWAN PIMPINAN DAERAH
 
(a) Dewan Pimpinan Daerah terdiri dari: seorang Ketua, seorang
Sekretaris dan seorang Bendahara, yang masing-masing dapat
dibantu satu orang wakil atau lebih dan Ketua- Ketua Bidang
sesuai kebutuhan;
(b) Oleh Dewan Pimpinan Daerah ditetapkan Dewan Penasehat Daerah
dan Dewan Kehormatan Daerah;
(c) Ketua dan Sekretaris mewakili Dewan Pimpinan Daerah di dalam
dan di luar Pengadilan, kecuali untuk tindakan hukum di
bidang keuangan DPD diwakili oleh Ketua dan Bendahara DPD;
(d) Syarat-syarat untuk menjadi pengurus Dewan Pimpinan Daerah
diatur dalam Peraturan Rumah Tangga;
(e) Tugas dan Wewenang Dewan Pimpinan Daerah diatur dalam
Peraturan Rumah Tangga.
 
 
 
Pasal 14
DEWAN PIMPINAN CABANG
 
(a) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) terdiri dari seorang Ketua,
seorang Sekretaris dan seorang Bendahara, yang masing-masing
dapat dibantu oleh satu orang wakil atau lebih  dan Ketua-
Ketua Bidang sesuai kebutuhan;
(b) Oleh Dewan Pimpinan Cabang ditetapkan Dewan Penasehat Cabang;
(c) Ketua dan Sekretaris mewakili Dewan Pimpinan Cabang di dalam
dan di luar Pengadilan, kecuali untuk tindakan hukum di
bidang keuangan DPC diwakili oleh Ketua dan Bendahara DPC;
(d) Syarat-syarat untuk menjadi pengurus Dewan Pimpinan Cabang
diatur dalam Peraturan Rumah Tangga;
(e) Tugas dan Wewenang Dewan Pimpinan Cabang diatur dalam
Peraturan Rumah Tangga.
 
 
BAB VII
MASA JABATAN PENGURUS
 
Pasal 15
 
(1) Masa Jabatan kepengurusan PPHN adalah :
a. Dewan Pimpinan Pusat selama 5 (lima) tahun, setelah
dipilih oleh Musyawarah Nasional (MUNAS);
b. Dewan Pimpinan Daerah selama 4 (empat) tahun, setelah
dipilih melalui Musyawarah Daerah (MUSDA) dan diresmikan
oleh Dewan Pimpinan Pusat;
c. Dewan Pimpinan Cabang selama 3 (tiga) tahun, setelah
dipilih oleh Musyawarah Cabang (MUSCAB) dan diresmikan
oleh  Dewan Pimpinan Pusat;
 
(2) Pengurus DPP, DPD DAN DPC PPHN yang masa jabatannya telah
berakhir, dapat dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya
dengan ketentuan pengurus tidak dapat diangkat untuk lebih
dari 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut untuk jabatan
yang sama;
 
(3) Jabatan Pengurus DPP, DPD dan DPC berakhir dengan sendirinya
jika yang bersangkutan:
a. Meninggal dunia;
b. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
c. Dinyatakan pailit atau ditaruh dibawah pengampuan
(curatele);
d. Dikenakan sanksi pemberhentian tetap dari profesinya
sebagai Advokat karena melanggar Kode Etik berdasarkan
putusan Dewan Kehormatan;
e. Dijatuhi hukuman pidana penjara karena melakukan tindak
pidana kejahatan dengan ancaman pidana lima (5) tahun atau
lebih berdasarkan putusan pengadilan yang telah mendapat
kekuatan hukum tetap;
f. Menjadi pengurus pada organisasi advokat lain;
g. Diberhentikan atas dasar keputusan Munas;
h. Telah berakhir masa jabatannya.
 
(4) Pengurus DPP, DPD dan DPC yang mengundurkan diri dari
jabatannya harus memberitahukan maksudnya tersebut secara
tertulis sekurang kurangnya 30 (tiga puluh) hari sebelumnya
kepada DPP.
 
 
BAB VIII
MUSYAWARAH NASIONAL
 
Pasal 16
 
(a) Kekuasaan Tertinggi PPHN adalah pada MUSYAWARAH NASIONAL
(MUNAS), baik MUNAS berkala maupun MUNAS Luar Biasa
(MUNASLUB);
(b) MUNAS diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat;
(c) MUNAS berkala diadakan setiap 5 (lima) tahun sekali pada
akhir masa jabatan Dewan Pimpinan Pusat.
 
