Anda di halaman 1dari 14

Gerhana Matahari

Gerhana matahari adalah gerhana yang terjadi


saat posisi bulan terletak di antara bumi dan
matahari. Posisi ini membuat sebagain atau
seluruh cahaya matahari yang harusnya
terpancar ke bumi terhalang oleh bulan.
Akibatnya, daerah yang seharusnya terkena
cahaya matahari jadi gelap gulita. Di langit akan
nampak matahari seperti tertutup sebuah benda,
menjadi hitam. Meski bulan lebih kecil dari
matahari namun bayangan bulan akan
membesar dan menutup sebagian muka bumi
yang sehadap dengan bulan dan matahari.

Gerhana matahari terbagi menjadi 4 jenis


berdasarkan posisi bayangan yang dihasilkan
oleh posisi bulan. Pertama adalah gerhana
matahari total, lalu gerhana matahari sebagian,
gerhana matahari cincin dan yang terakhir
gerhana matahari hibrida.

Gerhana Matahari Total


Gerhana matahari total terjadi saat matahari
benar tertutup dengan sempurna oleh bayangan
dari bulan. Di langit hanya ada matahari yang
menjadi bulatan hitam tanpa ada celah cahaya
sedikit pun. Bayangan umbra melewati tepat
tengah matahari, dan memblokir semua cahaya
yang seharusnya mengenai bumi. Saat terjadi
gerhana matahari total, kita dapat melihat
matahari di luar atmosfer yang biasa disebut
dengan corona.

Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari Sebagian


Gerhana matahari sebagian terjadi saat
bayangan dari bulan tidak benar-benar membuat
permukaan bumi jadi gelap sempurna. Hal ini
terjadi karena piringan bulan tidak menutup
secara sempurna piringan matahari yang
nampak dari bumi. Saat ini terjadi, bayangan
penumbra yang mengenai bumi. Bukan
bayangan utama seperti saat terjadi gerhana
matahari.

Gerhana Matahari Sebagian

Gerhana Matahari Cincin


Gerhana Matahari cincin terjadi karena ukuran
bulan yang nampak dari bumi lebih kecil dari
ukuran matahari. Hal ini mengakibatkan tidak
semua cahaya dihalangi oleh permukaan bulan.
Bayangan yang menimpa bumi hanya sebagian
saja, dan di langit akan terlihat lingkaran seperti
cincin cahaya dari permukaan matahari yang
masih nampak dari bumi. 

Gerhana Matahari Cincin


Gerhana Matahari Hibrida
Gerhana ini relatif jarang terjadi sepanjang
sejarah manusia mengobservasi gerhana.
Gerhana matahari hibrida adalah gerhana yang
bergeser dari gerhana matahari total ke gerhana
matahari cincin. Pada titik tertentu di permukaan
bumi akan terlihat gerhana matahari total dan
pada titik yang lain akan terlihat gerhana
matahari cincin.

Apa yang tidak boleh dilakukan ketika


gerhana matahari

1. Jangan melihat langsung gerhana matahari


tanpa pelindung mata. Bahkan, kacamata
hitam pun tidak dapat menghalangi sinar
matahari yang lebih cerah dari biasanya.
2. Penting untuk diingat, jangan melihat gerhana
matahari terlalu lama melalui lubang jarum.
3. Selain itu, tidak disarankan untuk
menggunakan teropong atau teleskop untuk
melihat gerhana matahari.
4. Jangan sekadar gunakan kacamata hitam, tapi
gunakanlah kacamata hitam uang memiliki
filter lensa Polarized.
Amalan apa saja yang bisa dilakukan oleh
kaum muslimin ketika terjadi gerhana?

