Anda di halaman 1dari 2

Wildan Hanif Fahrurroziy

18/424455/PN/15495
REVIEW JURNAL
KAJIAN ANTI PIRETIK DAN ANTI OKSIDAN
DARI EKSTRAK ALGA HIJAU Boergesenia forbesii
Antonius P. Rumengan , Desy A. Mantiri , Billy J. , dan Rene C.
1. Klasifikasi
Klasifikasi Boergesenia forbesii, yaitu :
Kingdom Plantae
Phylum Chlorophyta
Class Ulvophyceae
Order Siphonocladales
Family Siphonocladaceae
Genus Boergesenia
Spesies Boergesenia forbessii

2. Morfologi
Thallus berbentuk seperti balon yang mirip gada melengkung dan bagian pangkalnya sangat
mengecil tempat melekatkan diri, warna hijau transparan, berdinding tipis dan bagian dalamnya berisi
cairan. Tinggi kurang dari 3 cm sedang lebarnya 1,2 cm, dan berwarna hijau muda. Dari identifikasi ciri-
ciri tersebut dapat diketahui bahwa spesies alga inin merupakan dari divisi Chlorophyta dengan nama
spesies Boergesenia forbesii. Tampubolon (2013) menyatakan bahwa talus membentuk seperti balon,
bentuk talus silindris, berdinding tipis dan transparan, bagian dalamnya berisi cairan dan terlihat
mengkilap. Memiliki warna hijau muda, holdfast rhizoid. Habitatnya berada pada substrat batu.
Boergesenia forbesii ini mempunyai bagian talus yang berbentuk seperti silidris yang di dalamnya
dipenuhi oleh cairan berwarna hijau. Talus dapat berwarna hijau karena menmpunyai klorofil a dan b
serta karotenoid yang spesifik.
Menurut Pelczar (2008) menjelaskan bahwa sel-sel ganggang hijau dikelilingi oleh dinding sel,
sehingga memiliki bentuk yang tetap. Mempunyai kloroplas yang bentuknya bermacam-macam : spiral,
mangkuk, lembaran, bola, dan bintang. Jenis klorofil terkandung : a, b, karoten, xantofil. Di dekat
kloroplas terdapat pirenoid bentuk bulat dan berwarna terang, berupa rongga yang berfungsi sebagai
tempat penyimpanan cadangan makanan berupa amilum.

3. Substrat
Thallus membentuk kantong silindris berisi cairan, permukaan halus, licin warna hijau tua atau
hijau muda kekuning-kuningan. Ukuran panjang thallus mencapai sekitar 5 cm dengan diameter mencapai
sekitar 0,5 cm. Thallus tersebut membentuk rumpun dengan percabangan soliter berpusat ke bagian
pangkal utama dekat holdfast. Alga jenis ini bersifat mudah menempel (epifit) pada substrat-substrat
lainnya di laut termasuk menempel pada tumbuhan laut lainnya (Kadi, 1988).

4. Cara reproduksi
Reproduksi pada alga hijau yaitu secara vegetative dan secara generative. Secara vegetative
dilakukan dengan pembelahan biner oleh alga bersel satu, ) fragmentasi oleh ganggang berbentuk benang
atau ganggang berkoloni, dan pembentukan zoospora (spora kembara) yaitu spora yang dapat berenang,
menggunakan flagella. Sedangkan secar generative dilakukan dengan konjugasi. Alga ada yang
menghasilkan gamet jantan (spermatozoid) dan gamet betina yang disebut ovum. Pertemuan keduanya
menghasilkan alga baru.
5. Pemanfaatan Boergesenia
Alga Boergesenia forbesii yang mempunyai potensi sebagai antipiretik adalah flavonoid.
Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenol alam. Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa
fenol yang mudah larut dalam air dan cukup stabil dalam pemanasan yang mencapai suhu 100 oC selama
lebih dari 30 menit. Senyawa fenol mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu
atau dua gugus hidroksil. Semua senyawa fenol berupa senyawa aromatik. Flavonoid dapat diekstraksi
dengan etanol 70% (Wattimena, 1991). Efek flavonoid terhadap bermacam-macam organisme sangat
banyak macamnya dan dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung flavonoid dipakai dalam
pengobatan tradisional (Rumengan dkk, 2014).
DAFTAR PUSTAKA
Kadi, & Atmajaya, W. S., 1988. Rumput Laut (Alga), Jenis, Reproduksi, Produksi, Budidaya dan Pasca
Panen. LIPI. Jakarta.
Pelczar., Michael J. dan E. C. S. Chan, 2008. Dasar-dasar Mikroorganisme. Universitas Indonesia Press.
Jakarta
Rumengan, A.P, Desy A. M., Billy J., dan Rene C. 2014. Kajian Anti Piretik dan Anti Oksidan dari
Ekstrak Alga Hijau Boergesenia forbesii
Tampubolon A., Grevo S, Gerung, Billy Wagey. 2013. Biodivesrsitas Alga Makro di Lagun Pulau
Pasige, Kecamatan Taguadang Kabupaten Sitaro. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis 1(2)
Wattimena, J.R. 1991. Farmakodinamik dan Terapi Antibiotik. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.