Pasal 17
 
(1) MUNAS Luar Biasa (MUNASLUB) diadakan setiap saat apabila ada
hal-hal mendesak yang harus diputuskan oleh MUNAS atas
permintaan tertulis kepada Dewan Pimpinan Pusat dari
sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) dari jumlah DPD yang
didukung oleh sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) dari jumlah
DPC, yang telah tercatat di DPP;
(2) Segala sesuatu yang berlaku pada MUNAS berkala, berlaku pula
pada MUNASLUB.
 
Pasal 18
HAK SUARA DALAM MUNAS
 
(1) Yang memiliki Hak Suara dalam MUNAS adalah  DPP demisioner
dan Utusan DPD serta utusan DPC,  dengan  ketentuan sebagai
berikut :
a.DPP PPHN demisioner  memiliki 1 (satu) hak suara;
b.Setiap DPD PPHN masing-masing memiliki 1 (satu) hak suara;
c.Setiap DPC PPHN masing-masing memiliki 1 (satu) hak suara.

(2) Pemberian suara oleh DPP demisioner diwakili oleh Ketua Umum
demisioner atau wakilnya yang diberi surat kuasa khusus untuk
itu;
(3) Nama-nama utusan DPD dan DPC disampaikan kepada Panitia MUNAS
dalam bentuk Surat Keputusan yang ditandatangani oleh ketua
dan sekretaris DPD atau DPC yang bersangkutan;
(4) Pemberian suara dilakukan secara terbuka, kecuali pemberian
suara yang memilih orang dilakukan secara tertutup.
 
Pasal 19
PANGGILAN MUNAS
 
(a) MUNAS diadakan dengan panggilan tertulis dari atau atas nama
Dewan Pimpinan Pusat dalam waktu sekurang-kurangnya 30 (tiga
puluh) hari sebelum tanggal penyelenggaraan;
(b) Panggilan disampaikan kepada semua Dewan Pimpinan Daerah dan
Dewan Pimpinan Cabang.
 
 
 
 
 
 
 
 
Pasal 20
QUORUM  MUNAS
 
(1)  MUNAS adalah sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya
1/2  (setengah) dari  jumlah DPD dan 1/2   (setengah) dari
jumlah DPC,  yang diwakili oleh utusan dari setiap DPD dan
DPC  yang telah tercatat di DPP;
(2)  Apabila quorum tidak dicapai pada saat sidang dibuka, maka
MUNAS diundurkan untuk waktu sekurang-kurangnya 3 (tiga)
jam, kemudian MUNAS dibuka kembali dengan tidak terikat oleh
quorum lagi, dan MUNAS dapat mengambil keputusan-keputusan
secara sah sepanjang telah  sesuai dengan Anggaran Dasar,
Peraturan Rumah Tangga dan Tata Tertib MUNAS.
 
Pasal 21
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
 
Pengambilan keputusan dalam MUNAS pada prinsipnya dilakukan
secara musyawarah mufakat (aklamasi) dan apabila aklamasi tidak
tercapai  maka dilakukan dengan pemungutan suara terbanyak biasa
dari utusan yang hadir pada saat dilakukan pengambilan keputusan
 
Pasal 22
SIDANG - SIDANG MUNAS
 
(1) Sidang-sidang pada MUNAS adalah Sidang Pleno dan Sidang
Komisi;
(2) Sidang Pleno  MUNAS untuk pengesahan Tata Tertib dan Jadwal
Acara serta memilih Pimpinan Sidang  Pleno Tetap dipimpin
oleh Pimpinan Sidang Sementara yaitu Ketua dan Anggota
Steering Committee (SC).
(3) Komposisi Pimpinan Sidang PlenoTetap sesuai Tata Tertib yang
disahkan dalam MUNAS;
(4) Sidang Pleno memutuskan pembentukan Komisi-Komisi sesuai
Tata Tertib yang disahkan dalam MUNAS;
(5) Sidang Komisi dipimpin oleh Pimpinan Sidang Komisi yang
terdiri dari Ketua dan Sekretaris yang dipilih dari dan oleh
peserta Sidang Komisi;
(6) Hasil-hasil sidang Komisi dilaporkan kepada Sidang Pleno
untuk diambil keputusan.
Pasal 23
ACARA MUNAS
 
(1) Acara pada MUNAS adalah :
a.  Pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Pusat mengenai kinerja
selama masa jabatannya, termasuk perhitungan dan
pertanggungjawaban keuangan;
b.  Membahas dan memutuskan Garis Besar Program Kerja untuk
pengurus DPP periode berikutnya;
c.  Memilih Ketua Umum dan Formateur untuk membentuk DPP
periode berikutnya;
d.  Hal-hal  lain yang dianggap penting untuk diputuskan
dalam MUNAS.
(2) Acara pada MUNASLUB adalah membahas dan memutuskan hal-hal
yang penting yang mendesak, yang  menjadi agenda MUNASLUB.
  