Pertama: perbanyaklah dzikir, istighfar,


takbir, sedekah dan bentuk ketaatan
lainnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫ ال‬، ِ‫ات اللَّه‬999 ِ َ ‫ن آي‬ْ ‫م‬ِ ‫ان‬999


ِ َ ‫ر آيَت‬999
َ ‫م‬ َ َ‫س وَالْق‬َ ‫م‬ ْ 999‫الش‬َّ ‫ن‬
َّ ِ ‫إ‬
َ 9 ِ ‫م ذَل‬ َ َ
‫ك‬ ْ ُ ‫إِذ َا َرأيْت‬99َ‫ ف‬، ِ‫ه‬9 ِ ‫حيَات‬َ ِ ‫ دٍ وَال َ ل‬9‫ح‬َ ‫تأ‬ ِ ْ‫و‬99‫م‬ َ ِ ‫َان ل‬ِ ‫سف‬ ِ ‫خ‬
َ ْ ‫يَن‬
َ َ ‫صلُّوا وَت‬
9‫صدَّقُوا‬ َ َ‫ و‬، ‫ه وَكَب ِّ ُروا‬ َ َّ ‫فَادْعُوا الل‬
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua
tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.
Gerhana ini tidak terjadi karena kematian
seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat
hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah,
bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan
bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Kedua: keluar mengerjakan shalat gerhana


secara berjama’ah di masjid.
Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini
sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah
bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah
gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
melewati kamar istrinya (yang dekat dengan
masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan
shalat. (HR. Bukhari no. 1050). Dalam riwayat
lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa
sallam mendatangi tempat shalatnya (yaitu
masjidnya) yang biasa dia shalat di situ. (Lihat
Shohih Fiqh Sunnah, 1: 343)

Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan


ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah
mengerjakan shalat gerhana di masjid.
Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut
lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar
nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.”
(Fathul Bari, 4: 10)

Apakah mengerjakan dengan jama’ah


merupakan syarat shalat gerhana?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin


mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah
bukanlah syarat. Jika seseorang berada di
rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat
gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

‫صلُّوا‬ َ
َ َ‫م ف‬
ْ ُ ‫فَإِذ َا َرأيْت‬
“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka
shalatlah”. (HR. Bukhari no. 1043)
Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa
sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian
melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh
karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat
gerhana diperintahkan untuk dikerjakan
walaupun seseorang melakukan shalat tersebut
sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa
menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah
tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih
utama jika shalat tersebut dilaksanakan di
masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
mengerjakan shalat tersebut di masjid dan
mengajak para sahabat untuk melaksanakannya
di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah
akan lebih menambah kekhusu’an. Dan
banyaknya jama’ah juga adalah sebab
terijabahnya (terkabulnya) do’a.” (Syarhul
Mumthi’, 2: 430)

Ketiga: wanita juga boleh shalat gerhana


bersama kaum pria
Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,

–‫ى‬ َ ِ ‫ت عَائ‬ َ
ِّ ِ ‫ج النَّب‬ َ ْ‫ا – َزو‬99‫ه عنه‬99‫ى الل‬99‫ة – رض‬ َ 99‫ش‬ ُ ْ ‫أتَي‬
،‫س‬ ُ ‫م‬ ْ 99‫الش‬ َّ ‫َت‬
ِ ‫سف‬ َ ‫خ‬
َ ‫ين‬ َ ‫ح‬ ِ – ‫صلى الله عليه وسلم‬
‫لِّى‬99‫ص‬ َ ُ‫ة ت‬ ٌ 99‫م‬ َ ِ ‫ى قَائ‬
َ ِ‫ وَإِذ َا ه‬، ‫ن‬ َ ‫صلُّو‬
ََ ُ ‫م ي‬ٌ ‫س قِيَا‬ ُ ‫فَإِذ َا النَّا‬
، ِ‫ماء‬ َ 99‫الس‬َّ ‫دِهَا إِلَى‬99َ ‫ت بِي‬ ْ ‫ار‬ َ َ ‫اس فَأ‬
99‫ش‬ ِ َّ ‫ا لِلن‬99‫م‬ َ ‫ت‬ ُ ْ ‫فَقُل‬
َ َ
‫م‬ْ َ‫ت أىْ نَع‬ ْ ‫ار‬ َ َ‫ة فَأش‬ ٌ َ ‫ت آي‬ُ ْ ‫ فَقُل‬. ِ‫ن اللَّه‬ َ ‫حا‬ َ ْ ‫سب‬
ُ ‫ت‬ ْ َ ‫وَقَال‬
“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha
-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika
terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia
tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut
berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya:
“Kenapa orang-orang ini?” Aisyah
mengisyaratkan tangannya ke langit seraya
berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya
bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu
memberikan isyarat untuk mengatakan iya.”
(HR. Bukhari no. 1053)

Bukhari membawakan hadits ini pada bab:

‫وف‬
ِ ‫س‬ُ ُ ‫ال فِى الْك‬
ِ ‫ج‬َ ‫الر‬
ِّ َ‫مع‬ َ ِّ ‫صالَةِ الن‬
َ ‫سا ِء‬ َ
“Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi
gerhana matahari.”

