Anda di halaman 1dari 9

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui

opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh
jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb
Sumber Hukum Asuransi
nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer
Indonesia
tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas
dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx
21/10/2014

cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
Widiastini Kr.SH

wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio
pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj
klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw
ertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiop9
Sumber Hukum Asuransi
Penulis : Widiastini Kr.SH

Manfaat belajar sumber hukum

Hukum mengatur setiap segi kehidupan manusia. Hal ini sangat mudah kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia diatur oleh seperangkat aturan hukum.
Kegiatan manusia sangat beragam sehingga di dalam masyarakat terdapat banyak sekali
aturan hukum yang mengatur masing-masing kegiatan tersebut.

Sejalan dengan kehidupan manusia yang selalu berkembang secara dinamis, perangkat
hukum pun tidak statis. Hukum harus selalu mengikuti perkembangan jaman dan
kebutuhan masyarakatnya. Meskipun tidak dapat dipungkiri sering kali dijumpai juga
hukum yang sudah tidak sesuai perkembangan jaman dan perlu diperbaharui.

Begitu banyaknya jumlah dan jenis hukum sehingga tidak ada satu orang pun yang
mampu menghitung berapa jumlah hukum yang mengatur suatu bidang di suatu masa.
Tidak juga ada seorang ahli hukum yang mampu menguasai seluruh hukum-hukum
secara total. Itu sebabnya di fakultas hukum disusun penjurusan-penjurusan. Dengan
adanya spesialisasi maka seseorang lebih dimungkinkan untuk melakukan pendalaman
dbidang tertentu.

Tidak terbatas pada orang-orang yang menekuni bidang hukum, orang awam pun
adakalanya perlu mengetahui bagaimana hukum mengatur mengenai sesuatu hal.
Misalnya seseorang yang ingin melanjutkan sekolahnya ke luar negeri perlu mengetahui
bagaimana pengaturan untuk mendapatkan visa ke negara tersebut. Contoh lain,
seseorang yang ingin membuka usaha di bidang kuliner perlu mengetahui segala
peraturan untuk membuka dan menjalankan usaha tersebut misalnya peraturan mengenai
bagaimana mendapatkan ijin usaha, peraturan mengenai perpajakan dll.

Untuk mengetahui pengaturan-pengaturan hal tersebut, tentunya ia harus mempelajari


peraturannya. Kegiatan ini harus didahului dengan kegiatan pencarian hukum.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa hukum itu beragam jenis dan banyak
jumlahnya, jadi kegiatan pencarian hukum ini harus mampu menghasilkan informasi
yang dibutuhkan.

Misalnya, Bella rencananya akan melangsungkan pernikahan dengan Rommy pada bulan
Desember 2015. Pada bulan pernikahan tersebut, Bella akan genap berusia 19 tahun dan
Rommy berusia 25 tahun. Mereka ingin mengetahui apakah menurut peraturan yang
berlaku usia mereka sudah diperbolehkan untuk menikah.

9
Dalam pencarian hukum ada beberapa pertanyaan yang harus dicari jawabannya, yaitu :
1. Apakah ada peraturan yang mengatur tentang batas usia menikah?
2. Bila ada, apa bentuk peraturan itu : undang undang, peraturan pemerintah, atau
peraturan lainnya?
3. Apa nama peraturan yang mengatur tentang batas usia menikah?

Setelah melakukan pencarian hukum, mereka mendapatkan jawabannya sebagai berikut :


1. Pertanyaan No. 1 jawabannya : ada.
2. Pertanyaan No. 2 jawabannya : undang undang.
3. Pertanyaan No. 3 jawabannya : UU no. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban tersebut, barulah mereka mempelajari isi


peraturan yang terkandung dalam UU no. 1 tahun 1974 tersebut.

Tanpa pengetahuan mengenai sumber hukum, kegiatan pencarian hukum akan menjadi
kegiatan yang sulit sekali dan memakan waktu serta tenaga. Seperti mencari jarum dalam
tumpukan jerami.