Pasal 24
PEMILIHAN KETUA UMUM DAN ANGGOTA FORMATUR
 
(1) Pemilihan Ketua Umum:
a. MUNAS memilih Ketua Umum, baik secara aklamasi atau
melalui pemungutan suara;
b. Dalam hal MUNAS memilih Ketua Umum melalui pemungutan
suara, maka setiap calon Ketua  Umum wajib didukung
sekurang-kurangnya 2 (dua) DPD dan 5 (lima) DPC;
c. Calon Ketua Umum yang memperoleh suara terbanyak
ditetapkan sebagai Ketua Umum;
d. Ketua Umum terpilih otomatis menjadi Ketua Formateur.
 
(2) Pemilihan Anggota Formatur :
a. MUNAS memilih Anggota Formatur sebanyak 6 (enam) orang,
baik secara aklamasi atau   melalui pemungutan suara;
b. Dalam hal MUNAS memilih Anggota Formatur melalui
pemungutan suara, maka setiap calon Anggota Formatur
wajib didukung oleh sekurang kurangnya 1 (satu) DPD dan 3
(tiga) DPC;
c. Calon Anggota Formatur yang memperoleh suara terbanyak ke
1 (satu) sampai dengan ke 6  (enam) ditetapkan sebagai
Anggota Formatur.
 
(3) Ketua Umum terpilih/Ketua Formatur bersama-sama  Anggota
Formatur terpilih yang telah ditetapkan sebagai Formatur
bertugas menyusun dan menetapkan pengurus Dewan Pimpinan
Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Dewan Penasehat Pusat, Dewan
Pengawas, Dewan Standar Profesi Advokat dan Komisi Pengawas;
 
(4) Masa Tugas Formatur ditetapkan oleh MUNAS.
  
BAB IX
MUSYAWARAH DAERAH
 Pasal 25
 
(1) Musyawarah Daerah (MUSDA) di selenggarakan oleh Dewan
Pimpinan Daerah;
(2) MUSDA diadakan setiap 4 (empat) tahun sekali dengan agenda :
a. Laporan pertanggungjawaban kinerja Dewan Pimpinan Daerah,
termasuk perhitungan dan pertanggungjawaban keuangan;
b. Membahas dan memutuskan Garis Besar Program Kerja untuk
pengurus periode berikutnya;
c. Memilih Ketua dan Anggota Formateur untuk membentuk Dewan
Pimpinan- Daerah periode berikutnya;
d. Agenda lain yang dianggap penting untuk dibahas dan
diputuskan oleh MUSDA.
 
Pasal 26
HAK SUARA DALAM MUSDA
 
(1) Yang memiliki hak suara MUSDA adalah :
a. Dewan Pimpinan Daerah demisioner yang memiliki 1 (satu)
hak suara;
b. Setiap utusan DPC PPHN memiliki 1 (satu) hak suara;
(2) Pemberian suara oleh Dewan Pimpinan Daerah demisioner
diwakili oleh Ketua demisioner atau wakilnya yang sah untuk
itu;
(3) Penentuan utusan DPC sebagaimana diatur dalam ayat 1 huruf b
diatas ditentukan dalam rapat yang khusus diadakan untuk itu
oleh masing-masing DPC;
(4) Nama-nama utusan DPC berdasarkan rapat sebagaimana diatur
dalam ayat (3) diatas harus disampaikan kepada Panitia MUSDA
dalam bentuk Surat Keputusan yang ditandatangani oleh ketua
dan sekretaris DPC yang bersangkutan;
(5) Pemberian suara dilakukan secara terbuka, kecuali pemberian
suara yang memilih orang    dilakukan secara tertutup.
 
 
Pasal 27
PANGGILAN MUSDA
 
(1) MUSDA diadakan dengan pemanggilan dari atas nama Dewan
Pimpinan Daerah dalam waktu sekurang-kurangnya 15 (lima
belas) hari sebelum tanggal penyelenggaraan;
(2) Pemanggilan disampaikan kepada semua Dewan Pimpinan Cabang
yang telah terdaftar.
 