Ibnu Hajar mengatakan,


َ
َ 9 ِ ‫عَ ذَل‬9 َ ‫من‬
‫ك‬ َ ‫ن‬ َ ‫وْل‬99َ‫ة إِلَى َرد ّ ق‬99‫م‬
ْ ‫م‬ َ ‫ج‬ َ َ‫أش‬
َ ‫ذِهِ الت َّ ْر‬9 َ‫ار بِه‬
‫ين فُ َرادَى‬ َ ِّ ‫صل‬
َ ُ‫ ي‬: ‫ل‬ َ ‫وَقَا‬
“Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk
orang-orang yang melarang wanita tidak boleh
shalat gerhana bersama kaum pria, mereka
hanya diperbolehkan shalat sendiri.” (Fathul
Bari, 4: 6)
Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta
melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di
masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita
tersebut akan membawa fitnah (menggoda
kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat
sendiri di rumah. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1:
345)

Keempat: menyeru jama’ah dengan


panggilan ’ash sholatu jaami’ah’ dan tidak
ada adzan maupun iqomah.
Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau
mengatakan,

‫لى‬99‫سول اللهِ ص‬ ِ ‫َت عَلَى عَهْدِ َر‬ ْ ‫سف‬ َ ‫خ‬ َ ‫ن الشَّ مس‬ َّ ‫أ‬
َ‫الَة‬99‫ الص‬:‫ادِي‬99َ ‫ا ً يُن‬99‫منَادي‬ُ ‫ث‬ َ َ‫ فَبَع‬،‫لم‬99‫ه وس‬99‫ه علي‬99‫الل‬
َ‫ع‬99َ ‫لَّى أرب‬99‫بر وَص‬99
َّ َ ‫م فَك‬ َ َّ ‫د‬99َ‫ وَتَق‬.‫معُوا‬َ َ ‫اجت‬99َ‫ ف‬،‫ة‬99َ‫مع‬
ِ ‫جا‬ َ
.‫ات‬ٍ َ ‫جد‬ َ ‫س‬ َ َ‫ات في ركعَتَين وَأربع‬ ٍ َ‫َركَع‬
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa
pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu
mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah
dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita
lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas
berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau
melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud
dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901) .
Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk
‫‪mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi,‬‬
‫‪adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat‬‬
‫‪gerhana.‬‬

‫‪Kelima: berkhutbah setelah shalat gerhana‬‬


‫‪Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk‬‬
‫‪berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam‬‬
‫‪Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat‬‬
‫‪Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435). Hal ini berdasarkan‬‬
‫‪hadits:‬‬