Pengetahuan mengenai sumber hukum akan mempermudah kegiatan pencarian hukum.


Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara lebih terarah, sistematis dan terstruktur.
Misalnya dengan contoh di atas : mengetahui peraturan tentang batas usia menikah.

Hal ini terkait dengan perkawinan. Perkawinan merupakan hubungan pernikahan antara
seorang pria dan wanita. Hal ini termasuk dalam bidang hukum perdata.
Dengan demikian, kegiatan pencarian hukum hanya di bidang perdata dan lebih khusus
lagi yaitu di bidang perkawinan. Jadi tidak perlu mencari-cari di luar bidang tersebut.

Selanjutnya mencari tahu bentuk hukumnya, seperti apakah berbentuk undang undang,
peraturan pemerintah atau peraturan menteri dst.

Di era sekarang kegiatan pencarian dipermudah dengan adanya search engine yang
sangat populer disebut paman Google. Memang betul, namun kita akan kesulitan
menuliskan kata kunci untuk pencarian. Tanpa kata kunci yang tepat sama saja kegiatan
pencarian melalui search engine juga akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Jadi manfaat dari memahami pengetahuan mengenai sumber hukum adalah :


1. mempermudah melaksanakan kegiatan pencarian hukum
2. kegiatan pencarian hukum bisa dijalankan dengan lebih terarah, sistematis,
terstruktur dan tentunya lebih cepat.

9
Definisi Sumber Hukum

Sumber hukum dapat didefinisikan sebagai segala apa saja yang menimbulkan aturan-
aturan yang mempunyai kekuatan-kekutatan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan
yang jika dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata.

Sumber hukum dapat ditinjau dari dua segi yaitu


1) Sumber hukum material
Yaitu sumber hukum yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, misalnya
ekonomi, sejarah, sosiologi, dan filsafat.
Sudut pandang seseorang mengenai arti sumber hukum tergantung pada bidang
keahliannya, sehingga istilah sumber hukum mempunyai berbagai arti.

Seorang ahli sejarah memandang sumber hukum dalam arti dimanakah hukum dari
suatu bangsa dalam waktu tertentu dapat diketahui, misalnya dalam dokumen-
dokumen, undang undang.
Ia juga memandang sumber hukum dari mana asalnya hukum suatu bangsa, misalnya
Kitab Undang Undang Hukum Perdata Indonesia bersumber dari Burgerlijke
Wetboek Belanda.

Seorang sosiolog yaitu orang yang mempelajari proses-proses akan menganggap


hukum sebagai suatu peristiwa social. Sumber hukum berarti segala factor yang
menimbulkan hukum baik factor ekonomi maupun factor agama.

2) Sumber hukum formal


Seorang hakim, jaksa, pengacara menganggap sumber hukum adalah segala sesuatu
yang melahirkan hukum positif. Bagi mereka yang penting adalah sumber hukum
formil, sumber tersebut harus mempunyai bentuk / form tertentu.

Sumber hukum formal terdiri dari :


a) Undang Undang : Hukum yang terdapat dalam peraturan perundang undangan

b) Kebiasaan : Hukum yang bersumber pada kebiasaan dan adat.


Kebiasaan adalah sesuatu yang selalu dilakukan oleh masyarakat atas keyakinan bahwa
melakukannya itu dirasakan sebagai kewajiban menurut hukum.
Adat memuat norma-norma yang berasal dari nenek moyang yang ditaati sebagai hukum
dan yang bersifat keramat atau sakral.

c) Traktat : Hukum yang terdapat dalam traktat (perjanjian antar beberapa negara).
Perjanjian antara dua negara atau lebih yang memuat peraturan-peraturan hukum disebut
traktat. Perjanjian antara dua negara dinamakan perjanjian bilateral, perjanjian antara
lebih dari dua negara disebut perjanjian multilateral.

