Anda di halaman 1dari 3

TUGAS 3

MANAJEMEN RISIKO DAN ASURANSI

Nama : Melkyor Baba Odja W.S.


NIM : 030800188
Program Studi : S1-Akuntansi

1. Semua pembelian asuransi menyangkut kontrak, yaitu perjanjian yang mengikat


secara hukum dan menimbulkan hak serta kewajiban bagi pihak-pihak yang
bersangkutan.
a. Jenis kontrak asuransi :
1. Kontrak bersyarat (Voidable Contract)
Kontrak ini memungkinkan satu pihak memilih memutuskan perjanjian karena
tindakan atau ketiadaan tindakan (wan prestasi) dari pihak lainnya. Pihak yang
memiliki hak untuk memutuskan kontrak dapat juga memilih agar kontrak
ditegakkan. Sebagai contoh : penanggung tidak lagi terikat memenuhi
kewajibannya, jika diketahui bahwa tertanggung melakukan penipuan
(defrand), tertanggung dapat menuntut penanggung ke pengadilan, jika
penanggung, secara melawan hukum hukum, menolak pembayaran klaim.
2. Kontrak yang cacat hukum (Void Contract)
Kontrak cacat hukum, jika dari semula kekurangan satu atau lebih persyaratan
untuk menjadi kontrak yang berlaku. Contoh : kontrak asuransi yang dibeli
untuk maksud ilegal seperti maksud memperoleh uang pertanggungan dengan
membakar rumah yang dipertnggungkan, satu pihak tidak mampu secara
hukum seperti seorang dinyatakan tidak waras membeli asuransi. dalam ha-hal
tersebut kontrak tersebut dianggap tidak pernah ada (void ab initio).
Dalam asuransi properti dikenal adanya ikatan (blinder) yaitu kontrak
sementara yang sering digunakan sebelum keluarnya polis asuransi formal.
Dalam asuransi jiwa tidak menggunakan ikatan karena agen-agennya tidak
memiliki kewenangan mengikat perusahaan. Perlindungan sementara
diberikan dalam bentuk penerimaan bersyarat (conditional receipt) yanitu
tergantung pada dipenuhinya persyaratan atau bukti dapat diasuransikannya
(insurability) calon tertanggung, misalnya keadaan kesehatan. jika persyaratan
atau bukti tersebut dipenuhi, perlindungan mulai berlaku setelah pembayaran
premi pertama.
b. Syarat-syarat kontrak asuransi :
Ketentuan-ketentuan umum yang harus dipenuhi menurut kitab undang-undang
hukum perdata pasal 1320 adalah :
1. Harus ada persetujuan dari pihak-pihak yang mengikatkan diri
Kontrak dimulai bila seseorang mengajukan usulan untuk mempertukarkan
sesuatu yang berharga dengan orang lain. Itu berarti bahwa salah satu pihak
menawarkan dan tawaran diterima baik oleh pihak lain. Penawaran tersebut
harus cukup terinci dan dikomunikasikan secara jelas. Semau pihak dalam
suatu kontrak harus sepakat atas syarat-syarat yang tepat sama. Harus terjadi
kesamaan pikiran (meeting of the minds). Untuk membuat suatu kontrak, satu
pihak memberi penawaran kepada pihak lain untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu. Pihak kedua dapat menerima, menolak atau membuat
konter penawaran. Jika terjadi kesepakatan, maka kedua belah pihak terikat
untuk melaksanakan kontrak tersebut.
2. Tujuannya harus legal (Lawful Objective)
Pengadilan tidak akan mendukung jika maksud perjanjian tidak legal atau
bertentangan dengan politik pemerintah. Misalnya perjanjian menjadi tidak sah
jika yang diasuransikan adalah mobil curian.
Contoh lain, perjanjian iligal jika misalnya orang mengasuransikan rumahnya
dengan niat akan membakar rumah itu dengan sengaja dengan haapan akan
mendapat santunan asuransi.