Pasal 28
QUORUM MUSDA
 
(1) MUSDA adalah sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya 2/3
(dua pertiga) dari jumlah DPC yang telah terdaftar;
(2) Apabila quorum tidak tercapai pada saat sidang dibuka, maka
MUSDA diundurkan untuk waktu sekurang-kurangnya 2 (dua) jam,
kemudian MUSDA dibuka kembali dengan tidak terikat oleh
quorum lagi dan MUSDA dapat mengambil keputusan-keputusan
yang sah.
 
Pasal 29
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
 
Pengambilan keputusan dalam MUSDA pada prinsipnya dilakukan
secara musyawarah mufakat (aklamasi) dan apabila aklamasi tidak
tercapai, maka dilakukan dengan pemungutan suara  terbanyak
biasa dari utusan yang hadir pada saat dilakukan pengambilan
keputusan.
 
Pasal 30
SIDANG-SIDANG
 
(a) Sidang-sidang pada MUSDA adalah Sidang Pleno dan Sidang
Komisi;
(b) Sidang Pleno MUSDA untuk pegesahan Tata Tertib dan Jadwal
Acara serta memilih Pimpinan Sidang Pleno Tetap dipimpin
oleh Pimpinan Sidang Sementara yaitu Ketua dan Anggota
Steering Committee (SC);
(c) Komposisi Pimpinan Sidang Pleno Tetap sesuai Tata Tertib
yang disahkan dalam MUSDA;
(d) Sidang Pleno memutuskan pembentukan Komisi-Komisi sesuai
Tata Tertib yang disahkan dalam MUSDA;
(e) Sidang Komisi dipimpin oleh Pimpinan Sidang Komisi yang
terdiri dari Ketua dan Sekretaris yang dipilih dari dan
oleh peserta sidang Komisi;
(f) Hasil-hasil Sidang Komisi dilaporkan kepada Sidang Pleno
untuk diambil keputusan.  
 
Pasal 31
PEMILIHAN KETUA DAN ANGGOTA FORMATUR
 
(1) Pemilihan Ketua :
a. MUSDA memilih Ketua, baik secara aklamasi maupun melalui
pemungutan suara;
b. Dalam hal MUSDA memilih Ketua melalui pemungutan suara,
maka setiap calon Ketua wajib didukung sekurang-kurangnya
oleh 3 (tiga) DPC;
(2) Pemilihan Anggota Formatur :
a. MUSDA memilih Anggota Formatur sebanyak 4 (empat) orang,
baik secara aklamasi atau melalui pemungutan suara;
b. Dalam hal MUSDA memilih Anggota Formatur melalui
pemungutan suara, maka setiap calon Anggota Formatur
wajib didukung sekurang-kurangnya oleh 2 (dua) DPC;
c. Calon Anggota Formatur yang memperoleh suara terbanyak ke
1 (satu) sampai dengan  ke 4 (empat) ditetapkan sebagai
Anggota Formatur.
(3) Ketua terpilih/Ketua Formatur bersama-sama Anggota Formatur
terpilih yang telah ditetapkan sebagai Formatur bertugas
menyusun dan menetapkan pengurus Dewan Pimpinan Daerah, Dewan
Penasehat Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah;
(4) Masa tugas Formatur ditetapkan oleh MUSDA.
 
Pasal 32
MUSDA LUAR BIASA
 
(1) Musyawarah Daerah Luar Biasa (MUSDALUB) dapat diadakan
setiap saat apabila ada hal-hal mendesak yang harus
diputuskan atas permintaan tertulis dari Dewan Pimpinan
Cabang dari sekurang-kurangnya 1/2  (setengah) dari jumlah
DPC yang telah terdaftar di DPD;
(2) Segala sesuatu yang berlaku pada MUSDA, berlaku pula pada
MUSDALUB.
  
BAB X
Pasal 33
MUSYAWARAH CABANG
 
(1) Musyawarah Cabang (MUSCAB) diselenggarakan oleh Dewan
Pimpinan Cabang;
(2) Musyawah Cabang diadakan setiap 3 (tiga) tahun sekali dengan
agenda :
a. Laporan pertanggungjawaban kinerja Dewan Pimpinan Cabang,
termasuk perhitungan dan pertanggungjawaban keuangan;
b. Laporan Dewan Penasehat Cabang;
c. Membahas dan memutuskan Garis Besar Program Kerja untuk
pengurus DPC periode berikutnya;
d. Memilih Ketua dan Formatur untuk membentuk DPC periode
berikutnya;
e. Agenda lain yang dianggap penting untuk dibahas dan
diputuskan oleh MUSCAB.
 