‫َت‬ ‫َس‪99‬ف ِ‬‫ت‪ :‬خ َ‬ ‫ة َرض‪99‬ي الل‪99‬ه عَنْهَ‪99‬ا قَ‪99‬ال َ ْ‬ ‫َن عَائِش‪َ 99‬‬ ‫ع ْ‬
‫سول الل‪99‬ه ص‪99‬لى الل‪99‬ه علي‪99‬ه‬ ‫س عَلَى عَهدِ َر ُ‬ ‫الشم ُ‬
‫ل الله ص‪9‬لى الل‪9‬ه علي‪9‬ه‬ ‫سو ُ‬ ‫صلَّى َر ُ‬ ‫م فَ َ‬ ‫وسلم‪ .‬فَقَا َ‬
‫ل‬‫م َرك َ‪99‬عَ فَأط َ‪99‬ا َ‬ ‫ل ال ِقي َ‪99‬ام‪ ،‬ث ُ َّ‬ ‫وس‪99‬لم بالنَّاس فَأط َ‪99‬ا َ‬
‫ن ال ِقي َ‪99‬ام‬‫م وَه‪99‬و دُو َ‬ ‫ل القي َ‪99‬ا َ‬ ‫م فَأط َ‪99‬ا َ‬ ‫م قَا َ‬ ‫الركُوعَ‪ ،‬ث ُ َّ‬ ‫ُّ‬
‫‪9‬وع‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫ل‪ ،‬ثم َركعَ فَأطا َ‬
‫الرك ‪ِ 9‬‬ ‫ن ُّ‬ ‫الرك‪99‬وعَ وهُ‪99‬وَ دُو َ‬ ‫ل ُّ‬ ‫األوَّ ِ‬
‫ل في‬ ‫جودَ‪ ،‬ثم فَعَ‪َ 99‬‬ ‫الس‪ُ 99‬‬
‫ُّ‬ ‫جد َ فَأط َ‪99‬ا َ‬
‫ل‬ ‫س‪َ 99‬‬ ‫ل‪ ،‬ثُم َ‬ ‫األوَّ ِ‬
‫ما فَعَ‪99‬ل في الركْعَ‪99‬ةِ األولى‪،‬‬ ‫مثْل َ‬ ‫الركعَةِ األخ َْرى ِ‬
‫س‬
‫َطب الن‪99‬ا َ‬ ‫َ‬ ‫س‪ ،‬فَخ‬ ‫م ُ‬ ‫لت الشَّ ْ‬ ‫ج ِ‬ ‫ف وَقَد ْ ان َ‬ ‫انصر َ‬
‫َ‬ ‫ث ُ َّ‬
‫م‬
‫مد َ الله وأثنَى عَليهِ ثم قا َ‬
‫ل‪:‬‬ ‫ح ِ‬ ‫فَ َ‬
‫‪9‬ات الل‪99‬ه ال َ‬
‫ن آي َ‪ِ 9‬‬ ‫م ْ‬‫‪9‬ان ِ‬
‫م‪99‬ر آيت‪ِ 9‬‬ ‫الش ‪9‬مس و ال َق َ‬ ‫َّ‬ ‫” إن‬
‫م ذل‪99‬ك‬ ‫وت أحد‪ .‬وَال َ ل ِ َ‬
‫حيَاتِهِ‪ .‬فَإذ َا َرأيت ْ‬ ‫م ِ‬
‫َان ل ِ َ‬
‫سف ِ‬‫خ ِ‬
‫تن ْ َ‬
‫صد َّ قوا”‪.‬‬‫صلُّوا وَت َ َ‬ ‫فَادعُوا الله وَكبروا وَ َ‬
‫حد أغَْي َ ُر‬ َ ‫نأ‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ما‬ َ ‫ والله‬: ” ‫مد‬ َّ ‫مح‬ ُ ‫ة‬ َ ‫ ” يَا أم‬:‫ثم قال‬
.‫ه‬ ُ ُ ‫مت‬َ ‫ أوْ تَزني أ‬9ُ‫ه من أن ي َ ْزنَي عَبْدُه‬ ُ َ ‫حان‬
َ ْ ‫سب‬
ُ ‫ن الله‬ َ ‫م‬
ِ
‫م‬ْ ُ ‫حكْت‬9‫لض‬ َ ‫ا أعلم‬9‫م‬ َ ‫ن‬َ ‫مو‬
ُ ‫ وَالله لو تَعْل‬،‫حمد‬ َ ‫م‬
ُ ‫ة‬
َ ‫يَا أم‬
.“ ً ‫قَليال ً وَلَبَكَيتم كثِيرا‬
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana
matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan
mengimami manusia dan beliau memanjangkan
berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan
memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau
berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut
namun lebih singkat dari berdiri yang
sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan
memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih
singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian
beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut.
Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya
seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak
(usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan
matahari telah nampak.

Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang


banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah,
kemudian bersabda,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua


tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.
Gerhana ini tidak terjadi karena kematian
seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat
hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah,
bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan
bersedekahlah.”

Nabi selanjutnya bersabda,

“Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada


seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah
karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun
perempuan yang berzina. Wahai Umat
Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui
yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit
tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no.
1044)