Jika Presiden telah mengadakan perjanjian dengan negara lain dan perjanjian itu harus
mendapatkan persetujuan DPR terlebih dahulu. Kemudian persetujuan DPR tersebut
disahkan oleh Presiden dalam bentuk undang undang dan keputusan presiden. Proses
pengesahan perjanjian internasional ini namanya ratifikasi. Dengan kata lain, Ratifikasi
adalah proses pengesahan oleh Presiden dalam bentuk undang undang dan keputusan

9
presiden atas suatu perjanjian internasional agar perjanjian internasional itu mengikat dan
berlaku bagi warga negara Indonesia.

Sebelum melalui mekanisme ratifikasi perjanjian internasional itu belum mengikat


warganegara Indonesia.

d) Jurisprudensi : Hukum yang terdapat dalam keputusan pengadilan.


Suatu keputusan atau kumpulan keputusan dari hakim yang biasanya dimuat dalam
majalah hukum.

3 faktor yang menyebabkan jurisprudensi merupakan sumber hukum :


i) Jika Mahkamah Agung mengeluarkan keputusan tentang sesuatu hal maka keputusan
tersebut mempunyai kewibawaan karena Mahkamah Agung merupakan pengadilan
tertinggi.
ii) Jika pengadilan bawahan tidak mengikuti pandangan hukum pengadilan yang lebih
tinggi, karena tidak ada peraturan yang menentukannya, maka dalam banding atau
kasasi pengadilan yang lebih tinggi akan membatalkan keputusannya.
iii) Umumnya hakim pada pengadilan yang lebih tinggi lebih berpengalaman dalam
penerapan hukum daripada hakim pengadilan bawahan.

e) Pendapat para ahli hukum atau Doktrin : Hukum yang dilahirkan oleh pandangan ahli
hukum. Pandangan yuridis dari ahli hukum apalagi bila para ahli ini adalah orang-orang
yang terkenal dapat menjadi sumber hukum.
Dalam praktek peradilan di Indonesia, pengadilan dalam pemberian alasan untuk
menetapkan apa yang merupakan hukum , menyandarkan diri pada pandangan seorang
ahli hukum sebagaimana yang termuat dalam karangan / tulisan para ahli tersebut,
sehingga pandangan itu merupakan sumber hukum.

Hierarchi Perundangan

Bentuk peraturan perundangan beragam dan masing-masing ada urutannya dan ada tingkatannya.
Peraturan perundangan tersebut ditata urutannya dan disebut dengan istilah hierarki atau hierarchi
perundangan.

Hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia menurut UU No. 12 tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan:
1. UUD 1945 : merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan.
2. Ketetapan MPR
3. Undang-Undang (UU)
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu)
5. Peraturan Pemerintah (PP)
6. Peraturan Presiden (Perpres)
7. Peraturan Daerah (Perda), termasuk :
a. Qanun ( Aceh) : Peraturan Perundang-undangan sejenis Peraturan Daerah yang
mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat di Provinsi
Aceh.
b. Perdasus : Peraturan Daerah Khusus dan Perdasi : Peraturan Daerah Propinsi
(Propinsi Papua)
• Peraturan Desa

9
Sebelumnya, hierarkhi perundangan di Indonesia di atur dalam Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (disingkat Tap MPRS) dan Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat (disingkat Tap MPR).

Menurut Ketetapan MPRS No. XX Tahun 1966 tata urutan tersebut terangkai di bawah ini :
a)       UUD 1945
b)       TAP MPR RI
c)       Undang-Undang
d)       PERPU (Peraturan Pemerintah Sebagai Pengganti Undang-Undang).
e)       Peraturan Pemerintah (PP)
f)        Peraturan Menteri
g)       Keputusan Menteri
h)       Instruksi Menteri

Kalau menurut TAP MPR No. III Tahun 2000 tata urutan peraturan perundangan Republik
Indonesia seperti di bawah ini :
a)       UUD 1945
b)       TAP MPR RI
c)       Undang-undang.
d)       PERPU
e)       Peraturan Pemerintah (PP)
f)        Keputusan Presiden
g)       Peraturan Daerah (PERDA)

Dari urutan peraturan perundangan sebagaimana digambarkan di atas dapat disimpulkan dalam
peraturan perundangan terdapat hierarchie peraturan artinya susunan tinggi rendahnya suatu
peraturan.