Pasal 34
HAK SUARA DALAM MUSCAB
 
(1) Yang memililki hak suara dalam MUSCAB adalah setiap anggota
biasa yang telah tercatat pada Dewan Pimpinan Cabang;
(2) Pemberian suara dilakukan oleh setiap anggota biasa yang
telah diatur dalam tata tertib MUSCAB.
 
Pasal 35
PENGAMBILAN MUSCAB
 
MUSCAB diadakan dengan pemanggilan tertulis dari atau atas nama
Dewan Pimpinan Cabang kepada setiap anggota biasa dalam waktu
sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum tanggal
penyelenggaraan.
 
Pasal 36
QUORUM MUSCAB
 
(1) MUSCAB adalah sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya 1/2
(setengah) dari jumlah anggota biasa  yang telah tercatat
pada cabang;
(2) Apabila quorum tidak tercapai pada saat sidang dibuka, maka
MUSCAB diundurkan untuk waktu sekurang-kurangnya 2 (dua) jam,
kemudian MUSCAB dibuka kembali dengan tidak terikat oleh
quorum lagi dan MUSDA dapat mengambil keputusan-keputusan
yang sah.
 
Pasal 37
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
 
Pengambilan keputusan dalam MUSCAB pada prinsipnya di lakukan
secara musyawarah mufakat (aklamasi) dan apabila aklamasi tidak
tercapai, maka dilakukan dengan pemungutan suara  terbanyak
biasa dari anggota yang hadir pada saat dilakukan pengambilan
keputusan.
 
Pasal 38
SIDANG-SIDANG MUSCAB
 
(1) Sidang-sidang pada MUSCAB adalah Sidang Pleno dan Sidang
Komisi;
(2) Sidang Pleno MUSCAB untuk pengesahan Tata Tertib dan Jadwal
Acara serta memilih Pimpinan Sidang Pleno Tetap dipimpin oleh
Pimpinan Sidang Sementara yaitu Ketua dan Anggota Stairing
Committe (SC);
(3) Komposisi Pimpinan Sidang Pleno Tetap sesuai Tata Tertib
yang disahkan dalam MUSCAB;
(4) Sidang Pleno memutuskan pembentukan Komisi-Komisi sesuai
Tata Tertib yang disahkan dalam MUSCAB;
(5) Sidang Komisi dipimpin oleh Pimpinan Sidang Komisi yang
terdiri dari Ketua dan Sekretaris yang dipilih dari dan oleh
peserta sidang Komisi;
(6) Hasil-hasil sidang Komisi dilaporkan kepada Sidang Pleno
untuk diambil keputusan.

Pasal 39
PEMILIHAN KETUA DAN ANGGOTA FORMATUR
 
(1) Pemilihan Ketua :
a. MUSCAB  memilih Ketua, baik secara aklamasi atau melalui
pemungutan suara;
b. Dalam hal MUSCAB memilih Ketua melalui pemungutan suara,
maka setiap calon Ketua  wajib didukung sekurang-
kurangnya 5 (lima) orang anggota;
c. Calon Ketua  yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan
sebagai Ketua;
d. Ketua terpilih otomatis menjadi Ketua Formatur. 
 
(2) Pemilihan Anggota Formatur :
a. MUSCAB memilih Anggota Formatur sebanyak 4 (empat) orang,
baik secara aklamasi atau melalui pemungutan suara;
b. Dalam hal MUSCAB memilih Anggota Formatur melalui
pemungutan suara, maka setiap calon Anggota Formatur wajib
didukung oleh sekurang kurangnya 3 (satu) Anggotanya;
c. Calon Anggota Formatur yang memperoleh suara terbanyak ke
1 (satu) sampai dengan ke 4 (empat) ditetapkan sebagai
Anggota Formatur;
 
(3) Ketua terpilih/Ketua Formatur bersama-sama Anggota Formatur
terpilih yang telah ditetapkan sebagai Formatur bertugas
menyusun dan menetapkan Dewan Pimpinan Cabang dan Dewan
Penasehat Cabang;
 
(4) Masa tugas Formatur ditetapkan oleh MUSCAB.
 
Pasal 40
MUSCAB LUAR BIASA
 
(1) Musyawarah Cabang Luar Biasa (MUSCABLUB) dapat diadakan
setiap saat apabila ada hal hal mendesak yang harus
diputuskan atas permintaan tertulis dari sekurang-kurangnya
1/2 (setengah) dari jumlah anggota biasa yang tercatat di
DPC;
(2) Segala sesuatu yang berlaku pada MUSCAB berlaku pula pada
MUSCABLUB.
  