3. Kedua belah pihak harus kompeten (Capacity)
Tida semua orang secara hukum memiliki kemampuan untuk melakukan
kontrak. Misalnya anak dibawah umur, orang sakit jiwa, dan pemabuk atau
pecandu tidak kompeten umtuk melakukan perjanjian yang mengikat.
4. Harus ada Imbalan yang dipertukarkan (Compensation)
Persyaratan trakhir utnuk sahnya sebuah kontrak adalah imbalan yang
dipertukarkan oleh kedua belah pihak untuk persetujuan itu, misalnya adanya
hak atau kewajiban.
Dalam kontrak asuransi, penanggung memberikan kompensasi berupa janji
bersyarat (contingent promise) untuk membayar tertanggung. Artinya,
penanggung sepakat membayar hanya jika peristiwa tertentu terjadi. Jika
peristiwa tersebut tida terjadi, penaggung tidak perlu melakukan pembayaran.
Sebagai ganti umtuk janji penanggung, tertanggung memberikan dua hal
yaitu : uang dan janji untuk menepati ketentuan dalam kontrak asuransi.
2. Tinjauan usaha perasuransian di Indonesia dilihat dari unsur kepemilikan :
Dilihat dari sudut pandang kepemilikannya, semua perusahaan yang bergerak dalam
sektor asuransi dapat dibedakan dalam tiga kelompok yaitu :
a. Badan usaha milik negara
Sesuai dengan namanya semua saham atau sebagian besar sahamnya dimiliki
oleh pemerintah, yang dalam hal ini Departemen Keuangan RI. Badan usaha
milik negara, secara hukum berbentuk Perseroan Terbatas yang diatur dalam
Undang-Undang Perseroan Terbatas, namun dengan memperhatikan beberapa
ketentuan khusus. Peussahaan-perusahaan milik negaran antara lain :
 PT Asuransi Jiwasraya
 PT Asuransi Jasa Indonesia
 PT Asuransi Kredit Indonesia
 PT Asuransi Ekspor Indonesia
 PT Reasuransi Umum Indonesia
 PT Asuransi Jasa Raharja
 PT Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri
 PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja
 PT Asuransi Kesehatan
b. Badan Usaha Milik Swasta Nasional
Pengertian milik swasta di sini adalah swasta nasional. Demikian juga dengan
bentuk badan hukumnya, bisa berbentuk Perseroan Terbatas dan bisa juga
dalam bentuk Koperasi. Perusahaan swasta nasional sepenuhnya tunduk
kepada Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroanterbatas.
Apabila perseroaan terbatas dimaksud telah mampu menjadi perusahaan
publik maka juga harus tunduk kepada Undang-Undang tentang pasar Modal.
Pada perusahaan swasta nasional yang berbentuk koperasi, maka dengan
sendirinya harus tunduk kepada Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun
1992, yang pada tanggal 30 Oktober telah dikeluarkan Undang-undang
Koperasi yang baru Nomor 17 Tahun 2012.

c. Badan Usaha Milik Usaha Patungan


Sesudah orde baru memegang Pemerintahan pada tahun 1966, maka secara
berangsur masuklah para ivestor asing ke Indonesia, dalam bentuk penanaman
modal asing. Bersamaan dengan itu merka juga membawa mitra usahanya atau
perusahaan-perusahaan yang terkait dengan perusahaan yang menanamkan
modalnya di Indonesia. Salah satu mitra usaha mereka adalah perusahaan
asuransi.
Namun, sesuai dengan ketentuan yang ada di Indonesia tidak berkenan adanya
perusahaan asuransi yang pemiliknya adalah pemodal asaing murni, maka
jalan keluarnya mereka melakukan usaha patungan (joint-ventures), dengan
mitra asuransi nasional baik dengan badan usaha milik negara maupun dengan
badan usaha milik swasta nasional.