Akibat dari pada hierarchie tersebut adalah :


a. Peraturan tingkat rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan tingkat tinggi.
b. Jika peraturan tingkat rendah bertentangan dengan peraturan tingkat tinggi maka peraturan
tingkat rendah dapat dikesampingkan.
c. Apa yang telah diatur dalam peraturan tingkat tinggi tidak boleh diatur lagi dalam peraturan
tingkat rendah.
d. Jika suatu hal diatur dalam peraturan tingkat rendah kemudian hal itu diatur lagi dalam
peraturan tingkat tinggi maka peraturan tingkat rendah tidak berlaku lagi.
e. Peraturan tingkat rendah tidak boleh merubah peraturan tingkat tinggi.

Meskipun pada hierarchie tersebut menempatkan UUD 1945 pada urutan pertama, patut diingat
bahwa yang menjadi sumber dari semua sumber hukum di Indonesia adalah Pancasila. Jadi
Pancasila harus ditempatkan pada urutan teratas. Sebagai sumber dari semua sumber hukum, sila-
sila dalam Pancasila selalu harus menjadi dasar dan diperhatikan oleh para pembuat peraturan
perundangan.

9
Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang kegiatan asuransi

Peraturan perundangan yang mengatur mengenai asuransi dapat dilihat dari 2 segi yaitu :
a. hukum yang mengatur mengenai usaha perasuransian
Dari sisi ini, yang menjadi sorotan adalah para pelaku asuransi seperti perusahaan
asuransi, perusahaan reasuransi, pialang, agen dan lain-lain.
Peraturan perundangan ini mengatur mulai dari perijinan, operasional, pengawasan dan
sanksi hukum atas pelanggaran yang terjadi.
Tujuan pengaturan adalah untuk memberikan kepastian kepada masyarakat pengguna
jasa asuransi bahwa pemberi jasa termasuk usaha pendukungnya merupakan pemberi jasa
yang sah dan menjalankan usahanya secara sehat.

b. hukum yang mengatur mengenai perjanjian asuransi.


Sebagaimana dirumuskan dalam pasal 246 KUH Dagang dan pasal 1 UU 40/ 2014 bahwa
asuransi adalah suatu perjanjian dua pihak yaitu antara penanggung dan tertanggung,
maka pada sisi ini yang menjadi sorotan adalah segala sesuatu yang mengenai perjanjian.
Para pihak dalam perjanjian, isi perjanjian, pelaksanaan perjanjian dan lain-lain.

Tujuan pengaturan ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat


pengguna jasa asuransi. Umumnya perjanjian asuransi sudah disiapkan oleh penanggung
sehingga masyarakat seolah-olah berada pada posisi yang harus menerimanya. Selain
daripada itu penanggung menguasai seluk beluk mengenai asuransi, tidak demikian
halnya dengan tertanggung. Kedudukan yang tidak setara ini perlu diatur oleh hukum
untuk memastikan bahwa pihak yang lemah dalam hal ini tertanggung kepentingannya
terlindungi.

Di Indonesia sumber hukum asuransi terdiri dari :


1. Kitab Undang Undang Hukum Perdata disingkat KUHPer atau KUH Perdata
Kitab Undang Undang Hukum Perdata ( KUH Perdata ) terdiri dari 4 buku :
Buku 1 : Orang
Buku 2 : Benda
Buku 3 : Perikatan
Buku 4 : Pembuktian & Daluarsa
Ketentuan yang di dalam Buku 3 mengatur mengenai perjanjian pada umumnya. Sedangkan
ketentuan yang khusus mengatur tentang perjanjian asuransi terdapat dalam Kitab Undang
Undang Hukum Dagang disingkat KUHD atau KUH Dagang.