BAB XI
RAPAT KERJA
 
Pasal 41
RAPAT KERJA NASIONAL
 
(1) Dewan Pimpinan Pusat mengadakan Rapat Kerja Nasional
(RAKERNAS) dengan Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan
Cabang sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam setahun;
(2) RAKERNAS membahas dan memutuskan tentang pelaksanaan
program-program kerja yang telah diputuskan oleh MUNAS;
(3) Keputusan RAKERNAS diambil secara musyawarah dan mufakat
(aklamasi) dan apabila tidak tercapai mufakat, maka dilakukan
dengan pemungutan suara  terbanyak biasa dari peserta yang
hadir pada saat dilakukan pengambilan keputusan;
(4) Keputusan-keputusan yang diambil dalam RAKERNAS ditetapkan
dalam Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat.
 
Pasal 42
RAPAT KERJA DAERAH
 
(1) Dewan Pimpinan Daerah mengadakan Rapat Kerja Daerah RAKERDA)
dengan Dewan Pimpinan Cabang sekurang-kurangnya 1 (satu) kali
dalam setahun;
(2) RAKERDA membahas dan memutuskan tentang pelaksanaan program-
program kerja yang telah diputuskan oleh MUSDA;
(3) Keputusan RAKERDA diambil secara musyawarah dan mufakat
(aklamasi) dan apabila tidak tercapai mufakat, maka dilakukan
dengan pemungutan suara  terbanyak biasa dari peserta yang
hadir pada saat dilakukan pengambilan keputusan;
(4) Keputusan-keputusan yang diambil dalam RAKERDA ditetapkan
dalam Surat Keputusan Dewan Pimpinan Daerah.
 
Pasal 43
RAPAT KERJA CABANG
 
(1) Dewan Pimpinan Cabang mengadakan Rapat Kerja Cabang
(RAKERCAB) dengan anggota cabang sekurang-kurangnya 1 (satu)
kali dalam setahun;
(2) RAKERCAB membahas dan memutuskan tentang pelaksanaan program-
program kerja yang telah diputuskan oleh MUSCAB;
(3) Keputusan RAKERCAB diambil secara musyawarah dan mufakat
(aklamasi) dan apabila tidak tercapai mufakat, maka dilakukan
dengan pemungutan suara  terbanyak biasa dari peserta yang
hadir pada saat dilakukan pengambilan keputusan;
(4) Keputusan-keputusan yang diambil dalam RAKERCAB ditetapkan
dalam Surat Keputusan Dewan Pimpinan Cabang.
 
Pasal 44
RAPAT PIMPINAN NASIONAL
 
(1) Dewan Pimpinan Pusat mengadakan Rapat Pimpinan Nasional
RAPIMNAS) yang dihadiri oleh DPP dan seluruh Pimpinan
Ketua/Sekretaris) DPD, yang dilaksanakan sesuai dengan
kebutuhan PPHN;
(2) RAPIMNAS membahas dan memutus hal-hal yang dianggap
strategis bagi kepentingan PPHN;
(3) Keputusan-keputusan yang diambil dalam RAPIMNAS ditetapkan
dalam Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat.
 
 
BAB XII
RAPAT-RAPAT PENGURUS
Pasal 45
 
(1) Rapat-rapat pengurus terdiri dari :
a. Rapat Pengurus Harian;
b. Rapat Pengurus Pleno;
c. Rapat Pengurus Pleno Diperluas.
(2) Rapat Pengurus Harian adalah rapat pengurus yang dihadiri
oleh pengurus harian yang terdiri dari: Ketua Umum/Ketua,
Sekretaris Jenderal/Sekretaris dan Bendahara Umum/Bendahara
di masing-masing tingkatan;
(3) Rapat Pengurus Pleno adalah rapat pengurus yang dihadiri
oleh pengurus harian dan Ketua-Ketua Bidang beserta
anggotanya;
(4) Rapat Pengurus Pleno Diperluas adalah :
a. Rapat Pengurus Pleno DPP yang dihadiri oleh Dewan
Penasehat dan atau Dewan Kehormatan;
b. Rapat Pengurus Pleno DPD yang dihadiri oleh Dewan
Penasehat Daerah dan atau Dewan Kehormatan Daerah;
c. Rapat Pleno DPC yang dihadiri oleh Dewan Penasehat Cabang.
(5) Hal-hal lain mengenai penyelenggaraan Rapat Pengurus diatur
dalam Peraturan Rumah Tangga.
 
BAB XIII
HUBUNGAN ANTARA DPP, DPD DAN DPC
Pasal 46
(1) Dewan Pimpinan Pusat didalam menjalankan tugasnya sehari-
hari adalah berdasarkan garis kebijaksanaan yang ditentukan
oleh MUNAS yang merupakan kekuasaan tertinggi dalam PPHN;
(2) Setiap Keputusan Dewan Pimpinan Pusat wajib ditaati dan
dijalankan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan
Cabang;
(3) Dewan Pimpinan Daerah  dan Dewan Pimpinan Cabang dalam
menjalankan kebijakan sehari-hari dan dalam membuat keputusan
tidak boleh bertentangan dengan keputusan atau kebijakan
Dewan Pimpinan Pusat;
(4) Setiap anggota Dewan Pimpinan Pusat berhak untuk hadir dalam
semua rapat-rapat Dewan Pimpinan  Daerah dan Dewan Pimpinan
Cabang;
(5) Hal-hal lebih lanjut mengenai hubungan antara DPP, DPD dan
DPC diatur dalam Peraturan Rumah Tangga.
 
BAB XI
K E K A Y A A N
Pasal 47
(1) Kekayaan PPHN terdiri dari uang pangkal, uang iuran, uang
sumbangan dan lain-lain kekayaan yang diperoleh dengan sah;
(2) Ketentuan lebih lanjut tentang kekayaan sebagaimana dimaksud
ayat (1) tersebut diatur dalam Peraturan Rumah Tangga.
 
BAB XII
KODE ETIK ADVOKAT DAN DEWAN KEHORMATAN
Pasal 48
(1) Untuk menjaga martabat Advokat, maka setiap anggota PPHN
wajib mematuhi Kode Etik Advokat Indonesia;
(2) Setiap anggota PPHN yang melanggar Kode Etik dapat diadili
oleh Dewan Kehormatan terlepas dari jabatan/kedudukan apapun
yang dijabatnya dalam organisasi maupun anggota biasa.

Pasal 49
(1) Untuk mengawasi pelaksanaan Kode Etik Advokat di DPP
diadakan Dewan Kehormatan Pusat dan Dewan Kehormatan Daerah;
(2) Untuk memeriksa dan memutus adanya pelanggaan Kode Etik,
Dewan Kehormatan membentuk Majelis Kehormatan;
(3) Masa jabatan Dewan Kehormatan Pusat sama dengan masa jabatan
Dewan Pimpinan Pusat, dan masa jabatan  Dewan Kehormatan
Daerah  sama dengan masa jabatan Dewan Pimpinan Daerah;
(4) Dewan Kehormatan Pusat dan Dewan Kehormatan Daerah terdiri
dari paling sedikit 3 (tiga) orang, tetapi harus selalu
berjumlah ganjil;
(5) Tugas dan wewenang Dewan Kehormatan diatur dalam Peraturan
Rumah Tangga.
  
BAB XIV
PENGAWASAN DAN KOMISI PENGAWAS
Pasal 50
(1) Pengawasan terhadap Advokat anggota PPHN dilakukan oleh
Komisi Pengawas;
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan agar
Advokat dalam menjalankan profesinya selalu menjunjung tinggi
Kode Etik dan peraturan perundang-undangan serta ketentuan
lain yang mengatur mengenai Advokat;
(3) Tugas dan wewenang Komisi Pengawas diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Rumah Tangga.
 
BAB XVI
DEWAN PENASEHAT
Pasal 51
 
(1) Dewan Pimpinan Pusat dibantu oleh Dewan Penasehat Pusat,
Dewan Pimpinan Daerah dibantu oleh  Dewan Penasehat Daerah
dan  Dewan Pimpinan Cabang dibantu Dewan Penasehat Cabang;
(2) Dewan Penasehat pada masing-masing tingkatan dapat
memberikan nasehat, baik diminta maupun tidak, kepada Dewan
Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan
Cabang;
(3) Dewan Penasehat terdiri dari sekurang-kurangnya dari 5
(lima) orang di Pusat dan 3 (tiga) orang di Daerah dan
Cabang, tetapi selalu harus berjumlah ganjil;
(4) Masa jabatan Dewan Penasehat Pusat sama dengan masa jabatan
Dewan Pimpinan Pusat,  masa jabatan Dewan Penasehat  Daerah
sama dengan masa jabatan Dewan Pimpinan Daerah dan masa
jabatan Dewan Penasehat Cabang sama dengan masa jabatan Dewan
Pimpinan Cabang;
(5) Tugas dan wewenang Dewan Penasehat diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Rumah Tangga.
 