2. Kitab Undang Undang Hukum Dagang ( KUH Dagang )


Kitab Undang Undang Hukum Dagang ( KUH Dagang) terdiri dari 2 buku :
1. Buku 1 : Dagang pada umumnya
a. Bab IX : Asuransi pada umumnya
b. Bab X : Asuransi Kebakaran, Asuransi Hasil Pertanian yang belum dipanen, Asuransi
Jiwa

2. Buku 2 : Pelayaran.
a. Bab IX : Pertanggungan Laut
b. Bab X : Pertanggungan terhadap bahaya dalam pengangkutan di darat dan perairan
darat.

9
3. Undang Undang No. 40 tahun 2014 tentang Perasuransian.
Dari judulnya, UU ini ingin memuat atau mengatur hal-hal seputar perasuransian.

Undang Undang Perasuransian mengatur hal- hal di bawah ini : Bab-bab mengatur tentang
usaha perasuransian :
1. Ketentuan Umum
2. Ruang Lingkup Usaha Perasuransian
3. Bentuk Badan Hukum dan Kepemilikan Perusahaan Perasuransian
4. Perijinan Usaha
5. Penyelenggaraan Usaha
6. Tata Kelola Usaha Perasuransian Berbentuk Koperasi dan Usaha Bersama
7. Peningkatan Kapasitas Asuransi, Asuransi Syariah, Reasuransi dan Reasuransi Syariah
Dalam Negeri
8. Program Asuransi Wajib
9. Perubahan Kepemilikan, Penggabungan dan Peleburan
10. Pembubaran, Likuidasi dan Kepailitan
11. Perlindungan Pemegang Polis, Tertanggung atau Peserta
12. Profesi Penyedia Jasa Bagi Perusahaan Perasuransian
13. Pengaturan dan Pengawasan
14. Asosiasi Usaha Perasuransian
15. Sanksi Administratif
16. Ketentuan Pidana
17. Ketentuan Peralihan
18. Ketentuan Penutup

4. Berbagai peraturan pelaksanaan dari UU No.40/2014 tentang Perasuransian.


Berbagai peraturan pelaksanaan dari UU 2/1992 dan PPnya dinyatakan masih tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan UU No. 40/ tahun 2014.
Bentuk :
a. Keputusan Menteri Kuangan disingkat KMK
b. Peraturan Menteri Keuangan disingkat PMK

5. Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian Yo


PP No.63 tahun 1999 Yo PP No. 39 / 2008 Yo PP No. 81 / 2008
Mengatur tentang :
a. Penutupan Obyek Asuransi
b. Perijinan Usaha Perasuransian
c. Perijinan Perusahaan Perasuransian
d. Kesehatan Keuangan
e. Penyelenggaraan Usaha
f. Penyelenggaraan Program Asuransi Sosial
g. Merger dan Konsolidasi
h. Sanksi

Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian


PP No.63 tahun 1999 tentang Perubahan atas PP 73 / 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha
Perasuransian yo PP No. 39 / 2008 tentang Perubahan Kedua atas PP 73 / 1992 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian yo PP No. 81 / 2008 tentang Perubahan Ketiga atas PP
73 / 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian

9
PP 73/1992 telah diubah beberapa kali dan yang terakhir adalah dengan dikeluarkannya PP
81/2008, oleh karena itu semua rangkaian PP ini menjadi sumber hukum bagi usaha
perasuransian maupun perjanjian asuransi.

Selanjutnya PP ini dilaksanakan dan diatur lebih rinci di dalam rangkaian Keputusan Menteri
Keuangan disingkat KMK yang kemudian istilahnya diganti menjadi Peraturan Menteri
Keuangan atau disingkat PMK.

Keseluruhan peraturan perundangan ini menjadi sumber hukum yang mengatur tentang usaha
perasuransian dan perjanjian asuransi.

Terlepas dari itu masih ada berbagai peraturan perundangan yang juga mengatur tentang
industri asuransi seperti UU Perseroan Terbatas , UU dan peraturan perundangan yang
mengatur tentang perpajakan dan lain-lain.Seluruh peraturan perundangan tersebut juga harus
ditaati.

Khusus untuk perkuliahan ini ruang lingkupnya dibatasi hanya pada perjanjian asuransi dan
hal-hal pokok dari usaha perasuransian.

04 Mar 2015