BAB XVII
PERATURAN RUMAH TANGGA
Pasal 52
(1) Peraturan Rumah Tangga tidak boleh memuat ketentuan-
ketentuan yang bertentangan dengan Anggaran Dasar ini;
(2) Peraturan Rumah Tangga ditetapkan oleh MUNAS atau MUNASLUB.
 
BAB XVIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PERATURAN RUMAH TANGGA
Pasal 53
Perubahan  Anggaran Dasar dan Peraturan Rumah Tangga hanya dapat
dilakukan melalui MUNAS atau MUNASLUB;
 
BAB XIX
TAHUN BUKU DAN LAPORAN TAHUNAN
PASAL 54
Tahun buku PPHN dimulai dari tanggal 1 (satu) Januari sampai
dengan tanggal 31 (tiga puluh satu) Desember pada tahun
berjalan. Buku PPHN ditutup, pada setiap akhir bulan Desember.

PASAL 55
(1) DPP, DPD dan DPC wajib menyusun Laporan Tahunan secara
tertulis paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya
tahun buku PPHN.Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada
ayat 1 (satu)� memuat sekurang-kurangnya:
a. Laporan Kinerja dan Keuangan PPHN untuk tahun buku
sebelumnya;
b. Ihtisar Laporan Keuangan Tahunan PPHN disusun sesuai
dengan Standar Akuntasi Keuangan.
(2) Laporan Tahunan wajib ditandatangani oleh Ketua Umum dan
Sekretaris Jenderal (untuk DPP), Ketua dan Sekretaris (untuk
DPD dan DPC);
(3) Laporan Tahunan disahkan oleh rapat pengurus masing-masing
tingkat kepengurusan sebelum ditandatangani;
(4) Laporan Tahunan wajib disampaikan DPP dalam Rapat Pimpinan
Nasional;
(5) Laporan Tahunan wajib disampaikan DPD dalam Rapat Pimpinan
Daerah dan selanjutnya disampaikan kepada DPP secara
tertulis;
(6) Laporan Tahunan wajib disampaikan DPC dalam Rapat Pimpinan
Cabang dan selanjutnya disampaikan kepada DPD dan DPP secara
tertulis.
  
BAB XX
P E M B U B A R A N
Pasal 56
 
(1) Pembubaran PPHN harus diputuskan dalam MUNAS LUAR BIASA yang
khusus diadakan untuk maksud itu;
(2) MUNAS LUAR BIASA tersebut adalah sah, apabila dihadiri oleh
sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Dewan
Pimpinan Daerah dan 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Dewan
Pimpinan Cabang yang telah terdaftar di DPD;
(3) Apabila quorum tidak tercapai pada saat sidang dibuka, maka
MUNAS LUAR BIASA tersebut diundur untuk waktu sekurang-
kurangnya 12 (dua belas) jam, jika sesudah dibuka kembali
ternyata quorum tetap tidak tercapai, maka diadakan lagi
pengunduran  untuk waktu sekurang-kurangnya 12 (dua belas)
jam. Jika sesudah pengunduran berturut-turut untuk waktu
sekurang-kurangnya 2 (dua) kali 12 (dua belas) jam tersebut
quorum tetap tidak tercapai, maka MUNAS LUAR BIASA yang
khusus diadakan untuk pembubaran PPHN tersebut tidak sah dan
dianggap batal;
(4) Pembubaran PPHN dalam MUNAS LUAR BIASA menurut ketentuan
ketentuan di atas  adalah sah, apabila disetujui oleh
sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah suara
peserta MUNAS LUAR BIASA.
  
BAB XXII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 57
(1) Apabila timbul perbedaan tafsiran terhadap suatu ketentuan
dalam Anggaran Dasar dan atau Peraturan Rumah Tangga, maka
hal ini diputus oleh Dewan Pimpinan Pusat setelah mendengar
pendapat Dewan Penasehat Pusat;
(2) Dewan Pimpinan Pusat dapat menetapkan hal-hal yang belum
diatur dalam Anggaran Dasar dan Peraturan Rumah Tangga
melalui Peraturan Organisasi maupun Keputusan Dewan Pimpinan
Pusat PPHN;
(3) Hal-hal yang telah dikerjakan dan atau ditetapkan oleh Dewan
Pimpinan Pusat PPHN harus dipertanggungjawabkan dalam MUNAS
berikutnya.
 
PASAL 58
Anggaran Dasar ini merupakan hasil perubahan kedua terhadap
Anggaran Dasar yang ditetapkan pada tanggal 9 Mei 2011.
 
Ditetapkan di :Yogyakarta
Tanggal :23 September 2016